Mom Life

Bun, Tak Apa Bila Sekali Waktu Bunda Menangis di Depan Anak

Sebagai orangtua, ada kalanya kita dilanda rasa kesal, marah, atau bahkan ingin menangis. Ya Bun, namanya juga manusia. Tapi ada lho orangtua yang berprinsip tak mau memperlihatkan air mata di depan anaknya. Alih-alih meluapkan emosi secara alami, Bunda biasanya terburu-buru menyeka air mata agar tak terlihat oleh anak. Padahal sejatinya menunjukkan emosi atau keadaan Bunda di depan anak itu normal lho Bun.

“Jika anak melihat orangtua atau pengasuhnya menangis ketika merespon situasi atau momen tertentu, hal itu bermanfaat baginya. Setiap manusia memang perlu mengekspresikan perasaannya,” kata konselor dan psikolog Tammy Lewis Wilborn.

Ya Bun, hal ini membantu anak memiliki kecerdasan emosional, maka penting baginya untuk merasa normal pada setiap emosi yang dialami. Pemicu orangtua tiba-tiba menangis biasanya karena mungkin saat merespon kematian anggota keluarga besar. Untuk hal semacam ini, maka biarkan anak tahu emosi orangtuanya. Apalagi bila ia juga mengenal dekat sosok yang telah berpulang. Dengan menunjukkan emosi yang sama, anak akan merasa ia tidak sendirian dalam kesedihan tersebut.

“Karena anak-anak belum punya banyak pengalaman kehidupan, ketika mereka merasakan perasaan yang berbeda-beda ia juga akan berpikir ‘Apakah hal itu normal? Apakah ada sesuatu yang salah denganku?,” kata Willborn.

Saat anak merasa sedih, orangtua bisa mengajak anak berbicara bahwa kesedihan itu wajar dan akan membantu mereka belajar mengatasi perasaannya secara lebih baik. Nah Bun, hal sama juga dirasakan oleh anak-anak, mereka yang melihat orangtuanya menangis juga akan membuat sosok ayah dan ibunya lebih manusiawi. Mereka juga akan menyadari bahwa orang dewasa pun bisa terpengaruh oleh hal-hal menyedihkan.

“Anak-anak juga bisa bingung dan takut ketika orangtuanya marah. Setelah itu, penting untuk memberi penjelasan sesuai usia anak, bahwa orangtua juga mengalami momen emosional. Yakinkan mereka bahwa Anda baik-baik saja,” kata psikolog anak Jillian Roberts.

Untuk itu, pastikan Bunda pun memberikan informasi yang cukup guna membantu mereka memahami bahwa tak ada alasan untuk takut atau bingung. Bunda dapat bertanya pada orangtuanya tentang hal-hal yang membuat tidak nyaman.

“Ketika membicarakan ke anak tentang pengalaman emosional dan bagaimana kita menghadapinya, kita mengajarkannya tentang keterampilan hidup dan memberi mereka ijin untuk mendiskusikan pengalaman mereka sendiri, dan itu sangat sehat,” kata Roberts.

Komunikasi semacam itu juga akan membuat ikatan antara orangtua dan anak lebih kuat. Yang perlu diingat, sesuaikan bahasa yang dipakai dengan perkembangan mental anak.

Terkadang, ada alasan mengapa orangtua menangis yang tidak bisa diungkapkan kepada anak karena mereka masih terlalu kecil, tetapi yang terpenting adalah memberikan konteks agar anak mengerti bahwa bukan mereka yang menyebabkan ayah atau ibunya menangis. Misalnya saja kita tak bisa menjelaskan bahwa sedang ada masalah utang dengan bank sehingga rumah akan disita. Tapi kita bisa mengatakan,

“Ayah tahu kamu tadi melihat ayah menangis. Ayah sedang menghadapi masalah berat, tapi akan mencari jalan keluar dan kita akan baik-baik saja”.

“Orangtua juga bisa menanyakan pada si kecil tentang perasaannya ketika melihat ayah atau ibunya menangis. Ini akan memberi mereka kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya,” ujarnya. Walau orangtua boleh saja mengekspresikan kesedihannya, tetapi jangan melakukannya terlalu sering karena anak akan merasa bersalah sebab mereka ingin melakukan sesuatu tetapi tidak tahu harus bagaimana.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tanda Anak Mengalami Bullying, Orang Tua Harus Tahu

Bullying atau perundungan bisa terjadi kepada siapapun dan di manapun. Anak-anak juga bisa melakukan bully kepada temannya. Tindakan bullying akan menimbulkan banyak dampak buruk kepada korbannya, yaitu menyebabkan korban kehilangan percaya diri, merasakan sakit fisik, mengalami stress, depresi dan mempengaruhi kondisi psikologis korban.

Bentuk tindakan bullying bisa berupa tindakan fisik misalnya memukul, menampar, atau menjegal. Bisa juga berupa verbal atau dengan kata-kata seperti mengejek, mencemooh, dan mempermalukan. Jika anak sudah mempunyai media sosial, bullying juga bisa terjadi di dunia maya atau cyber bullying.

