Parenting

14 Ciri-ciri Orangtua yang Kelak Anaknya Jadi Orang Sukses, Apakah Bunda Termasuk?

Sebagai orang tua tentunya kita ingin anak-anak sukses dan bahagia dengan kehidupannya. Tapi apa rahasianya ya? Orangtua sering meminta saran dari berbagai sumber dalam membesarkan anaknya. Entah itu dari anggota keluarga, teman, ahli, buku, atau banyak lagi.

Orang tua yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, akan menghasilkan individu yang baik ketika dewasa.

Tina B. Tessina, Ph.D., seorang psikoterapis dan penulis ‘How to Be a Couple and Still Be Free’ memiliki beberapa ide. Ia sadar, memang tak ada satu ukuran yang cocok untuk semua pertanyaan. 

Tapi, pasti ada ciri-ciri yang dimiliki orang tua agar anak-anak sukses.

1. Menjadi Orangtua yang Terus Belajar dan Mau Memahami Anak 

Kita tahu membesarkan anak-anak yang sukses adalah pekerjaan orangtua, dan karena itulah kita harus serius. Untuk menjadi orangtua. Artinya apa? Kita nggak membesarkan anak sambil main-main alias tanpa belajar dan tanpa mau memahami anak.

“Pekerjaan orang tua adalah membesarkan orang dewasa yang sukses,” kata Tina.

Tina menambahkan di setiap tahap, dan terutama tahun-tahun sekolah menengah, orangtua perlu mengingat anak-anak mereka perlu belajar mandiri, bertanggung jawab, memotivasi diri, dan pandai dalam berhubungan dengan orang lain.

2. Memberikan Contoh yang Baik pada Anaknya, Hasil Akhir Bukan yang Utama, Tapi Prosesnya.

Kita mungkin selalu bilang pada anak-anak untuk makan buah dan sayur. Kita juga minta anak-anak untuk jangan terlalu banyak menonton televisi dan main handphone. 

Namun apakah ini hanya sekadar perintah dari kita? Kalau iya, percayalah, Bun, ini nggak akan berhasil.

Children see, children do. Karena itu kita sebagai orang tua harus memberi contoh yang baik pada anak-anak. Kalau kita ingin anak tumbuh jadi orang baik dan sukses, maka kita juga harus memberikan contohnya. 

Yang lebih penting lagi adalah memberi contoh dan pemahaman bahwa hasil akhir bukan yang utama, tapi prosesnya. “Ini tidak hanya berarti Anda perlu memiliki definisi kesuksesan, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana mencapainya,” imbuh Tina. 

3. Karena Salah adalah Sesuatu yang Wajar, Orangtua Juga Perlu Tidak Takut Membuat Kesalahan

Manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Nah, orangtua juga dalam mengasuh anak-anaknya pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi salah satu ciri orangtua yang kelak anaknya sukses adalah tidak takut membuat kesalahan.

Ketika kita melakukan kesalahan dan anak melihatnya, lalu kemudian memperbaikinya bisa menjadi pelajaran hidup yang baik untuk anak-anak.

4. Orangtua dari Anak-anak yang Sukses Tahu Cara Mendelegasikan Tanggung Jawab Pada Anak-anaknya 

Pada setiap tahap perkembangannya, cobalah menyerahkan tanggung jawab yang sedikit lebih banyak kepada anak-anak. Karena tanggung jawab merupakan bagian penting dari kehidupan. Karena itulah orangtua dari anak-anak yang sukses tahu cara mendelegasikan tanggung jawab pada anak-anaknya.

“Beri tugas untuk anak-anak Anda seperti minta mereka membantu Anda menyelesaikan berbagai hal di sekitar rumah atau membantu Anda dengan tugas yang sesuai. Bahkan jika bantuan itu membuat kekacauan,” sambung Tina.

Tina menambahkan dengan memberikan tanggung jawab membuat anak-anak belajar bagaimana melakukan sesuatu dan memahami apa yang perlu dilakukan. “Plus, pastikan mereka tahu Anda menghargai bantuan mereka,” ucapnya. 

