Parenting

Anak Suka Memukul? Ini 7 Cara Menghentikan Anak memukul

Ada  orangtua yang secara tidak langsung mengajari anaknya untuk membalas kekerasan dengan kekerasan. Bahkan membiarkan saja anaknya berprilaku kasar kepada orang lain. Terkadang jika anak dipukul oleh temannya, orang tua malah meminta anak “Kalau dipukul, balas pukul lagi ya”

Dalam berperilaku, anak-anak biasanya meniru orang dewasa. Ia juga akan mempelajari efek dari perilakunya terhadap orang lain, terutama figur lekatnya.

Ia akan mempelajari reaksi figur lekatnya ketika ia merangkak, menyebutkan kata-kata tertentu, termasuk juga ketika ia mencubit, menjambak, memukul dan bahkan menggigit. Perilaku yang mendapatkan respons yang ia anggap positif, akan cenderung diulang.

Jangan memukul balik, lebih baik bila Anda memperingatinya dengan tegas serta memberikan dia konsekuensi

Bagi sebagian orangtua,  memukul merupakan tindakan yang tepat untuk mendisiplinkan si kecil. Memukul atau menampar anak adalah cara sederhana agar dia mau mengerti. Namun, memukul balik bisa membuat anak menjadi bingung karena Anda menasihati mereka dengan cara yang sama. Akan lebih baik bila Anda memperingatinya dengan tegas serta memberikan dia konsekuensi yang mendidik.

Cari tahu apa pemicunya, cara ini bisa membantu Anda mengurangi sikap anak yang suka memukul

Bila anak Anda sering memukul, perhatikan apa pemicu sebenarnya. Apakah dia melakukan itu karena lelah, bosan, lapar, atau marah? Selain itu, bisa jadi dia juga terpengaruh oleh lingkungan keluarga atau sekelilingnya. Untuk mengatasi hal ini, coba perhatikan anak saa bermain lalu amati reaksinya terhadap anak-anak lain. Pastikan kalau dia tidak memukul, terutama ke wajah. Cara ini bisa membantu Anda mengurangi sikap anak yang suka memukul.

Kadang, anak memukul karena mereka ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya, tunjukkan cara berkomunikasi yang Baik

Dalam kebanyakan kasus, anak-anak sebenarnya tidak memukul orangtua karena marah atau frustasi, tapi karena mereka ingin mendapatkan perhatian lebih dari Anda. Kunci untuk mengubah perilaku buruk tersebut dengan menunjukkan cara berkomunikasi yang baik. Sebagai contoh, kalau anak Anda kesal, lalu memukul, sebaiknya Anda cepat merangkul serta memeluknya. Beritahukan bagaimana cara menepuk lengan atau wajah dengan lembut. Ingat, mengubah kebiasaan si kecil memang butuh kesabaran.

Buatlah komunikasi yang menyenangkan, cara ini dapat mengurangi kebiasaan buruk anak Anda seiring berjalannya waktu

Beberapa anak memiliki kebiasaan alami untuk menggunakan tangan mereka sebagai alat komunikasi. Maka dari itu, Anda perlu mengajari mereka dengan membuat komunikasi yang menyenangkan.

Misalnya, begitu dia ingin memukul, cepat intervensi dengan menggerakkan tubuh dan katakan ‘ayo tos’. Hal itu akan membuat si kecil bingung, bisa jadi tersenyum dan tidak menjadi melakukannya. Cara ini dapat mengurangi kebiasaan buruk anak Anda seiring berjalannya waktu.

Sediakan Banyak Waktu untuk Anak Anda

Luangkan waktu yang banyak agar bisa mengubah kepribadian si kecil. Sering-seringlah memeluk serta mengajak mereka bermain agar dia semakin dekat dengan Anda. Ajarkan dia menggunakan tangan secara lembut hingga anak benar-benar bisa mempraktekannya.

Jarkan anak menarik nafas panjang, ini mengurangi kebiasaan anak yang suka memukul

Ternyata mengajarkan anak untuk mengendalikan emosi dengan menarik nafas panjang bisa membantu mengurangi kebiasaan anak yang suka memukul, menggigit dan menjambak. Ajaklah anak untuk mengikuti gerakan yoga dengan duduk bersila dan merentangkan tangan selebar mungkin. Tarik nafas panjang dan biarkan anak menikmati rasa rileks dan nyaman.

