Parenting

Setiap Orangtua Ingin Anak Patuh pada Orangtua, Ini Cara Mendidik Anak Agar Patuh pada Orangtua Tanpa Paksaan

StockSnap_HA3JD0XRX2

Cara mendidik anak agar patuh terhadap orang tua bukan dengan cara kekerasan fisik maupun mental. Kepatuhan anak akan lebih baik jika dimunculkan dari kesadaran anak kita sendiri atau tanpa paksaan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mendidik anak agar mengerti bahwa patuh kepada orang tua adalah hal yang baik dan bernilai positif.

Namun, hal ini tentu tidaklah mudah, karena orang tua harus memiliki kesabaran ekstra dan usaha yang keras. Dalam video ini digambarkan beberapa cara mendidik anak agar patuh terhadap orang tua:

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Ketika Membuat Jadwal untuk Anak, Jangan Pisahkan Waktu Bermain dan Belajar Ya Bunda

4-Ketika-Waktu-Bermain_-Ayah-dan-Bunda

Bunda pasti ingin si buah hati tumbuh jadi anak yang disiplin. Wajar jika kemudian berusaha menanamkan sikap disiplin tersebut sedari dini. Salah satu cara yang biasa ditempuh adalah dengan membuatkan jadwal untuknya. Kapan waktunya makan, kapan waktunya tidur, kapan bermain, kapan waktunya belajar dan sejumlah jadwal lainnya.

Tentunya membuat jadwal semacam ini tak salah. Tapi tahukah Bunda, khusus untuk si buah hati yang masih usia dini seharusnya jadwal bermain dan belajarnya tidak dipisah.

Meski Belajar itu Penting, Rasa Bahagia Anak Jauh Lebih Penting

1-Meski-Belajar-Itu-Penting-namun-Rasa-Bahagia

Kenapa demikian? Menurut Dr. Sofia Hartati., M.Si Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, sangatlah penting untuk menstimulasi rasa ingin tahu anak, memperkenalkan anak pada banyak hal, dan juga memberikan asupan nutrisi yang baik dan lengkap.

Namun, Dr. Sofia Hartati menambahkan, perlu diingat walaupun belajar itu penting, tapi pengalaman yang menyenangkan menjadi prioritas terpenting bagi anak di usia dini. Untuk itu, sebisa mungkin belajar anak dilakukan sambil bermain.

Salah satu cerita menarik tentang belajar sambil bermain ini dialami sendiri oleh Albert Einstein. Salah satu peristiwa yang menginspirasinya terjadi ketika dia berusia 4 tahun dan ayahnya memberinya alat kompas untuk dimainkan. Einstein selama berjam-jam bermain dengan memutar-mutar kompas tersebut sambil penasaran kenapa jarumnya selalu menunjuk ke arah utara. Rasa penasaran dan kagumnya inilah yang dibawa Einstein hingga dewasa dan membuatnya menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan.

Jika Bunda Menjadikan Satu Waktu Bermain dan Belajar, Minat Belajar Anak Bisa Meningkat

3-Jika-Bunda-Memisahkan-Waktu-Bermain-dan-Belajar

Berbeda dengan kita yang dewasa, si kecil justru akan lebih bisa konsentrasi jika waktu belajar dan bermainnya dijadikan satu. Beberapa penelitian menyebutkan soal ini. Salah satu yang sering menyuarakannya adalah Nancy Carlsson Paige, profesor bidang pendidikan dari Lesley University di Cambridge.

Menurutnya emosi anak akan lebih cepat berkembang jika ia tidak dikhususkan waktunya untuk belajar dan dibiarkan lebih banyak bermain. Dengan menjadikan satu waktu belajar dan bermain anak tidak akan mudah stres dan minat belajar dan konsentrasinya akan terus meningkat ketika ia dewasa kelak.

Pilih Permainan yang Mendukung Metode Belajar Sambil Bermain ini ya Bunda

5-Pilih-Permainan-yang-Mendukung-Metode-Belajar-

Nah, untuk mewujudkan pola bermain sambil belajar tentunya dibutuhkan perangkat dan mainan yang bisa mendukung hal tersebut. Permainan itu harus memberikan pengalaman yang menyenangkan sambil membantu si kecil belajar.

