Kesehatan Ibu & Anak

Sekalipun di Rumah Banyak Nyamuk, Jangan Serta Merta Asal Beli Obat Nyamuk, Bun!

no-mosquito-while-girl-sleeping_1308-16607

Keberadaan nyamuk sangat mengganggu. Apalagi untuk para ibu yang baru memiliki bayi. Jumlah nyamuk yang sering ‘bertamu’ di malam hari pun tak menentu, pada akhirnya, Bunda jadi bertanya-tanya, kira-kira aman tidak ya kalau menggunakan obat nyamuk demi membasmi serangan hewan yang satu ini?

Jawabannya bergantung pada jenis obat nyamuk yang akan Bunda gunakan. Setidaknya jangan pakai obat nyamuk yang dibakar maupun yang disemprot saat ada bayi. Juga sebaiknya jauhkan bayi dari obat nyamuk cair ya Bun. Kalau menurut Bunda memang harus pakai obat nyamuk, pilihlah yang aman-aman saja seperti krim anti nyamuk alami, spray tubuh, serta gel anti nyamuk. Jangan lupa, pasang kelambu di sekitar tempat tidur si kecil.

Bagaimanapun, si kecil perlu dilindungi dari gigitan nyamuk. Selain terasa sakit, efek gigitan nyamuk bisa membuat bengkak yang lebih parah di tubuh si kecil. Bahkan tak sedikit bayi yang bisa mengalami bengkak parah dan bahkan memar di area yang digigit. Sebagian lainnya justru merasakan reaksi alergi setelah digigit nyamuk.

Sementara itu, kalau si kecil sudah bisa menggaruk, gatal akibat gigitan nyamuk akan memicu si kecil untuk menggaruk kulitnya. Kalau hal ini dilakukan terus-menerus dan Bunda tak memperhatikan, bisa memicu infeksi kulit lho Bun. Untuk itu, memang sebaiknya Bunda lebih waspada ya perihal ‘serangan’ nyamuk ke tubuh si kecil.

Beberapa bahan aktif baru bisa digunakan pada bayi ketika usianya sudah lebih dari 2 bulan, antara lain DEET, Picaridin, dan IR3535. Tapi ingat Bun, tak berarti setiap obat nyamuk dengan kandungan bahan tersebut aman-aman saja digunakan pada bayi kapan saja.

Contohnya DEET. Bahan  yang satu ini masih cukup kontroversial. Sebagian dokter menganggap tak masalah jika DEET digunakan pada bayi usia 2 bulan, yang lain mengatakan 6 bulan adalah usia yang aman. Pada anak usia 2 sampai 12 tahun, jangan gunakan DEET lebih dari 10 persen, tapi Bunda bisa tingkatkan frekuensi pemakaiannya hingga 3 kali sehari. Setelah anak mencapai usia 12 bulan, barulah si kecil bisa memakai produk yang mengandung DEET hingga 30 persen.

Untuk itu, akan jauh lebih baik kalau Bunda melakukan tindakan preventif bukan hanya bergantung dari obat nyamuk melainkan dari usaha yang Bunda bisa lakukan setiap harinya. Seperti contoh di bawah ini.

Pilihlah Pakaian yang Tepat ya Bun

Pilih bahan pakaian katun atau rajutan agar udara bisa mengalir tapi menutup tubuh bayi. Penting diingat Bun, pakaian harus longgar, karena nyamuk bisa menggigit melalui pakaian yang ketat. Sepatu, rok, gaun, dan baju tanpa lengan sebaiknya dihindari.

Bila memakaikan satu set baju, pastikan perutnya juga tertutup dengan kaos dalam. Untuk bayi yang sudah lebih besar pilih celana panjang, baju lengan panjang yang tipis, atau atasan dan kaos kaki serta sepatu tertutup.

