Mainan Anak

Agar Anak Mampu Mengolah Daya Pikir dan Kreativitasnya, Trik Mengajak Anak Kreatif Dan Inovatif Ini Dapat Dicoba

Anak yang banyak tingkahnya dan lucu, serta menggemaskan, tentu memiliki banyak sekali akal untuk membuat orang tua, keluarga, hingga orang-orang sekitarnya menjadi senang dan bahagia.

Dengan sesuatu yang baru dan hal kreatif tentu sangat mudah dalam menarik perhatian anak. Akan tetapi, harus tetap membutuhkan banyak hal yang membuat mereka merasa nyaman dan selalu penasaran.

Banyak hal baru yang pastinya mampu memberikan rasa inovatif anak menjadi semakin berkembang dan mampu memberikan banyak segi positif yang semakin lama mampu membuat anak mengolah daya fikirnya dan kian kreatif.

Maka dari itulah sangat penting untuk orang tua ketahui bagaimana trik mengajak anak untuk kreatif dan inovatif:

1. Belajar Sambil Bermain

Belajar adalah hal yang terbilang membosankan, terlebih untuk anak-anak. Karena dengan dunia mereka yang masih sangat luas untuk berkembang dan selalu mengenal hal baru. Maka tidak aka nada salahnya apabila Anda sebagai orang tua lebih memilih untuk mencari cara agar arena atau saat belajar menjadi lebih menyenangkan.

Salah satunya adalah dengan belajar sambil bermain. Misalnya saja mengajak anak untuk bermain lego, maka Anda dapat mengajari anak mengenai cara menata lego menjadi sebuah bentuk yang memiliki makna tertentu, seperti rumah atau juga mobil. Selain itu, Anda juga bisa sambil mengenalkan pada anak mengenai macam-macam warna yang ada pada lego. Jadi, Anda mampu mendidik sekaligus membuat anak nyaman dan senang karena hal tersebut dilakukan dengan penuh keceriaan dan sambil bermain.

2. Memberikan Pilihan

Cara selanjutnya adalah melalui pilihan, Anda dapat membuat hangat suasana yaitu dengan memberikan anak pilihan yang dapat ia gunakan untuk memikirkan hal yang paling tepat untuk ia pilih. Contohnya saja dengan mewarnai bersama. Anda dapat memberikan pilihan kepada anak mengenai gambar mana yang akan ia pilih untuk diwarnai. Atau bahkan, ia juga bisa memilih warna mana yang akan ia pilih untuk memberikan warna pada gambar tersebut. Dengan demikian, anak akan mampu teguh pada pendiriannya, serta belajar bertanggung jawab dengan pilihannya tersebut.
Imajinatif

Membuat anak kreatif dan inovatif memang bukanlah hal yang mudah, namun Anda juga tidak boleh langsung menyerah begitu saja. Karena dengan daya imajinasi yang tinggi, maka akan terdapat rasa dari diri anak. Hatinya akan lebih mudah berekspresi apabila diberikan ruang untuk anak berimajinasi. Nah, dengan demikian, maka akan sangat memudahkan anak untuk selalu mengembangkan pola kreatifitas hingga membuat anak kreatif dan inovatif.

3. Berekspresi Menurut Usia

Dengan usia yang tepat dan terarah, maka orang tua dapat memberikan daya ekspresi lebih untuk dituangkan anak melalui kreasinya sendiri. Dan, tentu saja tetap berkenaan dengan usia perkembangannya. Karena berkembang menurut dengan usia akan membuat anak kian mudah tanggap dan mengerti tentang tuangan daya ekspresinya tersebut.

4. Menghargai Karya Anak

Menyalakan video tentang tutorial pembuatan tas dari kain perca atau mainan dari barang bekas juga dapat Anda lakukan bersama si kecil sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri pada anak, sekaligus juga dapat membuat anak semakin kreatif dan inovatif. Bukan hanya itu, karena anak juga memerlukan pujian atau penghargaan untuk hasil karyanya. Maka dari itulah, anda perlu memberikan pujian untuk hasil kerja keras anak, dan menghargai hasil inovasi buatan si kecil.