Contohnya Bunda bisa mencoba program edukasi Kodomo Challenge dari Benesse. Kodomo Challenge ini dilengkapi dengan kurikulum dan materi ajar berdasarkan penelitian dan diawasi para ahli yang telah disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak, baik fisik maupun pikirannya. Sehingga anak bisa menikmati dan mengerti lebih baik permainan dan materi ajar yang dimainkannya.

Apalagi Kodomo Challenge Indonesia ini menggunakan metode pendekatan “multi-platform”. Hal ini membuat pemahaman anak lebih mendalam dimulai dari media favoritnya, baik itu DVD, buku, maupun mainan. Serunya lagi, permainan yang ada pada Kodomo Challenge akan melibatkan peran Bunda sebagai teman bermain bersama si kecil.

Keterlibatan Bunda dalam permainan si kecil ini penting. Menurut hasil penelitian Kathy Hirsh-Pasek and Roberta Michnick Golinkoff, peneliti pendidikan anak usia dini sekaligus pengarang buku best seller Becoming Brilliant: What Science Tells us About Raising Successful Children, keinginan anak untuk bermain meningkat jika ada orang dewasa yang ikut bermain bersamanya. Nah, sejalan dengan hal tersebut permainan yang ada di Program Edukasi Kodomo Challenge ini akan secara aktif melibatkan Ayah atau Bunda untuk ikut bermain bersama buah hati

Penasaran? Sebagai langkah awal, Bunda cukup mendaftar di sini, untuk mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge untuk dikirimkan ke rumah.

Dikirim ke rumah? Iya Bunda, inilah bagian paling menyenangkan dari Kodomo Challenge. Setelah mendaftar Free Trial Kit, nantinya kita akan dikirimkan ke rumah buku bergambar, DVD serta buku panduan orang tua.

Bunda akan mendapatkan Free Trial Kit Kodomo Challenge sesuai dengan usia si kecil. Ada Kodomo Challenge Toddler yang diperuntukan bagi anak usia 1-2 tahun dan ada Kodomo Challenge Playgroup untuk anak usia 2-3 tahun. Jadi bisa dipastikan si kecil akan nyaman bermain dan belajar dari Free Trial Kit Kodomo Challenge tersebut karena sesuai dengan perkembangan usianya.

Caranya? Cukup lengkapi form yang ada di sini maka paket Free Trial Kit akan segera dikirim ke alamat rumah Bunda. Kalau Bunda memutuskan mendaftar sekarang, selain mendapatkan Free Trial Kit, Bunda juga bisa mendapatkan konten parenting dan edukasi untuk anak di shimajiro.id sekaligus berkesempatan memenangkan hadiah kejutan berupa bantal, baby bib atau trolley Shimajiro untuk Bunda yang beruntung.

Yuk, Bunda daftar sekarang, jadi Bunda bisa menikmati quality time, bermain sambil belajar bersama si kecil dengan program edukasi Kodomo Challenge!

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

4 Manfaat Bacakan Dongeng Anak Sebelum Tidur!

Bunda, pasti sudah sering mendengar tentang manfaat baik membacakan dongeng bagi perkembangan  anak . Tapi, sudah tahukah Bunda, bahwa kebiasaan yang kerap kali disepelekan ini ternyata berdampak besar bagi tumbuh kembang anak, baik dari segi kecerdasan intelektual maupun emosional? Tidak percaya? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Meningkatkan imajinasi anak

Menurut peneitian yang dilakukan oleh Efnie -psikolog anak- anak  berusia 3 – 7 tahun cenderung memiliki dunia mereka sendiri. Nah, dengan terbiasa membacakan dongeng pengantar tidur setiap malam, Bunda secara tidak langsung telah menstimulus perkembangan daya imajinasi yang positif dan efektif pada buah hati. Tentu saja ini akan membuat sang anak lebih aktif dan efektif dalam mengkritisi hal-hal di sekitarnya karena daya visualisasi otaknya telah dilatih sejak dini melalui penggambaran tokoh hingga kejadian di dunia dongeng. 

2. Kemampuan verbal anak pun jadi bisa berkembang optimal

Bunda, dengan rutin membacakan dongeng anak tentu saja ini sangat bagus untuk meningkatnya perbendaharaan kata si kecil sehingga ia bisa berkomunikasi dengan lebih baik.  Terlebih lagi bagi Bunda yang mempunyai anak belum lancar berbicara. Mendongeng setiap malam terbukti dapat menstimulus otak anak untuk merespon setiap unit wicara yang digunakan, mulai dari intonasi, struktur kalimat, hingga makna pragmatis tuturan.

