Mom Life

Bertengkar di Depan Anak Tak Akan Bawa Manfaat Apapun, untuk Itu Bunda Perlu Mensiasatinya!

Bun, pasti pernah kan yang namanya menahan kekesalan atau emosi atau bahkan amarah Bunda tersulut karena kesalahan pasangan? Nah, pernahkah Bunda mengalami hal ini saat berada di dekat anak-anak? Bun, ada cara tersendiri saat Bunda sedang bertengkar dengan ayah.

Terutama bila pertengkaran terjadi di depan anak. Bukan apa-apa Bun, bertengkar di depan anak tak memberikan nilai positif padanya. Justru membuatnya berpikir aneh-aneh. Untuk itu, saat Bunda sedang kesal pada ayah, atau sebaliknya, siasati dengan cara-cara ini ya.

Turunkan Kemarahan Bunda Terlebih Dulu

Setiap orang pasti punya tingkat agresi yang akan ditoleransi pasangannya. Saat Bunda dan Ayah sudah mulai masuk ke tanda-tanda ingin bertengkar, ada baiknya Bunda atau Ayah yang segera meredakan amarah tersebut. Apalagi di depan anak. Kalau memang perlu beranjak menjauh dari pasangan dan anak-anak, maka lakukan hal itu untuk sejenak.

Ambil napas, minum air, buka majalah, dan kembalilah bicara ketika Bunda sudah tenang kembali. Bila pertengkaran terjadi saat keluarga ada di dalam mobil, ganti topik pembicaraan dan rencanakan untuk membahasnya kembali nanti. Bunda mungkin merasa anak tidak mendengar pertengkaran. Tapi percayalah, mereka mendengarnya.

Buat Catatan

Kalau memanng sedang marah, cukup pergi saja Bun ke ruangan terpisah. Tuangkan kemarahan Bunda lewat tulisan dan tuliskan atau uraikan satu persatu di atas kertas atau gawai. Setelahnya, Bunda bisa buat komitmen untuk membicarakannya dengan pasangan dalam waktu 24 jam.

Tuliskan point yang ingin Bunda utarakan. Tindakan simpel seperti menulis bisa membantu mengatur pikiran dan memperjelas sebuah masalah. Bunda akan lebih siap berbicara dengan tenang ketika Bunda dan ayah sudah mulai berdiskusi.

Tak Usah Paksa Anak Jadi Wasit ya Bun

Yang anak inginkan adalah orangtua berhenti bertengkar. Anak tidak boleh membagi loyalitas mereka. Ketika Bunda mendengar, “Bunda jangan  marah sama Ayah,” ini jadi tanda kalau Bunda perlu menurunkan emosi.

Jangan Berusaha Jadi “pemenang” ya Bun

Lihat argumen seobjektif mungkin. Argumen adalah masalah yang perlu diselesaikan. Ketika Bunda merespon pendapat tiap orang dengan baik, anak melihat kalau ada lebih dari satu solusi untuk sebuah masalah. Dan berkompromi bukan satu hal yang buruk.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Panduan untuk Memahami Rangkaian Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Setiap anak memiliki tahapan perkembangan masing-masing termasuk dalam berbicara. Gangguan terlambat bicara bisa dialami oleh si kecil karena beberapa faktor. Problem ini pun termasuk keterlambatan perkembangan yang sebenarnya paling umum terjadi. 

Kondisi ini kerap membuat para orang tua khawatir dan membandingkan anak mereka dengan anak lain seusianya. Padahal, perkembangan berbicara tiap anak bisa berbeda-beda. Simak penjelasannya berikut. 

Tahapan Perkembangan Bicara Pada Anak yang Harus Bunda Pahami

Anak yang terlambat bicara bisa jadi sifatnya hanya sementara dan memang karena belum saja. Namun, dalam beberapa kasus gangguan tersebut juga bisa menjadi suatu tanda bahwa ada gangguan pendengaran dalam perkembangan si kecil. Bagaimana tahapan perkembangan bicara anak?

  1. Usia 3 Bulan

Saat usia 3 bulan, kemampuan anak berbicara memang masih sebatas mengeluarkan suara dalam bahasa bayi yang tidak bisa diartikan. Saat usia ini anak-anak juga lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan ekspresi seperti tersenyum atau tertawa saat melihat orang yang mengajaknya berbicara. 

  1. Usia 6 Bulan

Bayi biasanya sudah mulai mengeluarkan kata-kata yang suku katanya lebih jelas terdengar saat memasuki usia 6 bulan. Mereka sudah bisa mengucapkan kata-kata seperti ba-ba, pa-pa, ma-ma, da-da, dan lain sebagainya. Saat akhir usia 6 bulan mereka juga sudah bisa mengekspresikan emosi dengan suara. 

