Parenting

Tak Hanya Menyenangkan Bun, Permainan Tradisional Juga Baik Untuk Perkembangan Anak

pexels-photo-296301

Dunia anak adalah dunia bermain. Hal itu terlihat dari sebagian besar waktu anak yang dihabiskan untuk bermain. Sehingga diperlukan aneka jenis permainan yang dapat digunakan untuk mendukung perkembangannya. Untuk itu, muncullah aneka permainan elektronik yang berusaha menjawab kebutuhan tersebut.

Namun tahukah Bunda bahwa permainan tradisional tetap jauh lebih baik dibanding jenis permainan yang lainnya? Sejumlah jurnal penelitian menyatakan bahwa permainan tradisional dapat melatih aspek psikologis, jasmani, dan sosial pada anak-anak.  Lalu apa saja ya Bun manfaat yang akan diterima oleh anak?

Melatih Kecerdasan Anak, Terutama Kecerdasan Naturalistik dan Musikalnya

Setiap orangtua tentu menginginkan memiliki anak-anak yang cerdas. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melatih kecerdasan anak, salah satunya melalui permainan tradisional. Beberapa aspek kecerdasan memang bisa dikembangkan melalui permainan ini. Misalnya saja kecerdasan naturalistik. Permainan tradisional cenderung memanfaatkan benda-benda di sekitar yang berasal dari alam sebagai bahan permainan. Selain itu, permainan tradisional yang selalu bersinggungan dengan bunyi-bunyian alam juga dapat melatih kecerdasan musikal anak. Hal ini tentunya sangat bermanfaat untuk kepribadian anak nantinya.

Juga Melatih Sportivitas Buah Hati

Melalui aneka permainan tradisional yang ada di sekitar, kita bisa menanamkan sportivitas kepada anak. Permainan tradisional lebih banyak menggunakan sistem kalah dan menang. Hal ini membuat anak berusaha untuk memenangkan permainan tersebut dengan cara-cara yang sesuai dengan aturan.

Kalaupun anak mengalami kekalahan dalam permainan tersebut, maka tugas orangtua untuk memberi pemahaman kepada anak bahwa kekalahan bukanlah sebuah awal dari permusuhan dengan teman, tapi kekalahan adalah motivasi untuk mencoba lagi memenangkan kompetisi.

Kreativitas Anak Pun Jadi Lebih Berkembang

Kebanyakan permainan tradisional menggunakan benda-benda sederhana yang ada di sekitar sebagai alat untuk memainkannya. Dalam kondisi inilah kreativitas anak akan dilatih. Mereka akan berusaha untuk mencari benda-benda yang bisa digunakan untuk melakukan permainan yang mereka inginkan.

Sebagai contoh saja saat anak akan bermain dakon. Alat utama untuk memainkan permainan ini adalah batu. Tapi tidak selamanya batu berukuran kecil itu tersedia di sekitarnya. Sebagai penggantinya, mereka akan menggunakan kerikil atau benda-benda lainnya untuk bermain dakon.

Membentuk Karakter Untuk Bersikap Sportif

Untuk membentuk karakter anak, ternyata tidak hanya dilakukan di sekolah saja. Melalui permainan tradisional yang ada, karakter baik anak pun bisa terbentuk. Sebagai contoh adalah permainan gobag sodor. Jenis permainan ini membutuhkan kerja sama, kecepatan gerak, dan kerja sama untuk bersama-sama memenangkan pertandingan. Hal ini secara tidak langsung akan melatih karakter anak untuk bersikap sportif dan bekerja sama dengan teman-temannya.

Mengasah Kemampuan Sosial Anak

Hampir tidak ada permainan tradisional yang bisa dimainkan sendiri. Kebanyakan permainan tradisional tersebut dilakukan secara berkelompok. Hal ini mau tidak mau membuat anak berbaur dengan teman-temannya. Dan jika itu dapat dilakukan dengan baik, maka secara tidak langsung Bunda telah melatihnya untuk bersosialisasi.

