Parenting

Sebelum Membawa si Kecil ke Kantor, Pertimbangkan Lima Hal Ini ya Bun!

Mom

Bekerja dan mengasuh anak memang tidaklah mudah. Kadang, membawa anak ke tempat kerja atau ke kantor terpaksa dilakukan sebagian orangtua terutama ibu. Hanya saja, saat membawa si kecil ke kantor, seorang ibu bisa saja didera berbagai kekhawatiran.

Misalnya, pihak kantor nggak mengizinkan, khawatir anak rewel dan merasa tak enak hati karena mengganggu aktivitas rekam kerja. Maka untuk itu, saat Bunda memang terpaksa mengajak anak ke kantor, setidaknya terapkan lima tips ini dulu yuk Bun.

Beritahu Rekan Kerja Bunda Terlebih Dahulu

Ketika Bunda berencana mengajak buah hati ke kantor, memang ada baiknya kabarkan rekan kerja terlebih dahulu ya Bun. Bahkan mungkin Bunda juga perlu mengabari atasan. Ini karena supaya lingkungan sekitar Bunda tak terkejut saat Bunda mengajak buah hati untuk datang ke kantor.

Selalu Beri Waktu untuk Buah Hati ya Bun

Ketika anak aktif di kantor, Bunda harus selalu ada waktu untuknya. Selalu perhatikan apa yang dipegangnya ya Bun. Jangan lupa, periksa apakah popoknya sudah penuh dan tetap perhatikan jadwal makan anak. Di lain sisi, Bunda juga bisa mengajak anak berkeliling kantor agar dia tidak jenuh. Jangan lupa, Bun, pastikan Bunda punya tempat tidur siang yang nyaman agar anak tidak merasa lelah selama di kantor Bunda.

Membawa Peralatan dan Mainan Miliknya Ya Bun

Bila memutuskan mengajak si kecil ke kantor, maka Bunda harus mulai menyiapkan perlengkapan anak mulai dari susu, popok, celana, dan mainannya, Bun. Bawalah mainan anak seperti alat perlengkapan menggambar, crayon, iPad atau flash card supaya buah hati tak bosan.

Atau Kalau Ia Bukan Lagi Balita, Ajaklah Ia Beraktivitas

Jika anak sudah lebih besar, tak ada salahnya Bunda meminta dia membantu mengerjakan pekerjaan kantor seperti menyusun dokumen. Bukan maksudnya menyuruh, tapi biarkan ia melakukan sedikit aktivitas selama Bunda bekerja. Terpenting, pastikan juga buah hati malah tak bikin Bunda repot ya.

Ajak Pendamping atau Pengasuh Ikut Serta Pun Tak Masalah

Kalau dirasa pekerjaan Bunda memang cukup melelahkan apalagi kalau sampai sore, namun tetap ingin mengajak buah hati, maka jika memungkinkan, Bunda bisa mengajak saudara, adik atau anggota keluarga lain untuk membantu menjaga anak. Membawa anak ke kantor memang bisa jadi dilema tersendiri untuk para ibu.

Bahkan, sebagian praktisi kesehatan anak tidak menyarankan orang tua mengajak anaknya ke kantor dikarenakan faktor lingkungan yang tidak ramah untuk anak nih, Bun.

“Anak jangan dibawa ke kantor, kan lingkungannya nggak bisa membiarkan dia main-main nanti malah stres,” kata Dr dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K), dilansir detikcom.

Belum lagi kalau di tempat kerja ada karyawan yang badannya mungkin sedang tidak fit, risiko anak tertular pun pasti ada. Karena itu jika tidak ada pengasuh ataupun keluarga yang membantu mengasuh buah hati. sebaiknya orang tua punya plan B, antara lain dengan menitipkan anak di day care atau mengambil cuti.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Terlalu Riskan Bila Memberi MPASI Sebelum Usia Bayi Genap 6 Bulan

baby-baby-eating-chair-973970 (3)

Bun, memberikan MPASI tentu ada tahapannya ya. Biasanya bayi dapat diberikan MPASI bila sudah memasukki usia 6 bulan. Namun ada juga beberapa orangtua yang memilih memberikan MPASI sekalipun si kecil masih berusia kurang dari 6 bulan.