  1. Usia 12 Bulan

Perkembanan bicara pada anak usia 12 bulan biasanya sudah bisa mengucapkan kata seperti “ayah”, “ibu”, atau kata-kata lainnya yang sering si kecil dengar. Anak juga sudah bisa memahami kalimat dan instruksi perintah seperti, “kemari”, “ayo”, “ambil”, “lempar”, dan lainnya. 

  1. Usia 18 Bulan

Anak pada usia 18 bulan pada umumnya sudah bisa mengucapkan 10 – 20 kata dasar mesipun beberapa kata masih belum jelas pengucapannya. Si kecil juga sudah mampu mengenali bena, danam orang, dan beberapa bagian tubuh. Mereka juga sudah mampu mengikuti petunjuk dan gerakan orang. 

  1. Usia 24 Bulan

Saat memasuki usia 24 bulan, si kecil biasanya sudah mampu mengucapkan paling tidak sebanyak 50 kata. Mereka juga sudah mampu mengucapkan dua suku kata secara runut seperti “mau makan”, “buku baru”, dan lain sebagainya. Beberapa pertanyaan sederhana juga sudah bisa dipahami dengan baik. 

  1. Usia 3 – 5 Tahun

Kosakata yang bisa diucapkan si kecil sudah semakin banyak saat berusia 3 – 5 tahun dan bisa dibilang perkembangannya cukup pesat. Mereka bahkan sudah mampu menangkap sekitar 300 perbendaharaan kata baru. Kata-kata yang diucapkan sudah sangat mudah dipahami oleh orang dewasa. 

Tips Mengatasi Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Sebagian orang mungkin masih ada yang beranggapan bahwa anak nantinya akan bisa berbicara sendiri tanpa distimulasi. Namun, peran aktif orang tua dalam memberi dorongan anak agar berbicara dan berkomunikasi dengan baik sangatlah penting. Berikut ini tips mengatasinya:

  1. Cobalah untuk Berbicara Sambil Bergerak Suatu Objek

Saat masih bayi, anak biasanya akan lebih senang dengan suara dan gerakan yang ekspresif dari orang yang mengajaknya berbicara. Bunda bisa melakukan hal-hal seperti menggoyang-goyangkan botol susu saat mengajak si kecil minum atau mengelus boneka untuk mengajarkan menyayangi benda.

Bunda juga bisa mulai mengenalkan anggota tubuh pada si kecil sambil menunjuk dan membuat gerakan ekspresif. Dengan cara seperti ini anak akan terdorong untuk berbicara dan berkomunikasi meskipun kata-katanya masih belum bisa dipahami oleh orang dewasa karena menggunakan bahasa bayi. 

  1. Ulang Semua yang Ia Katakan dengan Mengikuti Semua Ucapan Anak

Ketika si kecil sudah bisa mengucapkan suara-suara tertentu meskipun kosakatanya belum jelas, ikuti saja suara yang ditangkap dengan kata yang lebih jelas. Meskipun Bunda tidak memahami maksud dari suara-suara yang mereka ucapkan, tetap ikuti saja dan ajak si kecil berbicara. 

Anak akan merasa seperti mereka sedang berbicara dengan orang lain dan lambat laun akan membiasakan untuk meniru kata-kata yang Bunda ucapkan. Ajak anak mengobrol sebanyak mungkin dan tetap bersabar dalam mendampingi perkembangan si kecil. 

  1. Perbanyak Waktu Bermain Bersama untuk Melatihnya

Saat mengajak anak bermain bersama, orang tua terkadang perlu berakting layaknya seperti anak kecil. Ajak mereka untuk bermain permainan yang dapat meningkatkan kemampuan verbalnya. Contohnya seperti bermain peran atau berimajinasi pura-pura menelepon. 

Anak akan belajar banyak kosakata baru dan merasa senang karena diajari dengan cara yang menyenangkan. Mereka akan lebih banyak mengeksplor perbendaharaan kata dan jika saat memainkan peran tersebut tidak tahu kata yang harus diucapkan, anak akan belajar inisiatif bertanya. 

  1. Biasakan untuk Melatih Si Kecil Untuk Membuat Narasi

Anak memang belum bisa berbicara layaknya orang dewasa dengan struktur kalimat yang runut, namun Bunda masih bisa mengajarinya dengan membuat percakapan sehari-hari lebih deskriptif. Ajarkan anak untuk membuat kalimat yang urut dan detail. 

