Parenting

Menumbuhkan Jiwa Aktif dan Kompetitif pada Si Kecil Ada di Tangan Bunda

test11

Punya anak yang cerdas, pantang menyerah, dan terpacu untuk jadi sukses jelas jadi dambaan hampir semua orangtua. Untuk itu, banyak anak yang akhirnya dididik untuk memiliki jiwa kompetitif demi meraih suksesnya kelak.

Iya Bun, sebab kecerdasan saja tidak cukup kalau tak diimbangi dengan munculnya sikap kompetitif. Nah, bicara soal daya juang, ada sebagian anak yang belum sepenuhnya mengerti mengenai soal sikap ini. Bun, kompetisi itu sangat penting lho untuk perkembangan anak.

“Kompetisi mengajarkan si Kecil kalau anak yang paling pintar tidak selalu sukses, tetapi mereka yang bekerja keras dan terus berusaha,” ujar Timothy Gunn, Psy.D, neuropshychologist anak dari Gunn Psychological Services seperti dikutip dari Parents.com.

Menurutnya, aktivitas kompetitif dapat membantu anak mengembangkan beragam kemampuan penting yang bisa bermanfaat untuk hidupnya kelak, seperti mengembangkan empati, mengantri giliran, dan belajar untuk jadi pribadi yang tekun.

Jangan Pelit Pujian Bila Si Kecil Sudah Berusaha Sebaik Mungkin

Cara termudah menumbuhkan rasa percaya diri pada anak adalah dengan tak pelit pujian. Tapi jangan berlebihan juga Bun. Dengan memberikan pujian yang sesuai dengan kerja kerasnya, ia akan lebih mudah merasa percaya diri. Dengan menghargai setiap kerja kerasnya, maka ia akan tumbuh jadi sosok yang gigih dan tak takut dalam menghadapi kekalahan, Bun.

Latihlah Si Kecil Agar Tak Fokus pada Hasil Saja ya Bun

Setiap orangtua tentu akan bangga kalau anaknya dapat nilai terbaik di semua pelajaran. Hanya saja jangan sampai karena ambisi orangtua agar si kecil mendapatkan nilai terbaik, hal itu justru membuat buah hati Bunda jadi merasa tertekan. Karenanya, yuk Bun ajak si kecil untuk bisa menikmati setiap prosesnya dan bukan hanya berorientasi pada target saja.

Ajar Si Kecil untuk Berani Menerima Kegagalan

Masih banyak lho anak yang belum berani berkompetisi karena tak bisa menerima kegagalan atau karena tak tau harus berbuat apa setelah dinyatakan gagal. Nah, demi mengatasi situasi semacam ini, Bunda perlu sekali mengajarkan si kecil untuk mau menerima kegagalan. Bunda bisa menceritakan situasi dimana Bunda pernah mengalami kegagalan sekaligus memberitahu bagaimana caranya bangkit. Semangat untuk tak perlu takut akan kegagalan itu harus dihidupi oleh si kecil, yang penting si kecil berani untuk mencoba ya Bun.

Jangan Menumbuhkan Sikap Gengsi dan Tak Mau Menerima Bantuan

Menurut survei pendiri Revolution Prep dan anggota Young Presidents Organization, Jake Neuberg dan Ramit Varna, banyak orangtua yang berbohong saat memamerkan kehebatan anak mereka. Bahkan ada orangtua yang tidak mau orang lain tahu kalau anaknya butuh guru privat untuk bisa mengerti pelajaran di sekolah. Padahal, orangtua tidak perlu malu ketika anaknya menerima bantuan, karena itu bisa mengajarkan anak tentang apa kekurangannya yang masih perlu diperbaiki.

Terpenting, Mereka Harus Bisa Menerima Segala Kekurangan dan Kelebihan

Buatlah buah hati Bunda bisa menerima kekurangan dan kelebihan dirinya juga orang lain. Saat anak sudah mengerti akan hal itu, maka ia tak akan takut berokmpetisi dan lebih bisa menerima kekalahan. Pun saat ada rekannya yang mungkin lebih unggul darinya, kalau si kecil mengerti akan kekurangan dan  kelebihan, maka ia pun bisa mengakui kehebatan temannya itu dan menjadikannya sebagai motivasi agar bisa berjuang lebih baik lagi.

