Kesehatan

6 Penyebab Anak Sering Muntah saat Makan dan 4 Hal yang Harus Bunda Lakukan untuk Mengatasinya

Anak sering muntah saat makan membuat orangtua khawatir. Karena biar bagaimanapun, semua Ibu ingin anaknya selalu dalam keadaan sehat sehingga semua aspek. Itulah mengapa, penting untuk memperhatikan semua hal yang terjadi pada anak, termasuk makanan dan minuman yang dikonsumsinya.  

Muntah Adalah Cara Tubuh Mengeluarkan Racun yang Tertelan, Inilah 6 Penyebab Anak Sering Muntah saat Makan

Muntah terlalu sering bukan hal yang wajar pada bayi, anak-anak maupun orang dewasa. Banyak penyebab munculnya kondisi ini dan orang tua penting sekali mencari tahu, supaya ke depannya hal yang sama tak akan terulang kembali.

1. Makan dan Minum dalam Porsi yang Berlebihan 

Makan dan minum dianjurkan secukupnya saja. Karena semua yang berlebihan dapat berdampak negatif bagi tubuh tak terkecuali makanan dan minuman. Terutama pada bayi dan anak-anak memiliki ukuran lambung lebih kecil dibandingkan orang dewasa. 

Jika makanan terus masuk ke mulut dan lambut tidak sesuai porsinya, kapasitas yang terpakai semakin meningkat. Tubuh tidak mampu menampung lagi sehingga memunculkan gejala atau reaksi mual dan muntah. Saat kondisi terjadi, jangan paksa anak terus makan untuk menghabiskan sisa di piring. 

2. Dikarenakan Anak Tidak Suka Pada Jenis Makanan Tertentu 

Hal ini sering terjadi pada bayi memuntahkan makanan saat tidak disukainya. Wajar saja dan sebagian orang dewasa juga melakukan hal yang sama. Tetapi, jika setiap mengkonsumsi makanan selalu muntah sebaiknya dicek ke dokter. 

Penting sekali orangtua menyajikan makanan yang disukai anak. Boleh juga memodifikasi atau kombinasi dengan ragam varian bahan agar lebih bergizi, namun usahakan anak tidak tahu. Karena jika mengetahuinya, pasti tidak mau dikonsumsi.

3. Anak Memiliki Alergi Terhadap Makanan-makanan Tertentu 

Banyak makanan penyebab alergi terutama susu, keju dan kacang-kacangan. Tidak heran di kemasan biskuit dan makanan ringan lainnya, sering dicantumkan di bagian belakangnya bahwa makanan mengandung alergen. 

Sebagian anak belum paham apa itu alergi maka yang dibutuhkan orang tua. Sajikan makanan yang bagus dan sesuai dengan kesehatan tubuh anak. Hindari bahan penyebab alergi. Jika bayi alergi pada susu, orang tua harus konsultasi dengan dokter agar bisa dipilihkan susu pengganti yang sesuai untuk si kecil. 

4. Stenosis Pilorus 

Merupakan kondisi dimana otot pengontrol katup yang mengarah dari lambung ke usus mengalami penebalan. Bisa terjadi pada bayi maupun anak-anak. Akibatnya, susu dan makanan lain yang masuk terhalang untuk mengalir ke usus. Sebaliknya, akan bertahan di lambung bahkan naik ke kerongkongan. 

Biasanya Stenosis Pilorus terjadi dalam waktu 30 menit sesudah makan. Sering dialami bayi berusia 6 minggu. Masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat kondisi ini yaitu anak mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi. 

5. Obstruksi Usus 

Obstruksi usus juga bisa menjadi penyebab anak muntah saat makan. Gejala yang muncul seperti malrotasi, insuspensi dan muntah terus menerus. Kondisi ini tentunya sangat mengganggu kenyamanan si kecil selama makan serta melakukan kegiatan yang lain. 

Terjadinya penyumbatan usus mengakibatkan anak kekurangan gizi dan dehidrasi. Makanya, dibutuhkan penanganan medis sesegera mungkin, jangan didiamkan. Bahkan jika terlalu parah, bisa saja harus melalui tahap pembedahan. 

