Parenting

Anak Balita Suka Berteriak untuk Menarik Perhatian, Ketahui Penyebab Lain dan Solusinya

Anak Bunda suka berteriak? Apalagi di depan orang banyak? Satu hal penting bagi orangtua, jangan marahi ia, saat berteriak. Bukannya reda, teriakannya akan semakin menjadi malah tambah kencang.

Satu hal yang Bunda perlu cari tahu, pasti ada penyebabnya kenapa anak selalu berteriak. Setelah mengetahui penyebabnya, Orangtua pasti akan mudah menenangkan dan mengajarkan anak cara mengatasi amarahnya.

Problem anak balita suka berteriak dan solusinya memang sangat penting untuk dipahami agar para orangtua tahu cara menangani anak yang berteriak khususnya di depan umum.  Yuk simak penyebab dan solusi untuk anak yang suka berteriak: 

Inilah Penyebab Anak Balita Suka Berteriak yang Harus Orangtua Ketahui

Ada banyak faktor penyebab yang membuat anak menjadi suka berteriak tanpa malu di depan banyak orang. Pada dasarnya itu adalah salah satu cara mereka untuk mengekspresikan emosinya. Karena kesulitan mengungkapkan melalui kata, maka mereka pun akhirnya berteriak. 

1. Anak Berteriak Karena Ingin Mendapatkan Perhatian

Salah satu faktor penyebab anak suka berteriak di depan orang banyak adalah karena ingin mendapatkan perhatian. Cara ini juga sering mereka pakai sebagai senjata untuk memperoleh apa yang diinginkannya ketika dilarang oleh orangtuanya sendiri. 

Sehingga orangtua terhindar dari rasa malu, akhirnya luluh juga dan segera mengabulkan apa yang menjadi keinginan anaknya. Namun, jika hal ini terus dibiarkan setiap hari maka mereka akan mengandalkan cara berteriak untuk menjadi senjata ketika merengek meminta sesuatu. 

2. Anak Meluapkan Emosi dengan Cara Berteriak

Anak-anak juga perlu untuk meluapkan emosi dan perasaannya, salah satunya adalah dengan cara berteriak. Terlebih lagi untuk balita usia 1 – 2 tahun yang notabene kosakatanya masih sangat terbatas. Sehingga mereka mengandalkan menangis atau berteriak untuk mengungkapkan emosi di dalam dirinya. 

Sementara itu, orang dewasa terkadang tidak mengerti dengan keinginan anak karena tidak paham dengan kosakata yang mereka ucapkan. Karena tak kunjung dituruti, akhirnya anak-anak pun berteriak agar orang tuanya mau mengabulkan keinginan sang anak. 

3. Anak Berteriak Karena Lingkungan di Sekitar Bising

Anak juga bisa terganggu ketika lingkungan di sekitarnya bisnis sehingga memicu mereka untuk berteriak. Mereka terpaksa berkomunikasi dengan cara tersebut karena ingin menyamakan volume suara tinggi yang ada di sekitarnya. 

Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui karakter anak dan menjauhkan dari kebisingan ketika mereka menginginkan sesuatu. Sehingga nantinya bisa lebih paham bagaimana cara menghadapi anak yang berteriak di sekitar lingkungan yang bising. 

4. Anak Itu Peniru Ulung, Dia Berteriak Karena Meniru Orang di Sekitarnya

Apa yang dilakukan oleh sang anak dengan berteriak-teriak bisa jadi mereka sebenarnya sedang meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Karena bagaimanapun juga usia anak balita adalah usia yang sedang senang-senangnya meniru. Mereka dengan mudah menyerap apa yang terjadi di sekitarnya. 

Pengaruh lingkungan sekitar yang senang berteriak seperti orang tua yang bertengkar atau marah-marah juga akan mempengaruhi kebiasaan anak. Mereka bukan tidak mungkin akan meniru dan melakukan hal yang sama saat keinginannya tidak dikabulkan. 

