Kesehatan Ibu & Anak

Tips Menjaga Kepala Bayi Agar Tak Peyang Dari dr Reisa Broto Asmoro

pexels-photo-421879 (1)

Setelah si kecil lahir, sebagai orangtua pasti pernah terlintas di benak Bunda soal kekhawatiran pemakaian bantal dan posisi kepala bayi saat tidur ya, Bun. Ada yang menasehati untuk hal yang satu ini jangan sampai salah posisi sebab bisa-bisa justru membuat kepala bayi jadi peyang. Sejauh ini, para orangtua dengan bayi yang baru lahir biasanya menyiasati dengan memakaikan bantal yang bagian tengahnya datar supaya kepala bayi tidak peyang.

Tapi Bun, bicara soal bentuk kepala bayi yang rentan peyang, dr Reisa Broto Asmoro punya pemaparannya tersendiri. Ia mengatakan, pada dasarnya bayi dilahirkan dengan tulang tengkorak yang masih lunak. Di lain sisi, sambungan antar tulang tengkorak pun masih fleksibel demi memberi ruang bagi pertumbuhan otak di tahun pertama kehidupan. Untuk itulah mengapa kepala bayi masih sangat bisa mengalami perubahan bentuk.

“Kepala bayi yang bentuknya tidak bulat dan bukan disebabkan oleh tekanan pada proses persalinan, sering disebut kepala peyang. Dalam dunia medis, istilah kepala bayi peyang dibagi menjadi dua, yaitu plagiocephaly dan brachycephaly,” kata dr Reisa seperti dikutip dari akun Instagram-nya.

Bunda perlu tahu, plagiocephaly adalah kondisi dimana salah satu sisi kepala bayi datar sehingga bentuk kepala terkesan asimetris. Posisi kedua telinga pun tak sejajar sehingga kepala bayi terlihat tidak bulat kalau dari atas. Untuk situasi semacam ini, dr Reisa mengungkapkan kalau plagiocephaly kadang membuat dahi dan wajah bisa menonjol sedikit dari sisi yang sama dengan sisi kepala yang datar.

Lain lagi dengan brachycephaly, yaitu kondisi bagian belakang kepala bayi yang rata sehingga menyebabkan kepala terkesan melebar. Bahkan Bun, dahi juga bisa menonjol ke depan. Menurut dr Reisa, penyebab paling umum dari kepala peyang adalah posisi tidur bayi selama berjam-jam dengan posisi yang sama.
“Ini bisa menyebabkan kepala terlalu lama tertekan pada satu sisi dan dapat menyebabkan kepala peyang Kemudian, tekanan juga bisa terjadi di kepala bayi sebelum lahir yang disebabkan adanya penekanan di dalam rahim atau karena kekurangan cairan ketuban yang berfungsi untuk melindungi bayi,” lanjut ibu dua anak ini.

Jangan khawatir Bun, bagaimanapun soal kepala peyang juga bisa dicegah. Menurut dr Reisa, salah satu cara yang bisa Bunda lakukan adalah mengubah posisi tidur bayi dari telentang kemudian ke posisi kepala miring ke kanan atau kiri secara bergantian. Atau bahkan Bunda juga bisa mengubah harah tempat tidur atau arah bayi saat tidur.

Penting diingat ya Bun, bayi tertarik melihat benda-benda yang bercahaya terang atau ke arah jendela. Nah, memancing perhatian bayi bisa dilakukan dengan memindahkan posisi mainan yang ada di sekitarnya. Dengan demikian, posisi kepalanya pun akan berubah. Pun dengan cara menggendong lho, Bun!

“Memvariasikan cara menggendong juga dapat membantu. Misalnya menggendong dengan posisi bayi tegak, baik didekap atau posisi miring bisa mengurangi penekanan pada bagian belakang kepalanya,” pungkas dr Raisa.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bunda yang Sedang Hamil, Ketika Tidur Usahakan Miring Ke Kiri Ya

pexels-photo-1464822

Selama kehamilan Bunda mungkin dilanda kecemasan karena khawatir terjadi sesuatu pada bayi dalam kandungan karena kesalahan perilaku. Karena itu kemudian Bunda berlaku sangat berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu.

