Kesehatan

Durasi Mandi Terlalu Lama Justru Berbahaya

Setiap hari tentu kita butuh mandi setidaknya dua kali sehari. Sebab selain untuk membersihkan diri dari debu dan keringat, mandi pun membuat badan jadi lebih segar kan Bun? Tapi durasi mandi orang itu berbeda-beda, Bun. Sebab masih banyak yang meyakini kalau lamanya durasi mandi akan berpengaruh pada kebersihan kulit dan efeknya jadi lebih bersih. Benarkah begitu?

Nyatanya hal itu hanya mitos Bun. Mandi terlalu lama justru tak baik untuk kesehatan tubuh karena bisa merusak jaringan kulit seseorang. Melansir dari Nova.id, menurut dr. Pandu Pradana, Sp.KK., mandi cukup #5MenitAja untuk menghindari kulit kering.

“Mandi dua kali sehari, kurang dari lima menit. Semakin lama kulit kontak dengan air, maka akan semakin melarutkan lemak dalam kulit, sehingga kulit menjadi semakin kering,” jelasnya.

Lemak yang berada di bawah lapisan kulit sendiri berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit. Bunda juga perlu membiasakan diri untuk mandi dengan air bersuhu suam-suam kuku alias tak terlalu panas atau tak terlalu dingin.

Pilihlah sabun yang dapat melembabkan kulit ya Bun. Serta jangan lupa pakai pelembab begitu selesai mandi. Jangan menggunakan pelembab setelah beraktivitas, hal tersebut justru membuat kandungan pelembab tak bekerja efektif.

Bunda perlu tahu, mandi terlalu lama hanya akan membuat kulit semakin kering dan membuat bakteri rentan masuk.

“Kulit kering akan semakin rentan menimbulkan keluhan,” tutupnya.

Sebagai ibu, tentunya Bunda mau menjaga kesehatan Bunda dan keluarga, bukan? Tenang, Bunda boleh saja ingin memastikan tubuh benar-benar bersih, tetapi perhatikan pula kesehatan dan risiko lain ya, Bun. Yuk mulai ubah cara mandi Bunda agar tubuh tetap sehat luar dalam.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Mom Life

Sering Merasa Kesepian, Inilah Macam-Macam Bentuk Dukungan Keluarga yang Dibutuhkan Ibu Rumah Tangga

Menjalani peran sebagai ibu rumah tangga tidak mudah tanpa adanya dukungan keluarga. Anak yang rewel, omongan tetangga dan keluarga ipar membuat Ibu mudah stress. Akibatnya banyak pekerjaan rumah tangga terbengkalai, mulai merasa lelah mengurus anak dan suami, padahal peranan ibu dalam keluarga sangat penting.

Tapi, beberapa suami justru tak peka tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk istrinya. Padahal, perlakuan yang dibutuhkan seorang ibu rumah tangga tak selalu hal besar yang mewah. Dibantu membersihkan rumah saja, kadang sudah cukup untuk membuat Ibu rumah tangga bahagia.  

Hal yang Dibutuhkan Ibu Rumah Tangga dari Suami, Agar Bahagia dan Terhindar dari Stress

Menjadi ibu rumah tangga bahagia merupakan keinginan semua wanita di dunia. Semua pekerjaan dalam rumah yang tidak pernah ada habisnya sering kali membuat Ibu stress. Seringkali merasa diri tidak berkembang dan produktif, apalagi suami kurang memberi dukungan. Agar menjadi bahagia, seorang Ibu perlu hal berikut ini. 

1. Punya Waktu untuk ‘Me Time’ Tanpa Harus Terganggu dengan Pekerjaan Rumah yang Tak Ada Habisnya 

Seorang ibu rumah tangga penting sekali memiliki waktu sendiri. Melakukan kegiatan yang diinginkan sesuai hobi dan passion. Me time juga sering dimanfaatkan untuk memanjakan diri mengurangi stress pikiran. 

Me time artinya waktu yang digunakan dan dibutuhkan untuk memprioritaskan diri sendiri. Seperti merawat badan ke salon, berbelanja ke mall, menikmati makanan di restoran favorit. Berkunjung ke tempat wisata bersama teman-teman juga salah satu kegiatan me time sangat dibutuhkan ibu guna menyegarkan pikiran.