6. Infeksi Virus dan Bakteri 

Bakteri dan virus berbahaya dapat masuk ke tubuh dan menyerang organ pencernaan. Jika lapisan perut dan usus anak sudah terinfeksi akibatnya nafsu makan berkurang, muntah, demam dan sakit perut. Biasanya kondisi muntah akan hilang dengan sendirinya dalam 12 hingga 24 jam. 

Namun, jika tidak hilang alangkah lebih baik hubungi dokter segera. Orang tua penting sekali memperhatikan kebersihan makanan dan minuman si kecil. Usahakan semua yang masuk ke mulutnya dalam keadaan bersih dan higienis.

Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Mengatasi Anak yang Sering Muntah Saat Makan

Anak sering muntah saat makan tentu membuat orang tua khawatir. Sebab, kesehatan anak merupakan hal yang utama. Meskipun sudah menjaga dan mengawasi si kecil dengan baik, kemungkinan muntah bisa muncul kapan saja. Jika menghadapi kondisi ini, coba terapkan hal berikut ini. 

1. Hubungi Dokter

Jika muntah dicurigai sebagai gejala penyakit tertentu, bagusnya segera hubungi dokter. Anak yang muntah setelah makan membutuhkan perhatian lebih. Terutama yang usianya masih di bawah bulan. Muntah terjadi sekaligus demam dengan suhu tubuh di atas 38 derajat celcius. 

Kondisi berikutnya yang membutuhkan penanganan dokter adalah anak muntah lebih dari 8 jam, muntah darah serta sakit perut selama 2 jam. Mencatat waktu muntah dan makanan yang dikonsumsi memudahkan dokter melakukan diagnosa. 

2. Hindari Makanan Penyebab Alergi 

Jika anak muntah disebabkan alergi maka ke depannya hindari makanan tersebut. Misalnya setelah mengkonsumsi kacang sakit perut, gatal-gatal hingga muntah. Setelah hubungi dokter dan dikasih obat, orang tua harus menyampaikan kepada anak agar tidak makan kacang lagi.

Orang tua tidak boleh lepas tangan begitu saja setelah menasehati anak. Sebab namanya anak-anak bisa saja lupa dan ikut teman-teman makan makanan mengandung alergi. Jadi, obat alergi harus selalu disediakan di rumah sehingga saat dibutuhkan dapat langsung digunakan. 

3. Mengganti Varian Susu

Jika si kecil muntah setelah minum susu formula, ganti dengan susu formula berbasis kedelai. Boleh juga memberikan susu lain yang tidak mengandung laktosa. Terutama pada bayi berusia di bawah 6 bulan, sebaiknya jangan diberi susu kedelai.

Tetapi, jika tidak ada pilihan susu yang lain konsultasikan dengan dokter terlebih dulu. Jangan memilih susu sendiri jika tidak benar-benar paham dalam hal ini. Adanya saran dokter mengurangi risiko masalah kesehatan lain pada si kecil.

4. Berikan Oralit 

Jika anak muntah setelah makan disertai diare, cobalah berikan oralit. Tetapi juga tidak boleh sembarangan apalagi jika akan diberikan pada bayi. Konsultasikan dengan dokter terlebih dulu agar bisa memberikan sesuai arahan. Itulah 6 penyebab anak sering muntah saat makan yang perlu diketahui. Orang tua jangan terlalu panik menghadapi kondisi ini. Tetapi terapkan 4 langkah di atas untuk mengurangi gejala muntah pada si kecil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Beberapa Tips untuk Meningkatkan Kecintaan Anak Usia 5 Tahun Membaca Buku

Karena perkembangan teknologi yang semakin canggih, saat ini anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan penggunaan smartphone. Belum lagi situasi yang memang membuat mereka kerap lebih banyak menikmati kegiatan yang berbentuk visual. Sehingga, ketika kita mulai mengarahkan anak untuk membaca buku, mereka tentu tidak akan langsung menyukainya.

