Parenting

Anak Jadi Korban Bullying, Ini Cara Menghadapinya

mengatasi-bullying

Orang tua manapun akan sakit hati jika mengetahui anaknya menjadi korban bullying atau perundungan. Sedih, marah, bingung, campur aduk rasanya. Namun, sebagai orang tua, Kelasiana harus menguatkan anak.   

“Korban bullying tak hanya menderita secara fisik tetapi juga mengalami gangguan psikologis yang bisa mengakibatkan pengalaman traumatis,” kata Irma Gustiana A, M.Psi, Founder Ruang Tumbuh Pusat Konsultasi Psikologi, Terapi dan Pengembangan Diri. 

Disebutkannya, akibat yang ditimbulkan bisa berdampak anak menjadi menarik diri, minder, merasa dikucilkan, kehilangan selera makan, kehilangan motivasi, depresi, sampai ingin bunuh diri.  Lantas, harus bagaimana orang tua ketika anak menjadi korban bullying?

Irma menyebutkan sejumlah langkah yang harus dilakukan orang tua, sebagai berikut: 

1. Ajarkan anak untuk asertif atau berani membela dirinya. Misalnya dengan mengatakan: “Stop jangan ganggu saya.” 

2. Ajarkan anak segera berteriak ketika ia diancam, agar bisa dibantu oleh orang lain yang ada disekitarnya. 

3. Ajarkan anak untuk tidak peduli jika ia diejek dan segera pergi dari tempat tersebut. 

4. Pada anak-anak balita dan usia sekolah, kegiatan bercerita dengan cara mendongeng dapat dijadikan media edukasi bagi anak.

Sementara untuk anak remaja sampai dengan mahasiswa, kegiatan diskusi antara orang tua dan anak dapat dilakukan untuk memberikan informasi mengenai bullying. 

5. Ajari anak teknik bela diri untuk mempertahankan haknya. Namun, berikan pemahaman pada anak, bahwa apa yang mereka pelajari hanya digunakan dalam keadaan mendesak, yakni ketika mereka terancam keselamatannya.   

Hindari mengajari anak balas dendam, karena dengan demikian, secara tidak langsung orang tua malah mengajari anak untuk menjadi pelaku bullying.  

6. Lakukan pendekatan personal kepada anak, agar mereka selalu bersikap terbuka pada orang tua. 

Dengan cara-cara tersebut, Kelasiana memastikan anak-anak aman dari lingkungan yang melakukan bullying. Selain itu, juga memberi tahu anak apa yang harus dilakukan bila mendapat perlakuan tidak menyenangkan.  

 “Selalu hadir untuk anak saat dibutuhkan dan berikan banyak cinta yang bisa membuatnya selalu percaya diri menghadapi hari-harinya,” pesan Irma.  

Jika Kelasiana punya banyak pertanyaan seputar bullying, ada kelas online di Kelasin.com dengan tema ‘Mencegah  agar Anak Tidak Menjadi Korban Bullying’.   

Di sini, semua dibahas lengkap dan Kelasiana bisa curhat langsung sama ahlinya. Yuk, ikutan kelasnya. Gratis!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Langkah yang Seharusnya Dilakukan Orangtua untuk Membantu Anak Menghadapi Bullying

Bullying menjadi fenomena yang masih kerap terjadi hingga sekarang baik secara verbal, tulisan, maupun fisik. Aksi bully yang melibatkan orang-orang di lingkungan sekitarnya bisa menimbulkan trauma mendalam bagi sang anak. Bagaimana peran orang tua dalam membantu anak menghadapi bullying?

Memahami Apa Pengertian Bullying Dan Hal-hal yang Termaksud di Dalamnya

Bullying sering dikenal juga dengan istilah perundungan yang memiliki pengertian kegiatan penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan dari seseorang kepada orang lain. Aktivitas ini dilakukan dengan menyakiti orang lain baik dalam bentuk psikis, perkataan, hingga fisik.

Korban yang mengalami bullying bisa terkena dampak traumatis mendalam hingga kelak mereka dewasa. Tak jarang ada yang akhirnya merasa depresi, sakit, dan terjebak dalam keputusasaan. Pelaku bullying sendiri biasanya dilakukan oleh senior atau orang yang memiliki kekuasaan lebih.

Sudah seharusnya aksi bullying ini segera ditindak tegas baik melalui hukuman pidana maupun sanksi sosial agar tidak ada lagi korban. Terlebih lagi ada yang sampai rela bunuh diri karena tidak kuat dengan bullying yang dilakukan oleh orang-orang sekitarnya. Tentu hal seperti ini sangat mengkhawatirkan.

Apa Saja Dampak Jika Anak Menjadi Korban Bullying?

Kasus bullying tidak hanya berdampak bagi korban saja, namun juga pelaku dan anak yang menyaksikannya. Perundungan ini masih sering terjadi di kalangan remaja dan anak-anak baik di lingkungan sekolah maupun rumahnya.