Nah, itulah tadi beberapa hal yang penting untuk Anda ketahui, agar anak mamp memiliki daya imajinatif dan dapat berkreasi hingga menunjukkan hal positif dan selalu membuat anak inovatif. Jadi, tidak akan ada salahnya jika Anda memilih untuk mengajak dan mengajarkan anak tentang imajinatif dan selalu penuh akan daya kreasi. Semoga bermanfaat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Mengenal Bagaimana Perkembangan Mental Anak Usia 4 – 5 Tahun

Usia bawah lima tahun merupakan masa golden age di mana sebagai orang tua sangat penting untuk memperhatikan perkembangan anak di usia ini. Terlebih lagi terkait perkembangan mental anak usia 4 – 5 tahun yang biasanya mulai muncul pada fase ini terkadang membuat bingung banyak orang tua.

Fase Perkembangan Mental Anak Usia 4 – 5 Tahun

Fase perkembangan anak usia 4 – 5 tahun merupakan fase yang sangat penting karena saat usia tersebut anak-anak mulai mudah meniru apa yang mereka lihat di lingkungan sekitarnya. Perkembangan emosional anak pada usia ini juga lebih sulit ditangani daripada usia di bawahnya.

Anak-anak sudah mulai memasuki fase initiative vs guilt. Pada fase ini mereka mulai menunjukkan rasa ingin mandiri dan lepas dari ikatan orang tua mereka. Anak-anak memiliki keinginan untuk bergerak dengan bebas dan berinteraksi dengan teman-teman maupun lingkungan sekitarnya.

Keinginan tersebut muncul karena adanya rasa inisiatif yang tumbuh dalam diri mereka. Namun, di satu sisi anak-anak juga akan lebih mudah merasa sedih atau marah jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Hal tersebut dikarenakan sudah muncul rasa bersalah atau guilt dalam diri mereka.

Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 4 – 5 Tahun

Memahami bagaimana perkembangan anak khususnya saat masih usia balita tentu sangat penting bagi orang tua agar mereka bisa memberikan treatment yang tepat saat mendidik. Usia balita merupakan usia di mana anak-anak sedang senang-senangnya bermain sebagaj kegiatan primer mereka.

Di usia ini anak-anak juga akan mulai melakukan inisiatif dan belajar tentang arti diabaikan dan ditanggapi dengan baik. Mereka akan mulai paham dan merasakan apa itu arti diterima dan ditolak. Jika tanggapannya baik maka anak pun akan belajar banyak hal seperti bagaimana bekerja sama dengan teman.

Selain itu, mereka juga akan belajar tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam permainan sehingga jiwa leadership pun akan tumbuh. Namun, jika tanggapan yang diberikan berupa penolakan maka anak-anak akan merasa takut dan bersalah. Sehingga akan muncul ketergantungan pada kelompok.

Cara Menstimulasi Anak Agar Berekspresi

Mengungkapkan ekspresi sangatlah penting untuk dilakukan baik itu ekspresi bahagia, sedih, ataupun marah. Jangan sampai apa yang dirasakan oleh sang anak tidak bisa diekspresikan dan terpendam karena bisa menimbulkan tekanan dalam diri mereka. Stimulus bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Mulai dari mengenalkan anak-anak pada huruf dan angka sambil bermain, membiarkan mereka bermain dengan temannya selama masih tetap bisa diawasi, buang air sendiri, dan lain sebagainya. Selera humor anak pada usia ini juga akan mulai terlihat dan bahkan mereka cenderung ingin menarik perhatian.

Pada usia ini mereka bahkan bisa tertawa atau membuat tingkah laku yang lucu agar orang-orang di sekitarnya tertarik. Di sinilah anak-anak mulai belajar bagaimana mengeluarkan ekspresinya seperti orang dewasa. Sehingga mereka mulai memahami apa itu emosi dan mental yang dirasakan dari dalam hati.

Cara Untuk Membantu Perkembangan Emosional Agar Berjalan Baik

Anak-anak sudah bisa diajarkan bagaimana cara memecahkan masalah sejak usia 2 sampai 3 tahun. Usia 4 – 5 tahun pun sangat penting untuk melatih mereka bagaimana menyelesaikan suatu masalah. Seperti ketika mereka berebut mainan dengan teman, berkelahi, dan masalah lainnya.