Contohnya seperti, “Besok kita pergi ke taman di dekat rumah yang ada pohon mangganya, pakai baju motif bunga-bunga yang ini ya!” Ucapkan kalimat tersebut sambil memperlihatkan baju. Anak juga akan belajar memahami benda atau objek tertentu dengan kata-kata yang Bunda ucapkan. 

  1. Berikan Kaimat Pujian untuk Perkembangan Si Kecil

Anak yang mendapat pujian dan apresiasi biasanya akan lebih semangat lagi, termasuk dalam belajar berbicara. Berikan senyuman, pujian, dan pelukan setiap si kecil berhasil mengeluarkan suara dan kosakata yang baru dengan lancar dan benar. Anak adalah peniru yang ulung dan akan belajar dari reaksi. 

Rangsang perkembangan dengan terus mengajak si kecil untuk berkomunikasi dua arah. Pastikan untuk memberikan respon positif dan jangan mudah memarahi ketika Anda tidak bisa memahami kata-kata-kata yang diucapkan oleh mereka. 

Gangguan terlambat bicara memang menimbulkan kekhawatiran tersendiri apalagi jika teman sebayanya sudah melewati fase itu. Jangan menyerah dan terus berusaha untuk menstimulasi si kecil dengan tips dan cara-cara di atas. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Susah Bersosialisasi? Begini Cara Agar Anak Mudah Bergaul dan Semakin Percaya Diri

Sebagai orangtua, Bunda pasti sering merasa khawatir jika anaknya sangat pendiam atau kurang percaya diri. Alhasil, ia tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Anak-anak yang memiliki sifat terlalu pemalu jangan dibiarkan ya Bun. Dikhawatirkan nanti saat dewasa mereka tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Ketidakmampuan bersosialisasi bisa berpengaruh terhadap kesuksesan masa depan serta perasaan nyaman ketika bersama dengan orang-oran

Ada trik dan cara agar anak mudah bergaul, sehingga bisa menempatkan diri sesuai dengan lingkungannya. Bunda bisa melatih dan memberikan si kecil edukasi mulai dari sekarang. 

Lalu, Bagaimana Cara Agar Anak Mudah Bergaul dan Selalu Percaya Diri?

Salah satu masalah yang sering dihadapi orang tua terkait tumbuh kembang si kecil adalah masalah sosialisasi. Bunda pasti merasa khawatir jika anak ada kesulitan berbaur dengan lingkungan sekitarnya, karena ini menyangkut menyangkut pembentukan rasa percaya diri mereka juga. Jika si kecil menunjukkan tanda-tanda sulit bersosialisasi, cobalah untuk mulai melakukan hal berikut ini. 

1. Ajak Si Kecil untuk Main Bersama Agar Terlatih Berbaur dan Menjalin Komunikasi dengan Orang Lain

Orangtua seringkali melupakan kebutuhan anak paling utama yakni kasih sayang dan waktu luang bersama yang berkualitas. Sekarang ini banyak sekali para orangtua hanya memperhatikan soal kebutuhan material saja tanpa menyediakan quality time bersama setiap harinya. 

Kurangnya komunikasi dengan orang tua juga kana berdampak pada mental dan rasa percaya diri anak. Ia akan tumbuh jadi pribadi yang pendiam dan sulit mengutarakan emosionalnya. Oleh karenanya setiap hari jangan lupa ajak si kecil untuk main bersama, walaupun hanya melakukan permainan sederhana.

2. Biarkan Ia Melepas Emosi dengan Memberinya Ruang untuk Berekspresi

Setiap hari sediakan ruang untuk anak agar ia bebas mengekspresikan emosinya. Hal ini bisa membantu anak agar mudah bergaul dengan seusianya juga. Tidak perlu pakai alat aneh-aneh, cukup dengan ajak dia berolahraga saja di luar rumah sehingga nantinya juga bertemu dengan orang lain. 

Semakin sering ayah atau bunda mengajak anak untuk bersosialisasi dengan banyak orang, maka mental dan rasa percaya dirinya juga semakin bertambah. Si kecil sudah tidak sungkan lagi untuk memulai percakapan dengan orang lain walaupun tidak ada bantuan lagi dari orangtuanya.

3. Karena Rumah adalah Tempatnya Belajar, Ciptakan  Suasana Bahagia di Tengah-Tengah Keluarga 

Agar anak percaya diri memulai percakapan jangan hanya diam atau membuat suasana jadi canggung, cobalah untuk membantunya. Sebisa mungkin ciptakan suasana bahagia di tengah-tengah percakapan tersebut. Dengan begitu anak juga tidak akan  kaku lagi ketika sosialisasi dengan orang lain. 

