Parenting

Mendidik Anak yang Baik Hati dan Jujur adalah Cara Orangtua Mendidik Anak Menjadi Manusia Bermoral. 7 Cara Mendidik Anak yang Baik Hati dan Jujur

cara mendidik anak yang baik dan jujur

Mendidik anak yang baik hati dan jujur adalah cara kita mendidik anak menjadi manusia bermoral. Dalam artikel ini SayangiAnak.com akan membahas ini 7 cara mendidik anak yang baik dan jujur yang dapat dilakukan oleh orang tua.  Ini bukan guidline utama, akan tetapi ini bisa menjadi masukan untuk pada orang tua.

cara mendidik anak yang baik dan jujur

1.Cara mendidik anak yang baik hati dan jujur adalah perlakukan anak seperti kita mengharapkan mereka memperlakukan kita.

Moralitas adalah sesuatu sifat dua arah. Jika orang tua sudah bersikap jujur dan baik hati kepada anak ( dengan bersikap terbuka, penuh perhatian, memperlakukan anak sesuai tingkat dan kemampuannya, menoleransi ketidakmatangan anak),  barulah kita boleh berharap mereka bersikap jujur dan naik kepada kita, tidak bohong penuh perhatian dan tenggang rasa, menghormati kita sebagai orang tua, serta menghormati kita sebagai sesama manusia.

2. Mengajarkan Anak lewat contoh. Contoh tunggalnya adakah diri Orangtua, sikap dan prilaku Orangtua.

Anak harus diajakarkan bagaimana memperlakukan dan berbicara dengan orang di luar dirinya dan keluarganya. Contoh tunggalnya adakah diri kita, sikap dan prilaku kita. Jika kita kita baik hari dan jujur kepada orang lain, barulah kita berharap anak-anak akan jujur dan baik hati kepada orang lain.

3. Selain contoh, Pelu juga Mengajarkan lewat kata-kata dan nasihat karena anak perlu alasan

Anak di kelilingi banyak sekali contoh buruk, di sekolah, di jalan, di televisi dan lainnya.  Mereka membutuhkan penjelasan, misalkan ” mengapa kita harus berani jujur dan baik hati, semetara diluar sana banyak koruptor dan penjahat ? ” Anak perlu melihat kita bertindak jujur dan baik hati. Namum mereka juga perlu mengetahui mengapa mereka perlu mengetahui mengapa kita melakukannya. Jika kita menjelaskan nilai-nilai dan keyakinan di balik contoh tindakan kita, pengaruh tidakan itu pada anak akan maksimal.

4. Bantu anak belajar berfikir.

Kira bisa membantu mengembangkan sikap jujur dan baik hati dengan selalu mendorong mereka agar mereka mau berhenti sejenak, berfikir dan menyertakan sudut pandang orang lain ke dalam pertimbangannya. Jika suatu kali anak tidak berkata jujur, kita bisa bertanya ” bagaimana seseorang melakukan hal yang sama terhadapnya?”

5. Bantu anak mempraktikan kedalam keseharian.

Kebaikan hati anak dapat terasah jika di berikan kesempatan seluas-luasnya untuk mempraktikannya dalam kesehariannya. yang penting di ingat, jika kita tahu anak berbohong, jangan menyalahkan. Lebih baik katakan betapa berharganya kejujuran, katakan pula betapa bangganya kita  jika ua bersika jujur.

6. Seimbangkan kebebasan dan kontrol.

jika terlalalu mengontrol anak soal apa dan bagaimana menjadi pribadi yang jujur dan baik hati, mereka bisa memberontal dan melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan demi kebebasan.  Namun jika terlalu memberikan kebebasan pada anak untuk menentukan apa dan bagaimana menjadi pribadi yang jujur dan baik hati, mereka bisa kewalahan.

7.Cintailah anak dan ciptakan keluarga bahagia.

