Parenting

Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau ‘Jangan’,

cara mendidik anak, cara melarang anak

Melarang anak termasuk kedalam salah satu cara mendidik anak  yang harus di pelajari oleh orang tua. Tidak mudah dalam melarang anak.

Misalnya, Orang tua juga disarankan agar mengurangi penggunaan kata jangan pada anak. Mengapa demikian?  Simak alasanya kenapa lebih baik mengurangi penggunaan kata jangan.   Dan berikut ini alternatif penggunaan kata jangannya.

Selain itu, orang tua untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata jangan atau tidak. Ada pula beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk melarang anaknya tanpa menggunakan kata tidak atau jangan, seperti dilansir DetikHealth, Selasa (11/11/2014) berikut ini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata ‘Tidak’ atau ‘Jangan’,:
cara mendidik anak, cara melarang anak
1. Berikan alasan
Gunakan kalimat ‘mama atau papa tahu kamu menyukainya, tapi…” dengan begitu, Anda bisa memberi alasan pada anak mengapa ia tidak boleh melakukan hal itu. Dengan begini, anak bisa mengerti apa hal yang tidak tepat yang suah ia lakukan. Selain itu, anak juga bisa menasihati temannya ketika si teman melakukan hal yang serupa.

2. Pakai isyarat berhenti
Untuk berkomunikasi tak harus secara verbal bukan? begitu juga ketika melarang anak, selain menggunakan kata jangan atau tidak dengan intonasi yang lebih tinggi pastinya, Anda bisa menggunakan isyarat. Cara ini membantu Anda untuk melarang anak menghentikan aksinya saat berada di tempat yang Anda tak bisa menegurnya langsung, seperti saat berada di tempat ibadah.

3. Cari larangan pengganti yang kreatif
Akan lebih baik saat melarang anak Anda menggunakan kalimat yang kreatif, bukan kalimat langsung dan jelas berupa tidak atau jangan. Anda bisa saja memilih kalimat ‘itu kotor dan nanti bisa membuatmu sakit’, ‘ini bukan untuk anak-anak’, atau ‘kamu nanti bisa dapat yang lebih bagus’. Kalimat seperti itu membuat anak lebih nyaman ketika dilarang tanpa ia harus mendengar kata tidak atau jangan secara langsung.

4. Alihkan perhatiannya
Salah satu cara terbaik untuk mengatakan tidak pada anak yakni dengan mencoba mengalihkan perhatiannya pada sesuatu yang lebih menarik. Anak, khususnya balita memiliki memori jangka pendek sehingga mereka akan melupakan permintaan mereka sebelumnya setelah melakukan aktivitas lain.

5. Jangan terlalu sering melarangnya
Hindari mengatakan tidak atau jangan terlalu sering. Jika memang apa yang ia lakukan tak terlalu bermasalah, tanggapilah anak dengan respons yang positif. Langkah ini membantu mereka memahami bahwa seyoiyanya apa yang dilarang oleh orang tua adalah sesuatu yang benar-benar berbahaya dan merugikan baginya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Maksimalkan Perkembangan Kognitif Anak Sebelum Ia Berusia 5 Tahun

Mempunyai anak yang dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal merupakan impian setiap orang tua. Inilah kenapa diperlukan upaya memaksimalkan tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-5 tahun. Jadi, disini peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan kognitif anak.

Pahami Dulu Apa Itu Pengertian Kemampuan Kognitif Anak

Sebelum membahas mengenai cara yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan perkembangan kognitif anak, penting untuk mengetahui pengertiannya. Secara umum, kemampuan kognitif merupakan proses di mana anak dapat menerima pengetahuan dan informasi. 

Selain itu, kemampuan kognitif juga bisa diartikan sebagai keterampilan otak anak yang sangat diperlukan kan dalam menyelesaikan tugas sederhana sampai yang kompleks. Meskipun begitu, bukan berarti kemampuan tersebut dapat berkembang tanpa adanya upaya manusia. 

