Parenting

Beberapa Hal yang Ditakutkan Orang Tua Saat Anak Remaja

Menginjak usia remaja, anak-anak mulai mencari jati dirinya. Tak jarang mereka lebih sering bergaul dengan teman-temannya daripada menghabiskan waktu di rumah bersama orang tua. Ada banyak hal yang ditakutkan orang tua saat anak remaja, terutama terkait masa depannya karena masa ini krusial.

Bunda Perlu Memahami Apa itu Masa Remaja?

Masa remaja merupakan masa yang cukup krusial karena di fase ini anak-anak mengalami perubahan dari anak-anak menuju dewasa sehingga posisinya berada di tengah-tengah. Sudah tidak bisa disebut anak-anak, namun belum layak juga disebut dewasa. Pada fase ini anak-anak sering labil.

Mereka cenderung kesulitan untuk mengambil keputusan. Tak jarang banyak juga yang akhirnya salah dalam mengambil keputusan karena galau dan labil. Mereka masih belum sepenuhnya memahami mana yang benar dan mana yang salah karena masih dalam masa pencarian jati diri.

Pada fase ini Anda jangan kaget jika anak tiba-tiba tidak mudah bercerita dan cenderung lebih senang curhat kepada teman-temannya. Namun, ketakutan orang tua terhadap anak remaja semua akan bisa dengan mudah teratasi jika mereka sudah diberi bekal yang cukup agar tidak salah langkah.

Beberapa Hal yang Ditakutkan Orang Tua Saat Anak Remaja

Mendidik anak remaja memang cenderung tidak mudah karena mereka mulai memiliki pendirian masing-masing. Tak jarang banyak yang akhirnya berani membangkang ketika merasa tidak sependapat dengan orang tua mereka. Berikut ini beberapa hal yang ditakutkan orang tua untuk anak remaja:

Ketakutan, Jika Anak Akan Salah Pergaulan

Saat anak menginjak usia remaja, lingkungan pergaulan mereka akan banyak mempengaruhi bagaimana karakter dan perilaku yang terbentuk. Jika lingkungannya baik, maka karakternya juga akan baik. Begitupun sebaliknya, jika lingkungan buruk, maka karakternya pun akan terpengaruh.

Salah satu ketakutan terbesar orang tua ketika anak memasuki fase remaja adalah takut jika anaknya salah pergaulan. Takut jika anak-anaknya bergaul dengan orang yang salah, nakal, dan bandel. Terlebih lagi jika lingkungan sekitarnya mayoritas terdiri dari orang-orang yang nakal.

Ketakutan, Jika Anak Perempuan Hamil di Luar Nikah Atau Anak Laki-laki Menghamili Anak Perempuan di Luar Nikah

Fase remaja adalah masa di mana anak-anak menginjak baligh dan mereka sudah mengalami perubahan dari segi reproduksi. Bagi anak perempuan mereka akan mengalami menstruasi. Sedangkan anak laki-laki akan mengalami mimpi basah. Perubahan ini juga mempengaruhi emosi.

Pengaruh hormon yang ada di dalam tubuh akhirnya mulai membentuk emosi pada anak remaja yang sering tidak labil. Selain itu, pada fase ini mereka akan mengalami jatuh cinta dengan lawan jenis. Tak heran banyak orang tua yang takut jika anaknya salah langkah hingga hamil di luar nikah.

Ketakutan Akan Bagaimana Masa Depan Anak

Setiap orang tua tentu memiliki harapan agar masa depan anaknya cerah dan terjamin. Sehingga mereka melakukan berbagai cara seperti memberikan fasilitas pendidikan yang terbaik yang mendukung kegiatan belajar mengajarnya. Namun, di fase ini anak sudah mulai menentukan masa depan.

Sebagian dari mereka sudah ada yang menemukan ingin jadi apa di masa depan nanti. Terkadang apa yang mereka inginkan tidak seperti ekspektasi orang tuanya. Sehingga hal tersebut membuat orang tua was-was dan takut anaknya salah mengambil langkah, jurusan, atau cita-cita yang kurang menjamin.

Tips Mendidik Anak Remaja

Cara mendidik anak remaja tentu tidak bisa disamakan dengan anak balita atau yang masih di bawah umur belasan. Pada fase ini mereka sudah mulai memiliki pola pikir dan prinsip sendiri. Sehingga sebagai orang tua harus mampu memahami anaknya yang menginjak remaja dengan baik.

Menghormati Privasi Anak

Sebesar apapun seorang anak tetaplah anak kecil di mata orang tuanya. Sehingga acapkali banyak orang tua yang masih menganggap semua urusan anaknya adalah urusannya juga. Sudah seharusnya sebagai orang tua menyadari bahwa tidak seharusnya mereka mencapuri semua privasi anaknya.