Anak-anak merasa dicintai orang tua akan lebih mudah menerima nilai-nilai dan aturan orang tuanya soal kejujuran dan kebaikan hati. Sementara itu, keluarga yang hanya memberi anak figur-figur yang dapat mereka identifikasi sebagai sosok yang jujur dan baik hati. Keluarga juga menyediakan berbagai contoh, nilai-nilai, serta tradisi kejujuran dan kebaikan hati untuk dipelajari dan dijunjung tinggi, serta memberi ‘habitat’ untuk kembali manakala anak lelah dengan kemunafikan dan kejahatan diluar sana.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Panduan untuk Memahami Rangkaian Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Setiap anak memiliki tahapan perkembangan masing-masing termasuk dalam berbicara. Gangguan terlambat bicara bisa dialami oleh si kecil karena beberapa faktor. Problem ini pun termasuk keterlambatan perkembangan yang sebenarnya paling umum terjadi. 

Kondisi ini kerap membuat para orang tua khawatir dan membandingkan anak mereka dengan anak lain seusianya. Padahal, perkembangan berbicara tiap anak bisa berbeda-beda. Simak penjelasannya berikut. 

Tahapan Perkembangan Bicara Pada Anak yang Harus Bunda Pahami

Anak yang terlambat bicara bisa jadi sifatnya hanya sementara dan memang karena belum saja. Namun, dalam beberapa kasus gangguan tersebut juga bisa menjadi suatu tanda bahwa ada gangguan pendengaran dalam perkembangan si kecil. Bagaimana tahapan perkembangan bicara anak?

  1. Usia 3 Bulan

Saat usia 3 bulan, kemampuan anak berbicara memang masih sebatas mengeluarkan suara dalam bahasa bayi yang tidak bisa diartikan. Saat usia ini anak-anak juga lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan ekspresi seperti tersenyum atau tertawa saat melihat orang yang mengajaknya berbicara. 

  1. Usia 6 Bulan

Bayi biasanya sudah mulai mengeluarkan kata-kata yang suku katanya lebih jelas terdengar saat memasuki usia 6 bulan. Mereka sudah bisa mengucapkan kata-kata seperti ba-ba, pa-pa, ma-ma, da-da, dan lain sebagainya. Saat akhir usia 6 bulan mereka juga sudah bisa mengekspresikan emosi dengan suara. 

  1. Usia 12 Bulan

Perkembanan bicara pada anak usia 12 bulan biasanya sudah bisa mengucapkan kata seperti “ayah”, “ibu”, atau kata-kata lainnya yang sering si kecil dengar. Anak juga sudah bisa memahami kalimat dan instruksi perintah seperti, “kemari”, “ayo”, “ambil”, “lempar”, dan lainnya. 

  1. Usia 18 Bulan

Anak pada usia 18 bulan pada umumnya sudah bisa mengucapkan 10 – 20 kata dasar mesipun beberapa kata masih belum jelas pengucapannya. Si kecil juga sudah mampu mengenali bena, danam orang, dan beberapa bagian tubuh. Mereka juga sudah mampu mengikuti petunjuk dan gerakan orang. 

  1. Usia 24 Bulan

Saat memasuki usia 24 bulan, si kecil biasanya sudah mampu mengucapkan paling tidak sebanyak 50 kata. Mereka juga sudah mampu mengucapkan dua suku kata secara runut seperti “mau makan”, “buku baru”, dan lain sebagainya. Beberapa pertanyaan sederhana juga sudah bisa dipahami dengan baik. 

  1. Usia 3 – 5 Tahun

Kosakata yang bisa diucapkan si kecil sudah semakin banyak saat berusia 3 – 5 tahun dan bisa dibilang perkembangannya cukup pesat. Mereka bahkan sudah mampu menangkap sekitar 300 perbendaharaan kata baru. Kata-kata yang diucapkan sudah sangat mudah dipahami oleh orang dewasa. 