Latih anak untuk mengungkapkan emosi dengan ekspresi yang sesuai

karena kemampuan bicara anak anak umumnya belum optimal sehingga tidak dapat mengungkapkan emosi dengan kata-kata. Beri contoh dan latih anak untuk mengungkapkan emosi dengan ekspresi yang sesuai, seperti memeluk atau bertepuk tangan untuk rasa senang, atau menangis untuk rasa sedih. Tunjukkan ekpresi wajah seseorang jika sedang marah. Bila anak sedang marah, coba tanyakan kenapa dia marah, lalu bantu mencari penyelesaiannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Sampai Si Kecil Tak Disenangi, Lakukan Hal Ini untuk Menghadapi Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Semakin bertambah umur, anak mengenal lebih banyak orang dengan berbagai karakter. Salah satunya anak yang suka bertengkar dengan teman, mungkin akibat salah pengasuhan di keluarga. Perilaku ini tidak bagus untuk masa depan pergaulan anak. Karena akan memberikan citra yang negatif atas dirinya, ini juga bisa membuatnya dijauhi oleh orang sekitarnya. 

Maka, sebagai orangtua, inilah yang seharusnya kita pahami!

Kesalahan Orangtua yang Seharusnya Kita Hindari Saat Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Pertemanan memang tidak selalu mulus, ada kalanya muncul kesalahpahaman yang berakhir dengan bertengkar atau berkelahi. Banyak hal kecil menjadi besar karena anak mementingkan ego atau tidak tahu cara menyelesaikan masalah. Sebagian orangtuaterlalu ikut campur sehingga melakukan beberapa kesalahan berikut.

1. Mencoba Menyelesaikan Masalah Anak dengan Pemikiran Orang Dewasa

Masalah anak dengan temannya terkadang tampak ringan atau kecil di mata orangtua. Memang masalah cepat selesai jika orangtua langsung turun tangan. Namun, hal ini membuat anak bergantung pada orangtua jika ada masalah lain ke depannya. 

orangtua yang selalu membantu menyebabkan si kecil tidak dapat berkembang dengan baik. Boleh memberikan solusi atau langkah penyelesaian masalahnya. Selanjutnya, cara tersebut diterapkan sendiri oleh anak bukan orangtua. 

2. Berpikir dan Menganggap Anak sebagai Korban dari Temannya yang Lain

orangtua yang menganggap anak sebagai korban akan menyalahkan orang lain atas masalah yang menimpa si kecil. Padahal bisa jadi itu disebabkan oleh si kecil sendiri ataupun hanya salah paham saja. Berbagai pikiran buruk tentang teman dari si kecil terus mengganggu pikiran orangtua. 

Makanya, jangan menganggap anak sebagai korban. Memang tidak menyenangkan saat anak dipukul atau diejek oleh teman-temannya. Jangan langsung menyalahkan teman sebayanya, tetapi dengarkan dulu penjelasan si kecil. 

3. Memaksa Anak Berbaikan dan Tetap Berteman 

Ketika anak ada masalah dengan temannya, jangan paksa anak tetap berteman. Sebab si kecil membutuhkan waktu mempertimbangkan untuk meneruskan atau tidak lagi hubungan pertemanannya. Ajaklah anak diskusi bukan memaksakan keinginan orangtua pada anak. 

Rasa khawatir pasti muncul saat orang tuatahu anaknya bertengkar. Tetapi, usahakan berpikir positif supaya tidak menambah menyakiti perasaan si kecil. Karena memaksa berteman, anak merasa orang tuanya lebih berpihak pada teman dibandingkan dirinya.

4. Menganggap Masalah Anak Sepele, Sehingga Mengabaikan Perasaan Sedih yang Dialami Oleh Anak 

Sebagian anak saat ada masalah dengan teman langsung bercerita pada orang tuanya. Mendapat ejekan, olokan dan perlakuan tidak baik lainnya membuat si kecil merasa tidak nyaman. orangtua juga jangan menganggap sepele. 

