Parenting

Bun, Meminta Tolong Si Kecil Pergi Ke Warung Membawa Banyak Manfaat Loh

Biasanya, saat sedang sibuk di dapur, sebagai ibu kadang kita melibatkan si kecil untuk membelikan bumbu dapur ke warung ya Bun. Pekerjaan semacam ini kelihatannya sepele. Bahkan mungkin dulu saat Bunda masih kanak-kanan, Bunda juga pernah mengalaminya.

Tapi tahukah Bun, ternyata aktivitas ini membawa banyak manfaat nih Bun. Menurut laman Sahabat Keluarga – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyuruh anak ke warung memiliki 6 manfaat, apa saja?

Si Kecil dapat Melatih Keberaniannya

Umumnya, anak akan merasa takut untuk pergi keluar rumah kecuali bila ia dipanggil oleh teman-temannya. Sementara dengan menyuruhnya pergi ke warung, hal ini bisa menjadi salah satu trik guna melatih si kecil yang lebih berani.

Mungkin bila awalnya si kecil takut, Bunda bisa mengantarnya sampai ke dekat warung baru kemudian di permintaan selanjutnya, Bunda hanya perlu mengantarnya sampai depan rumah saja. Dalam proses ini memang butuh kesabaran guna melatih keberanian si kecil, tapi ingat, tak perlu sampai memarahinya ya Bun.

Ternyata Bisa Melatih Daya Ingat Juga nih Bun

Bun, selain melatih rasa berani si kecil, dengan meminta tolong si kecil pergi ke warung juga mampu melatih daya ingatnya. Saat Bunda misalnya menyampaikan apa saja yang harus dibeli, maka dengan seksama ia akan menyimak dan mengingat pesan Bunda.

Tapi bila pesanan Bunda terlupa, tak perlu kecewa atau marah ya. Tetap maklumi atau mungkin saja memang ada kesalahan yang terjadi saat transaksi atau saat penjual memasukkan belanjaan ke kantung. Atau, cara terbaik lainnya adalah berikan catatan pada si kecil guna meminimalisir kesalahan.

Melatihnya Memberikan Tanggung Jawab Sedari Dini

Saat memintanya untuk pergi ke warung dengan sederet catatan kebutuhan bumbu dapur atau semacamnya, aktivitas ini berguna untuk melatih tanggung jawabnya, Bun. Bagaimanapun ia pasti akan mempertanggungjawabkan agar pesanan yang diminta dan diamanahkan orangtuanya bahkan mengupayakan agar berhasil mendapatkan barang tersebut.

Juga Melatihnya untuk Belajar Menyampaikan Pesan

Manfaat lain yang didapat adalah melatihnya berkomunikasi dan belajar menyampaikan pesan kepada orang lain. Anak akan berkomunikasi dengan Bunda sebagai pihak yang memberikan instruksi sehingga ia akan berusaha memperhatikan barang yang akan kita pesan.

Selanjutnya, si kecil juga akan berlatih berkomunikasi dan menyampaikan pesan kepada penjual. Mulai dari memberi salam hingga menyampaikan apa saja yang dibutuhkan. Tentunya ada anak yang mampu berkomunikasi dengan baik dan lancar, namun ada juga sebaliknya.

Tapi dengan seringnya Bunda menyuruh anak, maka frekuensi berkomunikasi mereka semakin banyak, serta dapat mengurangi rasa malu, takut, dan menambah percaya diri.

Sekaligus Membiasakannya agar Terbiasa Berhitung

Keuntungan lainnya dari menyuruh anak ke warung adalah melatih untuk berhitung. Terutama jika uang yang Bunda beri ternyata kelebihan, ia akan belajar tak hanya bertanggung jawab pada belanjaannya, tapi juga pada uang serta kembalian yang diterima guna memastikan jumlahnya benar.

