Parenting

Anak Balita Suka Berteriak untuk Menarik Perhatian, Ketahui Penyebab Lain dan Solusinya

Anak Bunda suka berteriak? Apalagi di depan orang banyak? Satu hal penting bagi orangtua, jangan marahi ia, saat berteriak. Bukannya reda, teriakannya akan semakin menjadi malah tambah kencang.

Satu hal yang Bunda perlu cari tahu, pasti ada penyebabnya kenapa anak selalu berteriak. Setelah mengetahui penyebabnya, Orangtua pasti akan mudah menenangkan dan mengajarkan anak cara mengatasi amarahnya.

Problem anak balita suka berteriak dan solusinya memang sangat penting untuk dipahami agar para orangtua tahu cara menangani anak yang berteriak khususnya di depan umum.  Yuk simak penyebab dan solusi untuk anak yang suka berteriak: 

Inilah Penyebab Anak Balita Suka Berteriak yang Harus Orangtua Ketahui

Ada banyak faktor penyebab yang membuat anak menjadi suka berteriak tanpa malu di depan banyak orang. Pada dasarnya itu adalah salah satu cara mereka untuk mengekspresikan emosinya. Karena kesulitan mengungkapkan melalui kata, maka mereka pun akhirnya berteriak. 

1. Anak Berteriak Karena Ingin Mendapatkan Perhatian

Salah satu faktor penyebab anak suka berteriak di depan orang banyak adalah karena ingin mendapatkan perhatian. Cara ini juga sering mereka pakai sebagai senjata untuk memperoleh apa yang diinginkannya ketika dilarang oleh orangtuanya sendiri. 

Sehingga orangtua terhindar dari rasa malu, akhirnya luluh juga dan segera mengabulkan apa yang menjadi keinginan anaknya. Namun, jika hal ini terus dibiarkan setiap hari maka mereka akan mengandalkan cara berteriak untuk menjadi senjata ketika merengek meminta sesuatu. 

2. Anak Meluapkan Emosi dengan Cara Berteriak

Anak-anak juga perlu untuk meluapkan emosi dan perasaannya, salah satunya adalah dengan cara berteriak. Terlebih lagi untuk balita usia 1 – 2 tahun yang notabene kosakatanya masih sangat terbatas. Sehingga mereka mengandalkan menangis atau berteriak untuk mengungkapkan emosi di dalam dirinya. 

Sementara itu, orang dewasa terkadang tidak mengerti dengan keinginan anak karena tidak paham dengan kosakata yang mereka ucapkan. Karena tak kunjung dituruti, akhirnya anak-anak pun berteriak agar orang tuanya mau mengabulkan keinginan sang anak. 

3. Anak Berteriak Karena Lingkungan di Sekitar Bising

Anak juga bisa terganggu ketika lingkungan di sekitarnya bisnis sehingga memicu mereka untuk berteriak. Mereka terpaksa berkomunikasi dengan cara tersebut karena ingin menyamakan volume suara tinggi yang ada di sekitarnya. 

Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui karakter anak dan menjauhkan dari kebisingan ketika mereka menginginkan sesuatu. Sehingga nantinya bisa lebih paham bagaimana cara menghadapi anak yang berteriak di sekitar lingkungan yang bising. 

4. Anak Itu Peniru Ulung, Dia Berteriak Karena Meniru Orang di Sekitarnya

Apa yang dilakukan oleh sang anak dengan berteriak-teriak bisa jadi mereka sebenarnya sedang meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Karena bagaimanapun juga usia anak balita adalah usia yang sedang senang-senangnya meniru. Mereka dengan mudah menyerap apa yang terjadi di sekitarnya. 

Pengaruh lingkungan sekitar yang senang berteriak seperti orang tua yang bertengkar atau marah-marah juga akan mempengaruhi kebiasaan anak. Mereka bukan tidak mungkin akan meniru dan melakukan hal yang sama saat keinginannya tidak dikabulkan. 