Masalah serius biasanya akan dialami oleh anak yang menjadi korban bullying. Baik dari segi fisik, kesehatan, emosional, sosial, mental, hingga akademik. Fatalnya mereka bisa melakukan tindakan yang menghabisi nyawa. Berikut ini dampak buruk yang terjadi pada korban bullying, di antaranya:

Mengalami Masalah Kesehatan Karena Dibully

Bagi yang mengalami perundungan fisik tentu akan berdampak pada masalah kesehatannya. Seperti goresan luka pada bagian tubuhnya yang akan terus membekas selamanya dan tidak bisa hilang. Bisa juga dengan rusaknya rambut karena kena jambakan, memar, dan lain sebagainya.

Bullying secara psikis juga otomatis akan berdampak bagi kesehatan sang anak. Hal ini dikarenakan ada perlakukan kasar dan ucapan yang membuat korban akhirnya merasa depresi. Kemudian berdampak pada mental hingga kesehatan karena susah makan dan sulit bahagia.

Prestasi Akademik di Sekolah Menurun Karena Fokusnya Terganggu

Anak-anak yang mengalami bullying di sekolah biasanya akan berdampak pada prestasi akademiknya yang menurun. Mereka cenderung ketakutan dan bahkan sampai ada yang tidak mau ke sekolah karena takut dibully oleh teman-temannya. Ketakutan tersebut memunculkan kecemasan setiap saat.

Terlebih lagi jika pelaku bullying tersebut masih dalam satu kelas atau satu sekolah. Anak yang menjadi korban bisa saja rela membolos jika tidak kuat dengan perlakuan teman-temannya. Korban menjadi tidak semangat lagi dalam belajar dan fokusnya untuk meraih prestasi menjadi terganggu.

Mengalami Depresi dan Kecemasan yang Berlebihan

Gangguan depresi dan kecemasan kerap dialami oleh korban bullying. Hal ini dikarenakan mereka merasa tertekan dengan perlakuan kasar dan ucapan verbal yang menyakiti hati. Perasaan sedih, cemas, dan kesepian pun semakin meningkat dalam dirinya. Apalagi jika tidak ada yang membela sama sekali.

Pola tidur akan menjadi berubah karena terus gelisah dan cemas. Selera makan menjadi berkurang karena stress dan tertekan. Mereka juga bisa kehilangan minat akan kegiatan yang sebelumnya mereka sukai. Permasalahan ini juga bisa meninggalkan traumatik mendalam hingga mereka dewasa.

Sedangkan Dampak Pada Anak Jika Menjadi Pelaku Bullying

Tidak hanya korban bullying saja yang mendapatkan dampak buruk dari aksi perundungan ini. Para pelakunya pun juga akan mendapatkan akibatnya. Karena orang yang terbiasa melakukan bullying cenderung akan melakukannya hingga mereka dewasa kelak.

Berpotensi Menjadi Kriminal

Salah satu hal yang paling dikhawatirkan terhadap anak yang melakukan bullying adalah munculnya bibit-bibit kriminal yang baru. Kebiasaan yang mereka lakukan sejak kecil akan selalu tertanam di dalam dirinya hingga kelak mereka dewasa kecuali jika bertaubat dari perbuatannya tersebut.

Sifat dan karakter kasar, ingin menguasai, dan suka menyakiti orang lain adalah karakter yang berpotensi menjadi seorang kriminal di masa depan. Jika tidak mendapatkan bimbingan atau pengawasan dari pihak terkait, tentu akan sangat berbahaya bagi masa depan sang anak kelak.

Berpotensi Menyalahgunakan Narkotika dan Alkohol

Orang yang melakukan aksi bullying biasanya didasari karena perasaan bahwa mereka memiliki kekuasaan. Dalam hal ini mereka sudah tidak peduli lagi hal baik dan hal buruk yang dilakukannya karena mereka hanya memikirkan kesenangan saat berhasil membuat korban menderita ketika dibully.

Para pelaku bullying jika terjerumus ke dalam lingkungan yang salah maka besar kemungkinannya untuk terjun ke hal-hal buruk lainnya seperti penyalahgunaan narkotika dan alkohol. Pelaku melakukan bullying bisa didasari karena faktor latar belakang keluarga hingga kurangnya rasa percaya diri dalam dirinya.

Masa Depannya Terancam

Pelaku bullying bisa dikenali dengan mudah oleh korban maupun orang-orang yang menyaksikannya. Jika ada yang sampai berani melaporkannya ke pihak tertentu apalagi media, tentu saja hal tersebut akan berpengaruh pada nama baiknya. Bukan tidak mungkin mereka akan di-blacklist di mana-mana.

Baik di dunia pendidikan maupun pekerjaan sekalipun. Sehingga kedepannya mereka akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan atau sekolah yang mau menerimanya. Otomatis hal tersebut akan berdampak pada masa depan anak pelaku bullying yang bakal terancam.

Cara Membantu Anak Menghadapi Bullying

Orang-orang yang menyaksikan bullying juga bisa terkena dampak dari aksi perundungan yang dilakukan oleh orang lain. Ada dua kemungkinan yang bakal dialami oleh mereka yaitu berpotensi meniru pelaku bullying atau ikut merasa depresi seperti yang dirasakan oleh korban.

