Parenting

Bunda, Lakukan Hal Ini Yuk Saat Kelepasan Memarahi Anak

marah pada anak

Niatnya mendidik anak dengan penuh kesabaran. Saat perilaku anak tak seperti yang diharapkan, bertekad untuk tidak mudah marah. Sayangnya kenyataan tak seperti yang diangankan. Di saat-saat tertentu malah kelepasan memarahi anak.

Ya, kita memang manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Meski tahu benar bahwa memarahi anak untuk setiap perilaku negatifnya sering tidak efektif, tapi tetap dilakukan. Umumnya karena kita tidak sengaja. Setelah membentak, berteriak-teriak, atau bahkan memukul anak, baru deh sesal itu menyusup.

Psikolog anak dan remaja dari Klinik Kancil, Ratih Zulhaqqi, bilang manusiawi banget kok siapa pun marah. Setiap manusia pasti punya emosi. Ketika kita marah pada anak, hal itu tidak berarti kita adalah orang tua dengan kontrol diri yang rendah.

“Sering kali yang bikin impuls kontrol rendah dan langsung naik tone suaranya adalah ketika ada situasi yang bikin shock, misalnya ketika meliha perilaku anak yang tidak sesuai,” ujar Ratih dalam Instagram Live bersama Sayangi Anak beberapa wakti lalu.

Penyesalan berkepanjangan dan menilai diri sendiri buruk bukan langkah yang baik, Bun. Kata Ratih, hal itu justru akan mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan anak.

Lalu bagaimana ketika sesal muncul setelah memarahi anak? “Sebaiknya kita ganti dengan hal yang menyenangkan. Kita bisa menerapkan konsep 5:1. Maksudnya kita buat 5 kegiatan menyenangkan setelah marah satu kali pada anak,” tutur Ratih.

Dalam hidupnya, anak tidak bisa steril sekali dari emosi negatif. Nah, kegiatan 5:1 ini bertujuan untuk memberi tabungan emosi positif pada anak.

“Tabungan emosi positif yang banyak penting agar berkualitas saat menghadapi situasi tidak menyenangkan,” jelas Ratih.

Marah adalah salah satu emosi yang sering menyapa orang tua saat anak berperilaku tidak seperti yang diharapkan. Namun, satu hal penting yang perlu selalu kita ingat bahwa meskipun sedang marah, namun jangan diekspresikan dalam tindakan yang kontraproduktif. Ingat ya, Bunda, children see children do. Apa yang kita lakukan akan diingat dan dicontoh anak. Semoga kita sebagai orang tua konsisten memberikan teladan yang baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Si Kecil Penakut Bun? Yuk, Bantu Ia Kalahkan Rasa Takutnya dengan 5 Cara Ini!

Namanya juga anak-anak Bun, wajar jika pada beberapa kesempatan ia mungkin menunjukkan rasa takut terhadap beberapa hal. Sesuai dengan usianya, si kecil mungkin akan takut pada hal-hal yang asing baginya. Mulai dari ketinggian, makhluk yang tampak seram, gelap, atau wujud-wujud dari benda atau makhluk lain yang menurumnya seram. 

Situasi ini, barangkali datang dari imajinasi yang ia miliki. Dengan kenyataan lainnya, ia masih belum cukup mengerti apa yang sebenarnya membuatnya takut. Selama rasa takut yang ia miliki masih dalam batas wajar, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu adalah bagian dari proses tumbuh kembangnya. 

Tapi bukan berarti kita cuma diam saja ya Bun, sebagai orangtua kita juga harus membantu mereka. Mencari apa yang sebenarnya ia takuti dan memberinya solusi, bagaimana mengatasi rasa takut yang ia miliki. 

1. Ajarkan Ia untuk Tetap Tenang 

Setelah ia mengalami ketakutannya, si kecil akan berekspresi untuk menunjukkan ketakutannya. Entah itu menangis, berteriak atau berlari. Ini adalah respon dari imajinasi yang ia pikirkan, sehingga membuatnya bertindak demikian. Dan bukan tak mungkin juga jika ia akan panik mendadak. 

Tugas Bunda adalah membuatnya tetap tenang. Ajak si kecil untuk pelan-pelan menghadapi ketakutannya, melupakan semua hal negatif yang ia pikirkan, dan menumbuhkan keberanian untuk melawan. Walau tak akan mudah, setidaknya perlahan ia akan lupa tentang apa yang takutinya. 

2. Bantu Ia Mencari Penyebab Rasa Takut yang Ia Miliki 

Misanya, ia takut gelap karena berpikir ada setan di sana. Pada situasi ini, Bunda harus bertindak sebagai mediator yang membantunya memahami jika hantu itu tidak ada misalnya. Atau, kondisi gelap tak selamanya menandakan ada hantu, bisa jadi karena malam, atau listrik yang sedang padam.