Setelah si kecil lahir, bukan berarti perasaan langsung lega begitu saja. Bunda lagi-lagi merasa cemas melakukan kekeliruan dalam merawat si kecil. Semua hal itu wajar dan tak perlu panik ya Bunda.

Sebab semua orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Namun kebanyakan dari kita tidak punya pengetahuan yang cukup untuk menangani bayi yang baru lahir. Karena itu Bunda dilanda kecemasan soal hal ini.

Nah mari coba menenangkan diri ya Bunda, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi dasar penting yang wajib bunda kuasai dalam hal merawat bayi yang baru lahir. Dengan melakukannya sesuai petunjuk, si kecil akan baik-baik saja dan Bunda akan membantunya dalam perkembangannya di kemudian hari kelak.

Selama Tali Pusat Belum Puput, Harus Dirawat Ya Bunda

newborn-1399193_640

Tali pusat jadi bagian penting dari bayi ketika dalam kandungan karena organ ini menjadi sumber makanan dan mengalirkan oksigen dari Bunda. Setelah bayi lahir, tali pusat yang tadinya jadi penghubung oksigen dari bunda pada bayi akan dipotong sekitar 2 sampai 3 cm. Sisa tali pusat nantinya akan puput dengan sendirinya.

Meski akan puput secara alami, ada hal penting yang harus Bunda perhatikan ketika menanganinya. Gusti Ayu Puspita Devi S.Keb, seorang Bidan yang sudah mengedukasi lebih dari 1.000 bayi menuturkan bahwa selama tali pusat belum puput, bunda disarankan untuk tetap memastikan tali pusat tetap bersih dan kering. Sebisa mungkin mandikan bayi dengan washlap atau spons. Hindari pula memandikan bayi ke dalam bak mandi yang airnya penuh, agar tali pusat tidak terendam air.

Sebab hal ini akan mengakibatkan tali pusat basah dan lembap, yang tidak baik untuk kesehatan si Bayi. Hindari pula untuk membersihkan tali pusat dengan sabun atau cairan antiseptik lainnya. Seusai mandi, keringkan tali pusat dengan kain bersih dan balut dengan kain kasa yang steril.

Selanjutnya bunda juga perlu memastikan pemasangan popok. Pastikan jika tali pusat tak akan terkena air seni dan tinja untuk menghindari infeksi pada tali pusat. Jangan pula menarik tali pusat dengan paksa, karena ini bisa menyebabkan pendarahan pada pusat. Biarkan ia kering dan puput dengan sendirinya, dengan memastikan tali pusat tetap bersih dan tidak basah.

Bayi Boleh Dipijat Dari Usia 0, Tapi…

Mother massaging her child's foot, shallow focus

Faktanya pemijatan pada bayi dapat dilakukan sejak bayi baru lahir, dari usia 0 hingga 3 tahun. Namun alangkah lebih baik, jika dilakukan pada masa 6 atau 7 bulan kehidupannya. Dengan catatan, si kecil sedang dalam kondisi baik dan stabil dari segi medis.

Bunda bisa memberikan sentuhan-sentuhan lembut untuk memijatnya. Bunda juga boleh melakukannya dengan penyertaan komunikasi secara verbal kepada dirinya sebagai bentuk cinta kasih. Hal ini akan jadi salah satu cara untuk meningkatkan bonding antara bunda dan bayi.

Stimulasi ini akan jadi pengaruh baik yang akan mendukung tumbuh kembang si kecil. Mulai dari meningkatkan sistem imunitas tubuh, membantu bayi belajar rileksasi, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur miliknya.

Bayi Boleh Dimandikan, Tapi Jangan Terlalu Sering

279228-P5UI7Z-794

Tak ada patokan pasti, sebaiknya berapa kali bayi dimandikan dalam sehari. Ada yang 2 kali sehari, dan ada pula yang 1 kali sehari. Atau pagi hari dimandikan, sorenya cukup diseka saja.