Padahal di usia ini, si kecil belum dianjurkan untuk menerima makanan dengan bentuk atau tekstur lain selain ASI. Ini karena usia tersebut sangat berpengaruh pada kondisi perncernaan dan daya tahan tubuh bayi yang belum sempurna.

Sementara itu, menurut dr Reza Fahlevi seperti dikutip dari Liputan6.com, sejak usia 4-6 bulan, bayi sudah mampu mengontrol kepala dan memiliki koordinasi dengan mulut. Selain itu, gusi bayi mulai mengeras dan saluran pencernaan juga sudah mulai menghasilkan enzim-enzim pencernaan.

“Namun, pada usia 4-6 bulan, kemampuan makan bayi baru dalam tahap perkembangan, sehingga belum cukup sempurna untuk menerima makanan semi padat.” jelas dr. Reza. Bayi baru benar-benar siap untuk menerima makanan semi padat pada usia 6 bulan, sehingga berbagai organisasi kesehatan anak di dunia hingga saat ini menyarankan pemberian MPASI baru bisa dimulai setelah bayi berusia 6 bulan.

Kenali Bahaya Bila Terlalu Cepat Memberikan MPASI

Sementara itu, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Syarief Darmawan, juga mengatakan jika Bunda memberikan MPASI pada anak yang usianya kurang dari 6 bulan, justru memperbesar peluang si kecil mengalami inflamasi usus yang akan menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi, Bun.

Kalau dibiarkan, nantinya masalah ini akan jadi pemicu terhambatnya tumbuh kembang si kecil. Bila tumbuh kembang terhambat, tinggi badannya akan sukar bertambah. Bunda perlu tahu, tinggi badan adalah parameter pertumbuhan yang paling mudah dikenali orang tua.

Dampak lainnya, anak juga rentan mengalami gangguan kecerdasan, motorik, ataupun gangguan fungsi tubuh lain. Jadi, orang tua sebaiknya tidak buru-buru memberikan MPASI. Meski ada teman sesama ibu yang kerap “mengompori”, sebaiknya jangan dilakukan. Pemberian MPASI yang kaya tekstur sebelum usia anak 6 bulan juga berisiko menyumbat usus yang berujung pada gangguan pencernaan.

Caritahu Tahap Pemberian MPASI ya Bun

Pemberian MPASI sendiri mesti dilakukan secara bertahap. Misalnya, mulai dari tepung beras atau yang kental namun halus, baru kemudian yang lebih kaya tekstur. Meski orang tua tidak disarankan untuk memberikan MPASI terlalu dini, ahli kesehatan juga tidak membenarkan tindakan pemberian MPASI yang terlambat. Sebab, keterlambatan pemberian MPASI dapat berdampak pada gagal tumbuh dan malnutrisi pada bayi.

“Setelah usianya 6 bulan, ASI saja tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, sehingga jika pemberian MPASI tidak dimulai, anak akan kekurangan energi, berisiko kena gizi buruk, serta gangguan pertumbuhan.” dr. Reza menegaskan.

Selagi memberikan MPASI, ASI pun masih wajib diberikan hingga usia anak 2 tahun. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan agar Anda tidak salah dalam memberikan gizi si Kecil, antara lain sebagai berikut:

Pada usia 6-8 bulan, sekitar ⅔ kebutuhan energi bayi masih diperoleh dari ASI dan ⅓ dari MPASI.Pada usia 9-11 bulan, sekitar ½ kebutuhan energi bayi diperoleh dari ASI dan ½ lagi dari MPASI. Pada usia 12 bulan hingga 2 tahun, ⅓ kebutuhan energi bayi diperoleh dari ASI dan ⅔ diperoleh dari MPASI. Penting bagi orang tua untuk memahami soal kapan waktu yang tepat dalam mencukupi kebutuhan gizi buah hatinya.

Jangan sampai, maksud hati ingin mendukung pertumbuhan anak dengan memberikan makanan semi padat sebelum waktunya, justru membuat si Kecil mengalami gangguan kesehatan. Pemberian nutrisi sebaiknya dilakukan secara bertahap, tetapi tidak terlambat. Sebab, memberikan MPASI terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama berisiko buruk terhadap kesehatan anak.