Jika orang yang menyaksikan bullying tersebut merasa superior, bukan tidak mungkin suatu saat ia akan menyalahguankan kekuasaan dan kekuatannya untuk merundung orang lain. Namun, di lain sisi bisa juga mereka menjadi ikut depresi, tertekan, dan mengalami ketakutan yang sama seperti korban.

Korban bullying yang semakin marak terjadi tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri khususnya bagi orang tua. Mereka tentu tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Namun, bagaimana jika anak sudah mengalami perundungan di lingkungannya? 

Berikut ini tips untuk membantu anak menghadapinya:

Mendengarkan Cerita Anak Secara Lengkap

Peran orang tua saat anak memasuki usia sekolah atau remaja juga sudah seharusnya menjadi teman yang baik dengan menjadi pendengar semua cerita anak-anaknya. Biarkan anak menyelesaikan ceritanya ketika mereka sedang bercerita dan jangan memotong kata-katanya.

Saat mengalami bullying, sang anak sudah mengalami ketakutan menghadapi pelaku. Jangan sampai mereka masih harus menghadapi ketakutan lagi saat bertemu orang tuanya karena takut diintimidasi atau disalahkan. Tenangkan mereka jika masih belum siap bercerita dan jangan terlalu dipaksa.

Tidak Perlu Beraksi Secara Berlebihan

Sebaiknya jangan terlalu bereaksi secara berlebihan ketika mendapati kabar bahwa sang anak menjadi korban bullying. Apalagi jika langsung menelepon pihak sekolah atau pihak membully, karena hal tersebut justru akan membuat anak menjadi semakin panik dan takut.

Prioritaskan ketenangan mereka dengan cara memeluk dan mengatakan bahwa Anda juga ikut merasakan apa yang sang anak alami. Beri pengertian pelan-pelan agar anak mau bercerita sampai menemukan solusi terbaik melalui mediasi atau mendatangi pelaku bullying secara langsung.

Bantu Cari Jalan Keluar Atas Masalah yang Dihadapi Anak

Ketika anak sudah tenang dan bisa bercerita dengan lancar, maka sudah saatnya Anda untuk membantu mencari jalan keluar atas permasalahan yang mereka alami. Ajak anak untuk berpikir dan mencari solusi bagaimana cara menghadapi pelaku bullying yang telah melakukan perundungan.

Jangan selalu mendiktekan dan mengambil keputusan sendiri karena hal tersebut justru akan membuat anak semakin merasa ketergantungan kepada orang tuanya. Beri ruang untuk diskusi agar ia bisa menyampaikan pendapatnya sampai akhirnya menemukan jalan tengah terbaik untuk dilakukan.

Bicarakan Kepada Pihak Sekolah

Jika aksi bullying tersebut terjadi di sekolah dan sudah berkali-kali terjadi, maka sebaiknya bicarakan dengan pihak guru di sekolah atau orang tua pelaku secara langsung. Hal ini untuk mencegah terjadinya bullying baik dengan korban yang sama maupun korban baru lainnya.

Bagaimanapun juga anak tidak akan bisa menghadapi pelaku bullying sendiri karena mereka sudah ketakutan. Sehingga anak harus dibantu oleh orang tuanya untuk bisa menyelesaikan masalah perundungan yang dialaminya. Cari solusi dengan pihak-pihak terkait agar aksi tersebut tidak terjadi lagi.

Mengajak Anak Konsultasi ke Psikologi

Korban bullying kerapkali mengalami depresi dan tekanan setelah dirundung oleh teman atau lingkungan sekitarnya. Jika Anda sudah tidak bisa membantu mengatasi sendiri dan anak masih terus merasa ketakutan, maka sudah saatnya untuk konsultasi ke psikologi.

Perlu disadari bahwa aksi bullying bisa menimbulkan traumatik mendalam hingga mereka dewasa kelak. Sebelum hal tersebut berpengaruh terhadap masa depannya, sebaiknya segera cari solusi dengan berkonsultasi ke psikologi untuk mendapatkan penanangan terbaik terhadap sang anak.

Membatasi Penggunaan Media Sosial

Aksi bullying dewasa ini tidak hanya terjadi di lingkungan secara langsung melalui perlakuan kasar pada fisik maupun ucapan. Namun, aksi perundungan ini bisa terjadi di media sosial. Malah pelakunya bisa lebih banyak karena mereka memiliki kemudahan untuk bisa bersembunyi di balik fake account.

Oleh karena itu, sebaiknya batasi penggunaan media sosial untuk anak dan nasehati mereka agar tidak bermudah-mudahan dalam memposting sesuatu. Karena khawatir hal tersebut akan menjadi bahan bully baru di kalangan netizen. Biarkan anak fokus pada prestasi dan kurangi bermain media sosial.

Bekali Rasa Berani Dalam Diri Anak

Sebagai orang tua, Anda juga bisa membekali anak dengan mengajari mereka agar berani melawan jika disakiti. Melawan dalam hal ini bukan berarti dengan melakukan aksi bullying yang sama. Namun, berani melawan yang dimaksudkan di sini adalah untuk membela diri agar tidak ada orang yang semena-mena.