Namun yang utama beberapa ahli pun menganjurkan untuk memandikan bayi 2 hingga 3 kali per minggu. Dan frekuensinya bisa ditingkatkan, seiring bertambahnya usia.

Caranya? Setidaknya ada 3 cara yang biasa digunakan oleh beberapa perawat, untuk memandikan bayi yang baru saja lahir. Pertama dengan memakai washlap dan diusapkan ke Bayi. Kedua memandikan bayi dengan dicelupkan ke bak mandi. Sedangkan ketiga memandikan bayi dengan dibedong menggunakan selimut. Bunda boleh memilih. Kira-kira cara mana yang paling sesuai untuk bunda lakukan pada si kecil sesuai dengan kebutuhan.

Meski tata cara memandikannya berbeda, hal lain yang perlu dilakukan dalam proses memandikan hampir serupa untuk ketiga tekniknya. Diawali dengan membersihkan area mata dari dalam keluar, mulut, dan membersihkan wajah bayi hingga ke kepala sampai ujung kakinya. Selanjutnya, bunda boleh mengeringkan bayi dengan menggunakan handuk berbahan lembut.

Hal Lain yang Juga Perlu Bunda Perhatikan Adalah Tata Cara Mengganti Popok yang Sesuai Anjuran

pexels-photo-1556706

Sekilas kegiatan ini mungkin terlihat sepele, karena dalam bayangan bunda mungkin mengganti popok hanyalah membuka dan memasang pakaian bawah pada tubunya si kecil saja. Tapi, untuk mengganti popok pada bayi baru lahir beda loh bun.

Karena setidaknya ada beberapa hal yang bunda perlu siapkan, mulai dari matras pelapis, popok yang bersih, wadah berisi air hangat, kapas untuk membersihkan bokong bayi dan baby cream.

Mulailah dengan meletakkan si kecil di atas matras dengan memastikan posisinya aman. Lepaskan popok yang ia kenakan, lalu bersihkan bagian pinggang kebawah menggunakan kapas yang dibasahi dengan air hangat dari depan ke belakang. Keringkan bagian lipatan bokongnya dengan handuk bersih dan oleskan baby cream.

Selanjutnya, pasang popok yang bersih dengan posisi menutupi bokong dan tubuh bagian depan dengan baik, lalu ikat tali popok dengan tidak terlalu longgar tapi juga tidak terlalu kencang.

Jika Masih Dirasa Kurang, Bunda Juga Boleh Belajar Tentang Cara Perawatan Bayi yang Baru Lahir Lainnya dari Para Ahli di Bidangnya

pexels-photo-789786

Menjadi orangtua baru atau kembali merawat bayi yang baru lahir, memang bukanlah sebuah tugas mudah. Tapi bukan berarti juga, bunda tak bisa melakoninya. Beruntungnya, kini kita ada pada masa yang bisa dengan mudah mempelajari banyak hal hanya dengan telepon genggam saja. Termasuk tata cara perawatan si kecil yang baru saja lahir.

Menariknya, untuk urusan hal terbaik dan perawatan bayi baru lahir, bunda bisa menengok beberapa video yang disajikan oleh JOHNSON’S® . Menjadi, standar dunia dalam perawatan kulit bayi selama lebih dari 125 tahun ini, kali ini JOHNSON’S® menghadirkan 125 video edukasi yang mencakup hal-hal yang “Terbaik Untuk Bayi”, dan salah satunya bagiannya adalah “Perawatan Bayi Baru Lahir” yang bisa bunda lihat disini.

Informasi yang disajikan tersebut bekerja sama dengan beberapa tenaga ahli kesehatan yang ahli di bidangnya masing-masing. Video-video ini ditujukan oleh JOHNSON’S® sebagai bentuk apresiasi kepada para ibu di seluruh Indonesia.

