Parenting

Tak Perlu Disuapi Terus, Latih kemandiriannya Dengan Mengajari Anak Makan Sendiri

people-2560321_640

Menyuapi anak hingga usia tertentu, bahkan hingga usianya diatas lima tahun  nampaknya telah menjadi kebiasaan masyarakat kita. Tentu ini bukanlah sesuatu yang baik untuk perkembangan anak, terutama untuk perkembangan motorik anak.

Kabar baiknya, akhir-akhir ini tren tersebut telah berubah. Para orangtua masa kini sudah mulai mengajarkan anak-anaknya untuk makan sejak sejak usia dini. Cara ini disebut juga dengan self-feeding. Selain dapat melatih kemampuan motorik anak, metode ini pun dapat dijadikan sebagai cara untuk meningkatkan kepercayaan diri anak.

Bunda Harus Memastikan Kesiapan Anak Untuk Belajar Makan Sendiri Terlebih Dahulu

Sebelum mengetahui bagaimanakah tips untuk mengajarkan makan sendiri pada anak, Bunda harus terlebih dahulu mengetahui kapan anak sudah bisa diajarkan untuk makan sendiri. Syarat awal anak untuk belajar makan sendiri adalah saat dia sudah dapat menopang lehernya dengan baik.

Jangan mengajarkan anak untuk makan sendiri jika dia belum dapat menopang lehernya karena hal itu akan membuat anak tersedak. Selain itu anak juga harus sudah terbiasa dengan makanan semi padat yang bisa dilakukan oleh anak usia 6 bulan ke atas.

Lalu Contohkan Cara Makan Yang Benar Pada Anak. Dari Mulai Cara Mengambil makanan, Memasukannya Ke Mulut, dan Mengunyahnya

Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa anak-anak suka untuk meniru. Untuk itu, berilah contoh tentang bagaimana cara makan yang benar.  Berikan contoh tentang cara mengambil makanan, memasukannya ke mulut, dan mengunyahnya. Sesekali Bunda dapat mengajaknya untuk makan bersama. Momen tersebut dapat menjadi momen yang baik bagi si kecil untuk belajar makan dengan benar.

Memberikan Finger Food Akan Membantu Proses Belajar Makan Anak

Jika tips di atas dirasa masih sulit untuk diterapkan kepada si kecil, maka gunakanlah finger food. Apa itu? Finger food adalah makanan-makanan yang mudah dimakan oleh si kecil tanpa menggunakan alat makan. Jenis makanan seperti ini biasanya berupa makanan lunak yang mudah dipegang oleh si kecil. Contohnya adalah wortel baby yang dikukus, jeruk, dan sebagainya. Namun, hindari memberikan makanan-makanan yang dapat membuat si kecil tersedak seperti anggur utuh, kismis, kacang utuh, dan sebagainya.

Bunda Juga Tetap Harus Mengawasi Si Kecil Dari Jauh

Beberapa anak justru bisa makan lebih baik bila tidak diawasi. Untuk itu, Bunda dapat memberikan waktu kepada si kecil untuk makan sendiri tanpa pengawasan di dekatnya. Namun jangan tinggalkan dia begitu saja. Bunda dapat mengawasinya dari jarak yang cukup jauh sambil melakukan aktivitas lain. Ini bertujuan agar Bunda dapat segera melakukan sesuatu jika si kecil tersedak atau kesulitan untuk makan sendiri.

 Tetap Telaten Dan Sabar Ya Bun Saat Mengajarkan Anak Makan Sendiri!

Memang membutuhkan kesabaran yang ekstra untuk mengajarkan anak makan sendiri. Mungkin pada tahap awal makanan tersebut akan jadi berantakan dan tumpah ke mana-mana. Namun ini adalah hal yang wajar. Bunda jangan terlalu mudah untuk memberikan bantuan kepada anak. Cukuplah menyiapkan karpet atau alas agar makanannya tidak banyak tumpah ke tempat lain.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kenapa Harus Membentak Bila Masih Sanggup Menasehati?

pexels-photo-1438511

Saat marah, ada kalanya orangtua tak bisa menghindari untuk tak membentak anak. Akhirnya banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana caranya demi mencegah hal tersebut tak terjadi lagi. Apalagi, orangtua pasti pernah merasa sangat marah sampai seolah-olah murka akibat ulah buah hatinya. Belum lagi, usaha dalam mengendalikan amarah bukanlah hal yang mudah lho Bun.

