Parenting

Ciri-ciri Orang Tua Toxic, Hindari Hal Ini ya Ayah dan Bunda

Mempunyai orang tua yang perhatian dan penuh kasih sayang merupakan anugerah untuk seorang anak. Namun, sayangnya tidak semua anak beruntung mendapatkan orang tua yang sangat perhatian dan mengerti anak. Ada sebagian anak yang mempunyai orang tua yang kasar, kurang mendukung anak, dan berperilaku buruk sehingga mempengaruhi perkembangan dan psikologis anak.

Tipe orang tua seperti  ini bisa disebut sebagai toxic parents. Jangan sampai ayah dan bunda menjadi toxic parents ya, berikut beberapa ciri-cirinya:

  1. Suka mengontrol anak

Orang tua toxic akan mengontrol anaknya sesuai dengan keinginan orang tua tanpa memperhitungkan keinginan anak. Apapun yang dilakukan anak, termasuk menentukan pilihan hidup harus sesuai dengan keinginan orang tua. Anak cenderung tidak diberi kebebasa dalam memilih jalan hidupnya.

  1. Suka menuntut dan menetapkan standar yang tinggi kepada anak

Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak yang terbaik. Namun, dalam berharap tentu saja harus sesuai dengan realita. Orang tua toxic suka menuntut anak, misalnya menuntut anak untuk selalu menjadi juara satu apapun caranya. Dengan begitu anak bisa merasa tertekan.

  1. Tidak bisa mengelola emosi

Ketika anak berbuat salah atau tidak sesuai dengan keinginan orang tua, maka tipe orang tua yang toxic akan melampiaskan kemarahannya. Entah dengan hukuman fisik atau verbal. Terlalu sering mendapat hukuman bisa membuat anak trauma dan berpengaruh pada psikologisnya.

  1. Tidak mengapresiasi anak dan suka membicarakan keburukan atau kesalahan anak

Anak butuh diapresiasi dan dihargai untuk setiap usahanya apapun hasilnya. Namun, orang tua toxic tidak begitu. Mereka lebih suka membicarakan keburukan, kesalahan, atau kegagalan anak. Dengan begitu, anak menjadi kurang percaya diri.

  1. Suka mengungkit apa yang sudah diberikan kepada anak

Pasti banyak pengorbanan dan materi  yang sudah dikeluarkan orang tua untuk anaknya. Hal tersebut sebenarnya wajar sebagai bentuk tanggung jawab orang tua kepada anak. Namun, orang tua toxic akan mengungkit apa yang sudah diberikan kepada anak dan menuntut agar anak memberikan balasan yang sepadan.

Pola asuh orang tua kepada anak akan mempengaruhi perkembangan anak dan psikologis anak sampai dewasa. Mengalami trauma karena pola asuh orang tua bisa mempengaruhi kehidupan anak hingga dewasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

5 Cara Merayu Anak yang Susah Makan

anak-susah-makan

Pusing tujuh keliling nih saat si kecil susah makan. Padahal rasa-rasanya semua cara sudah dilakukan, tapi anak masih saja susah makan. Bagaimana ya sebaiknya?

Merayu anak agar mau makan memang susah-susah gampang. Nah, beberapa hal berikut ini bisa dilakukan untuk memancing selera makan si buah hati.

  1. Kenali Penyebabnya  

 Pertama, kita harus kenali dulu penyebab anak susah makan. Setidaknya, ada tiga penyebab anak tidak mau makan yakni karena gangguan medis, keadaan psikologis, dan lingkungan. 

Untuk mengetahui penyebabnya, perlu dilakukan pengamatan oleh orang tua atau pengasuh untuk memahami kondisi anak dan dicari solusinya. 

2. Jangan Dimarahi 

Anak yang susah makan bukan berarti nakal. Sebaliknya, mereka perlu dipahami. Jadi, sabar dan tahan emosi ya, Bunda. Memarahi anak malah akan membuat mereka semakin ogah makan. 