Dengan demikian, ia akan mulai paham jika ada sebab lain yang harus ia mulai pahami. Bukan lagi berkutat pada jika gelap, berarti ada hantu. 

3. Berikan Alternatif untuk Mengalihkan Ketakutannya

Untuk bisa memberinya pilihan dan membantunya mengalihkan perhatian. Bunda harus memahami apa yang membuatnya takut sebagaimana hal yang tadi sudah dijelaskan diatas.

Selanjutnya, setiap kali ia berteriak atau menunjukkan ketakutan. Bunda punya alternatif yang bisa disarankan kepadanya. Misalnya, jika ia takut mencari sesuatu di kamar hanya karena gelap, mungkin Bunda bisa memberinya solusi untuk menggunakan senter agar ia bisa melihat dengan jelas benda yang dicarinya. 

4. Beri Ia Semangat Agar Bisa Mengalahkan Ketakutannya

Jangan pernah disepelakan ya Bun. Rasa takut pada anak memang bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi bukan berarti juga layak untuk diabaikan. Mulailah peka, untuk memperhatikan apa yang bisa bunda gunakan untuk membantunya bersemangat dalam mengalahkan rasa takutnya. Dengarkan apa yang sedang ia rasakan, dan beri ia masukan tentang apa yang ia butuhkan untuk menghalau rasa takut yang sedangg ia rasakan. 

5. Dan Berusahalah untuk Membantunya Menumbuhkan Rasa Percaya Dirinya

Takut pada anak, kerap berhubungan dengan rasa malu atau minder yang juga ia miliki. Itulah sebabnya, ia menjadi tidak berani, apalagi ketika diminta untuk melakukan sesuatu seorang diri. Jika sudah tahu jika ia memang kurang percaya diri, Bunda bisa mulai membiasakannya memupuk rasa percaya dirinya dengan hal-hal sederhana. 

Dimulai dengan mengajarkannya bertanggung jawab atas sesuatu, berani dengan hal-hal yang ia percayai dan selalu memberinya pengertian jika apapun bisa ia lakukan, jika ia berhasil mengalahkan ketakutan yang ia rasakan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Bermain Menghancurkan Juga Bermanfaat untuk Anak, Lho

bermain merusak

Pernahkah Bunda bermain membuat sesuatu bersama anak, tetapi setelah jadi malah dihancurkan si kecil? Jangan buru-buru kesal atau khawatir ada perilaku merusak dalam diri anak ya, Bun. Permainan menghancurkan ada manfaatnya lho bagi tumbuh kembang mereka.

Destructive play atau bermain menghancurkan biasanya dilakukan di masa-masa awal usia kanak-kanak. Bagi anak-anak berusia muda, kegiatan menghancurkan sesuatu adalah permainan yang menarik dan menyenangkan. Jadi, tidak perlu bergegas melarang si kecil yang hendak menghancurkan bangunan yang telah dibuatnya ya, Bun.

Nah, berikut ini manfaat bermain menghancurkan bagi anak yang perlu kita pahami bersama.

  1. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu

Ada banyak cara untuk belajar, tak terkecuali melalui bermain menghancurkan. Sering kali manusia dewasa pun merusak atau menghancurkan sesuatu untuk mencari tahu cara kerja suatu benda.

Anak-anak bisa jadi mencabuti tanaman bunga di kebun karena ingin tahu bagian tanaman seperti apa yang ada di dalam tanah. Bagi si kecil, kegiatan merusak juga bisa jadi sarana mengeksplorasi kemampuannya. Dengan mencabut tanaman, mereka jadi tahu kekuatan yang dibutuhkan untuk mencabut tanaman tertentu. Sementara itu beberapa tanaman lain sangat kuat, sehingga mereka tidak bisa mencabutnya.

Bahkan menyobek kertas, sekilas terlihat menyebalkan bukan? Namun, para bayi bersenang-senang dengan kegiatan itu. Wah, mereka jadi tahu bahwa tangannya tak hanya bisa digunakan untuk memegang, tetapi juga merobek.

Memahami bermain merusak yang dilakukan anak/ Foto: Canva
  1. Belajar Sebab Akibat

Melalui permainan merusak, anak-anak akan melihat suatu benda berubah bentuknya atau penampakannya. Dari kegiatan itu, mereka belajar tentang sebab akibat. Demikian disampaikan seorang edukator, Meghan Fitzgerald. Misalnya, menara balok akan hancur jika dilempar bola, dan sebaliknya tidak akan roboh bila dilepah sehelai tisu.

