Lifestyle

Cara Meningkatkan Kesuburan Secara Alami Untuk Mendukung Program Hamil

Apakah ayah dan bunda sedang merencanakan program hamil? Jika iya, maka ayah dan bunda perlu meningkatkan kesuburan agar program hamil berhasil. Kesehatan organ reproduksi sangat mempengaruhi keberhasilan program hamil. Rahim bunda harus dalam kondisi yang sehat agar dapat menghasilkan sel telur berkualitas dan siap untuk menjadi tempat pembuahan. Sedangkan ayah harus selalu menjaga pola hidup sehat karena pola hidup dapat mempengaruhi kualitas sperma. Agar kesuburan selalu terjaga, maka ada beberapa cara yang bisa ayah dan bunda coba.

Pilih Makanan yang Dapat Meningkatkan Kesuburan

Beberapa jenis makanan dipercaya dapat membantu meningkatkan kesuburan, beberapa di antaranya adalah:

1. Makanan yang Kaya Antioksidan

Antioksidan berfungsi untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh yang dapat mempengaruhi kualitas sperma dan sel telur. Pada suatu penelitian yang dilakukan pada pasangan yang sedang menjalani fertilisasi in vitro atau bayi tabung didapatkan hasil bahwa pasangan yang mengkonsumsi suplemen antioksidan mempunyai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Banyak makanan yang mengandung antioksidan, misalnya buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian. 

2. Karbohidrat Kompleks

Karbohidrat kompleks banyak terkandung pada beras merah, sereal, biji-bijian utuh, dan gandum. Beberapa bahan makanan tersebut memiliki kandungan vitamin B, zat besi, dan antioksidan yang bagus untuk kesuburan. Berbeda dengan karbohidrat olahan misalnya pada nasi putih dan roti tawar putih, yang sudah kehilangan beberapa nutrisi tersebut. Selain itu, karbohidrat dari hasil olahan tersebut juga dapat meningkatkan kadar gula darah dan insulin yang dapat mengganggu hormone reproduksi. Jadi, ayah dan bunda bisa mengganti sumber karbohidrat misalnya dengan mengganti nasi putih dengan nasi merah.

3. Makanan yang Mengandung Zat Besi

Zat besi baik untuk kesehatan reproduksi ayah dan bunda. Beberapa makanan yang kaya zat besi antara lain daging merah, hati ayam, ikan, dan sayuran hijau. Mulai sekarang bunda perlu memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung zat besi untuk menyehatkan kandungan. Penyerapan zat besi akan meningkatkan dengan adanya vitamin C, oleh karena itu bunda juga perlu makan makanan yang mengandung vitamin C misalnya buah jeruk.

4. Makanan Sumber Asam Folat

Selain zat besi, asam folat juga baik untuk kesehatan kandungan. Selain itu, asam folat juga mempunyai manfaat untuk janin, yaitu untuk mencegah kecacatan pada janin. Sedangkan untuk ayah, asam folat dapat meningkatkan kualitas sperma. Sumber asam folat bisa didapatkan dari sayuran hijau, kacang-kacangan, kecambah, dan buah jeruk.

Relaksasikan Pikiran Agar Ayah dan Bunda Tidak Stress

Aktivitas, pekerjaan dan masalah sehari-hari dapat mengganggu pikiran hingga menjadi stres. Namun, ayah dan bunda harus tahu bahwa stres dapat mengganggu kesuburan. Hal itu terjadi karena saat stres tubuh mengeluarkan hormon stres sehingga terjadi perubahan hormon pada tubuh yang dapat mengganggutingkat kesuburan. Oleh karena itu ayah dan bunda harus merelaksasikan pikiran agar tidak stres. Jika mengalami masalah yang terlalu berat hingga mengganggu, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog agar stres tidak berlanjut.

Olahraga Juga dapat Meningkatkan Kesuburan

Olahraga sangat baik untuk kesehatan, tak hanya itu, ternyata olahraga juga dapat meningkatkan kesuburan lho. Dengan rutin berolahraga maka bisa menjaga berat badan agar tidak terjadi obesitas atau kegemukan. Penelitian menunjukkan bahwa berat badan dapat mempengaruhi kesuburan. Pada wanita, lemak dalam tubuh bisa mempengaruhi siklus menstruasi. Oleh karena itu, ayah dan bunda perlu menjaga pola hidup sehat agar berat badan normal.