Yuk, tanggapi positif keinginan anak. Menuruti anak tidak selalu berkesan negatif. Kadang hal ini merupakan kompromi untuk mencapai ‘goal’, yaitu membuat anak punya pola dan asupan makan yang sehat. 

Tidak kalah penting, ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Seperti orang dewasa, anak juga perlu situasi makan yang nyaman, tenang, dan tanpa paksaan. 

3. Atur Jadwal Makan 

Tentukan jadwal makan anak secara teratur setiap harinya. Jadwal ini terdiri dari 3 kali makan utama, 2 kali makanan ringan, dan susu 2-3 kali sehari (500-600 ml/hari). 

Jangan lupa, sajikan makanan di waktu yang sama setiap hari. Pola makan teratur akan membuat anak terbiasa dan tahu bahwa setiap hari, pada waktu tertentu, selalu ada makanan untuknya. 

4. Sajikan Porsi Kecil 

Piring yang terlihat penuh makanan bisa membuat si kecil malas makan. Coba sajikan dalam porsi kecil dulu. 

Sajian makanan tidak perlu lengkap terdiri nasi, lauk dan sayur. Tawari anak apakah dia ingin memakannya berbarengan atau satu per satu, misalnya sayuran saja, atau lauknya saja. Kalau satu makanan sudah habis, bisa kita tawarkan makanan lainnya. Tidak apa-apa makan sedikit-sedikit, asalkan sering dan gizinya terpenuhi. 

5. Variasikan Makanan 

Dibutuhkan kreativitas untuk menyajikan makanan yang bervariasi. Kombinasikan rasa gurih dan manis, atau bisa dicoba dengan merekayasa tampilan makanan dalam bentuk menarik menjadi boneka, awan, bintang dan lain-lain. 

Tingkatkan juga tekstur makanan (lembek atau keras) secara bertahap sesuai kemampuan makan anak. Jika diperlukan, turunkan tekstur makanan. Hal terpenting yang perlu diingat, anak nyaman mengunyahnya. 

Jika nafsu makan anak tak kunjung membaik dan dicurigai ada pengaruh gangguan medis, sebaiknya segera konsultasikan ke ahli. Penjelasan lengkap dan konsultasi khusus menangani anak sulit makan, bisa diikuti di salah satu sesi di Kelasin.com bersama dr. Sylvia Irawati M.Gizi.

Mau belajar lebih banyak? Langsung saja kunjungi kelasnya di sini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Keluarga Sebagai Lingkungan Pendidikan

pendidikan-anak

Anak adalah titipan Tuhan. Kita sebagai orang tua yang diberikan amanah, sudah sepatutnya menjaga, merawat, dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

Harapannya apa yang kita ajarkan dan apa yang ditanamkan kepada anak terus melekat pada dirinya. Bicara mendidik anak, tentu ini bukan perkara mudah. Ada banyak sekali tantangan yang dihadapi.

Nah, terkait pendidikan, kita mengenal paling tidak 3 ranah, yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang dilaksanakan secara resmi di lembaga pendidikan seperti SD, SMP, dan SMA.

Sedangkan pendikan nonformal merupan pendidikan khusus untuk mendapatkan keterampilan tertentu seperti kursus menjahit, kursus mesin, dll. Adapun pendidikan informal merupakan pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan keluarga. Pendidikan informal sejatinya pendidikan pertama dan paling utama yang harus diberikan kepada anak sejak kecil.

Oh ya, Bunda, sadar tidak sekarang ini kita sering menyalahartikan fungsi pendidikan? Saat anak terlibat hal-hal negatif, lebih mudah menyalahkan institusi pendidikan. Sekolah dan guru menjadi pihak pertama yang mendapat sororan tajam.

Padahal pendidikan dari rumah adalah pondasi penting bagi anak. Ya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan bagi anak. Hal ini berarti sejak anak dilahirkan ke dunia, maka ia sudah harus mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Mulai dari cara berjalan, makan, bahasa, perilaku, dll.