3. Membentuk karakter anak

Pada buku dongeng, biasanya terselip budi pekerti dan nilai moral yang dapat dijadikan contoh. Jadi tak ada salahnya menyempatkan diri untuk membacakan dongeng setiap malam hari. Kenapa? Menurut Efnie, nilai positif yang diterapkan secara sukarela bersifat lebih efektif dibandingkan dengan nilai yang dipaksakan. Dengan menyimak dongeng yang Bunda bacakan, buah hati dapat berpikir secara mandiri dalam memutuskan mana perilaku yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Hebat bukan Bun?

4. Membangun ikatan emosional

Tahukah Bunda, bahwa momen di mana Bunda membacakan dongeng untuk anak dapat menjadi hal yang terus diingat buah hati  hingga ia dewasa nanti? Fragmen-fragmen kenangan inilah yang membuat hubungan Bunda dengan si kecil semakin dekat, tanpa peduli seberapa dewasa ia kelak. Selain itu, emosi dan afeksi yang Bunda berikan setiap kali mengajak si kecil menyelami dunia khayalan akan turut membentuk kepribadian anak sehingga ia akan tumbuh menjadi pribadi penyayang.

Jadi, masih malas baca dongeng untuk anak?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Orangtua Mengeluh Karena Anaknya Suka Memukul, Ini yang Perlu Orangtua Pahami

Tidak sedikit orangtua yang mengeluh karena anaknya suka memukul kalau marah atau keinginannya tidak dituruti. Hal ini memang sebaiknya jangan terus dibiarkan agar tidak berkelanjutan hingga dia dewasa.

Anak usia satu tahun, mereka tidak tahu bahwa memukul berarti menyakiti orang lain.

Pada anak usia satu tahun, mereka tidak tahu bahwa memukul berarti menyakiti orang lain. Mungkin Anda akan melihat anak usia satu tahun akan memukul orang lain sambil tertawa.

Perilaku agresif seperti ini dianggap normal karena bagian dari perkembangan anak. Untunglah, perilaku agresif ini hanya sementara.

anakmemukulorangtuatertawa

Namun kebiasaan anak yang suka memukul  bukan hal yang lucu sehingga anda merespons dengan tertawa

Meski demikian, jangan menganggap perilaku agresif ini sebagai hal yang lucu sehingga Anda merespons dengan tertawa. Sebab dari sini si kecil bisa belajar bahwa memukul bisa membuat Anda tertawa.

Tangan dan gigi merupakan alat sosial pertama mereka, jadi wajar jika mereka belajar bagaimana menggunakannya sebagai respons atas apa yang mereka rasakan. Mereka juga ingin tahu reaksi apa yang terjadi jika mereka menggunakan ‘peralatan’ itu.

Jadi sah-sah saja balita Anda menggunakan ‘peralatannya’ tapi tetap tugas orang tua untuk mengajarkan bagaimana cara terbaik menggunakan ‘peralatan’ itu.

Sebagai orang tua, kita harus mengajari bahwa perilaku agresif tidak bisa diterima dan menujukan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya

Meskipun ini bagian normal perkembangan balita usia 18-30 bulan, sebagai orang tua tentu Anda tidak boleh membiarkannya. Anak pun perlu belajar bahwa perilaku agresif tidak bisa diterima. Perlu juga Anda tunjukkan cara lain untuk mengekspresikan perasaannya.

Hati-hati, Perilaku agresif pada anak lebih cenderung muncul dalam kelompok

Perilaku agresif pada anak lebih cenderung muncul dalam kelompok. Sebab dalam sekelompok anak sangat memungkinkan dua balita yang memperebutkan mainan, yang mana hal ini bisa meningkat jadi perkelahian fisik.

Jika anak-anak berinteraksi dengan orang banyak, seperti di penitipan, memukul dan menggigit menjadi keterampilan sosial serta bagian dari naluri kelangsungan hidup mereka

Ketika si kecil memukul Anda atau orang lain, jangan lantas balas memukulnya

Jika Anda balas memukul anak, secara tidak langsung itu menegaskan bahwa tidak apa-apa memukul orang lain. Dengan balas memukul anak sebagai upaya menghukum, pada akhirnya hanya akan mengembangkan rasa takut pada anak. Memberikan ‘pelajaran’ pada anak melalui ketakutannya tidak akan berhasil.