Tips Mengatasi Anak Balita yang Suka Berteriak

Sebagian orangtua mungkin ada yang reflek dan dengan spontan langsung memarahi anaknya ketika mereka berteriak. Karena terkadang anak langsung berteriak kencang karena ingin menyampaikan sesuatu namun tidak bisa karena terbatas kosa kata yang mereka kuasai. Berikut ini beberapa tipsnya:

1. Beri Anak Kesibukan Agar Mereka Lupa Apa yang Menyebabkan Mereka Marah

Agar anak-anak berhenti berteriak, Bunda bisa memberikan mereka kesibukan agar lupa dengan apa yang menyebabkan mereka marah. Contohnya seperti memberikan mainan, mengajak anak menggambar, mewarnai, atau aktivitas seru dan menarik lainnya. 

Jika di tempat umum, misalnya saat berbelanja maka Bunda bisa membuat anak fokus dengan kegiatan untuk mencari barang yang akan dibeli dibandingkan membiarkan mereka berteriak. Usahakan untuk tidak langsung mengikuti keinginannya dan ajak beraktivitas dengan mencari barang tertentu. 

2. Ini Penting Dilakukan Oleh Orangtua : Pahami Perasaan Anak

Pada dasarnya, anak berteriak karena ingin mencari perhatian atau meluapkan emosinya. Sebagai orang tua, tentu kita harus memahami perasaan mereka. Tanyakan pada diri sendiri apakah selama ini sudah cukup memberikan perhatian untuk anak. Ajak mereka ngobrol dan berdiskusi. 

Contohnya, ketika anak tiba-tiba berteriak di keramaian, mungkin karena mereka merasa penat, sesak, dan pusing karena ingin segera keluar dari tempat tersebut. Jika anak tidak ada kegiatan kemudian berteriak, bisa jadi karena bosan sehingga beri mereka aktivitas baru. 

3. Pastikan Kebutuhan Anak Terpenuhi Sebelum Keluar Rumah

Sebisa mungkin jangan mengajak anak saat mereka dalam keadaan perut kosong, kurang tidur, dan sedang menahan buang air. Karena kondisi tersebut akan membuat mereka tidak nyaman sehingga spontan anak-anak akan berteriak. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami kebutuhan anak. 

Penuhi terlebih dahulu kebutuhan anak seperti makan dan minum sebelum mengajak ke luar rumah. Jika masih dalam keadaan mengantuk maka jangan terlalu dipaksakan karena khawatir mereka akan rewel saat dalam perjalanan. Jika terpaksa harus mengajak keluar maka bawa bekal yang cukup. 

4. Menghadapi Anak Berteriak, Jangan Langsung Dimarahi

Memarahi anak yang berteriak ibarat menyiram api dengan bensin artinya sia-sia jika ingin mendiamkan anak dalam kondisi seperti itu dengan marah-marah. Tak bisa dipungkiri bahwa berteriak adalah ungkapan emosi yang negatif wujud dari luapan emosi dalam diri anak-anak. 

Oleh karena itu, Bunda juga harus banyak bersabar dan jangan mudah emosi saat menghadapi anak yang berteriak. Tarik nafas dalam-dalam dan tegur anak baik-baik. Tenangkan mereka agar berhenti berteriak dan tanyakan apa yang menjadi keinginannya. 

Terkadang memang tidak mudah untuk menghadapi anak yang berteriak dan harus banyak-banyak bersabar. Itulah tantangan menjadi orang tua dan bagaimanapun juga harus mampu untuk mengatasi problem tersebut tanpa membuat trauma sang anak. 

Problem anak balita suka berteriak dan solusinya bisa Anda coba saat menghadapi kondisi tersebut. Namun, pastikan untuk memahami lebih dalam tentang perasaan sang anak agar bisa memberikan perlakuan yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Perkembangan Bayi Bicara dan 5 Tips Mengatasi Gangguan Speech delay?

Gangguan komunikasi dan bahasa pada anak yang biasa dikenal dengan istilah speech delay memang bisa dialami oleh sebagian anak. Dalam perkembangan bicara, anak mengalami tahapan pada fase usia tertentu. Sehingga orangtua bisa mengetahui apakah si kecil tergolong mengalami gangguan atau tidak. 

Tahapan Perkembangan Bicara dan Bahasa yang Normal

Melihat setiap perkembangan anak menjadi momen yang paling berharga, termasuk dalam hal berbicara. Hal ini sangat penting untuk mengetahui apakah anak Anda masih dalam tahap normal atau mengalami gangguan hingga membutuhkan bantuan ahli. Berikut ini tahapan yang perlu diketahui:

  1. Sebelum 12 Bulan

Saat si kecil usianya belum sampai 12 bulan, perkembangan yang akan dialaminya adalah mengoceh atau babbling sebagai tahap awal. Jika bayi sudah berusia sekitar 9 bulan, mereka biasanya sudah mulai menggunakan nada berbeda untuk berbicara seperti mengucapkan “mama” atau “dada”.

