Parenting

Supaya Si Kecil Tak Sering Bangun Tengah Malam, Pastikan Tidurnya Nyaman Bun!

Perkembangan Bayi 3 bulan

Menjadi ibu muda bukan hal yang mudah. Selain jadi sering bangun tengah malam, waktu tidur Bunda otomatis berkurang. Yup, namanya mengasuh bayi, sebagai orangtua pun kita belum bisa memberi instruksi agar ia cepat tidur sesuai jam yang disepakati. Bayi akan tidur dan terbangun tanpa Bunda ketahui.

Tak heran, ia pun kerap bangun di jam-jam tertentu. Tapi Bun, tak usah stress dulu ya. Masalah bayi yang suka bangun di tengah malam bisa diatasi dengan beberapa cara tertentu, yang penting Bunda bisa memastikan kalau si kecil merasa nyaman sehingga ia tak mudah bangun.

Yang pertama, pastikan si kecil merasa kenyang sebelum jam tidurnya Bun. Bayi yang kenyang dalam jangka waktu lama akan membuat tidurnya tetap nyenyak sepanjang malam.

Selanjutnya bayi akan merasa risih dan menangis saat merasa tak nyaman dengan pakaiannya. Bayi merasa pakaiannya tak nyaman bisa jadi karena basah karena keringat, basah karena buang air kecil atau buang air besar, atau merasa kepanasan karena selimutnya. Pastikan pakaikan baju yang nyaman untuk bayi. Segera bersihkan kotoran bayi jika dia buang air ya Bun.

Di lain sisi, perhatikan juga kenyamanannya di tempat tidur.  Jangan sampai tumpukan boneka di sampingnya jatuh mengenai bayi, jangan pakai selimut terlalu tebal, dan pastikan mainan bayi yang menimbulkan suara berada jauh dari tempat tidurnya.

Namun diantara tiga tips itu, ada alasan lain kenapa bayi bisa terbangun saat malam hari yaitu salah satunya karena merasa sakit dan tidak enak badan. Periksa apakah suhunya meningkat, periksa apakah dia batuk-batuk, dan periksa juga warna kotoran bayi. Jika iya maka segera berikan pertolongan pertama agar si kecil merasa nyaman.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Terlalu Riskan Bila Memberi MPASI Sebelum Usia Bayi Genap 6 Bulan

baby-baby-eating-chair-973970 (3)

Bun, memberikan MPASI tentu ada tahapannya ya. Biasanya bayi dapat diberikan MPASI bila sudah memasukki usia 6 bulan. Namun ada juga beberapa orangtua yang memilih memberikan MPASI sekalipun si kecil masih berusia kurang dari 6 bulan.

Padahal di usia ini, si kecil belum dianjurkan untuk menerima makanan dengan bentuk atau tekstur lain selain ASI. Ini karena usia tersebut sangat berpengaruh pada kondisi perncernaan dan daya tahan tubuh bayi yang belum sempurna.

Sementara itu, menurut dr Reza Fahlevi seperti dikutip dari Liputan6.com, sejak usia 4-6 bulan, bayi sudah mampu mengontrol kepala dan memiliki koordinasi dengan mulut. Selain itu, gusi bayi mulai mengeras dan saluran pencernaan juga sudah mulai menghasilkan enzim-enzim pencernaan.

“Namun, pada usia 4-6 bulan, kemampuan makan bayi baru dalam tahap perkembangan, sehingga belum cukup sempurna untuk menerima makanan semi padat.” jelas dr. Reza. Bayi baru benar-benar siap untuk menerima makanan semi padat pada usia 6 bulan, sehingga berbagai organisasi kesehatan anak di dunia hingga saat ini menyarankan pemberian MPASI baru bisa dimulai setelah bayi berusia 6 bulan.