Namun dari manfaat yang sudah terlihat, pastikan dulu Bunda menunjuk warung atau toko di sekitar rumah ya Bun. Jadi memang tidak jauh, kondisi jalan aman, serta anak memang sudah bisa diberi kepercayaan ketika usianya sudah cukup matang guna meminta tolong.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak yang Suka Merebut Mainan Bisa Jadi Karena Cemburu, Cobalah Lakukan Ini untuk Merubah Sikap Buruk Itu

orangtua ingin si kecil bermain dengan aman dan damai, tidak suka anak yang suka merebut mainan. Namun, hal ini sering kali dilakukan oleh anak-anak membuat Bunda geleng-geleng kepala. Tapi sebagai orangtua, sudah menjadi tugas dan tanggung jaab kita untuk mendidiknya ke perubahan yang lebih baik. Hindari untuk berteriak, apalagi sampai marah-marah pada anak karena tindakannya, sebaliknya ketahui apa  alasan yang menjadi penyebabnya ia bersikap demikian. 

Beberapa Alasan Anak yang Suka Merebut Mainan yang Juga Mungkin Terjadi pada Si Kecil di Rumah Bunda

Sikap anak marah, menangis bahkan merebut mainan memiliki alasan masing-masing. Karena itu jangan langsung menyalahkan atau menghukumnya. orangtua harus mencari tahu penyebab terlebih dulu kemudian ajarkan anak untuk berperilaku yang baik. 

1. Tidak Tahu atau Belum Mengerti Pentingnya Rasa Empati Terhadap Orang Lain

Alasan pertama anak suka merebut mainan sebab belum tahu bahwa dalam bergaul perlu memiliki rasa empati. Orangtua harus mengajarkan kepada anak tentang empati dan kasih sayang kepada teman. Sehingga anak tahu rasanya kehilangan mainan sendiri akibat paksaan orang lain. 

Salah satu cara mudah melatih rasa empati melalui cerita dongeng. Biasanya di akhir cerita orangtua dapat menjelaskan pelajaran yang bisa diambil. Dekati anak secara persuasif agar si kecil mudah menerima nasihat orang tua.

2. Pemikiran Anak Masih Egois dan Merasa Dialah Satu-satunya yang Berhak

Anak kecil hampir semuanya memiliki perilaku ego salah satunya pada mainan. Hanya ingin mainan tersebut menjadi miliknya sendiri. Semua barang yang ada di depan mata dapat digunakan sesuai keinginan tanpa memperdulikan orang lain.

Pemikiran seperti ini harus diluruskan untuk mengurangi risiko dijauhi teman-temannya. Selain itu, juga tidak baik untuk masa depannya jika sampai dewasa masih suka egois. Sebab, semakin bertambahnya umur anak bertemu banyak orang, mau tidak mau harus menghargai dan menghormati orang lain.

3. Ada Kecemburuan atau Iri yang Barangkali Anak Rasakan, Itulah Sebabnya Ia Tak Suka Berbagi dan Berebut Mainan

Penyebab anak suka merebut mainan juga karena iri ketika sang kakak atau adik memiliki barang baru. Cemburu saat teman-teman punya mainan yang diri sendiri tak memilikinya. Ajarkan anak untuk menghargai barang orang lain.

Tidak hanya itu, anak juga bisa cemburu dengan perhatian orangtuapada saudaranya. Anak ingin diperlakukan sama, tetapi tidak tahu cara mengatakannya. Anak belum paham cara mengekspresikan emosinya sehingga diluapkan dengan merebut mainan orang lain. 

4. Belum Memahami Konsep Kepemilikan atas Tiap-tiap Mainan atau Barang

Anak-anak biasanya belum paham tentang konsep kepemilikan. Sehingga semua barang orang lain yang menarik perhatiannya, dianggap adalah miliknya sendiri. Karena itu, orangtua perlu menjelaskan anak agar paham tidak semua barang di sekitarnya bisa dengan mudahnya diambil. 

Barang kakak dengan adik tidak sama, begitu juga antara Ibu dan Ayah. Pahamkan konsep ini pada si kecil untuk mengurangi perilaku merebut mainan. Boleh meminjam tetapi harus dikembalikan tepat waktu. 

