Parenting

Ada Kalanya Anak Susah Tidur Akibat Bunda Tak Mengajarinya Tidur Teratur

Memiliki buah hati yang aktif dan selalu riang tentu jadi kebanggaan tersendiri untuk orangtua. Energi positif yang dipancarkan si kecil turut membuat orangtuanya pun senang. Hanya saja, segala aktivitas yang dilakoni buah hati seringkali juga membuat tenaganya terkuras.

Untuk itu alangkah bijaknya sebagai orangtua, Bunda pun perlu memperhatikan lagi kegiatan si kecil. Sekalipun di siang hari ia memiliki serangkaian kegiatan positif, jangan sampai malamnya justru ia didera masalah sulit tidur.

Mengutip dari Baby Center, orangtua biasanya melakukan beberapa kesalahan umum orangtua saat menyuruh anaknya pergi tidur. Hati-hati Bun, dengan begini dia akan sulit tidur malam dan malah kekurangan waktu istirahatnya. Padahal, istirahat cukup adalah kebutuhan yang diperlukan si kecil agar kesehatannya tak terganggu. Supaya lebih jelas, berikut lima kesalahan orangtua beserta solusinya.

Anak Perlu Jadwal Tidur yang Teratur, Sudahkah Bunda Melakukan Hal Tersebut?

Bun, umumnya waktu tidur anak yang sudah sekolah akan berkurang 60 menit dibanding mereka yang belum masuk sekolah. Untuk itu, diperlukan jadwal tidur yang teratur supaya tidurnya tetap cukup dan berkualitas. Marc Weissbluth, seorang dokter anak dan penulis dari Healthy Sleep Habits, Happy Child mengatakan,

“Membiarkan anak tidur terlambat akan membuat anak menjadi orang yang lemah atau selalu terlihat kelelahan,” ujar Jill Spivack, co-creator dari The Sleepeasy Solution: The Exhausted Parent’s Guide to Getting Your Child to Sleep from Birth to Age 5.

Solusi untuk masalah ini: cukup buat jadwal tidur malam untuk anak yang teratur. Bahkan, jika bisa ditambah tidur siang. Jangan menunggu anak menguap, mengusap mata, hingga merengek, baru Bunda mengajaknya pergi tidur. Lantaran setiap anak berbeda-beda, National Sleep Foundation mengatakan bahwa balita biasanya membutuhkan 12 jam waktu tidur pada malam hari.

Sedangkan anak-anak pra-sekolah butuh sampai 13 jam istirahat pada malam ditambah siang hari. Anak-anak yang sudah beranjak remaja wajib mengistirahatkan tubuh 10 sampai 11 jam per hari. Cari informasi supaya anak selalu konsekuen dengan aturan yang telah dibuat ya Bun.

Orangtua Gemar Menaruh Banyak Mainan di Tempat Tidur Anak

Masih banyak orangtua yang suka menaruh banyak mainan di tempat tidur buah hatinya. Cara ini dilakukan supaya si kecil tidak mudah rewel atau manja pada ibunya jelang tidur. Padahal, kebiasaan ini pun bisa membuat anak jadi kurang tidur karena fokus dengan mainan-mainannya sehingga membuatnya terjaga sepanjang malam.

Solusinya, demi memaksimalkan tidur si kecil, lebih baik Bunda menyetel cahaya kamar buah hati jadi lebih redup supaya otaknya pun beristirahat. Kamar yang redup akan membuat tidur lebih nyenyak daripada kamar yang penuh cahaya.

Jika si kecil takut menghadapi kamar gelap, ajari berhitung 1 sampai 10, lalu matikan lampu pada hitungan ke-10. Hindari juga barang-barang elektronik, seperti televisi, DVD, atau komputer yang bisa mengurangi jam tidur si balita. Biarkan anak terlelap dalam keadaan yang sunyi dan tambahkan pendingin ruangan agar dia semakin pulas ya Bun.