Tips Mengatasi Anak Balita yang Suka Berteriak

Sebagian orangtua mungkin ada yang reflek dan dengan spontan langsung memarahi anaknya ketika mereka berteriak. Karena terkadang anak langsung berteriak kencang karena ingin menyampaikan sesuatu namun tidak bisa karena terbatas kosa kata yang mereka kuasai. Berikut ini beberapa tipsnya:

1. Beri Anak Kesibukan Agar Mereka Lupa Apa yang Menyebabkan Mereka Marah

Agar anak-anak berhenti berteriak, Bunda bisa memberikan mereka kesibukan agar lupa dengan apa yang menyebabkan mereka marah. Contohnya seperti memberikan mainan, mengajak anak menggambar, mewarnai, atau aktivitas seru dan menarik lainnya. 

Jika di tempat umum, misalnya saat berbelanja maka Bunda bisa membuat anak fokus dengan kegiatan untuk mencari barang yang akan dibeli dibandingkan membiarkan mereka berteriak. Usahakan untuk tidak langsung mengikuti keinginannya dan ajak beraktivitas dengan mencari barang tertentu. 

2. Ini Penting Dilakukan Oleh Orangtua : Pahami Perasaan Anak

Pada dasarnya, anak berteriak karena ingin mencari perhatian atau meluapkan emosinya. Sebagai orang tua, tentu kita harus memahami perasaan mereka. Tanyakan pada diri sendiri apakah selama ini sudah cukup memberikan perhatian untuk anak. Ajak mereka ngobrol dan berdiskusi. 

Contohnya, ketika anak tiba-tiba berteriak di keramaian, mungkin karena mereka merasa penat, sesak, dan pusing karena ingin segera keluar dari tempat tersebut. Jika anak tidak ada kegiatan kemudian berteriak, bisa jadi karena bosan sehingga beri mereka aktivitas baru. 

3. Pastikan Kebutuhan Anak Terpenuhi Sebelum Keluar Rumah

Sebisa mungkin jangan mengajak anak saat mereka dalam keadaan perut kosong, kurang tidur, dan sedang menahan buang air. Karena kondisi tersebut akan membuat mereka tidak nyaman sehingga spontan anak-anak akan berteriak. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami kebutuhan anak. 

Penuhi terlebih dahulu kebutuhan anak seperti makan dan minum sebelum mengajak ke luar rumah. Jika masih dalam keadaan mengantuk maka jangan terlalu dipaksakan karena khawatir mereka akan rewel saat dalam perjalanan. Jika terpaksa harus mengajak keluar maka bawa bekal yang cukup. 

4. Menghadapi Anak Berteriak, Jangan Langsung Dimarahi

Memarahi anak yang berteriak ibarat menyiram api dengan bensin artinya sia-sia jika ingin mendiamkan anak dalam kondisi seperti itu dengan marah-marah. Tak bisa dipungkiri bahwa berteriak adalah ungkapan emosi yang negatif wujud dari luapan emosi dalam diri anak-anak. 

Oleh karena itu, Bunda juga harus banyak bersabar dan jangan mudah emosi saat menghadapi anak yang berteriak. Tarik nafas dalam-dalam dan tegur anak baik-baik. Tenangkan mereka agar berhenti berteriak dan tanyakan apa yang menjadi keinginannya. 

Terkadang memang tidak mudah untuk menghadapi anak yang berteriak dan harus banyak-banyak bersabar. Itulah tantangan menjadi orang tua dan bagaimanapun juga harus mampu untuk mengatasi problem tersebut tanpa membuat trauma sang anak. 

