Parenting

Anak yang Dekat dengan Ayah Cenderung Memiliki Emosi Stabil, Lakukan 15 hal Ini Agar Anak dekat Ayahnya

Anak dekat dengan ibunya itu tentu sudah biasa. Perlu orangtua ketahui, anak memiliki IQ lebih tinggi loh.

Sebuah penelitian yang dilakukan Oxford University menunjukkan bahwa ada kaitan antara kedekatan ayah dan anak dengan keberhasilan akademisnya di sekolah.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Dr. David Popenoe, sosiolog dan Co-Director di The National Marriage Project Rutgers, The University of New Jersey, yang mengatakan bahwa anak yang banyak berinteraksi dengan ayahnya memiliki IQ lebih tinggi dibanding anak yang tak cukup berinteraksi dengan sang ayah

selain itu Sebuah tinjauan studi yang dilakukan oleh Father Involvement Research Alliace menunjukkan bahwa bayi yang dekat dengan ayah cenderung memiliki emosi yang stabil. Saat dewasa dia lebih percaya diri, dan bersemangat dalam mengeksplorasi potensi diri untuk merealisasikan ide serta impian.

Anakdekatdenganayah

Tips anak dekat dengan ayahnya:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Hiperaktif Sering Buat Kewalahan, Begini Trik Menghadapi Anak Hiperaktif yang Bisa Bunda Terapkan

Anak Hiperaktiv

Anak yang berada dalam periode emas yaitu berada dalam rentang usia 1 hingga 5 tahun maka memulai sebuah hal yang tidak mampu disalahkan orang tua, yaitu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Ada anak yang selalu diam, ada juga yang tidak bisa berhenti beraktifitas. Serba bingung dan harus penuh untuk fokus dalam perkembangan dan pertumbuhannya.

Anak yang hiperaktif memang terkenal lebih jarang sakit, namun juga lebih mampu mengenal hal yang baru. Biasanya memang menjadi hal yang tidak mudah bagi orangtua dalam menghadapi anak yang sedang hiperaktif seperti itu. jadi, bukan hal yang mudah untuk memenuhi kebutuhan anak hiperaktif, dan inilah beberapa cara tepat dalam menghadapi anak yang hiperaktif:

1. Buat si Kecil Bahagia dengan Kemampuan Bunda Menghadapinya Bukan Dengan Bentakan atau Amarah

Masalah yang utama untuk mengatasi anak hiperaktif adalah orangtua itu sendiri. Karena, yang kebanyakan ada justru orangtua kurang mampu membimbing anak hingga anak merasa sedih. Tingkah anak yang terlalu hiperaktif maka akan menghasilkan amarah orang tua. Dari bentakan, cubitan, hingga omelan, nyatanya mampu membuat anak semakin urung untuk mendengar orangtuanya. 

Karena rasa sibuknya dengan tingkah-polah dan hiperaktif, sehingga banyak anak yang justru merasa bahwa hiperaktifnya membuat mereka nyaman.Sedangkan bila orangtua mampu menekan egonya dan amarah, maka anak akan semakin mampu menelaah tentang rasa marah dari orangtua. Karena dapat dibedakan antara rasa sayang serta amarah. Anak akan semakin mengenal dan mengerti tentang hiperaktifnya begitu pula mengenai sikap orangtua yang akan ia dapatkan.

2. Berikan Ia Fasilitas Yang Membangun untuk Menuangkan Energinya

Anak hiperaktif bukan sebuah masalah hebat sebenarnya, asalkan tingkat hiperaktif anak masih dalam batas normal. Artinya, tingkah aktifnya masih beriringan langsung dengan usianya. Nah, justru anak yang hiperaktif, orangtua tinggal memaksimalkan fasilitas yang akan banyak membantunya dalam berkembang dan tumbuh. 

Karena dengan cara yang tepat mampu membuat anak semakin pesat dalam perkembangannya. Terlebih lagi jika anak Anda berada pada masa emas, akan sangat mempengaruhi kinerja otak dan perkembangan dirinya untuk mengolah rasa, karsa, hingga alunan jiwa yang penting bagi tahapan pertumbuhan diri anak.