Bunda Terbiasa Melewati Rutinitasnya Jelang Tidur

Melewatkan rutinitas yang seharusnya dilakukan sebelum tidur sejatinya merugikan buah hati Bunda lho. Justru dengan membimbingnya melakukan rutinitas sebelum tidur, hal itu akan membuatnya belajar disiplin dengan waktu tidurnya. Bunda mungkin berpikir belum saatnya balita menggosok gigi atau membaca buku. Namun, jangan sepelkan hal tersebut.

“Sangat penting memiliki berbagai cara untuk membuat anak tahu kapan dia harus pergi tidur,” ujar Judith Owens, seorang direktur klinik gangguan tidur anak di Hasbro Children’s Hospital di Providence, Rhode Island.

Solusinya, mulailah rutin membuat panggilan isyarat supaya si kecil mengerti bahwa dia harus tidur. Misalnya, Bunda menyetel alarm pada jam weker dengan suara yang khas di dalam kamar. Dengan begitu, anak akan merasa terpanggil dan segera meninggalkan aktivitasnya. Bunda juga bisa menceritakan beberapa dongeng dari buku anak pada waktu yang sama setiap harinya sehingga anak terbiasa tidur tepat waktu.

Kebanyakan Orangtua Masih Tak Konsisten dengan Aturan yang Mereka Buat

Kebanyakan orangtua tidak konsisten dengan aturan yang mereka buat. Biasanya dipicu karena Bunda dan si kecil terlalu banyak kegiatan sehingga berimbas pada jadwal tidur anak yang berantakan. Orangtua juga membiarkan anak selalu tidur bukan di tempat tidur mereka. Padahal anak bisa menjadi manja karena kebiasaan ini.

Solusi satu-satunya tentu sebagai orangtua pun harus belajar menaati peraturan dan membimbing si kecil untuk melakukan hal serupa ya Bun. Latih si kecil untuk menaati jadwal tidur yang sudah dibuat orangtuanya. Bahkan ketika anak sedang ngambek dan meminta tidur dengan Anda, berikan persyaratan. Jangan uruti permintaan si kecil terlalu sering. Sedikit memberikan ketegasan bagus buat anak disiplin mematuhi aturan Bunda.

Orangtua Biasanya Terlalu Cepat Memutuskan Membuatkan Kamar untuk Buah Hati 

Ada beberapa orangtua yang sudah menyiapkan kamar sendiri bahkan saat buah hatinya masih dalam kandungan. Padahal, ada lho tipikal anak yang suka sulit tidur kalau tidak ada orangtua di dalam kamarnya.

Terutama yang usianya masih dibawah satu tahun. Namun, orangtua lebih mendahulukan keinginan mereka agar anak tidur di kamar sendiri. Kendati Bunda memang mendambakan si kecil bisa tidur mandiri, ada pertimbangan tersendiri lho urusan kamar.

Nah, solusinya, tunggu hingga anak siap tidur di dalam ruangan yang berbeda kamar dengan orangtuanya. Pelan-pelan atau saat usianya tiga tahun, kenalkan si kecil pada kamar baru mereka. Akan tetapi, jangan langsung memaksanya supaya tidur terpisah dari Bunda. Ada saatnya anak Bunda meminta tidur sendiri yaitu ketika memasuki lingkungan sekolah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Maksimalkan Perkembangan Kognitif Anak Sebelum Ia Berusia 5 Tahun

Mempunyai anak yang dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal merupakan impian setiap orang tua. Inilah kenapa diperlukan upaya memaksimalkan tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-5 tahun. Jadi, disini peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan kognitif anak.

Pahami Dulu Apa Itu Pengertian Kemampuan Kognitif Anak

Sebelum membahas mengenai cara yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan perkembangan kognitif anak, penting untuk mengetahui pengertiannya. Secara umum, kemampuan kognitif merupakan proses di mana anak dapat menerima pengetahuan dan informasi. 

Selain itu, kemampuan kognitif juga bisa diartikan sebagai keterampilan otak anak yang sangat diperlukan kan dalam menyelesaikan tugas sederhana sampai yang kompleks. Meskipun begitu, bukan berarti kemampuan tersebut dapat berkembang tanpa adanya upaya manusia. 

