Parenting

Sebar Video Saat Bunda Menghukum Buah Hati Hanya Akan Meninggalkan Trauma Mendalam Baginya Lho, Bun!

pexels-photo-262315

Bagi sebagian orangtua, menghukum anak mereka dengan merekamnya sembari memberikan hukuman baik berupa nasehat maupun omelan dan kemudian menyebarkannya dianggap jadi cara yang tepat untuk memberi efek jera pada anak. Padahal, cara seperti ini justru tak dianjurkan oleh para pakar parenting lho, Bun.

nature-people-girl-forest-12165

Memang, gaya hidup sekarang ini membuat kebanyakan orangtua rasanya ingin sekali membagikan apa pun yang terkait cara mendidik anak mereka di media sosial. Kendati demikian, sejatinya Bunda bisa lebih bijak saat hendak membuat postingan atau mengunggah sesuatu. Sebab menurut parenting coach Sue Atkins, mempermalukan anak di internet adalah hal yang aneh.

“Mereka melakukan ini untuk siapa dan mengapa? Ini tak akan mendatangkan keuntungan untuk anak. Kenapa orangtua tak mencoba memilih bicara dengan anak lalu mengajari mereka tanpa harus menyebarluaskan apa kesalahan anak dan hukuman yang diberi. Orangtua seperti ini umumnya nggak akan dihormati oleh anak-anak mereka,” tutur Sue dikutip dari Spring Field Daily Record.

Sedangkan, psikolog anak Karyl McBride mengatakan, saat orangtua menghukum anak dengan memarahi anak lalu merekam video yang kemudian diunggah ke internet, hal itu sejatinya menunjukkan ketiadaan ikatan yang dekat antara orangtua dan anak. Kemudian, anak bisa tumbuh dengan pemikiran bahwa dia adalah orang jahat.
“Anak-anak nggak akan percaya pada kita orangtuanya dan anak selalu merasa dia adalah orang yang buruk dan sudah pasti ini nggak baik untuk perkembangan anak,” ujar Karyl seperti dilansir BBC.

Bahkan, menurut penuturan pakar keluarga Dr Gail Gross, tindakan semacam itu tak bisa dibenarkan karena sama saja orangtua sedang melakukan kekerasan pada anak lho, Bun. Menurut Gail, orangtua seharusnya memperbaiki tingkah laku anak mereka dengan cara yang aman.

pexels-photo-262103 (1)

Setelah menyebarluaskan video tersebut, akankah orangtua memikirkan dampaknya? Sebab tak menutup kemungkinan si kecil justru merasa harga dirinya rendah, cemas, bahkan bisa saja meninggalkan trauma.
“Dengan menunjukkan bagaimana mereka menghukum anaknya lalu disebarkan via online, justru terlihat si orangtua kurang dewasa. Ingat, anak adalah anak. Dia tidak memiliki keterampilan mengatasi apa yang kita lakukan. Anak perlu orangtua untuk memberi panduan bagaimana menyelesaikan masalah,” kata Gail.

Untuk itu, Gail menyarankan, kalaupun si kecil melakukan kesalahan, ada lho beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua tanpa harus mempermalukannya yaitu:

  1. Ajak anak mengobrol tentang apa yang dia lakukan. Ambil waktu ketika sedang santai dan tidak dalam suasana formal
  2. Beri kesempatan anak bicara dan jadilah pendengar yang aktif
  3. Tatap mata anak saat dia bicara
  4.  Utarakan apa yang kita rasa, tapi jangan membela diri kita
  5. Puji anak ketika dia melakukan hal positif
  6. Buat konsekuensi untuk perilaku negatif yang sudah disepakati.

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Cerita Donna Agnesia Urus Tiga Buah Hati yang Beranjak Remaja

donna

Bun, sebagai seorang ibu, tentu kita punya tantangan masing-masing dalam menjalankan peran ya. Nah, hal ini juga yang dirasakan oleh Donna Agnesia. Perempuan yang menikah dengan Darius Sinathrya ini dikaruniai tiga orang anak yaitu Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro, Diego Andres Sinathrya dan Quinesha Sabrina Sinathrya.