5. Ingin Menikmati Mainan Sendirian dan Tak Suka Berbagi

Alasan lainnya anak ingin menikmati mainan sendirian tanpa ada campur tangan orang lain. Sehingga saat ada kakak atau teman datang, ia akan menghindarkan mainan dari sentuhan orang. Memang perilaku ini tidak sepenuhnya baik.

Ajarkan anak suka bermain dan berbagi mainan dengan orang lain. Jika tidak, si kecil ke depannya sulit mendapat teman dan merugikan diri sendiri. 

Lalu, Apa Hal yang Harus Dilakukan Supaya Anak Tidak Suka Merebut Mainan? 

Tanamkan sifat berbagi pada anak yang suka merebut mainan. Sampaikan bahwa bermain bersama lebih menyenangkan. orangtua juga bisa menerapkan beberapa langkah berikut agar lebih mudah mengatasi anak.

1. Jangan Diam, Lakukan Sesuatu untuk Menghentikannya Merebut Mainan

Ketika orangtua melihat anak merebut mainan, jangan diam saja. Segera turun tangan agar proses perebutan tidak terus memanjang hingga berkelahi. Karena biasanya hanya disebabkan mainan anak bisa bermusuhan dengan temannya. 

Bersikap sigap jangan tunggu anak menangis, baru turun tangan. Sampaikan kepada anak bahwa memaksa orang lain memberikan mainannya bukan hal yang bagus. Bahkan dapat menyakiti perasaan pemiliknya. 

2. Ajarkan Anak Minta Maaf, Atas Apa yang Sudah Dilakukannya

Anak saat melakukan kesalahan wajib meminta maaf. Bertujuan untuk menjaga hubungan pertemanan dan menghindari dendam. Setelah memaksa hak orang lain bahkan sampai temannya menangis, pastikan anak segera minta maaf. 

Jangan hanya menghentikan perebutan kemudian melupakan begitu saja. Latih anak memiliki sikap tanggung jawab atas keributan yang sudah diperbuat. Supaya anak dapat belajar dan tidak mengulangi hal yang sama ke depannya. 

3. Tanamkan Sifat Berbagi Sedari Dini, Agar Ia Tak Lagi Suka Merebut Mainan Orang Lain atau Tak Mau Berbagi

Anak yang memiliki prinsip berbagi dalam hidupnya tidak akan merebut mainan orang lain. Karena itu, di rumah penting sekali diajarkan apa itu berbagi dan keuntungannya untuk diri. orangtua juga perlu mempraktikkannya agar mudah diikuti oleh si kecil. 

Tidak sulit melatih sikap ini sebab bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya saat anak punya biskuit, Bunda dapat meminta si kecil membagi sedikit. Mengajari berbagi penting sekali agar anak peka pada kondisi orang sekitarnya. 

4. Berikan Contoh Nyata Tentang Berbagi Maianan yang Bisa Ia Lihat dan Tiru

Anak merupakan peniru ulung sehingga semua yang dilakukan orang terdekat akan diikuti. Karena itu, wajib sekali memberikan contoh positif supaya anak mengikuti tindakan positif juga. Jika terkadang melakukan kesalahan, sampaikan pada anak alasannya. 

Tunjukkan bagaimana cara berbagi, mengakui kesalahan dan minta maaf. Tanpa diperintah, si kecil akan mempraktekkan sendiri dalam hidupnya. Hubungan pertemanan anak pun tidak rusak hanya karena mainannya berbeda dengan orang lain.

5. Tanamkan Sikap Berusaha 

Saat anak menginginkan sesuatu, harus berusaha terlebih dulu. Bukan bekerja mencari uang sebab tubuhnya yang kecil belum sanggup melakukannya. Usaha ringan yang dapat dilakukan adalah meminta izin pada orang tua. Jika ingin menggunakan mainan orang lain maka anak harus mendapat izin dari pemiliknya. Itulah 5 alasan dan hal yang harus dilakukan orangtua menghadapi anak suka merebut mainan. Ingat jangan berkata kasar pada anak, tetapi berikan contoh yang baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak yang Teratur Jadi Salah Satu Calon Orang Sukses, Begilah Cara Orangtua Membentuk Perilaku Teraturnya

Semua orangtua pasti ingin anak yang teratur dan disiplin dalam segala hal. Namun, namanya anak-anak tidak mudah untuk membiasakan hal ini. Sebelum mulai melatih si kecil, orangtua dapat memberi contoh terlebih dulu. Bagaimana sikap teratur yang kita harapkan ada pada dirinya. 