3. Jangan Lupa untuk Memenuhi Asupan Nutrisi yang Memadai

Jangan lupakan hal yang teramat penting satu ini, yaitu mengenai asupan nutrisi untuk anak. Karena dengan asupan tepat, anak hiperaktif juga akan tepat dalam mengolah kontrol diri karena pertumbuhan dan perkembangannya terpenuhi. Maka dari itulah nutrisi sehat dan seimbang menjadi asupan khusus dalam memenuhi tenaga untuk anak. Karena nutrisi akan membuat anak jauh lebih sehat, karena energy anak mampu seimbang dengan daya nutrisinya.

4. Beri Anak Pengertian dan Pemahaman Tentang Sikap yang Seharusnya Dilakukan  

Anak hiperakti juga harus diperkenalkan dengan rasa moral yang akan mampu membawa mereka ke sebuah tanggung jawab yang sangat tepat. Dengan pengertian yang Bunda berikan untuk anak hiperaktif, secara dini mengenai sikap moral akan mampu membawa anak lebih faham tentang teman, dan tidak boleh menjadikan lawan. Melalui pengertian moral ini, anak akan bersikap mengerti tentang apa yang boleh ia lakukan dan tidak baik untuk ia perbuat. Meskipun hal yang terlihat dan terkesan sepele, namun ini begitu penting demi masa dan perkembangan pola pikir dari anak.

Itulah tadi beberapa hal tentang cara mengatasi anak hiperaktif yang tidak terlalu mengharuskan orang tua menggunakan sesuatu yang akan membahayakan diri maupun mental anak. Jadi, akan sangat penting adanya sebuah keseimbangan untuk mendapatkan hal yang tepat dalam memberikan pengertian hingga rasa untuk anak. Semoga bermanfaat.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Cara Memahami Gangguan Perkembangan Balita pada Usia 5 Tahun yang Biasanya Dialami si Kecil

Karena kita adalah orangtua, maka sudah selayaknya tahu dan mampu memantau perkembangan dan tumbuh kembang anak kita. Dengan begitu, ketika ada kemampuan yang umumnya sudah dilakukan anak seusianya, namun ia belum bisa, kita tahu mungkin ada sesuatu yang salah. Perkembangan anak usia 5 tahun tentu sudah lebih baik dibandingkan usia sebelumnya, karena fase ini adalah masa terakhir menjadi balita. Namun, beberapa anak ada juga yang mengalami gangguan perkembangan balita pada usia 5 tahun karena beberapa faktor. Penting untuk mengetahui fase dan tahapannya.

Berikut Ini adalah Tahapan Perkembangan Anak di Usia 5 Tahun yang Bisa Jadi Acuan

Pada umumnya, anak usia 5 tahun biasanya sudah memasuki sekolah TK. Mereka sudah mampu melakukan banyak aktivitas baik dari segi kemampuan motorik, berbicara, berinteraksi sosial, dan lainnya. Berikut ini tahap perkembangan anak di usia 5 tahun yang perlu Bunda ketahui, di antaranya:

  1. Kemampuan Motorik Halus, Ia Sudah Bisa Menyalurkan Imajinasinya 

Kemampuan motorik halus anak bisa dilihat dari bentuk gambar anak yang sudah lebih terlihat bentuknya dan tidak lagi berupa coretan biasa. Pakan anak di usia ini juga sudah bisa meniru gambar orang lain dengan bentuk yang beragam seperti kotak, lingkaran, segitiga, dan lainnya.

Kreativitas anak baik dalam gambar maupun mewarnai sudah terlihat lebih bagus dan rapi. Mereka sudah memiliki kemampuan untuk menyalurkan imajinasinya ke dalam bentuk gambar. Kreativitasnya juga mulai terasa dan sudah bisa menyusun balok, Lego, istana pasir, dan permainan lainnya.

  1. Kemampuan Motorik Kasar, Fase Dimana si Kecil Sudah Mampu Melakukan Aktivitas Fisik yang Cukup Berat

Kemampuan motorik kasar di usia ini biasanya dilihat dari aktivitas fisik di mana anak semakin aktif bergerak. Mereka akan lebih banyak berlari, meloncat, memanjat, dan kegiatan lainnya yang mengBundalkan pergerakan tangan dan kaki. Anak sedang di fase ingin mengeksplor banyak hal dan kritis. 

