Parenting

Supaya Si Kecil Mau Mendengarkan Bunda tanpa Harus Diancam

boy-child-cute-1598122

Bun, saat si kecil tak mau menuruti nasihat orangtua, biasanya hal ini membuat para orangtua kehabisan akal untuk mengendalikan si kecil. Apalagi kalau kondisi orangtua sudah lelah, misalnya baru pulang kerja atau sedang sibuk mengurus adiknya. Akhirnya, alih-alih menasehati, tak sedikit orangtua yang akhirnya mengancam sang anak. Ini karena ancaman, dianggap salah satu cara paling mudah untuk mendapatkan hasil secepat mungkin.

Sebenarnya, kita para orang tua, perlu tahu: ancaman tidak efektif untuk membuat anak menurut. Ya Bun, pasalnya ancaman hanya ampuh sesaat saja tapi tidak untuk jangka panjang.

Lagipula anak yang sering diancam kelak menjadi anak yang terbiasa diancam dulu baru mau melakukan sesuatu. Tentu kebiasaan semacam ini jadi tak mendidik si kecil, kan? Tugas orangtua tak hanya mengasuh si kecil, tapi juga menumbuhkan sifat tanggung jawab dan rasa percaya diri padanya. Lantas bagaimana solusinya, Bun?

Adele Feber, seorang penulis buku berjudul How to Talk so Kids Will Listen and Listen so Kids Will Talk menyampaikan tiga tips ini, Bun.

Berikan Pilihan Padanya dan Jangan Mengekangnya

Berikan pilihan yang mudah dipahami oleh anak. Misalnya, “Rapikan mainanmu sekarang supaya kamu masih punya waktu nonton televisi sebelum tidur, atau rapikannya nanti saja tapi kamu enggak nonton televisi sama sekali.” Dengan memberikan pilihan, si kecil merasa mendapat kepercayaan sehingga ia akan percaya diri untuk melakukan hal tersebut. Selanjutnya, biarkan ia memilih dan Bunda tak perlu mengekangnya.

Beri Batasan

Bila Bunda memberikan perintah, maka berikan batasan yang jelas padanya. Batasan ini melatih kepekaan dan rasa tanggung jawabnya, Bun. Misalnya, “Ibu akan pergi ke rumah Nenek 30 menit lagi. Kamu bisa ikut kalau sekarang segera mandi dan berpakaian. Kalau kamu belum siap saat ibu akan berangkat, kamu bisa tidak bisa ikut dan main di rumah saja.”

Dan Tetapkan aturan

Buatlah aturan yang jelas dan sampaikan aturan ini di awal serta pastikan anak paham apa saja yang menjadi tugas atau kewajibannya berikut konsekuensi jika ia tidak memenuhinya. Entah mengenai jam main, atau hal-hal seputar aktivitasnya. Bila si kecil menunjukkan perilaku melanggar aturan, maka Bunda tak perlu kesal. Tetap ingatkan ia lagi dan lagi. Dengan begitu, Bunda tidak perlu lagi mengancam.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tips Mendongeng dari Pakar Sastra Anak Indonesia

story-4220329_640

Kebanyakan orangtua, khususnya Bunda kadang kala dilema tiap kali hendak mencoba mendongeng untuk si kecil di rumah. Biasanya kita takut gagal, tak didengar, takut tak bisa berekspresi di depan anak atau hal-hal lain yang membuat kita mengurungkan niat dan tak jadi mendongeng untuk si kecil. Padahal, sebenarnya semua orangtua bisa mendongeng kok Bun.

Nah Bun, Dr.Murti Bunanta SS., MA, selaku seorang Peneliti dan Pakar Sastra Anak Indonesia yang sudah berkecimpung dalam dunia dongeng sejak puluhan tahun lalu, menyebutkan jika peran orangtua dalam mendongeng sebenarnya adalah hal positif yang patut diaperisiasi.

Ditemui di acara Peluncuran ‘Dongeng Aku dan Kau’ dari Dancow, Kamis (18/7/2019) di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Beliau memberikan beberapa tips untuk bunda yang ingin mulai mendongeng buat si kecil namun masih bingung cara memulainya. Diantaranya :

  1. Ambil dan pilih cerita yang Bunda senangi, yang tak bersikap memaksa si kecil atau menakuti.
  2. Saat Bunda hendak mendongeng, jadilah seperti anak kecil dan ikut berimajinasi.
  3. Gunakan benda yang ada di sekitar sebagai objek untuk memberinya gambaran cerita yang sedang Bunda sampaikan.
  4. Bunda juga boleh mengarang cerita apa saja.
  5. Cari waktu yang nyaman untuk si kecil dan untuk Bunda juga.
  6. Jangan memaksa anak untuk mendengarkan, tetap bacakan dongeng meski ia tak memerhatikan. Perlahan, si kecil nanti akan mulai mendekat dan mendengarkan dongeng dari Bunda.
  7. Dan kalau anak terus meminta satu cerita yang sama secara terus menerus, Bunda jangan bosan, karena itu artinya ia sedang ingin memahami cerita itu secara mendalam.

