Parenting

Saat Si Kecil Susah Makan, Hadapi dengan Trik yang Menyenangkan, Bukan Memaksanya untuk Terus Makan

pexels-photo-437748

Menghadapi Si Kecil yang susah makan tentu membuat kesabaran orangtua diuji. Perusahaan YouGov dari Inggris memaparkan hasil survei bahwa 1 dari 4 orang tua menyerah menghadapi anaknya yang sulit mengonsumsi makanan sehat. Dan yang mengejutkan, 68 persen dari mereka merasa frustasi dan stres menghadapi situasi ini.

“Orang tua khawatir anak-anak mereka yang sulit makan tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Namun Anda tidak perlu khawatir, sebab masalah sulit makan pada anak adalah hal yang normal terjadi. Saya pun mengalaminya dan Si Kecil tidak suka mengonsumsi jenis makanan yang berwarna hijau,” ujar Dr Pixie, yang dikutip melalui Motherandbaby.co.uk.

Lantaran situasi ini, tak sedikit orangtua yang akhirnya memaksakan kehendak mereka agar anak tetap makan. Padahal, memaksa si kecil untuk mengonsumsi atau mengasup makanan, bukanlah solusi yang dianjurkan dokter anak bahkan ahli nutrisi sekalipun. Ini karena ada dampak negatif, terutama psikologis buah hati pun ikut terganggu.

Si Kecil Akan Merasa Tertekan

Membuka mulut dan menjejalkan makanan ke mulut anak sejatinya bukan cara yang tepat demi menakhlukkan buah hati yang susah makan. Dengan cara ini, justru Bunda memaksanya melakukan sesuatu yang tak ia inginkan dan sudah pasti ia akan merasa tertekan.

Bagaimanapun, jangan sepelekan perasaan anak, walaupun ia masih belum berusia satu tahun. Justru masa-masa inilah anak akan ‘merekam’ segala pengalaman dan kebiasaan yang Anda ajarkan kepadanya. Rasa tertekan yang ia alami bukan hanya akan menghalangi pertumbuhannya menjadi anak yang bahagia, namun juga kestabilan emosi di masa mendatang.

Anak Jadi Susah Makan bahkan Benci Makanan

Anak susah makan akan akan semakin susah makan jika Bunda menyalahkan makanan sebagai penyebab rasa tak nyaman. Bayangkan kalau Bunda di posisi buah hati, apa yang akan Bunda lakukan saat ibunya menjejalkan sendok berisi makanan padahal Bunda sudah berusaaha menutup mulut rapat-rapat?

Bun, menciptakan rasa tertekan pada usia dini justru membuat anak tumbuh menjadi anak yang tidak bahagia. Terlebih kalau sumber perasaan tertekannya kali ini karena Bunda memaksanya makan, bisa jadi yang terjadi anak di kemudian hari akan menolak makan setiap kali ia merasa kesal atau sedih. Ia menjadi trauma saat waktunya makan tiba.

Akan Muncul Sikap Negativistik Terhadap Bundanya

Sikap negativistik yang menjadi ciri usia batita antara lain ditandai dengan sikap penolakan terhadap rutinitas yang selama ini wajib dijalani anak. Namun, lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan.

Padahal cara ini justru harus dihindari. Bunda perlu tahu, ngototnya sikap anak sejatinya adalah wujud negativistik darinya. Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Kalau dari kecil ia terbiasa melakukan hal ini, bisa jadi sampai ia dewasa ia justru enggan makan atau sama sekali tak menyentuh daging.

Mungkin kalau Bunda menemukan ada anak tanggung yang enggan makan nasi, bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

Memaksanya Hanya Akan Melatihnya Kerap Berbohong

Karena sering dipaksa makan, maka lama kelamaan anak akan berbohong. Misal saat ditanya sudah makan atau belum, ia akan menjawab sudah padahal belum makan, makanan yang seharusnya ia makan, malah ia buang dan lain sebagainya. Ada baiknya saat Si Kecil enggan mengonsumsi makanan tertentu Bunda menggantinya dengan alternatif lain dengan kandungan gizi yang serupa.

Misal anak enggan makan nasi, maka ganti dengan jagung, singkong dengan kreasi yang menarik perhatian anak. Intinya, jangan sampai memaksanya dan muncul kencenderungan dalam diri si kecil untuk berbohong.

Karena Tak Kuasa Menolak dan Terpaksa Menerima Suapan Bunda, Bisa Saja Si Kecil Justru Memuntahkannya di Kemudian Waktu

Ini bisa terjadi saat si kecil dijejali dengan makanan padahal ia tidak menginginkannya, maka bukan tidak mungkin ia pun refleks memuntahkan makanan tersebut. Saat kondisi seperti itu, bukannya makanan yang masuk, malah semua isi lambungnya juga ikut keluar.