Utamakan Penggunaan kelambu

Yup! Kelambu bisa sangat efektif digunakan dengan tepat dan untungnya memakai kelambu ini bahkan tak ada efek kesehatan yang ditimbulkan. Untuk Bunda yang memang tidur dekat dengan bayi, cari kelambu yang berukuran besar ya Bun.

Bilang ke Ayah untuk Memasang Kasa Nyamuk di Pintu dan Jendela

Kasa berbahan nilon jadi pilihan tepat.  Kasa yang menempel pada jendela bisa dicuci secara teratur. Dengan memanfaatkan kasa, tentu akan mencegah nyamuk maupun serangga masuk ke rumah, dan Bunda pun masih bisa tetap bisa menikmati udara segar.

Pilih Wewangian yang Tepat untuk Usir Nyamuk

Beberapa wewangian seperti sereh, citronella, lavender, dan kayu putih, bisa mengusir nyamuk. Sebaliknya, justru wangi bunga dan buah justru cenderung menarik kedatangan nyamuk. Bahkan ada kemungkinan juga beberapa produk mengandung campuran wewangian yang mungkin menarik perhatian nyamuk. Jadi sebisa mungkin, coba gunakan lotion, sabun, minyak, shampo, dan alat mandi yang tanpa pewangi.

Jangan Lupa untuk Membersihkan Sarang Nyamuk secara Rutin

Nyamuk berkembang-biak di air yang tergenang dan bisa bertelur di air tergenang yang sangat sedikit. Karenanya, pastikan penampungan air seperti drum dan ember tertutup agar nyamuk tidak bisa masuk. Sering-seringlah mengganti air yang Bunda simpan di dalam wadah.  Bersihkan semua wadah air sekali seminggu. Pastikan menggosok bagian sisinya juga.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bolehkah Bayi Mendapatkan ASI dari Ibu yang Masih Merokok?

adult-art-baby-235243

Sebagai seorang ibu, tentu kita mendambakan kesehatan yang terbaik untuk anak-anak kita. Tapi ada kalanya kita pun masih menomorduakan urusan kesehatan. Padahal, di usia anak yang masih balita, kesehatan Bunda pun juga berpengaruh pada kesehatan buah hati. Contoh yang paling sering dijumpai salah satunya yaitu ketidakmampuan seorang ibu untuk menghentikan kebiasaan merokok kendati ia masih harus memberikan ASI pada buah hatinya.

ASI dari seorang ibu yang masih aktif merokok tentu tak akan memberikan proteki maksimal pada buah hati. Kendati demikian, ada baiknya untuk tidak berhenti memberikan ASI lho Bun. Ini karena menyusui memberikan banyak kekebalan, yang membantu bayi melawan penyakit, dan bahkan dapat membantu menangkal beberapa efek dari asap rokok.

Bahkan bayi yang mendapat ASI akan memiliki kekebalan tubuh yang baik sehingga dapat membantu melindungi bayi saat memerangi penyakit. ASI yang diberikan oleh ibu perokok masih lebih baik dibandingkan dengan memberikan bayi susu formula.

Nah, bayi dengan orangtua yang merokok memiliki kemungkinan lebih rewel. Sementara, ibu yang merokok merokok kemungkinan kurang mampu mengatasi bayi kolik. Nah, ‘kolik’ adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika bayi terus menangis tanpa sebab dan sulit dikendalikan.

Kolik biasanya terjadi pada bayi sehat yang berusia di bawah lima bulan, di mana ia bisa menangis hingga lebih dari tiga jam, selama kurang lebih tiga hari berturut-turut. Penyebab bayi kolik yaitu karena kadar hormon prolaktin yang lebih rendah. Bahkan produksi ASI nya pun jadi lebih rendah lantaran kekurangan prolaktin. Selain itu, ibu yang memiliki kebiasaan merokok bisa menambah potensi gejala seperti mual, muntah, kram perut, dan diare pada bayi.

