Parenting

Anak Balita Perlu Diarahkan Mengelola Emosi karena Berpengaruh pada Kecerdasannya

Anak-anak biasanya belum memiliki ‘vocabulary’ untuk mengemukakan perasaan mereka, sehingga mereka mengomunikasikan perasaan mereka dengan cara-cara lain. Terkadang anak-anak dapat mengekspresikan perasaan mereka melalui perilaku yang tidak tepat dan menimbulkan masalah.

Salah satu tugas utama orang tua adalah melatih anak agar mampu mengendalikan emosinya dengan baik. Kemampuan mengendalikan emosi sangat penting untuk meningkatkan kecerdasan intelektual anak. Karena jika emosi anak masih naik turun, maka intelektual anak juga bisa naik turun.

Dilansir dari halaman Mind Tools, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menyadari bagaimana cara mengelola emosi. Kemampuan mengendalikan emosi yang baik akan melatihnya menjadi lebih siap menghadapi berbagai hal yang tak terduga di kehidupan sekolah, selain itu mengendalikan emosi juga dapat membuat anak menjadi lebih berprestasi.

Anak perlu diarahkan agar dia dapat mengendalikan dan mengembangkan emosinya.

Perkembangan emosi anak akan berpengaruh pada kecerdasannya ketika dewasa

Menurut Children’s Therapy and Family Resource Centre, perkembangan emosi anak adalah salah satu tahap tumbuh kembangnya untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengendalikan emosinya sendiri. Dalam perkembangan ini, anak belajar menjalin hubungan dengan teman dan lingkungannya.

Menjalin hubungan sosial dengan teman dan lingkungan juga merupakan sebuah proses untuk belajar belajar berkomunikasi, berbagi, dan berinteraksi. Kemampuan sosial dan emosional anak yang baik, akan berpengaruh pada kecerdasannya ketika dewasa nanti.

Pentingnya mengarahkan perkembangan emosi pada anak agar mampu mengembangkan citra diri yang positif

Kemampuan emosional menitikberatkan pada kondisi anak untuk dapat mengenali, mengekspresikan dan mengelola rentang emosi. Anak yang mampu mengelola perasaan nantinya akan mampu mengembangkan citra diri yang positif dan jadi pribadi yang percaya diri. Sejak bayi, seseorang bisa mengenali emosi seperti bahagia, sedih, takut, dan marah.

Lalu saat menjadi anak-anak, emosi ini pun berkembang menjadi rasa malu, terkejut, bersalah, bangga dan empati. Seiring dengan pengalamannya, emosi ini juga akan berkembang dan tiap anak berbeda pula cara penanganannya.

Perkembangan emosi anak usia 1-5 tahun

Setelah mengetahui apa itu perkembangan emosi pada anak. Serta pentingnya mengarahkan perkembangan emosi pada anak. Orang tua rasanya perlu pengetahun tahapan perkembangan emosi anak usia 1-5 tahun

Usia 1-3 Tahun, perkembangan emosi anak biasanya cukup dinamis dan belum stabil

Pada rentang usia 1-3 tahun, perkembangan emosi anak biasanya cukup dinamis dan belum stabil, karena tantrum masih menjadi kebiasaannya. Jika melihat grafik perkembangan anak Denver II, terlihat bahwa perkembangan emosi dan sosial anak usia 24 bulan atau 2 tahun idealnya adalah sudah bisa menyikat gigi dengan bantuan orang lain, mencuci tangan dan mengeringkannya sendiri.

Ketika usia anak 2 tahun 5 bulan atau 30 bulan, ia seharusnya sudah bisa menyebut nama teman, memakai dan melepaskan pakaian sendiri. Selain itu, usia 2 tahun adalah masa-masa ketika anak mulai belajar untuk mandiri, melakukan banyak hal sendiri yang berhubungan dengan perkembangan emosionalnya.

Rasa penasaran anak juga akan meningkat cukup tajam di usia 2 tahun. Sebagian besar anak mungkin akan menghabiskan waktunya untuk mencoba memahami sejauh mana kemampuan sosial dan lingkungan. Pendampingan orangtua sangat penting dalam fase ini. Jadi, meski anak sedang ingin mencoba banyak hal sendiri, tetap temani ia untuk memberinya bantuan agar perkembangan emosinya tetap terpantau.