Inilah Kenapa sebagai orang tua penting untuk mengetahui kemampuan tersebut. Apalagi jika dibandingkan kemampuan yang dimiliki anak-anak dan orang dewasa sangatlah berbeda. Dengan kata lain, di sini orang tua harus memberikan dukungan atau stimulasi perkembangan kognitif. 

Cara Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Anak 0-5 Tahun

Anak di usia 0-5 tahun mempunyai perkembangan kognitif yang berbeda. Contoh cara untuk memaksimalkan perkembangan tersebut di setiap tahunnya juga berbeda. Selengkapnya berikut ini penjelasan mengenai cara-caranya di setiap usia anak. 

1. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Usia 0-6 Bulan

Anak di usia 0-6 bulan sudah mulai menunjukkan kemampuannya dalam menunjukkan reaksi terhadap suara. Bahkan, di usia ini anak juga sudah mulai bisa mendekati sumber suara tersebut. Sedangkan untuk memaksimalkan perkembangan kognitifnya, terapkan beberapa cara ini.

  • Mengajak anak untuk berbicara agar dapat memastikan Apakah sudah bisa merespon dengan melihat wajah Anda.
  • Sering-seringlah membacakan buku kepada anak dan menunjuk gambarnya. 
  • Melakukan berbagai aktivitas yang tidak akan membuat bayi bosan dan rewel.
  • Berikan mainan dengan jarak jauh dan masih terlihat anak. 

2. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Usia 6-9 Bulan

Tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-5 tahun, terutama di usia 5-9 bulan sudah mulai mempunyai kemampuan seperti menggenggam benda. Bahkan, di usia ini anak juga sudah bisa memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Tentu untuk memaksimalkan perkembangan kognitif ini, terapkan beberapa cara berikut.

  • Saat anak mempunyai kemampuan atau keterampilan baru, berikan pujian.
  • Berikan mainan di sekeliling anak.
  • Membacakan buku kepada anak saat menjelang tidur atau waktu lainnya.
  • Memberikan permainan yang bisa meningkatkan kemampuan berpikir seperti memasukkan benda ke dalam lubang.
  • Mengajak anak untuk bernyanyi dan mendengarkan musik.

3. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Anak Usia 9-12 bulan

Anak di usia ini sudah bisa sudah mempunyai kemampuan membedakan benda sesuai dengan fungsinya. Misalnya saja cangkir untuk minum, sendok untuk makan dan lain sebagainya. Sedangkan untuk memaksimalkan perkembangan ini, orang tua wajib melakukan beberapa cara berikut. 

  • Memberikan anak berbagai mainan maupun benda.
  • Mengajak anak untuk bermain petak umpet dan bertepuk tangan.
  • Mengajak anak bermain mencari barang-barang yang hilang.
  • Mengajarkan pengetahuan baru mengenai sebab akibat. 

4. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Usia 1-2 tahun

Saat anak sudah berusia satu atau dua tahun, pengetahuannya mulai bertambah. Misalnya saja sudah memahami anggota tubuhnya. Bahkan, sudah paham mengenai benda-benda yang ada di sekitarnya. Sedangkan cara memaksimalkan perkembangan kognitif tersebut, berikut cara-caranya.

  • Mengajak anak untuk mewarnai gambar dengan bentuk tertentu.
  • Mengajak anak untuk mencari mainan yang disembunyikan. 
  • Sering-seringlah memberikan arahan kepada anak seperti ambil mainan itu.
  • Bisa juga memberikan arahan untuk memasukkan mainan ke dalam keranjang.

5. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Usia 3-4 Tahun

Saat anak sudah menginjak usia 3 sampai 4 tahun, biasanya sudah mulai bisa bermain dengan temannya. Namun, di usia ini belum bisa untuk berbagai mainan atau sejenisnya. Tentunya untuk memaksimalkan perkembangan tersebut, terapkan beberapa cara berikut ini.

  • Mengajak anak melakukan sesuatu atau bermain peran.
  • Mengajak anak bermain menjadi pemimpin.
  • Mengajarkan anak mengenai lagu-lagu.
  • Mengajak anak untuk membantu aktivitas orang tua seperti memasukkan mainan ke dalam keranjang.
  • Mulai ajarkan mengenal angka-angka dan berhitung. 

6. Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Anak Usia 4-5 tahun

Saat anak di usia 4 sampai 5 tahun sudah mulai bisa memahami konsep waktu seperti pagi, nanti, kemarin dan lainnya. Tentu di tahapan usia ini anak sudah mulai mengalami perkembangan dalam kemampuannya. Sedangkan untuk memaksimalkannya, Orang tua harus menerapkan beberapa cara berikut ini.

  • Memancing agar anak dapat menceritakan aktivitasnya.
  • Biasakan anak untuk bisa mengambil keputusan dengan cara memberikan pilihan.
  • Membantu anak dalam meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa dan mengenalkan kata-kata yang akan sering digunakan. 
  • Membantu anak agar bisa menggunakan frasa dan kata yang tepat.
  • Ajak anak untuk menggambar semua anggota keluarga. 

Pentingnya Peran Orang Tua dalam Perkembangan Kognitif Anak

Dari penjelasan sebelumnya bisa diambil garis besar jika peran orang tua dalam perkembangan kognitif anak sangatlah penting. Dengan kata lain, tanpa bantuan dari orang tuanya terutama ibu, perkembangan kognitif anak tidak akan berkembang optimal.

Di sini, orang tua berperan sebagai pembimbing dan mengarahkan anak agar melakukan sesuatu yang nantinya bisa menjadi kebiasaan. Misalnya saja memimpin anak untuk bisa dispilin, mandiri dan membuat keputusan sendiri.

Tentunya untuk meningkatkan perkembangan kognitif anak bisa dilakukan sesuai dengan tahapan usianya. Mengingat setiap usia anak, mempunyai kemampuan tersendiri dan tentunya tidak dapat dipaksakan sama dengan usia yang selanjutnya. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Hal yang Harus Orang Dewasa Lakukan dalam Membangun Kecerdasan Anak Usia 0-2 Tahun

Tahukah Anda jika peran orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak usia 0-2 tahun, ternyata sangat diperlukan. Mengingat tanpa peran dari orang dewasa, pengetahuan yang anda miliki tidak akan berkembang dan begitu juga sebaliknya.

Kemampuan Sensorik dan Motorik Anak

Perlu diketahui jika perkembangan anak yang berusia 0-2 tahun berada di tahapan sensori motorik. Dengan kata lain pada usia tersebut, dalam membangun pengetahuannya anak akan mengandalkan aktivitas sensorik dan motorik. Selengkapnya berikut ini penjelasan mengenai perbedaan keduanya.

1. Kemampuan Sensorik

Kemampuan sensor merupakan kemampuan yang dimiliki seorang anak dengan memanfaatkan inderanya sebagai sarana untuk menangkap apapun yang ada di sekitarnya. Lebih tepatnya berikut ini 7 Indra yang sangat berperan penting dalam pengembangan sistem saraf anak. 

  • Taste merupakan stimulasi yang dimiliki anak atau manusia pada umumnya dan berhubungan dengan rangsangan indra pengecap. Tentu Indra yang satu ini sangat penting dalam pengembangan sistem saraf anak, karena dapat memperkenalkan rasa.
  • Taktil merupakan stimulasi yang dimiliki dan berhubungan dengan Indra peraba. Tentunya Indra ini sangat penting dalam pengembangan sistem saraf anak dan bisa dilakukan melalui tekanan maupun sentuhan.
  • Pendengaran merupakan rangsangan dari indra pendengaran dan termasuk stimulasi auditori. Jadi antara stimulasi auditori dan indra pendengaran sangat berhubungan. 
  • Penglihatan merupakan stimulasi visual yang saling berhubungan dengan rangsangan berasal dari indera penglihatan.
  • Penciuman merupakan stimulasi olfaktori yang sangat berhubungan dengan rangsangan berasal dari indera penciuman. Stimulasi ini terjadi dengan memberikan aroma wewangian atau sebaliknya.
  • Proprioception merupakan stimulasi yang sangat berkaitan dengan rangsangan pada persendian tubuh. Rangsangan ini menimbulkan adanya gerakan otot secara perlahan.
  • Vestiblular merupakan stimulasi yang sangat berkaitan dengan adanya rangsangan terhadap keseimbangan tubuh. Sedangkan untuk melakukan stimulasi ini bisa dengan cara memberikan rangsangan seperti melakukan ayunan lembut.