Anda harus mulai paham bahwa anak yang menginjak remaja sudah mulai memiliki privasi sendiri yang harus dihormati dan dijaga sebagaimana orang dewasa. Berikan mereka ruang untuk meletakkan privasinya di kamar maupun telpon genggam tanpa merasa takut akan adanya ancaman orang tua.

Menjadi Teman dan Pendengar yang Baik

Salah satu hal yang paling dibutuhkan saat anak menginjak usia remaja adalah teman atau sahabat. Karena saat memasuki usia ini mulai muncul berbagai gejolak di dalam dirinya lantaran sudah pubertas. Masalah yang sering dihadapi seperti percintaan atau hubungan pertemanan di lingkungna pergaulannya.

Tak jarang anak remaja juga akan membutuhkan orang tuanya sebagai tempat curhat untuk mengutarakan kecemasan, kegelisahan, atau pertanyaan yang muncul di pikirannya. Sehingga sebagai orang tua sebaiknya posisikan diri sebagai pendengar dan tempat curhat yang nyaman.

Menjadi Teladan yang Baik

Jika Anda sebagai orang tua menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya baik dari segi perilaku, ibadah, kesuksesan, dan lainnya, maka berikan teladan atau contoh pada mereka. Berikan contoh konkret seperti bagaimana belajar dengan giat, peduli dan suka menolong orang, serta masih banyak lagi.

Karena saat usia remaja anak akan cenderung menjadi pemberontok dan mulai memiliki pendirian sendiri. Terkadang dikasih tahu pun akan sulit mereka terima. Sehingga cara terbaik adalah dengan memberikannya secra contoh. Tak hanya mengajarkan secera teori namun juga praktek langsung.

Membuat Kesepakatan Aturan Tertentu

Jangan terlalu mengekang ketika anak sudah memasuki usia remaja, karena yang ada mereka akan semakin memberontak dan menjadi tidak nyaman. Lebih baik ajarkan dan nasehati dengan baik melalui kesepakatan aturan-aturan penting bersama. Ini sangat penting untuk disepakati bersama dengan anak.

Terkadang anak-anak remaja lebih senang menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya dibandingkan di rumah bersama orang tua. Demi menjaga keamanan anak, maka berikan pengertian dengan menerapkan aturan seperti jam pulang malam, larangan merokok, dan lainnya.

Beri Tahu Cara Mengelola Stress

Ketika anak sudah memasuki usia remaja, banyak perubahan yang akan mereka alami baik dari segi fisik maupun psikis. Tak jarang hal tersebut membuat mereka mengalami depresi dan stress terlebih lagi jika ada masalah yang terjadi seperti dalam hubungan asmara maupun percintaan.

Oleh karena itu, penting sekali bagi Anda sebagai orang tua untuk membekalinya dengan berbagai cara dan tips mengelola stres dengan baik. Jangan mudah memarahi anak ketika mereka sedang sedih atau melakukan kesalahan. Bicarakan baik-baik heart to heart agar mereka nyaman untuk bercerita.

Beri Motivasi dan Semangat Untuk Meraih Cita-cita

Masa muda adalah masa yang paling berapi-api di mana anak-anak memiliki cita-cita yang tinggi dan keinginan kuat untuk menggapainya. Dorong dan motivasi mereka agar terus berkembang dan mau mengeksplorasi semua kemampuan yang dimilikinya sebagai salah satu cara mendidik anak remaja.

Anda bisa memberikan aktivitas tertentu yang menarik untuk mereka dan sesuai dengan minatnya. Fasilitasi dengan baik agar anak senang dan mau mengembankan bakatnya. Dukung apapun cita-citanya tanpa menghakimi atau memandang rendah apa yang menjadi pilihan sang anak.

Beri Informasi Tentang Bagaimana Cara Bergaul

Usia remaja adalah masa di mana anak-anak sedang senang-senangnya bermain dan mencari teman yang sefrekuensi dengan mereka. Tak jarang ada yang sudah mulai membuat geng seperti yang mereka inginkan. Maka berikan informasi tentang bagaimana cara bergaul agar mereka tidak salah memilih.

Karena sekali salah dalam memilih pergaulan, maka akan berdampak besar pada masa depannya. Belum lagi di usia remaja mereka sedang labil-labilnya dan seringkali mudah terpengaruh oleh lingkungannya karena masih dalam pencarian jati diri. Bimbing dan dampingi dalam memilih teman.

Bekal Kemampuan Dasar untuk Anak Remaja

Sebagaimana anak di usianya saat masih balita, anak remaja juga membutuhkan bekal agar bisa survive dan beradaptasi di lingkungannya yang baru. Oleh karena itu, penting sekali bagi orang tua untuk memberikan kemampuan dasar sebagai bekal mereka dengan menanamkan nilai-nilai tertentu.