Inilah Kenapa sebagai orang tua penting untuk mengetahui kemampuan tersebut. Apalagi jika dibandingkan kemampuan yang dimiliki anak-anak dan orang dewasa sangatlah berbeda. Dengan kata lain, di sini orang tua harus memberikan dukungan atau stimulasi perkembangan kognitif. 

Cara Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Anak 0-5 Tahun

Anak di usia 0-5 tahun mempunyai perkembangan kognitif yang berbeda. Contoh cara untuk memaksimalkan perkembangan tersebut di setiap tahunnya juga berbeda. Selengkapnya berikut ini penjelasan mengenai cara-caranya di setiap usia anak. 

1. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Usia 0-6 Bulan

Anak di usia 0-6 bulan sudah mulai menunjukkan kemampuannya dalam menunjukkan reaksi terhadap suara. Bahkan, di usia ini anak juga sudah mulai bisa mendekati sumber suara tersebut. Sedangkan untuk memaksimalkan perkembangan kognitifnya, terapkan beberapa cara ini.

  • Mengajak anak untuk berbicara agar dapat memastikan Apakah sudah bisa merespon dengan melihat wajah Anda.
  • Sering-seringlah membacakan buku kepada anak dan menunjuk gambarnya. 
  • Melakukan berbagai aktivitas yang tidak akan membuat bayi bosan dan rewel.
  • Berikan mainan dengan jarak jauh dan masih terlihat anak. 

2. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Usia 6-9 Bulan

Tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-5 tahun, terutama di usia 5-9 bulan sudah mulai mempunyai kemampuan seperti menggenggam benda. Bahkan, di usia ini anak juga sudah bisa memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Tentu untuk memaksimalkan perkembangan kognitif ini, terapkan beberapa cara berikut.

  • Saat anak mempunyai kemampuan atau keterampilan baru, berikan pujian.
  • Berikan mainan di sekeliling anak.
  • Membacakan buku kepada anak saat menjelang tidur atau waktu lainnya.
  • Memberikan permainan yang bisa meningkatkan kemampuan berpikir seperti memasukkan benda ke dalam lubang.
  • Mengajak anak untuk bernyanyi dan mendengarkan musik.

3. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Anak Usia 9-12 bulan

Anak di usia ini sudah bisa sudah mempunyai kemampuan membedakan benda sesuai dengan fungsinya. Misalnya saja cangkir untuk minum, sendok untuk makan dan lain sebagainya. Sedangkan untuk memaksimalkan perkembangan ini, orang tua wajib melakukan beberapa cara berikut. 

  • Memberikan anak berbagai mainan maupun benda.
  • Mengajak anak untuk bermain petak umpet dan bertepuk tangan.
  • Mengajak anak bermain mencari barang-barang yang hilang.
  • Mengajarkan pengetahuan baru mengenai sebab akibat. 

4. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Usia 1-2 tahun

Saat anak sudah berusia satu atau dua tahun, pengetahuannya mulai bertambah. Misalnya saja sudah memahami anggota tubuhnya. Bahkan, sudah paham mengenai benda-benda yang ada di sekitarnya. Sedangkan cara memaksimalkan perkembangan kognitif tersebut, berikut cara-caranya.

  • Mengajak anak untuk mewarnai gambar dengan bentuk tertentu.
  • Mengajak anak untuk mencari mainan yang disembunyikan. 
  • Sering-seringlah memberikan arahan kepada anak seperti ambil mainan itu.
  • Bisa juga memberikan arahan untuk memasukkan mainan ke dalam keranjang.

5. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Usia 3-4 Tahun

Saat anak sudah menginjak usia 3 sampai 4 tahun, biasanya sudah mulai bisa bermain dengan temannya. Namun, di usia ini belum bisa untuk berbagai mainan atau sejenisnya. Tentunya untuk memaksimalkan perkembangan tersebut, terapkan beberapa cara berikut ini.

