Kesehatan Ibu & Anak

Untuk Ibu Baru, Tak Usah Didengarkan kalau Dikomentari Soal Ini

newborn-baby-feet-basket-161534

Saat perempuan baru menyandang status sebagai seorang ibu, suasana hatinya akan rentan mengharu biru. Dirinya mau mengusahakan yang terbaik untuk bayinya. Tapi di lain waktu, ibu baru masih menghadapi perubahan hormon yang membuatnya jadi gampang baper. Karenanya, saat mendengar komentar orang lain, bukan tak mungkin seorang ibu baru akan jadi rentan tersinggung ‘kan, Bun?

Nah, khususnya untuk Bunda yang baru saja dianugerahi seorang buah hati, yuk Bun lebih baik maksimalkan waktu untuk memberi yang terbaik bagi buah hati. Kalaupun ada yang melontarkan komentar seperti yang di bawah ini, Bunda jangan patah semangat, ya!

Bila Ada yang Memberi Komentar Bayi Bunda Beruntusan, Jangan Diambil Pusing

pexels-photo-105890 (1)

Menurut seorang konsultan tumbuh kembang dari RSCM, dr Rini Sekartini, SpA(K), beruntusan pada bayi sebenarnya jerawat yang muncul lantaran adanya pengaruh hormon ibu dalam tubuh bayi. Lagi pula, beruntusan pada bayi itu normal lho, Bun. Kalaupun ada yang berkomentar demikian, jangan diambil pusing ya, Bun.

Si Kecil Sering Menangis dan Dikira Kekurangan ASI, Bunda Tak Perlu Panik

newborn-baby-feet-basket-161709

Saat sedang repot-repotnya menenangkan si kecil, tiba-tiba ada yang berkomentar kalau bayi Bunda terus-menerus menangis karena kurang ASI. Bunda tak perlu panik, bayi menangis tak melulu karena lapar, bisa jadi karena bosan, lelah, tak nyaman, atau sebagainya.

Atau coba Bunda perhatikan lagi popok si kecil. Kalau bayi kurang ASI, maka penggantian popoknya kurang dari enam hari sekali. Karena normalnya bayi akan membasahi popoknya 6-8 kali sehari. Tanda bayi kurang ASI juga bisa dilihat dari urinnya. Kalau warnanya kuning pekat, kemerahan bahkan berbau tajam, itu pertanda si kecil kurang ASI.

Ada yang Menyarankan agar Bayi Jangan Terus Digendong, Padahal Bayi Memang Membutuhkan Hal Tersebut

man-person-cute-young

Bila si kecil menangis, sebagai ibu tentu kita refleks mengangkat dan menggendongnya, kan? Tapi justru orang lain berkomentar untuk tidak menggendongnya terus menerus. Katanya ‘bau tangan’. Benarkah begitu?

Linh Nguyen England, MD, dokter spesialis anak di Miller Children’s & Women’s Hospital, Long Beach, California mengatakan kalau pendapat tersebut tak benar. Ia justru menganjurkan agar Bunda sering menggendongnya agar terjadi skin to skin contact dengan buah hati. Berada dalam gendongan orangtuanya adalah kebutuhan bayi agar ia dekat dengan orangtuanya. Bahkan pada bayi baru lahir, digendong bisa membuat mereka tenang.

Jika Ada yang Komentar Soal Ukuran atau Berat Badan Bayi, Abaikan Saja, Bun

baby-sleeping-baby-baby-girl

Namanya saja ibu baru, siapa yang tak sedih bila mendengar komentar perihal berat badan bayi yang dibilang kecil atau apa pun itu. Kendati benar adanya bahwa ada bayi yang terlahir kecil, sejatinya menegaskan ungkapan tersebut di depan orangtuanya adalah suatu hal yang menyakitkan. Untuk Bunda, harus berbesar hati ya, Bun. Bunda perlu tahu, seorang bayi dikatakan punya berat badan lahir rendah bila saat lahir beratnya kurang dari 2.500 gram.