5. Memberi Contoh Bagaimana Pentingnya Memiliki Komitmen

Karena bermanfaat terhadap pembentukan karakter anak di masa depan. Komitmen dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu anak mencapai goal dan cita-citanya, sehingga menunjang kesuksesan dalam berkarir dan juga berumah tangga.

Nah, jika komitmen baru diajarkan ketika anak usia remaja, maka anak membutuhkan usaha yang lebih besar untuk mengubah kebiasaan yang sudah ia miliki,

6. Mengajarkan Cara Menghargai Uang, Anak Bisa Belajar untuk Bekerja dan Menghargai Uang.

Sebagian orangtua menganggap bahwa konsep keuangan lebih baik diajarkan setelah anak sudah mulai dewasa. Sungguh disayangkan, padahal mempersiapkan anak sejak dini untuk melek keuangan adalah hal yang menguntungkan dan juga sangat memungkinkan untuk dilakukan. 

Tina menuturkan mendidik anak-anak tentang uang juga sangat penting. “Beberapa orang tua dari anak-anak yang sukses berasal dari keluarga yang sederhana sampai yang miskin. Mereka tahu bagaimana rasanya tidak bisa melakukannya atau menginginkan sesuatu yang tidak dapat dibeli,” paparnya.

Hal-hal yang seperti ini membuat anak-anak jadi belajar untuk bekerja dan menghargai uang. 

7. Mengajarkan Anak Bagaimana Cara Menghadapi Kekecewaan

Hidup itu penuh dengan pasang surut, dan orangtua yang membesarkan anak-anak yang tangguh menunjukkan kepada anak-anaknya semua sisi kehidupan. Iya, Bun, termasuk dalam menghadapi kekecewaan dan bangkit kembali sesudahnya.

“Satu-satunya cara mutlak untuk membangun kekuatan dalam menangani kekecewaan dan menghadapi penolakan adalah dengan mengalaminya, melaluinya, dan melihat bahwa kita bisa, menang, merasakan sisi lain, dan bertahan dari rasa sakit,” jelas Tina. 

Setiap kali kita mencoba bertahan dan bangkit dari keterpurukan, toleransi kita menguat. Nah, kita akan memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam menghadapi kekecewaan yang tak terelakkan dalam hidup. Ketika anak melihat kita begitu berusaha bangkit dari keterpurukan, anak akan melihat dan kelak akan mencontohnya.

8. Tahu Bagaimana Bersenang-senang

Menjadi orangtua harus serius dalam menetapkan batasan dan aturan, termasuk juga tahu bagaimana bisa bersenang-senang dengan anak-anak kita. Karena itu, Bun, penting untuk mengajari anak-anak tentang keseimbangan antara kerja dan bermain.

“Bermain dengan anak-anak sama pentingnya dengan mengajarkan mereka berbagai hal, dan hal itu mengajarkan mereka mengenai berbagai hal yang baik,” terang Tina. Batasan di sini juga dapat berupa peraturan maupun proteksi fisik terhadap anak.

9. Memberi Banyak Cinta, Dukungan, dan Dorongan

Kunci lain dalam membesarkan anak-anak yang berhasil adalah memberi mereka banyak cinta, dukungan, dan dorongan, Bun. “Jauh lebih efektif untuk fokus pada apa yang baik daripada apa yang menjadi masalah,” kata Tina.

Anak-anak akan merasa diapresiasi dan berharga saat kita turut merayakan prestasinya. Nah, hal ini bisa membantu anak-anak dalam berjuang. “Dan pastikan mereka tahu Anda berpikir mereka dapat melakukannya dan Anda percaya pada mereka,” pesan Tina. 

10. Kedua Orangtua yang Saling Mencintai

Menurut Robert Hughes, Jr., Ph.D., profesor perkembangan manusia dan studi keluarga di University of Illinois, AS, anak-anak yang hidup bersama keluarga tunggal yang tidak berkonflik akan lebih baik daripada anak-anak yang hidup di dalam keluarga berkonflik atau kedua orang tua yang saling bertentangan. 

Konflik orang tua akan memengaruhi anak-anak secara negatif. Mereka dilaporkan memiliki konflik yang lebih tinggi saat dewasa kelak.