Mungkin hal tersebut terlihat sepele. Bahkan mungkin banyak yang beranggapan hal-hal tersebut merupakan pencapaian alamiah seiring bertambahnya usia anak.

Namun, kita harus pahami, Bunda, jika semua hal itu dibiarkan tanpa pengarahan, anak bisa saja memiliki bahasa yang buruk ataupun perilaku yang buruk. Itu semua karena pengaruh lingkungannya.

Apalagi adanya anggapan bahwa perilaku buruk saat kecil adalah lumrah, dan akan menghilang dengan sedirinya saat dewasa. Padahal kebiasaan buruk yang tertanam sejak kecil, bisa dibawa sampai dewasa. Nah, saat kita berusaha mengubahnya, tentu jadi lebih sulit.

Untuk itu, yuk sejak dini kita tanamkan berbagai hal baik pada si kecil. Kita perlu terus memberi contoh bagaimana berperilaku dan berkata yang baik. Nilai religius, kejujuran, sopan santun, dan hal positif lain jangan ditunda untuk ditanamkan. Dengan begitu, anak akan memiliki pondasi kuat dalam hidupnya, sehingga tidak mudah terjerumus ke hal-hal negatif.

Sebagai orang tua, kita memang perlu selalu belajar ya, Bunda. Jangan sampai kita hanya menggantungkan pendidikan anak pada institusi formal. Lagipula waktu anak di sekolah lebih sedikit ketimbang saat mereka di rumah. Yuk, semangat selalu dalam membersamai anak. 

http://kelasin.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Mom Life

Begini Caranya Mengelola THR Agar Tidak Habis Begitu Saja

mengelola-thr

Halo Bunda, sudahkah menerima tunjangan hari raya (THR)? Salah satu keluhan banyak orang seusai menerima THR adalah cepat sekali habisnya. Penasaran tidak, Bun, cara bijak mengelola THR agar tidak habis begitu saja?

THR merupakan salah satu hal yang ditunggu-tunggu menjelang hari raya tiba. Namun, sayangnya, jumlah uang yang lebih banyak di rekening ketimbang bulan-bulan sebelumnya membuat diri terlena. Akibatnya dalam tempo singkat THR habis tanpa sisa. Hm, apakah Bunda termasuk kalangan yang sulit menabung dari THR?

Nah, berikut ini panduan mengelola THR agar tidak habis begitu saja untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.

  1. Alokasikan Sebagian THR untuk Zakat dan Sedekah

Salah satu kewajiban umat Muslim adalah membayar zakat fitrah. Untuk keperluan itu, kita bisa mengalokasikannya dari THR yang didapat, Bun. Ingat ya, Bunda, zakat fitrah dihitungnya per kepala.

Bahkan jika hendak menunaikan zakat mal, bisa diambil pula dari uang THR yang didapat. Jangan lupa juga untuk bersedekah kepada yang kurang mampu.

Prita Ghozie, seorang financial planner, menyarankan untuk mengalokasikan 20 persen dari THR yang didapat untuk keperluan zakat dan sedekah. Demikian sarat Prita dalam MY BABY Momversity Online Talkshow bertajuk “Bijak Kelola THR Saat Pendemi”, Selasa (4/5/2021).

Bijak mengelola THR/ Foto: Canva
  1. Pos Hadiah

Di momen Ramadan dan Lebaran, pas sekali untuk memberi hadiah untuk keluarga dan orang terdekat. Kita bisa mengalokasikan 20 persen dari THR yang didapat untuk memberikan hadiah pada orang tua, keponakan, dan keluarga lainnya.

Dari pos ini, kita bisa juga memberikan THR pada orang yang bekerja pada kita. Misalnya untuk asisten rumah tangga, satpam kompleks, atau petugas kebersihan di kompleks rumah.

“Pahami kemampuan finasial kita sendiri juga ya. Untuk bagi-bagi bisa 20 persen dari THR yang diterima, tapi bisa lebih juga. Kalau memberi lebih, berarti ada yang harus dikorbankan. Lalu kita juga perlu bikin daftar siapa yang mau dikasih. Jumlah yang akan dikasih bisa mempertimbangkan kedekatan, usia, dan kebutuhan,” terang Prita.