Tanda Anak Mengalami Bullying

Ayah dan bunda perlu mengetahui tanda-tanda anak menjadi korban bullying. Berikut beberapa tanda anak mengalami bullying oleh temannya:

  1. Anak Menjadi Tidak Mau Berinteraksi dengan Temannya

Jika teman-temannya suka membully, maka anak akan berusaha untuk menjauhi teman-temannya. Dengan begitu anak menjadi tidak mau berinteraksi dengan temannya. Jika bullying terjadi di  sekolah, anak menjadi malas pergi ke  sekolah. Jadi jika tiba-tiba anak menarik diri dari lingkungannya, ayah dan bunda perlu mendekati anak untuk mencari tahu penyebabnya.

  1. Anak Mengalami Sakit Fisik atau Ada Tanda Luka di Badan

Jika anak mengalami bullying berupa kekerasan fisik, maka anak akan merasakan sakit pada bagian tubuhnya. Orang tua perlu memeriksa apakah ada memar atua bekas luka di badan anak dan cari tahu penyebab sakitnya

  1. Anak Menjadi Murung, Mengurung Diri, dan Suka Menyendiri

Menjadi korban bully akan membuat anak sedih, kehilangan rasa percaya diri, dan stres. Oleh karena itu, anak menjadi murung, suka menyendiri, dan sering gelisah.

  1. Anak Merasa Cemas Ketika Melihat Gadget

Dengan lebih berkembangnya internet, interaksi di dunia maya juga lebih mudah. Namun, sayangnya media sosial juga bisa menjadi sarana bullying. Jika anak mengalami cyber bullying, anak akan menjauhi gadgetnya serta merasa cemas dan gelisah ketika melihat gadget. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua  mengawasi penggunaan gadget anak.

Efek negatif mengalami bullying tidak bisa hilang dalam sekejap. Oleh karena itu, ayah dan bunda harus dekat dan mengerti kondisi anak agar bisa segera tahu jika anak mengalami perubahan dan menjadi korban bullying.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tips Mengajarkan Anak Menabung Sejak Dini

Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya boros dan tidak bisa menabung ketika dewasa. Padahal, bisa  jadi hal tersebut karena anak tidak diajarkan menabung atau meniru kebiasaan di keluarganya. Kebiasaan menabung perlu diajarkan kepada anak sejak dini. Selain agar anak tidak boros, anak juga belajar tentang mengelola keuangan dengan baik.

Jika anak sudah terbiasa untuk tidak menghabiskan uang sakunya dan menyisihkannya untuk menabung, kelak ketika dewasa tidak akan kesulitan untuk mengatur keuangan dan berinvestasi. Sebelum mengajarkan menabung, orang tua perlu mengajarkan konsep uang kepada anak. Anak perlu paham bahwa uang adalah suatu alat tukar dan mempunyai nominal yang berbeda-beda. Jika ingin mendapatkan suatu barang atau makanan maka harus ditukar dengan uang.

Tips Mengajarkan Anak Menabung

Mengajarkan anak menabung bisa dilakukan dengan kegiatan yang menyenangkan. Berikut beberapa tips mengajarkan anak menabung  sejak dini:

1. Mulai dengan Menabung di Celengan

Cara yang paling mudah mengajarkan menabung adalah mulai dengan menabung di celengan. Pilih bentuk celengan yang disukai anak dan jelaskan kegunaan celengan. Beri tahu si kecil bahwa jika dia lebih sering menyisihkan uang dan menyimpannya di celengan maka lama-kelamaan akan terkumpul menjadi banyak. Dengan begitu anak bisa membeli barang yang dia inginkan.

2. Ajak Anak Main Jual Beli

Main jual beli bisa sebagai cara untuk mengajarkan anak tentang konsep uang. Anak akan tahu bahwa suatu barang punya harga yang berbeda-beda dan anak harus memutuskan apa yang perlu lebih dulu dibeli dengan uangnya.

Selain dengan main jual beli, anak juga bisa melihat ketika orang tua belanja. Ketika melihat ayah dan bunda belanja anak akan berpikir bahwa untuk membawa barang belanjaan pulang, orang tua harus membayarkan sejumlah uang.

3. Berikan Anak Kesempatan untuk Mengelola Uang Sakunya Sendiri

Jika anak sudah mempunyai uang saku, maka berikan anak kesempatan untuk mengaturnya sendiri. Sebelumnya, orang tua perlu menegaskan uang saku tersebut untuk berapa lama. Misalnya anak diberi uang saku mingguan, maka berikan ketegasan bahwa jika uangnya sudah habis sebelum waktunya maka tidak akan diberi uang tambahan. Dengan begitu anak akan belajar mengelola uangnya.