Ajarkan kepada mereka untuk menyelesaikan masalah dengan baik tanpa harus saling berkelahi. Berikan ruang kepada mereka untuk mengungkapkan emosinya melalui ekspresi. Perlu disadari bahwa bagaimanapun juga anak adalah peniru ulung orang tua dan lingkungan sekitarnya.

Mereka akan dengan mudah mengikuti setiap perilaku, kebiasaan, perkataan, dan sikap orang lain. Oleh karena itu, Anda bisa mulai mengajak anak-anak untuk berbagi cerita tentang aktivitas apa saja yang mereka lakukan seharian. Berikan waktu agar mereka bisa mengobrol dengan santai dan lebih rileks.

Mengetahui Perkembangan Anak Usia 4 – 5 Tahun

Mengikuti setiap perkembangan anak dari usia ke usia adalah hal yang paling berharga bagi orang tua. Tak terasa waktu begitu cepat hingga anak-anak sudah bisa melakukan banyak hal sesuai dengan usianya. Apa saja kemampuan dan perkembangan yang biasanya sudah dimiliki oleh anak-anak di usia tersebut?

Kemampuan Motorik Kasar

Saat memasuki usia 4 tahun anak-anak biasanya sudah bisa melakukan kemampuan motorik kasar seperti daftar berikut ini:

  1. Kemampuan bagaimana menyeimbangkan tubuh dengan mengangkat satu kaki selama 1 sampai 5 detik
  2. Berjalan sambil melompat kesana-kemari atau melompat di tempat
  3. Berjalan menaiki anak tangga sendiri tanpa bantuan orang dewasa
  4. Menaiki sepeda dengan menggunakan roda tiga
  5. Berlari-larian
  6. Memahami wilayah nyaman mereka
  7. Kemampuan berimajinasi yang tinggi seperti saat mengejar bola mereka akan berimajinasi seolah seperti pemain bola sungguhan yang sedang bertanding di lapangan

Kemampuan Motorik Halus

Saat anak berusia 4 sampai 5 tahun motorik halus mereka juga sudah mengalami perkembangan. Mereka memiliki kemampuan dengan baik dan mata dengan tangan bisa berkoordinasi semakin tajam. Kemampuan yang bisa dilakukan seperti mengambil benda yang kecil dan mewarnai tanpa keluar garis.

Selain itu, mereka juga bisa menyelesaikan puzzle sederhana. Kemampuan menggambar dan meniru apa yang dibuat oleh orang lain juga sudah bisa mereka melakukan seperti bentuk dasar kotak, lingkaran, segitiga, dan lainnya. Di sini kreatifitas dan imajinasi anak akan semakin terlatih.

Kemampuan Sosial dan Emosional

Anak akan semakin mandiri dan matang saat memasuki usia 4 sampai 5 tahun. Bahkan mereka akan berusaha untuk melakukan beberapa hal sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Anda tidak perlu khawatir dalam hal ini karena fase perkembangan ini merupakan hal yang normal dan wajar.

Mereka mulai belajar untuk mengendalikan emosi dalam diri dan belajar menjadi mandiri. Dalam hal ini Anda bisa mengajarkan beberapa hal seperti bagaimana mencuci tangan sendiri, menyikat gigi, menyiapkan sarapan, memakai baju, dan lainnya. Anak-anak sudah mulai paham bagaimana mengerti perasaan orang lain.

Kemampuan Komunikasi dan Bahasa

Di usia 4 – 5 tahun anak-anak semakin lancar berbicara meskipun terkadang tidak jelas namun sudah tidak menggunakan bahasa bayi lagi. Mereka sudah bisa menggunakan kata-kata yang bisa terdengar dengan jelas, bercerita, menyebutkan nama, alamat, dan lain sebagainya.

Bahkan di usia ini anak-anak juga sudah bisa mengungkapkan pendapat mereka terhadap sesuatu. Anda pun bisa mengajak mereka untuk ngobrol atau berdiskusi ringan. Fase usia ini mereka juga akan mulai senang bernyanyi lagu kesukaan. Maka ajarkanlah hal-hal dan kata-kata yang baik.