Di usia ini, anak juga sudah bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga 6 detik dengan mengangkat satu kaki saja. Mereka terkadang juga bisa melakukan pergerakan seperti jungkir balik, loncat-loncat, dan bahkan terkesan pecicilan. Biarkan anak tetap bergerak aktif sesukanya asal masih dalam pengawasan.

  1. Kemampuan Bahasa dan Komunikasi, Jangan Heran Jika si Kecil Mulai Banyak Tanya

Bunda jangan kaget ketika anak mulai bertanya banyak hal di usia 5 tahun karena rasa penasaran yang sangat tinggi. Bahkan hal sepele pun mereka tanyakan. Meskipun terkadang harus menguji kesabaran ketika menjawab pertanyaannya, namun ini merupakan pertanda kemampuan bahasanya semakin baik. 

Anak banyak bertanya karena ingin mendapat jawaban dari rasa ingin tahunya yang semakin tinggi. Kosakata dan pelafalan yang dikuasai oleh anak juga semakin mudah dimengerti. Makan anak-anak di usia ini pada umumnya sudah bisa menceritakan kembali kisah yang pernah didengarnya.

  1. Kemampuan Sosial dan Emosional, Ia Sudah Bisa Memahami Aturan 

Anak di usia 5 tahun biasanya sudah semakin mandiri dan mahir melakukan kegiatan sendiri. Contohnya seperti bermain papan interaktif, mengambil pensil dan buku, memakai dan melepas baju, memahami aturan permainan, membaca, menulis, dan lain sebagainya.

Bahkan bakat anak seperti menyanyi, berakting, dan menarik juga sudah mulai terlihat di usia ini. Saat diajak bermain pun anaknya juga sudah bisa kooperatif dengan temannya. Mereka juga mampu berinteraksi sosial dengan baik dan paham bagaimana cara mengendalikan emosi.

Beberapa Gangguan Perkembangan Balita pada Usia 5 Tahun

Tidak semua anak mengalami fase perkembangan yang sama seperti anak pada umumnya. Ada beberapa anak yang mengalami keterlambatan baik dari segi komunikasi maupun fisik dan mental. Berikut ini beberapa gangguan perkembangan yang bisa dialami oleh anak usia 5 tahun, di antaranya:

  1. Anak Belum Bisa Berbicara dan Belum Bisa Menyampaikan Isi Pikirannya dengan Baik

Dalam beberapa kasus ada anak yang sudah berusia 5 tahun namun masih belum mampu berbicara dengan kosakata yang jelas dan mudah dipahami oleh orang dewasa. Jika melihat perkembangan anak yang seharusnya di usia 5 tahun, maka ini bisa disebut sebagai salah satu gangguan perkembangan.

Bahkan untuk mengucapkan kata-kata sederhana saja mereka masih kesulitan. Apalagi jika harus menyusun struktur kalimat dengan baik dan benar atau mendeskripsikan sesuatu. Itulah mengapa penting sekali untuk menstimulasi kemampuan berbicara anak bahkan sejak mereka lahir.

  1. Sulit Konsentrasi dan Selalu Melakukan Hal-hal yang Berbeda dari Kegiatan yang Seharusnya

Saat memasuki usia 5 tahun, orang tua biasanya sudah mulai menyekolahkan anak mereka. Namun, ada beberapa anak yang masih sulit untuk konsentrasi bahkan ketika mereka belajar. Anak yang mengalami gangguan seperti ini biasanya akan sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri.

Mereka cenderung tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, sulit diajak berkomunikasi karena tidak melakukan kontak mata. Anak-anak dengan gangguan ini juga biasanya mudah tantrum dan agresif ketika apa yang diinginkan tidak dipenuhi oleh orang-orang di sekitarnya.

  1. Kemampuan Motorik Kurang, Seperti Belum Bisa Memakai Sepatu Sendiri

Anak-anak di usia 5 tahun cenderung sangat aktif dan senang mengekspor banyak hal karena rasa ingin tahunya sangat tinggi. Namun, dalam beberapa kasus ada anak yang tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan aktivitas yang melatih motorik halus maupun kasar.