Ketika anak berani membela dirinya sendiri, maka pelaku bullying pun akan segan untuk merundung anak tersebut. Ajarkan anak agar mereka percaya diri dan berani untuk melawan segala tindakan yang tidak baik. Jika mereka sudah bisa mengatasinya sendiri, tentu mental anak akan terbentuk dengan kuat.

Aksi perundungan memang cukup mengkhawatirkan dan sering menyebabkan korban mengalami depresi. Cara membantu anak menghadapi bullying di atas bisa Anda coba agar tidak meninggalkan traumatik mendalam pada diri sang anak yang dapat membekas hingga kelak mereka dewasa. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Ketahui Apa Saja Hal yang Membuat Si Kecil Tidak Aman

Rumah adalah tempat di mana si kecil bernaung dan melakukan segala aktivitasnya. Sebagai orang tua tentu sangat penting untuk memperhatikan hal yang membuat si kecil tidak aman. Sehingga hal tersebut dapat diantisipasi untuk memberikan perlindungan maksimal kepada sang anak.

Beberapa Solusi Menghindari Hal yang Membuat Si Kecil Tidak Aman

Dengan keamanan yang terjamin di dalam rumah, maka tidak hanya anak saja yang bisa bermain dengan nyaman, orang tua pun akan lebih tenang. Terlebih lagi usia balita adalah masa di mana anak sedang senang-senangnya mengeksplor segala sesuatu dan benda yang ada di sekitarnya.

Memilih Kasur yang Terlalu Empuk

Pada kenyataannya, kasur yang terlalu empuk malah justru bisa membahayakan keselamatan bayi. Berdasarkan informasi dari Family Doctor, menidurkan anak di kasur yang empuk bisa menyebabkan SIDS (Sudden Infant Death Syndrom) atau kematian mendadak pada anak sehingga sangat membahayakan.

Hal ini dikarenakan bayi bisa saja terjepit di antara kasur dan pinggir boks bayi. Selain itu, bayi juga beresiko tenggelam jika menggunakan kasur yang terlalu empuk karena berat badan. Pastikan untuk memilih kasur yang pas dengan boks dan tidak ada ruang lebih dari dua dari antara boks bayi dan kasur.

Tidak Menutup Area Colokan Listrik

Colokan listrik merupakan area yang paling berbahaya bagi sang anak karena bisa menyebabkan mereka kesetrum. Apalagi si kecil belum bisa memahami apakah benda tersebut berbahaya atau tidak. Sehingga demi keamanan mereka, maka tutup colokan listrik yang tidak terpakai dengan penutup khusus.

Cara tersebut untuk mencegah agar anak tidak menancapkan mainan atau jarinya ke lubang colokan listrik. Selain itu, Anda juga bisa menghalangi akses anak ke arah kabel listrik dengan membuat benteng khusus untuk tempat bermain anak sehingga mereka tidak berjalan ke arah kabel atau colokan.

Menyimpan Kursi Makan Bayi di Dekat Meja

Proporsi kepala bayi cenderung lebih besar jika dibandingkan dengan tubuhnya. Sehingga hal tersebut membuat si kecil kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh terutama ketika sedang duduk. Oleh karena itu, sangat disarankan agar menggunakan tempat duduk yang khusus dirancang untuk bayi.

Jangan lupa untuk memasang meja dan sabuk pengaman dengan benar agar bayi tidak jatuh ketika sedang aktif bergerak. Jangan meletakkan kursi bayi di dekat meja karena hal tersebut beresio membuat si kecil mendorong meja hingga kursi bisa terjungkir. Berikan jarak seperlunya antara meja dan kursi.

Kamar Mandi Tidak Diperhatikan

Kamar mandi menjadi bagian penting lainnya yang harus diperhatikan oleh orang tua agar anak tetap aman dan terlindungi selama bermain. Usahakan untuk tidak meninggalkan anak sendirian di dalam kamar mandi baik di dalam ember maupun bak mandi sekalipun. Karena hal tersebut sangat berbahaya.

Jumlah air sedikit pun bisa beresiko membuat anak terpeleset dan tenggelam. Sehingga sebaiknya selalu dampingi anak ketika mereka sedang mandi atau bermain air di dalam ember. Selain itu, jangan biarkan si kecil yang masih belajar berjalan ke kamar mandi sendiri karena khawatir terpeleset di lantai licin.

Jendela Lebih Rendah dari Tubuh Anak

Fungsi utama jendela pada dasarnya adalah sebagai tempat sirkulasi udara dari luar rumah ke dalam rumah atau sebaliknya agar udara yang ada di dalam ruangan tetap sehat. Namun, Anda juga harus memperhatikan pemasangan jendela yang tepat agar tidak membahayakan anak dan mereka tetap aman.

Salah satu syarat keamanan rumah bagi si kecil adalah dengan tidak memasang jendela yang lebih tinggi dari tubuh anak. Terlebih lagi untuk jendela kamar anak. Karena hal tersebut bisa beresiko anak akan memanjat jendela dan menybabkan jatuh ke luar. Namun, jika terlanjur maka bisa memasang pengaman.

