Parenting

Cara Menjadi Orang Tua yang Tak Mudah Marah

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Ada banyak tantangannya. Terkadang kita mudah marah saat anak berperilaku tidak sesuai harapan. Ironisnya, semakin sering kita marah tidak lantas menjadikan perilaku anak jadi lebih baik. Hm, bagaimana menjadi orang tua yang tak mudah marah?

Sebelum mencari tahu cara menjadi orang tua yang tak mudah marah, kita perlu memahami bahwa marah adalah emosi alami manusia. Siapa saja berhak marah. Terkadang amarah bisa menjadi hal yang baik juga lho. Sebab, kemarahan bisa memberikan energi dalam menyelesaikan sesuatu.

Ya, merasa marah adalah hal yang wajar. Namun, kita perlu mengelola amarah dengan cara yang sehat dan positif. Dengan begitu, kita sudah memberi kesempatan pada diri sendiri untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Ingat, Bunda, nantinya anak-anak akan mengingat bagaimana harus bersikap saat kemarahan melanda.

Penyebab Kemarahan Orang Tua

Saat marah pada anak dan terekspresikan dengan cara yang kurang baik, pada akhirnya penyesalan melanda. Saat menyesal baru terpikir rasanya berlebihan sekali cara marah kita pada anak.

Kita berteriak atau mungkin memukul anak dengan harapan mereka memahami apa yang kita pikirkan. Padahal anak-anak sedang belajar untuk hidup. Tidak bijaksana rasanya memaksa mereka untuk memahami orang tuanya.

Yuk, belajar memahami diri sendiri. Luangkan waktu sejenak untuk mengenali hal-hal yang sering menjadi penyebab kemarahan pada anak, seperti dikutip dari laman Raising Children.

1. Banyak Tuntutan

Penyebab kemarahan orang tua pada anak sangat beragam. Membesarkan dan mengasuh anak bukan hal yang dilakukan tanpa distraksi. Proses ini kerap melibatkan keseimbangan berbagai tuntutan dalam hidup kita.

Kita membesarkan anak sambil bekerja, melakukan pekerjaan rumah tangga, terlibat dalam kegiatan sosial, dan lainnya. Ketika banyak hal tidak sesuai rencana, jadi mudah kehilangan kesabaran. Alhasil jadi gampang marah juga pada anak.

2. Konflik dengan Pasangan

Meski sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan rumah tangga, tetapi tidak selamanya suami dan istri saling sepakat. Sering kali muncul perbedaan pendapat yang melahirkan konflik.

Terkadang konflik ini memunculkan rasa marah dan frustrasi. Lagi-lagi di saat diri tidak nyaman, anak menjadi pelampiasan. Kesalahan kecil yang dilakukan anak memicu kemarahan besar.

3. Anak Sulit Diatur

Di suatu ketika kita merasa anak sulit sekali diatur. Misalnya, mereka kerap diberi petuah untuk tidak berkata kasar pada orang lain. Nyatanya masih saja dilakukan. Sebagai orang tua, kita merasa tidak didengar dan tidak dihormati anak. Lalu kita merasa berhak untuk marah.

4. Faktor Lain

Terdapat faktor-faktor lain yang membuat kita jadi lebih mudah marah, seperti kelelahan, lapar, dan kurang tidur. Tekanan di tempat kerja, masalah keuangan, serta kurang waktu untuk diri sendiri juga bisa membuat seseorang lebih mudah marah.

Dengan memahami apa yang membuat marah dan bikin diri kehilangan kendali, kita juga jadi lebih mudah mengembangkan keterampilan mengontrol diri. Sulit mengontrol diri sendiri? Tenang, Bunda, keterampilan ini sangat bisa dipelajari.

Pikiran Negatif Bikin Kemarahan Menjadi-jadi

Saat kemarahan menggelegak, rasanya sulit berpikir positif ya, Bunda. Semua terlihat salah di mata kita. Begitu juga sebaliknya, saat pikiran negatif melanda, bisa memicu kemarahan yang semakin menjadi-jadi.