2. Bisa Makan dengan Tenang dan Nyaman Karena Suami Menggantikan Momong Anak Sebentar

Ketika sudah memiliki anak, jam makan ibu sering kali terkuras. Makan tidak nyaman karena selalu diganggu si kecil. Hal ini sering kali terjadi sehingga seorang ibu membutuhkan waktu menikmati makanan dengan tenang dan nyaman.

Jauh dari segala gangguan misalnya makan ketika anak tidur. Bisa juga makan saat anak sedang dijaga oleh suami. Tetapi, pasti ada sesuatu yang dibutuhkan anak nantinya tidak dapat dipenuhi suami, terpaksa ibu juga yang direpotkan. 

3. Punya Waktu untuk Olahraga Demi Menjaga Kesehatan Diri Sendiri 

Olahraga memiliki manfaat untuk kesehatan tubuh dan pikiran. Menikmati udara segar pagi hari sambil lari-lari pagi mampu menenangkan pikiran. Karena itu, penting sekali bagi ibu memiliki waktu olahraga. Jika sudah ada anak, pasti sulit sekali berolahraga sendiri. 

Melakukan kegiatan olahraga di luar rumah menjadikan pikiran terbuka akan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar. Terlalu lama berada di rumah membuat pikiran buntu bahkan merasa sumpek. Supaya mental ibu tetap waras dan bahagia, cobalah sesekali berolahraga. 

4. Bisa Memanjakan Diri dengan Berbelanja, Meski Itu Adalah Barang yang Murah

Menghabiskan uang membeli barang yang diinginkan memang kegiatan menyenangkan. Berkeliling mall, supermarket serta pertokoan lainnya melihat barang-barang unik, bermerek dan berkelas. Pasti menarik perhatian para wanita lajang maupun yang sudah menikah.

Karena itu, suami harus paham bahwa semua istri membutuhkan kegiatan shopping sendiri atau bersama teman-teman. Berikan uang untuk ibu memanjakan dirinya sebagai apresiasi atas kerja kerasnya mengurus rumah tangga. 

5. Mendapat Dukungan dari Suami Atas Semua Ha yang Sudah Dikerjakan Sebagai Ibu Rumah Tangga 

Tanpa adanya dukungan suami, semua waktu dan energi dikorbankan istri merasa sia-sia. Karena suami harus tahu bahwa mengurus rumah, kebutuhan anak dan suami cukup menguras pikiran, bukan hanya tenaga. 

Jika suami dan keluarga tidak mendukung, istri merasa pengorbanannya tidak berguna sama sekali. Karena itu, semua yang sudah disiapkan ibu meskipun ringan seperti menyiapkan pakaian kerja, suami harus menghargainya. Setidaknya mengucapkan terima kasih sambil memeluk dan mencium istri.

Macam-Macam Bentuk Dukungan Keluarga yang Dibutuhkan Ibu Rumah Tangga 

Tidak hanya dari suami, dukungan keluarga juga dibutuhkan ibu rumah tangga. Baik itu keluarga dari pihak istri sendiri maupun pihak suami. Harus menghargai semua susah payah istri dalam mengurus rumah serta menyiapkan segala keperluan anak dan suami. 

1. Keluarga yang Tidak Ikut Campur dalam Masalah Rumah Tangga Kita

Salah satu bentuk dukungan dari keluarga adalah tidak suka ikut campur dalam rumah tangga anaknya, bagi orang tua. Apapun masalahnya, yakinlah bahwa suami istri dapat menyelesaikannya. Jangan beri saran dan nasehat tanpa diminta.

Begitu juga adik atau kakak ipar tidak boleh mencampuri urusan keluarga ibu rumah tangga. Semua yang dilakukan pasti sudah melalui pertimbangan matang. Selain itu, tentu saja atas semua pilihan dan keputusan telah diketahui konsekuensinya.

2. Perlakuan Menghargai Peran Kita Sebagai Ibu Rumah Tangga

Semua pihak keluarga semestinya menghargai peran ibu rumah tangga. Karena bukan pekerjaan mudah meskipun tampaknya hanya berada di rumah saja. Stress, bosan dan perasaan tidak nyaman lainnya seringkali menghinggapi pikiran seorang ibu. 