Suasana terbuka juga penuh kebahagiaan bisa diciptakan di tengah-tengah keluarga juga. Apabila si kecil sudah terbiasa dengan suasana seperti itu maka di luar saat bertemu orang asing ia mudah beradaptasi. Tetap nyaman menyampaikan pendapat juga membangun komunikasi dengan orang lain.

4. Buat Variasi Aktivitas dengan Mengajak si  Kecil Ikut Permainan Berkelompok 

Cara membuat anak agar mudah bergaul dengan lingkungan sekitar adalah jangan batasi jangkauan pertemanannya. Biasanya ini sering terjadi di area kompleks yang bersebelahan dengan gang pedesaan. Orangtua seringkali melarang anaknya untuk ikut bergabung bermain dengan anak-anak sekitar. 

Padahal jika dibiasakan sejak ini anak mengikuti permainan yang berkelompok juga bisa melatih kepercayaan dirinya. Hal ini sangat efektif membentuk mental anak agar tidak mudah merasa insecure ketika akan bertemu orang-orang baru. Peran orangtua memang sangat besar dalam hal satu ini. 

5. Sebagai Orangtua, Kita Juga Perlu untuk Tidak Terlalu Bersikap Protektif 

Namanya orangtua pasti sering melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Ayah atau Bunda pasti sering merasa khawatir jika si kecil pergi izin untuk main sendirian bergabung dengan teman-temannya. Namun sebagai orang tua yang baik pasti sudah tahu standar keamanan dan pergaulan yang baik. 

Jika memang dirasa tidak mengkhawatirkan jangan terlalu dikontrol, bebaskan ia untuk menemukan kesenangan bersama teman-teman sebayanya. Asal masih ingat batasan dan waktu bermain. Proteksi yang berlebihan justru akan membuatnya risih dan melakukannya secara sembunyi-sembunyi. 

6. Jangan Sampai Terlewat, Pastikan Bunda Selau Memperhatikan Setiap Tingkah Lakunya

Tidak mudah memang untuk merawat anak dan memberikan edukasi yang benar. Sebagai orangtua tentunya harus memperhatikan setiap tingkah laku dari anak-anak. Misalnya membantunya ketika sedang berusaha membangun komunikasi dengan orang lain namun merasa malu. 

Ketika si kecil merasa malu memulai topik pembicaraan dengan orang lain, Bunda bisa mencoba untuk memberikan sugesti positif. Katakan kepada mereka bahwa tidak apa-apa nanti Ayah bantu biar nenek dan semuanya ikut ketawa. Secara tidak langsung kita sudah membantu mental anak. 

7. Memberikan Ia Contoh Sikap yang Nyata Secara Konsisten 

Anak bisa melakukan hal tersebut tentunya juga berkat contoh dari orangtua. Saat Ayah atau Bunda bisa membangun komunikasi juga dengan nyaman bersama orang lain, anak juga akan dengan mudah mengikutinya. Beritahu si kecil jika jadi orang mudah bergaul itu menyenangkan. 

Tidak hanya sebatas memberikan contoh sekali saja, kita harus melakukannya dengan konsisten agar membekas di pikiran anak-anak. Berikan pengertian kepada si kecil bahawa lingkungan yang baik juga bisa diciptakan dari dirinya sendiri. Jadi tidak harus mengandalkan orang lain jika bisa menciptakannya. 

8. Memberi Pengertian, Betapa Serunya Memiliki Teman Banyak 

Cara selanjutnya adalah dengan menjelaskan kepada si kecil jika sangat menyenangkan punya banyak teman. Bermain bersama tentu lebih seru daripada harus terus diam di dalam kamar sambil bermain ponsel. Ke depan kebiasaan baik ini bisa membuatnya tumbuh jadi pribadi terbuka. 

Sejauh ini semua usaha diatas bisa saja berhasil asalkan anak memang punya kemauan untuk terbuka. Namun sebaiknya jika memang si kecil tidak mau melakukannya jangan dipaksakan. Butuh proses dan waktu panjang agar si kecil terbiasa dengan kebiasaan baik tersebut. 

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanamkan rasa percaya diri pada anak. Punya teman banyak di usia bermainnya tentu akan sangat menyenangkan. Bisa membuatnya menjadi pribadi terbuka dan mudah menempatkan diri di semua situasi. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Event

Nestlé DANCOW Kembali Hadirkan Dongeng Aku Dan Kau

Mendongeng  memiliki  banyak  manfaat  bagi  Si  Buah  Hati,  diantaranya  dapat  membantu  anak memperkaya  kosa  kata,  meningkatkan  rasa  percaya  diri,  dan  membantu  mempelajari  bahan  bacaan  yang  lebih  sulit[1].  Studi menunjukkan  adanya  korelasi  mendongeng  dengan  pembentukan  nilai  moral  dan  karakter.  Melalui  dongeng  Bunda  dan  Ayah memberikan afirmasi positif nilai-nilai kehidupan, yang membantu memastikan tumbuh kembang anak yang optimal.