Meskipun belum paham sepenuhnya arti dari kata yang diucapkan, anak sudah mulai mengoceh dengan kombinasi vokal dan konsonan yang mudah diucapkan. Karena pada umumnya anak di usia sebelum 12 bulan sudah mulai tertarik pada suara. 

  1. Usia 12 – 15 Bulan

Saat memasuki usia 12 – 15 bulan, variasi babbling mereka setidaknya sudah semakin banyak dengan minimal 1 – 2 kata yang dimengerti. Anak di usia ini juga sudah bisa mengerti kata atau kalimat yang mengandung petunjuk seperti “Tolong berikan mainannya!” atau “Matanya mana?”

Mereka biasanya sudah bisa merespon kalimat instruksi tersebut meskipun belum mampu untuk mengucapkan dengan jelas dalam bentuk kata-kata. Ketika diminta untuk menunjukkan posisi mata, mereka pun bisa melakukannya dengan baik. 

  1. Usia 18 – 24 Bulan

Kosakata yang dikuasai anak pada saat memasuki usia 18 – 24 bulan semakin banyak sekitar 20 – 50 kata. Mereka pun harusnya sudah mulai belajar mengkombinasikan dua kata seperti “buku baru”. Di saat usia ini, Bunda juga sudah bisa memberikan kalimat perintah untuk meminta tolong sesuatu. 

  1. Usia 2 – 3 Tahun 

Seiring bertambahnya usia si kecil, koleksi kosakata yang dikuasai mereka pun semakin meningkat. Setidaknya anak sudah bisa mengkombinasikan tiga kata atau lebih menjadi sebuah kalimat, mampu mengidentifikasi warna, paham konsep deskriptif, dan mengerti berbagai kalimat perintah. 

Tips Mengatasi Gangguan Komunikasi dan Bahasa Pada Anak dan Solusinya

Jika saat memasuki usia tersebut di atas kemampuan bicara dan bahasa si kecil masih belum memenuhi tahapan perkembangan secara normal, bisa jadi anak tersebut mengalami gangguan. Cakupannya pun cukup luas baik dari segi bahasa, artikulasi, afasia, dan lain sebagainya. 

  1. Ajak Anak Komunikasi Dua Arah

Komunikasi dua arah dengan si kecil sangat diperlukan agar ada interaksi dan respon yang nantinya dilakukan oleh anak. Meskipun mereka belum bisa mengeluarkan kata-kata dan belum paham dengan apa yang dibicarakan, tetap ajak anak berbicara dan ngobrol. Biasanya akan merespon dengan tertawa.

Tetap gunakan bahasa yang baik dan santun saat mengajak anak berbicara karena bisa jadi kata-kata tersebut akan selalu direkam hingga mereka kelak bisa berbicara. Ucapkan bahasa yang jelas dan jangan dibuat-buat dengan bahasa bayi pelafalannya agar nanti anak bisa mengucapkan kata dengan baik.

  1. Mengulang-ulang Kata yang Anak Pelajari

Mengajarkan anak agar bisa berbicara dan mengucapkan kata memang butuh proses. Tidak apa-apa meskipun harus mengulang kata terus-menerus karena bisa jadi hal tersebut dapat mengatasi gangguan bahasa pada mereka. Cara ini juga dapat melatih anak mengucapkan kata dengan benar. 

Jika Bunda juga rajin mengulang kata yang telah anak pelajari, kosakata yang mereka kuasai pun akan semakin banyak. Anak juga akan merasa dihargai ketika orang tuanya mengatakan kembali bahasa yang baru saja mereka ucapkan dan akan terus termotivasi untuk belajar kosakata baru. 

  1. Menghafal Lirik Lagu dengan Bernyanyi

Menghafal kosa kata melalui lirik lagu saat bernyanyi biasanya lebih mudah dilakukan oleh si kecil. mereka juga cenderung lebih senang mendengarkan musik dan suara meskipun belum bisa berbicara. Bernyanyi juga menjadi cara yang menyenangkan saat mengajari anak bahasa dan kosakata baru. 