Tips Mengatasi Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Sebagian orang mungkin masih ada yang beranggapan bahwa anak nantinya akan bisa berbicara sendiri tanpa distimulasi. Namun, peran aktif orang tua dalam memberi dorongan anak agar berbicara dan berkomunikasi dengan baik sangatlah penting. Berikut ini tips mengatasinya:

  1. Cobalah untuk Berbicara Sambil Bergerak Suatu Objek

Saat masih bayi, anak biasanya akan lebih senang dengan suara dan gerakan yang ekspresif dari orang yang mengajaknya berbicara. Bunda bisa melakukan hal-hal seperti menggoyang-goyangkan botol susu saat mengajak si kecil minum atau mengelus boneka untuk mengajarkan menyayangi benda.

Bunda juga bisa mulai mengenalkan anggota tubuh pada si kecil sambil menunjuk dan membuat gerakan ekspresif. Dengan cara seperti ini anak akan terdorong untuk berbicara dan berkomunikasi meskipun kata-katanya masih belum bisa dipahami oleh orang dewasa karena menggunakan bahasa bayi. 

  1. Ulang Semua yang Ia Katakan dengan Mengikuti Semua Ucapan Anak

Ketika si kecil sudah bisa mengucapkan suara-suara tertentu meskipun kosakatanya belum jelas, ikuti saja suara yang ditangkap dengan kata yang lebih jelas. Meskipun Bunda tidak memahami maksud dari suara-suara yang mereka ucapkan, tetap ikuti saja dan ajak si kecil berbicara. 

Anak akan merasa seperti mereka sedang berbicara dengan orang lain dan lambat laun akan membiasakan untuk meniru kata-kata yang Bunda ucapkan. Ajak anak mengobrol sebanyak mungkin dan tetap bersabar dalam mendampingi perkembangan si kecil. 

  1. Perbanyak Waktu Bermain Bersama untuk Melatihnya

Saat mengajak anak bermain bersama, orang tua terkadang perlu berakting layaknya seperti anak kecil. Ajak mereka untuk bermain permainan yang dapat meningkatkan kemampuan verbalnya. Contohnya seperti bermain peran atau berimajinasi pura-pura menelepon. 

Anak akan belajar banyak kosakata baru dan merasa senang karena diajari dengan cara yang menyenangkan. Mereka akan lebih banyak mengeksplor perbendaharaan kata dan jika saat memainkan peran tersebut tidak tahu kata yang harus diucapkan, anak akan belajar inisiatif bertanya. 

  1. Biasakan untuk Melatih Si Kecil Untuk Membuat Narasi

Anak memang belum bisa berbicara layaknya orang dewasa dengan struktur kalimat yang runut, namun Bunda masih bisa mengajarinya dengan membuat percakapan sehari-hari lebih deskriptif. Ajarkan anak untuk membuat kalimat yang urut dan detail. 

Contohnya seperti, “Besok kita pergi ke taman di dekat rumah yang ada pohon mangganya, pakai baju motif bunga-bunga yang ini ya!” Ucapkan kalimat tersebut sambil memperlihatkan baju. Anak juga akan belajar memahami benda atau objek tertentu dengan kata-kata yang Bunda ucapkan. 

  1. Berikan Kaimat Pujian untuk Perkembangan Si Kecil

Anak yang mendapat pujian dan apresiasi biasanya akan lebih semangat lagi, termasuk dalam belajar berbicara. Berikan senyuman, pujian, dan pelukan setiap si kecil berhasil mengeluarkan suara dan kosakata yang baru dengan lancar dan benar. Anak adalah peniru yang ulung dan akan belajar dari reaksi. 

Rangsang perkembangan dengan terus mengajak si kecil untuk berkomunikasi dua arah. Pastikan untuk memberikan respon positif dan jangan mudah memarahi ketika Anda tidak bisa memahami kata-kata-kata yang diucapkan oleh mereka. 