Bertanggung Jawab Atas Dirinya Sendiri

Mulai ajarkan anak untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri maupun barang-barang yang mereka miliki. Contohnya seperti bertanggung jawab agar tidak mudah disentuh lawan jenis, keberishan kamar, sepatu, tas, dan barang lainnya. Ajarkan untuk membersihkan sendiri tanpa mengandalkan orang.

Cara mendidik dengan memberikan tanggung jawab ini juga akan mengajarkan anak kemandirian. Sehingga ketika mereka harus hidup sendiri di kost, kontrakan, atau berumah tangga, mereka sudah bisa mengatasi dan menyelesaikan semua tanggung jawabnya sendiri tanpa mengandalkan orang tua.

Menyiapkan Makanan Sendiri

Penting sekali bagi orang tua untuk mulai mengajarkan anak-anaknya memasak dan menyiapkan makanan sendiri khususnya bagi anak perempuan yang kelak akan mengurus rumah tangga. Ajari anak tentang dasar-dasar memasak seperti menumis sayur, memasak nasi, menggoreng telur, dan lainnya.

Dengan memberikan kesempatan seperti ini, maka mereka akan belajar mandiri dan tidak akan mengalami kesulitan saat nanti hidup jauh dari orang tuanya entah karena pendidikan atau pekerjaan. Selain itu, ketika orang tua sedang sakit maka anak tidak perlu panik karena sudah diajari sebelumnya.

Menggunakan Transportasi Umum atau Membawa Kendaraan Pribadi

Anak remaja harus sudah mulai diajari untuk pergi dengan menggunakan transportasi umum sendiri maupun dengan membawa kendaraan pribadi. Sehingga mereka akan paham ketika butuh untuk pergi ke suatu tempat maka tidak bingung lagi saat naik transportasi umum.

Jelaskan bagaimana menggunakan transportasi umum seperti bis, kereta, pesawat, dan lainnya. Anak remaja juga sudah saatnya untuk diajari mengendarai kendaraan pribadi sendiri seperti motor atau mobil. Namun, jika belum memiliki SIM jangan biarkan mengendarai di jalanan.

Mengatur Keuangan Sendiri

Anak remaja sudah seharusnya diajari bagaimana cara mengatur keuangannya sendiri. Terlebih lagi mereka seringkali masih dalam keadaan emosi yang labil sehingga terkadang belum bisa untuk menentukan prioritas dalam mengelola uang dan cenderung boros membeli sesukanya tanpa pikir panjang.

Salah satu cara mendidik anak dalam mengatur keuangan sendiri adalah dengan mengajaknya berbelanja. Anda bisa menjelaskan bagaimana menentukan budget sesuai kebutuhan yang akan dibeli. Jangan lupa untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya menabung sejak dini.

Hal yang ditakutkan orang tua saat anak remaja merupakan sesuatu yang wajar. Namun, tak perlu terlalu paranoid karena asal Anda sudah memberikan bekal dan mendidiknya dengan benar maka ketakutan tersebut tidak akan pernah terjadi. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Memahami Gigi Bayi dan Seluk Beluk Pertumbuhannya

Gigi merupakan bagian tubuh yang sangat penting. Selain berfungsi untuk mengunyah, keberadaan gigi juga bisa menambah estetika wajah. Karena itu, setiap fase perkembangannya—mulai dari gigi bayi sampai dewasa—harus diperhatikan dengan baik, terutama oleh para ibu.

Gigi bayi atau gigi susu bia

 

Please Subscribe

Bantu Kami memberikan artikel berkualitas dengan berlangganan konten premium Kami.

Lebih Detail

Already a subscriber? Log in here.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Panduan MPASI dan Makanan yang Direkomendasikan

MPASI merupakan singkatan dari makanan pendamping ASI yang biasanya diberikan pada bayi di atas 6 bulan. Makanan ini diperlukan sebagai tambahan nutrisi untuk si kecil. Panduan MPASI ini juga sudah direkomendasikan oleh WHO menganjurkan minimal 4 bulan dan jika memungkinkan 6 bulan pertama.

Kapan Anak Mulai Diberi MPASI?

Sebagaimana yang telah dianjurkan oleh WHO bahwa pemberian MPASI disarankan untuk anak berusia 4 sampai 6 bulan asalkan memiliki catatan atau tanda. Syarat pertama yakni berat badan anak tidak cukup bertambah meskipun sudah diberikan ASI.

Sedangkan syarat kedua adalah anak sudah menunjukkan tanda kelaparan meskipun sering diberikan ASI. Dua hal tersebut menjadi tanda bahwa anak sudah siap untuk mendapatkan MPASI. Namun, jika tidak mengalami tanda-tanda di atas maka jangan terlalu memaksakan diri.

