Parenting

Si Kecil yang Jadi Anak Tunggal Rentan Alami Perubahan Struktur Otak

boy-child-childhood-235554

Ibu muda zaman sekarang umumnya sering berkelakar hanya ingin memiliki satu anak. Munculnya kelakar ini dipicu karena berbagai faktor dan alasan. Tapi yang paling sering didengar, membesarkan seorang anak saja umumnya butuh biaya besar, dan para orangtua muda ini mulai merasa hanya mampu membiayai hidup satu anak saja.

Tapi Bun, khusus para Bunda yang hanya mau memiliki satu orang anak, pikirkan dulu dampak yang mungkin dirasakan si kecil. Sekalipun urusan kuantitas anak merupakan pilihan masing-masing keluarga, Bun. Tetapi, mungkin, sebelum mengambil keputusan untuk tidak menambah anak, Bunda perlu membaca fakta tentang anak tunggal berdasarkan riset berikut ini.

Anak Tunggal Rentan Alami Sindrom Anak Tunggal 

Selama kurang lebih 30 tahun, peneliti melakukan riset mengenai kehidupan anak tunggal. Riset ini dilakukan dengan didasari keadaan keluarga-keluarga di China yang tidak boleh memiliki anak lebih dari satu. Tapi yang terjadi, generasi anak tunggal di China justru diberi label sebagai generasi yang egois, manja, dan tak bisa beradaptasi.

Peneliti menyebutkan bahwa hal tersebut bukanlah mitos. Mengutip dari Business Insider, anak tunggal cenderung mementingkan dirinya sendiri, sulit bekerja sama dan bergaul dengan anak-anak lain. Nah, masalah ini yang kemudian disebut sebagai sindrom anak tunggal. Hal tersebut terjadi karena anak tunggal tidak memiliki saudara kandung sebagai teman berbagi, rival, dan saingan untuk merebut perhatian dari orangtua.

“Saudara kandung membantu perkembangan sosial seorang anak. Sejak kecil, anak yang memiliki saudara kandung sudah terlatih untuk berbagi, bergiliran, dan kesabaran. Dalam hal mendapat perhatian dari orangtua, anak yang memiliki saudara menjadi lebih gigih dan memiliki jiwa kompetitif,” kata Avidan Milevsky, peneliti tentang sindrom anak tunggal dari Ariel University di Israel.

Di lain sisi, hasil penelitian menemukan jika anak tunggal pun kesulitan menjalin hubungan sosial karena tak dilatih berinteraksi dan membaca tanda-tanda hubungan sosial sejak kecil. Namun, Avidan menemukan bahwa anak-anak tunggal yang orangtuanya mengisi kekosongan pelajaran sosial tersebut dengan baik, bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang paham bersosialisasi.

“Orangtua yang membawa anak tunggalnya bergaul dengan anak-anak lain atau saudara seumuran, tidak mengalami sindrom anak tunggal,” kata Avidan.

Struktur Otak Anak Tunggal pun Sedikit Berbeda dengan Anak yang Memiliki Saudara

Peneliti di Southwest University, Chongqing, China melakukan penelitian struktur otak anak tunggal dan anak yang memiliki saudara kandung. Sebanyak 250 responden melakukan skrining otak dan tes kepribadian, kreativitas, dan kecerdasan. Peneliti menemukan bahwa anak tunggal memiliki kreativitas yang lebih tinggi tetapi nilai kepribadiannya rendah.

Pada anak tunggal, bagian otak pre frontal, yang menggambarkan empati, terlihat lebih kecil volumenya. Tetapi, bagian otak anak tunggal yang menyimpan kreativitas, yaitu bagian parietal, jauh lebih besar daripada anak yang memiliki saudara. Hasil penelitian itu menyimpulkan bahwa menjadi anak tunggal dapat mengubah struktur otak.

Anak Tunggal Bisa Mengalami Kegamangan Sewaktu-waktu

Bun, kerugian menjadi anak tunggal salah satunya lantaran mereka jadi tak punya pendukung moral untuk kejadian-kejadian besar seperti kelahiran saudara. Ketika memikirkan kejadian besar yang mungkin dihadapinya, anak tunggal cenderung kebingungan dan merasa gamang.

“Anak tunggal mungkin tidak akan punya teman berbagi ketika menghadapi kegembiraan atau duka cita. Salah satu keuntungan memiliki saudara kandung adalah memiliki teman untuk menghadapi situasi emosional itu,” jelas Avidan.

Karenanya, untuk Bunda dan ayah yang mulai bertekad memiliki satu anak saja, coba pikirkan dulu dampak-dampak di atas ini guna kebaikan buah hati juga, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

children-class-classroom-1720186

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top