Ilustrasi berikut bisa menjadi gambaran. Di tengah situasi pandemi seperti sekarang, Bunda dan suami bekerja dari rumah dan si kecil pun sekolah dari rumah. Ketika Bunda sedang meeting, ternyata anak malah main di luar rumah sehingga terlambat masuk ke kelas online-nya.

Saat melirik ke arah suami, ternyata dia cuek-cuek saja dengan kondisi ini. Tatapan mata suami terus tertuju pada pekerjaannya. Sesekali dia beranjak dari kursi kerja, namun hanya untuk membuat kopi atau meletakkan gelas kotor di tempat cuci piring.

Dalam situasi ini, pikiran negatif yang mungkin muncul adalah:

1. “Harus kerja, ngurusin anak, ngerjain kerjaan rumah. Nggak ada satu orang pun yang peduli. Saya harus mengerjakan semuanya sendiri.”

2. “Kamu nakal banget sih jadi anak. Sudah tahu waktunya sekolah malah main. Bundanya sibuk kerja, kamu malah sibuk main.”

3. “Bunda jadi marah gara-gara sikap kamu nggak baik.”

4. “Kenapa sih kamu selalu bikin Bunda marah?”

Nah, Bunda, jika pikiran-pikiran negatif seperti ini mulai muncul, coba berhenti sejenak dari aktivitas apa pun. Jika Bunda langsung melakukan sesuatu ketika pikiran-pikiran negatif berkecamuk, justru membuat situasi tidak kondusif.

Alih-alih bergegas melakukan sesuatu, Bunda sebaiknya ambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Bunda bisa berdzikir dalam hati atau menghitung angka pelan-pelan sambil mengatur napas agar amarah tidak meledak.

Cara Agar Jadi Orang Tua yang Tak Mudah Marah

Kalau sayang, maka nggak akan marah. Kita pasti paham benar akan hal itu. Bila saat ini Bunda meluangkan waktu membaca tulisan ini, sudah pasti ada keinginan kuat untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Orang tua yang tidak mengedepankan amarah dalam membersamai anak.

1. Fokus Kendalikan Diri, Bukan Kendalikan Anak

Di awal tulisan ini kita sudah mencoba memahami diri, sehingga lebih tahu hal-hal yang mudah membuat marah. Selanjutnya, kita akan fokus pada pengendalian diri. Ingat ya, Bunda, pengendalian diri, bukan pengendalian perilaku anak.

Saat anak bersikap negatif, mungkin kita akan tergoda untuk langsung mengendalikan anak. Caranya dengan membentak, memarahi, atau bahkan memukulnya. Sebelum ini terjadi, yuk tarik napas dulu, Bun.

Debbie Pincus, MS LMHC, seorang coaching parents, menyampaikan sebuah rahasia. “Ketika Anda mengendalikan diri, anak-anak juga akan tenang. Ingat, ketenangan itu menular, begitu pula kecemasan. Terbukti bahwa kecemasan orang tua terhadap anaknya berkontribusi signifikan terhadap kecemasan anaknya.”

Mari kita coba lebih memahami dengan menyimak ilustrasi berikut ya Bunda. Misalnya Bunda sedang mengajari anak berhitung. Ternyata anak tidak juga paham dan malah merengek-rengek. Kesal, marah, dan kecewa mungkin Bunda rasakan.

Dalam situasi ini, Bunda mungkin terdorong untuk membentak anak agar dia lebih fokus dan konsentrasi. Namun, sering kali yang terjadi anak malah jadi cemas sehingga semakin sulit berkonsentrasi.

Alih-alih membentak dan beraksi kontraproduktif, sebaiknya diam sesaat sambil bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana cara tetap tenang sehingga dapat membantu anak saya memahami hitung-hitungan ini?”

2. Berkomitmen Agar Emosi dan Sikap Terkontrol

Banyak hal memerlukan komitmen tingkat tinggi, tak terkecuali saat berusaha mengendalikan emosi negatif. Ini bukan perkara mudah. Di satu waktu mungkin berhasil, tetapi bisa jadi gagal di waktu lain. Namun, yang terpenting adalah menjaga diri tetap tenang dan berusaha menjaga komitmen.

