Dapatkan Artikel menarik dan mendalam langsung lewat SAYANGIANAK EXTRA di emailmu...

* indicates required
Kesehatan

Bagaimana Imunisasi Anak di Tengah Pandemi Covid-19?

imunisasicovid

Imunisasi wajib diberikan kepada bayi dan anak-anak untuk memberikan imunitas atau kekebalan terhadap penyakit tertentu. Ada beberapa imunisasi yang wajib diberikan kepada bayi dan anak sesuai dengan jadwal dan usianya. Namun, wabah covid-19 membuat  orang tua ragu untuk membawa anak ke klinik  atau  rumah sakit untuk imunisasi karena khawatir tertular.

Apakah imunisasi di tengah pandemi harus ditunda atau tetap dilakukan? Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan untuk tetap melakukan imunisasi sesuai dengan jadwal.

Penundaan maksimal hanya 2 minggu, jika melewatkan jadwal imunisasi dikhawatirkan anak akan rentan terkena penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksin.

Lalu bagaimana agar tetap aman membawa anak imunisasi di tengah wabah covid-19? Berikut beberapa tips untuk ayah dan bunda yang ingin membawa si kecil imunisasi:

Pilih rumah sakit atau klinik yang memisahkan pelayanan imunisasi

Sebelum membawa anak imunisasi, sebaiknya lakukan survei terlebih dahulu terhadap rumah sakit atau klinik yang akan dituju. Sebaiknya ayah dan bunda memilih rumah sakit yang memisahkan pelayanan imunisasi dengan pelayanan lainnya. Sekarang juga sudah banyak klinik khusus untuk vaksinasi sehingga mengurangi paparan dengan orang sakit atau pasien lain.

Buat janji atau daftar terlebih dahulu secara online atau melalui telepon

Agar tidak terlalu lama berada di rumah sakit atau klinik, sebaiknya lakukan perjanjian atau mendaftar dulu. Dengan membuat janji terlebih dahulu,  ayah dan bunda bisa datang sesuai dengan jadwal dan tidak perlu lama mengantri di tengah keramaian. Dengan begitu waktu kunjungan ke rumah sakit akan lebih efektif.

Tetap lakukan protokol pencegahan ketika membawa anak imunisasi

Ketika keluar rumah selalu terapkan protokol pencegahan penularan, tidak hanya orang tua tapi juga si kecil. Selalu pakai masker, menjaga jarak dengan orang lain minimal 1-2 meter, dan selalu bawa hand sanitizer untuk jaga-jaga jika tidak menemukan tempat cuci tangan. Hindari memegang daerah wajah menggunakan tangan.

Jika anak sudah bisa berjalan dan berlarian, maka jaga si kecil agar tetap tenang dan tidak berlarian di rumah sakit atau klinik. Setelah selesai imunisasi usahakan untuk segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah segera cuci tangan dengan sabun atau mandi dan ganti pakaian ayah, bunda, serta  si kecil ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Kenali Tanda Saat Si Kecil Kurang Tidur, Jangan Sampai Kesehatannya Terganggu ya Bun!

kids sleepy

Memastikan si kecil punya waktu tidur yang cukup dan berkualitas itu perlu. Karena si kecil berhak memiliki jam tidur yang cukup, sebab kalau jam tidurnya kurang, hal itu bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan bahkan perubahan emosi di keesokan harinya.

Bunda perlu tahu,  perubahan emosi yang tidak stabil merupakan bagian dari efek jangka pendek yang bisa dialami. Sementara, untuk efek jangka panjangnya, kurang tidur pada anak dapat mempengaruhi berat badannya. Iya Bun, anak yang kurang tidur memiliki risiko lebih besar untuk mengalami obesitas.

Bunda tentu tak ingin kan hal semacam ini terjadi? Nah, demi meminimalisir dampak buruk dari kurang tidur pada anak berikut beberapa tanda anak kurang tidur.

Si Kecil Suka Tidur Saat Berada di Mobil

Jika si Kecil sudah mulai sekolah, perhatikan kebiasaan yang dilakukannya saat perjalanan ke sekolah. Kalau selama perjalanan, ia terlihat sering mengantuk bahkan tertidur, Bunda boleh curiga bisa saja waktu tidur si kecil memang tak tercukupi dengan baik. Perhatikan juga kebiasaan-kebiasaan pada jam lainnya. Apabila anak  kerap tertidur di kursi makan ataupun saat menonton TV pada jam luar tidur siang bisa jadi anak memang kurang tidur.