Mereka akan meresponnya dengan antusias dan tidak terpaksa saat melakukannya. Usahakan untuk mengajak anak menyanyikan lagu anak-anak. Bunda bisa mengajak anak bernyanyi di rumah dan menjadikan cara ini sebagai stimulan agar mereka terus semangat menghafal lirik/menambah kosakata. 

  1. Membacakan Dongeng atau Cerita

Biasakan untuk membacakan dongeng atau cerita sebelum mereka tidur. Bacakan buku yang memiliki gambar menarik dan kata-kata sederhana agar mereka lebih mudah memahaminya. Gambar yang lucu dan ilustrasi menarik cenderung lebih mereka sukai. 

Dengan semakin sering membacakan cerita untuk anak, mereka pun akan merekam kosakata baru yang didengar. Anak pun akan lebih mudah mengucapkan kata dengan jelas saat usianya sudah memasuki tahap perkembangan ini.  

  1. Terapi

Saat Bunda menyadari bahwa si kecil mengalami masalah atau gangguan dalam perkembangan bicara dan bahasanya, maka sudah saatnya untuk memberikan terapi yang tepat. Tidak perlu gengsi karena bisa jadi itu adalah cara yang memang dibutuhkan oleh anak. 

Semakin menunda terapi takutnya akan menimbulkan masalah yang semakin parah. Periksakan ke dokter dan jalani apa yang disarankan oleh ahli demi kebaikan si kecil. Gangguan komunikasi dan bahasa pada anak dan solusinya di atas bisa Bunda praktekkan untuk mengantisipasi dan mengatasi speech delay. Berikan yang terbaik untuk si kecil agar mereka bisa mengalami tumbuh kembang yang normal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Takut Pada Kerumunan? Jangan-jangan Kena Enochlophobia, Ini 7 Tips Mengatasinya!

Pernahkah Bunda melihat seorang anak mengalami ketakutan yang berlebihan atau tidak masuk akal ketika sedang berada di keramaian atau tempat umum? Jika iya, mungkin Si Kecil memiliki gejala enochlophobia. 

Kondisi seperti ini dikenal dengan istilah enochlophobia atau fobia keramaian. Bagi orangtua yang mengalami problem anak balita yang takut pada kerumunan, tentu membutuhkan solusi yang tepat untuk menanganinya. 

Memahami Apa Itu Enochlophobia

Kasus enochlophobia bisa terjadi pada sebagian balita yang merasa tidak nyaman berada di kerumunan dengan banyak orang. Tak heran jika anak-anak yang mengalami kondisi seperti ini akan lebih suka menyendiri di kamar dan hanya berhubungan dengan anggota keluarga yang sudah dipercaya. 

Anak mengalami kecemasan dan ketakutan yang berlebihan saat bertemu dengan orang banyak sehingga membuatnya tidak nyaman dan rewel. Penyebab pasti dari fobia ini memang belum benar-benar diketahui hingga saat ini. Beberapa ahli menduga ada keterkaitan dengan faktor psikologis. 

Faktor lain yang turut andil mempengaruhi perilaku anak hingga fobia pada keramaian seperti trauma masa lalu, gangguan kepribadian, atau faktor keturunan. Fobia seperti ini juga sering dialami oleh penderita yang mengalami serangan panik atau gangguan kecemasan seperti anxiety disorder. 

Problem Anak Balita yang Takut Pada Kerumunan dan Solusinya

Terkadang sebagian anak tiba-tiba merasa takut akan kerumunan tanpa alasan yang jelas. Namun, ada juga yang takut karena merasa panas, sumpek, dan tidak nyaman hingga akhirnya menimbulkan gangguan kecemasan. Setidaknya ada beberapa gejala dan tanda fobia kerumunan yang perlu orangtua ketahui :

  • Merasa cemas ketika berada di lingkungan yang menurut sang anak tidak aman
  • Enggan meninggalkan rumah atau mendatangi tempat yang asing
  • Percaya diri langsung hilang saat berada di kerumunan
  • Selalu menghindar ketika diajak pergi keluar rumah

Ketika anak berada di dalam situasi yang membuatnya stress, maka ia akan  menunjukkan gejala fisik seperti dada berdebar, jantung berdetak kencang, sesak nafas, hingga serasa ingin pingsan. Jika anak sudah menunjukkan gejala ini, sebaiknya segera diobati karena bisa mempengaruhi kualitas hidup mereka. 