Sebisa mungkin hindari memberikan makanan pendamping ASI terlalu dini. Jangan lupa untuk konsultasikan kepada dokter anak apakah sudah diizinkan atau belum. Meskipun makanan pendamping sudah diberikan kepada anak namun ASI tetap harus diberikan hingga si kecil berusia 2 tahun.

Panduan MPASI Menurut WHO

WHO tidak menyarankan pemberian menu tunggal 14 hari termasuk pemberian jenis makanan tertentu. Karena gizi seimbang sudah seharusnya diperkenalkan sejak hari pertama bayi mendapatkan makanan pendamping. 

Berikut ini panduan MPASI yang disarankan oleh WHO:

Anjuran Jenis Makanan

Tujuan utama memberikan makanan pendamping ASI kepada si kecil adalah untuk mencukupkan kadar mikronutrien dan makronutrien pada bayi yang tidak hanya sekedar membuatnya kenyang. Jika hanya memberikan buah atau sayur murni saja, maka kebutuhan gizi mikro dan makro akan kurang tercukupi.

Zat gizi mikro yang dibutuhkan tubuh dan harus terpenuhi dengan baik terdiri dari vitamin A, vitamin B, vitamin C, mineral, zat besi, kalsium, dan lain sebagainya. Pemberian makanan yang harus diutamakan saat MPASI berupa protein, karbohidrat, lemak, serta sayur dan buah untuk memenuhi gizi makro.

Bolehkah Memberikan Makanan Instan?

Karena kesibukan orang tua, terkadang masih banyak yang memberikan MPASI intan kepada sang buah hati. Sebaiknya jangan terlalu mengandalkan menu MPASI instan dan usahakan untuk tetap menyiapkan makanan pendamping sendiri agar Anda paham betul kecukupan gizi untuk dikonsumsi.

MPASI buatan pabrik memang bisa dijadikan sebagai pilihan karena di dalamnya terdapat kandungan zat besi, mikronutrien, dan lainnya. Namun, jangan dibiasakan setiap hari karena gizi yang real dari makanan murni seperti sayur dan buah secara langsung akan lebih baik untuk si kecil.

Jadikan Menu Tunggal Sebagai Snack

Menu tunggal yang dimaksud di sini adalah makanan yang tidak diolah atau dicampur dengan bahan makanan lainnya. Menu tunggal sebaiknya cukup dijadikan snack dan jangan mengandalkannya sebagai menu utama. Menu ini diperlukan untuk mengenalkan jenis makanan secara berkala kepada anak.

Perlu diketahui bahwa alergi makanan pada anak sangat mudah ditebak meskipun sifatnya jarang. Anda bisa memberikan menu tunggal berupa buah-buahan maupun sayur yang bisa dikonsumsi langsung si kecil. Bisa dengann merebusnya atau mengolahnya menjadi bubur agar mudah dikunyah dan ditelan.

Hindari Jus Buah Sebagai Menu MPASI

American Academy of Pdiatrics tidak menyarankan konsumsi jus buah untuk bayi yang masih berusia 0 – 12 tahun. Hal ini dikarenakan jus buah tidak memberikan kontribusi yang bagus untuk pola diet sehat si kecil. Lebih baik biarkan anak untuk mengkonsumsinya secara langsung dengan cara memotongnya.

Jika usianya sudah lebih dari satu tahun, baru Anda bisa memberikan jus buah namun tetap ada standarnya yakni maksimal ukuran 120 ml setiap harinya. Karena jika terlalu berlebihan mengkonsumsi jus buah, maka dapat menyebabkan berat badan si kecil sulit naik.

Jangan Menunda Mengenalkan Makanan yang Picu Resiko Alergi

Ikatan Dokter Anak Indonesia sudah menjelaskan bahwa presentasi alergi makanan pada anak hanya sekitar 6 – 8% saja. Sehingga tidak ada salahnya Anda mengenalkan berbagai jenis makanan pada si kecil. Jika semakin menunda mengenalkan makanan pada bayi, maka resiko alergi semakin tinggi.

Bahan makanan yang biasanya memicu terjadinya alergi seprti ayam, telur, susu, makanan laut, kacang-kacangan, dan lain sebagainya. Sebaiknya berkonsultasi kepada dokter atau ahli gizi terlebih dahulu jika ragu karena dokter biasanya akan memberi saran makanan apa yang cocok dan tidak.

Rekomendasi Menu Makanan Pendamping ASI

Agar anak tidak merasa bosan, maka Anda harus membuat menu yang bervariasi untuk MPASI setiap harinya. Cobalah beberapa jenis makanan yang mengandung nilai gizi tinggi untuk mengetahui apakah anak alergi atau tidak dan menyukai makanan tersebut atau tidak. Berikut ini rekomendasi menu MPASI:

Puree Alpukat dan Pisang

Pisang dan alpukat merupakan jenis buah-buahan yang sangat cocok untuk MPASI karena selain teksturnya lembut sehingga mudah dikunyah, kandungan gizinya juga cukup tinggi. Cara membuatnya pun sangat mudah, Anda tinggal menyiapkan pisang, alpukat, dan ASI atau susu formula.