Karena, sosok anak yang teratur berkesempatan jadi salah satu orang sukses. Sebab ia akan terbiasa disiplin dan melakukan segala hal dengan tertata. Termaksud, mewujudkan keinginan dan hal-hal yang ia harapkan dalam hidupnya. 

Jadi Jangan Sampai Melakukan Kesalahan Orangtua Saat Melatih Anak untuk Menjadi Pribadi Teratur 

Agar anak mudah diatur, patuh dan disiplin orangtua perlu mengajarkannya. Meskipun tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Agar proses melatih anak berjalan dengan tepat dan lancar, orangtua harus menghindari beberapa kesalahan berikut. 

1. Langsung Memarahi Anak Ketika Ia Melakukan Sebuah Kesalahan 

Semua anak kecil pasti pernah bertingkah atau melakukan sesuatu yang tidak disukai orangtua. Berlarian di dalam rumah atau membuat lemari berantakan, orangtua jangan langsung berteriak marah kepada anak. 

Kadangkala anak bertingkah menjengkelkan ingin belajar keterampilan baru atau mengeksplor lingkungan. Jika anak dimarahi begitu saja, ke depannya tidak berani belajar hal baru. Selain itu, ada juga karakter anak yang saat orang tuanya marah, maka dia akan semakin bertingkah. 

2. Jadi Orangtua yang Plin-Plan, Tidak Tegas dalam Membuat Aturan Pada Anak

Peraturan dan hal-hal selama melatih si kecil harus konsisten. Jika orangtua plin plan, anak tidak mau lagi mematuhi. Tetaplah untuk mematuhi, peraturan yang sudah disepakati bersama, beri hukuman saat anak melanggarnya, dengan jenis konsekuensi yang ringan-ringan saja. 

Konsistensi penting sekali agar anak mematuhi semua yang disampaikan. Saat orangtua plin plan, anak akan berpikir menjadi teratur dan disiplin itu bukan sesuatu yang harus dimiliki dalam hidup. Karena itu, berikan arahan yang jelas, sederhana dan realistis dengan tingkah laku yang diharapkan orangtua. 

3. Melakukan Tindakan yang Tidak Sesuai dengan Apa yang Dikatakan

Jika orangtua melatih anak buang sampah pada tempatnya, maka harus mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya menyuruh anak melakukan kebaikan, tetapi orangtua masih suka buang sampah sembarangan. 

Anak akan melihat semua perilaku orangtua dan mengikutinya. Jika karena kondisi tertentu terpaksa melanggar, sampaikan dengan baik alasannya kepada si kecil. Supaya anak tidak berpikir, “Bunda saja melanggar, mengapa aku harus patuh.”

4. Jadi Orangtua yang Berpikir dan Berperilaku Negatif 

Berperilakulah dan berpikir positif di depan anak. Jangan langsung marah dan memaki saat menemukan sesuatu tidak sesuai keinginan. Ubah perilaku buruk menjadi baik secara pelan-pelan agar anak mudah mengikutinya. 

Jika orangtua berteriak kasar saat kondisi tak diinginkan, anak pun bisa mengikutinya. Sebagai orangtua pasti tidak ingin hal ini terjadi. Maka, sebelum bertindak pikirkan atau pertimbangkan dulu apa dampaknya bagi si kecil.

5. Membuat Ekspektasi Berlebihan Terhadap Anak, Sehingga Jika Gagal Ia Akan Merasa Disalahkan

Saat melatih anak, jangan tumpukan ekspektasi berlebihan agar tidak kecewa ketika yang terjadi bukan sesuai harapan. Apalagi anak-anak belum bisa mengontrol emosi sepenuhnya. Peran orangtua di sini layaknya seorang guru. 