Problem anak balita suka berteriak dan solusinya bisa Anda coba saat menghadapi kondisi tersebut. Namun, pastikan untuk memahami lebih dalam tentang perasaan sang anak agar bisa memberikan perlakuan yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak yang Suka Merebut Mainan Bisa Jadi Karena Cemburu, Cobalah Lakukan Ini untuk Merubah Sikap Buruk Itu

orangtua ingin si kecil bermain dengan aman dan damai, tidak suka anak yang suka merebut mainan. Namun, hal ini sering kali dilakukan oleh anak-anak membuat Bunda geleng-geleng kepala. Tapi sebagai orangtua, sudah menjadi tugas dan tanggung jaab kita untuk mendidiknya ke perubahan yang lebih baik. Hindari untuk berteriak, apalagi sampai marah-marah pada anak karena tindakannya, sebaliknya ketahui apa  alasan yang menjadi penyebabnya ia bersikap demikian. 

Beberapa Alasan Anak yang Suka Merebut Mainan yang Juga Mungkin Terjadi pada Si Kecil di Rumah Bunda

Sikap anak marah, menangis bahkan merebut mainan memiliki alasan masing-masing. Karena itu jangan langsung menyalahkan atau menghukumnya. orangtua harus mencari tahu penyebab terlebih dulu kemudian ajarkan anak untuk berperilaku yang baik. 

1. Tidak Tahu atau Belum Mengerti Pentingnya Rasa Empati Terhadap Orang Lain

Alasan pertama anak suka merebut mainan sebab belum tahu bahwa dalam bergaul perlu memiliki rasa empati. Orangtua harus mengajarkan kepada anak tentang empati dan kasih sayang kepada teman. Sehingga anak tahu rasanya kehilangan mainan sendiri akibat paksaan orang lain. 

Salah satu cara mudah melatih rasa empati melalui cerita dongeng. Biasanya di akhir cerita orangtua dapat menjelaskan pelajaran yang bisa diambil. Dekati anak secara persuasif agar si kecil mudah menerima nasihat orang tua.

2. Pemikiran Anak Masih Egois dan Merasa Dialah Satu-satunya yang Berhak

Anak kecil hampir semuanya memiliki perilaku ego salah satunya pada mainan. Hanya ingin mainan tersebut menjadi miliknya sendiri. Semua barang yang ada di depan mata dapat digunakan sesuai keinginan tanpa memperdulikan orang lain.

Pemikiran seperti ini harus diluruskan untuk mengurangi risiko dijauhi teman-temannya. Selain itu, juga tidak baik untuk masa depannya jika sampai dewasa masih suka egois. Sebab, semakin bertambahnya umur anak bertemu banyak orang, mau tidak mau harus menghargai dan menghormati orang lain.

3. Ada Kecemburuan atau Iri yang Barangkali Anak Rasakan, Itulah Sebabnya Ia Tak Suka Berbagi dan Berebut Mainan

Penyebab anak suka merebut mainan juga karena iri ketika sang kakak atau adik memiliki barang baru. Cemburu saat teman-teman punya mainan yang diri sendiri tak memilikinya. Ajarkan anak untuk menghargai barang orang lain.

Tidak hanya itu, anak juga bisa cemburu dengan perhatian orangtuapada saudaranya. Anak ingin diperlakukan sama, tetapi tidak tahu cara mengatakannya. Anak belum paham cara mengekspresikan emosinya sehingga diluapkan dengan merebut mainan orang lain. 

4. Belum Memahami Konsep Kepemilikan atas Tiap-tiap Mainan atau Barang

Anak-anak biasanya belum paham tentang konsep kepemilikan. Sehingga semua barang orang lain yang menarik perhatiannya, dianggap adalah miliknya sendiri. Karena itu, orangtua perlu menjelaskan anak agar paham tidak semua barang di sekitarnya bisa dengan mudahnya diambil. 

Barang kakak dengan adik tidak sama, begitu juga antara Ibu dan Ayah. Pahamkan konsep ini pada si kecil untuk mengurangi perilaku merebut mainan. Boleh meminjam tetapi harus dikembalikan tepat waktu. 