Sebagai orangtua muda, teknik mengendalikan emosi jadi tantangan tersendiri. Namun ingat lagi Bun, kenapa Bunda harus membentak bila kita masih sanggup menasehati? Di lain sisi, kunci mengendalikan amarah sebenarnya tetap bisa kita lakukan. Akan tetapi, bila Bunda tak punya perencanaan atau strategi yang matang dalam mengatasi amarah, alih-alih menasehati, yang ada Bunda mungkin akan kian emosi.

Walaupun kami percaya, hanya segelintir orangtua yang terbiasa membentak anak. Sementara yang lain tentu masih berusaha mengatasi kebiasaan buruk ini. Lalu mesti bagaimana? Jika Bunda benar-benar ingin bisa berhenti membentak saat memarahi anak, tak peduli seberapa marah pun Anda, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yang disarankan oleh Lifehacker.

Tinggalkan ‘Area Konflik’ Sejenak ya Bun

Biasanya anak-anak senang bikin ‘ulah’ bila sedang di rumah. Hal-hal seperti mengacak-acak mainan, corat coret tembok atau bidang kosong sudah jadi pemandangan lumrah bagi bunda. Bila hal ini sedang terjadi dan merasa emosi sudah mulai meluap, mintalah pasangan untuk mengambil alih.

Ya, Bunda perlu meninggalkan sejenak lokasi kejadian yang bisa disebut ‘area konflik’, hal ini bukan berarti Bunda melimpahkan masalah pada pasangan, melainkan mencari cara untuk mengontrol diri. Dengan pergi ke tempat yang lebih tenang sejenak, biasanya kepala mereka jadi lebih dingin.

Ketika situasi sebaliknya terjadi, jangan segan untuk segera mengambil alih masalah, ketika melihat terlebih bila pasangan mulai kewalahan.

Tak Apa, Biarkan Si Kecil Tahu Bundanya Sedang marah

Saat marah, alih-alih membentak, tarik napas panjang dan bilang pada anak, “Bunda sedang marah sekarang.” Ada tipikal anak yang mudah mengerti, sehingga saat Bunda mengatakan demikian, ia akan berhenti sejenak dari aktivitasnya.

Tapi seringnya, mereka akan melawan balik dan bilang, “Aku juga marah,” atau, “Tidak, bunda tak boleh marah.” (argumen ini biasanya dilontarkan oleh anak-anak yang lebih kecil). Namun apapun reaksi mereka, setidaknya hal ini sudah bisa menjalin komunikasi.

Setelahnya, Bunda bisa meninggalkan buah hati sejenak dan berikan waktu padanya untuk menenangkan diri. Atau Bunda bisa menggendong anak atau memangkunya dan bilang, “Coba kita sekarang diam dulu sebentar sampai tenang.” 

Sumitha Bhandakar, pendiri komunitas afineparent.com, menerapkan trik ini yang ia dapat dari buku Peaceful Parent, Happy Kids: How to Stop Yelling and Start Connecting. Berdasarkan pengalamannya, trik ini sukses membuat putrinya yang baru berusia 5 tahun jadi tenang usai mengamuk.

Jadikan Alasan Berkegiatan Lain Sebagai ‘Batas Waktu’ Konflik Antara Bunda dan Buah Hati

Belajarlah memberikan nasehat daripada marah-marah pada anak. Salah satu nasehat yang perlu Bunda lakukan, biarkan anak mengerti mengenai ‘batas waktu’ konflik antara Bunda dengan si kecil. Begini misalnya,

“Bunda sangat marah sekarang, jadi bunda akan mencuci piring dan mencoba menenangkan diri. Nanti pas bunda selesai, bunda tidak akan marah lagi.”