Sebaliknya, orang tua yang saling mencintai dapat menumbuhkan anak-anak yang merasa aman. Oleh karenanya, mereka akan menumbuhkan rasa percaya diri dengan baik dan menjadi sukses.

11. Jadi Orangtua yang Selalu “Hadir” dalam Situasi Apapun

Banyak orangtua yang menuntut anaknya menjadi seseorang yang berkepribadian tangguh dan menjadi sukses namun lupa untuk hadir seutuhnya di sisi anak. Kehadiran orang tua adalah hal yang paling dibutuhkan oleh anak-anak.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Development menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima pengasuhan yang sensitif dari orang tuanya dalam 3 tahun pertama tidak hanya dapat melakukan tes akademik yang lebih baik di masa kanak-kanak, tetapi memiliki hubungan yang lebih sehat dan pencapaian akademis yang lebih besar di usia 30-an. Orangtua yang sensitif terhadap kebutuhan anak, akan dengan cepat dan tepat memberikan dasar yang aman bagi anak untuk belajar menjelajahi dunia.

12. Orangtua yang Memiliki Harapan Tinggi

Harapan akan menjadi kenyataan. Tidak perlu ragu dengan petuah lama ini. Sebab, menurut Neal Halfon, M.D., profesor pediatri dan direktur UCLA Center for Healthier, Children, Families, and Communities, University of California, AS, mengatakan bahwa harapan yang dipegang oleh orangtua anak-anak mereka memiliki pengaruh besar pada pencapaian kesuksesannya.

Ia mencontohkan, “Orang tua yang melihat anak mereka akan kuliah di masa depan, akan mengelola anak mereka ke arah tujuan tersebut terlepas dari pendapatan mereka dan aset lainnya.” Artinya, dengan tingginya harapan tersebut orang tua akan semakin besar mengupayakannya.

13. Sosok Orangtua yang Memiliki Tingkat Stres Rendah

Melansir dari Washington Post, jumlah jam yang dihabiskan ibu dengan anak-anak dapat memprediksi perilaku, kesejahteraan, atau prestasi anak kelak. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah bahwa semakin lama waktu yang dihabiskan bersama, tidak selalu berarti baik. Stres yang dialami ibu sebenarnya dapat memengaruhi anak-anak secara negatif. 

Emosi negatif orangtua dapat menular. Bila orangtua stres atau kelelahan, emosi tersebut akan ditransfer ke anak-anak. Anak-anak yang tidak bahagia akan cenderung kesulitan mencapai kesuksesan.

14. Orang Tua yang Menghargai Usaha, Sekecil Apapun yang Dilakukan Anak 

Menghargai apa yang telah diusahakan seorang anak akan jauh lebih baik ketimbang hanya melihat hasil dari usahanya. Narendra Goidani, pakar pengasuhan dan penulis buku Essential of Parenting menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh dari keluarga yang selalu menghargai usahanya akan menjadi lebih berempati dan sukses di kemudian hari.

 Menurutnya, dengan selalu menghargai usaha anak-anak, orang tua dapat memberi dorongan berharga bagi anak-anak untuk meningkatkan harga dirinya. Semakin tinggi harga diri yang dimiliki anak-anak, akan semakin baik mereka dalam menyelesaikan masalah, melakukan pekerjaan secara berkelompok, dan berani mengatakan pendapatnya. Ini adalah ciri anak-anak yang berpotensi sukses.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspadai Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Sering Terjadi

Tumbuh kembang si kecil, jadi sesuatu yang wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena jika telat mendapat perhatian, bisa jadi fatal karena tak segera ditangani. Meski gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun kadang sulit didetiksi. Sebagai orangtua, kita wajib untuk mengetahui tahap perkembangan anak mulai dari lahir hingga dewasa. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui apakah si kecil mengalami tanda-tanda gangguan atau tidak.

Tahap Perkembangan Anak Usia 3 – 4 Tahun yang Patut Dijadikan Ajuan oleh Orangtua

Usia 3 – 4 tahun termasuk dalam kategori masa golden age bagi si kecil. Pertumbuhan di masa ini sangat penting untuk membangun karakternya nanti ketika mereka dewasa kelak. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus mendampingi mereka saat masih di masa keemasan. Apa saja tahap perkembangannya?

