Parenting

Saat Si Kecil Aktif, Bunda Pun Harus Lebih Protektif

kidsss1

Saat si kecil sudah memasuki usia batita, rasa ingin tahunya jadi lebih besar, Bun. Ia pun siap “menginvansi” segala penjuru di sekitarnya demi mengatasi rasa ingin tahunya. Yup, mereka mulai aktif di setiap gerak geriknya. Kendati hal tersebut adalah hal baik, tak sedikit Bunda yang justru jadi khawatir karena anak yang terlampau aktif.

Si kecil pun belum punya pemikiran untuk mengukur seberapa aman atau bahayanya setiap hal yang ia lakukan. Itulah sebabnya anak kecil terlihat suka  melompat-lompat di tempat tidur atau meja, memanjat tembok bahkan melemparkan mainannya.

Menurut Mary Sheedy Kurcinka, penulis buku yang dikenal dengan karyanya yaitu Raising Your Spirited Child and Kids, Parents, and Power Struggles: Winning for a Lifetime, mendidik batita yang begitu aktif memang merupakan satu tantangan tersendiri bagi para orangtua.

Bunda harus benar-benar bekerja keras untuk bisa mengendalikan sikap si kecil. Selain itu, kita juga harus belajar meredam amarah, sehingga sikapnya tidak mudah marah ketika si kecil berbuat sesuatu yang menyusahkan bunda. Nah, Berikut ini tips yang bisa Bunda praktikkan di rumah saat sedang bersama si kecil  yang sedang aktif-aktifnya seperti dilansir dari ibupedia.com.

Hindarkan Si Kecil Dari Tempat-Tempat Berbahaya

Mengingat batita Bunda masih sangat aktif sebaiknya Bunda harus pandai-pandai dalam memilih perabotan di rumah. Pilihlah perabotan-perabotan yang aman untuk si kecil dengan menghindari memilih perabotan rumah tangga yang mudah pecah. Pilihlah perabotan yang mudah dijangkau oleh anak sehingga si kecil tak usah memanjat-manjat ataupun harus naik kursi untuk mendapatkan suatu barang karena letaknya lebih tinggi.

Begitupun ketika Bunda mengajak si kecil keluar rumah untuk makan di restaurant, pergi piknik atau berkunjung ke rumah teman. Pilihlah dan pikirkan dengan matang kemana Bunda harus pergi mengajak buah hati Bunda. Hal ini agar si kecil tidak merugikan orang lain disekitarnya dengan sikap aktifnya. Kewaspadaan tinggi orangtua harus terus dijaga agar si kecil terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kendalikan Sikap Aktif Buah Hati Bunda

Untuk mengendalikan batita yang aktif, Bunda bisa membujuknya dengan permainan-permainan yang menarik dan menantang. Kita bisa mencoba untuk memberinya clay atau lego, untuk batita perempuan Bunda bisa mengajaknya belajar mengenakan kutek dengan aksesoris- aksesorisnya. Hal ini bisa jadi alternatif untuk membantu Bunda menyalurkan sikap aktif anak Bunda.

Pastikan Buah Hati Bunda Mempunyai Waktu Untuk Bermain

Anak pada usia batita tentu masih sangat suka bermain dan berlari-lari di luar ruangan. Bermain sebenarnya bisa mengendalikan tingkat keaktifan mereka. Dengan bermain si kecil harus bisa bertoleransi dan menyesuaikan sikap dengan teman-teman lainya. Misalnya Bunda mengajak si kecil untuk bermain bola, Bunda menendang bola kearahnya lalu bola tersebut ditendang balik kearah Bunda dan seterusnya.

Bunda bisa lihat disini bahwa ternyata bermain hal kecil seperti itu memberi pelajaran pada si kecil untuk mampu mengontrol diri sehingga bola tidak keluar jalur dan bisa ditendang bergiliran. Jadi biarkan si kecil bermain dan berkembang secara alami. Semakin banyak ia bersosialisasi, semakin besar kemampuannya dalam mengontrol dirinya.

Jelas dan Konsisten

Si kecil yang sikapnya sangat aktif memerlukan aturan-aturan jelas yang diterapkan secara terus menerus serta tegas. Jadi sangat penting untuk memberikan batasan-batasan pada si kecil. Jika memang telah waktunya untuk si kecil tidur siang segeralah ajak ia tidur. Bila si kecil berontak tetaplah konsisten untuk mengajaknya tidur siang.