Mandiri dan Ingin Mencoba Melakukan Banyak Hal

Saat memasuki fase usia 4 – 5 tahun mungkin Anda akan mulai mendengar anak-anak sering berkata “aku bisa sendiri”. Itu artinya mereka sudah mulai muncul inisiatif untuk belajar mandiri tanpa bantuan orang. Seperti hal sepele menggosok gigi sendiri, mengemas tas sendiri, memilih baju sendiri, dan lainnya.

Meskipun terkadang mungkin baju yang mereka pilih gak matching motifnya dan terkadang bisa menguji kesabaran. Namun, Anda tidak harus langsung membantunya dan jangan terburu-buru untuk melakukan koreksi. Karena jika demikian maka anak akan merasa tidak dihargai dan menjadi marah.

Jika mereka mulai marah dan kesal maka hal tersebut bisa menjadikannya malas untuk melakukan hal-hal dasar yang justru ketika dewasa nanti mereka malah tidak bisa mandiri dan bergantung pada orang. Di sini peran orang tua adalah sebagai pendamping anak-anak untuk melakukan apa yang mereka inginkan.ndamping

Cara Mendidik Anak Usia 4 – 5 tahun

Cara mendidik anak harus disesuaikan dengan rentang usianya. Karena setiap fase usia biasanya memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Sebagai orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan baik.

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual sangat dibutuhkan dan diajarkan sejak dini pada anak-anak. Ketika anak sudah memasuki usia 4 – 5 tahun maka perlu mulai diajarkan tentang sang pencipta dan ajaran agama. Sehingga sedari dini mereka memiliki hubungan spiritual yang baik dan akan dibawa hingga dewasa.

Anda bisa mulai mengajarkannya dengan cara membuka wawasan dan pikiran mereka tentang sosok sang pencipta. Masukkan anak-anak lembaga pengajaran seperti kalau dalam agama Islam dikenal dengan TPQ. Di sini anak-anak akan mulai belajar untuk mendalami agamanya dari dasar.

Menumbuhkan Rasa Cinta Kasih Sayang

Emosi anak pada usia 4 sampai 5 tahun sudah mulai terbentuk sehingga penting sekali untuk mulai mengajarkannya bagaimana menyayangi dan mencintai orang lain khususnya keluarga. Lakukan hal-hal sederhana seperti memberikan pelukan hangat dan mengungkapkan rasa sayang secara terbuka.

Mulailah ajarkan kepada anak-anak untuk peduli kepada orang lain, menumbuhkan rasa empati, berbagi, dan lain sebagainya. Dengan demikian kepekaan anak akan mulai terasa sejak dini dan mereka pun akan terbentuk menjadi pribadi yang peduli dengan sesama.

Mengajarkan Anak Untuk Jujur

Jujur adalah karakter utama yang harus dimiliki oleh anak dan perlu ditanamkan sejak dini. Karena sikap jujur ini yang akan membawa bagaimana anak-anak nanti tumbuh ketika remaja maupun dewasa. Anda bisa mulai mengajarkannya untuk dengan mengingatkan agar mereka selalu jujur / mengakui kesalahan.

Di fase usia 4 – 5 tahun terkadang anak-anak masih memiliki sifat malu untuk mengakui kesalahan sehingga Anda harus mengajarinya bahwa jujur itu penting. Dengan pondasi sifat jujur yang dimiliki maka akan ada banyak dampak positif bagi anak-anak. Mereka akan menjadi pribadi yang berlapang dada.

Mengasah Kemampuan Kognitif Anak

Kemampuan kognitif anak bisa dilatih dengan cara-cara sederhana terlebih dahulu seperti belajar membaca sambil bermain. Jangan terlalu memaksakan kehendak anak-anak karena di fase ini mereka sedang senang-senangnya bermain sehingga harus diajari secara perlahan.

Anda bisa mengajarinya secara pelan-pelan dan mencari waktu yang tepat. Beri pemahaman kepada anak-anak bahwa sudah waktunya mereka belajar karena sebentar lagi akan masuk sekolah. Sehingga mereka pun menjadi semangat untuk belajar agar cepat bisa memahami huruf dan angka.