Menyimpan Plastik di Lantai

Sebaiknya hindari untuk menyimpan mainan atau pakaian di dalam kantong plastik dan membiarkannya tergeletak di sekitar rumah. Karena hal tersebut bisa menyebabkan siapa saja terpeleset tak terkecuali si kecil. Belum lagi resiko menimbulkan luka ketika menginjak mainan di dalam plastik.

Lebih baik simpan kantong plastik tersebut di tempat yang aman dan tidak mudah dijangkau oleh anak. Karena seringkali mereka juga bisa memsukkan apa saja ke dalam mulutnya termasuk plastik. Bereskan segera mainan ketika sudah selesai digunakan oleh si kecil agar tidak mengganggu keamanan.

Perabotan yang Ujungnya Lancip

Beberapa furnitur di dalam rumah pasti memiliki ujung yang lancip seperti meja, kursi, dan lainnya. Perabotan tersebut bisa membahayakan keselamatan anak karena bisa membuat mereka terluka ketika terjatuh dan menyentuh ujung dari furnitur tersebut. Sehingga lebih baik pindahkan perabotannya.

Namun, jika tidak memungkinkan maka Anda bisa memasang bantalan pelindung pada bagian sudut yang tajam tersebut. Sehingga anak-anak akan tetap aman terlindungi meskipun aktif bergerak, merangkak, berjalan, dan berlari-larian ke semua sudut rumah tanpa khawatir resiko luka lagi.

Memasang Karpet Licin

Saat anak mulai belajar merangkak dan berjalan, mereka akan mengeksplor semua empat di rumahnya termasuk anak tangga. Sebaiknya tutupi anak tangga dengan karpet anti licin agar mereka tidak mudah tergelincir. Pastikan agar karpet terpasang dengan baik hingga bagian tepi tangga secara full.

Selain itu, pasang pembatas pada bagian atas maupun bawah tangga agar anak tidak jatuh ketika mereka sedang aktif bergerak kesana kemari. Sebaiknya hindari menggunakan pembatas yang desainnya memanjang vertikal ke bawah karena bisa beresiko melukai leher atau lengan bayi.

Tempat Obat Dekat dengan Anak-anak

Jika di rumah Anda terdapat kotak P3K yang berisi obat-obatan, maka sebaiknya jauhkan dari jangkauan anak-anak. Hal ini dikarenakan mereka bisa saja meniru kebiasaan orang tuanya saat mengonsumsi obat-obatan dan ingin melakukan hal yang sama. Usahakan untuk tidak ketahuan saat minum obat.

Pil yang biasanya memiliki warna-warni yang menarik juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi anak. Mereka bisa saja dengan sengaja mengambil pil tersebut entah untuk dibuat mainan atau malah dikonsumsi langsung. Tentu ini akan membahayakan apalagi jika obat tersebut memiliki efek samping.

Ada Benda-benda yang Mudah Dipanjat oleh Anak

Saat anak sudah mulai belajar merangkak dan berjalan, jiwa petualan dalam diri mereka akan tumbuh. Hal ini tentu menjadi pertumbuhan yang sangat dinanti-nantikan oleh orang tua. Namun, di satu sisi timbul kekhawatiran tersendiri jika anak terlalu berani untuk mengeksplor lingkungan rumahnya.

Apalagi jika mereka sudah mulai memanjat-manjat benda-benda tertentu yang bisa dipanjat dengan mudah. Sehingga penting bagi orang tua untuk memastikan agar perabotan di dalam rumah tidak mudah terjatuh, stabil, dan sulit dijangkau oleh anak-anak untuk dibuat pijakan memanjat.

Keamanan pada Semua Tangga Kurang

Jika ada tangga di dalam rumah, tentu ini menjadi bagian yang cukup membahayakan bagi anak-anak. Apalagi jika mereka sudah mulai bisa merangkak, berpegangan, dan belajar berdiri. Oleh karena itu, pasang keamanan pada bagian tangga salah satunya dengan menggunakan pagar.

Jika perlu pasang pagar dan pintu pada semua ujung bai bagian bawah maupun atas anak tangga agar si kecil tidak mudah jatuh. Pastikan kunci pintu terpasang dengan aman agar anak tidak mudah membua pintu tersebut. Karena jika tidak cukup kuat maka pintu akan mudah terdorong dan terbuka.

Menyimpan Benda yang Tajam dan Panas di Dekat Anak

Benda-benda yang tajam dan panas merupakan jenis benda berbahaya untuk anak. Sehingga sebisa mungkin jauhkan benda tersebut dari jangkauan mereka. Contohnya seperti setrika, pisau, gunting, kompor, segelas air panas, semangkok mie panas, dan lain sebagainya.

Bahkan taplak meja yang menggantung pun juga bisa jadi benda berbahaya bagi si kecil jika mereka tengah bermain kemudian menarik taplak tersebut. Benda-benda di atasnya bisa jatuh mengenai si kecil dan resikonya sangat berbahaya tergantung dari benda yang ada di atas taplak tersebut.