  1. Kemampuan Gerak Tubuh untuk Melakukan Sesuatu yang Ia Inginkan

Dari segi fisik, anak yang sudah memasuki usia 3 sampai 4 tahun biasanya sedang sangat aktif bergerak. Mereka sedang menikmati masa-masa mengeksplor banyak hal dan mulai muncul banyak pertanyaan kritis. Anak-anak sudah bisa melakukan gerak tubuh seperti berjalan dan berlari.

Di usia ini mereka juga sudah bisa naik turun tangga dengan kaki secara bergantian. Menendang bola, melempar, dan menangkapnya juga menjadi keahlian lain yang sudah harus dimiliki si kecil pada usia 3 sampai 4 tahun. Mereka juga sudah bisa memanjat, melompat, hingga menggunakan / melepas pakaian.

  1. Kemampuan Berbahasa Sebagai Caranya Berkomunikasi dengan Orangtua dan Orang lain di Sekitar

Kosakata yang dikuasai anak usia 3-4 tahun sudah semakin banyak sehingga biasanya mereka akan banyak berbicara. Banyak hal yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak dalam usia tersebut. Contohnya seperti menyebutkan nama dan usia.

Biasanya mereka sudah mampu mengucapkan hingga ratusan kosakata dengan lebih jelas. Anak-anak juga sudah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan kepada mereka. Si kecil juga sudah bisa menyusun kalimat dengan runtut dan bicaranya sudah bisa dipahami dengan sangat jelas.

  1. Kemampuan Tangan dan Jari untuk Melakukan Sesuatu dan Beraktivitas

Kemampuan tangan dan jari sekecil di usia 3 sampai 4 tahun juga sudah semakin membaik. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal seperti memegang benda kecil, membuka halaman buku, menggunting menggunakan gunting mainan, menggambar kotak dan lingkaran, hingga mewarnai.

Kemampuan memegang alat tulis bisa dikuasai dengan baik oleh anak usia 3-4 tahun. Mereka bahkan mampu menulis beberapa huruf kapital dan menggambar beberapa bentuk gambar yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal sederhana seperti memutar gagang pintu, membuka toples juga sudah bisa dilakukan. 

Dan Ada Pula Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Wajib Bunda Waspadai

Anak usia 3 – 4 tahun juga bisa mengalami gangguan perkembangan tertentu. Anda harus waspada dan terus mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil setiap harinya. Berikut ini beberapa jenis gangguan perkembangan yang mungkin bisa dialami dan patut diwaspadai, di antaranya:

  1. Kesulitan Berbicara untuk Mengutarakan Isi Hati dan Perasaanya

Jika anak usia 3 – 4 tahun belum bisa diajak berkomunikasi karena kosakata yang diucapkan belum jelas, maka Anda patut waspada. Bisa jadi mereka mengalami keterlambatan bicara atau gangguan pendengaran sehingga sulit untuk mengucapkan kata yang mudah dipahami oleh orang dewasa.

Dalam berkomunikasi, anak-anak juga tidak tertarik untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka cenderung diam dan enggan untuk berbicara. Oleh karena itu, penting untuk menstimulasi kemampuan anak berbicara sejak mereka lahir untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan seperti ini.

  1. Sering Berhenti Sejenak Saat Berbicara, Karena Kesulitan Menemukan Kosakata yang Ingin Disampaikan

Anak usia 3 – 4 tahun yang tiba-tiba berhenti sejenak saat berbicara, mungkin bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dari mulutnya. Jika mereka malas untuk belajar, maka hal tersebut akan terbawa terus-menerus hingga mereka dewasa. Tentu Anda tidak ingin itu terjadi. 

Ketika anak mengalami kesulitan saat berbicara dan mengeluarkan kosakata tertentu dari mulutnya, biasanya mereka akan mudah menyerah dan mengatakan “tidak jadi”. Jika mereka sering mengucapkan kata tersebut maka patut waspada dan coba uji beberapa kata pada anak untuk diucapkan.