Tips Mengatasi Anak Balita Takut Kerumunan

Orangtua tidak perlu terlalu cemas berlebihan karena jika dididik dan dibina dengan baik, fobia tersebut perlahan bisa hilang dan anak tumbuh dengan penuh percaya diri. Tinggal bagaimana orangtua membiasakan anak agar jangan sampai trauma dan takut lagi di kerumunan. 

  1. Mengajarkan Kepada Anak Untuk Mengenali Tanda-tanda Keramaian

Orangtua harus mulai mengajarkan kepada anak agar mereka mengenali tanda-tanda kerumunan yang stabil dan tidak stabil atau yang membahayakan dan tidak berbahaya. Kerumunan yang membahayakan pada umumnya jika berada di sekelompok orang yang rusuh hingga membuat kekacauan. 

Kita harus memberikan pemahaman secara perlahan bahwa tidak semua kerumunan berbahaya. Ajarkan kepada mereka untuk menghindari keramaian yang berbahaya saja dan beri tahu bahwa kebanyakan orang aman. Sehingga anak akan mulai mengurangi rasa takutnya ketika diajak bepergian. 

  1. Melatih Anak Agar Berpikir Positif Tentang Keramaian

Jika membicarakan tentang keramaian atau kerumunan orang, ceritakan tentang hal yang positif. Sehingga anak pun, akan mulai berkurang pikiran negatif terhadap ketakutan dan kecemasannya tersebut. Akhirnya lama-lama mereka sendiri yang akan memutuskan pemikiran negatifnya. 

Pelan-pelan orangtua bisa melatih agar anak terbiasa dengan keramaian melalui kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Seperti nonton film bareng, arisan, pengajian, atau kumpul bersama keluarga lainnya. setelah terbiasa dengan keluarga sendiri, nantinya anak tidak takut lagi jika diajak keluar.   

  1. Mengatur Waktu Pergi

Saat mengajak pergi anak, orangtua harus memahami kondisi dan mood-nya pada saat itu. Jangan terlalu memaksakan kehendak jika anak keberatan untuk diajak ke keramaian. Namun, sebagai orangtua bisa mengakalinya dengan memilih waktu yang tepat saat mengajak pergi sang anak. 

Pilih waktu di mana tidak banyak orang pada saat tersebut. Misalnya pergi ke supermarket pada saat malam hari atau menghindari hari saat ada diskon dan promo. Ingatkan selalu kepada anak untuk fokus jika merasa kewalahan dengan kecemasan yang dialaminya. Ajarkan mereka bagaimana menarik napas dalam-dalam. 

  1. Ajak Meditasi Pada Saat Senggang

Meditasi tidak hanya bermanfaat untuk orang dewasa saja, begitupun untuk anak kecil. Berlatih meditasi dapat mengajarkan anak untuk membangun toleransi agar tidak stress dan belajar bagaimana mengurangi pikiran yang penuh kecemasan atas prasangka negatif yang terlalu dipikirkannya. 

Lakukan meditasi di saat senggang bersama sang anak. Beritahu pelan-pelan apa saja manfaat meditasi dan bagaimana cara melakukannya. Dalam hal ini orangtua harus memberikan contoh terlebih dahulu sampai akhirnya si kecil merasa tenang dan bisa mengatasi kecemasannya. 

  1. Sibukkan Anak Dengan Kegiatan Bermanfaat

Memberi kesibukan kepada anak dengan kegiatan bermanfaat setidaknya akan membantu mereka untuk melupakan sejenak tentang kecemasan dan pikiran negatif yang dialaminya. Terlebih lagi jika terpaksa harus berada di tempat umum. orangtua bisa memberiny headphone atau ponsel. 

Biarkan anak sibuk mendengarkan lagu atau musik kesukaannya agar mereka tidak terlalu memikirkan hal-hal negatif saat berada di tempat ramai. Bisa juga dengan membawakan mereka mainan kesukaan agar si kecil merasa nyaman. 