Untuk itulah, sebagai orangtua kita perlu memberitahu anak, jika aktivitas membaca juga adalah kegiatan yang menyenangkan. Karena selain membantunya mengurangi kegiatan dengan gadget, ada banyak sekali manfaat pentingnya bukiu bagi anak usia 5 tahun. Dan berikut adalah beberapa manfaatnya:

1. Membantu Anak Meningkatkan Kreativitas dalam Dirinya

Pentingnya buku bagi anak usia 5 tahun yaitu dapat meningkatkan kreativitasnya. Dan perlu diketahui jika kreativitas ini mempunyai peranan yang sangat penting agar anak dapat mengembangkan ide atau minatnya. Selain itu buku juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan imajinasi anak. Tentunya jika anak mempunyai kemampuan tersebut kedepannya bisa lebih mudah dalam mengelola emosi. Terutama nantinya Saat berinteraksi dengan orang lain. 

2. Mampu Meningkatkan Fungsi Otaknya dalam Berpikir

Manfaat lain buku bagi anak usia 5 tahun yaitu dapat meningkatkan fungsi otaknya. Dengan kata lain, fungsi otak anak akan semakin aktif jika sering membaca buku. Bahkan, sudah dibuktikan oleh sebuah penelitian di mana anak yang sering membaca buku dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan berbahasa. Apalagi jika sejak kecil sudah di bacakan buku oleh orang tuanya, kemungkinan terbesarnya saat sudah berusia 5 tahun atau lebih akan lebih mudah untuk belajar membaca. Inilah kenapa penting untuk membiasakan membaca buku. 

3. Dengan Membaca Kemampuan Kognitif Anak Juga Ikut Meningkat

Kemampuan kognitif yang meningkat juga menjadi salah satu dampak dari terbiasanya anak membaca buku. Kemampuan kognitif yang dimaksudkan bisa berupa ingatan, pemecahan masalah, perhatian dan penggunaan kata-kata. Tentu jika kemampuan kognitif tersebut semakin meningkat, maka kedepannya anak akan lebih mudah untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, hal tersebut juga sangat bermanfaat agar anak mudah beradaptasi.

Lalu Bagaimana Tips untuk Meningkatkan Kecintaan Anak Terhadap Buku? Ini Jawabannya

Dari penjelasan sebelumnya bisa diambil kesimpulan jika buku mempunyai peranan yang sangat penting pada anak usia 5 tahun. Lalu, bagaimana tips meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku? Berikut ini penjelasannya. 

1. Sebagai Orangtua Kita Harus Bisa Menciptakan Lingkungan yang Kaya Aksara

Tips pertama yang bisa diterapkan dalam meningkatkan kecintaan anak terhadap buku yaitu menciptakan lingkungan kaya akan aksara. Dengan kata lain, sediakan tempat bermain dengan berbagai media seperti gambar dan teks. Tentu dengan media-media tersebut, anak akan lebih mudah untuk memahami dan memperkaya pengetahuannya. Contoh sederhananya permainan yang berhubungan dengan menyusun huruf, suara hewan, tebak gambar dan permainan lainnya.

2. Jadilah Sosok yang Bisa Dicontoh Anak dalam Hal Membaca

Orang tua memang menjadi role model atau contoh bagi anak. Jadi, apapun yang dilakukan oleh orang tuanya akan mudah ditiru oleh anak-anaknya. Tentunya untuk meningkatkan kecintaan anak terhadap buku, pastikan jika orang tuanya juga gemar membaca buku. Melihat orang tuanya yang sering membaca buku, anak juga akan tertarik untuk melakukan hal sama. Bahkan, Jika memungkinkan mengajak anak untuk membaca buku bersama-sama atau sekedar menemaninya membaca. 

3. Ajak Anak Membaca Buku dengan Ekspresi

Tips selanjutnya yang bisa diterapkan untuk meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku yaitu membacakan buku cerita dengan intonasi dan ekspresi yang tepat. Membaca buku dengan cara yang seperti ini bisa menarik minat anak untuk mengetahui isi buku tersebut. Selain itu, tips ini juga sangat berguna agar anak bisa mempersepsi jika pada buku tersebut banyak hal yang menarik dan selalu ingin untuk menggalinya. Berawal dari tips sederhana ini diharapkan anak bisa tertarik untuk membaca buku. 

