Dapatkan Artikel menarik dan mendalam langsung lewat SAYANGIANAK EXTRA di emailmu...

* indicates required
Parenting

Atasi Kecanduan Belanja dengan Terapi Perilaku, Bun

adolescent-beautiful-brunette-919436

Yang namanya perempuan pasti senang sekali ya Bun bila sudah punya waktu untuk belanja. Pada dasarnya, belanja sesekali wajar adanya. Namun Bunda pun perlu bijak, sebab kalau sudah berlebihan, belanja pun tak baik bahkan memicu kecanduan.

Nah, kalau sudah di taraf kecanduan, maka hobi belanja perlu dibatasi. Tapi tak banyak orang yang mau mencari tahu cara mengatasi kecanduan belanja. Alih-alih belanja dibatasi, banyak perempuan yang terjerat dan sukar keluar dari kebiasaan yang satu ini. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk menangani kecanduan belanja seseorang?

Rick Zehr, wakil presiden layanan kecanduan dan perilaku dari RS Proctor di Institut Illinois untuk Pemulihan kecanduan, mengatakan saat seseorang kecanduan belanja, dukungan dari pasangan, anggota keluarga, atau teman penting dalam upaya mengurangi keinginan belanja yang bersangkutan. Selain itu, penting sekali membujuknya agar mau melakukan konseling ke profesional seperti psikolog ya Bun.

Tenang, tak ada perawatan khusus untuk seseorang yang mengalami kecanduan belanja, hanya dilakukan terapi perilaku.

“Beberapa kasus kecanduan disebabkan depresinya hingga menggunakan obat antidepresan untuk mengobatinya. Tapi, hasilnya juga beragam. Terapis juga fokus pada program perawatan perilaku-kognitif. Konseling terkait pemakaian kartu kredit atau utang juga sangat membantu bagi beberapa orang,” kata Donald Black, MD, profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Iowa.

Tapi tentunya, keberhasilan menghilangkan kecanduan belanja tak bisa instan ya Bun. Butuh proses dan dukungan dari pihak lain serta kesadaran dari si pecandu. Menurut pengalaman Black, si pecandu belanja bisa mulai mengurangi kebiasaannya dengan selalu diingatkan oleh orang di sekitarnya.

“Atau saat pergi belanja harus ada yang mendampingi untuk mengerem keinginan belanja orang tersebut,” ujarnya. Selain itu, Black merekomendasikan beberapa perubahan mendasar dalam perilaku yang dapat memberi dampak besar pada mereka yang kecanduan belanja, yaitu:

1. Jangan sungkan untuk mengakui bila diri ini memiliki sifat boros dan kompulsif
2. Hindari kontak dengan ATM atau kartu kredit yang bisa jadi sarana berbelanja
3. Minta temani orang terdekat saat belanja supaya selalu ada pengingat
4. Lakukan hal lain yang lebih bermanfaat untuk menghabiskan waktu
5. Mengubah perilaku dan jika diperlukan cari bantuan profesional.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Cara Menstimulasi Anak Agar Bisa Berbicara

ibu-anak

Mendengarkan celoteh anak adalah salah satu perkembangan yang ditunggu-tunggu oleh orang tua. Pasti rasanya ingin sekali mendengar anak memanggil ayah dan bunda dengan jelas. Nah, agar si kecil bisa lancar berbicara sesuai dengan tahap perkembangan dan tidak mengalami keterlambatan, tentunya orang tua harus terlibat dan memberikan stimulasi yang tepat.

Berbicara adalah salah satu kemampuan yang melibatkan banyak faktor, salah satunya adalah stimulasi. Berikut beberapa hal yang bisa ayah dan bunda lakukan untuk mennstimulasi anak agar bisa berbicara.

  1. Sering mengajak anak mengobrol

Dengan mengajak anak mengobrol, si kecil akan mendengar kosakata dan bahasa ibu. Anak juga akan melihat cara ibu berbicara dari gerakan bibirnya. Jadi, ayah dan bunda harus sering mengajak si kecil mengobrol. Gunakan Bahasa yang jelas ketika mengobrol, hindari menggunakan bahasa bayi atau berbicara cadel, seperti “cucu” untuk susu, “tidul” untuk tidur dan lain sebagainya.