2. Kemampuan Motorik

Kemampuan motorik merupakan kemampuan yang dimiliki anak dalam bergerak. Kemampuan motorik dibagi menjadi dua kategori yaitu motorik halus dan motorik kasar. Tentu keduanya mempunyai perbedaan tersendiri, sehingga penting untuk mengetahuinya pada penjelasan ini. 

  • Motorik halus sangat berhubungan erat dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil. Jadi motorik halus merupakan aktivitas yang membutuhkan koordinasi secara matang. Sedangkan untuk mengasah kemampuan motorik halus bisa dengan cara menyusun puzzle, balok dan menggambar. 
  • Motorik kasar sangat berhubungan erat dengan otot besar dalam melakukan koordinasi anggota tubuh. Kemampuan motorik kasar bisa dicontohkan dengan beberapa aktivitas seperti berlari, melompat, berjalan dan yang lainnya.

Peran Orang Dewasa dalam Membangun Pengetahuan Anak

Perlu diketahui jika peran orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak usia 0-2 tahun sangatlah penting dan tentunya dibutuhkan. Mengingat untuk membangun pengetahuan diperlukan perkembangan otak, sehingga perlu adanya stimulasi. Selengkapnya berikut ini beberapa peran yang harus dilakukan. 

1. Menyediakan Permainan yang Interaktif

Cara pertama yang bisa dilakukan orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak di usia 0 sampai 2 tahun yaitu menyediakan permainan interaktif. Dengan kata lain permainan ini dapat mengaktifkan panca indera anak. Seperti halnya berikut ini contoh permainannya.

  • Permainan yang bisa meningkatkan kemampuan motorik kasar anak seperti melempar dan menangkap bola. 
  • Permainan Playdough maupun adonan tepung untuk meningkatkan imajinasi anak. Mengingat dengan permainan tersebut anak akan mencoba untuk meremas pasir dan membentuknya sesuai dengan keinginan.
  • Permainan dari pasir juga sangat berguna untuk membangun pengetahuan anak.
  • Bermain kain sutra atau amplas untuk yang meningkatkan kemampuan dalam meraba kasar halusnya suatu benda.
  • Bermain petak umpet untuk meningkatkan kemampuan anak mencari tahu.
  • Permainan mengambil bola juga bisa meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya, karena anak tertarik untuk meraih bola tersebut. 

2. Menyediakan Lingkungan yang Nyaman

Orang dewasa juga mempunyai peranan penting untuk menyediakan lingkungan yang nyaman agar bayi di usia tersebut dapat bereksplorasi lebih leluasa. Misalnya saja menyediakan lingkungan yang sangat aman untuk bayi merangkak, tengkurap atau melakukan aktivitas lainnya. 

Meskipun begitu, dalam upaya Ini juga masih diperlukan pengawasan dari orang dewasa. Mengingat terkadang ada beberapa hal yang memungkinkan terjadinya sesuatu tidak diinginkan. Intinya peran ini diperlukan untuk memberikan keamanan pada bayi.

3. Menyediakan Lingkungan Kaya Bahasa

Menyediakan lingkungan dengan gaya bahasa juga menjadi salah satu peran dari orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak usia 0-2 tahun. Maksudnya, dalam hari ini orang dewasa mempunyai peranan untuk selalu aktif dalam mengajak anak berinteraksi.

Penerapan ini bisa dilakukan dengan cara yang cukup sederhana seperti mengajaknya berbicara atau melakukan permainan tertentu yang bisa meningkatkan kemampuan berbahasanya. Cara ini juga sangat berguna agar pengetahuan anak bisa meningkat. 