Berkomitmen untuk mendukung Bunda dan Ayah guna memastikan tumbuh kembang optimal Si Buah Hati, Nestlé DANCOW hadirkan kembali Dongeng Aku dan Kau dengan tema “Indonesia Mendongeng” yang mengangkat dongeng asli Indonesia yang kaya dengan nilai nilai budaya Indonesia yang penting untuk diperkenalkan kepada Si Buah Hati sejak usia dini.

Lydia Sahertian, selaku Brand Manager DANCOW Nutritods mengatakan, “Sebagai ahli tumbuh kembang Toddler dan Prasekolah, Nestlé DANCOW percaya bahwa stimulasi sejak dini sangatlah penting, dan mendongeng kepada Si Buah Hati memberikan manfaat positif bagi kemampuan kogntif, Bahasa, emosional, dan perilaku sosial Si Buah Hati[2]. Karenanya, kami kembali menghadirkan Dongeng Aku dan Kau dengan dongeng-dongeng asli Indonesia yang sangat disukai anak-anak seperti Kancil dan Kerbau, Pangeran Palasara dan Kluntung WaluhMelalui 15 cerita dongeng asli Indonesia ini, kami mengajak para orang tua untuk lebih aktif lagi membacakan dongeng kepada Si Buah Hari untuk mempererat hubungan emosi, memberikan stimulasi, serta menjadikan dongeng Indonesia sebagai tradisi tak ternilai bagi Bunda/Ayah dan Si Buah Hati.”

Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog Klinis menjelaskan “Mendongeng adalah kegiatan stimulasi tepat dan asik untuk optimalkan seluruh dimensi tumbuh kembang Si Buah Hati. Membacakan dongeng rakyat Indonesia juga akan membantu Si Buah Hati mengenal dan mengapresiasi budaya kita, ia akan belajar tentang nilai-nilai moral serta karakter positif seperti keberanian, kasih sayang, dan kepedulian. Mendongeng jadi momen menyenangkan bersama Bunda Ayah yang akan ia kenang sampai usia dewasanya nanti.”

Kegiatan ini pun mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Dr. Muhammad Hasbi, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikbudristek RI, menuturkan “Kami senang dan menyambut baik Program DANCOW Dongeng Aku dan Kau: Indonesia Mendongeng ini yang sejalan dengan visi-misi Kemendikbudristek, khususnya Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, yang bercita-cita agar setiap anak Indonesia berkesempatan mendengarkan cerita dongeng. Kemendikbudristek pun terus mendorong peningkatan kompetensi mendongeng untuk guru (PAUD) dan orang tua.”

Pendongeng dan pendiri Komunitas Ayo Dongeng Indonesia, Ariyo Zidni menuturkan “Dongeng rakyat Indonesia mengajarkan nilai-nilai kejujuran, kerajinan, gotong royong, berbuat baik dan menolong orang lain, yang dapat membantu Si Buah Hati dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Kisah dongeng Pangeran Palasara misalnya, dapat mengajarkan Si Buah Hati tentang pentingnya berbesar hati dan berbuat baik pada sesama.”

Kemampuan anak untuk berimajinasi dan memecahkan masalah umumnya muncul pada usia 18-24 bulan (Colson et al., 1997). Memasuki masa Toddler dan Prasekolah (3-6 tahun), kemampuan kognitif, bahasa, emosional dan perilaku sosial anak mengalami perkembangan pesat serta menjadi fondasi perkembangan kognitif (Rosales et al., 2009). Agar stimulasi yang diberikan melalui mendongeng dapat diterima anak secara maksimal, orang tua juga perlu memperhatikan kebutuhan nutrisi serta aktivitas Si Buah Hati dan lingkungan penuh cinta dari Bunda dan Ayah. 
“Dengan membeli Nestlé DANCOW 1+/3+/5+ Nutritods ukuran 800 gr atau 1 kg semua varian (bertanda khusus), orang tua bisa mendapatkan buku Dongeng Aku dan Kau secara gratis. Berbagai kegiatan Indonesia mendongeng akan didukung berbagai keseruan secara digital diantaranya mewarnai karakter via website DANCOW, tepatnya www.dancow.co.id/dpc/dongengakudankau”, tutup Lydia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top