Apa iya Bunda mau hal tersebut terus menerus terjadi pada buah hati? Sementara Bunda tetap memaksanya mengasup makanan yang Bunda beri.

Anak Akan Semakin Benci Momen Makan apalagi Disuapi Oleh Ibunya

Bayangkan, padahal yang namanya momen menyuapi buah hati harusnya jadi momen  yang menyenangkan ya Bun. Tapi karena Bunda tetap memaksa si kecil agar mau mengasup makanan yang diberi, yang ada ia tak akan nyaman saat memasuki jam makan.

Bunda perlu tahu, bila anak sudah menolak makan lalu dipaksakan akan berdampak anak akan semakin menolak makan pada saat pemberian makan selanjutnya. Ini karena mereka merasa bahwa makan bukan suatu kegiatan yang menyenangkan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kesalahan yang Umum Dilakukan Orangtua Saat Menyuapi Anak

baby-baby-eating-chair-973970 (4)

Proses memberikan makan pada si kecil seharusnya menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Hanya saja, sebagai orangtua, ada kalanya Bunda mengabaikan beberapa hal yang akhirnya justru merugikan si kecil. Baik kebiasaan maupun asupan makanan yang diberikan, bisa jadi pemicu si kecil jadi bermasalah dengan kebiasaan makannya kelak. Untuk itu, perhatikan lagi ya Bun apa-apa saja yang sebaiknya tak dilakukan saat menyuapi si kecil.

Anti Makan Berantakan

Saat menyuapi si kecil dan suapan tersebut luber kemana-mana, pasti Bunda segera mencari lap basah dan membersihkannya sesegera mungkin. Rasanya jangan sampai si kecil terlihat kotor karena sisa makanan yang berantakan ke sisi-sisi wajah atau bahkan bajunya. Padahal, kebiasaan ini justru sebaiknya dikurangi. Biarkan si kecil bereksplorasi dengan kondisi ‘kotor’ yang muncul saat ia makan. Ia akan belajar tentang apa yang dikonsumsinya dari situ.

Untuk itu, tak usah khawatir atau takut kotor, justru biarkan si kecil makan sendiri saat usianya sudah cukup mampu untuk memegang sendok sendiri. Di masa-masa eksplorasi, berikan varian menu yang semakin beragam. Sembari mengajarinya tentang makanan, Bunda juga bisa mengajarinya untuk belajar bersih-bersih sendiri setelah makan.

Proses Menyuapi yang Terlalu Lama

Banyak sekali orangtua yang memilih untuk memanjakan buah hati mereka dengan selalu menyuapinya saat makan. Padahal, Bunda disarankan melatih si kecil untuk makan sendiri sejak usia 8-9. Baru kemudian di usia 12 bulan, ia sudah benar-benar memilih untuk makan sendiri dan menggunakan peralatan makan dengan baik. Jangan takut si kecil justru tak mau makan, bersabarlah dalam membimbingnya dan biarkan si kecil berproses.

Memilih Makanan yang Terlalu Sehat untuknya

Orangtua selalu terperangkap pada pemikiran bahwa bayi dan anak-anak harus diberikan makanan terbaik dan menyehatkan. Di lain sisi, tren makanan sehat pun semakin berkembang, dan menekankan bahwa golongan makanan sehat adalah buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.

Padahal makanan tersebut rendah lemak dan lebih cocok untuk orang dewasa yang tengah menjalankan diet sehat. Untuk itu, lebih bijaklah untuk urusan memberikan makanan pada si kecil ya Bun. Di usianya, mereka membutuhkan asupan lemak untuk tumbuh kembangnya.

Membiarkan Si Kecil Menggigit Makanan atau Mengonsumsi Minuman orang Dewasa

Mungkin Bunda sama sekali tak sadar ada beberapa kebiasaan orang dewasa yang justru membahayakan si kecil. Misalnya membiarkan ia menyeruput sedikit kopi atau atau memberikannya sepotong brownies. Padahal, ada bahaya yang mengintai. Kafein, soda, yang mungkin terkandung dalam minuman, akan mengancam kesehatannya.