Sebagai wanita karier sekaligus ibu dengan tiga anak, Donna pun dituntut untuk dapat membagi waktu. Bagi Donna, salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh ibu bekerja adalah memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, meskipun tak bisa mendampingi selama 24 jam.

“Saya pergi keluar rumah, saya pastikan anak-anak di rumah kebutuhannya terpenuhi. Dia tidak pernah kehilangan kasih sayang, walaupun papa mamanya sibuk bekerja,” kata Donna Agnesia seperti dikutip dari Kumparan, Selasa (25/6).

Donna mengatakan seorang ibu harus bisa menguasai banyak hal. Bukan hanya pintar mengatur keuangan dan anak, tapi juga bisa melihat bakat dan masa depan anak-anaknya.

“Aku juga masih belajar terus jadi ibu yang sempurna, paling enggak buat anak-anak saya dan oh ya, happy mom, happy life. Happy mom, happy kids,” tuturnya.

Ia juga mengatakan, sosok seorang ibu pun harus mampu menjadi teman, kakak, bahkan menjadi sosok ayah untuk anak-anaknya. Ia pernah merasakan peran sebagai ayah ketika Darius meninggalkan rumah untuk bekerja dalam waktu yang lama.

Kendati demikian, tanggung jawab untuk mengurus buah hati bukan hanya ada di tangan ibu saja. Kehadiran ayah juga penting untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

“Saya bilang ke Darius, ‘kita punya dua anak laki-laki, tapi di rumah isinya perempuan semua, butuh figur laki-laki. Jadi, kalau kamu lagi punya waktu di rumah manfaatkanlah itu untuk quality time sama anak-anak’,” ujar Donna.

Darius pun selalu menanamkan cara menjadi laki-laki yang baik kepada anak-anaknya ketika mereka sedang berkumpul bersama.

“Supaya anak bisa jadi laki-laki yang baik dan membangun keluarga, enggak bisa salah satu. Anak-anak bahagia itu, kalau melihat orang tuanya akur, rukun, gitu kan anak-anak jadi rasakan di keluarga,” tutup Donna Agnesia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Tips Me Time untuk Ibu Muda Ala Cynthia Riza

cynthia rizaa

Sebagai seorang ibu, ada baiknya Bunda tak hanya bekerja, tapi juga merawat diri sendiri atau melakukan self-care. Setelah bekerja seharian, entah di kantor atau merapikan rumah, maka Bunda punya hak istimewa yaitu melakoni me time guna relaksasi atau membuat seorang ibu jadi lebih percaya diri. Nah, salah satu ibu muda yang selalu menyediakan waktu untuk me time yakni Cynthia Riza, influencer sekaligus istri Giring Ganesha.

Cynthia bercerita setiap hari ia bangun setidaknya 1 jam sebelum suami dan anak-anaknya. Tujuannya, agar ia punya quality time untuk diri sendiri di pagi hari.

“Aku bangun jam 5 setiap hari. Biasanya aku siapin sarapan dulu, keperluan sekolah anak setelah semua beres baru aku mandi, pakai make-up, bangunin suami deh. Jadi aku bangunin suami udah cantik dan wangi. Merawat diri di pagi hari itu penting buat bikin mood enak sepanjang hari,” papar Cynthia.

Tak hanya di pagi hari, Cynthia juga meluangkan waktu untuk “mandi mewah” setiap sore. Yang dimaksud mandi mewah adalah mandi tanpa diteriaki anak sehingga ia tak perlu buru-buru. Tentu momen seperti itu langka ya, Moms, bagi para ibu. Namun karena dukungan suami dan anak-anaknya, Cyntia bisa menikmati mandi mewah ini setiap sore.

“Setiap hari aku butuh quality time di mandi sore aku. Anak-anak sudah tahu, kalau mama mandi sore, butuh 15 menit minimal, jangan diganggu dulu. Biasanya aku mandi sambil dengerin musik, nyanyi lagu kesukaan, kadang juga luluran. Keluar juga, sudah happy lagi,” cerita Cyntia.