  • Mengajak anak melakukan sesuatu atau bermain peran.
  • Mengajak anak bermain menjadi pemimpin.
  • Mengajarkan anak mengenai lagu-lagu.
  • Mengajak anak untuk membantu aktivitas orang tua seperti memasukkan mainan ke dalam keranjang.
  • Mulai ajarkan mengenal angka-angka dan berhitung. 

6. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Anak Usia 4-5 tahun

Saat anak di usia 4 sampai 5 tahun sudah mulai bisa memahami konsep waktu seperti pagi, nanti, kemarin dan lainnya. Tentu di tahapan usia ini anak sudah mulai mengalami perkembangan dalam kemampuannya. Sedangkan untuk memaksimalkannya, Orang tua harus menerapkan beberapa cara berikut ini.

  • Memancing agar anak dapat menceritakan aktivitasnya.
  • Biasakan anak untuk bisa mengambil keputusan dengan cara memberikan pilihan.
  • Membantu anak dalam meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa dan mengenalkan kata-kata yang akan sering digunakan. 
  • Membantu anak agar bisa menggunakan frasa dan kata yang tepat.
  • Ajak anak untuk menggambar semua anggota keluarga. 

Pentingnya Peran Orang Tua dalam Perkembangan Kognitif Anak

Dari penjelasan sebelumnya bisa diambil garis besar jika peran orang tua dalam perkembangan kognitif anak sangatlah penting. Dengan kata lain, tanpa bantuan dari orang tuanya terutama ibu, perkembangan kognitif anak tidak akan berkembang optimal.

Di sini, orang tua berperan sebagai pembimbing dan mengarahkan anak agar melakukan sesuatu yang nantinya bisa menjadi kebiasaan. Misalnya saja memimpin anak untuk bisa dispilin, mandiri dan membuat keputusan sendiri.

Tentunya untuk meningkatkan perkembangan kognitif anak bisa dilakukan sesuai dengan tahapan usianya. Mengingat setiap usia anak, mempunyai kemampuan tersendiri dan tentunya tidak dapat dipaksakan sama dengan usia yang selanjutnya. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Hal yang Harus Orang Dewasa Lakukan dalam Membangun Kecerdasan Anak Usia 0-2 Tahun

Tahukah Anda jika peran orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak usia 0-2 tahun, ternyata sangat diperlukan. Mengingat tanpa peran dari orang dewasa, pengetahuan yang anda miliki tidak akan berkembang dan begitu juga sebaliknya.

Kemampuan Sensorik dan Motorik Anak

Perlu diketahui jika perkembangan anak yang berusia 0-2 tahun berada di tahapan sensori motorik. Dengan kata lain pada usia tersebut, dalam membangun pengetahuannya anak akan mengandalkan aktivitas sensorik dan motorik. Selengkapnya berikut ini penjelasan mengenai perbedaan keduanya.

1. Kemampuan Sensorik

Kemampuan sensor merupakan kemampuan yang dimiliki seorang anak dengan memanfaatkan inderanya sebagai sarana untuk menangkap apapun yang ada di sekitarnya. Lebih tepatnya berikut ini 7 Indra yang sangat berperan penting dalam pengembangan sistem saraf anak. 

  • Taste merupakan stimulasi yang dimiliki anak atau manusia pada umumnya dan berhubungan dengan rangsangan indra pengecap. Tentu Indra yang satu ini sangat penting dalam pengembangan sistem saraf anak, karena dapat memperkenalkan rasa.
  • Taktil merupakan stimulasi yang dimiliki dan berhubungan dengan Indra peraba. Tentunya Indra ini sangat penting dalam pengembangan sistem saraf anak dan bisa dilakukan melalui tekanan maupun sentuhan.
  • Pendengaran merupakan rangsangan dari indra pendengaran dan termasuk stimulasi auditori. Jadi antara stimulasi auditori dan indra pendengaran sangat berhubungan. 
  • Penglihatan merupakan stimulasi visual yang saling berhubungan dengan rangsangan berasal dari indera penglihatan.
  • Penciuman merupakan stimulasi olfaktori yang sangat berhubungan dengan rangsangan berasal dari indera penciuman. Stimulasi ini terjadi dengan memberikan aroma wewangian atau sebaliknya.
  • Proprioception merupakan stimulasi yang sangat berkaitan dengan rangsangan pada persendian tubuh. Rangsangan ini menimbulkan adanya gerakan otot secara perlahan.
  • Vestiblular merupakan stimulasi yang sangat berkaitan dengan adanya rangsangan terhadap keseimbangan tubuh. Sedangkan untuk melakukan stimulasi ini bisa dengan cara memberikan rangsangan seperti melakukan ayunan lembut.

