Mom Life

Aktivitas Pindah Rumah Saat Sedang Hamil Ada Hubungannya dengan Kelahiran Bayi Prematur

adult-belly-body-54289

Saat hamil pertama kali, biasanya para orangtua baru mulai mempertimbangkan untuk mencari hunian baru yang mungkin lebih besar dan lebih nyaman. Setelah ketemu hunian yang cocok, Bunda dan Ayah pun mulai mempersiapkan proses pindahan. Tapi tahukah Bunda, melakukan aktivitas pindah rumah selama masa kehamilan membuat Bunda jadi lebih banyak bergerak. Kondisi ini ternyata berhubungan dengan kelahiran prematur pada bayi.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Epidemiology dan Community Health menganalisis data dengan melibatkan lebih dari 100 ribu responden wanita hamil di negara bagian Washington D.C., Amerika Serikat.

Para peneliti menemukan bahwa wanita yang pindah selama trimester pertama kehamilan, 42% lebih mungkin untuk melahirkan prematur (sebelum 37 minggu kehamilan) dan 37% lebih mungkin untuk memiliki bayi dengan berat lahir lebih rendah dari rata-rata, dibandingkan dengan wanita hamil yang tidak pindah rumah selama trimester pertama.

Namun, penelitian ini hanya menemukan hubungan dan tidak membuktikan bahwa pindah rumah menyebabkan kelahiran prematur. Mungkin ada faktor-faktor lain yang tidak dapat diperhitungkan oleh peneliti studi, seperti alasan untuk pindah, yang dapat memengaruhi risiko.

“Studi kami adalah langkah pertama yang baik dalam mengidentifikasi pindah rumah sebagai faktor risiko potensial yang layak diteliti lebih dalam, tetapi saya tidak berpikir kita cukup tahu pada titik ini,” ujar penulis utama studi Julia Bond, dari Departemen Epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Washington, kepada Live Science.

Studi lainnya menunjukkan laporan yang lebih detail. Peneliti menganalisisi informasi berdasarkan akta kelahiran bayi di wilayah tersebut dari tahun 2007 hingga 2014. Dari akta kelahiran melaporkan lamanya ibu tinggal di alamatnya saat ini, para peneliti dapat menentukan apakah dia pindah rumah selama trimester pertamanya.

Hasilnya, secara menyeluruh, sekitar 28.000 wanita yang pindah rumah selama trimester pertama dan sekitar 112.000 wanita yang tidak pindah rumah selama waktu itu. Dan diantara ibu hamil yang melakukan pindahan di rentang waktu trimester pertama, ternyata 9,1 persen melahirkan prematur (sebelum 37 minggu kehamilan).

Di antara mereka yang pindah selama trimester pertama, 9,1% melahirkan prematur (sebelum 37 minggu kehamilan), dibandingkan dengan hanya 6,4% dari mereka yang tidak pindah selama trimester pertama. Tak hanya itu, 6,4% dari ibu yang pindah rumah di trimestre pertama memiliki bayi yang dianggap mengalami BBLR atau berat badan lahir rendah, dibandingkan dengan 4,5% dari ibu-ibu yang tidak pindah selama trimester pertama.

Hanya saja, studi ini tak mengungkapkan lebih lanjut mengapa pindah rumah pada masa-masa trimester pertama dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah. Namun perlu disimak, Bun, sejumlah faktor menguatkan alasan adanya hubungan antara aktivitas pindah rumah dengan bayi lahir prematur. Termasuk gangguan terhadap perawatan kesehatan yang dialami selama pindah rumah, tekanan fisik atau tekanan emosional saat pindah rumah.

Bond mengatakan dia berharap penelitian selanjutnya dapat melihat lebih dekat pada berbagai alasan untuk pindah rumah. Antara lain seperti mencari rumah, adanya penggusuran atau situasi yang tidak aman. Studi selanjutnya diharapkan bisa memeriksa apakah faktor-faktor ini memengaruhi hubungan tersebut.