5. Ingin Menikmati Mainan Sendirian dan Tak Suka Berbagi

Alasan lainnya anak ingin menikmati mainan sendirian tanpa ada campur tangan orang lain. Sehingga saat ada kakak atau teman datang, ia akan menghindarkan mainan dari sentuhan orang. Memang perilaku ini tidak sepenuhnya baik.

Ajarkan anak suka bermain dan berbagi mainan dengan orang lain. Jika tidak, si kecil ke depannya sulit mendapat teman dan merugikan diri sendiri. 

Lalu, Apa Hal yang Harus Dilakukan Supaya Anak Tidak Suka Merebut Mainan? 

Tanamkan sifat berbagi pada anak yang suka merebut mainan. Sampaikan bahwa bermain bersama lebih menyenangkan. orangtua juga bisa menerapkan beberapa langkah berikut agar lebih mudah mengatasi anak.

1. Jangan Diam, Lakukan Sesuatu untuk Menghentikannya Merebut Mainan

Ketika orangtua melihat anak merebut mainan, jangan diam saja. Segera turun tangan agar proses perebutan tidak terus memanjang hingga berkelahi. Karena biasanya hanya disebabkan mainan anak bisa bermusuhan dengan temannya. 

Bersikap sigap jangan tunggu anak menangis, baru turun tangan. Sampaikan kepada anak bahwa memaksa orang lain memberikan mainannya bukan hal yang bagus. Bahkan dapat menyakiti perasaan pemiliknya. 

2. Ajarkan Anak Minta Maaf, Atas Apa yang Sudah Dilakukannya

Anak saat melakukan kesalahan wajib meminta maaf. Bertujuan untuk menjaga hubungan pertemanan dan menghindari dendam. Setelah memaksa hak orang lain bahkan sampai temannya menangis, pastikan anak segera minta maaf. 

Jangan hanya menghentikan perebutan kemudian melupakan begitu saja. Latih anak memiliki sikap tanggung jawab atas keributan yang sudah diperbuat. Supaya anak dapat belajar dan tidak mengulangi hal yang sama ke depannya. 

3. Tanamkan Sifat Berbagi Sedari Dini, Agar Ia Tak Lagi Suka Merebut Mainan Orang Lain atau Tak Mau Berbagi

Anak yang memiliki prinsip berbagi dalam hidupnya tidak akan merebut mainan orang lain. Karena itu, di rumah penting sekali diajarkan apa itu berbagi dan keuntungannya untuk diri. orangtua juga perlu mempraktikkannya agar mudah diikuti oleh si kecil. 

Tidak sulit melatih sikap ini sebab bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya saat anak punya biskuit, Bunda dapat meminta si kecil membagi sedikit. Mengajari berbagi penting sekali agar anak peka pada kondisi orang sekitarnya. 

4. Berikan Contoh Nyata Tentang Berbagi Maianan yang Bisa Ia Lihat dan Tiru

Anak merupakan peniru ulung sehingga semua yang dilakukan orang terdekat akan diikuti. Karena itu, wajib sekali memberikan contoh positif supaya anak mengikuti tindakan positif juga. Jika terkadang melakukan kesalahan, sampaikan pada anak alasannya. 

Tunjukkan bagaimana cara berbagi, mengakui kesalahan dan minta maaf. Tanpa diperintah, si kecil akan mempraktekkan sendiri dalam hidupnya. Hubungan pertemanan anak pun tidak rusak hanya karena mainannya berbeda dengan orang lain.

5. Tanamkan Sikap Berusaha 

Saat anak menginginkan sesuatu, harus berusaha terlebih dulu. Bukan bekerja mencari uang sebab tubuhnya yang kecil belum sanggup melakukannya. Usaha ringan yang dapat dilakukan adalah meminta izin pada orang tua. Jika ingin menggunakan mainan orang lain maka anak harus mendapat izin dari pemiliknya. Itulah 5 alasan dan hal yang harus dilakukan orangtua menghadapi anak suka merebut mainan. Ingat jangan berkata kasar pada anak, tetapi berikan contoh yang baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Sampai Si Kecil Tak Disenangi, Lakukan Hal Ini untuk Menghadapi Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Semakin bertambah umur, anak mengenal lebih banyak orang dengan berbagai karakter. Salah satunya anak yang suka bertengkar dengan teman, mungkin akibat salah pengasuhan di keluarga. Perilaku ini tidak bagus untuk masa depan pergaulan anak. Karena akan memberikan citra yang negatif atas dirinya, ini juga bisa membuatnya dijauhi oleh orang sekitarnya. 