Pertama cucui bersih buah alpukat dan pisang lalu kupas kulitnya. Ambil bagian dalam alpukat dan pisang kemudian blender masing-masing. Aduk kedua buah tersebut dan campur dengan ASI atau susu formula hingga merata. Pisang dan alpukat sangat bagus karena kaya vitamin dan mengandung antioksidan.

Puree Kentang, Brokoli, dan Kaldu Ikan

Brokoli dan kentang mengandung nutrisi berupa vitamin, protein, dan karbohidrat yang sangat bermanfaat untuk tubuh. Bahan-bahan yang diperlukan juga mudah ditemukan. Cukup siapkan kentang, brokoli, dan ati ayam. Sebelum mengolahnya cuci bersih bahan-bahan tersebut terlebih dahulu.

Setelah itu, potong kentang dan brokoli menjadi beberapa bagian lalu kukus selama kurang lebih 10 menit. Rebus ati ayam hingga matang lalu blender semua bahan tersebut hingga halus agar anak bisa lebih mudah mengunyahnya. Ketika sudah memiliki gigi coba latih mereka mengkonsumsi tanpa harus dihaluskan.

Puree Ayam, Beras Merah, Buncis, dan Tahu

Kandungan gizi yang terdapat pada beras merah, ayam, tahu, dan buncis sangat bagus untuk menjaga keseimbangan nutrisi pada tubuh bayi. Anda cukup menyiapkan 2 genggam beras merah, 1 buah tahu sutra, 25 gram ayam cincang, 5 buncis, dan geprek bawang putih.

Langkah pertama membuat menu ini adalah dengan merendam beras merah selama setengah hari dan masak beras tersebut menjadi bubur. Kukus ayam dengan rebusan kaldu bawang putih selama kurang lebih 30 menit. Saring tahu, lumat, blender buncis, dan campur semua bahan tersebut menjadi satu.

Puree Oat dan Salmon

Makanan yang mengandung omega 3 tinggi sangat bagus untuk perkembangan otak anak. Salah satu jenis makanan yang memiliki kandungan ini adalah salmon. Sementara itu, oat juga mengandung gizi yang sangat bagus berupa vitamin dan serat yang dibutuhkan oleh tubuh.

Siapkan bahan-bahan berupa oat, salmon, bawang putih yang digeprek, seledri, dan perasan air jeruk nipis. Lumuri ikan salom selama 10 menit dengan air jeruk nipi salu kukus bersama seledri dan bawang putih. Masak oat hingga matang lalu campur semua bahan dan blender hingga lunak.

Puree Daging, Kentang, Tomat, dan Wortel

Daging, kentang, wortel, dan tomat sangat bagus untuk dikonsumsi sebagai makanan pendamping ASI karena kaya akan vitamin yang tinggi. Siapkan semua bahan-bahan tersebut di atas termasuk bawang putih, daun bawang, dan bawang bombai secukupnya sebagai bumbu.

Setelah semua bahan siap, rebus bawang-bawangan yang sudah digeprek sebelum memasukkan daging sapi cincang. Tunggu hingga 30 menit dan sambil menunggu potong kentang dan wortel untuk dikukus selama 20 menit. Blender semua bahan hingga halus dan saring agar terpisah puree dan airnya.

Bubur Ikan Dori

Bubur ikan dori bisa menjadi salah satu menu pilihan yang bakal menjadi favorit anak. Karena selain cita rasanya gurih, tekstur ikan ini juga lembut sehingga mudah dikunyah dan ditelan oleh anak. Cukup siapkan ikan dori, beras putih, bawang bombai, seledri, jahe, dan air secukupnya.

Masak beras putih terlebih dahulu sampai matang dan aduk hingga nasi setengah lembek. Setelah itu, masukkan ikan dori, dan bahan-bahan lainnya. Jahe di sini memiliki fungsi untuk menghilangkan bau amis pada ikan. Aduk semuanya dan campur rata. Biarkan dingin lalu saring dan sajikan.

Puree Wortel dan Nasi Kentang

Kentang mengandung karbohidrat yang bagus buat tubuh. Sementara itu, wortel memiliki kandungan vitamin A yang sangat bagus untuk kesehatan mata anak. Siapkan nasi putih, seledri, kentang, wortel, dan susu formula atau ASI secukupnya. Cuci semua bahan terlebih dahulu hingga bersih.