Ketika berada dalam situasi yang tidak enak, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan tidak melakukan reaksi apa pun. Saat ini, Bunda bisa minta tolong suami untuk menghadapi anak. Sementara itu, Bunda tinggalkan situasi itu sesaat untuk mendapat ketenangan.

Bagaimana jika kelepasan berteriak pada anak? Jika itu terjadi, maka tidak masalah jika kita minta maaf pada anak. Dengan begitu ada pesan yang disampaikan pada anak bahwa, “Merasa marah itu nggak apa-apa, tetapi jangan berteriak atau menyakiti orang lain”.

3. Tarik Napas Dalam

Ketika merasa marah atas perilaku anak, yuk tarik napas dalam-dalam, Bun. Menarik napas mendalam juga memberikan waktu sejenak pada diri sendiri untuk berpikir dulu sebelum bertindak.

Terbiasa menarik napas dalam sebelum melakukan atau mengucapkan sesuatu berarti membiasakan tidak bersikap spontan. Perlu Bunda pahami bahwa saat kita bereaksi –bukan menanggapi, yang digunakan tubuh adalah mode autopilot. Hal inilah yang membuat kita menyesal setelah diri benar-benar sadar pada masalah yang dihadapi.

4. Lakukan Positive Self Talk

Positive self talk alias berbicara pada diri sendiri dengan cara positif juga bisa dilakukan sebagai upaya mengontrol emosi. Kadang saat amarah menguasai diri, seperti terdengar bisikan untuk melakukan sesuatu yang kontraproduktif. Misalnya, seperti ada bisikan yang mengatakan, “Marahi saja anakmu agar dia kapok.”

Itu makanya kita perlu melawan bisikan negatif tersebut dengan positive self talk. Contohnya dengan berkata dalam hati, “Berhenti, jangan marah,” atau “Saya tidak akan bereaksi terhadap perilaku anak saya,” atau “Saya akan menarik napas dalam-dalam.”

Debbie Pincus menyebut banyak psikolog yang menganjurkan melakukan positive self talk karena telah terbukti manfaatnya. Dengan positive self talk, seseorang dapat mengontrol suara di kepalanya. Hasilnya yang bersangkutan akan mendapatkan ketenangan, bukan kecemasan.

5. Merenung Saat Diri dalam Keadaan Tenang

Setelah melewati rasa marah dan ekspresi kemarahan, penting sekali bagi diri kita untuk berefleksi atau merenung. Dalam situasi yang lebih tenang, kita akan melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang lebih luas.

Merenung atas sesuatu yang telah terjadi dapat membantu kita belajar dari pengalaman. Sehingga di kemudian hari jika menghadapi situasi serupa, kita akan menanganinya dengan lebih baik.

Perenungan ini termasuk membayangkan hubungan dengan anak ketika mereka sudah lebih besar. Debbie Pincus menyebut hal ini bukan berarti menoleransi perilaku anak yang tidak pantas. Sebaliknya, kita sedang memperlakukan anak dengan hormat, sebagaimana kita ingin diperlakukan olehnya.

6. Lebih Santai

Kita cenderung cemas dan marah saat anak-anak tidak mengerjakan PR atau tidak serius saat belajar. Kekhawatiran anak-anak tidak akan sukses di masa depan lantaran saat ini tidak serius belajar membuat kecemasan meningkat. Kita pun jadi mudah marah karenanya.

Padahal sebenarnya kesuksesan bukan sekadar rajin mengerjakan PR dan serius belajar. Ada banyak sekali cara untuk meraih kesuksesan. Bahkan kesuksesan sering diraih karena seseorang mahir di bidang tertentu, tidak melulu akademis.

Debbie Pincus mengatakan seseorang sering kali over thinking, di mana hal-hal yang dipikirkan tak sesuai kenyataan. Nah, hal-hal itu biasanya negatif sehingga merugikan diri sendiri. Kenyataannya banyak hal yang tidak seburuk yang kita bayangkan.