Maka, sebagai orangtua, inilah yang seharusnya kita pahami!

Kesalahan Orangtua yang Seharusnya Kita Hindari Saat Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Pertemanan memang tidak selalu mulus, ada kalanya muncul kesalahpahaman yang berakhir dengan bertengkar atau berkelahi. Banyak hal kecil menjadi besar karena anak mementingkan ego atau tidak tahu cara menyelesaikan masalah. Sebagian orangtuaterlalu ikut campur sehingga melakukan beberapa kesalahan berikut.

1. Mencoba Menyelesaikan Masalah Anak dengan Pemikiran Orang Dewasa

Masalah anak dengan temannya terkadang tampak ringan atau kecil di mata orangtua. Memang masalah cepat selesai jika orangtua langsung turun tangan. Namun, hal ini membuat anak bergantung pada orangtua jika ada masalah lain ke depannya. 

orangtua yang selalu membantu menyebabkan si kecil tidak dapat berkembang dengan baik. Boleh memberikan solusi atau langkah penyelesaian masalahnya. Selanjutnya, cara tersebut diterapkan sendiri oleh anak bukan orangtua. 

2. Berpikir dan Menganggap Anak sebagai Korban dari Temannya yang Lain

orangtua yang menganggap anak sebagai korban akan menyalahkan orang lain atas masalah yang menimpa si kecil. Padahal bisa jadi itu disebabkan oleh si kecil sendiri ataupun hanya salah paham saja. Berbagai pikiran buruk tentang teman dari si kecil terus mengganggu pikiran orangtua. 

Makanya, jangan menganggap anak sebagai korban. Memang tidak menyenangkan saat anak dipukul atau diejek oleh teman-temannya. Jangan langsung menyalahkan teman sebayanya, tetapi dengarkan dulu penjelasan si kecil. 

3. Memaksa Anak Berbaikan dan Tetap Berteman 

Ketika anak ada masalah dengan temannya, jangan paksa anak tetap berteman. Sebab si kecil membutuhkan waktu mempertimbangkan untuk meneruskan atau tidak lagi hubungan pertemanannya. Ajaklah anak diskusi bukan memaksakan keinginan orangtua pada anak. 

Rasa khawatir pasti muncul saat orang tuatahu anaknya bertengkar. Tetapi, usahakan berpikir positif supaya tidak menambah menyakiti perasaan si kecil. Karena memaksa berteman, anak merasa orang tuanya lebih berpihak pada teman dibandingkan dirinya.

4. Menganggap Masalah Anak Sepele, Sehingga Mengabaikan Perasaan Sedih yang Dialami Oleh Anak 

Sebagian anak saat ada masalah dengan teman langsung bercerita pada orang tuanya. Mendapat ejekan, olokan dan perlakuan tidak baik lainnya membuat si kecil merasa tidak nyaman. orangtua juga jangan menganggap sepele. 

Meskipun olokan bukan masalah besar, tetap saja orangtua tidak boleh meremehkan perasaan anak. Tetapi, pahami perasaannya dengan memeluk anak atau menghiburnya. Jadi, orangtua sebaiknya tidak mengabaikan komentar menyakitkan yang dialami anak.

5. Tak Melakukan Apa-apa dan Membiarkan Terjadinya Bullying

Jika anak mendapat bullying atau malah membully teman-temannya, tentu saja ini berbahaya. orangtua jangan diam saja apalagi menyepelekan. Ajak anak berbicara lebih lanjut tentang dampak bullying pada diri sendiri dan orang lain. 