Kenali Bahaya Bila Terlalu Cepat Memberikan MPASI

Sementara itu, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Syarief Darmawan, juga mengatakan jika Bunda memberikan MPASI pada anak yang usianya kurang dari 6 bulan, justru memperbesar peluang si kecil mengalami inflamasi usus yang akan menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi, Bun.

Kalau dibiarkan, nantinya masalah ini akan jadi pemicu terhambatnya tumbuh kembang si kecil. Bila tumbuh kembang terhambat, tinggi badannya akan sukar bertambah. Bunda perlu tahu, tinggi badan adalah parameter pertumbuhan yang paling mudah dikenali orang tua.

Dampak lainnya, anak juga rentan mengalami gangguan kecerdasan, motorik, ataupun gangguan fungsi tubuh lain. Jadi, orang tua sebaiknya tidak buru-buru memberikan MPASI. Meski ada teman sesama ibu yang kerap “mengompori”, sebaiknya jangan dilakukan. Pemberian MPASI yang kaya tekstur sebelum usia anak 6 bulan juga berisiko menyumbat usus yang berujung pada gangguan pencernaan.

Caritahu Tahap Pemberian MPASI ya Bun

Pemberian MPASI sendiri mesti dilakukan secara bertahap. Misalnya, mulai dari tepung beras atau yang kental namun halus, baru kemudian yang lebih kaya tekstur. Meski orang tua tidak disarankan untuk memberikan MPASI terlalu dini, ahli kesehatan juga tidak membenarkan tindakan pemberian MPASI yang terlambat. Sebab, keterlambatan pemberian MPASI dapat berdampak pada gagal tumbuh dan malnutrisi pada bayi.

“Setelah usianya 6 bulan, ASI saja tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, sehingga jika pemberian MPASI tidak dimulai, anak akan kekurangan energi, berisiko kena gizi buruk, serta gangguan pertumbuhan.” dr. Reza menegaskan.

Selagi memberikan MPASI, ASI pun masih wajib diberikan hingga usia anak 2 tahun. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan agar Anda tidak salah dalam memberikan gizi si Kecil, antara lain sebagai berikut:

Pada usia 6-8 bulan, sekitar ⅔ kebutuhan energi bayi masih diperoleh dari ASI dan ⅓ dari MPASI.Pada usia 9-11 bulan, sekitar ½ kebutuhan energi bayi diperoleh dari ASI dan ½ lagi dari MPASI. Pada usia 12 bulan hingga 2 tahun, ⅓ kebutuhan energi bayi diperoleh dari ASI dan ⅔ diperoleh dari MPASI. Penting bagi orang tua untuk memahami soal kapan waktu yang tepat dalam mencukupi kebutuhan gizi buah hatinya.

Jangan sampai, maksud hati ingin mendukung pertumbuhan anak dengan memberikan makanan semi padat sebelum waktunya, justru membuat si Kecil mengalami gangguan kesehatan. Pemberian nutrisi sebaiknya dilakukan secara bertahap, tetapi tidak terlambat. Sebab, memberikan MPASI terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama berisiko buruk terhadap kesehatan anak.

Karena Memberikan MPASI Sebelum Waktunya, Dapat Membuat Si Kecil Rentan Sakit

Tak hanya organ tubuh bayi yang berusia dibawah 6 bulan belum berfungsi optimal, tapi juga dengan sistem imunnya. Biasanya sistem imun bayi masih sangat lemah dalam melindungi tubuh terhadap kuman-kuman penyakit. Maka itu, ibu tidak boleh sembarangan memberikan asupan makanan.

Pemberian makanan yang kurang higenis untuk si kecil justru bisa membuatnya rentan sakit, sebab sistem kekebalan tidak bisa melawan dengan baik. Apabila kondisi ini dibiarkan saja dan tidak diatasi maka bayi bisa mengalami masalah pencernaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Hati-hati Jangan Diremas! Kertas Struk Ternyata Mengandung Racun Berbahaya

airplane-childhood-close-up-707191

Bun, tentu Bunda tak asing dengan kertas struk yang sering Bunda dapatkan setelah berbelanja atau melakukan transaksi di ATM. Namun tahukah Bunda, kertas struk atau nama lainnya kertas thermal sangat berbahaya untuk tubuh terutama bila Bunda terbiasa meremasnya ini setelah menerima struk belanja.

