Parenting

8 Rahasia Orangtua dalam Mendidik Anak Disiplin yang Selalu Jadi Kebanggaan

Mengajarkan anak yang disiplin bukan berarti mengekang. Tetapi, orangtua menerapkan sejumlah peraturan agar hidup si kecil lebih baik setiap harinya. Disiplin diajarkan secara konsisten agar anak mandiri dan bertanggung jawab atas perbuatannya. 

Apapun Cita-citanya Kelak, Penting untuk Selalu Mengajarkan Kedisiplinan pada Anak 

Disiplin banyak sekali keuntungannya dalam hidup. Membentuk pribadi disiplin tidak mudah karena itu harus diajarkan sejak kecil secara pelan-pelan. Pola asuh tanpa menanamkan kedisiplinan membuat anak mengambil keputusan sendiri tanpa arahan orangtua, akhirnya terjadi hal yang tidak diinginkan. 

Oleh karena itu, orang tua sangat dianjurkan memberi pemahaman dan melatih anak agar dapat disiplin. Harus dibiasakan paham pada aturan dengan berbagai konsekuensi yang ada. Selanjutnya, berikan kesempatan pada anak untuk membuat pilihan. 

Kedisiplinan dapat mengurangi risiko bahaya pada anak. Sebab si kecil dibimbing mampu mengontrol diri agar tidak melakukan sesuatu yang negatif bagi diri dan orang lain. Orangtua tetap memperhatikan perasaan anak, tetapi dengan tegas menyampaikan apa yang seharusnya diketahui anak. 

Inilah Rahasia dari Orangtua dalam Menumbuhkan Perilaku Anak yang Disiplin

Anak yang disiplin membuat orangtua tenang melepaskannya untuk bermain, belajar di sekolah dan menikmati aktivitasnya yang lain. Disiplin bukan berarti memforsir anak harus mematuhi semua peraturan. Agar praktiknya lebih mudah, orangtua sebaiknya melakukan beberapa langkah berikut. 

1. Komunikasikan Peraturan yang Akan Orangtua Terapkan di Rumah

Sebelum menetapkan apa saja yang harus dilakukan dan dipatuhi anak, bicarakan dulu peraturan dengan anggota keluarga yang lain. Orangtua dapat berbicara dulu pada anak dan jelaskan aturan di rumah. Seperti merapikan tempat tidur, membuang kemasan bekas camilan di tempat sampah dan merapikan mainan setelah selesai menggunakannya. 

Peraturan tentang jam tidur anak, jadwal bermain dan belajarnya serta hal lain yang diperlukan. Tanyakan apa si kecil keberatan dengan semua peraturan tersebut. Dengarkan pendapat si kecil dengan lembut agar si kecil nyaman dan berani menyampaikan pendapat. 

2. Tegas pada Konsekuensi atau Hukuman Dari Setiap Pelanggaran yang Mungkin Dilakukan Anak

Anak melakukan kesalahan untuk pertama, jangan langsung beri hukuman. Tetapi, ingatkan dan beri nasihat agar ke depannya tidak diulangi. Namun, jika masih melakukan kesalahan silahkan beri hukuman yang ringan saja. 

Meskipun anak sedih, tetap menghukum anak. Memang tidak mudah bagi orang tua karena sayang anak, namun hal ini bagus untuk masa depannya. Kesalahan dan hukuman menjadi pengalaman untuk menjadikan si kecil lebih baik. 

3. Jadi Contoh Teladan yang Bisa Ditiru dan Dijadikan Panutan oleh Anak di Rumah 

Berusahalah menjadi contoh yang baik untuk anak. Sebab dia lebih mudah meniru perilaku dibandingkan menuruti perkataan orang tua. Karena itu, jika ingin anak disiplin, orangtua harus lebih dulu menerapkannya dalam kehidupan.

Misalnya, tidur malam hari sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Jika sekali melanggar, jelaskan alasannya pada anak. Tujuannya agar si kecil tidak ikut-ikutan tidur terlambat. Begitu juga pada aktivitas lainnya dilaksanakan sesuai kesepakatan peraturan.

4. Menjadi Pendengar yang Baik untuknya Ketika Anak Ingin Bercerita atau Berdiskusi dengan Orangtua

Jadilah pendengar yang baik bagi anak agar dia merasa disayang dan dihargai oleh orangtua. Tanpa hal ini wajar saja anak tidak mau menuruti perkataan Bunda. Selain orangtua, anak juga memiliki unek-unek yang ingin disampaikan atau diskusi bersama Bunda. 