Ketika ada anak yang menumpahkan sabun mandi di ember, bisa jadi dia ingin tahu seberapa banyak sabun yang dibutuhkan untuk membuat gelembung. Pun ketika si kecil merobek kertas, mereka akan belajar cara efektif merobek kertas tertentu. Seperti kita tahu, tidak semua kerta bisa dirobek dengan mudah.

  1. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus

Di balik bermain menghancurkan yang terkadang bikin para ibu gemas dan kesal, ternyata justru bisa mengasah kemampuan motorik halus si kecil. Memegang, mengambil benda, merobek, menarik, dan mencabut adalah kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan motorik halus.

Kelak, kemampuan ini akan mendukung keterampilan lainnya, seperti menulis, menggunting, serta membuka botol. Hal-hal sederhana itu adalah caranya belajar untuk lebih mahir menjalani kehidupan di masa mendatang.

Hal-hal yang Perlu Dilakukan Saat Anak Bermain Menghancurkan

Memahami bermain merusak yang dilakukan anak/ Foto: Canva

Alih-alih berkata, “Kok dihancurkan sih? Kan Bunda sudah susah payah bikin menara baloknya,” lebih baik bilang, “Wah, kamu ingin tahu ya cara menjatuhkan menara balok? Ayo kita bikin lagi.”

Di atas kertas mudah ya, Bun. Nyatanya memang tidak semudah itu. Kadang kesal datang tanpa diharapkan. Jangan buru-buru marah, lebih baik tarik napas panjang, agar yang datang ke pikiran adalah hal-hal positif. Ingat, Bun, anak nggak bermaksud bikin kita kesal. Mereka hanya sedang belajar.

Ini dia beberapa hal yang perlu kita lakukan saat anak bermain menghancurkan:

  1. Membuat Area Aman

Untuk menghindari hal yang membahayakan, sebaiknya membuat area aman untuk bermain bagi anak. Dalam hal ini, termasuk benda-benda yang digunakan untuk bermain. Misal ya untuk anak usia muda, sebaiknya kita jauhkan benda-benda yang terbuat dari kaca karena bisa membahayakan saat dihancurkan.

  1. Tunjukkan Antusiasme

Saat anak bermain menghancurkan, jangan bereaksi negatif. Sebaliknya, yuk tunjukkan antusiasme kita atas tingkahnya. Jika anak merasa aman dalam mengeksplorasi lingkungan dan perasaannya, mereka akan lebih banyak belajar. Namun, jika kita merespons dengan amarah, anak akan mengasosiakan emosi negatif dengan hal yang tak diinginkannya.

  1. Ikut Bermain

Yuk ikut bersenang-senang bermain menghancurkan bersama anak. Ikuti saja yang dilakukan anak, hal itu cukup mendongkrak rasa percaya dirinya.

Kita bisa mengarahkan anak untuk mencoba hal-hal baru. Misalnya dengan menaruh lebih banyak kotak pada menara yang dibangun. Bisa juga dengan meletakkan alas di bawah menara kotak. Anak bisa diajak mengeksplorasi apa yang terjadi dengan perubahan-perubahan yang ada.

Perilaku merusak ini dilakukan di awal-awal masa kanak-kanak saja. Jika usia anak sudah lebih besar dan mampu berkomunikasi dengan baik, tetapi selalu merusak semua hal, ada baiknya berkonsultasi dengan pakar tumbuh kembang anak.

Nah, sekarang Bunda sudah lebih memahami bermain merusak yang dilakukan si kecil. Semoga informasi ini bermanfaat dan membuat Bunda semakin memahami perilaku anak.

Referensi:

Tinkergarten. Why the Power of Destruction Is Really Good For Kids. https://tinkergarten.com/blog/why-destroying-stuff-is-good-for-our-kids diakses pada 9 Juni 2021.

Playful Childhoods. How to deal with construction and destruction play. https://www.playfulchildhoods.wales/how-to-deal-with-construction-and-destruction-play diakses pada 9 Juni 2021.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Mudah Membentak Anak, Dampaknya Tidak Main-Main Lho

membentak anak

Bentakan adalah salah satu cara yang diyakini bisa mendisiplinkan anak. Namun, benarkah demikian? Jika kita sering membentak anak, yuk coba perhatikan, apakah perilaku anak semakin baik setelah dibentak atau justru sebaliknya. Meski tujuan membentak dianggap baik, tapi dampaknya justru tidak baik.

Membentak termasuk dalam pelecehan secara verbal. Sering kali bentakan tak hanya melibatkan volume suara yang keras, tetapi juga nada suara yang melengking. Hal itu biasanya diikuti mata melotot, ekspresi wajah kesal yang membuat anak merasa dibenci, serta tercetusnya kata-kata umpatan seperti “dasar anak manja” atau “anak menyebalkan”.