Jangan pernah sekalipun melewatkan jadwal tidur siangnya, hanya untuk sekedar menonton film favoritnya. Hal ini akan jadi boomerang bagi Bunda. Si kecil mungkin akan terus meminta hal serupa di hari-hari berikutnya. Jadi kedisiplinan harus tetap dijaga ya Bun.

Tetap Jaga Kontak Fisik Bunda dengan Si Kecil

“Batita yang mulai mandiri dalam melakukan semua kegiatannya tetap memerlukan sentuhan kasih orangtua mereka” kata Kurcinka. Sentuhan kasih seperti ketika Bunda mengelus-elus punggung si kecil sebelum tidur atau memeluk buah hati Bunda sambil bersenda gurau di pagi hari.

Hal-hal semacam ini membuat buah hati Bunda merasa dekat dengan Bunda dan percaya bahwa orangtua bukanlah orang yang akan membuat ia merasa terancam. Sehingga ketika dirinya berada di dekat Bunda, ia selalu merasa gembira.

Buatlah Situasi “Ya”

“Ya, aku mau coba” adalah kata-kata yang paling disukai batita” jelas Kurcinka. Biarkan anak Bunda belajar menuangkan jus kedalam gelasnya, belajar menggunakan garpu saat makan malam dan biarkan si kecil belajar mengenakan sepatunya sendiri, meskipun hasilnya akan terlihat berantakan.

Kegiatan ini sangat menguntungkan Bunda, lewat kegiatan ini Bunda bisa mengajari beberapa keterampilan pada si kecil, sekaligus bisa mengajari ia agar bisa melakukan hal-hal tersebut dengan baik dan benar.

Beritahulah Apa Yang Akan Dihadapinya

Semua batita mulai gelisah dan khawatir memikirkan apa yang terjadi setelah ini? Apakah ia akan melakukan sesuatu yang menyenangkan ataukah sesuatu yang ia tidak sukai? Maka dari itu sebaiknya para orangtua harus selalu mengingatkan dan memberitahu apa yang akan si kecil lakukan sehingga si kecil tidak merasa tertekan ketika orangtua ingin buah hatinya melakukan sesuatu yang orangtua inginkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Meski Gemas Mencium Bayi Baru Lahir Berbahaya loh Bun

baby-boy-child-67663

Bun, tahukan Bunda tentang kampanye #dontkissthebabies? Ya, seperti namanya, kampanye ini hadir guna memperingatkan orang dewasa agar tak sembarangan mencium bayi yang baru lahir lho. Ya, sebagai orang dewasa tentu Bunda ada perasaan gemas saat menengok atau melihat bayi yang baru lahir. Kadang, karena perasaan itu, kita pun jadi refleks langsung meminta untuk menggendong serta mencium si bayi mungil itu. Padahal, kebiasaan ini sebaiknya tak dilakukan.

NSW Health menyebutkan anak-anak terutama bayi baru lahir memiliki risiko tinggi mengalami penyakit infeksi karena sistem imunnya belum terbentuk sempurna. Apalagi bayi prematur dan bayi yang sedang sakit, risikonya kena penyakit infeksi jauh lebih tinggi. Bahkan, merilis dari The Going Home, sistem imun pada bayi umumnya baru terbentuk saat usianya satu bulan. Karenanya, Bunda harus lebih protektif bila ada tamu yang hendak menengok si kecil. Pastikan si tamu sudah mencuci tangan dengan bersih sebelum menyentuh si kecil.

“Direkomendasikan juga supaya orang dewasa yang sedang sakit nggak mendekati bayi dan asal mencium bayi baru lahir. Kemudian sebaiknya orang tua menghindari mengajak anak ke tempat ramai,” kata The Going Home dikutip dari Essential Baby.

Bun, risiko yang mungkin dialami si kecil tak bisa dianggap sepele. Tahun lalu, ibu bernama Brianna Nichols mengunggah foto bayinya yang mengalami infeksi pernapasan sehingga bayi tersebut kesulitan bernapas. Dalam unggahannya, Brianna memperingatkan agar jangan membiarkan orang lain bisa sembarangan mencium si kecil.