Makanya siapapun itu tidak boleh mengkritik atau mengomentari ibu rumah tangga tanpa diminta. Jika rumah berantakan jangan langsung menjudge bahwa ibu atau istri malas. Sebab mungkin saja sudah berkali-kali dibersihkan namun anaknya membuat mainan kembali berserakan. 

3. Jika Memungkinkan, Keluarga Bersedia Membantu Pekerjaan Kita Sebagai Ibu Rumah Tangga

Meskipun masalah rumah tangga adalah urusan suami istri. Jika mereka meminta bantuan kepada anggota keluarga sebaiknya bersedia membantu jika mampu. Hidup di dunia ini harus tolong menolong dalam kebaikan. 

Tetapi, harus diperhatikan juga bahwa saat memberikan bantuan hanya pada hal-hal yang dimintai tolong saja. Tidak boleh kepo hingga secara tidak sadar mencampuri masalah yang bukan ranahnya. Suami istri memiliki privasi yang tidak boleh diganggu oleh anggota keluarga lain. 

4. Tidak Berkomentar Negatif Atas Kondisi Rumah yang Pada Waktu-waktu Tertentu Akan Berantakan

Jika ibu dari pihak istri maupun pihak suami datang dan menemukan kondisi rumah amburadul, harus memaklumi keadaan. Apalagi jika di dalam rumah terdapat lebih dari satu anak kecil. Tidak boleh bagi orang tua mengejek istri selaku ibu rumah tangga tidak pandai mengurus rumah. 

Semua ibu rumah tangga pasti ingin rumah selalu dalam keadaan rapi, bersih dan nyaman dihuni. Namun, kondisi membuat rumah tersebut menjadi berantakan. Pakaian berserakan di semua sudut ruangan. Sisa makanan yang belum sempat dibersihkan, ini bukan sepenuhnya salah ibu rumah tangga.Itulah beberapa bentuk dukungan keluarga yang sangat dibutuhkan oleh ibu rumah tangga. Selain itu, sebagai keluarga seharusnya memang saling mendukung, bukan mengejek apalagi menyalahkan. Karena semua ibu tentu ingin memberikan yang terbaik untuk rumah tangganya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Mom Life

10 Beban Ibu Rumah Tangga yang Sering Dipandang Remeh oleh Orang Lain, Bunda Pasti Pernah Merasakannya!

Setelah menikah, wanita yang bekerja di rumah memiliki beban ibu rumah tangga. Menjadi seorang ibu rumah tangga tidak semudah yang dipikirkan banyak orang. Bahkan, membutuhkan waktu sendiri untuk menyegarkan pikiran agar tidak stress dan frustasi. Tak ada batas jam kerja, tak terbatas pula jumlah pekerjaannya. Dan beberapa hal ini, tentu pernah bunda rasakan selama menjadi Ibu rumah tangga. 

Macam-Macam Beban Ibu Rumah Tangga yang Sering Dianggap Remeh oleh Orang, Padahal Kenyataannya Berat!

Ibu rumah tangga dalam sehari melakukan lebih dari satu pekerjaan. Mulai dari bangun pagi, memasak, membersihkan semua ruangan, mencuci baju dan mengurus anak. Aktivitas seperti ini dilakukan setiap hari rentan mengakibatkan seorang ibu stress. Selain itu, ada lagi beban-beban dalam rumah tangga yang dipandang remeh oleh orang lain. 

1. Jangan Cuma Ingat Saat Sedang Bertingkah Lucu Saja, Anak Tantrum Sering Buat Ibu Pusing Tak Terhingga

Anak rewel, bertingkah dan susah diatur cukup membuat orang tua stress. Apalagi jika sudah berbagai cara dilakukan tetapi si kecil tetap tidak mau tenang. Kondisi ini membuat ibu rumah tangga pusing sendiri karena keributan yang disebabkan anak. 

Pekerjaan lain dilakukan ibu menjadi tidak konsentrasi. Anak akan mengganggu pekerjaan ibunya, terkadang ibu kesal sampai memarahi si kecil. Beban ini jangan dianggap remeh oleh orang lain yang tidak merasakannya. 

2. Kerap Jadi Sumber Masalah, Jika Mertua Terlalu Ikut Campur Perihal Rumah Tangga Kita

Mertua yang terlalu ikut campur dalam rumah tangga juga menjadi beban bagi seorang ibu rumah tangga. Sebab setelah menikah, maka rumah tangga adalah urusan suami istri sepenuhnya. Boleh saja mertua memberikan nasihat atau saran jika diminta. 