Kertas struk memang diketahui mengandung zat kimia beracun yaitu BPA dan BPS. Kedua zat ini sangat berbahaya lho Bun. Kertas struk biasanya dikemas dalam bentuk rol dan dipasarkan dengan sebutan thermal paper roll. Mengutip dari sfchronicle.com, kertas struk dinamakan kertas thermal lantaran kertas tersebut bekerja berdasarkan panas atau thermal yang dikenakan pada bahan kertas tersebut.

Bunda perlu tahu, thermal paper adalah kertas yang dipenuhi dengan bahan kimia yang akan berubah warna kalau dipanaskan. Permukaan kertas yang terlihat halus sebenarnya dilapisi campuran bahan pewarna yang padat dan kandungan yang sesuai seperti fluoran leuco dye dan octadecylphosphonoci acids.

Seperti disebutkan sebelumnya, konsentrasi BPA alias Bisphenol A dan BPS yaitu Bisphenol S yang tinggi memang berbahaya. Kedua bahan ini merupakan bahan pemecah endokrin, Bun. Bila Bunda melihat adanya tinta yang tercetak di struk, maka ada zat penguat warna yang bersumber dari kedua zat kimia ini.

Ironisnya, kebiasaan banyak orang yaitu saat mendapatkan struk, kertas tersebut tak langsung dibuang. Melainkan meremas kertas tersebut lebih dulu. Faktanya, ternyata meremas kertas struk dari mesin ATM atau struk belanja sama bahayanya dengan menyimpan struk di dompet atau di kantong celana.

Namun masalahnya adalah, bahan kertas thermal ini memiliki bahan kimia BPA (Bisphenol A) dan dan BPS (bisphenol S) yang berpotensi menyebabkan datangnya beberapa penyakit termasuk penyebab munculnya penyakit kanker.

Kertas ini juga akan cenderung mudah berubah warna saat terpapar panas. Fakta ini dibuktikan dalam penelitian organisasi Perlindungan Lingkungan Hidup AS. Dalam penelitian yang mereka lakukan disebutkan jika kita menyentuh 2,5 mikrogram BPA yang bisa ditemukan di dalam kertas struk ATM selama 10 detik saja, maka kita akan terpapar bahaya dari bahan bersifat karsinogenik tersebut.

Bahkan, risiko ini akan meningkat 1,5 kali lipat jika kita meremas kertas struk ATM tersebut. BPA dan BPS tadi bisa meresap ke lapisan bawah kulit dan masuk ke aliran darah, Bun. Lebih lanjut lagi, mengutip dari Plastic Pollution Coalition, AS, BPA yang ada di kertas struk bisa mengganggu sistem reproduksi pada pria dan wanita. Hal tersebut dapat terjadi akibat menyerapnya senyawa kimia yang menyerupai estrogen tersebut ke dalam kulit.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Pergi ke RS Setelah Jam 3 Sore Justru Menimbulkan Banyak Risiko

care-check-checkup-905874 (1)

Semua orang tentu ingin sehat. Namun seringkali tubuh harus merasakan kondisi drop, entah karena daya tahan tubuh yang menurun, atau memang ternyata ada penyakit yang harus didiagnosa. Seperti kata orang, sakit itu mahal. Karenanya, jangan sampai kita sakit. Di lain sisi, rasa sakit memang tak bisa diketahui dan datangnya pun tiba-tiba. Bahkan bisa saja seseorang mengalami kondisi di mana harus segera dibawa ke unit gawat darurat.