4. Beli dan Sediakan Buku Menarik dan Sesuai dengan Minat Anak

Menyediakan buku yang menarik juga menjadi salah satu cara agar kecintaan anak terhadap pukul bisa meningkat. Sebagai langkah awal, pastikan jika orang tua menyediakan buku yang penuh dengan gambar dan warna. Hal ini penting dilakukan dengan tujuan agar anak tidak merasa bosan saat melihat buku tersebut. Buku yang seperti ini juga akan mengenalkan warna dan bentuk gambar pada buku tersebut, sehingga kemampuan anak akan mengalami peningkatan.

5. Sering-seringlah Ajak Anak Ke Toko Buku dan Perpustakaan

Tips selanjutnya bisa mengajak anak ke perpustakaan. Cara ini bisa meningkatkan minat anak dalam membaca buku dan pengalaman baru. Hal ini disebabkan karena di tempat tersebut akan menjumpai banyak orang yang membaca buku, sehingga bisa meningkatkan minat anak. Selain itu, dengan mengajak anak ke perpustakaan atau toko buku juga bisa meningkatkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain yang ada disekitarnya. Tentu tips ini bisa memberikan dua manfaat sekaligus. 

6. Dan Berikan Kesempatan Anak Memilih Buku yang Disukainya

Selanjutnya tips meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku bisa dilakukan dengan cara memberikan kesempatan dalam memilih buku. Dengan kata lain, kesempatan tersebut dapat meningkatkan minat anak untuk membaca buku sesuai dengan keinginannya.

Begitu juga sebaliknya, jika anak dipaksa membaca buku yang diberikan oleh orang tua, justru akan merasa tertekan. Bahkan, parahnya lagi tidak berminat untuk membaca buku. Tentunya setiap orang tua pasti tidak menginginkan hal tersebut.

Demikian penjelasan mengenai beberapa tips yang bisa diterapkan dalam meningkatkan kecintaan anak terhadap buku. Dengan tersedianya berbagai tips tersebut, bisa diterapkan secara bergantian agar anak tidak bosan dan justru tertarik untuk membaca buku terus menerus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Jadi Orangtua yang Sekedar Status Saja, Inilah Peran Kita Bagi Pertumbuhan Anak

Setiap anak pasti mempunyai tahapan pertumbuhan yang tentunya harus dipantau oleh orangtuanya. Dengan kata lain, peran orang tua bagi pertumbuhan anak sangatlah penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini. Begitu juga penting untuk melakukan penanganan dengan cepat. Karena kelalaian kita dalam menyikapi tumbuh kembang anak, bisa jadi berakibat fatal bagi mereka. Nah, sebelum membahas lebih lanjut, yuk pahami dulu apa itu perkembangan anak.

Sekilas Pemahaman Tentang Apa yang Dimaksud dengan Pertumbuhan Anak

Orangtua perlu mengetahu terlebih dahulu, apa itu pertumbuhan anak. Secara singkatnya pertumbuhan merupakan proses perubahan yang terjadi pada anak dan ditandai dengan bentuk tubuh dan ukuran Fisik yang bertambah.

Selain itu, pertumbuhan juga bisa diartikan sebagai perubahan yang terjadi pada anak dalam aspek fisik maupun jasmaniah dan bersifat terbatas serta kuantitatif. Proses pertumbuhan ini merupakan proses pematangan setiap individu. 

Dengan kata lain, untuk mengetahui pertumbuhan anak bisa dilakukan dengan boleh bang berat badan maupun mengukur tinggi badan. Sedangkan untuk mengetahui pengukuran bisa dikatakan Normal atau tidak dapat disesuaikan dengan standar yang tersedia.