  1. Tidak Bisa Memahami Instruksi atau Kalimat Perintah yang Diterimanya

Saat memasuki usia 3 – 4 tahun, seharusnya anak-anak sudah bisa memahami kalimat perintah dengan baik. Sehingga mereka bisa dimintai tolong untuk melakukan atau mengambil sesuatu. Namun, ada anak yang mungkin mengalami gangguan sehingga mereka tidak bisa memahami instruksi sederhana. 

Saat diminta untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung memilih diam dan tidak melakukannya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan instruksi tersebut. Bicaranya juga masih tidak jelas dan sulit untuk dipahami oleh orang dewasa.

  1. Kesulitan Menggunakan Struktur Kalimat yang Tepat Ketika Sedang Berbicara atau Mengutarakan Maksudnya

Anak usia 3 – 4 tahun bisa dianggap mengalami keterlambatan perkembangan ketika mereka masih belum bisa menggunakan kata aku dan kamu dengan cara yang tepat. Mereka juga masih kesulitan untuk menceritakan kembali cerita atau kisah favorit yang pernah diperdengarkan untuk si kecil.

Bicaranya masih cenderung belum jelas dan belum bisa menggunakan struktur kalimat dengan tepat. Mereka juga kesulitan untuk mendeskripsikan sesuatu secara rinci dan detail.

  1. Ketidaktertarikan Pada Aktivitas Fisik Tertentu yang Lazim Dilakukan Anak Seusianya

Anak usia 3 – 4 tahun harusnya sudah bisa belajar dengan mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Namun, anak yang mengalami gangguan biasanya tidak mau mencoba untuk belajar hal-hal seperti memakai dan melepas baju, atau belajar menggunakan sendok dan garpu.

Mereka juga enggan belajar untuk menggosok gigi, membantu orang tua di rumah, menggunakan toilet, makan sendiri, atau menyiapkan makanan dan minumannya sendiri. Beberapa gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun tersebut memang bisa dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, sebagai orang tua jangan sampai lengah untuk mengawasi tumbuh kembang si kecil agar bisa mendidik dan mengajari dengan cara yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Biarkan Anak Memilih Buku yang Ia Suka, Maka Begini Cara Agar Anak Mau Membaca dan Berlatih Setiap Hari

Memiliki kebiasaan rajin membaca nyatanya dapat menambah ilmu dan juga wawasan seseorang. Tidak hanya bermanfaat untuk orang dewasa,  sebagai orangtua, Kita juga perlu menumbuhkan kebiasaan rajin membaca sejak dini pada anak-anak. 

Adapun membaca bagian anak adalah menjadikannya sosok yang kreatif, serta dapat meningkatkan hubungan emosional antara ibu dan anak. Untuk itu, bagaimana cara agar anak mau membaca adalah sesuatu yang harus dipikirkan baik-baik oleh Ayah dan Bunda. 

Lantas, Bagaimana Tips Edukasi Cara Agar Anak Mau Membaca yang Tepat?

Anak adalah cerminan orangtua, istilah tersebut tentu saja benar adanya. Mereka akan tumbuh jadi pribadi yang sesuai dengan metode pengajaran dari orangtuanya. Jadi jika ingin anak mau belajar membaca dari kecil, beberapa tips dibawah ini bisa membantu Bunda dalam mewujudkannya.

1. Mulailah dengan Menjadi Panutan untuk ANak dengan Memberikan Contoh Baik Pada Anak

Jika ingin punya anak yang gemar membaca, tentu saja Ayah dan Bunda juga harus memberikan contoh serupa. Misalnya sering-sering baca buku saat sedang menjaga anak, atau bisa juga dengan membacakannya cerita dongeng ketika hendak tidur. Hal itu bisa merangsang rasa penasaran anak.

Secara tidak langsung Ayah dan Bunda juga sudah mengenalkan buku kepada anak. Dari rasa penasaran tersebut nantinya anak akan tertarik untuk bergabung bersama Bunda atau Ayahnya untuk membaca buku. Lalu tinggal perlahan mengenalkan berbagai macam huruf-huruf saja kepada si kecil.