Masak nasi putih untuk dijadikan bubur dan tambahkan seledri. Kukus kentang dan wortel sampai empuk. Lalu saring bahan-bahan yang telah dimasak tersebut setelah matang. Campurkan semua bahan yang sudah disaring dengan ASI atau susu formula dan aduk hingga rata.

Puree Bayam dan Jagung Manis

Bayam merupakan jenis sayuran yang kaya akan serat sehingga sangat bagus untuk meningkatkan metabolisme tubuh. Jagung dan bayam menjadi olahan yang sangat ideal dan bisa menjadi favorit sang anak. Anda bisa memberikan menu ini untuk disajikan bersamaan dengan bubur nasi.

Siapkan jagung manis, daun bayam, dan air matang. Sebelum diolah, pastikan semua bahan-bahan tersebut sudah dicuci bersih lalu rebus jagung manis hingga empuk. Setelah empuk serut dan masukkan bayam ke air mendidih. Campur semua bahan dan blender hingga halus.

Apple Stew dengan Cinnamon

Apple stew dengan cinnamon bisa menjadi salah satu menu MPASI andalan Anda. Cinnamon dan apel menjadi kombinasi menu yang sangat menarik karena selain kandungan gizinya tinggi, aromanya juga menggugah selera. Cukup siapkan apel, air, dan bubuk kayu manis secukupnya.

Setelah semua bahan sudah bersih, kupas dan potong apel berbentuk dadu. Kukus irisan apel tersebut dan haluskan menggunakan food processor atau blender. Saring apel menggunakan alat penyaring dan tambahkan bubuk kayu manis secukupnya. Aduk hingga rata dan menu apple stew siap disajikan.

Memperhatikan panduan MPASI sangatlah penting bagi orang tua yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tujuannya agar kandungan gizi yang dibutuhkan oleh anak benar-benar tercukupi dengan baik. Anda bisa mencoba berbagai menu di atas sebagai referensi. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Apa Sajakah Tantangan Mendidik Anak 1 – 3 Tahun itu?

Setiap fase pertumbuhan anak mengalami tantangan tersendiri mulai dari ketika si kecil lahir ke dunia hingga tumbuh dewasa, menikah, dan bisa mandiri sendiri. Bagaimana tantangan mendidik anak 1 – 3 tahun? Fase ini termasuk dalam golden age yang sangat penting untuk diperhatikan perkembangannya.

Beberapa Tantangan Mendidik Anak 1 – 3 Tahun itu

Menghadapi anak umur 1 – 3 tahun cenderung tidak mudah karena kita harus senantiasa mendampingi mereka sampai bisa mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Tingkah anak-anak di usia ini seringkali sangat menguji kesabaran. Selain itu, masih banyak lagi tantangan lainnya, di antaranya:

Tantrum

Tantrum menjadi hal pertama yang bakal sering dialami oleh anak usia batita 1 – 3 tahun. Mereka biasanya sudah memiliki keinginan sendiri dan sudah bisa merasakan emosi meskipun terkadang masih sulit untuk dikontrol. Emosi yang keluar pun terkadang bisa berlebihan hingga tantrum.

Sehingga Anda jangan kaget jika tiba-tiba sang anak menangis meledak-ledak sampai berteriak dan guling-guling hanya karena apa yang diinginkan tidak terpenuhi. Namun, jangan menyerah saat anak tantrum. Sebagai ibu harus tegas dan berusaha mengalihkan perhatian sang anak lalu peluk dengan tulus.

Menyapih

Menyapih menjadi tantangan selanjutnya yang bakal dihadapi orang tua ketika anaknya berusia 1 – 3 tahun. Terlebih lagi bagi yang full ASI hingga 2 tahun sesuai anjuran karena sudah bisa dikatakan cukup umur. Banyak hal yang harus disiapkan dalam fase ini mulai dari mental dan kesiapan diri.

Menyapih tidak seharusnya menjadi beban bagi si kecil sehingga mereka harus diberi pengertian dengan baik. Bangun bonding dan ajak diskusi sang anak agar nantinya mereka lebih ikhlas saat melepas masa-masa menyusui. Fase ini tidak hanya berat bagi anak namun juga sang ibu.

GTM (Gerakan Tutup Mulut)

Gerakan Tutup Mulut atau yang biasa dikenal dengan istilah GTM kebanyakan dialami oleh anak usia batita sekitar 1 – 3 tahun. Hal ini dikarenakan pada fase ini anak-anak sedang ingin mengeksplor berbagai macam rasa, mulai memperhatikan tampilan makanan, dan ingin meniru orang lain.

Mereka ingin mencoba makan sendiri tanpa disuapi oleh orang tua. Terkadang mereka juga merasa bosan dengan rutinitas yang dilakukannya hingga akhirnya berujung GTM. Fase ini seringkali membuat sang ibu stress karena biasanya mereka rewel dan susah makan. Tentu berat jika anak sampai tidak makan.