Tips Bermain Dengan Aman Bersama Si Kecil

Selain memastikan bahwa rumah dalam keadaan aman dan terhindar dari benda-benda berbahaya seperti disebutkan di atas, ada beberapa hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan. Berikut ini tips bermain dengan aman bersama si kecil, yaitu:

Pilih Permainan yang Sesuai

Memilih permainan yang tepat dan sesuai dengan kondisi si kecil adalah hal yang tidak kalah penting lainnya untuk diperhatikan. Pilihlah jenis permainan yang sesuai dengan usia anak termasuk dalam memilih bahan mainan tersebut.

Usahakan untuk memilih mainan yang tidak tajam dan beresiko menyebabkan luka. Contohnya seperti boneka, lego, kertas bergambar, busy book, dan masih banyak lagi. Mainan tersebut terbuat dari bahan-bahan yang tidak tajam sehingga tidak berpotensi melukai si kecil ketika memainkannya.

Awasi Anak Ketika Bermain

Pergerakan anak saat mereka memasuki usia belajar merangkak dan berjalan terbilang sangat cepat. Sehingga Anda harus memberikan pengawasan penuh agar bisa terus mengontrol pergerakan mereka setiap saat. Terlebih lagi untuk anak-anak yang terlalu aktif dan tidak mau diam.

Luangkan waktu untuk bermain bersama anak setiap hari. Tidak apa-apa jika harus mengorbankan karir dan aktivitas lainnya. Karena keselamatan dan keamanan anak adalah hal yang paling utama. Anda bisa melakukan aktivitas seperti me time setelah anak tertidur agar bisa lebih tenang.

Buat Ruangan Khusus Untuk Bermain

Agar anak bisa bermain dengan aman dan Anda bisa melakukan aktivitas lainnya dengan tenang, maka bisa dengan membuat ruangan khusus untuk bermain. Sehingga ruangan tersebut tidak bercampur dengan benda-benda tajam dan berbahaya yang bisa dijangkau dengan mudah oleh anak.

Jika tidak memiliki ruangan khusus karena rumahnya sempit atau kecil, maka bisa membuat benteng dari guling atau benda-benda lainnya yang aman dengan bentuk kotak atau lingkaran. Dengan memberi batas ruang seperti itu maka anak-anak akan tetap bermain di dalam benteng dan tidak keluar-keluar.

Anak adalah harga paling berharga yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Hal yang membuat si kecil tidak aman sebaiknya diantisipasi agar tidak beresiko menimbulkan cedera atau luka yang kelak berakibat fatal. Sebagai orang tua tentu Anda harus mengawasi mereka dengan baik. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Beberapa Hal yang Ditakutkan Orang Tua Saat Anak Remaja

Menginjak usia remaja, anak-anak mulai mencari jati dirinya. Tak jarang mereka lebih sering bergaul dengan teman-temannya daripada menghabiskan waktu di rumah bersama orang tua. Ada banyak hal yang ditakutkan orang tua saat anak remaja, terutama terkait masa depannya karena masa ini krusial.

Bunda Perlu Memahami Apa itu Masa Remaja?

Masa remaja merupakan masa yang cukup krusial karena di fase ini anak-anak mengalami perubahan dari anak-anak menuju dewasa sehingga posisinya berada di tengah-tengah. Sudah tidak bisa disebut anak-anak, namun belum layak juga disebut dewasa. Pada fase ini anak-anak sering labil.

Mereka cenderung kesulitan untuk mengambil keputusan. Tak jarang banyak juga yang akhirnya salah dalam mengambil keputusan karena galau dan labil. Mereka masih belum sepenuhnya memahami mana yang benar dan mana yang salah karena masih dalam masa pencarian jati diri.

Pada fase ini Anda jangan kaget jika anak tiba-tiba tidak mudah bercerita dan cenderung lebih senang curhat kepada teman-temannya. Namun, ketakutan orang tua terhadap anak remaja semua akan bisa dengan mudah teratasi jika mereka sudah diberi bekal yang cukup agar tidak salah langkah.

Beberapa Hal yang Ditakutkan Orang Tua Saat Anak Remaja

Mendidik anak remaja memang cenderung tidak mudah karena mereka mulai memiliki pendirian masing-masing. Tak jarang banyak yang akhirnya berani membangkang ketika merasa tidak sependapat dengan orang tua mereka. Berikut ini beberapa hal yang ditakutkan orang tua untuk anak remaja:

Ketakutan, Jika Anak Akan Salah Pergaulan

Saat anak menginjak usia remaja, lingkungan pergaulan mereka akan banyak mempengaruhi bagaimana karakter dan perilaku yang terbentuk. Jika lingkungannya baik, maka karakternya juga akan baik. Begitupun sebaliknya, jika lingkungan buruk, maka karakternya pun akan terpengaruh.

Salah satu ketakutan terbesar orang tua ketika anak memasuki fase remaja adalah takut jika anaknya salah pergaulan. Takut jika anak-anaknya bergaul dengan orang yang salah, nakal, dan bandel. Terlebih lagi jika lingkungan sekitarnya mayoritas terdiri dari orang-orang yang nakal.