Perkembangan mental anak usia 4 – 5 tahun memang perlu diketahui bagaimana pertumbuhannya apakah sudah sesuai dengan usianya atau belum. Ketika sudah muncul rasa inisiatif dan ingin mandiri dalam diri anak maka tugas orang tua adalah mendampingi dan membimbing perkembangan mereka. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Kecerdasan Anak Ditandai dari Kemampuan Kreatifnya, 8 Cara Mengembangkan Kemampuan Anak yang Kreatif

Anak yang kreatif biasanya selalu mencari tahu hal baru dan memiliki kemampuan memecahkan masalah. Orangtua tentu ingin si kecil memiliki sifat kreatif dalam dirinya. Mengembangkan kreativitas itu sangat penting karena memiliki pengaruh terhadap prestasi akademik. Tapi kemampuan tersebut tak dimiliki begitu saja, ada upaya yang juga perlu orangtua lakukan untuk mendukung kemampuan si kecil tersebut. Cobalah perhatikan beberapa hal di bawah ini. 

Tidak Semua Anak Lahir dengan Talenta Kemampuan Kreatif, Itulah Mengapa Penting untuk Melatih Sifat Kreatif pada Anak

Melatih anak menjadi kreatif dilakukan oleh orangtua di rumah dan guru di sekolahnya. Kreatif harus didukung dan dikembangkan dengan baik dari lingkungan sekolah maupun keluarga. Si kecil bisa mengeksplor kemampuan yang dimilikinya. 

Anak dengan sikap kreatif mampu memecahkan masalah dan menghadapi tantangan yang ada. Lebih maju dibandingkan anak yang hanya menerima pembelajaran sekolah. Semakin dewasa, kemampuan kreatif selalu dibutuhkan. 

Mendidik untuk memiliki sifat kreatif dilakukan bertahap dan konsisten. Membutuhkan waktu yang tidak sedikit guna mengasah kreativitas anak. Jika anak sudah bersekolah, orangtua jangan hanya mengharapkan guru melatih menjadi kreatif. Sebab tanggung jawab sebagai orangtua sangat dibutuhkan. 

Dan Berikut adalah Cara-cara yang Bisa Bunda Lakukan untuk Melatih Si Kecil Menjadi Anak yang Kreatif

Tidak sulit melatih anak yang kreatif asalkan orangtua sabar dan konsisten. Jika tidak diperhatikan sejak dini, ke depannya semakin sulit menumbuhkan kemampuan kreatif anak. Oleh karena, orangtua dapat menerapkan beberapa cara berikut.

1. Biarkan Si Kecil Bermain dengan Leluasa untuk Mengekspresikan Diri, Jangan Dibatasi Hanya Perlu Diawasi

Anak kecil memang masanya untuk menikmati segala jenis permainan. Bukan hanya untuk bersenang-senang namun juga meningkatkan kreativitas anak. Karena itu, penting bagi orangtua menyediakan berbagai fasilitas bermain untuk anak. 

Boleh juga membuat mainan sendiri melalui barang bekas. Caranya lihat di internet, ajak si kecil membuat bersama. Hal ini juga dapat meningkatkan kreativitas anak. Selanjutnya berbagai benda lain bisa digunakan anak menghasilkan mainan.

2. Izinkan Anak Berimajinasi, Mengekspresikan Semua yang Ia Pikirkan Sendiri 

Orangtua perlu mengizinkan anak berimajinasi, salah satunya dengan membaca buku. Berbagai cerita memicu si kecil berkhayal atau membayangkan sesuatu. Ajak si kecil memilih buku yang diinginkan di toko, kemudian libatkan dia saat membaca cerita.

Mendongeng juga erat kaitannya dengan imajinasi. Sebab perbendaharaan bahasa si kecil lebih meningkat setelah ia mendengar dongeng. Si kecil juga dapat bermain role play menjadi koki, dokter, guru atau profesi lain menggunakan perlengkapan mainan. 

3. Bunda Bisa Melatih Kreativitasnya dengan Memberikan Pertanyaan-pertanyaan Kreatif 

Ketika bersama anak dan melihatnya sedang menggunakan mainan, tanyakan bagaimana dia memainkan alat tersebut. Sebelum menjawab, tentu si kecil berpikir terlebih dulu. Hal ini memicu si kecil menghasilkan ekspresi baik verbal maupun non verbal. 