Tiba-tiba Si Kecil Begitu Sulit untuk Dibangunkan

Sebenarnya untuk situasi yang satu ini, kondisinya sama dengan orang dewasa. Biasanya jam biologis anak akan terbentuk dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Saat anak sudah terbiasa dibangunkan atau bangun pagi pada jam tertentu kemudian sulit untuk dibangunkan dalam waktu beberapa hari berturut-turut.

Bisa jadi anak mengalami sulit tidur di malam harinya. Jadi apabila anak sulit untuk dibangunkan, cek kembali kamarnya apakah anak tidur dengan nyenyak atau tidak saat malam

Ia Jadi Sosok yang Mudah Marah dan Rewel

Anak yang kurang tidur cenderung akan rewel, lebih agresif, dan mudah emosional dibandingkan dengan anak yang tidurnya tercukupi dengan baik. Ini karena rasa kantuk dan lelah yang dirasakan anak menyebabkan emosinya menjadi tidak stabil sehingga anak menjadi mudah rewel.

Nilainya Pun Cenderung Menurun di Beberapa Mata Pelajaran

Nilai yang menurun pun bisa jadi tanda kalau buah hati Bunda punya jam tidur yang kurang. Jika si kecil kurang tidur, kesulitan untuk berkonsentrasi akibat rasa kantuk yang mendera membuat pelajaran yang dipelajari di sekolah tidak terserap dengan maksimal.

Rasa lelah akibat kurangnya istirahat terbilang mampu mempengaruhi daya konsetrasi anak. Jadi, kalau nilai si kecil mengalami penurunan, coba cek kembali waktu tidur si Kecil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Sponsored Content

Kamu yang Menentang Vaksinasi MR, Beranikah Kamu Berbicara Kepada Ibu Yang Anaknya Sakit?

Meski vaksin MR ini sebetulnya sudah tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang memutuskan bahwa Vaksin MR produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan untuk imunisasi. Entah kenapa masih ada saja orang tua yang menolak untuk memvaksin MR anaknya.

Padahal saat ini momen yang tepat mengikutkan anak untuk vaksin MR. Mengingat pemerintah sedang mengadakan program vaksin MR secara serentak di beberapa daerah mulai 1 Agustus 2018 sampai September 2018 dengan menyasar 31 juta anak di 28 provinsi di luar Jawa.

Namun ya itu, perdebatan masih saja terjadi, khususnya di ranah maya. Ada saja orang-orang yang menentang penggunaan vaksin ini dengan beragam alasan. Menyebalkannya lagi, aksi penolakan ini juga dengan sengaja ingin ditularkan kepada orang lain yang sebetulnya ingin vaksin.

Nah, teruntuk Bunda yang sering menentang pemberian vaksin MR ini, benarkah Bunda sudah tahu risikonya? Bunda sudah pernah bertemu dan berbicara dengan orang tua yang anaknya terkena penyakit rubella? Beranikah Bunda menyampaikan aargumentasi menentang vaksin MR kepada mereka-mereka ini?

Kenalkan Ini Grace Melia Ibunda Ubii yang Terkena Rubella

Grace Melia boleh dibilang salah satu yang paling depan ketika berbicara soal vaksin MR ini. Karena anaknya yang bernama Ubii menjadi salah satu korban keganasan penyakit ini. Rubella ini bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Saat ini Bunda mungkin tak bisa membayangkan bagaimana sebetulnya penyakit tersebut memberikan dampak. Grace pernah merangkum perjuangan si kecil Ubii. Nah untuk Bunda yang begitu keras bicara soal menentang vaksin MR, coba lihat video di atas. Bunda yakin masih bisa bicara sekeras itu kepada Grace atau Ubii?

Kalau Perjuangan Ubii Tak Cukup Menggugah, Simak Berapa Biaya Yang Harus Dikeluarkan

Vaksin MR itu gratis disediakan oleh pemerintah. Tak perlu keluar biaya sedikit pun. Sudah begitu, masih saja ada yang menentang tanpa tahu resiko yang dihadapi beserta biaya yang harus ditanggung akibat penyakit Rubella ini.

Grace Melia berbaik hati membuka rincian perhitungan yang dia keluarkan untuk merawat Ubii anak tersayangnya. Grace membagi tiga kategori besar untuk pembiayaan ini.

Pertama adalah untuk biaya cek kesehatan meliputi USG jantung, USG otak, Tes BERA, TORCH dan sejumlah detail lainnya. Totalnya, lebih dari 15 juta harus dikeluarkan untuk ini.