Pikiran, prinsip ataupun pendapat antara mertua dan ibu rumah tangga tidak selalu sama. Terlalu ikut campur rentan terjadi kesalahpahaman. Apalagi mertua yang selalu menyalahkan istri atas semua hal yang terjadi di rumah. 

3. Sudah Lelah dengan Pekerjaan Rumah, Tapi Suami Tidak Peka 

Ibu rumah tangga sangat senang dengan suami yang peka pada pekerjaan rumah tangga dan perasaan istri. Banyak suami saat ini jika melihat piring kotor menumpuk tidak mau peduli, malahan sibuk bermain game. Sedangkan istrinya dari tadi menenangkan si kecil yang bertingkah.

Lebih menjadi beban saat suami baru pulang kerja langsung marah-marah melihat rumah berantakan. Padahal, sebelumnya sudah dibersihkan tetapi anak kembali membuatnya berserakan. Ibu rumah tangga tidak sempat merapikan lagi karena harus memasak dan lain sebagainya.

4. Bukannya Membantu Berbagi Tugas Pekerjaan Rumah, Suami Malah Sibuk Main Handphone dengan Santainya 

Suami yang terus bersama ponsel, laptop atau tabletnya setiap jam tentu membuat ibu rumah tangga stress. Karena banyak pekerjaan yang diselesaikan dan suami akan lebih baik membantu bukan main ponsel. 

Misalnya saat istri sedang memasak, maka tugas suami menjaga anak. Bukan membiarkan anak sendiri bahkan menangis tetapi tidak dipedulikan. Ibu rumah tangga yang sudah lelah dari tadi meluapkannya melalui marah, membanting piring atau mengomel. 

5. Punya Tetangga yang Selalu Berkomentar Nyiyir Atas Hidup Kita

Tetangga yang sibuk mengurusi rumah tangga orang lain juga membuat pusing seorang istri. Karena sebagai wanita memiliki perasaan dimana semua perkataan orang langsung masuk ke hatinya. Bukan sengaja dipedulikan, tetapi memang teringat-ingat sendiri. 

Akhirnya stress sendiri di rumah. Tetangga bukannya membantu atau saling menyemangati, malahan suka sekali berkomentar negatif. Bagi orang lain mungkin sepele karena tidak merasakannya, tetapi hal ini beban yang berat bagi ibu rumah tangga. 

6. Belum Lagi Jika Uang Belanja Kurang 

Uang belanja yang diberikan suami setiap harinya selalu kurang. Istri harus memutar otak demi mendapatkan bahan makanan terbaik dengan harga terjangkau. Karena jika dibuat masakan seadanya nanti juga tidak disukai suami. 

Ini menjadi beban tersendiri bagi istri. Karena tidak mudah mengatur uang belanja kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi ketika bumbu dapur, bawang, cabai, tomat dan yang lainnya sedang naik harganya. Belum lagi harus beli ikan untuk lauk. 

7. Suami Kerap Mengeluh Capek dengan Nada Bicara yang Terdengar Seolah-olah Ibu Rumah Tangga Tak Ada Lelahnya

Suami sepulang kerja asik mengeluh tentang betapa dirinya lelah di kantor. Saat diminta bantuan oleh istri suami langsung marah bahkan sampai membentak. Kondisi ini menyakiti perasaan istri. Karena dalam rumah tangga kedua pihak pasti kelelahan. 

Jadi, jangan egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Penting sekali bagi suami mengambil beberapa pekerjaan rumah setelah pulang kerja. Meskipun lelah, saat dikerjakan bersama-sama dengan istri akan lebih menyenangkan. 

8. Semua Tanggung Jawab Rumah Diserahkan pada Istri, Tanpa Bantuan Suami

Tanggung jawab rumah tangga setelah menikah dilakukan bersama, bukan oleh istri saja. Oleh karena itu, bagi suami harus mau membantu ibu rumah tangga menjalankan perannya di rumah. Apalagi jika istri juga bekerja di luar rumah, ini lebih rentan stress. 