Tanyakan hal berhubungan dengan mainan, misalnya akibat yang terjadi saat kran air tidak ditutup, tidak menutup jendela di malam hari dan lain sebagainya. Perhatikan jawaban si kecil. Memang tidak semua jawaban benar, tetapi anak sudah memiliki kemampuan untuk berpikir. 

4. Jadilah Orangtua yang Suportif dengan Mendukung Minat dan Bakat yang Dimiliki Oleh Anak

Orangtua yang dekat dengan anaknya pasti tahu minatnya di bidang apa. Jika sering menggambar, orang tua dapat memberi dukungan sehingga ke depannya dia bisa menjadi desainer, arsitek atau pelukis. Anak memiliki minat merangkai bunga, ke depannya bisa memiliki bakat membuat buket. 

Fasilitasi anak sesuai bakatnya seperti sediakan crayon. Siapkan peralatan memasak untuk anak hobi di dapur. Anak memiliki minat membuat berbagai bentuk mainan, siapkan peralatan yang dibutuhkan. Tanyakan padanya apa yang dapat orang tua bantu.

5. Hindari Kata-kata yang Salah Karena Bisa Merusak Kepercayaan Diri Si Kecil Terhadap Kemampuannya 

Mungkin ketika anak melakukan hal tidak sesuai keinginan orangtua, langsung dicap anak salah. Hal ini sebaiknya dihindari jika ingin anak kreatif. Sebab, kata salah menghambat pemikiran ide anak dan sulit disalurkan. 

Misalnya, si kecil membuat roda kendaraan berbentuk segitiga. Gunakan kata menarik sekali untuk menanggapi gambar anak. Kemudian tanyakan, menurut anak apakah kendaraan tersebut dapat berjalan dengan kondisi ban segitiga. Jadi, tidak langsung mengatakan bahwa gambarnya salah. 

6. Bebaskan Anak Bereksplorasi dengan Melakukan Hal-hal yang Ia Sukai

Semua anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Karena itu, seharusnya orang tua tidak menahan anak menjelajahi hal yang diinginkan. Semua orang pasti ingin menemukan sesuatu untuk memuaskan keingintahuannya, begitu juga anak. 

Rasa ingin tahu melahirkan sifat kreatif. Meskipun begitu, orangtua juga harus mengingatkan bahaya dan hal apa saja yang tidak boleh dilakukan. Untuk mendukung kreativitas anak, orangtua penting sekali berwawasan luas guna memudahkan menjawab berbagai pertanyaan anak. 

7. Jangan Over Protektif, Tugas Kita Hanya Perlu Mengarahkan dan Mengawasinya 

Semua orangtua ingin melindungi anak tetapi sikap over protektif malah menghambat anak. Kurangi larangan jika itu berdampak baik bagi anak. Misalnya si kecil ingin memegang lumpur, kemudian Bunda melarangnya supaya tidak kotor tangan. Hal ini tidak baik untuk diterapkan. 

Memegang atau melakukan sesuatu merangsang saraf si kecil untuk perkembangannya. Jika semua dilarang, kapan anak bisa kreatif? Bahkan si kecil menjadi malas berinteraksi dengan hal baru karena biasanya tidak mendapat izin orangtua.

8. Berikan Apresiasi Atas Kemampuan Atau Hal-hal yang Sudah Ia Lakukan

Jangan lupa beri apresiasi anak saat berhasil membuat karya. Misalnya anak menggunakan kertas buku untuk membuat perahu dan selesai. Puji karyanya agar dia merasa senang. Si kecil akan berpikir bahwa orang tua mendukung kreativitasnya. 