“Pastikan juga mereka sehat. Orang tua perlu tahu bahaya RSV (Respiratory Syncytial Virus), infeksi pernapasan yang bisa berakibat fatal pada bayi. Kita semua senang dengan bayi tapi ketika batuk atau pilek tolong jangan mendekat,” tutur Brianna.

RSV pada orang dewasa kelihatan seperti batuk dan pilek ringan. Namun bila bayi didera RSV, penyakit ini akan membuatnya susah bernapas. Karenanya, sebisa mungkin hindari mencium bayi saat menjenguknya. Sebab jika kita sedang pilek atau radang tenggorokan, besar kemungkinan si bayi akan tertular. Di lain sisi, sembarangan mencium bayi yang baru lahir pun bisa menularkan penyakit berbahaya diantaranya:

Virus Herpes Simpleks (HSV) Tipe 1

HSV tipe 1 ini umumnya menular melalui kontak dengan kulit orang lain dan air ludah orang yang menderita penyakit tersebut, misalnya setelah dicium oleh kerabat yang sudah terkena herpes. Karenanya, Bunda dianjurkan untuk jangan membiarkan bayi boleh dicium sembarangan. Apalagi, seseorang yang memiliki virus herpes biasanya tak memiliki luka herpes yang bisa dilihat kasat mata.

HSV yang menyerang bayi baru lahir bisa menyebabkan infeksi parah, termasuk pada mata dan kulitnya, paru-paru, hati, serta otak. Infeksi herpes yang serius pada bayi baru lahir ataupun pada otak membutuhkan penanganan medis yang intensif di rumah sakit. Bun, bila si kecil terinfeksi virus herpes, maka virus tersebut akan berdiam terus di dalam tubuhhnya. Bila si kecil menunjukkan gejala seperti gusi membengkak dan rewel lantaran mulutnya terasa sakit, sebaiknya segera bawa si kecil dokter.

Setelah beberapa hari mungkin akan terlihat lepuhan-lepuhan kecil di dekat bibirnya yang dapat berubah menjadi luka dangkal. Gejala ini juga mungkin diiringi demam dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Setelah itu, luka-luka tadi akan mengering menjadi kerak (krusta) lalu kemudian menghilang. Kemungkinan bayimu juga bisa mengalami herpes di dalam mulutnya, pada gusinya, di sisi dalam pipi, langit-langit mulut, atau di permukaan lidahnya.

Meningitis

Meningitis disebabkan oleh infeksi bakteri meningitis dan bisa mengakibatkan kematian. Kendati sebagian penderita meningitis pulih, namun berisiko meninggalkan kecacatan permanen, misalnya kehilangan fungsi pendengaran, ketidakmampuan belajar, maupun kerusakan otak. Di lain sisi, bayi memiliki peningkatan risiko terkena meningitis dibanding kelompok usia lainnya. Kuman penyebab meningitis bakteri menyebar dari orang ke orang.

Beberapa bakteri dapat menyebar melalui saliva atau air ludah atau penderita mencium bayi. Bahkan kuman juga bisa menyebar melalui kontak dengan orang-orang yang tinggal serumah dengan bayi. Ini alasan kenapa Bunda harus ekstra hati-hati agar bayi yang baru lahir tak terpapar kuman pembawa penyakit.

Gejala-gejala meningitis pada bayi bisa terlihat jelas, mulai dari bayi yang tidak aktif bergerak atau berinteraksi, muntah atau tidak mau makan, serta mudah marah atau menangis. Bila Bunda melihat si kecil menunjukkan tanda-tanda kepada meningitis, segera periksakan ke dokter.

Mononukleosis

Infeksi mononukleosis atau yang sering disingkat ‘mono’, umumnya disebut kissing disease lantaran virusnya ditularkan melalui air liur seperti ketika dicium, batuk atau bersin, maupun menggunakan peralatan makan atau minum yang sama dengan orang yang terinfeksi mono. Namun, penyebaran virus mono ini tidak secepat penularan pilek. Kebanyakan jenis virus penyebab penyakit ini adalah virus Epstein-Barr.