Bijak mengelola THR/ Foto: Canva
  1. Lunasi Pinjaman dan Alokasikan untuk Dana Darurat

Dialokasikan untuk apalagi THR yang didapat? Jangan lupa bagi Bunda yang memiliki pinjaman konsumstif, bisa mengalokasikan 10 persen dari THR untuk melunasinya.

Hal penting yang harus dipikirkan adalah pengalokasian THR untuk dana darurat. Berapa yang dialokasikan? 10 Persen saja. Namun, bila tidak ada beban pelunasan pinjaman, maka alokasi dana darurat bisa ditambah hingga 20 persen.

Dana darurat ini penting sekali dimiliki, apalagi pandemi Covid-19 belum juga usai. Saat ini masih ada banyak hal yang tidak pasti, sehingga kondisi tak terduga sangat mungkin terjadi.

“Saat tidak ada pemasukan, dana darurat bisa dipakai. Karena dipakai terus, maka bisa menipis dan habis. Maka itu kalau sudah berpenghasilan lagi, bisa diisi lagi. Saat butuh dana, lebih baik pakai dana darurat ketimbang pakai pinjaman online,” terang Prita.

  1. Keperluan Lebaran

Selanjutnya, mengalokasikan maksimal 20 persen THR untuk keperluan Lebaran. Misalnya untuk keperluan membeli baju Lebaran. Hati-hati jangan sampai kalap dalam berbelanja. Sering kali THR cepat menguap karena kita impulsif dalam berbelanja.

Sebaiknya utamakan dulu membeli untuk anak karena ukuran badan mereka cepat berubah. Sedangkan untuk Bunda dan Ayah, demi penghematan, sebenarnya tidak harus selalu membeli baju baru. Kita bisa mix and match baju-baju lama untuk tampil kece di hari Lebaran.

Lebaran kali ini kita masih dilarang untuk berkumpul dan berkerumun untuk meminimalkan ledakan pandemi Covid-19. Karena itu, kita tidak perlu terlalu banyak membeli makanan untuk disajikan di Hari Fitri.

Bijak mengelola THR/ Foto: Canva
  1. Investasi

Mengingat Lebaran tahun ini tidak boleh mudik, kita dapat menyimpan untuk keperluan mudik jika suatu saat sudah dibolehkan mudik oleh pemerintah. 20 Persen dari THR bisa dialokasikan untuk keperluan ini.

Namun, bagi yang tidak mudik, agar THR tidak habis begitu saja, langsung alokasikan 20 persen untuk menambah investasi yuk, Bun. Investasi ini adalah ikhtiar mempersiapkan masa depan atau masa tua. Meski ada anak, jangan sampai kita berharap mereka akan mengurusi kebutuhan kita di masa tua. Lebih baik kita persiapkan semuanya sejak sekarang ya, Bun, sejak raga ini masih mampu.

Oh ya, jangan ngoyo juga untuk berinvestasi. Jumlah kecil tidak apa-apa, karena jika konsisten dilakukan lama-lama akan menjadi besar.

Bagaimana bila tidak ingin mengalokasikan THR untuk investasi? Sah-sah saja. Investasi adalah opsional. Bunda bisa kok mengalihkan dana investasi untuk keperluan lain seperti dana pendidikan anak, dana haji, atau untuk uang muka pembelian rumah.

THR adalah rezeki yang harus banget kita syukuri, karena tidak semua orang mendapatkannya. Untuk itu harus kita gunakan sebaik-baiknya. Harus kita ingat dalam THR itu ada hak orang lain yang dititipkan pada kita, sehingga jangan sampai membuat enggan berbagi. Namun, saat berbagi pun harus benar-benar disesuaikan dengan kemampuan ya, Bunda. Intinya, kita harus benar-benar bijak mengelola THR.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top