Bagaimana bunda? Yuk, belajar bersama-sama agar lebih paham tata cara perawatan bayi baru lahir yang benar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Berdasarkan Penelitian, Melahirkan Bayi Laki-laki Jauh Lebih Sakit Dibanding Bayi Perempuan

chi-n-ph-m-223833-unsplash

Melahirkan baik normal maupun Caesar memang sama-sama sakit, Bun. Tapi ternyata ada penelitian yang bisa menimbang rasa sakit berdasarkan jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan. Menurut Jurnal Pediatric Research, dalam sebuah penelitian di San Cecilio Clinical Hospital di Granada yang dilakukan oleh Javier Diaz Castro dan Julio Ochoa Herrera, mereka menemukan alasan melahirkan bayi laki-laki akan lebih sakit dibanding bayi perempuan.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan mempelajari data dari 56 orang ibu hamil yang sehat. Dari 56 kehamilan yang mereka teliti, 27 ibu ternyata mengandung anak laki-laki sedangkan 29 lainnya mengandung bayi perempuan. Pasca melahirkan, para dokter kemudian menganalisis kerusakan di tubuh ibu dimana ternyata mereka menemukan biomolekul pada ibu yang melahirkan bayi perempuan memiliki tingkat kerusakan yang lebih minim.

Javier dan Julio mengatakan, analisis ini mengungkap fakta menarik mengenai proses kehamilan dan persalinan serta kolerasi antara jenis kelamin dengan risiko yang bisa terjadi saat persalinan berlangsung.

Berdasarkan studi ini, para peneliti menyimpulkan bahwa jenis kelamin bayi bisa memengaruhi proses persalinan. Alasannya karena bayi perempuan memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi stres. Peneliti juga menemukan, sistem enzim yang ada di dalam tubuh janin perempuan telah matang ketika mereka siap untuk lahir. Hal ini menciptakan sebuah penghalang yang membantu mencegah terjadinya kerusakan sel pada bayi.

Selain itu, dalam tubuh bayi perempuan terdapat antioksidan defensif yang bekerja lebih baik dibandingkan dalam tubuh bayi laki-laki. Dengan adanya antioksidan ini membuat bayi perempuan memiliki risiko lebih rendah mengalami kerusakan membran sel saat dilahirkan. Bahkan antioksidan ini juga bekerja meningkatkan metabolisme sel dalam tubuh si kecil.

Dan dari sisi sang ibu, kelebihan yang dimiliki bayi perempuan ini juga mengurangi risiko ibu mengalami inflamasi dan persalinan tidak terlalu sakit. Sementara itu, Dr. Petra Verburg dari Robinson Research Institute dari  University of Adelaide di Australia mengatakan kalau jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan pun memiliki pengaruh langsung terhadap komplikasi yang mungkin terjadi selama masa kehamilan.

Berikut ini adalah kemungkinan komplikasi yang terjadi saat Bunda melahirkan bayi laki-laki, berdasarkan beberapa studi yang pernah dilakukan.

  • Bayi laki-laki bisa lahir lebih awal dari HPL yang sudah diperkirakan. Hal ini bisa memicu banyak komplikasi pada bayi.
  • Bayi laki-laki cenderung lahir prematur. Peluang kelahiran prematur antara minggu ke-20 dan minggu ke-24 sebesar 27% lebih tinggi. Sedangkan peluang kelahiran prematur antara minggu ke-30 dan minggu ke-33 sebesar 24%. Dan kelahiran prematur antara minggu ke-34 dan minggu ke-36 sebesar 17%.
  • Ibu hamil bayi laki-laki lebih rentan terkena diabetes gestasional, preeclampsia, dan tekanan darah tinggi saat proses persalinan.

Dengan risiko yang demikian, Bunda memang diharapkan untuk rutin melakukan kontrol ke dokter, dan memeriksakan kondisi kesehatan Bunda setiap bulan. Di lain sisi, jangan lupa terapkan pola hidup sehat selama masa kehamilan untuk mengurangi risiko-risiko di atas.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

5 Alasan Penting, Suami Wajib Temani Istri yang Melahirkan! Jangan Sampai Istri Berjuang Sendirian

melahirkanbersama

Tujuan dari suatu pernikahan adalah mendapat keturunan yang sehat. Pesalinan adalah fase yang harus dihadapi oleh wanita yang telah menikah. Salah satu proses yang sulit untuk dilalui oleh istri pasca hamil. Persoalan hidup dan mati serta menahan rasa sakit yang luar biasa untuk melahirkan si buah hati ke dunia.