Toilet Training

Pada fase ini anak sudah harus mulai diajarkan untuk menggunakan toilet sendiri bahkan sejak usia 1 tahun. Tidak ada salahnya untuk mengajarkan toilet training sedari dini meskipun sebenarnya hal seperti ini lebih maksimal jika diajarkan saat mereka sudah bisa berbicara dengan lebih jelas.

Tanda anak sudah siap diajari toilet training adalah ketika mereka sudah bisa memberikan kode kepada orang tuanya atau sedikit berbicara. Meskipun terkadang banyak kegagalan karena di awal-awal mereka pasti akan banyak poop atau pipis di luar toilet. Sehingga Anda harus banyak bersabar.

Anak Belajar Berjalan

Pada usia 1 tahun anak sudah mulai bisa berjalan sehingga mereka akan sangat aktif dan harus selalu dalam pengawasan agar tidak berjalan terlalu jauh. Mereka sedang senang-senangnya mengeksplor dunianya dengan cara yang berbeda sehingga Anda harus lebih waspada lagi.

Pada fase usia 1 – 3 tahun gerakan mereka biasanya lebih lincah sehingga terkadang cukup mengkhawatirkan terkait keselamatan si kecil. Anda harus mewaspadai tempat-tempat yang cukup membahayakan seperti laci, sudut meja, cipratan air lantai, hingga benda tajam dan berbahaya.

Sering Bertanya Hal yang Sama Berkali-kali

Anda akan dihadapkan pada si kecil yang mulai aktif bertanya banyak hal. Namun, seringkali mereka akan menanyakan hal yang sama berkali-kali meskipun pertanyaan tersebut sudah dijawab sebelumnya. Setelah melewati momen si kecil mengucap kata pertama kali, maka setelahnya lebih menantang.

Ketika mereka sudah mulai lancar berbicara, maka otak akan terus mendorong untuk mengungkapkan semua yang ada di pikiran sang anak. Rasa ingin tahu mereka biasanya sangat besar sehingga Anda harus banyak-banyak bersabar jika terkadang anak menanyakan hal sepele dan pertanyaan sama.

Anak Suka Menjatuhkan, Melempar, dan Merusak Barang

Ketika anak sudah bisa mulai berjalan dan berbicara, mereka sedang senang-senangnya mengeksplor banyak benda-benda baru. Terkadang mereka juga cenderung melakukan tindakan yang hanya ingin menarik perhatian orang tua atau orang lain di sekitarnya seperti menjatuhkan atau melempar barang.

Mereka biasanya melakukan hal tersebut secara sengaja demi bisa mendapatkan perhatian. Jika Anda terus merespon dengan marah, teriak, atau kecewa, malah justru mereka semakin penasaran dan akan melakukan lagi. Selain itu, mereka melakukan itu bisa jadi karena masih belum mampu mengontrol tenaga.

Cara Mendidik Anak 1 – 3 Tahun itu

Setiap orang tua tentu ingin agar anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan baik. Maka masa-masa saat mereka masih golden age adalah salah satu masa paling penting untuk untuk memperhatikan tumbuh kembangnya. 

Berikut ini cara mendidik anak usia 1 – 3 tahun, yaitu:

Beri Apresiasi dan Pujian

Usia 1 – 3 tahun merupakan fase di mana anak sedang aktif-aktifnya mengeksplor banyak hal sehingga mereka tak akan ragu untuk mencoba sesuatu hal yang baru. Saat mereka berhasil melakukan sesuatu atau mengikuti instruksi Anda dengan baik, maka beri mereka pujian atau apresiasi sebagai reward.

Anak yang mendapatkan apresiasi biasanya akan lebih termotivasi dan bersemangat untuk belajar dan melakukan hal-hal menarik lainnya. Namun, jangan terlalu berlebihan dalam memberi pujian karena khawatir anak akan tumbuh menjadi sombong dan terlalu berbangga akan dirinya sendiri.

Konsisten

Anak akan merasa lebih aman dan nyaman ketika pola asuh yang Anda terapkan dilakukan secara rutin dan konsisten. Mereka akan paham apa yang diingkan oleh orang tua sehingga bisa nurut dan lebih tenang saat diberi instruksi atau perintah. Dengan rutinitas yang konsisten mereka akan terbiasa.

Contoh didikan kepada si kecil seperti melarang anak untuk tidak menghabiskan makanannya. Lakukan berulang sehingga anak-anak akan terbiasa untuk selalu menghabiskan makanan setiap hari. Karena jika tidak konsisten maka mereka akan cenderung bingung. Anda juga harus memberi contoh dalam hal ini.