Meskipun olokan bukan masalah besar, tetap saja orangtua tidak boleh meremehkan perasaan anak. Tetapi, pahami perasaannya dengan memeluk anak atau menghiburnya. Jadi, orangtua sebaiknya tidak mengabaikan komentar menyakitkan yang dialami anak.

5. Tak Melakukan Apa-apa dan Membiarkan Terjadinya Bullying

Jika anak mendapat bullying atau malah membully teman-temannya, tentu saja ini berbahaya. orangtua jangan diam saja apalagi menyepelekan. Ajak anak berbicara lebih lanjut tentang dampak bullying pada diri sendiri dan orang lain. 

Bangun rasa empati pada anak, jangan malah menyuruhnya membalas perbuatan jahat. Sebab masalah tidak akan selesai menggunakan kekerasan. orangtua dapat meminta anak untuk menghindar atau menjaga jarak dengan teman yang membullynya. 

Sebaliknya, Inilah Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Menghadapi Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Semua orangtua tidak tega melihat anak tersakiti termasuk ketika bertengkar. Bunda tentu ingin membela si kecil tetapi hal ini tidak baik untuk kemandirian anak. Sebaiknya terapkan tips berikut menghadapi kondisi ini. 

1. Latih Anak Selesaikan Masalah Sendiri dengan Mencari Tahu Asal Permulaan Pertengkarannya Terjadi

Latih anak agar bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa selalu bergantung pada orang tua. Meskipun sebagai Ibu merasa kasihan atau tidak tega, urungkan niat untuk membantu. Biarkan anak belajar mandiri menghadapi kesulitan dalam hidupnya. 

Sebenarnya pertengkaran melatih kecerdasan sosial anak karena dapat belajar menghadapi masalah. Wajar saja anak-anak mudah terpancing emosinya karena umurnya masih kecil dan labil. Anak juga belum paham apa itu toleransi dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

2. Hindari untuk Menegur Anak di Depan Orang Banyak, Karena Bisa Membuatnya Berkecil Hati

Anak juga bisa merasa malu sehingga sangat disarankan menegur di depan orang banyak. Memarahi anak di depan teman-temannya meskipun dia sendiri yang salah juga tidak dianjurkan. Sebab hal ini dapat memberikan dampak buruk terhadap psikologi anak. 

Sementara itu, membela anak di depan orang banyak membuat anak besar kepala. Sedangkan teman si kecil yang ditegur merasa malu bahkan bisa memicu dendam dalam hatinya. Oleh karena itu, orangtua sebaiknya membahas masalah pertengkaran ini di rumah. 

3. Jangan Membenci Orangtua dari Teman Si Kecil, Hanya Kedua Anak Terlibat Pertengkaran

Sebagian orangtua saat melihat si kecil bertengkar akan ikut saling membenci. Padahal Bunda belum tahu masalah yang sebenarnya dan tidak ada di lokasi saat anak bertengkar. Sebaiknya tidak saling membenci antara orang tua masing-masing. 

Banyak kasus retaknya hubungan dengan tetangga hanya karena anak bermusuhan. Pertengkaran anak dengan teman sebayanya sebisa mungkin diambil sisi positifnya. Tugas orangtua memang melindungi tetapi bukan membebaskan anak dari masalah.

4. Ajari Anak untuk Berbaikan, Karena Salah Paham dan Bertengkar Bisa Saja Terjadi Pada Setiap Orang

Setelah anak bercerita tentang pertengkarannya, sampaikan hal positif. Supaya anak tidak memendam kebencian kepada temannya. Ajarkan anak meminta maaf sambil berjabat tangan dengan teman. 

orangtua jangan menambah bumbu agar anak semakin membenci temannya. Saling benci tidak baik untuk pergaulan dan masa depan anak. Jika orangtua menganggap sepele tentang kebencian maka anak juga berpikir hal ini boleh dilakukan. Itulah beberapa poin penting harus diterapkan saat menghadapi anak yang suka bertengkar dengan teman. Bertengkar jika sekali saja memang hal wajar, namun jika sudah keseringan membawa dampak negatif bagi psikologis anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Orangtua Mengeluh Karena Anaknya Suka Memukul, Ini yang Perlu Orangtua Pahami

Tidak sedikit orangtua yang mengeluh karena anaknya suka memukul kalau marah atau keinginannya tidak dituruti. Hal ini memang sebaiknya jangan terus dibiarkan agar tidak berkelanjutan hingga dia dewasa.