“Saya pikir itu akan membantu meningkatkan pemahaman kita tentang mengapa kita melihat hubungan antara perpindahan dan hasil kelahiran (prematur) yang merugikan ini,” kata Bond.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Mom Life

Jenis-Jenis Kontraksi Jelang Proses Bersalin yang Bunda Perlu Kenali

Tanda pasti hamil

Dalam proses kehamilan, salah satu tahapan yang tak mudah adalah Bunda harus mengalami proses kontraksi. Situasi ini datang biasanya ditandai dengan sakit perut yang melilit di area pinggang dan terjadi berulang setiap 5-8 menit.

Kendati terdengar menyakitkan, kontraksi memang membawa manfaat yakni menghasilkan hormon oksitosin yang memicu bayi keluar dari rahim. Sebab setiap perut berkontraksi, otot-otot rahim otomatis akan meregang dan melebar sehingga memberi jalan keluar untuk si kecil.

Namun tak jarang, ibu hamil bingung apakah gejala yang mereka alami sekadar kram perut biasa atau kontraksi yang sesungguhnya. Untuk itu, Bunda pun perlu mengenali apa itu kontraksi.

Kontraksi Braxton Hicks

Kontraksi yang satu ini memiliki sebuah gejala yang mirip dengan kontraksi persalinan, Bun. Bahkan tak jarang disebut kontraksi palsu karena bertujuan untuk menyiapkan mulut rahim untuk membesar dan meningkatkan aliran darah dalam plasenta, Bun.

Bun, biasanya kontraksi ini akan terjadi pada trimester kedua atau ketiga. Ada ciri-cirinya lho Bun, antara lain kontraksi yang tak teratur, bahkan sensasinya lebih ke arah tak nyaman, bukan yang menyakitkan. Umumnya kontraksi ini terjadi di sekitar pangkal paha atau di depan tubuh ibu hamil dan bisa diatasi dengan berjalan atau berbaring.

Kontraksi Persalinan Prodromal

Persalinan yang satu ini mengacu pada kontraksi kelahiran yang dialami beberapa minggu sampai beberapa jam sebelum melahirkan. Munculnya pun relatif teratur bahkan durasinya lebih lama dari kontraksi braxton-hicks. Tapi sekali lagi, kontraksi ini bukan pertanda kelahiran.

Menurut dokter, persalinan prodromal bisa membantu bayi berpidah dari posisi yang salah ke posisi yang benar, Bun. Ciri-cirinya antara lain seperti tidak ada perubahan serviks setelah 24-36 jam, berbaring tidak membantu kontraksi tersebut hilang, dan cenderung lebih kuat dan tidak sering terjadi.

Kontraksi Persalinan Prematur

Mengutip Kumparan.com, nama lain persalinan ini yaitu early labor, dimana ibu hamil berada di tahap mengalami kontraksi saat usia kandungan di bawah 37 minggu. Nah biasanya, kondisi serviks Bunda akan melebar sampai 6 sentimeter. Kontraksi ini biasanya terjadi karena kondisi kehamilan yang tidak normal, misalnya ibu mengalami suatu penyakit atau kelainan bentuk rahim, bahkan stress bisa jadi pemicunya nih Bun.

Bila Bunda mengalami ciri-ciri seperti merasakan sakit pada punggung, kesulitan bernapas saat kontraksi muncul, ada tekanan pada panggul, rasa sakit yang menjalar dari belakang hingga ke bagian depan, dan mengalami kram yang kuat, berarti Bunda wajib mengunjungi rumah sakit dan menghubungi bidan atau dokter.

Kontraksi Persalinan Aktif

Nah, bila kandungan memasuki usia 42 minggu, ibu hamil umumnya mulai mengalami kontraksi yang satu ini. Bunda perlu tahu, pada tahapan ini, serviks akan melebar bahkan mencapai 6 sentimeter yang artinya Bunda sudah siap melahirkan.

