Dapatkan Artikel menarik dan mendalam langsung lewat SAYANGIANAK EXTRA di emailmu...

* indicates required
Parenting

Cara Memaksimalkan Tumbuh Kembang Anak

tumbuh kembang anak

perkembangan anak sangat perlu di perhatikan oleh orang tua. Salah satunya adalah denga memantau tumbuh kembang anak.

orang tua perlu rasanya memaksimalkan tumbuh kembang anak. Bagaimana caranya? Simak Cara Memaksimalkan Tumbuh Kembang Anak berikut ini.

tumbuh kembang anak

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tumbuh Kembang Setiap Anak Berbeda, Stop Membandingkan Dengan Anak Lain

membandingkananak

Sebagai orangtua tentunya kita menginginkan tumbuh kembang yang optimal untuk anak. Namun, terkadang orangtua mengukur tumbuh kembang anak dengan membandingkan dengan anak lain. Hal itu justru akan membuat orangtua khawatir dan merasa insecure jika tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak lain.

Hal yang sering dibandingkan orangtua misalnya berat badan anak, kapan anak bisa merangkak, berjalan, dan berbicara. Momen saat berkumpul bersama sesama ibu biasanya menjadi waktu di mana bunda sering membandingkan anak dengan anak lain, atau justru ada orang lain yang membandingkan anaknya dengan anak bunda.

Diawali dari obrolan ringan seputar anak berujung dengan membandingkan, misalnya saat ada yang bertanya, “Anakmu sudah bisa apa?” lalu berlanjut dengan membandingkan, “Wah, anakku umur segitu sudah bisa jalan.”

Obrolan-obrolan kecil seperti itu bisa membuat bunda merasa tertekan karena merasa gagal mengasuh anak, lho. Padahal, kecepatan tumbuh kembang setiap anak pasti berbeda-beda. Bunda tidak perlu membandingkan anak bunda dengan anak lainnya, cukup membandingkan dengan kurva pertumbuhan dan perkembangan dari dokter.

Efek Buruk Membandingkan Anak Bagi Ibu

Sering membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain mempunyai efek buruk untuk bunda, lho. Hal itu bisa menjadi penyakit yang tidak terlihat. Bunda bisa merasa iri, malu, tidak percaya diri, hingga merasa tertekan dan gagal dalam mengasuh anak. Jika rasa tertekan tersebut terjadi berlarut-larut bunda bisa stres dan depresi.
Oleh karena itu, saat bunda melihat anak lain lebih montok, lebih cepat merangkak, jalan, berbicara, dan lainnya, bunda jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa anak bunda kalah atau pertumbuhannya terlambat.

Yang harus bunda lakukan adalah mengukur setiap pertumbuhan dan perkembangannya lalu sesuaikan dengan milestone dan kurva pertumbuhan. Jika bunda merasa ada aspek tumbuh kembang yang terlambat, sebaiknya bunda berkonsultasi langsung kepada dokter agar mendapatkan penjelasan dari ahlinya.

Efek Psikologis Anak yang Sering Dibandingkan

Selain mempunyai efek buruk bagi ibu, sering membandingkan anak juga mempunyai efek negatif bagi anak. Terkadang orangtua berniat memotivasi anak dengan membandingkannya dengan teman sebayanya.

Namun, hal itu bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi lho. Setiap anak mempunyai karakter dan talenta yang berbeda-beda, sehingga tidak seharusnya dibanding-bandingkan.

Membadingkan anak membuatnya mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial

Dilansir dari laman beingtheparent.com, sering membandingkan anak mempunyai efek psikologis untuk anak. Anak bisa mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Anak juga akan menjauh dari orangtua jika orangtua terus-terusan membandingkannya dengan orang lain sehingga merasa dirinya tidak berharga di mata orangtuanya.

Oleh karena itu, yuk bunda, kita stop membandingkan anak kita dengan anak lain. Daripada membandingkan, lebih baik bunda fokus untuk menstimulasi setiap aspek tumbuh kembang si kecil, memberikan nutrisi yang terbaik, dan mendukung setiap aktivitas anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Tips Bangunkan Si Kecil Tak Perlu dengan Suara Keras, Bun

bed-child-cute-101523 (2)

Salah satu tantangan orangtua yang buah hatinya sudah mulai sekolah adalah cara membangunkan si kecil di pagi hari. Bahkan kadang si anak bisa saja mengamuk bila dibangunkan pagi-pagi nih Bun. Ternyata ada tips tersendiri supaya si kecil lebih mudah dibangunkan nih Bun. Pertama, orangtua perlu memperhatikan jam tidur si kecil di malam hari. Anak usia 3-5 tahun membutuhkan 10-13 jam tidur agar saat pagi bangun dengan segar.

“Jadi kita lihat kalau anak bangun jam 6 pagi dan tidak segar, berarti jam tidurnya harus dipercepat lagi,” jelas Andyda seperti dikutip dari Liputan6.com.

Jam tidur yang cukup sangat diperlukan untuk kesehatan dan tumbuh kembang anak. Kurang tidur dapat menganggu kemampuan anak untuk belajar. Selain itu, kurang tidur mengganggu emosi sehingga menyebabkan gangguan mood, kecemasan, hiperaktif dan berbagai gangguan perilaku lainnya pada anak.