Apalagi kalau Ada yang Berusaha Membandingkan Buah Hati Bunda dengan Bayi yang Lain, Bunda Tak Usah Gubris Komentar yang Seperti Itu

pexels-photo-428388

Rasanya tak ada seorang pun yang suka dibanding-bandingkan, ya Bun? Apalagi saat bayi kita dibandingkan dengan bayi lainnya dan ibunya sendiri yang mengutarakan kalau bayi Bunda tak jauh lebih baik dari bayinya. Cukup menyakitkan, lho.

Memang seringkali kita menemui orang yang merasa lebih tahu, padahal belum tentu tahu. Bunda tak usah ambil pusing dengan tipe ibu yang seperti ini. Yakini saja Bunda selalu bisa memberi yang terbaik untuk anak Bunda dengan menambah wawasan Bunda setiap harinya. Sebab faktanya pengetahuan akan sangat membantu Bunda mengurangi kecemasan lho, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Yuk Hentikan Kebiasaan Main Ponsel Sambil Menyusui!

savee

Selama ini, banyak sekali bunda yang sering menyusui bayinya sambil bermain ponsel. Kendati sejatinya terkesan biasa saja, ternyata kebiasaan ini tak baik untuk tumbuh kembang si kecil lho bun. Kenapa? Saat proses menyusui bayi, ini merupakan momen yang intim dan emosional antara bunda dan buah hati. Oleh sebab itu, idealnya para ibu memang harus memfokuskan perhatiannya pada si kecil selama menyusui. Sayangnya, masih banyak ibu yang kurang memahami hal ini.

Bukannya fokus pada si kecil, biasanya momen ini justru dimanfaatkan untuk mengecek ponsel atau menonton drama favorit. Bun, kalau kebiasaan ini masih sering bunda lakukan, yuk hentikan sejenak kebiasaan ini.

Si Kecil Bisa Terpapar Radiasi Ponsel

Seperti yang Bunda tahu, ponsel menghasilkan gelombang radiasi. Mengutip Friso, menurut Dr. dr Ahmad Suryawan Sp. A(K), seorang pakar tumbuh kembang anak, gelombang radiasi ini berisiko membahayakan sinyal otak si kecil lho bun. Terutama bila bayi bunda berusia kurang dari enam bulan. Bun, momen enam bulan pertama dalam kehidupan si kecil sejatinya merupakan masa-masa esensial otak bayi berkembang.

Momen enam bulan pertama kehidupan merupakan masa-masa esensial otak bayi berkembang. Sinyal-sinyal listrik pun belum stabil sehingga saat terpapar gelombang radiasi dari ponsel, sinyal otak itu rentan kacau. Efek dari gelombang radiasi memang tak akan langsung terlihat.

Tapi begitu si Kecil memasuki usia 2-6 tahun dan struktur otaknya sudah terangkai sempurna, beberapa gangguan dasar akan mulai tampak. Bisa saja si kecil akan kesulitan belajar berdiri, berjalan dan berbicara. Bahkan tak menutup kemungkinan juga akan menunjukkan gangguan perilaku dan penurunan kecerdasan.

Harusnya Momen Ini Bisa Bunda Pakai untuk Bonding, Tapi Akhirnya Jadi Berkurang

Ada berbagai cara yang bisa Bunda lakukan untuk membangun kedekatan emosional ini. Salah satunya saat menyusui anak. Saat menyusui, ada interaksi antara Bunda dan si kecil melalui sentuhan, pelukan, ciuman, kontak mata, tutur kata positif, dan sebagainya. Sementara kalau Bunda lebih sibuk dengan gawai, tentu akan mengurangi kualitas bonding bersama kan Bun?

