Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Lifestyle

Sekolah Akan Segera Tatap Muka, Bunda Sudah Siap Belum?

Sesuai dengan arahan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, pada kunjungan kerjanya saat meninjau pelaksanaan PTM terbatas di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, pada 6-7 April 2021 lalu. Sekolah akan segera menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas untuk mengejar ketertinggalan siswa selama masa pandemi Covid-19. Dan hal tersebut konon, akan mulai berlaku pada Juli mendatang. 

Serupa seperti orangtua lainnya, Bunda pastinya juga merrasa khawatir untuk melepas si Kecil ke sekolah di masa pandemi COVID-19 ini. Nah, untuk bisa tetap memberikan perlindungan pada si kecil, kita bisa mulai mengajari mereka. Berikut, adalah beberapa tips dari sayangianak yang bisa Bunda pakai untuk memberi pemahaman pada anak tentang COVID-19 dengan cara yang tetap menyenangkan. 

Buat Sesimpel Mungkin Agar Mudah Dipahami Tentang Apa Itu Covid-19

Si kecil mungkin pernah mendengar apa itu Covid-19, tapi bisa jadi ia  hanya sekedar tahu tanpa paham jika ini adalah virus yang berbahaya. Untuk itu, jangan sampai terlewat meski ini akan jadi komunikasi yang cukup butuh energi. Sebab si kecil mungkin masih sulit untuk bisa memahami. Makanya, sebisa mungkin Bunda harus mencari cara yang bisa membantu ia paham dan mengerti lebih mudah.  

Misalnya dengan membuat objek sebagai gambaran, jika ia terlalu dekat dengan temannya di sekolah, ia bisa jadi akan tertular virus. Dengan begitu, ia akan berusaha untuk selalu menjaga jarak dengan temannya selama di sekolah. 

Berikan Contoh Nyata, Tentang Bagaimana Bunda Menerapkan Protokol Kesehatan yang Benar

Setelah memberinya pengertian melalui ucapan, selanjutnya Bunda bisa memberinya contoh dari segi perbuatan nyata. Yap, cobalah untuk menunjukkan bagaimana Bunda menjaga kesehatan secara langsung ketika hendak ke luar rumah.

Dimulai dari selalu menggunakan masker, mencuci tangan dan menggunakan handsanitizer. Selain itu, Bunda juga perlu menekanan, bagaimana cara pemakaian masker yang benar haruslah menutupi keseluruhan bagian mulut, jangan terlalu ke bawah atau terlalu ke atas. Dan pastikan juga jika si kecil harus mencuci tangannya dengan sabun dan membilasnya hingga bersih menggunakan air. 

Ajak Si Kecil untuk Tetap Konsisten Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Dirinya Karena Bunda Tak Akan Ada Selama ia di Sekolah

Kadang kala, anak hanya akan melakukan sesuatu karena diawasi Bun. Dan itu wajar-wajar saja, karena pada usianya ia masih akan melakukan hal-hal yang memang sesuai dengan moodnya saja. Itulah, mengapa Bunda perlu tegas untuk memberinya pemahaman. Jika menjaga kesehatan selama pandemi adalah sesuatu yang wajib dilakukan dan harus. 

Tekankan padanya, jika ia harus selalu melakukan apa yang Bunda sudah ajarkan selama ia akan berada di Sekolah. Mulai dari tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dari teman-temannya. 

Meski Covid-19 Memang Berbahaya, Tapi Bunda Jangan Pernah Menggunakan Kondisi Pandemi Ini untuk Menakut-nakutinya

Situasi ini memang jadi sesuatu yang wajib membuat kita terus waspada. Apalagi aktivitas tatap muka di sekolah yang akan segera si kecil lakoni. Namun, hal lain yang perlu tetap Bunda Ingat adalah jangan sampai menjadikan kondisi ini sebagai bahan untuk menakut-nakuti si kecil. 

Kita hanya perlu memberikan arahan dan contoh nyata kepadanya, agar ia juga bisa melakukan hal serupa. Menakuti-nakutinya hanya akan memberikan pengalaman buruk terhadap pikirannya. Dan bukan tak mungkin juga akan berdampak pada tumbuh kembangnya. Jadi selama Bunda, sudah mengajarinya untuk tetap menjaga kesehatan dan melakukan protokol kesehatan lainnya. Bunda sudah melakukan yang benar. Jadi jangan terlalu cemas berlebihan ya Bun!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Keluarga Sebagai Lingkungan Pendidikan

pendidikan-anak

Anak adalah titipan Tuhan. Kita sebagai orang tua yang diberikan amanah, sudah sepatutnya menjaga, merawat, dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

Harapannya apa yang kita ajarkan dan apa yang ditanamkan kepada anak terus melekat pada dirinya. Bicara mendidik anak, tentu ini bukan perkara mudah. Ada banyak sekali tantangan yang dihadapi.

Nah, terkait pendidikan, kita mengenal paling tidak 3 ranah, yaitu pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang dilaksanakan secara resmi di lembaga pendidikan seperti SD, SMP, dan SMA.

Sedangkan pendikan nonformal merupan pendidikan khusus untuk mendapatkan keterampilan tertentu seperti kursus menjahit, kursus mesin, dll. Adapun pendidikan informal merupakan pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan keluarga. Pendidikan informal sejatinya pendidikan pertama dan paling utama yang harus diberikan kepada anak sejak kecil.