Karena Memberikan MPASI Sebelum Waktunya, Dapat Membuat Si Kecil Rentan Sakit

Tak hanya organ tubuh bayi yang berusia dibawah 6 bulan belum berfungsi optimal, tapi juga dengan sistem imunnya. Biasanya sistem imun bayi masih sangat lemah dalam melindungi tubuh terhadap kuman-kuman penyakit. Maka itu, ibu tidak boleh sembarangan memberikan asupan makanan.

Pemberian makanan yang kurang higenis untuk si kecil justru bisa membuatnya rentan sakit, sebab sistem kekebalan tidak bisa melawan dengan baik. Apabila kondisi ini dibiarkan saja dan tidak diatasi maka bayi bisa mengalami masalah pencernaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Hati-hati Jangan Diremas! Kertas Struk Ternyata Mengandung Racun Berbahaya

airplane-childhood-close-up-707191

Bun, tentu Bunda tak asing dengan kertas struk yang sering Bunda dapatkan setelah berbelanja atau melakukan transaksi di ATM. Namun tahukah Bunda, kertas struk atau nama lainnya kertas thermal sangat berbahaya untuk tubuh terutama bila Bunda terbiasa meremasnya ini setelah menerima struk belanja.

Kertas struk memang diketahui mengandung zat kimia beracun yaitu BPA dan BPS. Kedua zat ini sangat berbahaya lho Bun. Kertas struk biasanya dikemas dalam bentuk rol dan dipasarkan dengan sebutan thermal paper roll. Mengutip dari sfchronicle.com, kertas struk dinamakan kertas thermal lantaran kertas tersebut bekerja berdasarkan panas atau thermal yang dikenakan pada bahan kertas tersebut.

Bunda perlu tahu, thermal paper adalah kertas yang dipenuhi dengan bahan kimia yang akan berubah warna kalau dipanaskan. Permukaan kertas yang terlihat halus sebenarnya dilapisi campuran bahan pewarna yang padat dan kandungan yang sesuai seperti fluoran leuco dye dan octadecylphosphonoci acids.

Seperti disebutkan sebelumnya, konsentrasi BPA alias Bisphenol A dan BPS yaitu Bisphenol S yang tinggi memang berbahaya. Kedua bahan ini merupakan bahan pemecah endokrin, Bun. Bila Bunda melihat adanya tinta yang tercetak di struk, maka ada zat penguat warna yang bersumber dari kedua zat kimia ini.

Ironisnya, kebiasaan banyak orang yaitu saat mendapatkan struk, kertas tersebut tak langsung dibuang. Melainkan meremas kertas tersebut lebih dulu. Faktanya, ternyata meremas kertas struk dari mesin ATM atau struk belanja sama bahayanya dengan menyimpan struk di dompet atau di kantong celana.

Namun masalahnya adalah, bahan kertas thermal ini memiliki bahan kimia BPA (Bisphenol A) dan dan BPS (bisphenol S) yang berpotensi menyebabkan datangnya beberapa penyakit termasuk penyebab munculnya penyakit kanker.

Kertas ini juga akan cenderung mudah berubah warna saat terpapar panas. Fakta ini dibuktikan dalam penelitian organisasi Perlindungan Lingkungan Hidup AS. Dalam penelitian yang mereka lakukan disebutkan jika kita menyentuh 2,5 mikrogram BPA yang bisa ditemukan di dalam kertas struk ATM selama 10 detik saja, maka kita akan terpapar bahaya dari bahan bersifat karsinogenik tersebut.

Bahkan, risiko ini akan meningkat 1,5 kali lipat jika kita meremas kertas struk ATM tersebut. BPA dan BPS tadi bisa meresap ke lapisan bawah kulit dan masuk ke aliran darah, Bun. Lebih lanjut lagi, mengutip dari Plastic Pollution Coalition, AS, BPA yang ada di kertas struk bisa mengganggu sistem reproduksi pada pria dan wanita. Hal tersebut dapat terjadi akibat menyerapnya senyawa kimia yang menyerupai estrogen tersebut ke dalam kulit.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Setiap Orangtua Mewarisi Empat Hal Ini Pada Anaknya

adult-baby-child-1776135 (1)

Bunda pasti sering mendapati, si kakak mirip ayah, atau si adik mirip Bunda. Bahkan ada juga anak yang dianugerahi wajah gabungan kedua orangtuanya. Ya, faktor genetik disini berperan sebagai pelaku utama yang membuat seorang anak telihat mirip bahkan serupa dengan orangtuanya. Lebih jauh lagi, orangtua tak hanya mewarisi kemiripan wajah lho. Ada beberapa warisan alami orangtua yang Bunda perlu tahu.