Bunda Jadi Tak Tahu Apakah si Kecil Sudah Kenyang atau Belum

Selain memberikan ASI dengan cara menyusui yang benar, keberhasilan bunda dalam memberi ASI juga dilihat dari kenyang atau tidaknya si kecil pasca menyusui. Menariknya, hal ini baru bisa bunda ketahui jika Bunda benar-benar memperhatikan si Kecil selama menyusui. Ketika bunda hanya fokus melihat ponsel, Bunda bisa jadi melewatkan tanda-tanda yang ia tunjukkan selama menyusu. Padahal, mungkin saja si Kecil memperlihatkan tanda bahwa ia kurang nyaman, sehingga ingin mengganti posisi menyusui.

Tips Membuat Momen Menyusui Lebih Nyaman

  • Sediakan Asupan untuk Menjaga Mood, selalu kondisikan agar situasi tenang dan mood bunda baik ya selama menyusui. Bunda bisa melakukan ini misalnya sembari menyiapkan camilan kesukaan. Karena saat menyusui, seorang ibu umumnya akan lebih mudah lapar. Di lain sisi, mood yang positif juga membantu Mum memastikan si Kecil mendapatkan ASI yang cukup, sebab tubuh yang rileks membuat ASI keluar lebih lancar.
  • Ketahui Posisi Menyusui yang nyaman versi bunda. Yup! Setiap bunda pasti punya posisi nyamannya tersendiri. Ada yang lebih suka bersandar di tumpukan bantal tinggi, ada pula yang memilih duduk di kursi empuk. Oleh sebab itu, bunda perlu mengetahui posisi apa yang paling nyaman selama menyusui, mengingat proses ini bisa jadi berlangsung dari 15 menit sampai lebih dari 1 jam. Posisi yang nyaman akan membuat Bunda jadi tak mudah lelah. Jadi, pastikan Bunda tetap nyaman ya selama menyusui.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Si Kecil Sudah Minta Hewan Peliharaan? Pilih Salah Satu Hewan Ramah Ini yuk Bun

kids

Hewan peliharaan akan jadi teman terbaik untuk buah hati Bunda. Ada banyak pilihan lho Bun selain kucing dan anjing.

Dr. Jennifer Graham, asisten profesor di Sekolah Kedokteran Hewan Cummings Universitas Tufts mengatakan, memelihara hewan peliharaan yang ukurannya relatif kecil adalah pilihan yang baik untuk anak-anak yang berusia lebih dari 5 tahun.

Hal ini akan melatih si kecil untuk bertanggung jawab karena Bunda mengajaknya untuk mengurusi hewan peliharaannya tersebut. Mengutip dari Parents, lima hewan kecil ini yang aman untuk jadi teman baik si kecil Bun.

Hamster

Hewan peliharaan yang satu ini tergolong mudah dirawat bahkan dapat dilatih. Bentuk wajahnya yang lucu serta ukurannya yang mini akan membuat si kecil tertarik untuk memeliharanya. Hamster kecil dikenal lincah, hanya saja Bunda harus tetap hati-hati karena keturunannya bisa sangat agresif.

Bun, membelikan hamster kecil untuk si kecil sejatinya tak masalah. Tetapi pastikan Bunda rutin membersihkan kandangnya serta arena bermain hamster yang biasanya ada di kandangnya.

Marmut

Hewan pengerat ini lembut dan kemungkinan menggigitnya sangat kecil. Di lain sisi, mereka bisa diajak bersosialisasi dimana mereka merasa tak keberatan ditaruh di tangan manusia selama dipegang dengan baik. Hewan ini sangat ideal untuk anak yang baru belajar merawat hewan peliharaan karena cenderung tidak frustrasi dengan perawatnya yang masih muda. Mereka tidak akan keberatan jika anak-anak ingin berinteraksi.

Kelinci

Hewan peliharaan yang satu ini baik untuk si kecil selama ada pengawasan orang dewasa ya Bun. Kelinci terbilang aman karena sifatnya yang lembut dan mudah bergaul. Menariknya, kelinci bisa hidup dari usia 8-12 tahun. Mereka pun tergolong mudah dirawat serta cukup menyiapkan pakannya saja. Kalau Bunda dan si kecil banyak waktu, bahkan Bunda bisa memberikan latihan untuk kelinci si kecil.