2. Kemampuan Motorik

Kemampuan motorik merupakan kemampuan yang dimiliki anak dalam bergerak. Kemampuan motorik dibagi menjadi dua kategori yaitu motorik halus dan motorik kasar. Tentu keduanya mempunyai perbedaan tersendiri, sehingga penting untuk mengetahuinya pada penjelasan ini. 

  • Motorik halus sangat berhubungan erat dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil. Jadi motorik halus merupakan aktivitas yang membutuhkan koordinasi secara matang. Sedangkan untuk mengasah kemampuan motorik halus bisa dengan cara menyusun puzzle, balok dan menggambar. 
  • Motorik kasar sangat berhubungan erat dengan otot besar dalam melakukan koordinasi anggota tubuh. Kemampuan motorik kasar bisa dicontohkan dengan beberapa aktivitas seperti berlari, melompat, berjalan dan yang lainnya.

Peran Orang Dewasa dalam Membangun Pengetahuan Anak

Perlu diketahui jika peran orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak usia 0-2 tahun sangatlah penting dan tentunya dibutuhkan. Mengingat untuk membangun pengetahuan diperlukan perkembangan otak, sehingga perlu adanya stimulasi. Selengkapnya berikut ini beberapa peran yang harus dilakukan. 

1. Menyediakan Permainan yang Interaktif

Cara pertama yang bisa dilakukan orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak di usia 0 sampai 2 tahun yaitu menyediakan permainan interaktif. Dengan kata lain permainan ini dapat mengaktifkan panca indera anak. Seperti halnya berikut ini contoh permainannya.

  • Permainan yang bisa meningkatkan kemampuan motorik kasar anak seperti melempar dan menangkap bola. 
  • Permainan Playdough maupun adonan tepung untuk meningkatkan imajinasi anak. Mengingat dengan permainan tersebut anak akan mencoba untuk meremas pasir dan membentuknya sesuai dengan keinginan.
  • Permainan dari pasir juga sangat berguna untuk membangun pengetahuan anak.
  • Bermain kain sutra atau amplas untuk yang meningkatkan kemampuan dalam meraba kasar halusnya suatu benda.
  • Bermain petak umpet untuk meningkatkan kemampuan anak mencari tahu.
  • Permainan mengambil bola juga bisa meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya, karena anak tertarik untuk meraih bola tersebut. 

2. Menyediakan Lingkungan yang Nyaman

Orang dewasa juga mempunyai peranan penting untuk menyediakan lingkungan yang nyaman agar bayi di usia tersebut dapat bereksplorasi lebih leluasa. Misalnya saja menyediakan lingkungan yang sangat aman untuk bayi merangkak, tengkurap atau melakukan aktivitas lainnya. 

Meskipun begitu, dalam upaya Ini juga masih diperlukan pengawasan dari orang dewasa. Mengingat terkadang ada beberapa hal yang memungkinkan terjadinya sesuatu tidak diinginkan. Intinya peran ini diperlukan untuk memberikan keamanan pada bayi.

3. Menyediakan Lingkungan Kaya Bahasa

Menyediakan lingkungan dengan gaya bahasa juga menjadi salah satu peran dari orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak usia 0-2 tahun. Maksudnya, dalam hari ini orang dewasa mempunyai peranan untuk selalu aktif dalam mengajak anak berinteraksi.