Risiko Penyakit

Tubuh manusia nan unik terdiri dari triliunan sel. Dalam setiap sel tersebut, terdapat struktur inti atau nukleus yang di dalamnya berisi kromosom. Masing-masing kromosom dilengkapi dengan untaian asam deoksiribonukleat atau DNA. Nah, gen adalah bagian dari DNA yang nantinya diturunkan dari orangtua ke anak. Bunda perlu tahu, setiap anak normalnya memiliki dua salinan gen dari kedua orangtua.

Mengutip Kompas.com, ketika nantinya DNA yang telah diturunkan ini mengalami kerusakan, maka strukturnya pun akan berubah. Kerusakan pada struktur DNA ini bisa dipicu oleh berbagai hal, salah satunya paparan bahan kimia.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan munculnya penyakit pada tubuh. Sayangnya, struktur DNA yang rusak tersebut bisa menurun pada anak. Terlebih jika gen tersebut cukup kuat, sehingga akan mengalahkan gen lainnya yang tidak membawa penyakit. Otomatis saat dilahirkan, kemungkinan besar anak sudah memiliki risiko penyakit keturunan yang dialami oleh orangtuanya.

Ciri Fisik

Bentuk wajah merupakan ciri fisik. Dan kemiripan tersebut memang dipengaruhi oleh genetik dari orangtuanya. DNA itu sendiri menyumbang sebanyak 23 pasang kromosom untuk masing-masing tubuh anak.

Dengan kata lain, ayah dan ibu akan menyumbang masing-masing 23 kromosom, yang akhirnya membentuk 46 buah kromosom total alias 23 pasang kromosom. Untuk itu, tak hanya wajah, mungkin rambut, bentuk kuku, bahkan warna kulit pun merupakan wariasan dari orangtua.

Tinggi Badan

Mengutip dari Genetics Home Reference, para peneliti meyakini bahwa sekitar 80 persen tinggi badan seorang anak dipengaruhi oleh faktor keturunan. Atau dengan kata lain, tubuh anak bisa tinggi atau pendek yakni karena mewarisi “bakat” dari orangtuanya. Ada berbagai variasi gen yang bertugas untuk menentukan ukuran tinggi badan anak. Itu sebabnya, tentu ada anak yang tubuhnya tinggi semampai, tapi ada juga yang biasa saja atau cenderung pendek. Hal tersebut biasanya akan dengan mudah terjawab ketika melihat postur tubuh orangtuanya.

Dalam arti, fisik tubuh anak yang tinggi sebenarnya diperoleh karena diturunkan dari orangtua dengan fisik yang serupa. Namun, lain lagi ceritanya ketika antar saudara kandung ternyata memiliki tinggi badan yang berbeda. Ini bisa dikarenakan adanya kombinasi gen kedua orangtua yang berbeda, sehingga ukuran tinggi badan antara kakak dan adik biasanya juga tidak sama.

Ukuran Payudara

Bun, tahukah bila ukuran payudara pun diwariskan? Sebuah penelitian yang dimuat dalam BMC Medical Genetics, menemukan bahwa variasi genetik orangtua, khususnya ibu, menentukan ukuran payudara anak perempuannya.

Artinya, anak perempuan yang lahir dari seorang ibu dengan payudara besar, kemungkinan akan memiliki ukuran payudara yang besar pula. Sebaliknya, jika ibu dari anak perempuan memiliki ukuran payudara yang sedang atau bahkan kecil, kemungkinan pertumbuhan ukuran payudara anaknya juga tidak terlalu besar.

Nah, fakta ini didukung dari hasil penelitian dari jurnal Twin Research and and Human Genetics, bahwa sekitar 56 persen besar kemungkinannya ukuran payudara diturunkan dari orangtua ke anak. Hasil tersebut didapat dengan membandingkan ukuran cup bra pada sekitar 16.000 wanita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top