Contohnya seperti menggambar atau menulis, belajar memakai pakaian sendiri, menalikan sepatu, dan lain sebagainya. Anak cenderung lebih banyak diam dan pasif dalam banyak hal. Bunda bisa mengatasinya dengan cara menstimulasi dengan permainan-permainan yang melatih kreativitas. 

  1. Tidak Bisa Berinteraksi Dengan Orang Lain Termaksud pada Ayah dan Bundanya

Saat mendapatkan teman baru, anak-anak biasanya akan merasa senang dan antusias. Apalagi saat mereka sudah memasuki usia sekolah. Si kecil biasanya lebih senang bermain dengan temannya dan mulai bisa melakukan berbagai aktivitas mandiri. Ketika sekolah mereka pun sudah bisa ditinggal. 

Namun, ada beberapa anak yang mengalami kesulitan berinteraksi sosial dengan teman-temannya. Mereka cenderung pendiam, penakut, dan bahkan agresif ketika ditinggal oleh orang tuanya. Dalam hal ini, Bunda harus sering melatih anak untuk berinteraksi dengan banyak orang.Gangguan perkembangan balita pada usia 5 tahun seperti disebutkan di atas memang bisa dialami oleh siapa saja. Sebagai orang tua tentu penting sekali untuk memahami bagaimana tumbuh kembang anak yang seharusnya agar bisa mengetahui apakah ada indikasi gangguan pada si kecil atau tidak.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspadai Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Sering Terjadi

Tumbuh kembang si kecil, jadi sesuatu yang wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena jika telat mendapat perhatian, bisa jadi fatal karena tak segera ditangani. Meski gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun kadang sulit didetiksi. Sebagai orangtua, kita wajib untuk mengetahui tahap perkembangan anak mulai dari lahir hingga dewasa. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui apakah si kecil mengalami tanda-tanda gangguan atau tidak.

Tahap Perkembangan Anak Usia 3 – 4 Tahun yang Patut Dijadikan Ajuan oleh Orangtua

Usia 3 – 4 tahun termasuk dalam kategori masa golden age bagi si kecil. Pertumbuhan di masa ini sangat penting untuk membangun karakternya nanti ketika mereka dewasa kelak. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus mendampingi mereka saat masih di masa keemasan. Apa saja tahap perkembangannya?

  1. Kemampuan Gerak Tubuh untuk Melakukan Sesuatu yang Ia Inginkan

Dari segi fisik, anak yang sudah memasuki usia 3 sampai 4 tahun biasanya sedang sangat aktif bergerak. Mereka sedang menikmati masa-masa mengeksplor banyak hal dan mulai muncul banyak pertanyaan kritis. Anak-anak sudah bisa melakukan gerak tubuh seperti berjalan dan berlari.

Di usia ini mereka juga sudah bisa naik turun tangga dengan kaki secara bergantian. Menendang bola, melempar, dan menangkapnya juga menjadi keahlian lain yang sudah harus dimiliki si kecil pada usia 3 sampai 4 tahun. Mereka juga sudah bisa memanjat, melompat, hingga menggunakan / melepas pakaian.

  1. Kemampuan Berbahasa Sebagai Caranya Berkomunikasi dengan Orangtua dan Orang lain di Sekitar

Kosakata yang dikuasai anak usia 3-4 tahun sudah semakin banyak sehingga biasanya mereka akan banyak berbicara. Banyak hal yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak dalam usia tersebut. Contohnya seperti menyebutkan nama dan usia.

Biasanya mereka sudah mampu mengucapkan hingga ratusan kosakata dengan lebih jelas. Anak-anak juga sudah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan kepada mereka. Si kecil juga sudah bisa menyusun kalimat dengan runtut dan bicaranya sudah bisa dipahami dengan sangat jelas.

  1. Kemampuan Tangan dan Jari untuk Melakukan Sesuatu dan Beraktivitas

Kemampuan tangan dan jari sekecil di usia 3 sampai 4 tahun juga sudah semakin membaik. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal seperti memegang benda kecil, membuka halaman buku, menggunting menggunakan gunting mainan, menggambar kotak dan lingkaran, hingga mewarnai.