Selanjutnya, riset lain menyebutkan, bayi dengan ibu dan juga ayah yang merokok, memiliki potensi tujuh kali lebih besar untuk meninggal karena sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Lalu, anak-anak dari orangtua merokok tercatat memiliki rekor kunjungan ke dokter, 2-3 lebih banyak dibanding anak dengan orangtua tak merokok.

Biasanya keluhan yang umum muncul adalah infeksi pernafasan, atau penyakit terkait alergi. Selain itu, anak-anak yang terpapar asap pasif di rumah memiliki kadar HDL rendah. HDL adalah kolesterol baik yang membantu melindungi manusia dari penyakit arteri koroner.

Sebuah studi lain menemukan, anak yang tumbuh di rumah di mana kedua orangtuanya merokok, dapat melipatgandakan risiko anak terkena kanker paru-paru di kemudian hari. Lalu, apa pengaruh rokok terhadap ASI? Sebuah riset menunjukkan, ibu dengan kebiasaan merokok cenderung menyapih anaknya lebih awal. Selain itu, ada pula laporan yang menyebutkan, ibu merokok memiliki tingkat produktivitas ASI yang terus menurun. Sejalan dengan yang telah disebutkan di atas, tingkat prolaktin pada ibu yang merokok menjadi lebih rendah. Padahal, hormon ini diperlukan untuk produksi ASI.

Seperti dikutip dari kompas.com, studi yang dilakukan di tahun 2004, menunjukkan bahwa ibu merokok yang tinggal di daerah dengan kekurangan yodium ringan sampai sedang memiliki lebih sedikit yodium dalam ASI. Padahal yodium diperlukan untuk fungsi tiroid bayi. Karenanya, ibu menyusui yang merokok disarankan untuk mempertimbangkan pemakaian suplemen yodium.

Demi kesehatan si anak, pilihan untuk mencoba mengurangi banyaknya rokok yang dikonsumsi menjadi langkah yang baik untuk dilakukan ya Bun. Semakin sedikit merokok, maka hal itu pun akan memperkecil kemungkinan munculnya risiko. Sebaliknya, risiko akan terus membesar bila si ibu bisa merokok apalagi hingga 20 batang per hari.

Dengan berbagai risiko dari merokok dan hubungannya dengan bayi, maka ibu sangat disarankan untuk berhenti merokok. Namun jika hal tersebut masih sulit dilakukan, jangan berhenti menyusui selama ASI masih terus diproduksi. Selain itu jangan pernah merokok di ruangan yang sama dengan bayi, apalagi menyusui sambil merokok. Menyusui sambil merokok meningkatkan risiko bayi terpapar asap rokok dan risiko tersundut.

Merokoklah segera setelah rampung memberikan ASI. Buatlah rentang waktu selebar mungkin antara merokok dan menyusui. Dibutuhkan 95 menit setelah merokok untuk menghilangkan separuh dari pengaruh nikotin yang melakat pada tubuh di ibu. Kalau memang Bunda masih belum bisa lepas dari rokok.

Tapi, sebagai orang tua, sebaiknya mengutamakan kesehatan dan kepentingan anak dibanding kenyamanan pribadi. Bagaimana pun, berhenti merokok akan jauh lebih baik bagi kondisi ibu dan bayi Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Membiarkan Si Kecil Terpapar Asap Rokok Sama dengan Melakukan Penganiayaan

ash-burning-cigar-70088

Kepada para orangtua, terutama yang masih jadi perokok aktif, ketahuilah, merokok dekat anak adalah penganiayaan terhadap anak. Begitulah ungkap Adam Goldstein, seorang dokter praktik sekaligus profesor dan direktur Tobacco Intervention Program di University of North Carolina, Amerika Serikat. Lebih lanjut lagi ia mengatakan, paparan terhadap asap rokok memicu kanker loh Bun.