Ternyata ada banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari permainan tradisional. Untuk itu, tetap lestarikan permainan-permainan tradisional yang ada di sekitar kita ya, Bun!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Boleh Saja Memakai Peralatan Plastik untuk Si Kecil, Asal…

gambarpertama

Si kecil mulai memasuki masa dimana MPASI diperlukan. Bunda pasti menyambutnya dengan perasaan gembira dan berharap masa-masa ini akan jadi momen yang menyenangkan. Apalagi ini tandanya si kecil tengah siap menikmati tahapan baru dalam perkembangannya. Satu hal yang mungkin kurang diperhatikan oleh para orangtua yaitu soal peralatan yang sering digunakan selama proses pemberian MPASI nih Bun.

Seringkali untuk fase MPASI, orang tua memberikan bahan makanan berbahan plastik pada si kecil. Piring, mangkuk, sendok, garpu, gelas, bahkan celemek plastik. Alat makan berbahan plastik memang memberikan kenyamanan. Selain alasan tidak mudah pecah, bahan ini juga ringan dibandingkan dengan bahan gerabah, gelas, atau stainless.

Dibandingkan dengan peralatan makan berbahan kayu, permukaan plastik yang rata dan halus memiliki kelebihan. Serat kayu pada permukaan peralatan makan dari kayu berpotensi menyakiti si kecil. Tapi bicara soal peralatan plastik, coba Bunda amati, apakah peralatan makan anak dari plastik memang aman? Cermati unsur-unsur berikut untuk memastikan bahwa peralatan makan plastik yang Bunda beli aman untuk sang buah hati ya.

Pertama, Cobalah Perhatikan, Adakah Label Food Grade Sebelum Membeli Peralatan Tersebut?

Peralatan makan berbahan plastik memang melibatkan unsur kimia. Tapi Bunda tak perlu khawatir kalau semua yang dari plastik tak aman untuknya. Demi memastikan bahwa peralatan makan dari plastik bisa dipakai untuk si kecil, pastikan Bunda membeli yang berlabel food grade. Peralatan makan dengan label ini tidak mengandung toxic dan aman untuk aktivitas konsumsi.

Coba Perhatikan Juga Bun, Adakah Keterangan BPA-Free?

BPA (Bisphenol-A) adalah zat kimia sintetis yang sering digunakan pada peralatan makan berbahan plastik agar terlihat lebih bening dan strukturnya lebih keras atau kokoh. Beberapa studi menyatakan bahwa BPA dapat menjadi faktor pengganggu hormon pada masa pertumbuhan anak.

Selain itu, BPA juga berpotensi menganggu metabolisme tubuh lho Bun. Nah, untuk mengetahui kandungan BPA dalam peralatan makan Bunda, coba yuk Bun cari simbol segitiga yang biasanya ada di bagian bawah peralatan makan berbahan plastik.  Jika di dalam simbol segitiga bertuliskan nomor 7 atau ada tanda huruf PC, maka peralatan tersebut mengandung BPA. Umumnya peralatan makan yang BPA-free berwarna sedikit kusam dan agak lentur.

Peralatan Plastik Perlu Memiliki PP 5, Bun!

Selain simbol segitiga yang mencantumkan kandungan BPA, peralatan makan juga mencantumkan PP (Polypropylene).PP merupakan material plastik yang aman untuk aktivitas konsumsi karena memiliki ketahanan kimia yang baik, daya serap air rendah, dan tahan terhadap unsur asam dan basa. Material plastik dengan PP 5 tahan panas, dapat dicuci ulang, serta dapat digunakan berkali-kali dalam jangka waktu lama.