Pada anak-anak, tanda dan gejala kissing disease jsutru sering tak mudah dikenali lantaran gejalanya cenderung menyerupai gejala-gejala infeksi pada umumnya. Kondisi seperti demam, sakit kepala, ruam kulit, radang tenggorokan, kelelahan, sampai terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan ketiak dianggap sebagai gejala penyakit ini. Bunda pun tak bisa menganggap remeh infeksi yang satu ini. Apalagi dapat menyebabkan komplikasi seperti pembesaran organ limpa. Untuk itu, bila si kecil mengalami gejala-gejala tersebut, maka segeralah berikan penanganan secepatnya yaitu dengan mencukupi kebutuhan cairan dan istirahat cukup, mengonsumsi asupan nutrisi yang ideal, serta periksakan anak ke dokter.

Nah, sebagai orangtua, sudah sepatutnya Bunda melindungi si kecil dengan menjaga kebersihan dan kesehatannya. Pastikan Bunda maupun orang lainnya sudah mencuci tangan hingga bersih sebelum memegang dan menggendong bayi, upayakan selalu membawa pembersih tangan di mana pun Bunda berada, serta ikuti jadwal vaksinasi untuk bayi. Di lain sisi, tak usah sungkan untuk membatasi kontak orang lain dengan byah hati Bunda. Bila mereka benar-benar ingin mencium, area tubuh bayi yang diizinkan untuk dicium adalah kakinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Anak Bisa Jadi Korban Bila Bunda Terlalu Percaya Mitos Soal Imunisasi

adorable-baby-bed-1556706 (1)

Bun, pasti Bunda menyadari, sekarang ini banyak orangtua yang khawatir apabila anaknya harus divaksinasi. Padahal pemberian vaksin merupakan hal penting harus diberikan kepada anak. Dengan imunisasi yang lengkap dan teratur, tubuh bayi, anak, dan remaja dirangsang oleh vaksin untuk membentuk zat kekebalan spesifik untuk mencegah penularan penyakit.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang memutuskan tak memberi imunisasi lengkap pada anak mereka karena banyak hal. Salah satunya termakan informasi palsu yang mereka dapat dari internet atau lingkungan sekitar. Nah, dalam acara Imunisasi Lengkap dan Nutrisi Seimbang Untuk Mendukung Indonesia Lengkap oleh Nestle Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia di Jakarta, Senin (22/4/2019), disampaikan mitos dan fakta tentang imunisasi berikut ini, Bun.

Mitos: Imunisasi Sebabkan Autisme, Lumpuh, dan Mengandung Racun. Benarkah?

Masih banyak orangtua yang ragu memberi imunisasi pada anaknya lantaran sudah banyak isu yang menyebar mengenai efek samping imunisasi. Padahal, isu tersebut hanya hoax belaka. Salah satu hoax yang paling sering didengar adalah vaksinasi dapat menyebabkan autisme pada anak atau sebabkan kelumpuhan.

Padahal berbagai penelitian ilmiah pada 2014-2019 telah menyimpulkan bahwa vaksin tidak terbukti menyebabkan autisme atau berbahaya. Untuk itu, Bunda perlu lebih banyak lagi membaca literasi yang pasti guna mencaritahu informasi yang sebenarnya mengenai imunisasi.

Mitos: Demam Setelah Imunisasi Dianggap Berbahaya

Faktanya, kebanyakan anak akan memberi respon demam setelah imunisasi. Bahkan ada yang mengalami bengkak di area suntikan. Bunda tak usah panik dan menanggapinya berlebihan. Hal ini merupakan reaksi yang wajar dan tidak berbahaya. Hal ini tidak berkaitan dengan kualitas vaksin yang sudah diberikan pada si kecil. Kalau anak demam, berikan anak obat penurun panas tiap 4 jam sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Mitos: Terlambat memberi Imunisasi Sejatinya Tak Masalah

Faktanya, hal ini tentu salah kaprah. Bunda perlu menyadari, si kecil membutuhkan kekebalan dan perlindungan dari penyakit. Dan hal itu akan bekerja bila Bunda mengantarkan si kecil imunisasi sesuai jadwal dan jarak yang direkomendasikan.