Calon ibu di seluruh dunia biasanya akan mengalami ketegangan yang luar biasa saat akan melakukan persalinan. Keberadaan seorang suami sangat diperlukan guna mengurangi rasa cemas dan pikiran buruk yang kerap melanda.

Kehadiran suami dapat memberikan rasa nyaman dan aman pada calon ibu. Istri akan berpikiran dirinya tidak berjuang sendirian ketika hendak melahirkan anak. Maka dari itu sebaiknya suami berada di sisi istri tercinta ketika proses penting ini.

Lima alasan mengapa kehadiran suami penting saat proses persalinan yakni

KEHADIRAN SUAMI DAPAT MENGHIBUR ISTRI KETIKA MERASAKAN SAKIT YANG LUAR BIASA

Keberadaan suami di sisi istrinya ketika akan melahirkan putra atau putrid tercintanya memiliki peranan penting, salah satunya dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh istri saat persalinan terjadi. Penelitian dari “The Fatherhood Institute” yang berbasi di Inggris menemukan bahwa ibu dapat melahirkan dalam waktu yang singkat dan berkurang rasa sakitnya karena ada suami yang menemani sang ibu.

SUAMI YANG TIDAK ADA DI SISI SAAT MELAHIRKAN DAPAT MEMBUAT ISTRI MUDAH CEMAS

Istri akan mudah cemas dan khawatir saat tidak ada sosok suami yang mendampingi di ruang bersalin. Sikap kurang peka dan cuek dari suami bisa dimanfaatkan di saat-saat seperti ini. Suami bisa bersikap lebih tenang ketika menemani ibu yang hendak melahirkan daripada ibu atau adik perempuan yang menemani proses bersalin yang malah justru ikut panik.

MEMBIISIKAN ISTRI DENGAN KATA-KATA POSITIF YANG MEMBERI SEMANGAT ADALAH CONTOH SUAMI IMPIAN

Suami yang melihat istri sambil tersenyum secara tidak langsung akan membuat istri lebih tenang saat melahirkan. Istri akan merasa bahagia dan dicintai karena orang kepercayaannya ikut berjuang bersama membantu buah hati lahir ke dunia. Membisikan kata-kata positif yang dapat membuat semangat bangkit merupakan keinginan istri yang paling besar sehingga proses persalinan lebih lancar.

SUAMI YANG ADA SAAT PERSALINAN AKAN MENINGKATKAN RASA BAHAGIA ISTRI

Menurut penelitian, kadar oksitosin yang Ayah miliki meningkat pada saat pasca melahirkan bayi. Hormon ini adalah hormone yang dapat memicu perasaan bahagia. Kebahagiaan yang terpancar dari wajah suami pada sang istri dapat membuatnya tertular rasa bahagia tersebut. Maka dari itu keberadaan suami merupakan hal yang tidak boleh dianggap sepele. Tidak ada yang bisa menggantikan keberadaan suami ketika istri bersalin.

KEBERADAAN SUAMI DAPAT MEMBERI SEMANGAT YANG LEBIH

Istri akan beranggapan suami yang membelakan datang saat proses persalinan merupakan orang yang sangat memahami kondisi terburuk pada saat melahirkan. Dukungan dan doa yang dihadirkan oleh suami dapat membuat istri lebih semangat ketika melahirkan. Perasaan tidak mudah menyerah akan dipikirkan oleh calon ibu ketika suami yang dicintainya ada tepat di sampingnya. Ia pun akan semangat untuk memikirkan suami dan anak yang akan segera lahir. Ia akan membayangkan memori-memori indah tentang kehidupan keluarganya di masa depan.

Menemaninya sampai sang buah hati lahir ke dunia sudah menjadi kewajiban pokok yang perlu dilakukan suami. Batalkan segala janji ketika momen penting itu terjadi. Bila Anda suka mengabadikan momen tersebut ke dalam foto atau video, Anda bisa merekam persalinan lewat media kamera.

Rekaman pada saat melahirkan akan menjadi kenangan indah untuk dikenang bersama di masa depan. Anda bisa melihat kembali foto atau video di masa tua Anda nanti.