Kemampuan memegang alat tulis bisa dikuasai dengan baik oleh anak usia 3-4 tahun. Mereka bahkan mampu menulis beberapa huruf kapital dan menggambar beberapa bentuk gambar yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal sederhana seperti memutar gagang pintu, membuka toples juga sudah bisa dilakukan. 

Dan Ada Pula Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Wajib Bunda Waspadai

Anak usia 3 – 4 tahun juga bisa mengalami gangguan perkembangan tertentu. Anda harus waspada dan terus mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil setiap harinya. Berikut ini beberapa jenis gangguan perkembangan yang mungkin bisa dialami dan patut diwaspadai, di antaranya:

  1. Kesulitan Berbicara untuk Mengutarakan Isi Hati dan Perasaanya

Jika anak usia 3 – 4 tahun belum bisa diajak berkomunikasi karena kosakata yang diucapkan belum jelas, maka Anda patut waspada. Bisa jadi mereka mengalami keterlambatan bicara atau gangguan pendengaran sehingga sulit untuk mengucapkan kata yang mudah dipahami oleh orang dewasa.

Dalam berkomunikasi, anak-anak juga tidak tertarik untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka cenderung diam dan enggan untuk berbicara. Oleh karena itu, penting untuk menstimulasi kemampuan anak berbicara sejak mereka lahir untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan seperti ini.

  1. Sering Berhenti Sejenak Saat Berbicara, Karena Kesulitan Menemukan Kosakata yang Ingin Disampaikan

Anak usia 3 – 4 tahun yang tiba-tiba berhenti sejenak saat berbicara, mungkin bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dari mulutnya. Jika mereka malas untuk belajar, maka hal tersebut akan terbawa terus-menerus hingga mereka dewasa. Tentu Anda tidak ingin itu terjadi. 

Ketika anak mengalami kesulitan saat berbicara dan mengeluarkan kosakata tertentu dari mulutnya, biasanya mereka akan mudah menyerah dan mengatakan “tidak jadi”. Jika mereka sering mengucapkan kata tersebut maka patut waspada dan coba uji beberapa kata pada anak untuk diucapkan.

  1. Tidak Bisa Memahami Instruksi atau Kalimat Perintah yang Diterimanya

Saat memasuki usia 3 – 4 tahun, seharusnya anak-anak sudah bisa memahami kalimat perintah dengan baik. Sehingga mereka bisa dimintai tolong untuk melakukan atau mengambil sesuatu. Namun, ada anak yang mungkin mengalami gangguan sehingga mereka tidak bisa memahami instruksi sederhana. 

Saat diminta untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung memilih diam dan tidak melakukannya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan instruksi tersebut. Bicaranya juga masih tidak jelas dan sulit untuk dipahami oleh orang dewasa.

  1. Kesulitan Menggunakan Struktur Kalimat yang Tepat Ketika Sedang Berbicara atau Mengutarakan Maksudnya

Anak usia 3 – 4 tahun bisa dianggap mengalami keterlambatan perkembangan ketika mereka masih belum bisa menggunakan kata aku dan kamu dengan cara yang tepat. Mereka juga masih kesulitan untuk menceritakan kembali cerita atau kisah favorit yang pernah diperdengarkan untuk si kecil.

Bicaranya masih cenderung belum jelas dan belum bisa menggunakan struktur kalimat dengan tepat. Mereka juga kesulitan untuk mendeskripsikan sesuatu secara rinci dan detail.

  1. Ketidaktertarikan Pada Aktivitas Fisik Tertentu yang Lazim Dilakukan Anak Seusianya

Anak usia 3 – 4 tahun harusnya sudah bisa belajar dengan mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Namun, anak yang mengalami gangguan biasanya tidak mau mencoba untuk belajar hal-hal seperti memakai dan melepas baju, atau belajar menggunakan sendok dan garpu.

Mereka juga enggan belajar untuk menggosok gigi, membantu orang tua di rumah, menggunakan toilet, makan sendiri, atau menyiapkan makanan dan minumannya sendiri. Beberapa gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun tersebut memang bisa dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, sebagai orang tua jangan sampai lengah untuk mengawasi tumbuh kembang si kecil agar bisa mendidik dan mengajari dengan cara yang tepat.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top