Orangtua yang lalai atau sengaja mengabaikan hal ini bahkan dilakukan berulangkali dianggap melakukan penganiayaan terhadap anak. Mengutip dari Tempo.co, berdasarkan data per 2015 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI, lebih dari 40 juta anak Indonesia merupakan perokok pasif lantaran tinggal bersama orangtua perokok atau dekat dengan orang dewasa yang merokok.

Bayangkan, satu batang rokok mengandung lebih dari 250 bahan kimia aktif yang bersifat karsinogenik alias penyebab kanker termasuk formaldehida, benzena, vinil klorida, arsenik, amonia, dan hidrogen sianida.

Belum lagi asap buangan rokok mengandung karbon monoksida lima kali lipat, tar dan nikotin tiga kali lipat, dan amonia hingga 46 kali lipat lebih banyak daripada asap yang dihirup langsung oleh perokok aktif. Ini artinya, peluang kanker bagi para perokok pasif bisa mencapai hingga 50 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang merokok.

Bunda pun perlu tahu, paru-paru anak tentunya lebih kecil dari paru-paru orang dewasa. Anak-anak juga bernapas lebih cepat daripada orang dewasa. Karenanya, anak-anak bisa menghirup lebih banyak zat-zat kimia berbahaya per berat tubuh mereka dibandingkan orang dewasa dalam waktu yang bersamaan.

Di lain sisi, sistem kekebalan tubuh anak-anak pun belum terbentuk dengan sempurna sehingga mereka lebih rentan terkena radang pernapasan. Bahkan bayi yang sering terpapar oleh asap rokok memiliki peluang yang tinggi terhadap risiko kematian akibat Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) daripada bayi yang tidak terpapar oleh asap rokok.

Berdasarkan data dari UNICEF pada tahun 2012, pneumonia yang disebabkan lantaran menghirup asap rokok menempati peringkat tertinggi kematian anak Indonesia, tercatat sebesar 14% atau sekitar 21 ribu anak yang jadi korbannya. Angka ini melebihi angka kematian akibat AIDS, malaria, dan TBC. Karenanya, Bunda perlu tahu pengaruh asap rokok bagi kesehatan buah hati Bunda. Sebab selain masalah di atas, asap rokok menyebabkan:

  1. Janin berisiko mengalami BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) saat dilahirkan. Ibu hamil yang menghirup asap rokok, atau yang merokok, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melahirkan bayi kecil. Kondisi bayi yang mengalami BBLR berisiko tinggi terhadap berbagai macam isu kesehatan.
  2. Sejak di dalam kandungan, paru-paru bayi jadi lemah. Bayi yang terpapar bahkan menghirup asap rokok buangan semenjak lahir akan mengembangkan paru-paru yang lemah, dan bisa meningkatkan risiko berbagai macam penyakit pernapasan.
  3. Si kecil berisiko alami asma berat atau akut. Bahkan anak-anak yang tinggal seatap dengan orangtua perokok lebih rentan terhadap batuk, batuk berdahak, suara mengi, dan sesak napas dibandingkan dengan anak-anak lainnya yang orangtuanya bukan perokok.
  4. Bahkan karena terlalu sering terpapar asap rokok dalam jangka waktu lama, hal ini bisa memicu kerusakan kognitif pada anak. Hal ini akan membuat kemampuan belajar anak menjadi lambat dan menurun. Kadar yang lebih tinggi dari paparan asap rokok juga terkait dengan kemampuan matematika dan penalaran visuospatial anak yang jauh di bawah rata-rata loh Bun.
  5. IQ anak pun rendah. Anak-anak yang ibunya perokok aktif (merokok 1 pak per hari selama kehamilan) menunjukkan hasil tes IQ rata-rata lebih rendah 2,87 poin daripada anak-anak normal dengan orangtua nonperokok.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Sebab Memarahi Buah Hati di Hadapan Orang Lain Sama Saja Merusak Psikologisnya

pexels-photo-821529

Sebagai seorang ibu, melihat tumbuh kembang si kecil adalah hal yang membahagiakan. Mulai dari mengajarinya makan, belajar berbicara, hingga akhirnya bisa melihatnya aktif berjalan dan berlari.