Lalu kedua, adalah untuk biaya alat bantu meliputi backslab, standing frame, sepatu AFO, alat bantu dengar. Totalnya, hampir 28 juta harus dikeluarkan untuk hal tersebut.

biaya

Tak berhenti sampai disitu setiap bulannya juga harus mengeluarkan biaya untuk neurolog anak, obat-obatan, FT (fisioterapi), dan taping. Sekurangnya 1,5 juta rupiah harus dikeluarkan.

Angka itu besar? Tunggu dulu itu rincian angka di tahun 2012 loh. Bayangkan berkali lipatnya biaya itu saat ini. Kamu yakin siap untuk menanggung biaya ini?

Rubella Dibilang Bisa Disembuhkan Menggunakan Obat Alami Dan Herbal, Faktanya?

Mungkin Bunda yang anti vaksin itu bukan berarti gagah berani dan merasa tak mungkin anaknya terkena penyakit rubella dan campak. Tapi mereka berani tidak ikut vaksin karena merasa bahwa anaknya tidak akan terkena penyakit itu selama kesehatannya dijaga. Dan kalaupun terkena bisa disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan herbal macam madu atau jintan hitam

 

madu

Padahal faktanya penyakit Rubella itu disebabkan oleh virus yang bisa menular jika korban dalam kondisi seperti apa pun. Dan fatalnya mereka yang sudah terkena penyakit ini tidak ada obatnya. Pernyataan ini bukan asal comot karena dokter dan mereka yang fokus dibidang medislah yang menyatakan ini.

Bahkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek juga menegaskan hal ini bahwa penyakit campak (measels) dan rubella bila sudah terkena anak-anak akan mematikan. Menggunakan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menghindari kedua penyakit tersebut. Kalau sekelas Menteri kesehatan saja sudah menyatakan seperti ini lantas kenapa kita yang tak punya pendidikan kesehatan masih berani mengambil kesimpulan sendiri?

“Saya mengingatkan kalau terkena penyakit ini tidak ada pengobatannya. Kita hanya mencoba meningkatkan supaya gejala berkurang,” ujar Nila.

Tak Bisa Egois Soal Vaksin MR, Karena Mereka Yang Tak Divaksin Bisa Menularkan

Seringnya mereka yang menolak vaksin beralasan bahwa ikut tidaknya vaksinasi adalah urusan ranah pribadi. Masalahnya untuk urusan penyakit macam campak dan rubella ini, pencegahannya hanya bisa dilakukan secara bersamaan.

bersama menkes

Ambil contoh misalnya jika anakku sudah divaksin, maka dia tidak akan terkena penyakit tersebut. Tapi masalahnya jika orang-orang sekelilingnya tidak divaksin, jika nanti anakku mendewasa dan memiliki keturunan bisa jadi tertular di dalam kandungan oleh orang lain yang tidak divaksin itu.

Jadi kecuali kamu bisa gagah berani bicara dengan orang tua yang merawat anaknya yang terkena Rubella, sebaiknya kamu ikut program pemerintah untuk Vaksin MR anakmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Sponsored Content

Bunda, Ini Caranya Agar Si Kecil Nyaman Ketika Divaksinasi

Urusan vaksin memang bisa jadi drama tersendiri. Apalagi kalau vaksin yang harus menggunakan jarum suntik. Terbayang si kecil akan meronta dan menangis sejadinya ketika proses vaksinasi. Belum lagi membayangkan rewelnya si kecil akibat efek sampingnya.

Tapi urusan kerumitan vaksinasi itu sebetulnya sebanding dengan rasa nyaman dan aman yang ditimbulkan oleh vaksin loh Bunda. Ambil contoh misalnya urusan Vaksin MR yang sedang digalakan pemerintah saat ini. Vaksin MR itu diperlukan untuk menghindari penyakit Rubella yang bisa menyebabkan cacat bisu, tuli, kebutaan, kelainan jantung dan komplikasi lainnya.

Sementara Campak pada anak-anak gejalanya kesannya ringan tapi komplikasinya yang berbahaya bisa diare berat, menyerang sistem syaraf, kejang-kejang dan mungkin kebutaan dan kematian.

Aduh runtuh rasanya dunia jika si kecil sampai terkena penyakit tersebut? Karena itu penting untuk mengikutkan anak vaksinasi MR ini. Soal bagaimana membuatnya mau untuk divaksin, berikut ada beberapa langkah yang bisa Bunda ikuti.