Gejala yang dialami adalah kontraksi terjadi setiap 5 menit sekali atau lebih sering, kontraksi berlangsung 60 detik atau lebih, rahim mulai tidak rileks, ada rasa sakit dan tekanan yang signifikan di punggung saat kepala bayi bergerak menuju jalan lahir. Selain itu, pada saat ini mungkin Anda akan merasa seolah-olah akan buang air besar dan merasa akan mendorong sesuatu keluar.

Tips untuk Bunda, cobalah catat beberapa kali kontraksi kelahiran terjadi dalam kurun waktu satu jam. Termasuk durasi dan intensitasnya. Kemudian cobalah untuk berbaring selama beberapa menit, apakah kontraksi membaik atau justru semakin sering. Selain soal durasi dan intensitas kontraksi, penting diingat bila air ketuban pecah disertai cairan berwarna hijau atau coklat, maka sudah saatnya Bunda ke rumah sakit.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Benarkah Bentuk Perut Ibu Hamil Tentukan Jenis Kelamin Bayi?

anticipation-belly-body-1376959 (1)

Sebagai seorang ibu, Bunda mungkin pernah mendengar beberapa mitos tentang bayi dalam kandungan. Mitos yang paling sering terdengar juga tentang jenis kelamin bayi yang bisa ditebak dari bentuk perut ibunya. Bunda sendiri apakah percaya dengan hal itu? Kendati sumber pastinya tak dapat dipastikan, kenyataannya banyak ibu yang percaya dengan mitos tersebut.

Misalnya, konon katanya bila perut bagian atas lebih besar maka bayi yang dikandung adalah perempuan. Sebaliknya, jika yang besar bagian bawah maka bayinya adalah laki-laki. Selain teori itu, ada juga yang mengatakan kalau perut ibu hamil melebar maka anaknya perempuan. Sementara, apabila perut ibu hamil lonjong ke depan maka ibu mengandung bayi laki-laki. Lantas, benar tidak ya anggapan tersebut?

Dikutip dari Kumparan.com, dalam bukunya yang berjudul Mitos Seputar Masalah Seksualitas & Kesehatan Reproduksi, dokter umum dr. Handrawan Nadesul dan dr. Kartono Mohamad menjelaskan bahwa kedua teori itu tidak benar. Sebab, bentuk dan tinggi perut ditentukan oleh otot perut, rahim dan bayi yang ada di dalamnya.

Sementara untuk perut yang besar di bagian bawah–dekat pelvis atau selangkangan, justru menandakan ibu hamil semakin dekat dengan waktu melahirkan. Bentuk perut yang lebar atau menonjol ke depan juga dipengaruhi oleh kandungan kemih dan posisi bayi di dalam perut.

Sementara mengenai tinggi atau rendahnya bentuk perut saat hamil lantaran dikarenakan bentuk tubuh serta riwayat kehamilan, Bunda perlu tahu lebih lanjut. Justru misalnya Bunda tengah mengandung anak kedua, otot perut sudah lebih kendur sehingga bentuk perut tampak lebih rendah. Dilansir BBC, sebuah penelitian menunjukkan rata-rata bayi laki-laki memang lebih berat daripada bayi perempuan saat lahir. Sehingga logikanya, perut ibu hamil cenderung lebih besar saat mengandung bayi laki-laki.

Jadi jika suatu waktu keluarga ataupun tetangga melihat bentuk perut Bunda dan mengomentari jenis bayi di dalam kandungan, jangan percaya sepenuhnya ya. Berikan saja senyuman padanya dan berterima kasih atas perhatian mereka.Kalaupun tebakan mereka benar, ya memang mungkin terjadi. Apalagi memang lantaran semua kehamilan punya peluang 50 persen bayi perempuan dan 50 persen bayi laki-laki.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Mom Life

Waktu Tepat Melakukan Latihan Kontak Menyusui yang Bunda Perlu Tahu

adult-art-baby-235243 (6)

Setiap ibu yang baru saja melahirkan tentu mendambakan proses menyusui bisa berjalan dengan lancar supaya si kecil mendapatkan nutrisi yang cukup dan terbaik untuk tumbuh kembangnya. Menariknya, memikirkan urusan mengASIhi ternyata tidak dimulai ketika si kecil sudah lahir, melainkan dari jauh-jauh hari saat Bunda tengah mengandung atau yang disebut dengan proses kontak menyusui atau perlekatan.