Gangguan terlambat bicara memang menimbulkan kekhawatiran tersendiri apalagi jika teman sebayanya sudah melewati fase itu. Jangan menyerah dan terus berusaha untuk menstimulasi si kecil dengan tips dan cara-cara di atas. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Susah Bersosialisasi? Begini Cara Agar Anak Mudah Bergaul dan Semakin Percaya Diri

Sebagai orangtua, Bunda pasti sering merasa khawatir jika anaknya sangat pendiam atau kurang percaya diri. Alhasil, ia tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Anak-anak yang memiliki sifat terlalu pemalu jangan dibiarkan ya Bun. Dikhawatirkan nanti saat dewasa mereka tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Ketidakmampuan bersosialisasi bisa berpengaruh terhadap kesuksesan masa depan serta perasaan nyaman ketika bersama dengan orang-oran

Ada trik dan cara agar anak mudah bergaul, sehingga bisa menempatkan diri sesuai dengan lingkungannya. Bunda bisa melatih dan memberikan si kecil edukasi mulai dari sekarang. 

Lalu, Bagaimana Cara Agar Anak Mudah Bergaul dan Selalu Percaya Diri?

Salah satu masalah yang sering dihadapi orang tua terkait tumbuh kembang si kecil adalah masalah sosialisasi. Bunda pasti merasa khawatir jika anak ada kesulitan berbaur dengan lingkungan sekitarnya, karena ini menyangkut menyangkut pembentukan rasa percaya diri mereka juga. Jika si kecil menunjukkan tanda-tanda sulit bersosialisasi, cobalah untuk mulai melakukan hal berikut ini. 

1. Ajak Si Kecil untuk Main Bersama Agar Terlatih Berbaur dan Menjalin Komunikasi dengan Orang Lain

Orangtua seringkali melupakan kebutuhan anak paling utama yakni kasih sayang dan waktu luang bersama yang berkualitas. Sekarang ini banyak sekali para orangtua hanya memperhatikan soal kebutuhan material saja tanpa menyediakan quality time bersama setiap harinya. 

Kurangnya komunikasi dengan orang tua juga kana berdampak pada mental dan rasa percaya diri anak. Ia akan tumbuh jadi pribadi yang pendiam dan sulit mengutarakan emosionalnya. Oleh karenanya setiap hari jangan lupa ajak si kecil untuk main bersama, walaupun hanya melakukan permainan sederhana.

2. Biarkan Ia Melepas Emosi dengan Memberinya Ruang untuk Berekspresi

Setiap hari sediakan ruang untuk anak agar ia bebas mengekspresikan emosinya. Hal ini bisa membantu anak agar mudah bergaul dengan seusianya juga. Tidak perlu pakai alat aneh-aneh, cukup dengan ajak dia berolahraga saja di luar rumah sehingga nantinya juga bertemu dengan orang lain. 

Semakin sering ayah atau bunda mengajak anak untuk bersosialisasi dengan banyak orang, maka mental dan rasa percaya dirinya juga semakin bertambah. Si kecil sudah tidak sungkan lagi untuk memulai percakapan dengan orang lain walaupun tidak ada bantuan lagi dari orangtuanya.

3. Karena Rumah adalah Tempatnya Belajar, Ciptakan  Suasana Bahagia di Tengah-Tengah Keluarga 

Agar anak percaya diri memulai percakapan jangan hanya diam atau membuat suasana jadi canggung, cobalah untuk membantunya. Sebisa mungkin ciptakan suasana bahagia di tengah-tengah percakapan tersebut. Dengan begitu anak juga tidak akan  kaku lagi ketika sosialisasi dengan orang lain. 

Suasana terbuka juga penuh kebahagiaan bisa diciptakan di tengah-tengah keluarga juga. Apabila si kecil sudah terbiasa dengan suasana seperti itu maka di luar saat bertemu orang asing ia mudah beradaptasi. Tetap nyaman menyampaikan pendapat juga membangun komunikasi dengan orang lain.