Penerapan ini bisa dilakukan dengan cara yang cukup sederhana seperti mengajaknya berbicara atau melakukan permainan tertentu yang bisa meningkatkan kemampuan berbahasanya. Cara ini juga sangat berguna agar pengetahuan anak bisa meningkat. 

4. Mengenalkan Tempat Benda

Peran orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak usia 0-2 tahun yang selanjutnya yaitu mengenalkan tempat atau posisi benda. Dalam hal ini penting juga untuk melakukan penataan lingkungan rumah yang baik dan rapi, agar anak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.

Keuntungan yang didapatkan jika melakukan penataan lingkungan seperti ini yaitu dapat mendorong kemampuan anak dalam menemukan hal-hal baru. Misalnya saja mengetahui tempat untuk menyimpan mainan, sepatu, pakaian dan lain sebagainya. Cara ini juga dapat membiasakan anak disiplin.

Demikian penjelasan mengenai peran orang tua dalam membangun pengetahuan anak di bawah usia 2 tahun. Penjelasan ini tentu akan sangat bermanfaat karena pertumbuhan dan perkembangan anak di usia dini tentu tidak terlepas dari peran orang tua atau orang dewasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Peran Orangtua dalam Mendidik Anak Agar Belajar Lebih Maksimal

Orangtua dan rumah adalah tempat belajar pertama untuk setiap anak. Karena itu, belajar tidak hanya didapatkan anak di sekolah, tapi juga dari peran orangtuanya selama di rumah. Bahkan, peran orang tua dalam mendidik anak belajar, memiliki pengaruhnya yang sangat besar. Mengingat orang tualah yang mengajari anak dari bayi hingga mereka bisa mandiri dan hingga kelak mereka dewasa.

Inilah Peran Orang Tua dalam Mendidik Anaknya

Orang tua terutama ibu merupakan guru pertama bagi anaknya, sehingga ibu memiliki peran yang cukup penting dalam mendidik anak. Lalu Apa saja peran orang tua dalam hal ini? Selengkapnya berikut ini penjelasan dari 9 peran orang tua dalam mendidik anaknya. 

1. Tunjukkan Minat Terhadap Tugas yang Dimiliki Anak

Orang tua terutama ibu mempunyai peranan yang cukup penting dalam mendidik anak, sehingga diharuskan melakukan berbagai upaya agar anak tertarik dalam pendidikan. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu menunjukkan minat terhadap tugas sekolah anak. 

Jadi, pastikan Jika setiap hari membuat jadwal khusus kapan anak harus mengerjakan tugas sekolahnya. Pada saat itu juga orang tua harus mendampingi anak dalam mengerjakan tugas. Dilakukan dengan tujuan agar anak merasa terdukung dan terbantu. Sehingga ia bisa lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas sekolahnya.

2. Mendukung Pendidikan Formal dan Informal yang Dijalani Anak

Peran lain yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anaknya yaitu memberikan dukungan terhadap pendidikan. Terutama saat anak masih menginjak sekolah TK atau SD, Orang tua harus bisa lebih aktif berperan dalam pendidikannya.

Hal ini dilakukan dengan tujuan agar anak bisa berhasil dalam bidang akademik. Tentunya dalam hal ini orang tua juga mempunyai kewajiban untuk memberikan pemahaman kepada anak jika belajar merupakan hal yang penting dan akan sangat berguna untuk masa depan. Dan dukungan yang dimaksud, tidak hanya berlaku pada pendidikan formal dan informal yang dijalani anak.

3. Mengasah Keterampilan Mengasuh Anak

Mengasah keterampilan dalam mengasuh anaknya juga menjadi salah satu peran orang tua dalam mendidik. Misalnya saja dengan membantu anak belajar di rumah. Cara tersebut sangatlah berguna untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam memahami pelajaran anak.

Selain itu, cara tersebut juga sangat berguna untuk melibatkan orang tua terhadap proses pendidikan anak. Di samping itu, penting juga untuk menjalin komunikasi yang lancar dengan anak agar mereka tidak merasa asing dengan orang tuanya sendiri. 