Konselor laktasi yakni dr Ameetha Drupadi mengatakan, Bunda juga disarankan untuk sering-sering melakukan konseling. Lebih jauh lagi, Ameetha mengatakan, perlekatan adalah hal terpenting dalam menyusui agar bayi nyaman dan Bunda tidak merasakan sakit pada puting.

Nah, berikut ini ada tujuh opsi waktu yang disarankan agar Bunda dapat belajar perlekatan dengan benar dan proses menyusui dengan tepat Bun.

Saat Usia Kehamilan Menginjak 28 Minggu

Kontak pertama kali dilakukan saat trimester yang akan membahas hal dasar tentang menyusui seperti anatomi payudara, proses produksi ASI, dan cara menyusui. Sebagai calon ibu, mungkin ada kalanya Bunda masih bingung memilih ASI atau susu formula. Nah, inilah waktunya bertanya pada konselor laktasi, Bun.

Kelak Bunda juga akan dijelaskan seputar Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan mulai dikenalkan teori posisi dan perlekatan menyusui bayi. Cara merawat payudara saat hamil juga bisa Bunda ketahui dalam tahap ini, lho.

Di Usia Kehamilan Menginjak 36 Minggu

Bun, mendekati masa persalinan, Bunda pun harus tetap melakoni konseling. Biasanya, bahasan yang ditekankan pada tahap ini adalah soal IMD. Tak hanya berkonsultasi pada konselor laktasi, Bunda pun diarahkan untuk bertanya pada obgyn tentang apa yang perlu disiapkan guna kelancaran IMD. Pertemuan kedua ini diajarkan proses produksi ASI di tiga hari pertama pasca persalinan dan ada praktek menyusui menggunakan boneka.

Lakukan IMD ya Bun

Setelah bayi baru lahir sehat dan tidak membutuhkan penanganan khusus, Bunda bisa langsung melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Caranya, bayi diletakan di atas dada atau perut Bunda dalam posisi tengkurap minimal selama 1 jam untuk menemukan puting Bunda. Skin to skin contact ini sangat baik lho Bun untuk menciptakan bonding antara ibu dan bayi dan yang terpenting akan menstimulasi keluarnya kolostrum.

Pastikan Bunda Melakukan Masa Perawatan 1-2 Hari Pasca Melahirkan

Saat dalam perawatan rumah sakit atau tempat bersalin, keberadaan konselor laktasi sangat diperlukan guna membimbing Bunda caranya memposisikan si kecil agar terjadi perlekatan yang benar saat ia sedang menyusu. Bunda juga akan diberi tahu mengenai perkembangan BB bayi ASI eksklusif, banyaknya produksi ASI yang bergantung dari frekuensi bayi menyusu, bonding dan kapasitas lambung bayi serta pentingnya mengASIhi.

Kemudian setelah Bunda dan si kecil keluar dari rumah sakit, pada hari yang ke-7 perkembangan bayi akan dicek lagi Bun. Bunda juga akan kembali konselor laktasi untuk mengkroscek cara menyusui selama sepekan. Bunda masih terus diajarkan cara menyusui yang benar agar bayi mendapatkan ASI dengan tepat.

Khusus untuk Working Mom, Dua Minggu Sebelum Kembali Bekerja, Penting Sekali Mengetahui Tahap Perlekatan Khusus

Di tahap ini, Bunda akan diajarkan cara pumping atau memerah ASI yang benar. Manajemen dan penyimpanan serta pemberian ASI perah juga dibahas tuntas di kontak ke 7 ini. Mama juga disarankan “menabung” ASI perah tidak kurang dan tidak lebih dari 1 bulan sebelum masuk kerja. Kuncinya, persiapkan diri dan jangan lupa mengikuti konseling ASI ya Bun, agar proses mengASIhi Bunda berjalan lancar dan si Kecil mendapatkan ASI yang cukup untuk kesehatan dan tumbuh kembangnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top