Ketimbang terlalu memikirkan banyak hal, Debbie menyarankan orang tua untuk lebih santai dan fokus pada sesuatu yang bisa dilakukan saat ini. “Masa depan ada di tangan anak Anda dan Anda tidak memiliki kendali atas hal itu. Tidak peduli seberapa keras Anda berusaha,” ucapnya.

Dampak Kemarahan Orang Tua pada Anak

Ekspresi kemarahan orang tua pada anak yang meledak-ledak bisa menimbulkan berbagai dampak buruk. Itu makanya kita sebagai orang tua perlu belajar meregulasi diri dan emosi supaya menjadi orang tua yang tak mudah marah.

Berikut ini beberapa dampak anak yang sering mendapat amarah orang tua, seperti dikutip dari laman Pregnancy Birth Baby.

1. Anak Stres

Saat mendapat amarah dari orang tua, anak seringkali menyalahkan diri sendiri. Terlalu sering merasa bersalah membuat anak-anak stres. Hal ini memengaruhi tumbuh kembang otak anak. Bila terus-menerus tinggal di lingkungan yang penuh amarah, mereka berisiko terkena penyakit mental di kemudian hari.

2. Anak Merasa Tidak Berharga

Saat orang tua marah dan melontarkan kata-kata menyakitkan, anak akan merasa dirinya adalah sosok yang tidak berharga. Hal semacam itu nantinya bisa membuat mereka berperilaku buruk. Merasa tidak berharga dan tidak dicintai orang tuanya juga membuat anak lebih berisiko mengonsumsi obat-obat terlarang.

3. Anak Meniru Amarah Orang Tuanya

Children see, children do. Ekspresi marah orang tua akan dicontoh oleh anak. Jika suatu saat kita mendapati anak berteriak-teriak saat marah, memukul, atau melakukan tidankan destruktif lainnya, bisa jadi karena orang tuanya melakukan hal serupa.

Untuk itu, penting sekali bagi kita untuk memberikan contoh yang baik saat marah melanda. Misalnya dengan diam sejenak dan mengambil napas dalam-dalam, atau izin untuk keluar ruangan sesaat untuk menenangkan diri.

4. Anak Bersikap Negatif

Mendisiplinkan anak dengan cara marah-marah merupakan langkah kontraproduktif. Justru saat orang tua mudah marah, anak bereaksi dengan sejumlah sikap negatif. Misalnya saja sulit berkonsentrasi, kesulitan bermain dengan anak lain, menjadi pendiam dan ketakutan, bersikap kasar dan agresif, serta mengalami masalah tidur.

5. Hubungan Anak dan Orang Tua yang Negatif

Sering membentak ditambah memberi hukuman fisik pada anak adalah perilaku yang tidak perlu diteruskan. Sebab hal ini bisa menimbulkan hubungan negatif orang tua dan anak.

Berbagai penelitian juga menunjukkan menghukum anak secara fisik membuat mereka berisiko melakukan perilaku antisosial dan agresi. Selain itu, harga diri anak rendah, serta berisiko mengalami masalah kesehatan mental.

Beberapa orang tua bahkan marah pada bayi yang berkata-kata saja belum bisa. Padahal ekspresi marah dengan mengguncang, memukul, menendang, atau melempar bayi dengan keras dapat menyebabkan kematian, kecacatan, dan cedera serius.

Kesimpulannya marah adalah wajar dirasakan semua manusia. Hanya saja kita harus sadar benar agar marah tidak diekspresikan dengan cara-cara yang menyakitkan secara verbal ataupun fisik.

Tidak perlu membuat anak mendengarkan kata-kata kita. Sebab yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami apa yang terjadi dan bagaimana cara menanggapinya.

Untuk itu, yuk kita biasakan diri untuk memikirkan semua hal sebelum melakukan apa pun. Semakin sedikit kita bereaksi, maka itu semakin baik. Semakin kita memikirkan semua hal dengan baik dan bijak, maka semakin positif hasilnya. Semangat membersamai si kecil dan menjadi orang tua yang tak mudah marah ya, Bunda.