Pada balita yang memahami bahwa memukul merupakan upaya pertahanan diri, saat mereka memukul anak lain, ada baiknya jauhkan dia sejenak dari situasi itu. Lalu berilah penjelasan bahwa memukul itu tidak diperbolehkan karena bisa menyakiti orang lain.

Jangan lupa mintalah maaf atas nama anak Anda pada anak yang dipukul

Pastikan si kecil mendengar Anda sedang minta maaf, agar dia bisa menarik pelajaran tentang empati. Bila anak sudah stabil emosinya, ajaklah juga untuk meminta maaf langsung.

Jika ada orang tua anak tersebut di tempat itu, sampaikan juga permintaan maaf dan katakan bahwa Anda sedang berupaya mengatasi perilaku agresif pada si kecil.

Berikan Pengertian dan Ajarkan Kominikasi

Jika anak memukul karena berebut mainan dengan kakak atau adiknya, sampaikan pengertian padanya, bahwa untuk mendapatkan giliran bermain bukan dengan memukul. Anda bisa mengeset waktu agar setiap anak mendapat giliran bermain.

Yang tak kalah penting, ajari anak berkomunikasi dengan baik. Ketika anak lebih mampu mengatakan apa yang dia inginkan dan menyampaikan apa yang dia rasakan, maka mereka akan lebih mampu mengontrol perilaku agresifnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bunda Tak Perlu Bingung Apalagi Kesal ketika Si Kecil Terus Bertanya “Kenapa”, Ini Penjelasan Ilmiahnya Dan Cara Menghadapinya

Ketika si kecil sudah mulai bisa berkomunikasi, umumnya mereka akan mulai banyak bertanya. Pertanyaan ini akan terus bersambung ke pertanyaannya berikutnya, menggunakan kata tanya “kenapa”.

Si Kecil: “Kenapa aku harus makan, Bunda?”
Bunda: “Kamu makan supaya kamu sehat.”
Si Kecil: “Kenapa aku harus sehat, Bunda?”
Bunda: “Kalau kamu sehat, kamu jadi bisa main.”
Si Kecil: “Kalau aku tidak bisa main, kenapa jadinya, Bunda?”
dan seterusnya.

Banyak orang tua yang panik menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Tak jarang, mereka malah sedikit terbawa emosi karena pertanyaan si anak seolah tidak ada habisnya. Buntutnya, orang tua melakukan berbagai cara agar pertanyaan si kecil berhenti.

Sering Bertanya “Kenapa” Merupakan Ciri Perkembangan yang Baik, Lho, Bunda. Yup, seringnya anak bertanya merupakan bagian dari perkembangan otak anak. Hal ini ditemukan oleh Leon Hoffman, MD, direktur dari Pacella Parent Child Center di New York Psychoanalytic Society & Institute. Penelitiannya menemukan bahwa salah satu yang melatarbelakangi anak-anak suka bertanya “kenapa” adalah untuk memahami kata-kata baru.

Hal ini karena anak dengan rentang usia 1-5 tahun sedang dalam masa untuk belajar berbicara dan berlogika, sehingga anak sering kali mengulang pertanyaan atau bertanya untuk mendapatkan kejelasan dari setiap kata yang didengar atau diucapkannya.

Seringnya anak bertanya “kenapa” juga disebut Leon Hoffman, berguna untuk membangun memori. Tahapan ini juga menjadi ciri anak berada di tahap perkembangan yang baik. Karena dibutuhkan waktu beberapa saat bagi anak yang sedang berkembang untuk menyimpan informasi baru di dalam memorinya.
Mendengar orang tua yang dipercayainya memberikan jawaban bisa membantu mendorong anak untuk memahami konsep kata baru.

Jadi mungkin bagi ayah bunda, pertanyaan si buah hati terkesan tidak penting. Padahal sesungguhnya ketika itu mereka sedang membangun konsep, melatih kemampuan komunikasi, menambah perbendaharaan kata, dan menambah pengetahuan mereka.