Ketakutan, Jika Anak Perempuan Hamil di Luar Nikah Atau Anak Laki-laki Menghamili Anak Perempuan di Luar Nikah

Fase remaja adalah masa di mana anak-anak menginjak baligh dan mereka sudah mengalami perubahan dari segi reproduksi. Bagi anak perempuan mereka akan mengalami menstruasi. Sedangkan anak laki-laki akan mengalami mimpi basah. Perubahan ini juga mempengaruhi emosi.

Pengaruh hormon yang ada di dalam tubuh akhirnya mulai membentuk emosi pada anak remaja yang sering tidak labil. Selain itu, pada fase ini mereka akan mengalami jatuh cinta dengan lawan jenis. Tak heran banyak orang tua yang takut jika anaknya salah langkah hingga hamil di luar nikah.

Ketakutan Akan Bagaimana Masa Depan Anak

Setiap orang tua tentu memiliki harapan agar masa depan anaknya cerah dan terjamin. Sehingga mereka melakukan berbagai cara seperti memberikan fasilitas pendidikan yang terbaik yang mendukung kegiatan belajar mengajarnya. Namun, di fase ini anak sudah mulai menentukan masa depan.

Sebagian dari mereka sudah ada yang menemukan ingin jadi apa di masa depan nanti. Terkadang apa yang mereka inginkan tidak seperti ekspektasi orang tuanya. Sehingga hal tersebut membuat orang tua was-was dan takut anaknya salah mengambil langkah, jurusan, atau cita-cita yang kurang menjamin.

Tips Mendidik Anak Remaja

Cara mendidik anak remaja tentu tidak bisa disamakan dengan anak balita atau yang masih di bawah umur belasan. Pada fase ini mereka sudah mulai memiliki pola pikir dan prinsip sendiri. Sehingga sebagai orang tua harus mampu memahami anaknya yang menginjak remaja dengan baik.

Menghormati Privasi Anak

Sebesar apapun seorang anak tetaplah anak kecil di mata orang tuanya. Sehingga acapkali banyak orang tua yang masih menganggap semua urusan anaknya adalah urusannya juga. Sudah seharusnya sebagai orang tua menyadari bahwa tidak seharusnya mereka mencapuri semua privasi anaknya.

Anda harus mulai paham bahwa anak yang menginjak remaja sudah mulai memiliki privasi sendiri yang harus dihormati dan dijaga sebagaimana orang dewasa. Berikan mereka ruang untuk meletakkan privasinya di kamar maupun telpon genggam tanpa merasa takut akan adanya ancaman orang tua.

Menjadi Teman dan Pendengar yang Baik

Salah satu hal yang paling dibutuhkan saat anak menginjak usia remaja adalah teman atau sahabat. Karena saat memasuki usia ini mulai muncul berbagai gejolak di dalam dirinya lantaran sudah pubertas. Masalah yang sering dihadapi seperti percintaan atau hubungan pertemanan di lingkungna pergaulannya.

Tak jarang anak remaja juga akan membutuhkan orang tuanya sebagai tempat curhat untuk mengutarakan kecemasan, kegelisahan, atau pertanyaan yang muncul di pikirannya. Sehingga sebagai orang tua sebaiknya posisikan diri sebagai pendengar dan tempat curhat yang nyaman.

Menjadi Teladan yang Baik

Jika Anda sebagai orang tua menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya baik dari segi perilaku, ibadah, kesuksesan, dan lainnya, maka berikan teladan atau contoh pada mereka. Berikan contoh konkret seperti bagaimana belajar dengan giat, peduli dan suka menolong orang, serta masih banyak lagi.

Karena saat usia remaja anak akan cenderung menjadi pemberontok dan mulai memiliki pendirian sendiri. Terkadang dikasih tahu pun akan sulit mereka terima. Sehingga cara terbaik adalah dengan memberikannya secra contoh. Tak hanya mengajarkan secera teori namun juga praktek langsung.

Membuat Kesepakatan Aturan Tertentu

Jangan terlalu mengekang ketika anak sudah memasuki usia remaja, karena yang ada mereka akan semakin memberontak dan menjadi tidak nyaman. Lebih baik ajarkan dan nasehati dengan baik melalui kesepakatan aturan-aturan penting bersama. Ini sangat penting untuk disepakati bersama dengan anak.

Terkadang anak-anak remaja lebih senang menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya dibandingkan di rumah bersama orang tua. Demi menjaga keamanan anak, maka berikan pengertian dengan menerapkan aturan seperti jam pulang malam, larangan merokok, dan lainnya.

Beri Tahu Cara Mengelola Stress

Ketika anak sudah memasuki usia remaja, banyak perubahan yang akan mereka alami baik dari segi fisik maupun psikis. Tak jarang hal tersebut membuat mereka mengalami depresi dan stress terlebih lagi jika ada masalah yang terjadi seperti dalam hubungan asmara maupun percintaan.