Bangun rasa empati pada anak, jangan malah menyuruhnya membalas perbuatan jahat. Sebab masalah tidak akan selesai menggunakan kekerasan. orangtua dapat meminta anak untuk menghindar atau menjaga jarak dengan teman yang membullynya. 

Sebaliknya, Inilah Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Menghadapi Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Semua orangtua tidak tega melihat anak tersakiti termasuk ketika bertengkar. Bunda tentu ingin membela si kecil tetapi hal ini tidak baik untuk kemandirian anak. Sebaiknya terapkan tips berikut menghadapi kondisi ini. 

1. Latih Anak Selesaikan Masalah Sendiri dengan Mencari Tahu Asal Permulaan Pertengkarannya Terjadi

Latih anak agar bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa selalu bergantung pada orang tua. Meskipun sebagai Ibu merasa kasihan atau tidak tega, urungkan niat untuk membantu. Biarkan anak belajar mandiri menghadapi kesulitan dalam hidupnya. 

Sebenarnya pertengkaran melatih kecerdasan sosial anak karena dapat belajar menghadapi masalah. Wajar saja anak-anak mudah terpancing emosinya karena umurnya masih kecil dan labil. Anak juga belum paham apa itu toleransi dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

2. Hindari untuk Menegur Anak di Depan Orang Banyak, Karena Bisa Membuatnya Berkecil Hati

Anak juga bisa merasa malu sehingga sangat disarankan menegur di depan orang banyak. Memarahi anak di depan teman-temannya meskipun dia sendiri yang salah juga tidak dianjurkan. Sebab hal ini dapat memberikan dampak buruk terhadap psikologi anak. 

Sementara itu, membela anak di depan orang banyak membuat anak besar kepala. Sedangkan teman si kecil yang ditegur merasa malu bahkan bisa memicu dendam dalam hatinya. Oleh karena itu, orangtua sebaiknya membahas masalah pertengkaran ini di rumah. 

3. Jangan Membenci Orangtua dari Teman Si Kecil, Hanya Kedua Anak Terlibat Pertengkaran

Sebagian orangtua saat melihat si kecil bertengkar akan ikut saling membenci. Padahal Bunda belum tahu masalah yang sebenarnya dan tidak ada di lokasi saat anak bertengkar. Sebaiknya tidak saling membenci antara orang tua masing-masing. 

Banyak kasus retaknya hubungan dengan tetangga hanya karena anak bermusuhan. Pertengkaran anak dengan teman sebayanya sebisa mungkin diambil sisi positifnya. Tugas orangtua memang melindungi tetapi bukan membebaskan anak dari masalah.

4. Ajari Anak untuk Berbaikan, Karena Salah Paham dan Bertengkar Bisa Saja Terjadi Pada Setiap Orang

Setelah anak bercerita tentang pertengkarannya, sampaikan hal positif. Supaya anak tidak memendam kebencian kepada temannya. Ajarkan anak meminta maaf sambil berjabat tangan dengan teman. 

orangtua jangan menambah bumbu agar anak semakin membenci temannya. Saling benci tidak baik untuk pergaulan dan masa depan anak. Jika orangtua menganggap sepele tentang kebencian maka anak juga berpikir hal ini boleh dilakukan. Itulah beberapa poin penting harus diterapkan saat menghadapi anak yang suka bertengkar dengan teman. Bertengkar jika sekali saja memang hal wajar, namun jika sudah keseringan membawa dampak negatif bagi psikologis anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak yang Teratur Jadi Salah Satu Calon Orang Sukses, Begilah Cara Orangtua Membentuk Perilaku Teraturnya

Semua orangtua pasti ingin anak yang teratur dan disiplin dalam segala hal. Namun, namanya anak-anak tidak mudah untuk membiasakan hal ini. Sebelum mulai melatih si kecil, orangtua dapat memberi contoh terlebih dulu. Bagaimana sikap teratur yang kita harapkan ada pada dirinya. 