Ucapan ini biasanya akan memicu rengekan atau tangisan si kecil yang tak mau marah pada Bundanya. Setelahnya, jangan meninggalkan anak begitu saja ya Bun. Tapi jelaskan bahwa Bunda tak marah padanya dibarengi dengan ‘batasan waktu’ seperti ini misalnya, “Bunda tidak marah sama kamu, ibu masih sayang kamu. Tapi kamu enggak selesai-selesai makannya dari tadi, dan sekarang sudah malam sekali.”

Awalnya anak mungkin akan terus merengek karena keinginannya tidak terkabul. Tapi, biasanya setelah itu mereka akan diam dan melakukan apa yang Bunda minta. Setelah semuanya selesai, jangan lupa untuk memeluk anak untuk memastikan dia tahu semuanya baik-baik saja.

Bereskan Mood Bunda dengan Memakai Perspektif Bunda Saat Dulu Masih Kanak-kanak

Seringkali menenangkan diri adalah dengan menempatkan segalanya pada perspektif yang benar. Sebelum Bunda hilang sabar karena si kecil yang sukar dinasehati, ada baiknya Bunda berpikir lagi. Bukankah demikian adanya anak-anak yang sedang tumbuh?

Mereka begitu aktif dan enggan dikekang. Dulu, saat Bunda masih kecil pun pasti melakukan hal serupa. Tentu Bunda pun ingin terus bermain, kan. Memang begitulah anak-anak. Jadi, tidak ada gunanya marah-marah. Tarik napas panjang, dan pikirkan cara lain agar dia mau melakukan apa yang Bunda mau. Pelan-pelan, berikan nasehat yang bisa diingat dan diterapkan si kecil.

Bunda Juga Bisa Menggunakan Cerita yang Ada untuk Menghadapi Anak yang Tantrum 

Kebanyakan anak-anak suka sekali mendengar cerita. Sebagai orangtua, kemampuan bercerita sebenarnya perlu diasah orangtua setelah anak mereka lahir adalah, bagaimana mengarang cerita yang baik. Kenapa? Karena cerita bisa Bunda gunakan sebagai “senjata” saat menghadapi anak yang tantrum dan tidak mau mendengarkan Bunda.

Begini misalnya: Anggap saja tokoh kesukaan anak adalah Mickey Mouse. Jadi ketika anak sedang tidak mau tidur siang, tak peduli bagaimana pun Anda membujuknya. Lalu mulailah dengan mengatakan,

“Kamu tahu enggak apa yang terjadi pada Upin dan Ipin waktu mereka enggak mau tidur siang?”

Pancing anak untuk naik ke kasur, dan lanjutkan cerita saat kondisinya sudah berbaring. Saat cerita usai, biasanya anak juga sudah hanyut ke alam mimpi. Lakukan hal yang sama untuk kasus-kasus lain, seperti ketika anak tidak mau makan, tidak mau menggosok gigi, dan lain-lain yuk Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Ketahui Tips Negosiasi Saat Hendak Berdamai Kembali dengan Buah Hati

pexels-photo-701014 (2)

Ada kalanya si kecil bertindak mengesalkan, entah makan di dalam kamar sehingga membuat kamar jadi kotor, atau bahkan menumpahkan semua mainan tapi tak mau membereskannya lagi. Yang pasti, hal semacam ini yang kemudian menyulut amarah Bunda. Belum lagi ketika mereka menumpahkan makanan dengan sengaja karena tak mau memakannya, sehingga membuat Bunda harus membersihkan sekaligus menyiapkan makanan yang baru.

Menghadapi situasi semacam ini butuh kesabaran ekstra. Hanya saja, kadang kalau Bunda sudah naik pitam, akhirnya anak kerap merasa ketakutan dan membuat suasana antara Bunda dan buah hati mendadak terasa jauh.

Tak jarang juga, akhirnya si kecil merasa teriakan Bunda sebagai rasa benci. Padahal dalam lubuk hati Bunda, ada penyesalan kaarena terlalu keras pada anak. Bun, agar anak tidak merasa dibenci karena dimarahi, dan Ibu tidak menyesal belakangan, ikuti enam hal yang perlu dilakukan usai memarahi anak:

Tenangkan Diri Bunda

Hal pertama sebelum bernegosiasi dengan buah hati adalah menenangkan diri Bunda terlebih dahulu. Kelelahan atau frustrasi kerap menjadi pemicu Bunda marah. Saat hal itu terjadi, sebaiknya Bunda ambil beberapa menit untuk menenangkan diri dan menyadari hal apa yang menyebabkan Bunda dengan mudah meledakkan amarah.