Referensi:

Raising Children. Anger and Anger Management for Parents <https://raisingchildren.net.au/guides/first-1000-days/looking-after-yourself/anger-management-for-parents> diakses pada 26 April 2021.

Empowering Parents. Calm Parenting: How to Get Control When Your Child Makes You Angry <https://www.empoweringparents.com/article/calm-parenting-get-control-child-making-angry/> diakses pada 26 April 2021.

Pregnancy Birth Baby. Controlling Your Anger As A Parent. <https://www.pregnancybirthbaby.org.au/controlling-your-anger-as-a-parent> diakses pada 26 April 2021.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Orangtua Cerdas Di Era Digital Tidak Akan Menjadikan Gadget Sebagai Pengganti Perhatian Dan Kasih Sayang Untuk Buah Hatinya

Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat kita semakin mudah mengakses internet dimanapun berada. Orang dewasa hingga anak-anak bisa dengan leluasa membuka internet. Jika pada awalnya internet digunakan untuk mempermudah seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan, maka sekarang ini internet bisa digunakan untuk banyak hal mulai dari kegiatan bisnis hingga mengakses informasi.

Menurut Rieny Hassan, seorang pengasuh rubrik psikologi di Tabloid NOVA mengungkapkan bahwa sebagai orangtua kita harus bijak menyikapi informasi yang ada di internet. Misalnya saja ada informasi bahwa petai bisa digunakan sebagai obat penyembuh kanker. Mendapat informasi seperti itu kita tidak boleh menelannya mentah-mentah. Akan lebih baik bila kebenarannya dipastikan dulu.

Selain itu, sebaiknya jangan membuang ilmu yang diajarkan oleh orang tua jaman dulu karena ilmu-ilmu tersebut bisa kita terapkan secara seimbang pada era digital ini. Ada beberapa tips yang bisa anda lakukan untuk menjadi orangtua yang cerdas pada era digital ini.

Orangtua Yang Tidak Menjadikan Gadget Sebagai Pengganti Kasih Sayang

Tidak dapat dipungkiri bahwa gadget seperti sudah menjadi gaya hidup. Bahkan anak-anak saat ini sudah pandai memainkan gadget. Tapi jika itu dijadikan sebagai pengganti kasih sayang kepada anak, maka dia akan mengalami permasalahan saat tumbuh menjadi dewasa.

Dengan menyediakan gadget, berikut beberapa aplikasi favorit anak didalamnya, bukan berarti orangtua bisa lepas tangan dari kewajibannya untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang semestinya. Sebab pada dasarnya tak ada hal yang bisa menggantikan kasih sayang orangtua pada buah hatinya.

Pun Tidak Menitipkan Anak Pada Dunia Online

Mungkin anda sering melihat ada anak yang usianya masih 2 tahun sudah betah belama-lama dengan gadget. Hal ini adalah akibat dari sikap orang tuanya yang telah mengijinkan dia untuk bermain gadget seharian. Alasannya sederhana, yaitu agar orangtuanya bisa bebas beraktivitas. Untuk itu, dengan modal gadget yang sudah dipasang berbagai games yang menarik, orangtua pun merasa bisa membuat anaknya tidak rewel. Ini adalah cara yang salah. Menurut Rieny, siap ataupun tidak siap,siap tak siap anak akan akan berada disisi kita sebagai orangtuanya.

Orangtua Cerdas Di Dunia Era Digital Juga Menjadikan Interaksi Dengan Anak Sebagai Prioritas

Sering kita lihat ada orang tua yang terlalu sibuk dengan obrolan di gadgetnya sehingga mengacuhkan keberadaan anaknya. Ini adalah sikap yang salah besar. anak akan merasa gadget adalah sahabatnya sehingga saat dia dewasa dia akan kurang untuk melakukan interaksi dengan teman-temannya. Selain itu, mengacuhkan anak juga akan membuatnya kurang memiliki kesopanan saat berinteraksi.