Usia 3-4 Tahun, anak perlahan mulai mengenali emosinya

Di usia 3-4 tahun, anak perlahan mulai mengenali emosinya. Usia 3 tahun adalah masa ketika anak mulai mengerti dan mengendalikan emosi yang ada di dalam dirinya. Misalnya, ketika ia menemukan sesuatu yang lucu, ia sangat histeris akan hal itu. Begitu juga ketika ia menemukan hal yang membuatnya marah, teriakan dan tangisan akan menjadi pelampiasan emosinya.

Usia 4-5 Tahun, anak sudah lebih mengenal dan mengendalikan emosinya sendiri

Di rentang usia 4-5 tahun, anak sudah lebih mengenal dan mengendalikan emosinya sendiri. Bahkan, ia juga sudah mampu menenangkan teman sedang bersedih dan bisa merasakan yang dirasakan temannya. Namun, bukan berarti ia selalu bisa kooperatif. Sisi egoisnya terkadang juga bisa hadir ketika suasana hatinya kurang baik.

Di usia ini juga selera humor anak mulai muncul dan ia mulai berusaha melucu dalam beberapa kesempatan. Misalnya dengan melakukan hal konyol untuk membuat orang lain tertawa. Di usia 4-5 tahun ini, anak sedang gemar menghibur dengan cara bicara yang berbeda-beda dan unik. Sebagai contoh, ia gemar membuat wajah unik atau bertingkah lucu yang bisa menarik perhatian orang lain.

Langkah – lahkah melatih anak meregulasi emosinya

Memiliki anak dengan kecerdasan emosional memang memerlukan tahapan dan waktu yang tidak sebentar. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melatih anak meregulasi emosinya.

Berikut ini beberapa langkah untuk membantu anak memiliki regulasi emosi:

  • Kenali emosi/perasaan diri (name the feeling)
  • Kenali emosi/perasaan orang lain
  • Hadir dan dengarkan perasaan anak
  • Menanggapi dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan anak
  • Tidak bereaksi negatif saat anak rewel atau marah
  • Be a role model
  • Senang bermain dengan anak dan tertarik dengan aktivitas anak
  • Ajarkan teknik-teknik relaksasi (emotional toolbox)

Namun demikian, terkadang anak-anak dapat mengalami emosi yang negatif, yang terkadang menjadi ledakan emosi. Sebenarnya hal ini dianggap wajar.

Namun, ledakan emosi pada anak harus diwaspadai apabila:

  • Tantrum dan ledakan (outbursts) terjadi pada tahapan usia perkembangan di mana seharusnya sudah tidak terjadi, yaitu di atas usia 7-8 tahun
  • Perilaku anak sudah membahayakan dirinya atau orang lain
  • Perilaku anak menimbulkan masalah serius di sekolah
  • Perilaku anak memengaruhi kemampuannya bersosialisasi dengan teman, sehingga anak “dikucilkan” oleh teman-temannya
  • Tantrum dan perilaku anak telah membuat distress atau kesulitan dalam keseharian keluarga
  • Saat anak merasa tidak mampu mengendalikan emosi marahnya dan merasa dirinya “buruk”

Ada beberapa faktor penyebab masalah emosi yang terjadi pada anak, antara lain:

  • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
  • Kecemasan/anxiety
  • Trauma
  • Kesulitan belajar
  • Gangguan pemrosesan sensori (sensory processing issues)
  • Spektrum autisme
  • Sedikit mendapat kasih sayang dari keluarga maupun teman
  • Terlalu terikat dengan satu figur yang dominan

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Bunda, Lakukan Hal Ini Yuk Saat Kelepasan Memarahi Anak

marah pada anak

Niatnya mendidik anak dengan penuh kesabaran. Saat perilaku anak tak seperti yang diharapkan, bertekad untuk tidak mudah marah. Sayangnya kenyataan tak seperti yang diangankan. Di saat-saat tertentu malah kelepasan memarahi anak.

Ya, kita memang manusia biasa yang tak luput dari khilaf. Meski tahu benar bahwa memarahi anak untuk setiap perilaku negatifnya sering tidak efektif, tapi tetap dilakukan. Umumnya karena kita tidak sengaja. Setelah membentak, berteriak-teriak, atau bahkan memukul anak, baru deh sesal itu menyusup.

Psikolog anak dan remaja dari Klinik Kancil, Ratih Zulhaqqi, bilang manusiawi banget kok siapa pun marah. Setiap manusia pasti punya emosi. Ketika kita marah pada anak, hal itu tidak berarti kita adalah orang tua dengan kontrol diri yang rendah.