Dan yang Pasti Bebas PVC

Tak hanya BPA nih Bun, kandungan lainnya yang perlu dihindari yaitu PVC atau Poly Vinyl Chloride. PVC merupakan material plastik yang umumnya digunakan untuk pembuatan bahan bangunan. Sejauh ini, beberapa penelitian menunjukkan bahwa terlalu banyak terpapar senyawa kimia ini dapat menyebabkan kanker. Untuk itu, sekalipun Bunda hendak membeli peralatan makan berbahan plastik, pikirkan lagi soal bahan-bahan pembuatnya ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Jika Si Kakak Cemburu Pasca Kelahiran Sang Adik, Ini yang Harus Bunda Lakukan

Punya anak kedua itu tantangan tersendiri ya Bun. Apalagi kalau jarak usia antara si kakak dan adiknya tak jauh berbeda. Bukan hanya Bunda dan Ayah yang mempersiapkan diri, sebab si sulung pun juga. Terlebih di usia balita, biasanya anak masih membutuhkan perhatian ekstra dari orangtuanya.

Tidak ada yang melarang bila Bunda memang memiliki program untuk menambah momongan dengan jarak usia yang tak jauh dari si sulung. Tapi pastikan Bunda sudah tahu cara menangani rasa cemburu yang dimunculkan sang kakak saat Bunda memberitahukan kalau ia akan kedatangan seorang adik.

Apalagi banyak cerita kalau balita justru tidak senang dan ‘menolak’ kehadiran adik barunya. Karenanya, Bunda perlu memberikan pengertian kepada Si Kecil sejak adiknya masih di dalam kandungan.

Berikut tipsnya:

  1. Tak usah khawatir bila si sulung berubah perasaannya dalam beberapa minggu atau bulan. Tetap lah bersabar dan Bunda cobalah pahami perasaannya. Beritahukan dengan pelan-pelan bahwa keberadaan adiknya kelak bukanlah sebagai saingan melainkan jadi teman tumbuh bersama.
  2. Merasa terancam akan kedatangan adik baru adalah perasaan normal yang dialami si sulung. Bunda bisa membuatnya tak merasa terancam dengan melibatkannya dalam kehamilan Bunda. Izinkan sang kakak untuk merasakan tendangan kaki bayi di perut Anda. Jelaskan kepadanya mengenai bayi yang akan lahir dan ceritakan bahwa ia dulu juga pernah berada di dalam perut Anda.
  3. Sebelum Bunda ke rumah sakit untuk bersalin, jelaskan terlebih dahulu kepadanya bahwa sebentar lagi adiknya akan lahir. Jelaskan pula siapa yang akan menemaninya saat Bunda dan suami harus ke rumah sakit. Dengan begini, ia tak akan merasa dilupakan atau tersaingi oleh kehadiran sang adik.
  4. Saat adiknya lahir dan setiap perhatian tamu terpusat pada bayi yang baru lahir, Bunda jangan sampai lupa untuk tetap memberikan perhatian kepada Si Kakak. Misalnya, saat tamu memuji bayi baru Anda, katakanlah bahwa ia secantik dan sepintar kakaknya.
  5. Jangan ragu untuk sertakan juga si kakak saat merawat adiknya. Minta bantuannya untuk mengambilkan baju atau popok bayi. Puji ia di depan adik barunya.
  6. Kadang, kakak merasa dituakan dan bisa bersikap agresif terhadap adiknya dengan memukul, menggigit, atau mendorong. Bun, saat menghadapi situasi semacam ini, cobalah katakan dengan tegas namun lembut, bahwa ia tidak boleh menyakiti adiknya.
  7. Luangkan waktu Bunda untuk si kakak dan katakan bahwa ia tetap bagian terpenting dalam hidup Anda. Berikan waktu, serta perhatian khusus bersamanya setiap hari.
  8. Saat adiknya sudah bisa tertawa dan bercanda, buat permainan bersama antara Si Kakak dan adik barunya, seperti cilukba, bernyanyi bersama, dan sebagainya. Dengan begitu, si sulung pun akan menyadari bahwa adiknya adalah teman bermainnya.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Jangan Cuma Maunya Terus Menang, Ajarkan Si Kecil tentang Sikap dan Makna Mengalah Supaya Ia Jadi Pribadi yang Tenang

tessst1

Punya dua buah hati yang usianya berdekatan akhirnya membuat Bunda sering dihadapkan dengan pertengkaran anak-anak hanya karena masalaah sepele. Mulai dari rebutan mainan sampai rebutan perhatian orangtuanya. Bahkan tak jarang baik kakak atau adiknya  kebiasaan mengusik satu sama lain. Yup, ada-ada saja faktor yang membuat mereka bentrok.