4. Buat Variasi Aktivitas dengan Mengajak si  Kecil Ikut Permainan Berkelompok 

Cara membuat anak agar mudah bergaul dengan lingkungan sekitar adalah jangan batasi jangkauan pertemanannya. Biasanya ini sering terjadi di area kompleks yang bersebelahan dengan gang pedesaan. Orangtua seringkali melarang anaknya untuk ikut bergabung bermain dengan anak-anak sekitar. 

Padahal jika dibiasakan sejak ini anak mengikuti permainan yang berkelompok juga bisa melatih kepercayaan dirinya. Hal ini sangat efektif membentuk mental anak agar tidak mudah merasa insecure ketika akan bertemu orang-orang baru. Peran orangtua memang sangat besar dalam hal satu ini. 

5. Sebagai Orangtua, Kita Juga Perlu untuk Tidak Terlalu Bersikap Protektif 

Namanya orangtua pasti sering melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Ayah atau Bunda pasti sering merasa khawatir jika si kecil pergi izin untuk main sendirian bergabung dengan teman-temannya. Namun sebagai orang tua yang baik pasti sudah tahu standar keamanan dan pergaulan yang baik. 

Jika memang dirasa tidak mengkhawatirkan jangan terlalu dikontrol, bebaskan ia untuk menemukan kesenangan bersama teman-teman sebayanya. Asal masih ingat batasan dan waktu bermain. Proteksi yang berlebihan justru akan membuatnya risih dan melakukannya secara sembunyi-sembunyi. 

6. Jangan Sampai Terlewat, Pastikan Bunda Selau Memperhatikan Setiap Tingkah Lakunya

Tidak mudah memang untuk merawat anak dan memberikan edukasi yang benar. Sebagai orangtua tentunya harus memperhatikan setiap tingkah laku dari anak-anak. Misalnya membantunya ketika sedang berusaha membangun komunikasi dengan orang lain namun merasa malu. 

Ketika si kecil merasa malu memulai topik pembicaraan dengan orang lain, Bunda bisa mencoba untuk memberikan sugesti positif. Katakan kepada mereka bahwa tidak apa-apa nanti Ayah bantu biar nenek dan semuanya ikut ketawa. Secara tidak langsung kita sudah membantu mental anak. 

7. Memberikan Ia Contoh Sikap yang Nyata Secara Konsisten 

Anak bisa melakukan hal tersebut tentunya juga berkat contoh dari orangtua. Saat Ayah atau Bunda bisa membangun komunikasi juga dengan nyaman bersama orang lain, anak juga akan dengan mudah mengikutinya. Beritahu si kecil jika jadi orang mudah bergaul itu menyenangkan. 

Tidak hanya sebatas memberikan contoh sekali saja, kita harus melakukannya dengan konsisten agar membekas di pikiran anak-anak. Berikan pengertian kepada si kecil bahawa lingkungan yang baik juga bisa diciptakan dari dirinya sendiri. Jadi tidak harus mengandalkan orang lain jika bisa menciptakannya. 

8. Memberi Pengertian, Betapa Serunya Memiliki Teman Banyak 

Cara selanjutnya adalah dengan menjelaskan kepada si kecil jika sangat menyenangkan punya banyak teman. Bermain bersama tentu lebih seru daripada harus terus diam di dalam kamar sambil bermain ponsel. Ke depan kebiasaan baik ini bisa membuatnya tumbuh jadi pribadi terbuka. 

Sejauh ini semua usaha diatas bisa saja berhasil asalkan anak memang punya kemauan untuk terbuka. Namun sebaiknya jika memang si kecil tidak mau melakukannya jangan dipaksakan. Butuh proses dan waktu panjang agar si kecil terbiasa dengan kebiasaan baik tersebut. 