Karena, sosok anak yang teratur berkesempatan jadi salah satu orang sukses. Sebab ia akan terbiasa disiplin dan melakukan segala hal dengan tertata. Termaksud, mewujudkan keinginan dan hal-hal yang ia harapkan dalam hidupnya. 

Jadi Jangan Sampai Melakukan Kesalahan Orangtua Saat Melatih Anak untuk Menjadi Pribadi Teratur 

Agar anak mudah diatur, patuh dan disiplin orangtua perlu mengajarkannya. Meskipun tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Agar proses melatih anak berjalan dengan tepat dan lancar, orangtua harus menghindari beberapa kesalahan berikut. 

1. Langsung Memarahi Anak Ketika Ia Melakukan Sebuah Kesalahan 

Semua anak kecil pasti pernah bertingkah atau melakukan sesuatu yang tidak disukai orangtua. Berlarian di dalam rumah atau membuat lemari berantakan, orangtua jangan langsung berteriak marah kepada anak. 

Kadangkala anak bertingkah menjengkelkan ingin belajar keterampilan baru atau mengeksplor lingkungan. Jika anak dimarahi begitu saja, ke depannya tidak berani belajar hal baru. Selain itu, ada juga karakter anak yang saat orang tuanya marah, maka dia akan semakin bertingkah. 

2. Jadi Orangtua yang Plin-Plan, Tidak Tegas dalam Membuat Aturan Pada Anak

Peraturan dan hal-hal selama melatih si kecil harus konsisten. Jika orangtua plin plan, anak tidak mau lagi mematuhi. Tetaplah untuk mematuhi, peraturan yang sudah disepakati bersama, beri hukuman saat anak melanggarnya, dengan jenis konsekuensi yang ringan-ringan saja. 

Konsistensi penting sekali agar anak mematuhi semua yang disampaikan. Saat orangtua plin plan, anak akan berpikir menjadi teratur dan disiplin itu bukan sesuatu yang harus dimiliki dalam hidup. Karena itu, berikan arahan yang jelas, sederhana dan realistis dengan tingkah laku yang diharapkan orangtua. 

3. Melakukan Tindakan yang Tidak Sesuai dengan Apa yang Dikatakan

Jika orangtua melatih anak buang sampah pada tempatnya, maka harus mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya menyuruh anak melakukan kebaikan, tetapi orangtua masih suka buang sampah sembarangan. 

Anak akan melihat semua perilaku orangtua dan mengikutinya. Jika karena kondisi tertentu terpaksa melanggar, sampaikan dengan baik alasannya kepada si kecil. Supaya anak tidak berpikir, “Bunda saja melanggar, mengapa aku harus patuh.”

4. Jadi Orangtua yang Berpikir dan Berperilaku Negatif 

Berperilakulah dan berpikir positif di depan anak. Jangan langsung marah dan memaki saat menemukan sesuatu tidak sesuai keinginan. Ubah perilaku buruk menjadi baik secara pelan-pelan agar anak mudah mengikutinya. 

Jika orangtua berteriak kasar saat kondisi tak diinginkan, anak pun bisa mengikutinya. Sebagai orangtua pasti tidak ingin hal ini terjadi. Maka, sebelum bertindak pikirkan atau pertimbangkan dulu apa dampaknya bagi si kecil.

5. Membuat Ekspektasi Berlebihan Terhadap Anak, Sehingga Jika Gagal Ia Akan Merasa Disalahkan

Saat melatih anak, jangan tumpukan ekspektasi berlebihan agar tidak kecewa ketika yang terjadi bukan sesuai harapan. Apalagi anak-anak belum bisa mengontrol emosi sepenuhnya. Peran orangtua di sini layaknya seorang guru. 