2. Berikan Anak Kebebasan dengan Membiarkan Ia Membaca Buku Kesukaannya

Agar anak punya kemauan sendiri untuk melatih bacaannya, tidak ada salahnya untuk membiarkannya membaca buku pilihannya sendiri. Jika mereka senang dengan buku penuh gambar maka berikan saja kepadanya. Hal tersebut menjadi tanda jika si kecil merupakan pribadi pandai berimajinasi dan kreatif.

Namun jika si kecil lebih nyaman membaca buku yang hanya ada tulisan saja juga tidak masalah. Intinya biarkan mereka memperbanyak kosa kata melalui buku-buku favoritnya dulu. Jangan minta anak untuk selalu membaca buku-buku pelajaran yang tebal dan justru membuat mereka bosan.

3. Identifikasi Karakter Anak dan Berikan Buku yang Sesuai dengan Mereka

Biasanya anak akan suka dengan buku-buku seusia mereka. Misalnya saja dibawah 3 tahun akan lebih tertarik dengan buku banyak gambar dibandingkan hanya berisi tulisan saja. Untuk tahap pengenalan tentu saja hal tersebut tidak masalah. Justru bisa melatih daya imajinatif mereka.

Belikan beberapa buku bergambar untuk anak, bacakan setiap hari. Bisa sambil bermain atau menjelang tidur. Sambil perlahan-lahan ayah atau bunda juga memperkenalkan jenis buku lainnya yang bisa menjadi kesukaan berikutnya. Namun tidak perlu buru-buru, lakukan dengan perlahan saja.

4. Dukung Aktivitas Membacanya dengan Menciptakan Suasana Nyaman Ketika Anak Membaca

Selanjutnya adalah membuat anak betah atau gemar membaca dengan menciptakan suasana juga ruangan bersih, harum yang nyaman. Suasana seperti ini bisa membuatnya fokus pada buku tersebut, tidak terbagi ke mainan, suara bising motor atau lantai yang kotor karena sisa makanannya.

Suasana yang nyaman juga bisa meningkatkan fokus si kecil untuk membaca buku tersebut, meningkatkan ketertarikannya untuk lebih lagi dalam intensitas membaca. Kebiasaan seperti ini tentu saja sangat bagus untuk masa tumbuh kembang anak yang usianya dibawah lima tahun.

5. Ajak Anak Memilih dengan Pergi ke Toko Buku Bersama

Tips selanjutnya untuk membuat anak jadi semakin cinta membaca adalah dengan mengajaknya pergi ke toko buku bersama. Selain mengenalkan anak pada dunia luar yang asyik dan menyenangkan, kegiatan ini tentu bisa juga mempererat hubungan antara ibu dan anak agar bisa semakin akrab dan intim.

Ajak si kecil untuk berkeliling ke berbagai genre buku khusus anak-anak. Perkenalkan kepada mereka tentang macam-macam genre seperti komik, novel, cerita dongeng, buku bergambar, dan lainnya. Bangun intensitas si kecil sejak dini melalui langkah seperti ini memang dinilai sangat tepat.

6. Buat dan Ciptakanlah Waktu Khusus untuk Anak Membaca

Dalam satu hari usahakan ada waktu khusus bagi si kecil hanya untuk belajar membaca. Usahakan pilih waktu dimana ia berada dalam keadaan happy, mood baik dan daya fokusnya juga baik. Misalnya saja pagi hari setelah sarapan. Tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit saja waktu terlamanya.

Waktu terbaik lainnya adalah ketika menjelang waktu tidur. Disini bunda bisa membacakan cerita ke anak sebelum tidur. Quality time seperti ini bisa sangat berkualitas jika bunda dan si kecil bisa sama-sama aktif di dalamnya. Tidak perlu biaya mahal atau syarat khusus untuk bisa mendapatkannya.

7. Agar Jadi Sebuah Kebiasaan Cobalah Lakukan Secara Konsisten Setiap Hari

Hasil dari metode pembelajaran ini tentu tidak akan nampak dalam waktu cepat. Butuh konsistensi tinggi dari semua pihak, baik orang tua maupun pihak anak. Semua usaha tersebut juga harus dilakukan setiap hari. Semakin anak terbiasa maka Bunda juga bisa meningkatkan intensitasnya.