Maka dari itu, jangan sesekali menyepelekan apa yang ingin dibicarakan anak. Saat anda mau mendengarkan, anak merasa ada tempat berlindung dan bergantung. Bukan berarti menjadikan anak mandiri, anak hanya butuh pembuktian bahwa dia tidak sendiri. 

5. Tetapkan Rutinitas yang Perlu Anak Lakukan dalam Kesehariannya 

Buatlah jadwal kegiatan atau rutinitas untuk dilakukan setiap harinya. Misalnya, harus bangun pagi, gosok gigi dan mandi pagi sebelum melakukan aktivitas lainnya. Ajak si kecil membuat jadwal kegiatannya sendiri untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab. 

Anda sebagai orangtua dapat memberi poin atau bintang saat si kecil berhasil melakukan hal sesuai jadwal tersebut. Gunakan pulpen atau pensil warna untuk menandai kegiatan yang selesai dikerjakan. Cara ini memudahkan anak mengetahui jeda untuk aktivitas berikutnya. 

6. Terus Konsisten untuk Melakukan Hal-hal yang Sudah Ditetapkan Sebagai Aturan dan Didikan  

Konsisten penting sekali diterapkan dalam pembentukan karakter disiplin anak. Orangtua harus konsisten pada peraturan yang sudah dibuat. Sebaiknya ayah dan ibu harus kompak dalam memberikan aturan agar anak tidak bingung. 

Jika si kecil membantah, orang tua harus menahan diri supaya tidak terbawa emosi. Bersikap kasar atau membentak sangat tidak disarankan supaya si kecil tidak berbalik marah dengan orang tua. Selain itu, dalam menerapkan konsisten bukan berarti harus memaksa, tetapi bersikap tegas.

7. Berikan Anak Kesempatan dengan Membiarkan Anak Memilih 

Anak yang masih kecil memiliki banyak sekali hal yang ingin dilakukan. Hal ini didukung oleh rasa ingin tahu si kecil sangat besar untuk mengeksplorasi lingkungannya. Orangtua boleh saja membiarkannya asalkan hal penting sudah diselesaikan.

Misalnya, si kecil boleh bermain di luar rumah setelah merapikan mainan di rumah yang selesai digunakan. Jika anak sudah bersekolah, maka berikan kesempatan padanya melakukan keinginannya setelah pulang sekolah dan meletakkan seragam di gantungan pakaian. 

8. Dan Jangan Lupa untuk Selalu Memberi Anak Apresiasi Atas Hal-hal yang Sudah Berhasil Dilakukannya dengan Baik

Ucapkan kata-kata apresiasi saat si kecil berhasil melakukan tugas atau pekerjaannya dengan baik. Orangtua dapat memberikan pujian atau ucapan Terima Kasih. Tujuannya untuk meningkatkan semangatnya agar hari berikutnya tetap disiplin. 

Bunda juga dapat memberikan kejutan kepada anak dalam bentuk hadiah. Tidak harus mahal, asalkan anak memahami konsep disiplin dengan baik. Mendapat hadiah membuat si kecil tahu bahwa yang dilakukan selama ini bukan hal sia-sia. Itulah 8 hal yang harus dilakukan orang tua agar memiliki anak yang disiplin. Kedisiplinan diajarkan sejak kecil agar lebih mudah diterapkan saat dewasa. Mendidik anak kecil lebih mudah karena lebih mudah baginya menuruti perkataan orangtua.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Beberapa Hal yang Ditakutkan Orang Tua Saat Anak Remaja

Menginjak usia remaja, anak-anak mulai mencari jati dirinya. Tak jarang mereka lebih sering bergaul dengan teman-temannya daripada menghabiskan waktu di rumah bersama orang tua. Ada banyak hal yang ditakutkan orang tua saat anak remaja, terutama terkait masa depannya karena masa ini krusial.

Bunda Perlu Memahami Apa itu Masa Remaja?

Masa remaja merupakan masa yang cukup krusial karena di fase ini anak-anak mengalami perubahan dari anak-anak menuju dewasa sehingga posisinya berada di tengah-tengah. Sudah tidak bisa disebut anak-anak, namun belum layak juga disebut dewasa. Pada fase ini anak-anak sering labil.

Mereka cenderung kesulitan untuk mengambil keputusan. Tak jarang banyak juga yang akhirnya salah dalam mengambil keputusan karena galau dan labil. Mereka masih belum sepenuhnya memahami mana yang benar dan mana yang salah karena masih dalam masa pencarian jati diri.