Serta makanan manis akan membahayakan kesehatan giginya. Bahkan kalau si kecil sudah terlanjur menyukai rasanya, tak menutup kemungkinan ia akan meminta makanan itu lagi. Untuk itu, lebih berhati-hati ya Bun saat memberikan makanan atau snack pada si kecil. Di usianya, tak semua makanan disarankan untuk dikonsumsi. Terutama yang tinggi gula.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tips Mendongeng dari Pakar Sastra Anak Indonesia

story-4220329_640

Kebanyakan orangtua, khususnya Bunda kadang kala dilema tiap kali hendak mencoba mendongeng untuk si kecil di rumah. Biasanya kita takut gagal, tak didengar, takut tak bisa berekspresi di depan anak atau hal-hal lain yang membuat kita mengurungkan niat dan tak jadi mendongeng untuk si kecil. Padahal, sebenarnya semua orangtua bisa mendongeng kok Bun.

Nah Bun, Dr.Murti Bunanta SS., MA, selaku seorang Peneliti dan Pakar Sastra Anak Indonesia yang sudah berkecimpung dalam dunia dongeng sejak puluhan tahun lalu, menyebutkan jika peran orangtua dalam mendongeng sebenarnya adalah hal positif yang patut diaperisiasi.

Ditemui di acara Peluncuran ‘Dongeng Aku dan Kau’ dari Dancow, Kamis (18/7/2019) di The Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Beliau memberikan beberapa tips untuk bunda yang ingin mulai mendongeng buat si kecil namun masih bingung cara memulainya. Diantaranya :

  1. Ambil dan pilih cerita yang Bunda senangi, yang tak bersikap memaksa si kecil atau menakuti.
  2. Saat Bunda hendak mendongeng, jadilah seperti anak kecil dan ikut berimajinasi.
  3. Gunakan benda yang ada di sekitar sebagai objek untuk memberinya gambaran cerita yang sedang Bunda sampaikan.
  4. Bunda juga boleh mengarang cerita apa saja.
  5. Cari waktu yang nyaman untuk si kecil dan untuk Bunda juga.
  6. Jangan memaksa anak untuk mendengarkan, tetap bacakan dongeng meski ia tak memerhatikan. Perlahan, si kecil nanti akan mulai mendekat dan mendengarkan dongeng dari Bunda.
  7. Dan kalau anak terus meminta satu cerita yang sama secara terus menerus, Bunda jangan bosan, karena itu artinya ia sedang ingin memahami cerita itu secara mendalam.

Selain itu, Dr.Murti juga menyarankan, agar Bunda tak memaksa anak untuk diam atau meyelesaikan permainan yang ia sedang lakukan hanya untuk mendengar dongeng dari Bunda. Karena itu tak akan memberinya stimulasi  apa-apa.

Selain itu, pilih juga waktu yang tepat dimana Bunda sedang merasa nyaman dan senggan, dan begitu pula dengan anak. Sebab menurut beliau, anak akan lebih mudah mencerna kosa kata dan cerita yang kita sampaikan ketika ia sedang merasa nyaman dibanding ketika ia sedang mengantuk karena mendengar dongeng saat sedang tertidur pada malam hari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mainan Anak

Di AS, Mainan Forky Ditarik dari Pasaran Lantaran Dinilai Tak Aman

forky

Karakter baru Forky dalam film Toy Story 4 menuai polemik baru di kehidupan nyata. Terbaru, Disney telah mengeluarkan imbauan penarikan secara sukarela mainan Forky dengan alasan masalah keamanan. Bahkan Komisi Keamanan Produk Konsumen Disney melaporkan bila bagian mata Forky dapat terlepas dan menuai risiko tertelan pada anak di bawah umur tiga tahun.

Dilansir dari Aceshowbiz, Rabu, 10 Juli 2019 perusahaan akan mengembalikan dana secara penuh kepada pelanggan yang mengembalikan mainan tersebut.

“Kami mendukung pengembalian penuh mainan Forky. Tidak ada ada yang lebih penting dibanding keselamatan konsumen kami,” ujar Disney dalam sebuah pernyataan yang diunggah di Twitter pada Senin, 8 Juli. “Silakan hubungi 866-537-7649 atau kembalikan barang tersebut ke toko Disney / Disney Parks Amerika Utara.”

Mainan Forky memang dijual di Toko Disney, Disney Theme Parks, shopdisney.com dan melalui toko Disney di Amazon Marketplace dari April hingga Juni dengan harga sekitar US$20 atau Rp 281 ribu. Sekitar 80.650 mainan telah terjual di AS dan Kanada. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan karena belum ada cedera yang dilaporkan.

Dalam film Toy Story 4, Forky berjuang dengan krisis percaya diri setelah Bonnie menciptakannya dari sampah. Tubuh Forky terbuat dari senpu atau sendok garpu dan ditambahkan aksesoris lain sehingga membuatnya menjadi mainan yang utuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top