Orangtua Berperan Memastikan Kebutuhan Nutrisi yang Dibutuhkan Oleh Anak

Orangtua mempunyai peranan yang cukup penting terhadap pertumbuhan anak, Salah satunya yaitu menjamin kebutuhan nutrisi tercukupi. Dengan kata lain, nutrisi yang tercukupi pada tubuh anak sangat berperan penting pada pertumbuhannya. Lebih jelasnya berikut ini beberapa asupan nutrisi yang harus didapatkan anak dalam memastikan pertumbuhannya lebih optimal, seperti:

  • Menyediakan makanan yang kaya akan nutrisi seperti vitamin, karbohidrat, mineral, protein dan lemak baik. Beberapa nutrisi tersebut berperan penting agar proses pertumbuhan anak bisa lebih optimal.
  • Beberapa nutrisi tersebut, anak juga membutuhkan kandungan omega 3 dan omega 6. Nutrisi tersebut bisa didapatkan pada produk susu atau makanan tertentu. Mengingat kandungan tersebut merupakan lemak baik yang berperan penting untuk pertumbuhan anak. 
  • Orang tua juga harus memastikan kebutuhan nutrisi penting lain seperti DHA, EPA dan ALA. Kandungan tersebut bisa didapatkan pada beberapa jenis makanan seperti ikan salmon maupun sarden.

Orangtua Berperan Memastikan Kebiasaan Makan yang Baik

Peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak tidak hanya terfokus pada kebutuhan nutrisi. Namun, coba berperan penting untuk memastikan agar anak mempunyai kebiasaan makan yang baik. Selengkapnya berikut adalah beberapa kebiasaan makan yang baik dan harus diterapkan pada tumbuh kembang anak.

1. Tidak Melewatkan Sarapan Bersama

Cara pertama agar menciptakan kebiasaan makan yang baik yaitu dengan tidak melewatkan sarapan bersama. Setidaknya pada saat sarapan akan terjadi obrolan yang bisa memacu semangat untuk melakukan aktivitas. 

Selain itu, sarapan juga menjadi waktu yang paling tepat untuk menyetok sumber tenaga tubuh dan terutama otak dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, dasarkan penelitian yang telah dilakukan jika sarapan dapat meminimalisir terjadinya resiko obesitas. 

2. Menyediakan Cemilan Berupa Buah-buahan

Selain membiasakan sarapan bersama, kebiasaan baik yang yang selanjutnya yaitu menyediakan buah-buahan sebagai camilan. Seperti yang diketahui jika buah-buahan mempunyai peranan yang sangat penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak.

Salah satu cara untuk meningkatkan minat anak mengkonsumsi buah-buahan yaitu menyediakannya sebagai camilan dan setiap harinya berbeda jenis. Tentu camilan buah-buahan ini lebih sehat dibandingkan dengan camilan kemasan yang kaya akan MSG. 

3. Membiasakan Makan Bersama Anak

Salah satu cara untuk memastikan kebiasaan makan yang baik agar pertumbuhan lebih maksimal yaitu membiasakan makan bersama. Terutama saat di malam hari, pastikan meluangkan waktu untuk makan bersama bersama anak dan anggota keluarga lainnya.

Selain membiasakan makan yang lebih sehat, makan bersama juga bisa meningkatkan hubungan yang baik antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya. Bahkan, bisa menciptakan keluarga yang lebih hangat. 

Untuk Itu, Ada Beberapa Cara Mengoptimalkan Tahapan Pertumbuhan Anak yang Juga Perlu Diketahui Orangtua

Mengetahui peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak rasanya kurang lengkap jika tidak mengetahui cara mengoptimalkannya. Dengan kata lain cara pengoptimalan ini diperlukan agar pertumbuhan anak bisa lebih optimal yang bisa berpengaruh terhadap perkembangannya.

1. Membiasakan Anak Makan Makanan Sehat

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan tahapan pertumbuhan anak yaitu membiasakannya mengkonsumsi makanan sehat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya ada banyak makanan sehat yang dapat dipilih dan dikonsumsi anak. 

Beberapa makanan sehat yang dimaksudkan seperti sayuran, buah-buahan, daging, kacang-kacangan dan lainnya. Intinya pastikan makanan tersebut kaya lemak baik, protein dan nutrisi lainnya. 

2. Terapkan Pola Hidup Sehat

Selain memastikan anak biasa mengkonsumsi makanan sehat, cara selanjutnya yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan yaitu Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti halnya menjaga kebersihan. Upaya ini dilakukan dengan tujuan agar anak terbebas dari penyakit infeksi atau bakteri lain yang dapat membahayakan kesehatannya. Tentunya jika kesehatan terjaga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak dan begitu juga dengan perkembangannya.