Dengan konsistensi tinggi dari semua pihak tentu saja hasil akhirnya juga akan memuaskan. Jadi bagi Bunda yang sekarang sedang berusaha memperkenalkan si kecil dengan huruf ataupun angka pantang untuk menyerah. Memang perlu proses panjang dan disiplin tinggi dari Ayah dan Bunda.

8. Dan Jangan Lupa untuk Memberi Apresiasi Setiap Kali Ia Menyelesaikan Satu Buku Bacaannya

Terakhir jangan lupa juga untuk memberikan apresiasi kepada si kecil. Setiap pencapaiannya tentu kemajuan yang sangat berharga. Misalnya saja hari ini anak sudah bisa menghafal dari A sampai G. Walaupun belum sempurna tetap harus diapresiasi.

Bentuk apresiasi yang diberikan juga tidak perlu mahal-mahal. Bisa saja hanya dengan hal-hal kecil seperti membuatkan makanan kesukaan, membelikan makanan pesan antar, atau hanya melalui ucapan saja seperti “kakak hebat sekali hari “

Pujian seperti itu ada kalanya memang sangat berpengaruh ke mental dan psikis anak. Intinya saat ini adalah jangan hanya mengekang anak untuk melakukan hal yang diinginkan orang tua tanpa tahu apa anak tersebut nyaman atau tidak. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Tahapan Tumbuh Kembang dan Cara Mengatasi Jenis-jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan

Keterlambatan perkembangan pada anak dapat mencakup berbagai area keterampilan termasuk bahasa, motorik, sosial atau kemampuan berpikir. Namun, sebagai orangtua, kita juga harus mengerti jika tahapan perkembangan antara anak yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamaratakan. Ada anak yang cepat pada beberapa aspek, namun ada juga yang lambat. Itulah sebabnya, penting sekali untuk mengenali gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan. 

Tahapan Perkembangan yang Akan Anak Usia 25 – 36 Bulan Alami

Nah, untuk mengetahui apakah anak, mengalami tanda-tanda gangguan perkembangan pada usia 25 – 36 bulan, Bunda perlu memahami terlebih dahulu tahapan yang pada umumnya dilalui di usia tersebut. Sehingga, jadi informasi ini kita bisa memiliki tolok ukur untuk memeriksa tumbuh kembang si kecil. Berikut ini beberapa acuan tahapan perkembangan si kecil yang perlu diketahui, di antaranya:

1. Perkembangan Sosial dan Emosional

Saat anak memasuki usia 25 – 36 bulan mereka mulai mengenal teman-temannya dan senang jika bermain bersama. Bagi anak yang aktif interaksi saat bertemu dengan teman menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Namun, tetap saja sebagai orang tua harus terus mengawasinya. 

Meskipun kemampuan berkomunikasi dengan temannya sudah baik, namun di fase ini mereka masih belum stabil emosinya. Terkadang masih harus ada penengah untuk melerai pertengkaran. Maka inilah saat yang tepat untuk mengajarkan kepada mereka tentang empati, negosiasi, kompromi, tahu batasan, dan lainnya. 

2. Perkembangan Motorik

Fisik dan keterampilan si kecil saat memasuki usia 25 – 36 bulan sudah semakin sempurna dan ahli. Mereka juga senang dan mulai mahir mengayuh sepeda, bermain dengan berbagai jenis permainan di taman, dan lainnya. Buatlah jadwal yang rutin setiap minggunya agar si kecil senang dengan aktivitasnya. 

Saat usia ini mereka sedang senang-senangnya bermain bersama teman-teman. Fisiknya juga sudah terlatih dengan sangat baik dan kemampuan berjalan atau berlari sudah begitu lancar. Dari segi fisik harusnya anak di usia tersebut sudah bisa menggerakan tangan dan kaki dengan sempurna. 

3. Perkembangan Bicara dan Bahasa

Pada umumnya, anak-anak yang berusia 25 – 36 bulan sudah memiliki kemampuan bahasa yang meningkat pesat. Mereka juga sudah bisa memahami instruksi atau kalimat perintah yang kompleks. Bahkan anak-anak juga sudah bisa menggambarkan aktivitas dan apapun yang dilihatnya dengan baik. 