Anak usia satu tahun, mereka tidak tahu bahwa memukul berarti menyakiti orang lain.

Pada anak usia satu tahun, mereka tidak tahu bahwa memukul berarti menyakiti orang lain. Mungkin Anda akan melihat anak usia satu tahun akan memukul orang lain sambil tertawa.

Perilaku agresif seperti ini dianggap normal karena bagian dari perkembangan anak. Untunglah, perilaku agresif ini hanya sementara.

anakmemukulorangtuatertawa

Namun kebiasaan anak yang suka memukul  bukan hal yang lucu sehingga anda merespons dengan tertawa

Meski demikian, jangan menganggap perilaku agresif ini sebagai hal yang lucu sehingga Anda merespons dengan tertawa. Sebab dari sini si kecil bisa belajar bahwa memukul bisa membuat Anda tertawa.

Tangan dan gigi merupakan alat sosial pertama mereka, jadi wajar jika mereka belajar bagaimana menggunakannya sebagai respons atas apa yang mereka rasakan. Mereka juga ingin tahu reaksi apa yang terjadi jika mereka menggunakan ‘peralatan’ itu.

Jadi sah-sah saja balita Anda menggunakan ‘peralatannya’ tapi tetap tugas orang tua untuk mengajarkan bagaimana cara terbaik menggunakan ‘peralatan’ itu.

Sebagai orang tua, kita harus mengajari bahwa perilaku agresif tidak bisa diterima dan menujukan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya

Meskipun ini bagian normal perkembangan balita usia 18-30 bulan, sebagai orang tua tentu Anda tidak boleh membiarkannya. Anak pun perlu belajar bahwa perilaku agresif tidak bisa diterima. Perlu juga Anda tunjukkan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya.

Hati-hati, Perilaku agresif pada anak lebih cenderung muncul dalam kelompok

Perilaku agresif pada anak lebih cenderung muncul dalam kelompok. Sebab dalam sekelompok anak sangat memungkinkan dua balita yang memperebutkan mainan, yang mana hal ini bisa meningkat jadi perkelahian fisik.

Jika anak-anak berinteraksi dengan orang banyak, seperti di penitipan, memukul dan menggigit menjadi keterampilan sosial serta bagian dari naluri kelangsungan hidup mereka

Ketika si kecil memukul Anda atau orang lain, jangan lantas balas memukulnya

Jika Anda balas memukul anak, secara tidak langsung itu menegaskan bahwa tidak apa-apa memukul orang lain. Dengan balas memukul anak sebagai upaya menghukum, pada akhirnya hanya akan mengembangkan rasa takut pada anak. Memberikan ‘pelajaran’ pada anak melalui ketakutannya tidak akan berhasil.

Pada balita yang memahami bahwa memukul merupakan upaya pertahanan diri, saat mereka memukul anak lain, ada baiknya jauhkan dia sejenak dari situasi itu. Lalu berilah penjelasan bahwa memukul itu tidak diperbolehkan karena bisa menyakiti orang lain.

Jangan lupa mintalah maaf atas nama anak Anda pada anak yang dipukul

Pastikan si kecil mendengar Anda sedang minta maaf, agar dia bisa menarik pelajaran tentang empati. Bila anak sudah stabil emosinya, ajaklah juga untuk meminta maaf langsung.

Jika ada orang tua anak tersebut di tempat itu, sampaikan juga permintaan maaf dan katakan bahwa Anda sedang berupaya mengatasi perilaku agresif pada si kecil.

Berikan Pengertian dan Ajarkan Kominikasi

Jika anak memukul karena berebut mainan dengan kakak atau adiknya, sampaikan pengertian padanya, bahwa untuk mendapatkan giliran bermain bukan dengan memukul. Anda bisa mengeset waktu agar setiap anak mendapat giliran bermain.

Yang tak kalah penting, ajari anak berkomunikasi dengan baik. Ketika anak lebih mampu mengatakan apa yang dia inginkan dan menyampaikan apa yang dia rasakan, maka mereka akan lebih mampu mengontrol perilaku agresifnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top