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menanamkan rasa percaya diri pada anak. Punya teman banyak di usia bermainnya tentu akan sangat menyenangkan. Bisa membuatnya menjadi pribadi terbuka dan mudah menempatkan diri di semua situasi. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Yuk Bantu Anak untuk Mengolah Rasa Sedari Kecil Agar Anak Cerdas dalam Emosi yang Dimiliki

Sama halnya dengan tahapan tumbuh kembang anak yang lainnya, kemampuan emosi anak juga harus distimulasi agar dapat dikendalikan dengan benar. Karena ini dapat membantu anak-anak, untuk membangun hubungan yang kuat, membuat keputusan, dan menghadapi situasi sulit yang dihadapinya. 

Namun, jika diperhatikan anak-anak generasi sekarang cenderung lebih susah mengolah emosinya dengan baik. Hal ini justru kurang baik bagi tumbuh kembang mereka, untuk menghindarinya Ayah dan Bunda bisa mencoba cara agar anak cerdas emosi dan mengolahnya jadi energi positif.

Tips Parenting dan Cara Agar Anak Cerdas Emosi 

Anak-anak cenderung lebih cepat menyerap apa saja yang diajarkan kepada mereka. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk mulai menanamkan kecerdasan emosional anak sejak dini. Cerdas secara emosional artinya bisa mengolah perasaan menjadi lebih baik walaupun sedang bergemuruh dalam hati. Tidak mudah membuat anak tidak mengikuti emosi negatifnya. 

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menuntun si kecil berpikir positif sejak dini.

1. Jangan Ragu-ragu Mengajari Anak untuk Mengenali Emosi yang Sedang Dirasakannya

Seringkali orang tua abai dalam melakukan pengenalan emosi kepada anak-anaknya. Saat dalam masa tumbuh kembang atau usia keemasannya, usahakan untuk mengajari si kecil mengenali jenis emosinya. Dengan mengetahui apa yang sedang dirasakan maka lebih mudah mengendalikannya.

Jangan hanya menuntut untuk diam ketika anak sedang kesal, namun pakailah kata-kata bijak misalkan “oh kakak marah ya, kesal ya karena makanannya dihabiskan adik, yuk mama temani beli lagi di warung depan” kalimat seperti itu justru lebih bagus dan bisa menyadarkan anak mengenal emosinya.

2. Selain Mengenali, Ajari dan Beri Contoh Anak untuk Selalu Mengendalikan Emosinya

Sebelum mengajarkan anak untuk mengenali setipa emosi yang dirasakannya lebih baik orangtua juga ikut mengendalikan emosi tersebut. Sederhananya, jangan terbawa kesal juga ketika sedang mengajari si kecil yang tidak kunjung memahami materi sedang diajarkan. Sebisa mungkin kontrol rasa kesalnya.

Jika masih merasa sulit mengendalikan emosi sebaiknya jangan menghadapi anak dulu. Usahakan melakukan kegiatan lain dulu untuk mengalihkan suasana hati menjadi baik kembali. Setelah itu barulah bisa kembali ke depan anak dan mengajarkan anak tentang materi olah rasa lainnya.

3. Hargai Usaha dan Upaya yang Dilakukannya, Beri Penghargaan Ketika Mereka Berhasil

Setiap anak pasti punya kemampuan yang berbeda-beda dalam menangkap sesuatu yang baru. Begitu pula dengan pengendalian emosi, jika si kecil berhasil mengendalikan emosi negatifnya jangan ragu untuk memberinya reward. Tidak perlu barang bagus atau mahal untuk menyampaikan apresiasi.

Cukup dengan pelukan atau berkata “Bunda bangga adek bisa nggak marah-marah walaupun kakak tadi nggak sengaja jatuhin makanan adek”. Katakan sambil memeluk si kecil agar dia tahu orang tuanya benar-benar memberikan apresiasi penuh atas sikap baiknya tadi saat berhasil mengendalikan marah.