Fokus memperlihatkan pada anak cara ia bertindak seperti yang orangtua inginkan. Jelaskan padanya yang sebaiknya dilakukan dan alasannya. Sehingga saat tidak bersama orangtua, anak mengingat alasan tersebut dan tidak melakukan sesuatu yang menyimpang. 

Dan Beginilah Cara Orangtua Menjadikan Anak yang Teratur 

Banyak cara yang bisa dilakukan melatih si kecil menjadi anak yang teratur. Hal ini diterapkan sejak kecil agar ketika dewasa bisa langsung menerapkannya tanpa perlu aba-aba dari orangtua. Berikut ada 5 cara yang dapat dipraktikkan. 

1. Buat Jadwal Aktivitas yang Bisa Ia Ikuti Sehari-hari

Ajak si kecil mengatur jadwal kegiatan agar waktu 24 jam bisa dipergunakan dengan baik. Cara ini sangat tidak mudah, sebab tidak semua anak langsung setuju pada ajakan orangtua. Gunakan alat tulis yang diinginkan untuk menarik perhatiannya. 

Pagi hari dimulai dengan bangun pagi, kemudian teruskan kegiatan lain yang harus dilakukan. Buatlah keterangan jam agar si kecil mudah memahami waktu jeda dan memulai aktivitas berikutnya. Tempelkan jadwal di ruang tidur si kecil atau area lain yang mudah dilihat. 

2. Sampaikan Tentang Apa yang Sebaiknya Dilakukan oleh Anak 

Sampaikan apa seharusnya dan sebaiknya dilakukan anak tanpa menjelaskan panjang lebar. Karena, anak akan fokus pada intinya bukan keseluruhan kalimat dalam pembicaran. Latih anak untuk membuat tanda centang pada kegiatan yang sudah diselesaikan.

Hal ini memudahkan si kecil mengetahui kegiatan apa saja yang harus segera dilakukan. Jika kedapatan melanggar jadwal, jangan langsung marah tetapi nasehati dulu. Jika hari berikutnya masih melanggar boleh diberi punishment. 

3. Tapi Jangan Membuat Aturan yang Terlalu Ketat

Hukuman diberikan yang disanggupi anak, jangan terlalu berat. Melatih anak tidak perlu sangat ketat agar ia tidak takut mencoba hal baru. Jika semuanya dilarang, anak berpikir banyak kali sebelum mengeksplorasi lingkungannya. 

Berikan larangan pada sesuatu yang benar-benar penting. Anak tetap diberi kebebasan namun juga ada batasnya supaya proses pengontrolan diri berjalan lancar. Jika anak lelah atau sedang bad mood, biarkan istirahat sebentar. 

4. Hindari untuk Berceramah Terlalu Banyak 

Memberi ceramah panjang lebar pada anak merupakan cara yang dipilih orangtua dalam mendisiplinkan si kecil. Tetapi, kenyataannya langkah ini tidak sepenuhnya efektif. Karena si kecil bosan mendengarkan banyak kalimat dan tuntutan dalam satu waktu. 

Sebaiknya orangtua sampaikan apa yang diinginkan pada diri anak dengan jelas dan singkat. Perilaku mana yang harus dimiliki dan dibuang atau dihilangkan. Jadi, anak lebih mudah mengingatnya dan hal penting tersampaikan dengan baik. 

5. Jadilah Sosok Orangtua yang Selalu Menyediakan Waktu Luang untuk Anak 

orangtua perlu menyediakan waktu luang untuk si kecil. Jangan hanya mengajarkan ini dan itu hingga si kecil muak. Kebersamaan dan interaksi satu sama lain membuat anak merasa hidup. Berikan waktu luang agar si kecil dapat melakukan kegiatan favoritnya. Itulah beberapa cara memudahkan orangtua membentuk pribadi anak yang teratur. Karakter disiplin dan teratur merupakan hal positif yang sangat penting dimiliki dalam hidup sehingga harus diajarkan sejak dini pada anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

5 Tanda Anak yang Pintar Bersosial dan Hal yang Wajib Dilakukan orangtua

Anak yang pintar bersosial membuat orangtua senang melihatnya. Karena kemampuan bergaul menentukan bagaimana posisi anak di masyarakat nantinya. Salah satu cara anak bersosialisasi dengan bermain bersama orangtua, saudara, kerabat dan teman-temannya. Kegiatan ini dapat jadi latihan, sebelum nanti ia akan bersosial dengan orang lain yang belum ia kenal sebelumnya. 