Mengenali Pemicu Emosi Sang Anak

Sebagai orang tua, Anda harus mengetahui kapan dan apa penyebab sang anak merasa marah dan kesal atau sesuatu. Jika ingin menegur atau menasehati, maka usahakan untuk tidak dilakukan pada saat-saat tersebut karena hal tersebut akan membuat anak-anak semakin merasa tidak nyaman.

Berikan waktu sebentar dan biarkan mereka lebih tenang sampai bisa menjelaskan alasan apa yang menyebabkan anak-anak menjadi marah. Setelah mereka sudah merasa tenang dan nyaman, barulah Anda bisa memberi nasehat, perintah, atau mengajarkan sesuatu kepada anak-anak.

Tumbuhkan Kebiasaan Untuk Mendengarkan

Anak yang baik perlu diajarkan dan dibiasakan untuk mendengarkan. Cara membangun kebiasaan untuk mendengarkan ini bisa dimulai dengan memberikan contoh bahwa orang tua juga selalu mendengarkan apapun yang dikatakan oleh anak-anaknya. Jangan menjadi egois dengan hanya ingin didengar.

Meskipun orang tua adalah sosok yang memberi perintah dan instruksi dalam mengajarkan sesuatu, Anda juga harus menjadi pendengar yang baik bagi sang anak. Karena bisa jadi ketika mereka lelah bermain, maka yang dibutuhkan hanyalah tempat yang nyaman untuk berbagi cerita.

Berikan Contoh yang Baik

Anak adalah peniru yang ulung dan mereka akan dengan mudah memperhatikan apa yang ada di sekitarnya dan mengikutinya. Maka dari itu sebagai orang tua Anda harus memberikan dan menunjukkan contoh yang baik kepada mereka agar apa yang diikuti adalah hal-hal yang baik saja.

Beri contoh bagaimana bertutur kata yang baik, sopan, dan lemah lembut di depan anak. Jika sedang merasa emosi dan ingin marah, maka sebisa mungkin jangan di depan anak dan lakukan di belakang mereka agar anak-anak tidak sampai melihatnya. Karena peran orang tua adalah sebagai teladan.

Buat Jadwal Kegiatan Untuk Anak

Melatih kedisiplinan sangat penting untuk dilakukan sejak dini sehingga anak-anak akan terlatih dan terbiasa ketika mereka dewasa kelak. Anda bisa mengajarkan anak disiplin dengan cara membuatkan jadwal kegiatan belajar sehingga mereka bisa belajar mengatur waktu dengan baik.

Saat membuat jadwal kegiatan untuk anak, ajak mereka diskusi sehingga si kecil tidak terlalu bergantung dan terkekang dengan apa yang menjadi keinginan orang tuanya. Dengan membuat jadwal, maka anak-anak akan lebih terarah dalam menjalani kegiatan sehari-hari dari pagi hingga malam.

Hindari Menggunakan Kekerasan

Child abush atau kekerasan pada anak sangat tidak disarankan karena hal ini hanya akan menyisakan luka yang akan terus berbekas hingga mereka dewasa kelak. Sebandel apapun mereka, maka jangan jadikan kekerasan dan kemarahan sebagai solusi untuk memberikan hukuman kepada anak.

Karena selain bisa meninggalkan bekas luka yang menyakiti hati, anak-anak juga bisa berpotensi mengikuti tindakan kekerasan tersebut ketika mereka dewasa. Karena bagaimanapun juga anak-anak adalah seorang peniru dan yang akan mereka tiru adalah orang terdekat termasuk orang tua.

Luangkan Waktu Untuk Mengobrol dan Berdiskusi

Anak-anak akan mudah mengingat apa yang diajarkan dan dibiasakan padanya ketika usia 1 – 3 tahun. Sehingga penting sekali untuk mendampingi mereka setiap hari demi bisa melihat tumbuh kembangnya. Luangkan waktu untuk mengajak mereka ngobrol dan berdiskusi tentang sesuatu.

Ajak mereka berdiskusi saat sedang bersantai dan biarkan mereka mengungkapkan perasaannya atau menceritakan kegiatan apa saja yang sudah dilakukan pada hari itu. Di saat mengobrol inilah Anda bisa mengajarkan sesuatu kepada mereka termasuk memberi nasehat atau instruksi.

Saat anak memasuki usia 1- 3 tahun, maka Anda harus lebih banyak mendengarkan dan mendampingi. Tetaplah bersabar ketika mereka bertingkah yang terkadang memicu emosi. Terlebih lagi ketika sudah capek dengan semua urusan pekerjaan di kantor maupun di rumah. Jangan lupa untuk cari waktu me time.

Tantangan mendidik anak 1 – 3 tahun memang tidak mudah dan terkadang sangat menguji kesabaran orang tua. Namun, masa-masa golden age ini adalah masa yang penting sehingga jangan sampai menyesal karena tidak bisa mengajarkan hal yang baik dan mendampingi sang anak dengan utuh. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top