  1. Tetap Tenang dan Jangan Ikut Panik

Ketika si kecil menghadapi situasi yang membuat mereka merasa cemas berlebihan, pastikan untuk membuat mereka tetap tenang menghadapinya. orangtua pun harus tenang dan jangan ikutan panik. Lakukan dengan perlahan-lahan dan coba kendalikan diri. 

Problem anak balita yang takut pada kerumunan dan solusinya di atas bisa orangtua coba untuk praktekkan terutama ketika membawa anak keluar rumah dan banyak kerumunan. Anak hanya merasa tidak nyaman dengan keramaian, namun lama-lama mereka akan terbiasa dengan sendirinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Suka Menggigit Karena Tidak Pecaya Diri, Pelajari Penyebab dan Cara Mengatasi Anak Suka Menggigit

Problem anak balita yang suka menggigit bisa menjadi bentuk ekspresi gemas atau karena ada faktor penyebab lain yang mendasarinya. Pada umumnya kebiasaan menggigit pada anak-anak masih dianggap wajar. Namun, terkadang menimbulkan kekhawatiran tersendiri jika terlalu sering dilakukan.  

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh M.O.Marouane, menggigit kuku selain dapat menimbulkan infeksi dan perdarahan di kuku berbagai kemungkinan ini juga dapat terjadi:

  • Merusak gigi dan gusi anak, susunan gigi tidak rapi, atau gigi condong ke depan,
  • Infeksi bakteri yang melibatkan peradangan kulit di sekitar jari,
  • Kondisi di mana darah terkumpul di bawah kuku menyebabkan banyak rasa sakit (subungual infection),
  • Infeksi jamur pada kuku (onychomycosis),
  • Kerusakan pada bantalan kuku (onycholysis).

Problem Anak Balita yang Suka Menggigit dan Solusinya

Pada dasarnya, menggigit merupakan respon wajar yang dilakukan oleh anak balita dalam masa perkembangannya. Kebiasaan ini biasanya akan berlangsung saat anak berusia 12 – 36 bulan. 

Penyebab pasti menggigit kuku masih diperdebatkan.  Ada beberapa faktor penyebab mereka memiliki kebiasaan suka menggigit. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Karena Tidak Percaya Diri 

Penyebab pasti menggigit kuku masih  memang masuk diperdebatkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi meliputi faktor psikologis. Menggigit kuku karena tidak percaya diri bisa menjadi alasan anak menggigit kuku. Misalnya saat diminta guru untuk bernyanyi di depan kelas, untuk mengurangi stres maka anak Bunda mulai menggigit kukunya.

  1. Bisa Jadi Karena Sedang Tumbuh Gigi

Salah satu pertanda bahwa si kecil sedang tumbuh gigi adalah mereka suka memiliki kebiasaan baru suka menggigit. Hal ini dikarenakan saat gigi mulai tumbuh, akan timbul rasa sakit. Terlebih lagi anak di bawah usia tiga tahun merupakan fase oral dimana anak senang mengeksplorasi menggunakan mulut. 

Karena tidak bisa menahan rasa sakitnya saat gigi beranjak tumbuh, maka mereka bisa dengan mudah menggigit apa saja yang ada di sekitarnya. Terlebih lagi jika ada benda yang menarik perhatiannya. Tak jarang ada yang sampai menggigit anggota tubuh orang tuanya. 

  1. Rasa Penasaran dan Ingin Tahu yang Tinggi

Saat usia masih balita, anak-anak biasanya memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar terhadap segala sesuatu. Salah satunya adalah rasa penasaran bagaimana reaksi yang akan muncul ketika si kecil menggigit seseorang baik teman maupun orang tuanya. 

  1. Menunjukkan Ekspresi Marah, Kesal, dan Gemas

Saat usia masih di bawah lima tahun, anak memiliki keterbatasan perbendaharaan kata sehingga kesulitan untuk mengungkapkan emosi atau perasaannya. Seringkali mereka menggigit hanya karena ingin meluapkan emosi kesal, marah, dan merasa diabaikan. Tak jarang mereka melakukannya karena gemas.  

  1. Mencari Perhatian

Anak-anak memang suka mencari perhatian orang-orang sekitarnya. Sehingga mereka akan mencari segala cara agar diperhatikan, salah satunya dengan menggigit orang lain. Dengan demikian orang yang ada di sekitarnya akan memberikan perhatian kembali kepada si kecil. 