Fokus memperlihatkan pada anak cara ia bertindak seperti yang orangtua inginkan. Jelaskan padanya yang sebaiknya dilakukan dan alasannya. Sehingga saat tidak bersama orangtua, anak mengingat alasan tersebut dan tidak melakukan sesuatu yang menyimpang. 

Dan Beginilah Cara Orangtua Menjadikan Anak yang Teratur 

Banyak cara yang bisa dilakukan melatih si kecil menjadi anak yang teratur. Hal ini diterapkan sejak kecil agar ketika dewasa bisa langsung menerapkannya tanpa perlu aba-aba dari orangtua. Berikut ada 5 cara yang dapat dipraktikkan. 

1. Buat Jadwal Aktivitas yang Bisa Ia Ikuti Sehari-hari

Ajak si kecil mengatur jadwal kegiatan agar waktu 24 jam bisa dipergunakan dengan baik. Cara ini sangat tidak mudah, sebab tidak semua anak langsung setuju pada ajakan orangtua. Gunakan alat tulis yang diinginkan untuk menarik perhatiannya. 

Pagi hari dimulai dengan bangun pagi, kemudian teruskan kegiatan lain yang harus dilakukan. Buatlah keterangan jam agar si kecil mudah memahami waktu jeda dan memulai aktivitas berikutnya. Tempelkan jadwal di ruang tidur si kecil atau area lain yang mudah dilihat. 

2. Sampaikan Tentang Apa yang Sebaiknya Dilakukan oleh Anak 

Sampaikan apa seharusnya dan sebaiknya dilakukan anak tanpa menjelaskan panjang lebar. Karena, anak akan fokus pada intinya bukan keseluruhan kalimat dalam pembicaran. Latih anak untuk membuat tanda centang pada kegiatan yang sudah diselesaikan.

Hal ini memudahkan si kecil mengetahui kegiatan apa saja yang harus segera dilakukan. Jika kedapatan melanggar jadwal, jangan langsung marah tetapi nasehati dulu. Jika hari berikutnya masih melanggar boleh diberi punishment. 

3. Tapi Jangan Membuat Aturan yang Terlalu Ketat

Hukuman diberikan yang disanggupi anak, jangan terlalu berat. Melatih anak tidak perlu sangat ketat agar ia tidak takut mencoba hal baru. Jika semuanya dilarang, anak berpikir banyak kali sebelum mengeksplorasi lingkungannya. 

Berikan larangan pada sesuatu yang benar-benar penting. Anak tetap diberi kebebasan namun juga ada batasnya supaya proses pengontrolan diri berjalan lancar. Jika anak lelah atau sedang bad mood, biarkan istirahat sebentar. 

4. Hindari untuk Berceramah Terlalu Banyak 

Memberi ceramah panjang lebar pada anak merupakan cara yang dipilih orangtua dalam mendisiplinkan si kecil. Tetapi, kenyataannya langkah ini tidak sepenuhnya efektif. Karena si kecil bosan mendengarkan banyak kalimat dan tuntutan dalam satu waktu. 

Sebaiknya orangtua sampaikan apa yang diinginkan pada diri anak dengan jelas dan singkat. Perilaku mana yang harus dimiliki dan dibuang atau dihilangkan. Jadi, anak lebih mudah mengingatnya dan hal penting tersampaikan dengan baik. 

5. Jadilah Sosok Orangtua yang Selalu Menyediakan Waktu Luang untuk Anak 

orangtua perlu menyediakan waktu luang untuk si kecil. Jangan hanya mengajarkan ini dan itu hingga si kecil muak. Kebersamaan dan interaksi satu sama lain membuat anak merasa hidup. Berikan waktu luang agar si kecil dapat melakukan kegiatan favoritnya. Itulah beberapa cara memudahkan orangtua membentuk pribadi anak yang teratur. Karakter disiplin dan teratur merupakan hal positif yang sangat penting dimiliki dalam hidup sehingga harus diajarkan sejak dini pada anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top