Mengingat pentingnya tidur bagi kesehatan anak, maka orangtua perlu memprioritaskan tidur sebagai ritual utama keluarga. Bagi orangtua yang bekerja dan pulang larut malam, maka bisa menugaskan kepada orang di rumah yang mengasuh anak untuk mengajak anak tidur pada jamnya.

Bisa dimulai dengan membacakan cerita, mendongeng, atau mendampingi anak hingga anak tertidur lelap kata Andyda. Menyanyikan lagu atau membaca dongeng dengan menyenangkan dapat membantu anak untuk bisa tidur lebih cepat dan bangun dengan segar.

Bangunkan secara perlahan

Bun, tak semua orang merasa nyaman karena terbangun lantaran suara keras atau tubuh diguncang-guncang. Begitu juga dengan si Kecil. Karenanya, sediakan waktu untuk membangunkan si Kecil sehingga Bunda bisa membangunkannya dengan perlahan.

Misalnya dengan memberi pelukan, menggosok punggungnya atau mengajaknya bangun dengan nada suara yang gembira. Biasakan untuk membangunkan si Kecil 5-10 menit lebih awal dari waktu bangun sehingga Bunda punya cukup waktu untuk membangunkannya secara perlahan.

Pasang musik kesukaannya

Cara membangunkan anak ini lebih efektif dari yang Bunda bayangkan, lho. Pasang saja musik kesukaanya yang berirama gembira atau energik agar suasana hati anak menjadi gembira saat ia terbangun. Tentunya secara berkala Bunda perlu mengganti lagunya, ya. Tapi tenang saja, Bunda tak akan pernah kehabisan stok lagu, kok.

Beri reward jika ia bisa bangun pagi tanpa kesulitan

Tak ada salahnya kok Bun, membuat kesepakatan dengan si kecil mengenai reward untuk bangun di pagi hari yaitu dengan memberikan pujian bahwa ia berhasil bangun pagi dengan tertib.

Beri waktu adaptasi setelah liburan

Nah, biasanya yang lebih menantang adalah bagaimana cara membangunkan anak pagi hari setelah liburan panjang. Karenanya, sebaiknya seminggu sebelum liburan berakhir anak sudah mulai dibiasakan untuk bangun lebih pagi daripada biasanya sehingga ia ada waktu untuk beradaptasi kembali dengan rutinitas pagi di hari sekolah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Ajarkan Cara Mengangkat Kepala pada Si Kecil yang Mulai Tumbuh Kembang

Cara mendapatkan bayi laki-laki

Salah satu perkembangan si kecil yang paling ditunggu oleh orangtua adalah saat melihat si kecil sudah mampu mengangkat kepalanya. Momen ini tentu membuat orangtua bangga sekaligus merasa anaknya bisa dengan mudah berinteraksi langsung bahkan saat digendong pun terasa lebih mudah.

Nah, menurut ahli perkembangan anak, Rebecca Chicot, Ph.D, ia mengatakan bahwa di usia 4 sampai 8 minggu, bayi mulai mengangkat kepala, meski hanya sebentar. Saat bayi tengkurap, bayi belajar mengontrol kepala mereka.

“Jika bayi prematur, mungkin perkembangannya akan terlambat. Untuk itu sebaiknya Bunda melihat lagi grafik perkembangan sesuai usia. Jika belum bisa angkat kepala, coba kenalkan berbagai posisi tapi jangan biasakan di posisi tidur atau duduk menyender,” kata Chicot, dikutip dari Essential Parent. Nah, ada empat cara yang dapat Bunda lakukan guna memperkuat otot lehernya seperti dilansir dari Parenting Firstcry.

Gendonglah si Kecil dengan Posisi Menghadap ke Depan

Bila biasanya Bunda menggendong bayi seperti memeluk, maka cobalah ubah posisi bayi dengan menghadap ke depan. Pegang badan bayi dengan kedua tangan Bunda, satu tangan di dada, satu lagi di perut. Selain bisa melatih mengontrol kepalanya, bayi pun bisa melihat sekeliling saat digendong. Dengan posisi ini, bayi pun akan tetap aman.

Pilihkan Mainan yang Tepat ya Bun

Sejak lahir, bayi sejatinya mulai suka bereksplorasi dengan mainan, Bun. Untuk itu gunakan mainan tersebut guna menguatkan otot leher dan kepala si kecil. Tidurkan bayi dan gunakan mainan bersuara agar perhatian si kecil teralihkan. Saat anak mulai melihat mainan, secara pelan-pelan kepalanya juga akan bergerak.

Biasakan untuk Memberikan Perenggangan leher

Beberapa bayi mungkin terlahir dengan otot leher yang lemah dan bentuk kepala yang besar. Nah, jika bayi biasanya tidur dengan posisi kepala ke satu sisi, coba pelan-pelan pindahkan ke sisi yang lain ya Bun. Tapi, jangan paksa anak menengok ya.

Tummy Time

Ini adalah cara klasik untuk menguatkan otot leher dan anggota tubuh bagian atas bayi. Saat posisi bayi tengkurap, Bunda bisa panggil nama si kecil dengan memastikan jarak pandang yang terfokus dan arahkan bayi untuk mengangkat kepalanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top