Landak

Mamalia berduri yang satu ini mungkin tak suka digendong atau diemong. Tapi mereka lucu, ramah, dan relatif berumur panjang dengan jangka waktu dari lima hingga tujuh tahun. Jika landak ditangani saat masih kecil, mereka akan bersosialisasi dengan baik. Kelemahannya, kita harus siap-siap mengeluarkan uang lebih untuk merawat mereka.

Gerbil

Gerbil mudah dirawat dan umur hidupnya hanya dua tahun. Makanannya pun sama dengan marmut dan tikus. Hewan ini tidak agresif jadi sangat mudah dipegang. Namun pergerakan mereka cepat sehingga tidak mudah untuk bermain lama-lama.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bun, Kalau Gabung ke Komunitas Justru Tak Membawa Manfaat Berarti, Mending Tak Usah Ikut Deh!

moms

Demi bertukar informasi dan mencari wadah mendapatkan support system, kadang para Bunda memilih gabung ke beberapa komunitas. Ya kan, Bun? Nah, sebelum bergabung dengan salah satu komunitas, coba pertimbangkan dahulu tiga hal ini yuk Bun!

Mengutip Haibunda.com, psikolog keluarga dan pernikahan Nadya Pramesrani dari Rumah Dandelion, menyarankan untuk mempertimbangkan dan menanyakan pada diri sendiri. Sudahkah Bunda memiliki tujuan pasti untuk bergabung dengan komunitas yang akan dituju? Adakah yang dicari dari komunitas tersebut? Kalau hanya iseng atau karena ikut-ikut teman, lebih baik pertimbangkan lagi ya Bun.

“Karena beranjak dari kebutuhan itu kita akan skrining komunitas yang ada. Misalnya pertama, ada komunitas ibu-ibu yang bisa memenuhi kebutuhan kita ya sudah gabung aja,” kata Nadya.

Pertimbangan selanjutnya, sebelum gabung ke komunitas tersebut, yakinkan diri, akankah Bunda menemukan kenyamanan bersama dengan orang-orang yang ada di dalamnya? Seperti saat sekolah aja, Bun, kata Nadya biasanya kita berkelompok. Nah, perhatikan apakah lingkungan kelompok tersebut bikin nyaman.

Meskipun, kenyamanan relatif ya, berbeda-beda tiap orang. Nadya menyarankan, demi mengetahui nyaman atau tidaknya saat mencoba masuk ke komunitas ibu-ibu tersebut, lakukan interaksi ya Bun. Apakah kita merasa nyaman saat berbagi cerita kemudian dapat info yang dicari? Lalu apakah kita percaya dengan orang-orang yang ada di dalamnya? Bila ada keterikatan tersebut bisa dibilang kita nyaman.

Terakhir, yaitu soal diversitas. Cobalah identifikasi keragaman yang ada di komunitas ibu-ibu tersebut. “Makin besar diversitas otomatis pengetahuan yang kita dapat lebih beragam,” tambah Nadya.

Komunitas ibu-ibu termasuk untuk ibu baru memang membantu kok, Bun. Komunitas ibu-ibu penting untuk media belajar. Khususnya untuk orangtua baru yang pasti menurut mereka sangatlah penting. Hal ini agar ibu-ibu tak hanya dapat pengetahuan dari baca aja tapi juga bisa berdiskusi secara langsung.

“Komunitas orang tua ini bagus banget dilakukan, kalau perlu ada kurikulum. Memang jadinya dia sekolah rutin dan dia dapat sesuatu yang baru entah cuma seminggu, dua minggu, atau sebulan sekali yang penting ada hal baru yang didapat tentang parenting dan itu dilakukan berdasar usia anak,” tambah Ratih seperti dikutip dari detikcom.

Jadi kalau sejauh ini Bunda tak menemukan hal-hal tersebut di komunitas yang Bunda ikuti, lebih baik tak usah memaksakan atau melanjutkan untuk terlibat atau berinteraksi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top