Selanjutnya si kecil terdorong berimajinasi serta mencari hal baru lainnya. Terus belajar sendiri atau bersama teman-teman untuk meningkatkan kreativitas. Saat usaha anak gagal, orangtua dapat mendampinginya agar semangatnya tidak luntur. Itulah 8 hal dapat dilakukan orang tua untuk menumbuhkan pribadi anak yang kreatif. Penting sekali diterapkan sejak dini supaya ke depannya anak tidak melanjutkan apa yang sudah dipelajari. Jadi, jangan tunggu sampai si kecil remaja baru melatihnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

5 Tanda Anak yang Pintar Bersosial dan Hal yang Wajib Dilakukan orangtua

Anak yang pintar bersosial membuat orangtua senang melihatnya. Karena kemampuan bergaul menentukan bagaimana posisi anak di masyarakat nantinya. Salah satu cara anak bersosialisasi dengan bermain bersama orangtua, saudara, kerabat dan teman-temannya. Kegiatan ini dapat jadi latihan, sebelum nanti ia akan bersosial dengan orang lain yang belum ia kenal sebelumnya. 

Namun, untuk bisa membentuk anak jadi sosok yang pintar bersosial. Ada hal-hal yang tentu Bunda pahami sebagai orangtua, kira-kira apa saja ya?

Tanda-tana Anak yang Pintar Bersosial yang Bisa Kita Kenali dari Sikapnya Sehari-hari

Penting bagi si kecil memiliki keterampilan sosial agar lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Selain itu, biasanya yang pintar bersosial juga mudah diterima oleh siapapun di lingkungannya. Karenanya, orangtua harus tahu beberapa ciri atau tanda anak pintar bersosialisasi. 

1. Si Kecil Dapat Bekerja Sama dengan Baik dengan Orang di Sekitarnya

Bekerja sama artinya melakukan sesuatu sesuai kesepakatan untuk mendapatkan tujuan bersama. Anak bisa atau tidak bekerja sama bisa dilihat saat bermain dengan yang lain. Jika memang si kecil dapat mudah beradaptasi dengan tim bermainnya berarti dia mudah bergaul. 

Anak yang memiliki sifat keras kepala dan egois sulit masuk ke lingkaran pertemanan. Sebaliknya anak bersikap baik, mau menerima kesalahan diri biasanya teman-teman lain akan menyukainya. Anak tahu mana tugasnya dan mana bagian orang lain.

2. Ia Juga Bisa Menjadi Pendengar yang Baik untuk Orang-orang Terdekat

Jika seorang anak benar-benar ingin memiliki teman maka ia akan menghargai orang lain. Salah satunya menjadi pendengar yang baik dan turut memahami apa yang dirasakan temannya. Lebih bagus lagi jika anak dapat memahami bahasa tubuh ketika temannya berbicara.

Menjadi pendengar yang baik juga dilakukan bersama orangtua di rumah. Namun, jika si kecil belum memiliki karakter ini bisa pelan-pelan diajarkan. Si kecil mudah bergaul biasanya sering dicari oleh teman-teman saat membutuhkan pendapat atau dukungan.

3. Memiliki Empati dan Peduli Sejak Dini Terhadap Lingkungan Sekelilingnya

Anak-anak memang belum sepenuhnya memahami empati ada dalam hidup. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan bertambah umur, rasa kepedulian akan muncul sendiri. Memahami perasaan orang lain mulai dari senang, sedih, bahagia dan lainnya. 

Anak dalam dirinya memiliki belas kasihan dan kasih sayang pada orang disekitarnya. Sikap dan tindakan yang harus ditunjukkan terhadap kondisi tertentu juga dipahami si kecil. Sikap ini mengakibatkan dirinya mudah diterima dalam pergaulan. 

4. Selalu Bersikap Objektif Menghadapi Konflik yang Ia Alami

Jika si kecil menyelesaikan masalah dengan memandang sisi positif tandanya ia pandai bergaul. Konflik pasti pernah muncul dalam hubungan pertemanan, jika anak dapat menyelesaikannya dengan baik melalui teknik mediasi misalnya, artinya si kecil pintar bersosialisasi. 

Memiliki jiwa kepemimpinan membuat diri mudah menyelesaikan masalah yang ada. Selain itu, juga didukung dari keterampilan komunikasi yang baik. Apa yang disampaikannya tidak disalahpahami oleh teman-teman.

5. Ia Juga Mampu Membangun Hubungan Baru dengan Orang-orang di Sekelilingnya

Ciri yang sangat mudah dilihat anak yang pintar bersosial adalah mampu membangun hubungan baru. Tampaknya memang spele, tetapi daalm hal ini sangat dibutuhkan kemampuan interpersonal saat membangun sebuah hubungan. 