Itulah beberapa hal yang bisa ayah dan bunda lakukan untuk meningkatkan kesuburan. Untuk ayah dan bunda yang sedang menjalani program hamil, semoga informasi di atas bisa membantu dan segera dikaruniai buah hati ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tanpa Sadar, Kita Sering Mengajarkan Anak Jika Ia Tak Pernah Salah

Saya Reva, punya anak usia sekitar 5 tahun. Sewaktu belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja dia menabrak kursi atau meja. Lalu ia menangis. Kemudian, yang saya lakukan supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak.

Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya. Akhirnya si anak pun terdiam. Belakangan Saya mulai menyadari, Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya saya telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah. Saya baru menyadari hal ini ketika anak Saya sudah mulai melawan. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar saya telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah loh.

Curahan hati dari salah seorang Bunda diatas, mungkin adalah satu dari sekian banyak penyesalan kita dalam mendidik anak. Secara tak sadar kita sedang menanamkan kepercayaan bahwa anak kita bukanlah pihak yang bersalah. Padahal, daripada menyalahkan benda lain yang ada di sekitarnya. Kita bisa memilih untuk memberinya pemahaman. Tentang resiko dan konsekuensi dari sebuah perbuatan. “Nggak apa-apa kak, tapi lain kali hati-hati ya bisa nggak jatuh lagi”, misalnya. Selain menyalahkan benda mati lain, berikut adalah kesalahan lain yang juga perlu kita hindari dalam mendidik anak. 

Sering Berbohong dengan Hal-hal Kecil 

Anak-anak akan selalu mendengarkan kata-kata dari orangtuanya karena mereka percaaya. Sayangnya, sebagai orangtua kita justru sering menyalah gunakan kepercayaan mereka dengan berbagai macam alasan tertentu. Entah untuk menghindari keinginan anak atau untuk membuat mereka menuruti perintah orangtua. Misalnya, ketika Ayah dan Bunda ingin pergi dan terpaksa meninggalkan anak di rumah neneknya. Lantas berkata pada si kecil hanya pergi sebentar, tapi ternyata pergi hingga larut malam atau berhari-hari. 

Atau pada kasus lain, Bunda mungkin berbohong dengan membuat ancaman kecil. Jika anak tak mau makan, maka ia tak akan ikut serta jalan-jalan. Padahal, dua hal ini adalah sesuatu yang tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Apalagi jika ternyata orangtua tak menyanggupi ucapan untuk tidak mengajanya jalan-jalan nanti. Sehingga anak jadi berpikir bahwa itu adalah sebuah gertakan belaka. 

Sebaliknya, cobalah untuk berkata jujur saja bun. Sampaikan padanya, jika ayah dan bunda memang harus meninggalkannya di rumah neneknya dulu, karena ada keperluan. Berikan pengertian pada anak yang sekiranya bisa membuatnya paham. Misalnya, jika ia tak makan dengan benar, bisa jadi ia lapar dan membuatnya sakit. 

Menuruti Keinginan Anak Agar Ia Tak Lagi Merengek

Pada satu kesempatan, entah saat berbelanja atau di tempat umum lainnya. Si kecil tiba-tiba marah dan meminta bunda untuk membelikan sesuatu padanya. Hanya karena tak enak hati karena menjadi pusat perhatian orang-orang, maka akhirnya bunda pun luluh lalu memenuhi permintaannya. 

Dari sikap kita yang seperti ini, anak kemudian belajar bahwa permintaannya akan dikabulkan ketika ia meminta dengan perlawanan yang gigih di muka umum. Bukan tak mungkin, jika ia akan kembali melakukan hal yang sama untuk permihtaan yang berbeda. 

Untuk itu, meski menjadi pusaat perhatian orang karena si kecil tiba-tiba mengamuk atau menangis di tempat umum. Sebaiknya orangtua perlu untuk tetap tegas dan bersikap konsisten. Sembari memberi mereka penjelasan, jika anak menginginkan sesuatu ia tak seharusnya meminta dengan cara yang seperti itu. Walau mungkin tidak tega, tapi sikap seperti ini jauh lebih baik untuk tumbuh kembangnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Untuk Orangtua yang Sering Mengancam atau Menakut-nakuti Anaknya

“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh, nggak akan mama tolong ya!” 