Oleh karena itu, penting sekali bagi Anda sebagai orang tua untuk membekalinya dengan berbagai cara dan tips mengelola stres dengan baik. Jangan mudah memarahi anak ketika mereka sedang sedih atau melakukan kesalahan. Bicarakan baik-baik heart to heart agar mereka nyaman untuk bercerita.

Beri Motivasi dan Semangat Untuk Meraih Cita-cita

Masa muda adalah masa yang paling berapi-api di mana anak-anak memiliki cita-cita yang tinggi dan keinginan kuat untuk menggapainya. Dorong dan motivasi mereka agar terus berkembang dan mau mengeksplorasi semua kemampuan yang dimilikinya sebagai salah satu cara mendidik anak remaja.

Anda bisa memberikan aktivitas tertentu yang menarik untuk mereka dan sesuai dengan minatnya. Fasilitasi dengan baik agar anak senang dan mau mengembankan bakatnya. Dukung apapun cita-citanya tanpa menghakimi atau memandang rendah apa yang menjadi pilihan sang anak.

Beri Informasi Tentang Bagaimana Cara Bergaul

Usia remaja adalah masa di mana anak-anak sedang senang-senangnya bermain dan mencari teman yang sefrekuensi dengan mereka. Tak jarang ada yang sudah mulai membuat geng seperti yang mereka inginkan. Maka berikan informasi tentang bagaimana cara bergaul agar mereka tidak salah memilih.

Karena sekali salah dalam memilih pergaulan, maka akan berdampak besar pada masa depannya. Belum lagi di usia remaja mereka sedang labil-labilnya dan seringkali mudah terpengaruh oleh lingkungannya karena masih dalam pencarian jati diri. Bimbing dan dampingi dalam memilih teman.

Bekal Kemampuan Dasar untuk Anak Remaja

Sebagaimana anak di usianya saat masih balita, anak remaja juga membutuhkan bekal agar bisa survive dan beradaptasi di lingkungannya yang baru. Oleh karena itu, penting sekali bagi orang tua untuk memberikan kemampuan dasar sebagai bekal mereka dengan menanamkan nilai-nilai tertentu.

Bertanggung Jawab Atas Dirinya Sendiri

Mulai ajarkan anak untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri maupun barang-barang yang mereka miliki. Contohnya seperti bertanggung jawab agar tidak mudah disentuh lawan jenis, keberishan kamar, sepatu, tas, dan barang lainnya. Ajarkan untuk membersihkan sendiri tanpa mengandalkan orang.

Cara mendidik dengan memberikan tanggung jawab ini juga akan mengajarkan anak kemandirian. Sehingga ketika mereka harus hidup sendiri di kost, kontrakan, atau berumah tangga, mereka sudah bisa mengatasi dan menyelesaikan semua tanggung jawabnya sendiri tanpa mengandalkan orang tua.

Menyiapkan Makanan Sendiri

Penting sekali bagi orang tua untuk mulai mengajarkan anak-anaknya memasak dan menyiapkan makanan sendiri khususnya bagi anak perempuan yang kelak akan mengurus rumah tangga. Ajari anak tentang dasar-dasar memasak seperti menumis sayur, memasak nasi, menggoreng telur, dan lainnya.

Dengan memberikan kesempatan seperti ini, maka mereka akan belajar mandiri dan tidak akan mengalami kesulitan saat nanti hidup jauh dari orang tuanya entah karena pendidikan atau pekerjaan. Selain itu, ketika orang tua sedang sakit maka anak tidak perlu panik karena sudah diajari sebelumnya.

Menggunakan Transportasi Umum atau Membawa Kendaraan Pribadi

Anak remaja harus sudah mulai diajari untuk pergi dengan menggunakan transportasi umum sendiri maupun dengan membawa kendaraan pribadi. Sehingga mereka akan paham ketika butuh untuk pergi ke suatu tempat maka tidak bingung lagi saat naik transportasi umum.

Jelaskan bagaimana menggunakan transportasi umum seperti bis, kereta, pesawat, dan lainnya. Anak remaja juga sudah saatnya untuk diajari mengendarai kendaraan pribadi sendiri seperti motor atau mobil. Namun, jika belum memiliki SIM jangan biarkan mengendarai di jalanan.

Mengatur Keuangan Sendiri

Anak remaja sudah seharusnya diajari bagaimana cara mengatur keuangannya sendiri. Terlebih lagi mereka seringkali masih dalam keadaan emosi yang labil sehingga terkadang belum bisa untuk menentukan prioritas dalam mengelola uang dan cenderung boros membeli sesukanya tanpa pikir panjang.

Salah satu cara mendidik anak dalam mengatur keuangan sendiri adalah dengan mengajaknya berbelanja. Anda bisa menjelaskan bagaimana menentukan budget sesuai kebutuhan yang akan dibeli. Jangan lupa untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya menabung sejak dini.

Hal yang ditakutkan orang tua saat anak remaja merupakan sesuatu yang wajar. Namun, tak perlu terlalu paranoid karena asal Anda sudah memberikan bekal dan mendidiknya dengan benar maka ketakutan tersebut tidak akan pernah terjadi. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top