Anak selalu dapat memberikan kesan positif dirinya pada orang lain. Jika hal ini terus berlanjut, orang yang awal dijumpai hanya kenalan biasa dalam waktu yang lama bisa menjadi sahabat. Bahkan tetap menjalin komunikasi saat lokasinya sudah berjauhan. 

Lalu, Apa Hal yang harus Dilakukan orangtua Agar Anak Mudah Bergaul?

Anak yang pintar bersosialisasi biasanya memiliki banyak teman. Hidupnya lebih berwarna dibandingkan anak tidak pandai bergaul. Si kecil perlu diajarkan agar bisa bermain dengan anak lain supaya tidak anti sosial, dengan menerapkan langkah berikut ini. 

1. Jangan Pernah Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing termasuk dalam hal bersosialisasi. Jangan bandingkan anak dengan saudara kandung, sepupu atau anak tetangga. Membandingkan tidak hanya membuat si kecil sedih namun juga mengakibatkan tidak percaya diri. 

Apapun yang terjadi harusnya orangtua mendukung dan melihat penyebabnya dari berbagai sisi. Jangan hanya menyalahkan anak, mungkin saja orangtua yang tidak punya banyak waktu mengajarkan anak bersosialisasi. 

2. Ajak Anak Bermain Peran untuk Mengasah Kemampuan Sosialnya

Cara mengasah kemampuan sosial anak selanjutnya dengan pura-pura bermain. Maksudnya di sini, si kecil dapat menjalani peran orang dewasa seperti menjadi dokter, guru ataupun koki. Ketika orangtua ikut terlibat, anak akan berlajar cara berinteraksi dengan orang lain. 

Berikan kesempatan pada anak untuk menangani hubungan antara banyak orang. orangtua dapat membantu memfasilitasi dan menyusun strategi agar ada bagian anak berbagi dengan orang lain. Misalnya memberikan bantuan kepada orang lain, merawat orang dan yang lainnya. 

3. Berikan Dia Teladan dengan Mengajarkan Kebaikan 

Ajarkan kebaikan pada anak sehingga bisa memperlakukan teman dengan baik. Misalnya, saat mendengar anak memanggil temannya dengan sebutan ejekan, segera beritahu bahwa itu perilaku tidak baik. 

Jangan diabaikan karena berpikir lama-kelamaan anak menghilangkan sebutan itu. Selain itu, jika orangtua hanya melihat saja anak akan berpikir bahwa pemanggilan nama ejekan adalah hal yang biasa dan boleh dilakukan. Tentu orangtua tidak ingin hal ini terjadi pada anaknya. 

4. Dan Bantulah Ia untuk Memulai Percakapan 

Ketika pertama kali datang ke taman bermain, anak sering kali malu atau tidak tahu memulai percakapan anak lain yang sebaya dengannya. orangtua bisa membantu anak untuk mengawali percakapan, kemudian biarkan anak berinteraksi sendiri.

Manfaatkan peluang agar si kecil mudah bergaul. Jangan selalu mengekori orangtua kemanapun pergi. Ini juga salah satu cara membangun kepercayaan dirinya di antara teman-temannya. Sehingga kesempatan berikutnya, anak sudah bisa mulai percakapan sendiri.

5. Namun Jangan Terlalu Protektif Mengekang Gerak Langkah si Kecil

Sebagian orangtua merasa khawatir saat anak ditinggal bermain bersama teman-temannya. Maka, tidak jarang ada anak yang dikekang di rumah. Padahal cara ini dapat menghambat kemampuan bersosialisasi si kecil di lingkungannya. 

Bukan tidak boleh khawatir, tetapi jangan berlebihan. Berikan anak rasa percaya diri dan bangun kepercayaan bahwa si kecil mampu melakukan banyak hal tanpa bantuan orangtua. Setidaknya anak dapat meminta bantuan kepada teman sebayanya sehingga terjadi interaksi.Itulah cara efektif untuk membentuk pribadi anak yang pintar bersosial. Penting sekali diterapkan agar ke depannya anak mudah mendapatkan teman. orangtua pasti tidak ingin anaknya memiliki sifat anti sosial.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top