Beritahukan pada buah hati bahwa Bunda perlu waktu untuk menenangkan diri. Di satu sisi, cara ini dapat menjadi pembelajaran untuk anak, bahwa mereka memerlukan waktu untuk memahami apa yang dirasakan sebelum akhirnya melupakan kejadian yang menyebalkan tersebut.

Mintalah Maaf Terlebih Dulu pada Buah Hati

Untuk mengawali negosiasi, dan setelah suasana hati jadi lebih tenang, meminta maaf adalah hal yang penting. Minta maaflah pada anak atas kemarahan yang Bunda tunjukkan bahkan sampai membuat anak ketakutan. Cara ini dapat menuntun anak mengerti bahwa manusia kadang membuat pilihan yang salah namun harus tetap bertanggungjawab dan meminta maaf saat hal itu terjadi.

Sampaikan Alasan Bunda Sampai Tega Memarahinya

Bun, berikan juga penjelasan pada si kecil kenapa Bunda marah. Jelaskan kalau Bunda marah lantaran perbuatan yang dilakukan anak, dan bukan benci padanya. Sampaikan kepada anak bahwa Bunda sedang lelah, stres atau sudah kehabisan tenaga, yang kemudian membuat Bunda mudah kesal ketika melihat rumah berantakan atau makanan tumpah.

Berikan Solusi pada Setiap Masalah yang Dihadapi si Buah Hati

Setelah menjelaskan kepada anak, sebaiknya beritahu anak tentang hal-hal apa saja yang bisa membuat Bunda kesal karena tidak dilakukan sesuai yang diminta. Sampaikan agar sebaiknya anak tidak mengulangi hal itu lagi. Hal penting lainnya, tetap usahakan untuk mendekatkan diri pada buah hati lewat dialog atau bicara dari hati ke hati.

Cara ini akan membuat anak lebih mudah mendengarkan Bunda tanpa harus berteriak terlebih dulu. Kadang-kadang, anak lebih mudah mendengarkan ketika kita berbicara dengan lembut lho.

Maafkan Diri Bunda Terlebih Dulu

Bun, bagaimanapun, semua orang pasti pernah membuat kesalahan. Dari kesalahan itu tentunya akan terpicu keinginan untuk memperbaiki diri. Karenanya, usai memarahi anak, hal terakhir yang harus dilakukan oleh Ibu adalah menghapus rasa bersalah, karena Bunda dan anak mendapat pelajaran yang berharga dari kejadian tersebut.

Ada kalanya tak usah menyesal setelah memarahi anak, ya. Karena, anak tetap harus ditegur jika berbuat salah. Intinya, lima hal ini perlu dilakukan agar setelah memarahi anak, ia tak merasa dibenci, dan Bunda dapat berdamai dengan diri sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Dear Para Orangtua, Pantang Mengucapkan Lima Kalimat Ini Kepada Buah Hati

pexels-photo-1445704

Memiliki anak adalah anugerah terindah. Apa yang ada dalam diri buah hati, patut dijaga dan dilindungi. Termasuk juga urusan perasaannya. Sekalipun mendidik buah hati bukanlah hal yang mudah dan tak bisa dianggap remeh, bukan berarti Bunda tak bisa melakukannya, bukan?

Setiap orangtua membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra saat mendidik anaknya. Apalagi kadang anak-anak melakukan tindakan yang tak sesuai keinginan orangtua yang memicu kemarahan orangtua. Bila orangtua sudah marah, seringkali yang terjadi adalah orangtua melukai anaknya, entah lewat lisan maupun tindakan.

Tindakan semacam ini tak bisa dibenarkan tentunya. Bun, saat marah atau jengkel pada anak, ada banyak kasus dimana akhirnya orangtua mengucapkan kalimat terlarang yang seharusnya dihindari. Kenapa disebut kalimat terlarang, sebab kalimat ini pantang diucapkan karena bisa diserap sebagai informasi oleh anak.