Selain itu, Giring juga mendukung Cyntia untuk merawat diri dengan memberinya waktu untuk ke salon. Dalam seminggu, ia bisa 2-3 kali pergi ke salon. Cynthia mengaku kegiatan self-care ini membuatnya lebih nyaman dengan dirinya sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

KPAI Ungkapkan Keuntungan PPDB dengan Sistem Zonasi Nih Bun

children-close-up-crowd-764681

Tahukah Bunda, sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ternyata masih menuai pro dan kontra di berbagai kalangan. Kalau Bunda melihat dan membaca berita, masih banyak bahkan ratusan orang tua rela antre untuk mendaftarkan anaknya di sekolah pilihan. Lalu, ada pula yang melakukan protes lantaran anaknya dirasa pintar namun tak bisa melanjutkan pendidikan di sekolah unggulan.

Mengenai polemik sistem zonasi ini, ternyata KPAI punya pandangannya tersendiri. Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia bidang pendidikan, Retno Listyarti justru akan ada beberapa keuntungan yang dirasakan betul oleh anak lewat sistem zonasi PPDB 2019.

“Kami dari KPAI menilai bahwa mendekatkan anak dari rumah ke sekolah adalah kepentingan terbaik bagi anak. Sebagaimana amanat pada undang-undang perlindungan anak. Bayangkan anak yang rumahnya dekat, dia sehat enggak perlu naik kendaraan, cukup jalan kaki atau sepeda,” ujarnya kepada awak media, Rabu (19/6/2019).

Anak-anak Diharapkan Jadi Lebih Sehat

Anak-anak khususnya yang ada di Jakarta terbiasa berangkat ke sekolah sejak pagi hari sebelum jam enam. Untuk yang rumahnya jauh dari sekolah, hal ini membuat anak-anak melewatkan momen sarapan. Padahal, kalau bisa bersekolah di sekolah yang dekat rumah, kesehatan anak akan jauh lebih baik karena mereka jadi lebih sempat sarapan. Dengan jarak ke sekolah yang dekat, makanan siang bisa diantar orang rumah. Dari masalah gizi, kesehatan pencernaan bisa teratasi.

“Ketiga, anak ini karena dekat rumahnya dengan sekolah. Maka temannya di sekolah sama dengan teman mainnya di rumah. Kenal orang tuanya, keluarganya, ini akan menutup akses terkait dengan tawuran. Semuanya kenal, enggak mugkin tawuran. Ini kan baik dengan anak-anak,” kata Retno.

Sistem Zonasi Dianggap Mampu Menurunkan Angka Kekerasan

Retno melanjutkan, karena dekat dengan sekolah, jadi orang tua bisa terlibat dan memantau beragam kegiatan anak. Bahkan lebih jauh lagi, sistem zonasi dapat menurunkan angka kekerasan dalam pendidikan termasuk tawuran yang rentan meresahkan.

“Ketika mereka bergaul dengan teman yang diketahui sejak kecil. Bagus untuk tumbuh kembang anak. Apalagi kan anak SD, ngapain sih jauh-jauh sekolah? Kalau SMA, taruhlah di tempat yang agak jauh misalnya, mungkin pilihannya bisa lebih. Kalau SMA, mungkin dia mau lebih jauh, pergaulan yang luas. Ini orang tua mempermasalahkan nanti anaknya kurang pergaulan. Padahal sekarang semuanya lewat gadget, enggak terbatas ruang dan waktu,” tutur Retno.

Orangtua Pun Dapat Mengawasi Anak

KPAI memandang ini lebih penting bagi tumbuh kembang anak terutama anak SD. Sekarang kalau kita lihat yang anak SD, Bun, pasti semuanya dijemput dengan mobil, motor karena sekolahnya jauh. Jika dekat rumah, menurut Retno, kita sebagai orang tua bisa awasi anak.

“Semua hal yang membahayakan anak bisa kita minimalkan. Saat anak SMA atau SMK, misalnya pakai zonasi, mau lebih jauh, kita bisa lepas. Enggak ada syaratnya kalau SD. KPAI sepakat dengan sistem zonasi. Kita harus bersabar saat ini, hasilnya belum kelihatan karena baru mulai. Tapi perlahan akan mulai kelihatan contohnya di Kota Bekasi, di sana sudah membuka tujuh sekolah baru,” ujar Retno.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top