Untuk itulah, ajaklah anak anda untuk berinteraksi karena hal ini merupakan cara untuk mentransfer energi positif kepada dirinya. Dengan melakukan interaksi, banyak hal yang bisa diajarkan oleh orangtua kepada anaknya, mulai dari tata cara saat bertemu dengan orang tua, cara menghargai orang lain, bagaimana cara untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, dan lain sebagainya. Cara-cara ini tidak dapat anak temukan di gadget-nya. Untuk itu sangat penting  mengajak anak berinteraksi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Sebab Orang Tua Adalah Contoh Bagi Anaknya, Jangan Lakukan 5 Hal Ini Bila Tidak Ingin Anak Anda Memiliki Perilaku Buruk!

Orang tua adalah contoh bagi anaknya. Apa yang anda lakukan memiliki kemungkinan besar diduplikat oleh anak. Orang tua seharusnya bisa memilah mana saja tindakan yang pantas dilakukan di depan anak. Bukan tidak mungkan perilaku kurang baik yang dilakukan oleh orang tua, suatu saat pun akan dilakukan oleh anak. Bahkan bisa dikatakan anak adalah cermin orang tua yang sebenarnya.

Setiap orang tua tentu ingin anak-anaknya memiliki kepribadian tak tercela. Namun sayangnya masih ada sebagian orang tua yang belum sadar bahwa prilaku mereka menjadi contoh buruk bagi anak-anaknya. Tentu anda tidak ingin contoh buruk bagi anak-anak bukan?  berikut lima hal buruk yang sebaiknya tidak anda lakukan di depan anak-anak!
1. Anda tentu tidak ingin bukan bila kelak anak menjadi seorang permbohong?
Sebenarnya berbohong adalah sikap kurang baik yang telah lumrah dilakukan orang dewasa. Namun tentu tak ada orang tua yang ingin anaknya terbiasa berbohong. Oleh karena itu usahakan untuk tidak terbohong di hadapan anak. Bila anda kerap berbohong, anak pun akan beranggapan bahwa berbohong adalah hal kecil yang wajar untuk dilakukan. Tentu tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi pembohong bukan?

2. Berbicara kasar adalah perilaku buruk yang sama sekali tak patut dicontoh oleh anak

Hindari menggunakan bahasa kasar saat berbicara dengan anak. Bukan tidak mungkin beberapa tahun kemudian dia akan berbalik melakukan hal yang sama pada anda. Ajari anak untuk berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan sopan. Berbicara kasar dengan nada yang tidak meyenangkan hanya akan menyakiti perasaan saja.

3. Memukul seseorang di depan anak sama sekali tidak dibolehkan. Ini akan menimbulkan efek yang sangat buruk. Bukankah anak adalah fotokopi sebenarnya dari orang tua?

Memukul orang di depan anak anda sama sekali bukan contoh yang baik. Anak anda akan terus merekam peristiwa tesebut. Tentu bukan hal yang baik bila anak kemudian meniru tindakan tersebut. Bahkan bisa jadi anak akan mengganggap bahwa memukul orang lain itu bukanlah tindakan yang salah.

4. Berteriak pada orang lain adalah tindakan yang sabaiknya tidak dilakukan di depan anak. Anda tidak hidup di hutan bukan?

Sebaiknya anda juga tidak boleh berteriak pada orang lain di depan anak anda. Seburuk apapun suasana hati anda, usahakan untuk tetap berbicara dengan intonasi wajar. Tentu sebagai orang tua anda juga tidak ingin bila anak anda memiliki kebiasaan berteriak saat berbicara.

5. Sama sekali tidak lucu ketika anda menjadikan keluarga atau guru anak sebagai bahan candaan! Bila anda ingin anak anda menghormati anda, anda juga harus belajar menghormati orang lain!

Pada awalnya mnjadikan keluarga atau guru sebagai objek bercanda tentu akan terasa menyenangkan. Namun jangan salah, hal ini akan menghasilkan masalah serius. Anak akan menggap anda tidak memiliki rasa hormat pada keluarga atau guru di sekolah. Kalau sudah begini, anak pun akan mengikuti jejak anda. Anak tak lagi menganggap penting untuk menghormati keluarga dan guru di sekolah. Bahkan bisa jadi anak pun akan menjadi sulit untuk menghormati anda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top