Apa saja? Ini dia Bun.

“Jangan menangis, Jangan jadi nak yang cengeng.”

Bun, memangnya salah jika si kecil menangis? Bunda perlu ingat lagi jika menangis adalah cara ampuh yang biasa dilakukan oleh anak untuk menyalurkan emosi dan perasaannya entah itu saat takut, cemas ataupun sedih. Sementara, mengucapkan kalimat, “Jangan menangis” dan kalimat serupa lainnya akan membuat anak berpikir bahwa menangis adalah hal yang tidak wajar dan tidak pantas dilakukan.

Sebaliknya, justru lebih baik kalau Bunda meminta si kecil untuk menjelaskan emosi yang dirasakannya. Coba tanyakan, “Bagaimana perasaan kamu saat ini, Nak?” Dengan begitu, secara tidak langsung Bunda telah mengajarkan sikap simpati dan empati. Anak juga jadi bisa jujur tentang perasaanya pada dirinya sendiri.

“Bukan begitu caranya. Sini, biar mama yang kerjakan.”

Kalimat ini seringkali terucap saat Bunda melihat kinerja si kecil tak sesuai harapan atau keinginan Bunda. Misalnya, saat menyuruh untuk melipat sebuah kertas, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan, kalimat terlarang orangtua ini terkadang akan terucap.

Tanpa disadari, kalimat tersebut sejatinya malah menghambat perkembangan si kecil untuk lebih aktif lho Bun. Sederhananya, anak akan merasa takut salah dan minder saat melakukan suatu pekerjaan.

Karenanya, alangkah baiknya kalau Bunda dan buah hati sama-sama melakukan pekerjaan sembari Bunda menjelaskan cara melakukannya dengan benar. Mengerjakan bersama-sama justru bisa membantu anak untuk semakin mengerti dan bisa tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi.

“Kamu nakal, selalu bikin malu Mama”

Bun, si kecil akan mudah menyerap kata-kata yang diucapkan orangtua dan lingkungannya. Bila orangtua sering berucap atau mengatakan kalau dia nakal dan selalu bikin malu, lambat laun ada kecenderungan si kecil akan jadi anak yang tak percaya diri dan berpikir kalau dirinya seperti yang diucapkan orangtuanya. Untuk itu, ubahlah kata-kata negatif tersebut menjadi kalimat yang memberikan energi positif.

Misalnya, “Jika kamu rajin belajar kamu akan mengerti banyak hal, kamu kan anak yang pintar.” Bunda juga bisamemotivasi jadi anak yang pintar. Dengan begitu, anak akan merasa lebih semangat dan termotivasi

“Mama lagi sibuk. Jangan ganggu dulu ya”

Saat mengatakan hal ini, si kecil pasti akan merasakan jika kehadiran mereka tidak berarti buat kamu. Anak juga bisa merasa terbuang dan seperti dianggap tidak diinginkan. Ini sangat bahaya untuk perkembangan mental anak.

Kadang orangtua mengalihkan perhatian anak dengan memberikan game online atau memberikan smartphone agar anak-anak sibuk sendiri. Untuk itu, langkah terbaik yang bisa Bunda lakukan adalah mengalihkan perhatian mereka dengan kegiatan positif.

Setelah waktu Bunda senggang, hampirilah dan bantulah si kecil dengan melakukan kegiatan positif seperti menggambar, berkebun, atau menari mengikuti koreo di YouTube ya Bun.

“Dulu kakak bisa melakukannya, kenapa kamu tak bisa?”

Jangan pernah sekalipun membandingkan buah hati ya Bun. Ini karena membandingkan anak dengan si Kakak atau dengan teman sebayanya akan berdampak buruk untuk masa depannya. Anak akan tumbuh dengan rasa minder dan rendah diri. Selain itu, saat dewasa anak juga akan mencoba berperilaku seperti orang lain.

Biarkanlah lebih baik jika si Anak tumbuh sebagai dirinya sendiri. Untuk itu, hargailah apa yang dilakukan buah hati dibanding membuatnya merasa upayanya sia-sia karena orangtuanya membanding-bandingkan dirinya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top