Selain itu, Dr.Murti juga menyarankan, agar Bunda tak memaksa anak untuk diam atau meyelesaikan permainan yang ia sedang lakukan hanya untuk mendengar dongeng dari Bunda. Karena itu tak akan memberinya stimulasi  apa-apa.

Selain itu, pilih juga waktu yang tepat dimana Bunda sedang merasa nyaman dan senggan, dan begitu pula dengan anak. Sebab menurut beliau, anak akan lebih mudah mencerna kosa kata dan cerita yang kita sampaikan ketika ia sedang merasa nyaman dibanding ketika ia sedang mengantuk karena mendengar dongeng saat sedang tertidur pada malam hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Alasan Raisa Enggan Mengunggah Foto Zalina di Media Sosial

raisa

Pasangan Raisa dan Hamish Daud tengah menikmati status sebagai orangtua baru saat ini. Seperti diketahui, kendati sang putri sudah lahir, baik Raisa maupun Hamish sepakat untuk tak banyak mempublikasikan foto Zalina di media sosial mereka. Namun Raisa mengungkap, ada lebih dari 60 ribu foto di kartu penyimpanan di ponselnya.

“Kalau lihat handphone tuh sekarang isinya foto dia (Zalina) semua, sampai 60 ribu. Ini enggak bohong beneran 60 ribu ya, sampai beli memori lagi,” katanya seperti dikutip Viva.co.id.

Raisa dan Hamish punya alasan sendiri mengapa jarang pamer foto anak di media sosial. Raisa lebih suka berbagi momen-momen tertentu saja, seperti Lebaran bareng.

“Menurut aku dan ini orang-orang punya pendapat yang berbeda dan semua pendapatnya valid. Tapi bagi aku anak itu punya privasi dan privasi adalah sebuah hak. Dan kalau misal dia belum bisa jawab ke aku, ‘Kamu mau nggak?’ Aku belum berani untuk menghilangkan hak dia terhadap privasi jadi untuk sekarang buat aku aja, buat keluargaku,” Raisa menjelaskan.

Kendati demikian, Raisa mengatakan dirinya tak menutup-nutupi wajah sang anak bila ia sedang keluar di depan publik. Raisa bercerita, saat liburan ke Bali, ada pegawai restoran yang menawarkan bantuan untuk memegang Zalina agar dia bisa makan dengan nyaman.

“Akhirnya baby dibawa sama Mbak yang jaga restoran aku makan enak. Itu aku merasa seneng dibantuin. Jadi bukan aku menutupi dia dari dunia, enggak sama sekali. Menurut aku sebelum dia kutanya dan menjawab apakah aku boleh mengekspos kamu? Aku belum berani,” serunya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Ajar Si Kecil Agar Ia Semakin Berani Latihan Jalan

active-adorable-baby-1776134

Karena takut jatuh, biasanya bayi enggan untuk memulai latihan berjalan. Tenang Bun, ada beberapa tips yang dapat Bunda manfaatkan untuk mengajari si kecil latihan berjalan dengan aman dan menyenangkan. Apalagi bila usianya sudah menginjak 9 bulan, si kecil pun harusnya mulai latihan berjalan.

Bagaimanapun, kunci utama kesuksesan belajar berjalan adalah kepercayaan diri Si Kecil. Kegagalan saat berlatih, seperti jatuh atau terantuk oleh benda keras, seringkali menurunkan kepercayaan dirinya. Yuk Bun pakai cara ini.

Pastikan Si Kecil Mampu Berdiri dengan Stabil ya Bun

Beri Si Kecil kesempatan berdiri tanpa takut terjatuh dengan menyediakan pegangan. Bun, langkah ini dapat dimulai ketika ia berusia sembilan bulan. Untuk permulaan, ia dapat mencoba berpegangan pada kepala tempat tidur, kemudian ajak ia berdiri di atas matras sambil berpegangan pada meja ketika ia bosan dengan tempat tidurnya. Lakukan latihan ini selama satu jam per hari sampai ia bisa stabil berdiri.

Biarkan Dulu Ia Melangkah dengan Berpegangan

Setelah Si Kecil mampu berdiri dengan stabil, letakkan mainan di atas meja atau kepala tempat tidur, dan minta ia untuk melangkah dan meraihnya. Agar ia tidak langsung terjatuh ke lantai, duduklah di belakangnya dengan kedua kaki Anda menahan Si Kecil ya Bun. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah menopangnya ketika ia kehilangan keseimbangan.

Ajaklah Ia Berjalan Sembari Bergandeng Tangan

Nah, baru ketika ia sudah lebih percaya diri dengan kemampuan berjalannya, giliran Bunda melatihnya berjalan dengan menggandeng satu tangannya dan biarkan tangan yang satunya berpegangan pada meja ya Bun.

Di Fase Terakhir, Temani Ia Berjalan Tanpa Berpegangan

Ketika si kecil sudah memiliki keseimbangan yang lebih baik lagi, maka mulailah melatihnya berjalan tanpa berpegangan ya Bun. Bunda dapat mengulurkan tangan Bunda kepadanya sambil berjalan mundur. Teruslah mendorongnya untuk berjalan meraih tangan Bunda. Meski pada fase ini kontrol Bunda semakin sedikit, tetaplah lindungi anak agar kepalanya tidak terbentur ya, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top