3. Membiasakan Tidur Cukup

Cara selanjutnya yang bisa diterapkan untuk mengoptimalkan tahapan pertumbuhan anak yaitu membiasakan tidur cukup. Pada umumnya waktu tidur yang ideal bagi balita, setiap harinya sekitar 11 sampai 14 jam.

Sedangkan untuk anak yang berusia antara 3 sampai 5 tahun, waktu ideal tidur setiap harinya sekitar 10 sampai 13 jam. Baik itu waktu tidur di siang hari maupun malam hari, pastikan dilakukan secara rutin setiap harinya. Anak yang mendapatkan Tidur yang cukup, pertumbuhannya bisa lebih optimal.

Demikian penjelasan mengenai peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak. Tentu dengan mengetahui peran ini, diharapkan pertumbuhan anak bisa lebih optimal. Mengingat pertumbuhan anak juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak hingga dewasa. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jenis Sensori Motorik dalam Tahapan Perkembangan Kognitif Anak Usia 0-2 Tahun

Pada usia 0-2 tahun anak akan mulai membangun pengetahuannya berdasarkan apa yang ditangkap melalui pancaindera (aktivitas sensor) dan motorik anak.  Anak menggunakan sistem sensorik dan motorik bawaan seperti menggenggam dan aktivitas mototik kasar untuk membangun pengetahuan mereka. Nah, sebelum menemani anak pada usia tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui sebagai orangtua. Hal tersebut meliputi beberapa tahapan sensorik motorik pada anak.

6 Tahapan Sensori Motorik Pada Anak

Seperti yang telah disinggung sebelumnya jika pada tahapan sensori motorik ini anak sudah bisa menggenggam dan menghisap. Tentunya tak heran jika sering memasukkan benda ke dalam mulutnya. Lalu, apa saja tahapan sensori motorik? Berikut penjelasan lengkapnya. 

1. Tahapan Tindakan Reflek

Pada tahapan ini dimulai saat bayi baru lahir hingga berusia 1 bulan. Pada umumnya anak di tahapan ini akan sering menggenggam sesuatu maupun menghisapnya. Sebagai salah satu tindakan Raflek, tentu bayi di usia ini belum bisa memilih mana benda yang tepat.

Melalui tahapan ini, anak akan mulai membangun pengetahuan dasarnya dan berinteraksi dengan dunia. Sedangkan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, tindakan refleksi tersebut akan berkoordinasi dengan mengulurkan tangan, tatapan dan meraih objek. 

2. Tahapan Reaksi Sikuler Sekunder

Tahapan reaksi sikuler sekunder terjadi pada usia 4-8 bulan. Pada tahapan ini anak akan mulai melakukan tindakan berulang-ulang agar bisa mendapatkan respon dari objek. Contoh sederhananya anak bercoba untuk memukul mainan untuk mendapatkan bunyi yang sama. 

tahapan tersebut disebut sebagai sirkulasi sekunder karena merupakan reaksi dari luar tubuh. Jadi di usia ini anak akan memulai lebih aktif untuk mencari hal-hal baru yang dirasa sangat dan belum pernah didengarkan. 

3. Tahapan Koordinasi Skema Sekunder

Pada tahapan ini terjadi pada anak di usia 8-12 bulan. Perlu diketahui jika di usia ini anak akan mulai menggunakan berbagai cara demi apa yang diinginkan dapat terwujud. Bahkan, bisa dikatakan Pada tahapan ini anak mulai berfikir.

Contoh sederhananya menggerakkan berbagai mainan yang dimiliki untuk mengetahui mana benda yang dapat berbunyi atau tidak. Bahkan, saat mencapai tujuan tersebut anak di tahapan ini akan merasa sangat senang. 

4. Tahap Reaksi Sirkuler Tersier

Tahapan ini terjadi pada anak di usia 12-18 bulan. Lebih tepatnya tahapan ini juga sering disebut sebagai eksperimentasi. Dengan kata lain, Pada tahapan ini anak akan mulai melakukan berbagai eksperimen untuk mengetahui apa yang terjadi.