4. Menjadi Panutan Terbaik yang Bisa Ditiru Oleh Anak

Selanjutnya peran orang tua dalam mendidik anak belajar yaitu menjadi panutannya. Mengingat anak bisa tumbuh dengan baik berasal dari orang tuanya. Dengan kata lain, anak akan terinspirasi dari apapun yang dilakukan oleh orang tuanya.

Tentunya sebagai orang tua harus memberikan panutan dan role model yang baik. Hal ini bisa dimulai dengan cara sederhana seperti biasakan mencuci tangan sebelum makan, melakukan ibadah, saling tolong menolong, melakukan interaksi dengan baik, sopan santun dan lainnya. 

5. Memberikan Pengawasan Kepada Anak Namun Tidak Mengekang

Memberikan pengawasan terhadap setiap aktivitas anak jika menjadi salah satu peran orang tua yang harus diterapkan dalam mendidik anak. Hal ini penting sekali untuk dilakukan karena sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Parahnya lagi, jika terlewat dari pengawasan, anak bisa di jalan yang tidak benar.

Pengawasan yang diberikan tidak hanya selama di rumah, tapi juga di sekolah. Selain memberikan pengawasan yang ketat, sebagai orang tua juga penting untuk memberikan nasehat atau pengertian terhadap anak. Tujuannya agar anak bisa memahami apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak.

6. Buat Suasana Rumah Nyaman untuk Anak

Peran orang tua dalam mendidik anak tidak hanya terfokus pada pelajaran di sekolah. Selain itu, orang tua juga mempunyai peranan yang penting untuk menciptakan rumah lebih menyenangkan dan tentunya nyaman.

Mengingat nantinya anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibandingkan di sekolah. Begitu juga seterusnya, suasana rumah yang nyaman juga dapat mewujudkan ketenangan saat anak mengerjakan tugas sekolah. 

7. Menciptakan Proses Belajar Lebih Menyenangkan

Seperti yang telah disinggung sebelumnya jika anak akan menghabiskan banyak waktu di rumah dibandingkan di sekolah. Begitu juga saat mendapatkan tugas atau PR, mau tidak mau anda akan mengerjakannya di rumah dan membutuhkan pendampingan dari orang tua. 

Selain itu, penting juga untuk menciptakan proses belajar lebih menyenangkan agar anak merasa tidak bosan. Misalnya saja dengan mengajak anak belajar di luar rumah dengan jalan-jalan. Apalagi jika tugas rumah yang dimiliki berhubungan dengan hewan, mengajaknya ke kebun binatang bisa dijadikan pilihan. 

8. Menciptakan Quality Time yang Berkualitas dengan Anak

Menciptakan quality time dengan anak juga menjadi salah satu peran orang tua yang harus diterapkan dalam mendidik. Meskipun Anda termasuk salah satu orang tua yang mempunyai banyak pekerjaan di luar, penting untuk meluangkan waktu dengan anak.

Entah itu untuk meluangkan waktu dalam menemani belajar, membacakan buku cerita, mengobrol dan lain sebagainya. Beberapa hal tersebut memang sangat sederhana, tapi anak sangat membutuhkannya dalam proses pertumbuhannya. 

9. Berbagi Pengalaman Pribadi dengan Anak

Peran orang tua dalam mendidik anak belajar yang selanjutnya yaitu berbagi pengalaman pribadi. Jadi, Anda bisa menceritakan bagaimana masa-masa sekolah atau cara menyelesaikan tugas serta tanggung jawab. Cerita tersebut akan sangat berguna untuk memotivasi anak. 

Sedangkan untuk pengalaman pribadi yang dibagikan kepada anak tidak hanya melulu perihal positif, tapi juga negatif. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar anak bisa membedakan mana hal yang positif dan negatif. 

Itulah penjelasan mengenai beberapa peran orang tua yang harus diterapkan dalam mendidik anak belajar. Diharapkan Jika setiap orang tua melakukan peranannya dengan baik, bisa berdampak pada pembentukan karakter anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top