4. Berikan Teladan Kepada Anak

Bagiamanapun kita mengajarkan, anak akan tetap meniru orang tuanya. Jadi, jangan hanya mengajarkan anak menabung sementara orang tuanya boros dan suka menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Anak akan mencontoh perilaku orang tuanya.

Itulah beberapa tips mengajarkan anak untuk menabung. Dengan begitu, anak akan lebih bisa mengontrol diri dan mengelola keuangannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Lifestyle

Cara Meningkatkan Kesuburan Secara Alami Untuk Mendukung Program Hamil

Apakah ayah dan bunda sedang merencanakan program hamil? Jika iya, maka ayah dan bunda perlu meningkatkan kesuburan agar program hamil berhasil. Kesehatan organ reproduksi sangat mempengaruhi keberhasilan program hamil. Rahim bunda harus dalam kondisi yang sehat agar dapat menghasilkan sel telur berkualitas dan siap untuk menjadi tempat pembuahan. Sedangkan ayah harus selalu menjaga pola hidup sehat karena pola hidup dapat mempengaruhi kualitas sperma. Agar kesuburan selalu terjaga, maka ada beberapa cara yang bisa ayah dan bunda coba.

Pilih Makanan yang Dapat Meningkatkan Kesuburan

Beberapa jenis makanan dipercaya dapat membantu meningkatkan kesuburan, beberapa di antaranya adalah:

1. Makanan yang Kaya Antioksidan

Antioksidan berfungsi untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh yang dapat mempengaruhi kualitas sperma dan sel telur. Pada suatu penelitian yang dilakukan pada pasangan yang sedang menjalani fertilisasi in vitro atau bayi tabung didapatkan hasil bahwa pasangan yang mengkonsumsi suplemen antioksidan mempunyai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Banyak makanan yang mengandung antioksidan, misalnya buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian. 

2. Karbohidrat Kompleks

Karbohidrat kompleks banyak terkandung pada beras merah, sereal, biji-bijian utuh, dan gandum. Beberapa bahan makanan tersebut memiliki kandungan vitamin B, zat besi, dan antioksidan yang bagus untuk kesuburan. Berbeda dengan karbohidrat olahan misalnya pada nasi putih dan roti tawar putih, yang sudah kehilangan beberapa nutrisi tersebut. Selain itu, karbohidrat dari hasil olahan tersebut juga dapat meningkatkan kadar gula darah dan insulin yang dapat mengganggu hormone reproduksi. Jadi, ayah dan bunda bisa mengganti sumber karbohidrat misalnya dengan mengganti nasi putih dengan nasi merah.

3. Makanan yang Mengandung Zat Besi

Zat besi baik untuk kesehatan reproduksi ayah dan bunda. Beberapa makanan yang kaya zat besi antara lain daging merah, hati ayam, ikan, dan sayuran hijau. Mulai sekarang bunda perlu memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung zat besi untuk menyehatkan kandungan. Penyerapan zat besi akan meningkatkan dengan adanya vitamin C, oleh karena itu bunda juga perlu makan makanan yang mengandung vitamin C misalnya buah jeruk.

4. Makanan Sumber Asam Folat

Selain zat besi, asam folat juga baik untuk kesehatan kandungan. Selain itu, asam folat juga mempunyai manfaat untuk janin, yaitu untuk mencegah kecacatan pada janin. Sedangkan untuk ayah, asam folat dapat meningkatkan kualitas sperma. Sumber asam folat bisa didapatkan dari sayuran hijau, kacang-kacangan, kecambah, dan buah jeruk.

Relaksasikan Pikiran Agar Ayah dan Bunda Tidak Stress

Aktivitas, pekerjaan dan masalah sehari-hari dapat mengganggu pikiran hingga menjadi stres. Namun, ayah dan bunda harus tahu bahwa stres dapat mengganggu kesuburan. Hal itu terjadi karena saat stres tubuh mengeluarkan hormon stres sehingga terjadi perubahan hormon pada tubuh yang dapat mengganggutingkat kesuburan. Oleh karena itu ayah dan bunda harus merelaksasikan pikiran agar tidak stres. Jika mengalami masalah yang terlalu berat hingga mengganggu, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog agar stres tidak berlanjut.

Olahraga Juga dapat Meningkatkan Kesuburan

Olahraga sangat baik untuk kesehatan, tak hanya itu, ternyata olahraga juga dapat meningkatkan kesuburan lho. Dengan rutin berolahraga maka bisa menjaga berat badan agar tidak terjadi obesitas atau kegemukan. Penelitian menunjukkan bahwa berat badan dapat mempengaruhi kesuburan. Pada wanita, lemak dalam tubuh bisa mempengaruhi siklus menstruasi. Oleh karena itu, ayah dan bunda perlu menjaga pola hidup sehat agar berat badan normal.

Itulah beberapa hal yang bisa ayah dan bunda lakukan untuk meningkatkan kesuburan. Untuk ayah dan bunda yang sedang menjalani program hamil, semoga informasi di atas bisa membantu dan segera dikaruniai buah hati ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top