Pada fase ini Anda jangan kaget jika anak tiba-tiba tidak mudah bercerita dan cenderung lebih senang curhat kepada teman-temannya. Namun, ketakutan orang tua terhadap anak remaja semua akan bisa dengan mudah teratasi jika mereka sudah diberi bekal yang cukup agar tidak salah langkah.

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Dengan Sayangi Anak EXTRA, orang tua dapat mengakses semua artikel premium, kelas & event eksklusif dan video – video seputar parenting, kesehatan dan ibu & anak baik dari para ahli Sayangi Anak maupun dari Team Sayangi Anak..

Lebih Detail

Already a subscriber?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Memilih Permainan yang Pas Untuk Bayi Usia 0 – 12 Bulan

Banyak yang mengira bahwa memberikan mainan pada bayi yang baru lahir sebenarnya tidak dibutuhkan. Padahal memberikan mainan membantu tumbuh kembang anak meskipun baru lahir. Karena bermain adalah proses belajar yang bisa dilakukan anak di kehidupan awal mereka. Apa saja permainan yang pas untuk bayi?

Ide Mainan Untuk Bayi

Ada banyak sekali jenis mainan yang bisa Anda berikan kepada bayi mulai dari lahir hingga umur 12 bulan. Tentu saja mainan tersebut harus menyesuaikan dengan fase perkembangan anak. Seiring dengan kemampuannya semakin bertambah, maka macam-macam mainan yang diberikan pun bisa lebih bervariasi dan menantang.

Gambar Hitam Putih

Gambar hitam putih merupakan mainan yang sangat tepat untuk diberikan kepada bayi yang baru lahir dengan usia 0 sampai 1 bulan. Hal ini dikarenakan fungsi mata bayi belum bisa berfungsi dengan sempurna sehingga ia hanya dapat melihat warna hitam putih saja dengan jarak pandang yang dekat yakni 10 sampai 25 cm.

Cara pandang bayi akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Anda bisa memperlihatkan gambar yang berwarna hitam dengan putih kontras. Meskipun hanya warna tersebut, biasanya bayi akan memperhatikan dan menunjukkan ketertarikannya.

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Dengan Sayangi Anak EXTRA, orang tua dapat mengakses semua artikel premium, kelas & event eksklusif dan video – video seputar parenting, kesehatan dan ibu & anak baik dari para ahli Sayangi Anak maupun dari Team Sayangi Anak..

Lebih Detail

Already a subscriber?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Solusi Terbaik Ketika Orang Tua Berekspektasi Terlalu Tinggi Pada Anak

Setiap orang tentu memiliki harapan untuk anak-anaknya. Namun, bagaimana ketika orang tua berekspektasi terlalu tinggi pada anak? Padahal perlu disadari bahwa setiap orang memiliki bakat masing-masing sejak lahir sehingga tidak dianjurkan untuk terlalu menekan anak dengan push parenting.

Apa Itu Push Parenting?

Push parenting merupakan salah satu gaya pengasuhan yang terlalu menuntut dan memaksa anak. Sebagian dari mereka memiliki rasa takut dan khawatir yang berlebihan akan masa depan anaknya, sehingga terpaksa melakukan pola pengasuhan seperti ini dengan memberi bekal sejak kecil.

Orang tua yang menerapkan pola pengasuhan ini karena memiliki harapan dan keinginan agar anak-anaknya tidak bernasib sama seperti saat mereka kecil. Sehingga dengan sekuat tenaga dan melalui berbagai cara mereka berusaha menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik dan unggulan.

Pengaruh push parenting juga tidak hanya berasal dari dalam diri orang tua saja. Namun, pengaruh media yang sering menggembor-gemborkan dan menampilkan anak berprestasi juga menjadi faktor penyebab lainnya. Sehingga banyak orang tua yang akhirnya terlalu menuntut anak sesuai keinginan mereka.

Dampak Ketika Orang Tua Berekspektasi Terlalu Tinggi Pada Anak

Baik orang tua maupun anak sebenarnya masing-masing juga memiliki ekspektasi. Hanya saja harapan dan ekspektasi mereka tidak mencapai titik temu terutama bagi orang tua yang memberikan standar terlalu tinggi. Padahal orang tua juga harus paham bahwa hal tersebut bisa berpengaruh pada perilaku anak.

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Dengan Sayangi Anak EXTRA, orang tua dapat mengakses semua artikel premium, kelas & event eksklusif dan video – video seputar parenting, kesehatan dan ibu & anak baik dari para ahli Sayangi Anak maupun dari Team Sayangi Anak..

Lebih Detail

Already a subscriber?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top