“Sering kali yang bikin impuls kontrol rendah dan langsung naik tone suaranya adalah ketika ada situasi yang bikin shock, misalnya ketika meliha perilaku anak yang tidak sesuai,” ujar Ratih dalam Instagram Live bersama Sayangi Anak beberapa wakti lalu.

Penyesalan berkepanjangan dan menilai diri sendiri buruk bukan langkah yang baik, Bun. Kata Ratih, hal itu justru akan mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan anak.

Lalu bagaimana ketika sesal muncul setelah memarahi anak? “Sebaiknya kita ganti dengan hal yang menyenangkan. Kita bisa menerapkan konsep 5:1. Maksudnya kita buat 5 kegiatan menyenangkan setelah marah satu kali pada anak,” tutur Ratih.

Dalam hidupnya, anak tidak bisa steril sekali dari emosi negatif. Nah, kegiatan 5:1 ini bertujuan untuk memberi tabungan emosi positif pada anak.

“Tabungan emosi positif yang banyak penting agar berkualitas saat menghadapi situasi tidak menyenangkan,” jelas Ratih.

Marah adalah salah satu emosi yang sering menyapa orang tua saat anak berperilaku tidak seperti yang diharapkan. Namun, satu hal penting yang perlu selalu kita ingat bahwa meskipun sedang marah, namun jangan diekspresikan dalam tindakan yang kontraproduktif. Ingat ya, Bunda, children see children do. Apa yang kita lakukan akan diingat dan dicontoh anak. Semoga kita sebagai orang tua konsisten memberikan teladan yang baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Menahan emosi itu sulit, Orangtua Sebaiknya Membiarkan Anak untuk Meluapkan Emosinya Asal Jangan Meluapkannya dengan kekerasan fisik

Menahan emosi adalah salah satu hal tersulit yang dilakukan orang terlebih anak kecil. Karena tak bisa menahan emosi banyak orang yang meluapkan kemarahannya dengan fisik.

Jika dari kecil anak sudah dibiasakan mengeluarkan emosinya dengan kata-kata atau verbal, maka diharapkan saat dewasa ia menjadi pribadi yang tidak asal main pukul saat sedang marah.

Ada hal-hal penting yang bisa diajarkan orangtua pada si kecil mengenai perasaannya yaitu: Anak mampu mengenali emosi yang dirasakannya, Anak mampu mengidentifikasi perasaan dan alasannya dan Anak mampu meluapkan emosinya dengan cara yang tepat dan benar

Jika anak memukul saat marah, maka orangtua bisa bilang ‘Itu namanya kamu marah dan tidak sepatutnya untuk memukul. Kamu boleh nangis atau teriak, tapi kamu tidak boleh menyakiti orang lain’.

Jika anak sedang sangat emosi misalnya ia bilang ‘Aku kesel banget ma, aku mau teriak’, sebaiknya orangtua membiarkan anak untuk teriak atau nangis tapi beri penjelasan pada anak jika habis teriak nanti ia tidak boleh kesal lagi.

Orangtua bisa memberikan beberapa solusi bagi anak jika ia sedang merasa sangat kesal atau sangat marah agar tidak memukul atau menyakiti orang lain seperti.

Agar tenang dan tak emosi, orangtua biasanya menarik nafas baru kemudia berbicara. Orangtua dapat mengajari anak untuk menarik napas dalam sebanyak 10 kali baru setelah itu berbicara.

Orangtua dapat juga mengajarkan belajar menenangkan diri. Hal ini akan mengajarkan kecerdasan emosi. Cara paling tepat untuk membuat anak tenang ialah Mama yang juga harus tenang dalam menghadapi anak yang sedang marah. Anak akan mencontoh bagaimana Mama menghadapi sesuatu.

Memeluk orangtuanya, bisa dengan cara memeluk ibunya. Pelukan merupakan ungkapan rasa sayang, rasa cinta dan bentuk kepedulian kita. Memeluk anak mereka adalah kebiasaan yang bisa memberikan kebahagiaan dan ketenangan.

Emosi yang dialami anak sebaiknya memang tidak diredam karena anak-anak boleh sedih, senang, marah atau kesal. Tapi orangtua sebaiknya memberikan kesempatan bagi anak untuk meluapkan emosinya dengan cara-cara yang tepat.

Selain itu orangtua harus konsisten dalam mengajarkan anak, sabar dan memiliki hati yang seluas samudera, karena terkadang orangtua suka ikut terbawa emosi meskipun itu adalah hal yang lumrah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top