Tips Mengatasi Anak Suka Menggigit

Sebenarnya, kebiasaan anak mulai menggigit adalah hal yang wajar dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Namun, demi tumbuh kembang si kecil dan agar tidak menjadi kebiasaan maka penting sekali untuk mengatasinya dengan cara yang tepat. Berikut ini langkah-langkah yang bisa Orangtua lakukan:

  1. Tetap Sabar dan Jangan Langsung Memukul atau Memarahi Anak

Tindakan menggigit memang salah apalagi jika sampai menimbulkan luka pada anggota badan orang lain. Namun, jangan sampai Orangtua kehilangan kesabaran dan langsung memarahi anak begitu saja dengan berteriak apalagi memukul. Karena hal tersebut akan membuat anak semakin frustasi. 

Bukannya menyelesaikan  masalah, anak justru akan ketakutan dan menangis. Padahal mungkin dibalik perilakunya yang suka menggigit ada alasan yang mendasari mereka hingga melakukan hal tersebut. Dalam hal ini, sebagai orang tua Orang tua harus memahami kemauan si kecil. 

  1. Mengajak Berkomunikasi

Anak sebenarnya bisa diajak bicara dan  komunikasi dengan baik-baik tanpa harus dimarahi. Jelaskan kepada mereka bahwa menggigit itu adalah kebiasaan yang kurang baik. Ajarkan dengan kata-kata lembut dan menenangkan agar si kecil tidak ketakutan saat diinterogasi. 

Jika memang tujuan si kecil menggigit adalah untuk meluapkan emosinya, maka sampaikan bahwa mengutarakan perasaan itu lebih baik jika dibandingkan dengan gigitan. Ajar anak untuk meminta maaf kepada orang lain yang digigitnya karena tindakan tersebut merupakan suatu kesalahan. 

  1. Jaga Mood Agar Tetap Baik

Pada dasarnya, salah satu alasan utama anak menggigit adalah karena ingin mencari perhatian. Mereka melakukan hal ini biasanya karena mood sedang tidak baik atau ada sesuatu yang membuatnya merasa kesal. 

Oleh karena itu, penting untuk menjaga mood anak agar tetap baik dan pastikan semua kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Mulai dari makan, minum, hingga cukup tidur. Jika kebutuhan sudah terpenuhi, maka mereka pun akan lebih terjaga mood-nya sehingga tidak serta merta menggigit orang lain. 

  1. Berikan Perhatian Kepada Anak

Sesibuk apapun pekerjaan Orang tua baik di rumah maupun di kantor, penting sekali untuk tetap memberikan perhatian kepada si kecil. Anak yang suka menggigit bisa jadi karena kurang perhatian dan ingin lebih diperhatikan oleh orang tua maupun lingkungan sekitarnya. 

Perhatian yang cukup dari orang tua untuk anak-anaknya sangat penting untuk tumbuh kembang si kecil. Apalagi saat mereka sedang di fase akan mendapat adi baru, masuk sekolah, dan lain sebagainya. Anak akan meninggalkan kebiasaan menggigit dengan sendirinya ketika diperhatikan lebih. 

  1. Bawakan Mainan atau Teether

Saat Anak sedang tumbuh gigi, berikan mainan yang bisa digigit. Saat ini sudah banyak mainan yang memang khusus untuk digigit seperti teether untuk mencegah si kecil menggigit orang lain. Fungsi dari mainan jenis ini juga untuk membantu meredakan rasa gatal dan tidak nyaman saat tumbuh gigi. 

Dengan cara ini, anak akan lebih fokus dengan mainnya dan lupa tentang kebiasaannya menggigit orang lain. Perlahan ketika mereka sudah bisa mengerti dan dinasehati, maka kebiasaan suka menggigit pun akan hilang dengan perlahan. Jadi, Orang tua tidak perlu terlalu khawatir lagi. 

Problem anak balita yang suka menggigit dan solusinya di atas bisa Orang tua praktekkan di rumah ketika si kecil memasuki fase ini. Bisa jadi mereka memang sedang membutuhkan perhatian lebih atau merasa tidak nyaman karena akan tumbuh gigi. Orang tua yang paling tahu tentang perkembangan mereka. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top