Si Kecil Banyak Bertanya Karena Ingin Dekat dengan Bunda dan Ingin Tahu Lebih Banyak

1

Bunda mungkin masih ingat ketika mereka menangis karena ingin menyusu saat masih bayi. Ketika itu, sesungguhnya mereka bukan hanya ingin memenuhi rasa laparnya. Namun mereka juga menginginkan kehadiran orang yang disayanginya. Si kecil ingin diberikan makanan lewat bunda yang disayanginya.

Nah, hal itu juga yang ditemukan oleh Leon Hoffman dalam penelitiannya. Ketika banyak bertanya, anak juga sedang menemukan kenyamanan. Sejak balita, anak-anak biasanya menemukan kenyamanan dalam hal pengulangan dan mengajukan pertanyaan yang sama kembali sebagai salah satu cara untuk meminta dukungan emosional. Jadi si kecil bukan hanya ingin rasa ingin tahunya terpenuhi, namun juga ingin rasa ingin tahunya dipenuhi oleh orang yang disayanginya. Ia ingin pertanyaannya dijawab oleh orang yang membuatnya merasa aman.

Hindari Meminta Anak Bertanya Ke Orang Lain Ya Bunda

Portrait of young asian mother guiding her children to draw on the paper. shot in the library

Portrait of young asian mother guiding her children to draw on the paper. shot in the library

Ketika si kecil memilih Bunda untuk menjawab pertanyaannya, artinya ia memercayai dan merasa aman bersama bunda. Itulah kenapa sangat tidak bijak meminta anak bertanya kepada orang lain ketika ia sedang bertanya kepada kita. Sayangnya, banyak orang tua mengelak ketika lelah dibombardir dengan pertanyaan oleh si kecil?

“Tanya Ayah, ya”
“Coba tanya sama Nenek”
“Kakak tuh bisa jawab”

Begitu biasanya kita mencoba mengalihkan pertanyaan mereka. Padahal hal ini bisa menurunkan minat mereka untuk menambah pengetahuan. Sebab, ia hanya akan bertanya kepada orang yang membuatnya merasa aman dan nyaman. Memintanya bertanya ke orang lain yang bukan pilihannya jelas akan membuatnya ragu sekaligus kecewa kepada kita.

Seandainya Bunda memang tidak bisa menjawab, maka tawarkan si kecil untuk ditemani bertanya kepada orang lain di sekitarnya. Bunda dapat mengajak si kecil dengan kalimat, “Kita tanya sama Ayah yuk, mungkin Ayah tahu jawabannya”.

Rasa Ingin Tahu Ini Harus Dijaga, Bunda Harus Membuatnya Terus Tertarik

Happy Asian Family enjoying their time in the park

Ketika Bunda sudah memahami pentingnya rasa ingin tahu anak, tentunya yang diperlukan saat ini adalah menjaga agar keingintahuan itu tetap ada. Caranya adalah dengan ikut melibatkannya dalam kegiatan yang menyenangkan sekaligus merangsang rasa ingin tahunya.

Nah salah satu cara menyenangkannya adalah dengan mengenalkan anak kepada Shimajiro. Siapa itu? Shimajiro merupakan karakter edukatif nomer satu di Jepang yang aktif dan selalu tertarik dengan hal-hal baru. Shimajiro dapat menjadi teman belajar yang menyenangkan melalui Ruang Ingin Tahu Shimajiro. Di #RuangInginTahuShimajiro, anak dapat bereksplorasi mengasah rasa ingin tahunya sambil bermain, bersama Shimajiro dan Kak Rini yang merupakan teman Shimajiro sekaligus bertindak sebagai narasumber.

Ada tanya jawab bersama Shimajiro yang ditunjukkan melalui video pertanyaan anak-anak untuk kemudian dibahas bersama dan dijawab oleh Kak Rini. Lalu ada juga Tantangan Shimajiro. Kali ini, Shimajiro bersama Kak Rini akan mencoba berbagai macam tantangan sambil bermain.

Serunya lagi, Shimajiro akan mengajak si kecil di rumah untuk turut mencoba hal tersebut. Tantangan yang diberikan merupakan hal-hal sederhana yang biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan tentunya aman untuk dilakukan oleh anak-anak. Jadi Bunda bersama si kecil bisa ikut keseruan bersama Shimajiro.
Yuk, Bunda, asah terus rasa ingin tahu si kecil melalui Rasa Ingin Tahu Shimajiro di sini!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top