Namun, untuk bisa membentuk anak jadi sosok yang pintar bersosial. Ada hal-hal yang tentu Bunda pahami sebagai orangtua, kira-kira apa saja ya?

Tanda-tana Anak yang Pintar Bersosial yang Bisa Kita Kenali dari Sikapnya Sehari-hari

Penting bagi si kecil memiliki keterampilan sosial agar lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Selain itu, biasanya yang pintar bersosial juga mudah diterima oleh siapapun di lingkungannya. Karenanya, orangtua harus tahu beberapa ciri atau tanda anak pintar bersosialisasi. 

1. Si Kecil Dapat Bekerja Sama dengan Baik dengan Orang di Sekitarnya

Bekerja sama artinya melakukan sesuatu sesuai kesepakatan untuk mendapatkan tujuan bersama. Anak bisa atau tidak bekerja sama bisa dilihat saat bermain dengan yang lain. Jika memang si kecil dapat mudah beradaptasi dengan tim bermainnya berarti dia mudah bergaul. 

Anak yang memiliki sifat keras kepala dan egois sulit masuk ke lingkaran pertemanan. Sebaliknya anak bersikap baik, mau menerima kesalahan diri biasanya teman-teman lain akan menyukainya. Anak tahu mana tugasnya dan mana bagian orang lain.

2. Ia Juga Bisa Menjadi Pendengar yang Baik untuk Orang-orang Terdekat

Jika seorang anak benar-benar ingin memiliki teman maka ia akan menghargai orang lain. Salah satunya menjadi pendengar yang baik dan turut memahami apa yang dirasakan temannya. Lebih bagus lagi jika anak dapat memahami bahasa tubuh ketika temannya berbicara.

Menjadi pendengar yang baik juga dilakukan bersama orangtua di rumah. Namun, jika si kecil belum memiliki karakter ini bisa pelan-pelan diajarkan. Si kecil mudah bergaul biasanya sering dicari oleh teman-teman saat membutuhkan pendapat atau dukungan.

3. Memiliki Empati dan Peduli Sejak Dini Terhadap Lingkungan Sekelilingnya

Anak-anak memang belum sepenuhnya memahami empati ada dalam hidup. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan bertambah umur, rasa kepedulian akan muncul sendiri. Memahami perasaan orang lain mulai dari senang, sedih, bahagia dan lainnya. 

Anak dalam dirinya memiliki belas kasihan dan kasih sayang pada orang disekitarnya. Sikap dan tindakan yang harus ditunjukkan terhadap kondisi tertentu juga dipahami si kecil. Sikap ini mengakibatkan dirinya mudah diterima dalam pergaulan. 

4. Selalu Bersikap Objektif Menghadapi Konflik yang Ia Alami

Jika si kecil menyelesaikan masalah dengan memandang sisi positif tandanya ia pandai bergaul. Konflik pasti pernah muncul dalam hubungan pertemanan, jika anak dapat menyelesaikannya dengan baik melalui teknik mediasi misalnya, artinya si kecil pintar bersosialisasi. 

Memiliki jiwa kepemimpinan membuat diri mudah menyelesaikan masalah yang ada. Selain itu, juga didukung dari keterampilan komunikasi yang baik. Apa yang disampaikannya tidak disalahpahami oleh teman-teman.

5. Ia Juga Mampu Membangun Hubungan Baru dengan Orang-orang di Sekelilingnya

Ciri yang sangat mudah dilihat anak yang pintar bersosial adalah mampu membangun hubungan baru. Tampaknya memang spele, tetapi daalm hal ini sangat dibutuhkan kemampuan interpersonal saat membangun sebuah hubungan. 