  1. Membacakan buku dan flash card

Membaca buku dan flash card bisa menambah kosakata baru. Walaupun mungkin si kecil terlihat belum paham dengan cerita yang ada di buku, tetapi tetap ada proses belajar pada si kecil. Pilih jenis buku yang sesuai dengan usia si kecil dan buku yang bergambar. Ayah dan bunda dapat menyebut kata dalam buku sekaligus menunjukkan gambarnya.

  1. Mendongeng dengan boneka jari

Dongeng dan cerita adalah salah satu hal yang disukai anak-anak. Ayah dan bunda bisa menggunakan  boneka jari ketika mendongeng agar lebih menarik perhatian si kecil. Ketika ayah dan bunda mendongeng atau  bercerita, anak akan mendengar dan merekam setiap ucapan ayah dan bunda. Yuk mulai mendongeng untuk anak.

  1. Mendengarkan lagu anak-anak

Sekarang banyak lagu dan video anak-anak yang menarik. Mendengar lagu dan melihat video edukatif tentu sangat menarik untuk anak-anak. Pilih video dan lagu edukatif yang mudah diingat anak, misal tentang nama-nama binatang, warna, bentuk, dan lainnya. Ayah dan bunda perlu mendampingi si kecil ketika melihat video dan ikut bernyanyi bersama si kecil. Jangan lupa untuk membatasi screen timenya ya.

Agar tumbuh kembang anak sesuai dengan milestone, tentu memerlukan stimulasi. Jika ayah dan bunda sudah memberikan stimulasi yang terbaik tetapi ada keterlambatan, segera konsultasikan kepada dokter anak ya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Efek Negatif Jika Sering Membentak dan Berteriak Kepada Anak

bullying-3089938_1920

Menahan emosi dan amarah ketika anak berbuat salah atau membuat kesal mungkin masih sulit bagi sebagian orang tua. Saat anak sulit diatur mungkin ayah dan bunda ingin berteriak dan membentak agar anak berubah. Sebagian orang tua melakukan cara ini untuk mendisiplinkan anak. Namun, apakah berteriak dan membentak efektif untuk mengubah perilaku anak?

Membentak dan berteriak tidak akan membuat  anak berubah, justru menimbulkan banyak efek negatif. Teriakan orang tua akan mempengaruhi perkembangan otak dan psikologis anak dan dapat berdampak hingga anak dewasa. Berikut beberapa efek buruk jika ayah dan bunda sering membentak dan berteriak kepada anak:

  1. Anak akan meniru perilaku tersebut dan bertindak agresif

Melihat orang tua yang sering membentak dan berteriak akan membuat anak berpikir bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan. Bagaimanapun, anak akan meniru perilaku orang tuanya tanpa tahu hal itu positf atau negatif. Dengan begitu, anak juga menjadi pemarah dan menjadi agresif.

  1. Rasa percaya diri anak akan menurun

Sering dibentak dan dimarahi akan membuat anak merasa dirinya tidak berharga dan tidak dicintai. Anak bisa merasa takut bertindak atau mengambil keputusan karena takut berbuat salah dan justru dimarahi. Hal tersebut akan membuat anak minder dan tidak percaya diri.

  1. Anak menjadi tertutup dan pendiam

Karena sering dibentak maka anak akan lebih memilih diam dan tidak mau menceritakan kegiatannya. Kekhawatiran akan dimarahi jika berbuat salah akan membuat anak menyembunyikan hal yang dilakukannya. Yang lebih parah lagi, anak bisa berbohong ketika berbuat salah agar tidak dimarahi.

  1. Anak menjadi keras kepala

Ketika dimarahi mungkin anak akan melawan untuk mempertahankan dirinya. Apalagi jika dia tidak merasa bersalah. Oleh karena itu, daripada memarahi anak lebih baik tunjukkan perbuatan mana yang salah dan alasannya agar anak mengerti kesalahannya.

  1. Mengganggu perkembangan otak

Teriakan serta luapan emosi dari orang tua dapat mengganggu perkembangan otak anak. Masa anak-anak terutama di usia balita, otak anak sedang berkembang dengan pesat. Seharusnya orang tua memberikan stimulasi yang tepat dan limpahan kasih sayang agar tidak menyebabkan anak mengalami trauma.