Persiapkan Dulu Fisik Anak Secara Prima

Ini penting ya Bunda. Karena beberapa vaksin seperti vaksin MR mengharuskan anak dalam kondisi yang sehat. Karena itu baiknya si kecil dipersiapkan fisiknya terlebih dahulu.

fisik

Pastikan ia dalam keadaan sehat dan bugar ketika mengikuti vaksinasi. Hal ini untuk mencegah efek berkepanjangan setelah vaksin yang akan membuat si anak bertambah rewel.

Bicara Jujur Saja Bunda, Jangan Berbohong

Sebagian Bunda mungkin berpikir, akan lebih mudah jika tidak mengatakan yang sejujurnya. Bilang sama si kecil tidak ada suntik padahal jarum sudah menanti. Atau mengatakan disuntik tidak sakit, namun sesungguhnya Bunda juga ngeri kalau harus ditusuk.

jujur

Karena itu sebaiknya Bunda mengatakan saja yang sejujurnya. Karena anak kecil yang sensitif bisa merasakan ibunya yang sedang berbohong dan itu membuatnya gelisah.

Soal suntik misalnya, Bunda bisa berkata jujur “suntik itu memang sakit tapi cuma sebentar kok”. Tidak ada juga orang yang sakit karena disuntik lebih dari 1 menit bukan? Bunda bisa menjelaskan ini lebih banyak untuk anak yang sudah bisa diajak berdiskusi. Dengan begitu si anak akan merasa lebih siap.

Dampingi Dan Temani Selama Proses Pemberian Vaksin

Sedapat mungkin Bunda bisa menemani si buah hati dalam proses pemberian vaksin. Atau sekurangnya meyakinkan bahwa ada wakil Bunda yang menemaninya. Alihkan perhatiannya dengan mengajaknya bercerita tentang hal yang disenanginya.

anak

Lalu ingatkan lagi kegiatannya yang akan dia lakukan setelah vaksinasi nantinya. Hal ini bisa mengurangi histeria si anak ketika di vaksin.

Pertimbangkan Ikut Vaksinasi Yang Diadakan Pemerintah Agar Anak Tak Merasa Sendiri

Mungkin Bunda sudah punya klinik dan dokter yang sudah biasa menangani si kecil. Tapi untuk urusan vaksinasi ini Bunda bisa mempertimbangkan anak untuk ikut dalam vaksinasi yang diadakan pemerintah.

bersama menkes

Fungsinya apa? Bunda bisa memperlihatkan pada anak bahwa ia tidak melalui proses ini sendiri. Kawan-kawannya yang lain juga ikut serta bersama-sama. Kalau ada yang menangis misalnya yakinkan anak bahwa dia jauh lebih kuat dan harus memberi contoh pada kawannya yang lain. Dengan begitu anak akan lebih bersemangat.

Salah satu yang Bunda bisa ikuti adalah program vaksinasi MR. Saat ini sedang diadakan pemerintah secara serentak di beberapa daerah mulai 1 Agustus 2018 sampai September 2018 dengan menyasar 31 juta anak di 28 provinsi di luar Jawa. Jadi buat Bunda yang berada di luar Jawa ini saat yang tepat untuk mengikutkan anaknya ya.

Persiapkan Anak Sesudah Vaksinasi Ya Bunda

Setelah di vaksin anak mungkin akan mengalami efek samping. Tapi tenang ya Bunda, efek ini tidak permanen kok. Vaksin MR misalnya isu menyebut bahwa vaksin ini bisa menyebabkan autisme pada anak. Tapi taukah Bunda, sesungguhnya hingga saat ini tidak ada satu pun studi yang membenarkan isu tersebut.

Sesuaikan Mainan dengan Usia Anak agar Ia Berminat Memainkannya

Sementara yang benar, umumnya vaksin MR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping yang ditimbulkan cenderung umum dan ringan, seperti demam, ruam kulit, atau nyeri di bagian kulit bekas suntikan. Ini merupakan reaksi yang normal dan akan menghilang dalam waktu 2-3 hari.

Hadiah kecil untuk keberaniannya juga boleh diberikan. Terkadang sedikit hadiah untuk keberanian si kecil sudah mau divaksin bisa membantunya untuk bersemangat untuk ikut vaksin lagi di kemudian hari. Tak perlu terlalu rumit Bunda, cukup permen atau stiker bergambar tokoh kesukaannya sudah bisa membantunya melewati hari tersebut dengan menyenangkan.

Nah, dengan langkah-langkah di atas jangan ragu lagi mengajak si kecil ikut vaksin ya Bunda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top