Mengatasi hal semacam ini sebenarnya tidaklah perkara mudah. Salah satu alternatifnya yaitu dengan mengajarkan sikap serta perilaku mengalah. Bukan cuma pada kakak, melainkan juga pada adiknya. Menananmkan hal ini secara konsisten akan membuat si kecil jadi memaknai arti belajar berbagi, memahami perasaan orang lain sehingga bisa mengembangkan kemampuan sosialnya. Nah, ini dia tips-tipsnya Bun.

Sebagai Orangtua, Bunda Harus Bersikap Netral terlebih Dahulu

Cobalah untuk mencontohkan sikap netral ya Bun. Tunjukkan sikap  ini kepada siapapun, baik kepada kakak maupun kepada adik. Misalnya, sang anak bertengkar saat bermain dengan temannya, yang Bunda lakukan sebaiknya jangan langsung memarahi, membela, apalagi mengambil keputusan sepihak. Namun tetap ajak mereka berdiskusi dan cari solusi sama-sama ya Bun.

Ciptakan Suasana yang Damai ya Bun

Saat anak-anak bertengkar, usahakan Bunda tetaplah bersikap lemah lembut ya. Jangan ada kata-kata kasar, setidaknya tunjukanlah bahwa kelemahlembutan akan membawa kedamaian, Bun. Ajarkan si kecil bahwa tak semua keinginan dapat dipenuhi dengan merengek atau bertengkar. Yup, Bunda bisa jelaskan pada mereka bahwa merengek atau menangis bukanlah hal yang terbaik dalam meminta sesuatu.

Bunda Harus Mencari Siasat untuk Menjaga Ketenangan Hati Buah Hati Bunda

Saat si kecil tak terpenuhi keinginannya, maka tetaplah pada pendirian Bunda. Apabila sang adik mulai menangis bersuara keras dan kakak tetap kukuh meminta keinginannya, maka orangtua tetap bersikap sabar. Jangan menunjukkan wajah marah atau panik, yaitu jaga emosi agar tetap tenang menangani keduanya.

Jelaskan pada mereka tentang sisi positif dan sisi negatif dari permintaan mereka.

Nikmati Setiap Proses Rekonsiliasi dengan Kedua Buah Hati Bunda

Saat anak-anak kecewa pada hal yang membuat keinginannya tak tercapai, maka Bunda hanya perlu menunggu kekecewaannya mereda. Dan saat si kecil sudah tenang mulailah mendekati serta memberikan nasihat kepadanya. Cobalah katakana bahwa yang Bunda lakukan adalah untuk kebaikannya. Apabila si kecil ingin menuruti keinginan Bunda, bawalah mereka jalan-jalan atau membelikan apa yang dia suka.

Kemudian Bunda juga bisa mengajaknya melakukan evaluasi tentang aturan yang diterapkan. Sebab proses  rekonsiliasi tadi dapat menghilangkan kekecewaan anak yang masih tersisa di benaknya.

Terpenting, Ajarkan Caranya Berbagi ya Bun

Salah satu cara mengatasi anak yang maunya menang sendiri adalah dengan mengajarkan anak akan kepedulian. Yup, Bunda bisa membimbingnya melakukan kebaikan seperti mengunjungi panti asuhan. Dengan begitu mereka menjadi peduli terhadap sesama, sifat egois anak pun perlahan akan berkurang.

Di lain sisi, anak-anak juga bisa jadi lebih bersabar dan mau mengalah. Dengan memberikan pelajaran indahnya berbagi, anak-anak menjadi pribadi yang selalu berempati karena anak yang berempati akan memikirkan perasaan orang lain saat keadaan berselisih atau bertengkar.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top