4. Mengenalkan Tempat Benda

Peran orang dewasa dalam membangun pengetahuan anak usia 0-2 tahun yang selanjutnya yaitu mengenalkan tempat atau posisi benda. Dalam hal ini penting juga untuk melakukan penataan lingkungan rumah yang baik dan rapi, agar anak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.

Keuntungan yang didapatkan jika melakukan penataan lingkungan seperti ini yaitu dapat mendorong kemampuan anak dalam menemukan hal-hal baru. Misalnya saja mengetahui tempat untuk menyimpan mainan, sepatu, pakaian dan lain sebagainya. Cara ini juga dapat membiasakan anak disiplin.

Demikian penjelasan mengenai peran orang tua dalam membangun pengetahuan anak di bawah usia 2 tahun. Penjelasan ini tentu akan sangat bermanfaat karena pertumbuhan dan perkembangan anak di usia dini tentu tidak terlepas dari peran orang tua atau orang dewasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Jadi Ayah dan Bunda di Status Saja, Cari Tahu Peran Orang Tua di Setiap Perkembangan Anak

Sudah menjadi hal yang wajar jika orang tua berperan penting pada setiap perkembangan anak. Lebih tepatnya, peran orang tua pada tiap perkembangan si kecil mempengaruhi karakternya di masa depan. Tidak hanya kasih sayang, masih banyak peran orang tua dalam perkembangan anak. Jadi buat para calon orangtua, penting sekali untuk mencari tahu apa-apa saja peran yang harus kita lakukan dalam tumbuh kembang anak selama pertumbuhannya.

Dan untuk Ayah dan Bunda yang mungkin masih bingung mengenai bagaimana peran orang tua dalam setiap perkembangan si kecil. Tidak perlu khawatir, karena berikut ini ada beberapa pedoman yang bisa digunakan. 

1. Bayi 0-3 Bulan

Di usia ini si kecil mulai belajar beberapa hal seperti mengenali wajah, suara dan sentuhan dari orang yang ada di sekitarnya. Selain itu, pada usia ini sekecil juga sudah mulai bisa diajak bermain, bahkan dapat menirukan suara. 

Sedangkan peran orang tua pada tahap perkembangan ini perlu untuk meningkatkan kemampuan anak. Caranya cukup sederhana, hanya perlu memberikan kontak mata dan mengajaknya untuk berbicara dan bernyanyi.

2. Bayi 4-7 Bulan

Bayi berusia 4 sampai 7 bulan sudah mulai bisa memberikan respon dan perhatian kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan, saat dipanggil sudah bisa menoleh dan memberikan respon seperti tersenyum.

Tentunya orang tua dalam tahapan ini penting untuk membantu agar perkembangan fisiknya bisa lebih maksimal. Misalnya saja dengan membantunya untuk duduk dan menopang bagian punggungnya. 

3. Bayi 8-12 Bulan

Bayi berusia 8-12 bulan biasanya sudah bisa mengambil benda-benda yang ada disekitarnya. Bahkan, saat usia ini sudah berusaha untuk berdiri sendiri. Tak hanya itu, bayi juga sudah bisa mendengar kata seperti mama dan papa.

Sedangkan orang tua pada bayi di usia ini yaitu sering mengajaknya bermain dan berbicara. Hal ini penting dilakukan agar anak bisa mengembangkan kemampuannya dalam berbahasa. Selain itu bermanfaat juga untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi. 

4. Bayi 1-2 Tahun

Bayi di usia ini biasanya sudah bisa mengutarakan apa yang menjadi keinginannya nya dengan berbagai cara, seperti halnya merengek. Biasanya bayi di usia ini akan mencoba untuk melakukan apapun sendiri seperti makan dan memakai pakaian. 

Sedangkan peran orang tua dalam hal ini harus bisa memberikan arahan atau contoh agar bisa melakukan hal yang baik dan menghindari hal yang buruk. Tentunya dalam hal ini usahakan mengarahkannya dengan lembut.