Namun ada kalanya sebagai orang tua, harus bersiap menghadapi tingkah laku si kecil yang seringkali membuat kewalahan dan membuat sakit kepala. Ketika merasa anak sudah mulai sulit untuk dikendalikan, umumnya orang tua secara sadar atau tidak, sering memarahi anak yang dianggap melakukan kesalahan. Parahnya lagi hal ini sering dilakukan di tempat umum bun. Apa Bunda juga seperti itu?

Tingkah anak yang beragam seperti merengek minta sesuatu, sering menjadi penyebab orangtua kehilangan kesabaran. Padahal, memarahi anak di depan umum bukan hal yang patut Bunda lakukan sebagai orangtua, karena dapat memberi dampak buruk bagi anak.

Si Kecil Jadi Minder

Tak ada anak yang suka dimarahi orangtua terlebih saat di depan umum. Saat orangtua melakukan hal tersebut, memarahi atau memukul si kecil di depan umum, dia akan merasa malu sebagaimana orang dewasa. Hati-hati Bun, lama kelamaan si kecil akan minder dan malu bila berhadapan dengan orang lain karena takut kalau akan dimarahi orangtua.

Ia Tak Percaya Diri Bahkan Takut untuk Bersosialisasi

Saat anak sudah merasa minder dan tidak percaya diri untuk tampil di depan umum, hal ini akan menyebabkan anak takut bersosialisasi. Yap. ketidakpercayaan mereka tak datang dengan begitu saja. Kondisi tersebut, bisa jadi mereka alami karena Bunda terbilang cukup sering memarahinya di depan umum, yang kemudian membuat ia malu pada teman sabaya. Alhasil, anak akan tumbuh dengan sifat minder dan takut bersosialisasi.

Anak Juga Jadi Tak Berani Berekspresi

Ketika sedang berjalan-jalan di tempat umum, tak jarang anak-anak melakukan hal yang diluar kendali, entah karena ingin diperhatikan oleh banyak orang atau karena keingintahuannya terhadap suatu hal sehingga melakukan sesuatu yang membuat Bunda geleng-geleng kepala. Tak jarang orang tua yang kesal, lantas segera memarahinya dengan nada bicara yang tinggi, bahkan bisa pula dengan mencubitnya.

Menimbulkan Sifat Keras dan Egois pada Diri si Kecil 

Perilaku memarahi anak di depan umum yang kerap dilakukan orang tua akan menimbulkan sikap keras terhadap anak. Bila dilakukan secara terus-menerus, anak akan menjadi pribadi yang memberontak dan keras karena merasa tidak disayangi oleh kedua orang tuanya.

Kepercayaannya terhadap lingkungan sekitar dan orang lain perlahan menghilang, hal ini mengakibatkan dirinya memiliki sifat yang arogan dan cuek terhadap apapun yang terjadi di sekelilingnya. Sikap seperti ini tentunya akan menyebabkan kesulitan dalam bersosialisasi terhadap orang lain di masa yang akan datang.

Bahkan Bukan Tak Mungkin si Kecil Jadi Tak Hormat pada Orangtuanya

Saat orangtua memarahi anak di depan umum, anak akan merasa dipermalukan sehingga mereka tidak lantas takut, namun malah menimbulkan kebencian di pikiran mereka. Memarahi anak di depan umum bukanlah bentuk kedisplinan karena memberikan trauma pada anak.

Karena ketika dimarahi di depan banyak orang, bukan hanya perasaan sedih yang dirasakan tapi juga malu dan takut karena banyaknya orang-orang yang memperhatikan. Rasa malu ini dapat berakibat anak menjadi tidak percaya diri dan tidak berani berekspresi ketika melakukan kesalahan di kemudian hari karena takut akan dimarahi lagi oleh orang tua.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top