 

Membentak dan berteriak bukanlah cara yang tepat untuk mengubah perilaku anak. Jadi sebaiknya ayah dan bunda menenangkan diri dulu ketika sedang emosi. Yuk berusaha untuk menjadi orang tua terbaik untuk anak.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Mitos dan Kesalahan Dalam Merawat Bayi yang Sering Dilakukan

mom-baby

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolah formalnya. Berguru pada yang berpengalaman adalah salah satu cara yang dilakukan pasangan suami-istri ketika baru menjadi orang tua. Tak ada salahnya merawat bayi dengan pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang, tapi tentunya harus dipilih mana yang benar dan tidak.

Ilmu pengetahuan terus berkembang, hal-hal yang dulu tidak ada larangannya bisa jadi sekarang menjadi terlarang karena sudah ada penelitian dan ilmu barunya. Oleh karena itu, alangkah baiknya para calon orang tua belajar cara merawat bayi jauh-jauh hari sebelum si kecil lahir. Apalagi kini sumber ilmu sudah banyak, bisa belajar dari buku, dari para ahli misalnya dokter anak, dan dari artikel-artikel dari akun parenting yang terpercaya.

Beberapa mitos dan kesalahan dalam merawat bayi yang masih sering dilakukan hingga sekarang antara lain:

  1. Memakaikan gurita pada bayi

Masih banyak orang tua yang memakaikan gurita pada bayi agar bayi merasa hangat dan tidak kedinginan. Faktanya, dokter anak tidak merekomendasikan memakaikan gurita pada bayi. Memakai gurita dapat menekan perut bayi sehingga menyebabkan bayi kesulitan bernapas. Jika ingin bayi tidak kedinginan cukup pakaikan baju yang cukup menghangatkan.

  1. Memakaikan bedong dengan kencang hingga kaki bayi lurus

Selain memakai gurita, pengetahuan turun-temurun lainnya adalah memakaikan bedong pada bayi. Orang tua zaman dulu percaya bahwa jika tidak memakai bedong maka kaki bayi akan bengkok, sehingga harus memakai bedong dengan kencang sampai kaki bayi lurus. Padahal, kaki bayi memang normalnya berbentuk “O”. Coba saja ayah dan bunda baringkan si kecil, maka kakinya tidak lurus seperti orang dewasa bukan?

  1. Memberikan makanan sebelum usia bayi 6 bulan atau siap mendapat MPASI

Kepercayaan lainnya adalah jika bayi terus-menerus  menangis adalah pertanda masih lapar sehingga perlu diberi makanan. Banyak orang tua yang memberi pisang pada bayi sebelum usia 6 bulan.

Padahal, bayi baru boleh diberi makanan pendamping ASI pada usia 6 bulan. Kalaupun perlu pemberian MPASI dini, maka harus atas anjuran dokter anak. Memberi makanan pada bayi sebelum waktunya justru bisa mengganggu pencernaan bayi dan membahayakan. Jadi, jika si kecil terus menangis bukan berarti lapar ya.

  1. Menempelkan koin pada pusar agar tidak bodong

Menempelkan koin atau uang logam pada pusar bayi setelah puput agar tidak bodong masih menjadi kepercayaan hingga sekarang. Hal tersebut tidak ada hubungannya. Menempelkan koin pada pusar justru dapat menyebabkan infeksi pada pusar, apalagi jika koinnya tidak steril.

  1. Memberikan kopi agar tidak kejang

Apakah ayah dan bunda pernah mendapat saran untuk memberikan kopi pada si kecil agar tidak kejang? Jika ada yang menyarankan hal tersebut, maka jangan dilakukan ya. Kopi tidak dapat mencegah kejang. Kopi justru bisa membahayakan bayi karena mengandung kafein yang dapat membuat denyut jantung bertambah kencang. Jika si kecil mempunyai riwayat kejang, lebih baik segera konsultasikan ke dokter anak.

Menjadi orang tua membuat ayah dan bunda harus terus belajar. Jangan sampai percaya pada mitos yang justru dapat membahayakan si kecil ya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top