“Jangan ganggu adik, nanti Ayah/Bunda marah!” 

Bunda merassa cukup familiar dengan beberapa kalimat diatas? Sering Bunda dengar atau bisa jadi bunda yang mengatakannya pada si kecil di rumah? Iya, kami paham. Jika pada beberapa kesempatan si kecil mungkin bersikap menyebalkan atau membuat kita marah. Tapi meresponnya dengan kalimat diatas tentu bukanlah sesuatu yang benar. 

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Bunda/Ayah marah!”. 

Biar bagaimanapun, seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; mereka tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan

Lantas, Apa yang Sebaiknya Ayah dan Bunda Lakukan?

Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan.

Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Bunda/Ayah mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Bunda/Ayah akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau menggunakan teriakan-teriakan.

Atau Bunda juga bisa menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu, Bunda/Ayah akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain”. Atau “Bunda/Ayah akan keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Selanjutnya, tepati pernyataan kita dengan tindakan. Selamat mencoba bun. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tips Melatih Anak Toilet Training Tanpa Drama

Mengajarkan anak untuk buang air kecil dan buang air besar di toilet adalah sebuah proses yang tidak instan. Toilet training adalah salah satu aspek kemandirian yang harus diajarkan kepada anak. Selama prosesnya, orang tua perlu lebih bersabar dan meluangkan waktu lebih banyak.

Anak tidak langsung berhasil dalam sekali coba dan mungkin akan mengompol atau “kebocoran” sehingga harus lebih sering mengepel lantai atau membersihkan akibat “kebocoran” tersebut. Sebaiknya toilet training dilakukan ketika anak sudah menunjukkan tanda-tanda fisik dan emosional, serta ketika anak mau melakukannya.

Hindari memaksakan anak karena akan membuat anak tertekan. Orang tua bisa mengajarkannya secara bertahap, misal mulai dengan memperkenalkan fungsi toilet kepada anak dan membuat anak merasa nyaman untuk buang air di toilet.

Tips Melatih Anak Toilet Training

Ketika anak sudah mau dan menunjukkan kesiapan untuk toilet training, maka orang tua bisa mulai toilet training. Berikut beberapa tips yang bisa ayah dan bunda coba ketika mengajarkan anak buang air di toilet:

  1. Siapkan Perlengkapan yang Dibutuhkan, Pilih yang mMenarik untuk Anak

Siapkan dulu perlengkapan toilet training untuk anak, misalnya adapter seat atau dudukan kursi pada toilet dengan ukuran yang sesuai dengan si kecil. Pilih yang warnanya menarik bagi anak. Selain itu, bisa juga dengan menghias kamar mandi misal dengan menempel stiker karakter atau tokoh favorit anak.

  1. Ganti Popok dengan Trining Pants

Sebagai permulaan, bunda bisa mengganti popok dengan training pants agar jika anak mengalami “kebocoran” tidak langsung ke lantai karena lapisannya lebih tebal sehingga bisa menampung air kencing. Namun, training pants tidak seperti popok sekali pakai yang bisa tetap kering walaupun si kecil sudah pipis. Jika anak pipis di training pants maka akan terasa basah sehingga anak risih. Pilih training pants dengan gambar yang disukai oleh anak.

  1. Ajarka Cara Menggunakan Toilet Kepada Anak

Ajarkan anak cara menggunakan toilet. Untuk anak perempuan, bunda bisa mengajarkannya, sedangkan untuk anak laki-laki bisa diajarkan oleh ayah.

  1. Buat Jadwal Anak Buang Air

Salah satu tanda kesiapan toilet training pada anak adalah waktu buang airnya hampir sama setiap harinya atau bisa diprediksi. Dengan begitu bunda bisa membuat jadwal BAB dan BAK pada anak. Bunda bisa mengajak anak ke toilet sebelum tidur, bangun tidur, setelah makan, atau setiap 2-3 jam sekali.

Melatih kemandirian anak harus dilakukan secara konsisten, termasuk toilet training. Ayah dan bunda harus lebih bersabar dalam prosesnya ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top