Beban tanggung jawab tidak bisa hanya diwajibkan kepada istri. Sebab, hidup bersama bukan hidup sendiri-sendiri. Apalagi pekerjaan rumah yang diselesaikan istri bukan satu jenis saja. Ada banyak sekali aktivitas dari pagi hingga menjelang tidur. 

9. Terlalu Stress Sampai-sampai Merasa Tidak Produktif 

Ibu rumah tangga seringkali merasa tidak produktif karena hanya mengerjakan pekerjaan itu-itu saja. Tidak ada perubahan yang drastis pada hidupnya sebab selalu melakukan aktivitas yang sama. Ini menjadi beban pikiran dimana orang lain sering menganggap remeh. 

Aktivitas yang sama cenderung merasa bosan, muak tetapi harus dilakukan. Ibu rumah tangga yang terus merasa tidak produktif mengakibatkan pekerjaan rumah terbengkalai. Sebab tidak menyenangkan lagi untuk menyelesaikan semua tanggung jawab yang ada. 

10. Suami Sering Kesal Hanya Karena Kita Meminta Bantuan Atau Menyuruhnya Ikut Membantu Pekerjaan 

Semua suami tidak suka mendengar keributan ocehan dan omelan istri. Padahal ini wujud dari stress yang tengah dihadapi. Jika tidak dikeluarkan, beban dalam pikiran semakin bertambah. Jika suami kesal karena hal ini, juga meningkatkan beban dirasakan istri. Itulah sejumlah beban ibu rumah tangga yang sering kali dianggap remeh oleh suami maupun orang lain. Beban membuat ibu rumah tangga stress dan bisa berdampak negatif pada si kecil. Tidak sedikit Ibu mencelakai anaknya hanya karena frustasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspadai Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Sering Terjadi

Tumbuh kembang si kecil, jadi sesuatu yang wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena jika telat mendapat perhatian, bisa jadi fatal karena tak segera ditangani. Meski gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun kadang sulit didetiksi. Sebagai orangtua, kita wajib untuk mengetahui tahap perkembangan anak mulai dari lahir hingga dewasa. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui apakah si kecil mengalami tanda-tanda gangguan atau tidak.

Tahap Perkembangan Anak Usia 3 – 4 Tahun yang Patut Dijadikan Ajuan oleh Orangtua

Usia 3 – 4 tahun termasuk dalam kategori masa golden age bagi si kecil. Pertumbuhan di masa ini sangat penting untuk membangun karakternya nanti ketika mereka dewasa kelak. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus mendampingi mereka saat masih di masa keemasan. Apa saja tahap perkembangannya?

  1. Kemampuan Gerak Tubuh untuk Melakukan Sesuatu yang Ia Inginkan

Dari segi fisik, anak yang sudah memasuki usia 3 sampai 4 tahun biasanya sedang sangat aktif bergerak. Mereka sedang menikmati masa-masa mengeksplor banyak hal dan mulai muncul banyak pertanyaan kritis. Anak-anak sudah bisa melakukan gerak tubuh seperti berjalan dan berlari.

Di usia ini mereka juga sudah bisa naik turun tangga dengan kaki secara bergantian. Menendang bola, melempar, dan menangkapnya juga menjadi keahlian lain yang sudah harus dimiliki si kecil pada usia 3 sampai 4 tahun. Mereka juga sudah bisa memanjat, melompat, hingga menggunakan / melepas pakaian.

  1. Kemampuan Berbahasa Sebagai Caranya Berkomunikasi dengan Orangtua dan Orang lain di Sekitar

Kosakata yang dikuasai anak usia 3-4 tahun sudah semakin banyak sehingga biasanya mereka akan banyak berbicara. Banyak hal yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak dalam usia tersebut. Contohnya seperti menyebutkan nama dan usia.

Biasanya mereka sudah mampu mengucapkan hingga ratusan kosakata dengan lebih jelas. Anak-anak juga sudah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan kepada mereka. Si kecil juga sudah bisa menyusun kalimat dengan runtut dan bicaranya sudah bisa dipahami dengan sangat jelas.

  1. Kemampuan Tangan dan Jari untuk Melakukan Sesuatu dan Beraktivitas

Kemampuan tangan dan jari sekecil di usia 3 sampai 4 tahun juga sudah semakin membaik. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal seperti memegang benda kecil, membuka halaman buku, menggunting menggunakan gunting mainan, menggambar kotak dan lingkaran, hingga mewarnai.