Sering pula bentakan pada anak saat orang tua marah ini berlangsung lama. Orang tua mengomel dengan suara tinggi selama berjam-jam. Alhasil orang tua terlihat berubah seperti orang lain bagi anak. Orang lain yang tak memiliki rasa sayang padanya. Nah, satu hal terburuk yang kerap mengikuti bentakan adalah pengabaian pada anak. Amit-amit ya, Bunda, jangan sampai kita melakukannya.

Ketika amarah menyelimuti diri dan ingin membentak anak sesering mungkin, yuk coba tahan diri dulu, Bun. Jika anak sering dibentak, lebih banyak dampak buruk yang muncul, lho. Berikut ini beberapa dampak yang bisa terjadi.

1. Meningkatkan Hormon Stres Anak

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

Sering mendapat teriakan atau bentakan akan membuat pikiran, otak, dan tubuh berubah dalam berbagai cara. Salah satunya adalah meningkatkan hormon stres dalam aliran darah.

Hormon stres bisa menurunkan imunitas tubuh. Alhasil anak jadi lebih rentan sakit. Tak cuma itu, stres juga mengaktifkan tingkat kortisol tinggi. Kondisi ini berhubungan dengan kerusakan hipokampus dan daerah otak lainnya. Dampaknya bisa menyebabkan gangguan kognitif.

2. Meningkatkan Kecemasan

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

Studi tahun 2014 di The Journal of Child Development menunjukkan bahwa teriakan menghasilkan kondisi yang mirip dengan hukuman fisik pada anak-anak. Tingkat kecemasan anak meningkat, bahkan bisa diikuti peningkatan masalah perilaku.

Sebenarnya teriakan atau bentakan bukanlah strategi untuk mendisiplinkan anak, melainkan release atau pelepasan emosi. Alih-alih membuat berwibawa, membentak atau berteriak justru menunjukkan sisi diri seseorang yang tidak terkendali. Sering kali berteriak merupakan respons seseorang yang tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Mengutip artikel National Alliances on Mental Illness (NAMI) anak cenderung melakukan sesuatu lebih baik saat kondisinya tenang, bukan saat cemas. Semakin tenang dan terhubung dengan pengasuh, maka perilaku anak pun semakin baik. Anak-anak pun merasa dirinya aman dan terlindungi.

3. Anak Semakin Tidak Menurut

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

“Setiap hari dibentak kok anak ini nggak juga menurut ya.” Mungkin kalimat itu kerap terlintas di benak orang tua yang sering mendisiplinkan anaknya dengan bentakan.

Hal ini tidak mengherankan lho, Bunda. Kata psikiater anak, dr. Steven G. Dickstein, saat orang tua berteriak sepanjang waktu, maka bagi anak hal itu bukan hal baru. Karena terbiasa dengan bentakan dan teriakan, anak menganggap hal itu biasa saja. Dengan begitu, bentakan justru gagal mendisiplinkan anak.

4. Harga Diri Rendah pada Anak

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

Membentak dan berkata kasar dapat mengakibatkan harga diri yang rendah pada anak. Kondisi ini bisa berpengaruh pada kegiatan belajarnya di sekolah.

Bentakan dan kata-kata kasar orang tua membuat seorang anak merasa dirinya tidak dicintai. Mereka berpikir orang tuanya terus mengkritik karena tidak menyukainya.

5. Anak Menjadi Agresif

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

Terbiasa dibentak dan diteriaki oleh orang tua berisiko membuat anak memiliki perilaku agresif atau mengganggu orang di sekitarnya. Bahkan di kemudian hari, akibat menginternalisasi interaksi negatif dengan orang tua, anak pun bisa berperilaku agresif pada orang tua.

Duh, sayang sekali ya, Bunda, akibat bentakan yang terus meneris, jadi gagal membentuk ikatan dengan anak yang positif dan penuh kasih sayang.

Terkadang kita mungkin pernah kelepasan membentak atau meneriaki anak. Namun, jangan jadikan hal ini sebagai kebiasaan ya, Bunda. Sebelum membentak, yuk coba regulasi emosi terlebih dahulu. Jangan sampai niat mendisiplinkan anak malah jadi kontraproduktif akibat emosi yang tak teregulasi.

Referensi:

Sroykham, W., & Wongsawat, Y. (2019). Effects of brain activity, morning salivary cortisol, and emotion regulation on cognitive impairment in elderly people. Medicine, 98(26), e16114. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000016114 diakses pada 3 Juni 2021.

NAMI. Thw Problem With Yelling. https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/February-2018/The-Problem-with-Yelling diakses pada 3 Juni 2021.

Child Mind. Calm Voices Calmer Kids. https://childmind.org/article/calm-voices-calmer-kids/ diakses pada 3 Juni 2021.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top