Anak selalu dapat memberikan kesan positif dirinya pada orang lain. Jika hal ini terus berlanjut, orang yang awal dijumpai hanya kenalan biasa dalam waktu yang lama bisa menjadi sahabat. Bahkan tetap menjalin komunikasi saat lokasinya sudah berjauhan. 

Lalu, Apa Hal yang harus Dilakukan orangtua Agar Anak Mudah Bergaul?

Anak yang pintar bersosialisasi biasanya memiliki banyak teman. Hidupnya lebih berwarna dibandingkan anak tidak pandai bergaul. Si kecil perlu diajarkan agar bisa bermain dengan anak lain supaya tidak anti sosial, dengan menerapkan langkah berikut ini. 

1. Jangan Pernah Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing termasuk dalam hal bersosialisasi. Jangan bandingkan anak dengan saudara kandung, sepupu atau anak tetangga. Membandingkan tidak hanya membuat si kecil sedih namun juga mengakibatkan tidak percaya diri. 

Apapun yang terjadi harusnya orangtua mendukung dan melihat penyebabnya dari berbagai sisi. Jangan hanya menyalahkan anak, mungkin saja orangtua yang tidak punya banyak waktu mengajarkan anak bersosialisasi. 

2. Ajak Anak Bermain Peran untuk Mengasah Kemampuan Sosialnya

Cara mengasah kemampuan sosial anak selanjutnya dengan pura-pura bermain. Maksudnya di sini, si kecil dapat menjalani peran orang dewasa seperti menjadi dokter, guru ataupun koki. Ketika orangtua ikut terlibat, anak akan berlajar cara berinteraksi dengan orang lain. 

Berikan kesempatan pada anak untuk menangani hubungan antara banyak orang. orangtua dapat membantu memfasilitasi dan menyusun strategi agar ada bagian anak berbagi dengan orang lain. Misalnya memberikan bantuan kepada orang lain, merawat orang dan yang lainnya. 

3. Berikan Dia Teladan dengan Mengajarkan Kebaikan 

Ajarkan kebaikan pada anak sehingga bisa memperlakukan teman dengan baik. Misalnya, saat mendengar anak memanggil temannya dengan sebutan ejekan, segera beritahu bahwa itu perilaku tidak baik. 

Jangan diabaikan karena berpikir lama-kelamaan anak menghilangkan sebutan itu. Selain itu, jika orangtua hanya melihat saja anak akan berpikir bahwa pemanggilan nama ejekan adalah hal yang biasa dan boleh dilakukan. Tentu orangtua tidak ingin hal ini terjadi pada anaknya. 

4. Dan Bantulah Ia untuk Memulai Percakapan 

Ketika pertama kali datang ke taman bermain, anak sering kali malu atau tidak tahu memulai percakapan anak lain yang sebaya dengannya. orangtua bisa membantu anak untuk mengawali percakapan, kemudian biarkan anak berinteraksi sendiri.

Manfaatkan peluang agar si kecil mudah bergaul. Jangan selalu mengekori orangtua kemanapun pergi. Ini juga salah satu cara membangun kepercayaan dirinya di antara teman-temannya. Sehingga kesempatan berikutnya, anak sudah bisa mulai percakapan sendiri.

5. Namun Jangan Terlalu Protektif Mengekang Gerak Langkah si Kecil

Sebagian orangtua merasa khawatir saat anak ditinggal bermain bersama teman-temannya. Maka, tidak jarang ada anak yang dikekang di rumah. Padahal cara ini dapat menghambat kemampuan bersosialisasi si kecil di lingkungannya. 

Bukan tidak boleh khawatir, tetapi jangan berlebihan. Berikan anak rasa percaya diri dan bangun kepercayaan bahwa si kecil mampu melakukan banyak hal tanpa bantuan orangtua. Setidaknya anak dapat meminta bantuan kepada teman sebayanya sehingga terjadi interaksi.Itulah cara efektif untuk membentuk pribadi anak yang pintar bersosial. Penting sekali diterapkan agar ke depannya anak mudah mendapatkan teman. orangtua pasti tidak ingin anaknya memiliki sifat anti sosial.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top