4. Fasilitasi Anak dengan Memberi Pilihan Penyaluran Emosi Secara Tepat dan Positif

Saat ada yang mengganjal di hatinya, seringkali anak akan marah-marah dan bisa saja melakukan tindakan lain seperti memukul atau merusak barang-barang di sekitar. Hal tersebut tentu saja kurang bagus karena bisa membuatnya jadi pribadi ringan tangan dan suka dengan kekerasan.

Agar tidak terjadi hal demikian cobalah untuk memberikan pilihan kepada anak untuk menyalurkan emosi tersebut ke dalam hal-hal lebih positif. Misalnya saja dengan pergi main ke museum bersama sambil belajar, atau ikut bunda memasak agar penyaluran emosi tidak hanya ke marah-marah saja.

5. Bantu Anak untuk Membangun Rasa Empati dalam Dirinya Sejak Dini

Empati merupakan salah satu rasa yang harus dimiliki setiap manusia. Bunda bisa mulai menanamkan ke anak dari usia dini. Sejak bagaimanapun dari rasa empati inilah anak bisa jadi pribadi lebih lembut juga peduli terhadap sesamanya. Baik orang lebih tua maupun sesama usianya.

Untuk membangun rasa empati pada anak agar lebih peka pada orang lain adalah dengan mendengarkannya ketika bercerita. Dari hal-hal sederhana seperti memberikan pemahaman bahwa kehilangan mainan adalah hal yang menyedihkan bagi anak seusianya.

6. Konsisten untuk Membiasakan Anak untuk Selalu Bisa Kooperatif dan Bekerja Sama

Banyak para ibu berpendapat jika masih anak-anak dan tidak akur dengan temannya tidak perlu dipaksakan. Bermain sendiri juga bukan masalah besar, namun anak akan tumbuh jadi pribadi yang pendiam dan susah untuk berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut tentu kurang baik.

Mulai biasakan si kecil untuk kerja sama dan mau diajak gotong royong merupakan salah satu kemampuan yang bisa diajarkan langsung oleh para ayah dan bunda. Cukup dari hal-hal sederhana, misalnya membantu pekerjaan rumah ibu, seperti mencuci sayur atau pekerjaan ringan lainnya.

7. Dorong Anak Agar Lebih Berani Mengambil Keputusan Sendiri Sejak Dini

Olah emosi tidak hanya soal menghilangkan rasa marah yang ada di hati saja. melainkan juga mengolah perasaan agar bisa mengambil keputusan sesuai dengan kenyamanannya. Ajari anak agar ia bisa memutuskan sendiri keputusan mana harus diambil.

Bunda bisa mulai dari hal-hal simple terlebih dulu. Misalnya, saja saat anak bingung mainan mana yang harus dipilih. Bunda bisa membantunya untuk menjelaskan kelebihan serta kekurangan masing-masing jenisnya, nantinya biarkan anak memilih tipe mana yang akan dipilih jadi mainan favoritnya.

8. Selain Memberi Contoh, Jadilah Pendukung Setia untuk Anak Bisa Mengembangkan Rasa Percaya Dirinya

Agar si kecil mudah mengekspresikan emosinya tentunya ia harus punya rasa percaya diri yang tinggi Pupuklah hal tersebut sedari dini. Jangan biarkan anak merasa minder dengan kekurangannya, sampai sampai tidak berani menunjukkan ekspresinya sendiri.

Sejak usianya masih kecil cobalah temani anak untuk menunjukkan juga mengembangkan potensi yang dimilikinya. Misalnya saja ia suka bernyanyi atau menari, maka ajak anak untuk bergabung dengan komunitas tari dan menyanyi. Disana ia akan bertemu dengan orang-orang baru lagi.

Tumbuh kembang si kecil tentunya juga dipengaruhi oleh peran orang tua. Buat anak merasa nyaman dengan cara selalu ada dan bersikap seperti teman. Hal ini sangat bagus untuk membantu mereka merasa bebas berekspresi tanpa terlewat batasannya. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top