Tapi tahukan Bunda, ternyata saat Bunda atau anggota keluarga lainnya sakit, dan membawa diri ke rumah sakit di atas jam tiga sore, ada risiko yang harus ditanggung pasien lho Bun. Bahkan ada yang bilang kalau pergi ke rumah sakit di atas jam tiga sore bisa sangat berbahaya. Kenapa demikian? Berikut ini paparannya, Bun.

Bertentangan dengan Ritme Sirkadian Tubuh

Ketika orang selesai makan siang, biasanya tubuh merasa lelah bahkan produktivitas pun menurun. Hal ini sudah menjadi ritme alami di tubuh kita, sehingga banyak orang cenderung merasa sedikit mengantuk sekitar jam 2 atau 3 pada sore hari.

“Beberapa budaya memiliki tidur siang, dan orang-orang menemukan bahwa mereka lebih mampu berkonsentrasi jika mereka mengambil waku istirahat setelah makan siang.” jelas Lara Sandon, RD, juru bicara American Dietetic Association.

Bahkan hal ini pun berlaku pada dokter dan perawat sehingga ketika mereka lelah di jam tersebut, hasilnya bisa menjadi merugikan pasien. Risiko salah diagnosis bisa saja terjadi.

Ahli Anestesi Rentan Melakukan Lebih Banyak Kesalahan

Bila Bunda hendak melakukan operasi, maka lakukan atau jadwalkan operasi sebelum jam dua sore ya Bun. Bila tak ingin terjadi bencana. Universitas di Duke meninjau sekitar 90.000 operasi rumah sakit menemukan bahwa ahli anestesi lebih mungkin membuat kesalahan selama prosedur yang dimulai pada jam 3 dan 4 sore.

Probabilitas kesalahan pada 9 pagi adalah 1% sementara pada jam 4 sore sebesar 4,2%. Probabilitas kesalahan anestesi yang merugikan pasien adalah 0,3% pada 8 pagi dan 1% pada jam 3 sore. Para peneliti mengaitkan kesalahan ini dengan ‘waktu rendah sirkadian siang hari’, yang menurunkan kewaspadaan dokter.

Pasien Bisa Saja Mendapat Resep Antibiotik yang Sejatinya Tak Perlu

Antibiotik bukanlah solusi untuk setiap penyakit, bahkan tak menutup kemungkinan salah memberi antibiotik justru menimbulkan banyak kerugian. Satu studi yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine menemukan bahwa seiring berjalannya hari, dokter menjadi jauh lebih mungkin untuk meresepkan antibiotik sekalipun sejatinya pasien tak perlu mengonsumsi antibiotik ini.

“Karena efek kumulatif dari menangani banyak pasien mengurangi pengambilan keputusan dokter. Maka, jauh lebih mudah untuk menulis resep daripada memusingkan gejala pasien,” tulis Daniel H. Pink.

Lewat Jam Dua Siang adalah Waktu Terburuk untuk Medeteksi Kanker

Jam 3 sore memengaruhi baik rumah sakit maupun praktisi umum. Salah satu penelitian terhadap lebih dari 1.000 kolonoskopi menemukan bahwa dokter kurang cenderung mendeteksi polip, atau pertumbuhan kecil pada usus besar yang dapat berkembang menjadi kanker.

Ajaibnya, setiap jam yang berlalu menurunkan tingkat deteksi polip hingga 5%. Dengan kata lain, semakin sore kolonoskopi dilakukan, semakin besar kemungkinan adanya kesalahan mendeteksi, Bun.

Karyawan Rumah Sakit Rentan Lupa Mencuci Tangan Bila Sudah Siang Hari

Untuk masyarakat awam, pasti berpikir para praktisi kesehatan adalah kelompok terbesar yang peduli pada kebersihan tangan mereka. Namun satu studi tahun 2015 terhadap lebih dari 4.000 perawat menemukan bahwa mereka mencuci tangan kurang dari separuh waktu pada kewajiban profesionalnya. Terlebih lagi, sebesar 38% dari perawat lebih kecil untuk mencuci tangan di sore hari, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top