5. Balita 2-3 Tahun

Pada usia ini, anak biasanya sudah menguasai beberapa kosakata. Selain itu, anak juga sudah mulai aktif dalam bergerak seperti berlari, melompat dan lain sebagainya. Bahkan, anak sudah mulai belajar mengikuti apa yang dilakukan orang dewasa.

Tentu peran orang tua pada tiap perkembangan si kecil harus bisa melindungi dan mengawasi anaknya saat bermain. Apalagi jika sudah berinteraksi dengan teman-temannya, pengawasan sangat diperlukan. 

Dampak Positif dari Peran Orang Tua yang Maksimal Terhadap Si Kecil 

Anak akan selalu menjadikan orang tuanya sebagai panutan. Inilah Kenapa peran orang tua dalam kehidupan anak cukup besar. Bahkan, apa yang sudah diterapkan oleh orang tua saja kerja apakah tetap dibawa hingga anak dewasa. Seperti halnya berikut dampak positif dari peran orang tua. 

1. Menjadi Sosok yang Bisa Dijadikan Panutan Oleh Orang Lain

Salah satu dampak positif dari peran orang tua yang dilakukan secara maksimal yaitu anak akan menjadikannya panutan atau contoh. Dengan kata lain, orang tua adalah rumah pertama yang akan menentukan bagaimana anak saat sudah dewasa. 

Inilah Kenapa Jika menginginkan seorang anak yang dapat patuh dan selalu menerapkan nilai-nilai baik, maka berikan contoh. Lalu, contoh yang seperti apa? Tentunya contoh yang baik, agar nantinya anak dapat menirunya dan menjadikan panutan hingga dewasa. 

2. Anak Tumbuh Jadi Sosok yang Lebih Kritis

Adapun peran orang tua terhadap anaknya yang lainnya yaitu memotivasi agar bisa lebih kritis. Bagaimana caranya? Cukup sederhana anak hanya perlu mengajak anak untuk mengobrol mengenai sesuatu yang dapat memicu anak dapat berpikir.

Tentu obrolan yang terjalin harus sesuai dengan usianya. Contoh sederhananya menanyakan kenapa harus berbuat baik, begitu juga resiko berbuat buruk. Beberapa hal tersebut sangatlah sederhana tapi bisa meningkatkan kemampuan anak berpikir dan mengutarakan pendapatnya. 

3. Dapat Menjalin Komunikasi yang Baik dengan Orangtuanya

Dampak positif lain yang didapatkan jika orang tua melakukan perannya dengan benar yaitu dapat menjalin komunikasi bersama anak. Maksudnya, komunikasi yang terjalin ini bisa mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

Tentunya untuk menambah kenyamanan dan melekatnya hubungan keduanya, sering-sering juga untuk bercanda dengan anak. Hal ini akan sangat berguna untuk menciptakan hubungan yang tidak ada rasa canggung dan akan saling terbuka dalam hal apapun. 

4. Anak Dapat Mengambil Keputusan

Peran orang tua yang dilakukan secara maksimal juga sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengambil keputusan. Dalam hal ini bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana seperti memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih menu makanan.

Berawal dari hal sederhana tersebut anak akan mencoba untuk mengambil keputusan dan akan berpengaruh penting juga terhadap hidup anak kedepannya. Apalagi jika anak sudah dewasa, tentu dituntut untuk lebih Mandiri dan bisa mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.

5. Anak Jadi Lebih Mandiri

Manfaat lain yang didapatkan jika orang tua melakukan perannya dengan maksimal yaitu anak akan lebih mandiri. Perlu diketahui anak bisa mandiri jika sudah terbiasa. Tentu dengan didikan dan arahan dari orang tuanya sejak dini, anak bisa mandiri tanpa adanya paksaan.

Dalam hal ini orang tua bisa membiasakan anak untuk mulai tidur sendiri, bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya dan lain sebagainya. Beberapa cara tersebut tidak hanya bermanfaat untuk membuat anak lebih Mandiri, tapi juga pemberani. 

Itulah beberapa peran orang tua pada tiap perkembangan si kecil. Dari sini bisa disimpulkan jika perkembangan anak sangat besar pengaruhnya dari peran orang tua. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top