Kemampuan memegang alat tulis bisa dikuasai dengan baik oleh anak usia 3-4 tahun. Mereka bahkan mampu menulis beberapa huruf kapital dan menggambar beberapa bentuk gambar yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal sederhana seperti memutar gagang pintu, membuka toples juga sudah bisa dilakukan. 

Dan Ada Pula Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Wajib Bunda Waspadai

Anak usia 3 – 4 tahun juga bisa mengalami gangguan perkembangan tertentu. Anda harus waspada dan terus mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil setiap harinya. Berikut ini beberapa jenis gangguan perkembangan yang mungkin bisa dialami dan patut diwaspadai, di antaranya:

  1. Kesulitan Berbicara untuk Mengutarakan Isi Hati dan Perasaanya

Jika anak usia 3 – 4 tahun belum bisa diajak berkomunikasi karena kosakata yang diucapkan belum jelas, maka Anda patut waspada. Bisa jadi mereka mengalami keterlambatan bicara atau gangguan pendengaran sehingga sulit untuk mengucapkan kata yang mudah dipahami oleh orang dewasa.

Dalam berkomunikasi, anak-anak juga tidak tertarik untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka cenderung diam dan enggan untuk berbicara. Oleh karena itu, penting untuk menstimulasi kemampuan anak berbicara sejak mereka lahir untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan seperti ini.

  1. Sering Berhenti Sejenak Saat Berbicara, Karena Kesulitan Menemukan Kosakata yang Ingin Disampaikan

Anak usia 3 – 4 tahun yang tiba-tiba berhenti sejenak saat berbicara, mungkin bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dari mulutnya. Jika mereka malas untuk belajar, maka hal tersebut akan terbawa terus-menerus hingga mereka dewasa. Tentu Anda tidak ingin itu terjadi. 

Ketika anak mengalami kesulitan saat berbicara dan mengeluarkan kosakata tertentu dari mulutnya, biasanya mereka akan mudah menyerah dan mengatakan “tidak jadi”. Jika mereka sering mengucapkan kata tersebut maka patut waspada dan coba uji beberapa kata pada anak untuk diucapkan.

  1. Tidak Bisa Memahami Instruksi atau Kalimat Perintah yang Diterimanya

Saat memasuki usia 3 – 4 tahun, seharusnya anak-anak sudah bisa memahami kalimat perintah dengan baik. Sehingga mereka bisa dimintai tolong untuk melakukan atau mengambil sesuatu. Namun, ada anak yang mungkin mengalami gangguan sehingga mereka tidak bisa memahami instruksi sederhana. 

Saat diminta untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung memilih diam dan tidak melakukannya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan instruksi tersebut. Bicaranya juga masih tidak jelas dan sulit untuk dipahami oleh orang dewasa.

  1. Kesulitan Menggunakan Struktur Kalimat yang Tepat Ketika Sedang Berbicara atau Mengutarakan Maksudnya

Anak usia 3 – 4 tahun bisa dianggap mengalami keterlambatan perkembangan ketika mereka masih belum bisa menggunakan kata aku dan kamu dengan cara yang tepat. Mereka juga masih kesulitan untuk menceritakan kembali cerita atau kisah favorit yang pernah diperdengarkan untuk si kecil.

Bicaranya masih cenderung belum jelas dan belum bisa menggunakan struktur kalimat dengan tepat. Mereka juga kesulitan untuk mendeskripsikan sesuatu secara rinci dan detail.

  1. Ketidaktertarikan Pada Aktivitas Fisik Tertentu yang Lazim Dilakukan Anak Seusianya

Anak usia 3 – 4 tahun harusnya sudah bisa belajar dengan mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Namun, anak yang mengalami gangguan biasanya tidak mau mencoba untuk belajar hal-hal seperti memakai dan melepas baju, atau belajar menggunakan sendok dan garpu.

Mereka juga enggan belajar untuk menggosok gigi, membantu orang tua di rumah, menggunakan toilet, makan sendiri, atau menyiapkan makanan dan minumannya sendiri. Beberapa gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun tersebut memang bisa dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, sebagai orang tua jangan sampai lengah untuk mengawasi tumbuh kembang si kecil agar bisa mendidik dan mengajari dengan cara yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top