Contohnya seperti menggambarkan kegiatan selama di sekolah, mendeskripsikan apa yang dilihat dengan runut dan jelas baik kata kerja maupun kata sifatnya. Kosakata yang dikuasai juga semakin banyak bahkan hingga 900 kata atau lebih tergantung bagaimana orang tua mengajarinya.. 

Dan Berikut Adalah Jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan yang Harus Dihindari

Gangguan perkembangan anak bisa dialami oleh siapa saja, sehingga kita sebagai orangtua patut mengantisipasi dan mengatasinya dengan baik. Namun, bukan berarti setiap gangguan yang menyebabkan keterlambatan tersebut bisa dianggap cacat. Bisa jadi masih berada di batas normal, yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi apa yang ia alami dan tahu bagaimana cara mengatasinya.

1. Gangguan Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD merupakan salah satu jenis gangguan yang sifatnya kronis dan biasanya dalam jangka panjang. Penyebabnya adalah karena ada masalah yang terjadi di sel saraf otak sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Gejalanya muncul saat kanak-kanak namun bisa bertahan hingga mereka dewasa. 

Saat usia tiga tahun, gejala ini sudah bisa mulai muncul baik yang kondisinya ringan maupun berat. Tanda-tanda anak yang mengalami ADHD seperti terlalu banyak bicara, sulit fokus, sulit mengatur aktivitas, sering melamun, suka lupa melakukan sesuatu, tidak sabar, lebih suka menyendiri, dan lainnya. 

2. Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan atau yang biasa dikenal dengan istilah anxiety disorder ternyata tidak hanya dialami oleh orang dewasa. Anak pun bisa mengalami gangguan kecemasan dengan rasa takut yang berlebihan. Ketika mengalami gangguan ini, mereka cenderung selalu merasa tertekan dan cemas. 

Bahkan mereka bisa mengalami gangguan kecemasan yang begitu dahsyat dan bisa muncul kapan saja tanpa peringatan. Contoh gangguan jenis ini yang terjadi pada anak adalah obsesif-kompulsif saat si kecil terus mengalami perilaku dan pemikiran yang seolah terobsesi sehingga mereka tidak dapat berhenti. 

3. Bipolar

Bipolar dikenal juga dengan istilah mania-depresi atau kelainan otak yang menyebabkan mood berubah dengan sangat tidak wajar pada tingkat energi dan aktivitas tertentu. Anak-anak yang mengalami penyakit ini bisa tiba-tiba memiliki banyak energi dan menjadi lebih aktif dari biasanya. 

Namun, di satu sisi saat mereka mengalami episode depresi, maka anak akan merasa sangat terpuruk dan bahkan tidak bisa aktif sama sekali. Resiko gangguan bipolar bisa semakin meningkat jika ada faktor yang mempengaruhinya yakni kelainan genetik, struktur otak, hingga riwayat kesehatan keluarga. 

4. Cerebral Palsy

Anak yang memasuki usia 25 – 36 bulan harusnya sudah bisa berjalan dan berbicara dengan normal. Gangguan cerebral palsy menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya untuk bergerak maupun mempertahankan keseimbangan tubuh. 

Anak-anak yang mengalami cerebral palsy biasanya memiliki kekakuan pada otot, kekurangan koordinasi otot, gerakan yang lambat, sulit berjalan, sulit makan, kejang, hingga sulit berbicara. 

5. Gangguan Spektrum Autisme

Gangguan ini berdampak pada kemampuan interaksi dan komunikasi pada anak. Biasanya muncul di awal masa tumbuh kembang mereka di mana penderita seolah punya dunia sendiri. Bahkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan hubungan sosial-emosional dengan orang sekitarnya. 

Gangguan spektrum autisme pun ada beberapa jenis mulai dari aspek komunikasi dan bahasa, interaksi sosial, perilaku, hingga panca indra. Penderita autisme biasanya memiliki panca indra yang tergolong sensitif sehingga sering tidak kuat mendengar kebisingan atau melihat yang terlalu silau. Gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan di atas perlu Bunda ketahui tanda-tandanya agar bisa mengetahui apa si kecil ada indikasi ke arah gangguan tersebut atau tidak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top