Jika terlewat atau tertunda, anak belum memiliki kekebalan spesifik sehingga masih rentan penyakit. Kekebalan menjadi tidak optimal jika jarak antar imunisasi yang sama terlalu jauh atau terlalu dekat dari jadwal yang dianjurkan.

Mitos: Imunisasi Pada Saat Bayi dan Balita Sudah Cukup Sehingga Tak Perlu Vaksin Saat Remaja.

Hal ini salah besar karena imunisasi saat remaja bahkan dewasa masih diperlukan karena kekebalan dapat menurun seiring waktu setelah imunisasi pada saat bayi. Selain itu anak usia sekolah dan remaja makin banyak berinteraksi dengan orang lain sehingga berisiko tertular penyakit. Oleh karena itu IDAI menganjurkan imunisasi lanjutan pada usia sekolah dan remaja.

Mitos: Tak Usah Menambah Imunisasi, Apalagi yang Tak Disubsidi Pemerintah

Bun, sejatinya semua imunisasi tentu penting. Namun pemerintah baru menyediakan subsidi untuk sebagian vaksin seperti hepatitis B, polio, BCG, DPT-Hib, campak rubela, DT, dan Td. Untuk beberapa vaksin pneumokokus, HPV, JE, dan rabies diprioritaskan di beberapa provinsi tertentu.

Di samping itu, ada pula vaksin yang belum mendapat subsidi pemerintah seperti pneumokokus, rotavirus, influenza, japanese encephalitis B, rabies, MMR, demam tifoid, cacar air, hepatitis A, HPV, dan meningitis. Padahal vaksin tersebut sama pentingnya untuk diberikan untuk perlindungan tubuh.

Dokter spesialis anak Soedjatmiko dari IDAI mengatakan untuk melawan hoaks antivaksin adalah dengan cara jangan membaca hoaks, jangan ditanggapi, dan jangan dipercaya.

“Manfaat imunisasi sudah terbukti di semua negara, jadi hoaks anti imunisasi tak perlu dipercaya,” Pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Imunisasi Penting Bagi Tumbuh Kembang Buah Hati, Bahkan Cegah Jutaan Kematian

nestle

Bun, tahukah Bunda? Imunisasi telah menyelamatkan jutaan jiwa dari penyakit menular. Pemberian imunisasi yang rutin dan lengkap disertai dengan pemenuhan nutrisi yang tepat dapat mencegah penyakit dan mendukung tumbuh kembang yang optimal. Orangtua perlu tahu, imunisasi memberikan perlindungan yang bersifat spesifik terhadap penyakit berbahaya. Ini karena pemberian imunisasi dapat merangsang kekebalan spesifik yang efektif mencegah penyakit berat.

Namun di luar sana masih banyak anak yang tak mendapat vaksin atau bahkan vaksinnya tidak lengkap. Risiko yang diterima anak-anak ini pun berbahaya bahkan berpotensi mematikan. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), imunisasi diperkirakan dapat mencegah 2-3 juta kematian setiap tahun serta menyelamatkan 1,5 juta nyawa apabila cakupan imunisasi global bertambah.

Menyadari pentingnya imunisasi bagi buah hati, maka setiap tahunnya diadakan peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID). Di Indonesia sendiri, momentum PID ditandai dengan adanya tema nasional “Imunisasi Lengkap, Imunisasi Sehat”. Rangkaian pelaksanaan PID akan berlangsung pada tanggal 24-30 April 2019. Sementara itu, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan PT Nestle Indonesia mendukung komitmen bersama guna mewujudkan Indonesia sehat.

“Imunisasi berperan penting untuk melindungi bayi dan anak dari berbagai penyakit karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan agar anak mampu melawan penyakit-penyakit menular yang berbahaya. Anak yang tak mendapatkan imunisasi lengkap berpotensi tak memiliki kekebalan yang spesifik terhadap suatu penyakit sehingga bisa memicu sakit berat, cacat, bahkan meninggal,” ujar dr. Soedjatmiko dari IDAI di Jakarta, Senin (22/4).

Perlu dicatat, pemberian imunisasi pun harus dibarengi dengan asupan nutrisi yang seimbang ya Bun. Hal ini guna mencegah si kecil mengalami kekurangan nutrisi. Anak yang mendapat nutrisi berikut dengan imunisasi yang lengkap akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top