Eksperimen yang dilakukan juga berulang-ulang untuk memahami hubungan antara sebab akibat. Tentunya tak heran jika di usia ini anak akan cenderung lebih aktif untuk meraih benda-benda yang ada di sekitarnya. Jadi, orang tua harus menghindarkan benda-benda yang mudah pecah.

5. Tahap Kecerdasan Representasional

Tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-2 tahun pada sensori motorik selanjutnya yaitu tahap Kecerdasan Representasional. Perlu diketahui jika Pada tahapan ini terjadi pada usia 18-24 bulan. Lebih tepatnya tahapan ini merupakan masa transisi sensori motorik ke representasi simbolik.

Sedangkan perkembangan anak di tahapan ini bisa dilihat dari kemampuannya dalam mengingat atau mengulang sesuatu. Bahkan, anak juga mulai berhalusinasi dengan menghadirkan gambar layaknya di dunia nyata seperti halnya membangun rumah dari balok-balok.

Cara Tepat Menstimulasi Tahapan Sensorik

Setelah mengetahui apa saja tahapan perkembangan sensori motorik anak, penting untuk mengetahui cara menstimulasi tahapan sensorik. Selengkapnya berikut ini beberapa cara yang bisa diterapkan dalam menstimulasinya. 

  • Cara pertama yang bisa diterapkan dalam stimulasi tahapan sensori motorik yaitu dengan menyediakan mainan interaktif. Tentunya mainan ini sangat bermanfaat untuk mengaktifkan panca indera anak-anak. Misalnya saja permainan berhubungan dengan makna dan suara. 
  • Memastikan anak berada di lingkungan yang tepat agar bisa bereksplorasi dengan leluasa. Entah itu untuk merangkak, berjalan dan berlari.
  • Cara selanjutnya yang bisa dilakukan yaitu mengajak anak bermain agar bisa lebih aktif. Hanya saja bermain menemukan benda atau petak umpet. 
  • Menciptakan lingkungan yang kaya akan bahasa. Misalnya saja orang tua selalu aktif mengajak anak bermain atau memberitahu nama benda yang ada di sekitarnya. 

Hal Lain yang Perlu Diketahui, Ada 3 Penyebab Gangguan Kognitif

Perkembangan kognitif anak memang penting untuk diperhatikan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mengetahui kemungkinan terjadinya gangguan kognitif. Tahukah Anda apa saja penyebabnya? Berikut ini 3 penyebabnya.

1. Cedera Otak

Salah satu penyebab terjadinya gangguan pada perkembangan kognitif yaitu cedera otak. Sesuai dengan namanya ini menyerang pada bagian otak sehingga dapat mempengaruhi seseorang. Baik itu mempengaruhi dalam hal emosional, sikap dan fisik.

Cedera otak pada anak bisa disebabkan karena beberapa hal dan bisa juga terjadi secara tiba-tiba. Pada umumnya cedera otak dapat menyebabkan anak sulit untuk mengingat informasi atau apapun yang sudah terjadi. Bahkan, parahnya lagi bisa kehilangan sebagian memori. 

2. Efek Samping Obat

Penggunaan obat secara berlebihan juga menjadi salah satu penyebab terjadinya gangguan kognitif. Biasanya hal ini bisa terjadi pada anak yang sedang melakukan pengobatan jangka panjang seperti radiasi atau kemoterapi. 

Pada umumnya efek samping dari penggunaan obat secara berlebihan seperti menurunnya perhatian dan menurunnya kemampuan mengingat. Bahkan, anak juga bisa berkurang kemampuan konsentrasinya. 

3. Penyebab Tersembunyi

Maksud dari poin ini yaitu terjadinya gangguan kognitif disebabkan karena beberapa hal yang memang tidak diketahui. Bahkan, sampai saat ini belum ada penelitian yang menjawab mengenai hal tersebut. 

Misalnya saja anak yang terserang menyakit alzheimer, banyak peneliti yang mengemukakan jika hal tersebut disebabkan karena penumpukan deposit plak. Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang menjelaskan mengenai kenapa plak dapat berkembang pada tubuh anak. Itulah penjelasan mengenai sensori motorik pada tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-2 tahun. Dari sini bisa disimpulkan jika perkembangan kognitif sangat penting, karena bisa membangun kemampuan dan pengetahuan anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top