Disarankan ketika menemani istri berada di ruang persalinan, agar para suami tidak ikut panik melihat wajah istri yang terlihat kesakitan. Sikap tenang dan bijaksana sangat diperlukan guna mendukung kelancaran sata melahirkan.

Berikan sentuhan-sentuhan lembut di sekitar kepala, agar istri merasa selalu didukung dan dicintai. Yakinkan dia bahwa anak yang dilahirkannya akan menjadi anak yang berbakti dan membuat bangga orang tuaya. Berikan kalimat-kalimat positif yang dapat membuat mood istri naik dan tidak menyerah.

Gendong anak dengan tangan sendiri ketika lahir ke dnia. Perlihatkan pada istri Anda bahwa perjuangan yang teah dilakukannya begitu lama tidak sia-sia. Berikan senyuman terhangat yang Anda miliki guna menghibur suasana hati yang dirasakan istri.

Sempatkan diri untuk menemani istri saat bersalin, apalagi jika ini merupakan pengalaman pertama saat melahirkan. Kehadiran suami sangatlah penting agar istri tidak mengalami trauma untuk melahirkan lag di kemudian hari. Melahirkan anak ke dunia adalah fase yang menyenangka. Sebisa mungkin jangan lewatkan fase yang satu ini dalam hidup Anda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Risiko Kematian saat Persalinan Sesar lebih Besar Ketimbang Normal, Ini 7 Risiko Operasi Sesar yang Perlu Diketahui Ibu Hamil

cesar

Tak sedikit perempuan yang memilih untuk operasi sesar daripada melahirkan secara normal. Salah satu alasannya adalah untuk menghindari rasa sakit yang berlebih. Namun, apakah kita tahu bahwa operasi sesar juga memiliki risiko yang membahayakan, terlebih bila operasi gagal?

Risiko kematian saat persalinan caesar lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal

Sekarang banyak perempuan hamil yang ngotot melakukan operasi caesar meskipun risiko mortalitas (kematian) pada caesar lebih tinggi. Risiko kematian saat persalinan sesar lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal melalui jalan lahir vagina

Seperti dikutif dari health.detik.com (5/08/2016)  Dr. dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K) mengatakan ” Secara teori risiko untuk mortalitas (kematian) pada persalinan caesar lebih tinggi dibandingkan per vaginam. Risiko kematian pada persalinan caesar lebih tinggi disebabkan karena beberapa faktor, antara lain anestesi (pembiusan) dan jumlah darah yang keluar.

Selain kematian, inilah 7 risiko operasi sesar yang perlu diketahui

1. Operasi sesat dapat menyebabkan dinding perut yang disayat serta rahim menjadi iritasi bahkan infeksi. Infeksi biasanya dapat terjadi di sekitaran sayatan perut, di dalam rahim atau di dekat kandung kemih.

2. Selama proses operasi berlangsung, ada kemungkinan untuk kehilangan darah yang berlebihan, yang kemudian dapat menyebabkan anemia. Banyak wanita yang harus mendapatkan transfusi darah setelah operasi sesar.

3. Wanita hamil juga dapat mengalami cedera kandung kemih dan usus selama operasi berlangsung.

4. Operasi akan memengaruhi usus, termasuk mengganggu gerakan usus setelah operasi selesai. Ini kemudian akan menimbulkan ketidaknyamanan, kembung, pembesaran perut karena disfungsi usus.

5. Selama opesi berlangsung pula, ada kemungkinan terbentuknya jaringan parut di dalam area panggul yang menyebabkan rasa sakit dan penyumbatan. Ini kemudian dapat menyebabkan komplikasi pada kehamilan selanjutnya.

6. Operasi sesar juga memungkinkan untuk dilakukannya operasi tambahan, meliputi perbaikan kandung kemih atau yang lainnya.

7. Risiko operasi sesar yang terakhir adalah ditunjukkan oleh penelitian yang menyebut bahwa dalam beberapa kasus, terdapat reaksi negated untuk anestesi yang diberikan selama operasi, bahkan dengan obat yang dikonsumsi setelah operasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top