Oh ya, Bunda, sadar tidak sekarang ini kita sering menyalahartikan fungsi pendidikan? Saat anak terlibat hal-hal negatif, lebih mudah menyalahkan institusi pendidikan. Sekolah dan guru menjadi pihak pertama yang mendapat sororan tajam.

Padahal pendidikan dari rumah adalah pondasi penting bagi anak. Ya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan bagi anak. Hal ini berarti sejak anak dilahirkan ke dunia, maka ia sudah harus mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Mulai dari cara berjalan, makan, bahasa, perilaku, dll.

Mungkin hal tersebut terlihat sepele. Bahkan mungkin banyak yang beranggapan hal-hal tersebut merupakan pencapaian alamiah seiring bertambahnya usia anak.

Namun, kita harus pahami, Bunda, jika semua hal itu dibiarkan tanpa pengarahan, anak bisa saja memiliki bahasa yang buruk ataupun perilaku yang buruk. Itu semua karena pengaruh lingkungannya.

Apalagi adanya anggapan bahwa perilaku buruk saat kecil adalah lumrah, dan akan menghilang dengan sedirinya saat dewasa. Padahal kebiasaan buruk yang tertanam sejak kecil, bisa dibawa sampai dewasa. Nah, saat kita berusaha mengubahnya, tentu jadi lebih sulit.

Untuk itu, yuk sejak dini kita tanamkan berbagai hal baik pada si kecil. Kita perlu terus memberi contoh bagaimana berperilaku dan berkata yang baik. Nilai religius, kejujuran, sopan santun, dan hal positif lain jangan ditunda untuk ditanamkan. Dengan begitu, anak akan memiliki pondasi kuat dalam hidupnya, sehingga tidak mudah terjerumus ke hal-hal negatif.

Sebagai orang tua, kita memang perlu selalu belajar ya, Bunda. Jangan sampai kita hanya menggantungkan pendidikan anak pada institusi formal. Lagipula waktu anak di sekolah lebih sedikit ketimbang saat mereka di rumah. Yuk, semangat selalu dalam membersamai anak. 

http://kelasin.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Jika Si Kakak Cemburu Pasca Kelahiran Sang Adik, Ini yang Harus Bunda Lakukan

Punya anak kedua itu tantangan tersendiri ya Bun. Apalagi kalau jarak usia antara si kakak dan adiknya tak jauh berbeda. Bukan hanya Bunda dan Ayah yang mempersiapkan diri, sebab si sulung pun juga. Terlebih di usia balita, biasanya anak masih membutuhkan perhatian ekstra dari orangtuanya.

Tidak ada yang melarang bila Bunda memang memiliki program untuk menambah momongan dengan jarak usia yang tak jauh dari si sulung. Tapi pastikan Bunda sudah tahu cara menangani rasa cemburu yang dimunculkan sang kakak saat Bunda memberitahukan kalau ia akan kedatangan seorang adik.

Apalagi banyak cerita kalau balita justru tidak senang dan ‘menolak’ kehadiran adik barunya. Karenanya, Bunda perlu memberikan pengertian kepada Si Kecil sejak adiknya masih di dalam kandungan.

Berikut tipsnya:

  • Tak usah khawatir bila si sulung berubah perasaannya dalam beberapa minggu atau bulan. Tetap lah bersabar dan Bunda cobalah pahami perasaannya. Beritahukan dengan pelan-pelan bahwa keberadaan adiknya kelak bukanlah sebagai saingan melainkan jadi teman tumbuh bersama.
  • Merasa terancam akan kedatangan adik baru adalah perasaan normal yang dialami si sulung. Bunda bisa membuatnya tak merasa terancam dengan melibatkannya dalam kehamilan Bunda. Izinkan sang kakak untuk merasakan tendangan kaki bayi di perut Anda. Jelaskan kepadanya mengenai bayi yang akan lahir dan ceritakan bahwa ia dulu juga pernah berada di dalam perut Anda.
  • Sebelum Bunda ke rumah sakit untuk bersalin, jelaskan terlebih dahulu kepadanya bahwa sebentar lagi adiknya akan lahir. Jelaskan pula siapa yang akan menemaninya saat Bunda dan suami harus ke rumah sakit. Dengan begini, ia tak akan merasa dilupakan atau tersaingi oleh kehadiran sang adik.
  • Saat adiknya lahir dan setiap perhatian tamu terpusat pada bayi yang baru lahir, Bunda jangan sampai lupa untuk tetap memberikan perhatian kepada Si Kakak. Misalnya, saat tamu memuji bayi baru Anda, katakanlah bahwa ia secantik dan sepintar kakaknya.
  • Jangan ragu untuk sertakan juga si kakak saat merawat adiknya. Minta bantuannya untuk mengambilkan baju atau popok bayi. Puji ia di depan adik barunya.
  • Kadang, kakak merasa dituakan dan bisa bersikap agresif terhadap adiknya dengan memukul, menggigit, atau mendorong. Bun, saat menghadapi situasi semacam ini, cobalah katakan dengan tegas namun lembut, bahwa ia tidak boleh menyakiti adiknya.
  • Luangkan waktu Bunda untuk si kakak dan katakan bahwa ia tetap bagian terpenting dalam hidup Anda. Berikan waktu, serta perhatian khusus bersamanya setiap hari.
  • Saat adiknya sudah bisa tertawa dan bercanda, buat permainan bersama antara Si Kakak dan adik barunya, seperti cilukba, bernyanyi bersama, dan sebagainya. Dengan begitu, si sulung pun akan menyadari bahwa adiknya adalah teman bermainnya.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top