Sejak Awal, Bunda Pun Harus Konsisten Memberi Contoh yang Baik
Ajarkan pada anak mengenai kompetisi yang baik ya Bun. Manfaatkan permainan sederhana seperti bermain kartu, scrabble, monopoli, atau permainan apapun. Ajarkan bahwa menang tidak boleh dengan cara curang dan harus bisa menerima kekalahan dengan baik.

Dorong si Kecil Supaya Fokus dengan Tujuan Pribadi

Saat berkompetisi, penting sekali Bun menanamkan soal tujuan utama sebuah kompetisi pada si kecil. Saat sedang melakoni sebuah kompetisi, ajaklah dia untuk memaksimalkan kemampuan diri sendiri, bukan semata-mata untuk mengalahkan orang lain. Sebab kalau terlalu fokus ingin mengalahkan orang lain, maka kadang anak melupakan tujuan utama dari kompetisi tersebut.

Jika menang…
Bun, kalau si kecil menang, jangan biarkan ia terbuai oleh euforia kemenangannya dan akhirnya muncul rasa sombong saat mengalami kemenangan. Akan lebih baik kalau Bunda terus mendampingi dan memberikan pujian pada proses yang dijalani anak untuk meraih kemenangan. Seperti bagaimana ia saat berlatih dengan rajin, berlomba dengan ulet, tidak menyerah dan tidak curang. Dengan melakukan hal tersebut, anak dapat belajar bahwa untuk meraih suatu keberhasilan dibutuhkan proses dan kerja keras.

Jika kalah…
Sebagai orangtua, tentu kita harus berbesar hati. Yup! Saat anak kalah, sebaiknya Bunda jangan menunjukkan rasa sedih, kecewa, atau marah. Jika anak sedih atau kesal, biarkan saja karena itu adalah bentuk ekspresinya. Namun, jangan biarkan hal tersebut terjadi berlarut-larut. Justru akan lebih baik kalau Bunda mengajaknya untuk mengevaluasi apa yang sudah ia lakukan saat mengikuti lomba. Jangan lupa untuk mengajarkan ia memberikan selamat dan menghargai perjuangan tim lawan.

Katakan Padanya untuk Tidak Fokus pada Hadiah

Sebaiknya jangan mengajarkan si kecil untuk terobsesi dengan kemenangan semata dan hadia yang dijanjikan. Bunda perlu terus membimbingnya untuk konsisten dan menjaga kefokusan pada permainan atau pertandingan yang adil. Kenapa harus demikian? Sebab kalau si kecil terbiasa fokus pada kemenangan dan hadiah, kelak ia akan memakai segala cara untuk memperoleh apapun yang ia mau tanpa melihat dampak buruk dan baiknya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Baterai Gawai Harus Dihemat Karena Takut Ada Hal Darurat

samson-vowles-191386-unsplash

Gawai alias gadget pasti menemani Bunda kemana-mana saat ini. Mulai dari alat untuk selfie ketika ketemu kawan hingga update urusan sosial media. Terkadang malah kita terlupa fungsi utama dari gawai kita, yaitu untuk komunikasi. Seringkali gawai digunakan terus menerus untuk urusan remeh temeh. Tanpa pernah berpikir jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan mendesak.

Mulai dari hal sederhana misalnya ketika dalam janji bertemu teman sudah di lokasi malah terkendala memberi kabar. Atau ketika di tengah jalan ingin memesan ojek online, jadi terhambat karena baterai habis. Lalu adakah tipsnya untuk memaksimalkan urusan baterai ini?

Jangan Mengaktifkan WiFi dan Bluetooth, Apabila Tak Memakai Karena Berimbas Kepada Baterai

bernard-hermant-667645-unsplash

Mengaktifkan fitur-fitur tersebut saat tidak menggunakannya akan membuat baterai cepat habis karena wifi dan bluetooth dalam kondisi ON membuat sinyal terus bekerja dan mencari. Sehingga ini berimbas terhadap baterai Bunda yang tergerus secara cepat. Maka dari itu apabila tidak digunakan jangan diaktifkan.

Kunci Gawai Bunda Saat Tidak Digunakan, Jangan Dibiarkan

fabian-albert-450447-unsplash

Langkah lainnya yang dapat Bunda lakukan jangan lupa untuk menguci gawai anda. Karena mengunci gawai menjadikan smartphone ke dalam mode rehat dan istirahat, maka dari itu layar pun dalam kondisi mati tidak stand by saat Bunda mengunci gawai. Hal ini dilakukan agar gawai Bunda dapat bertahan lebih lama.

Jangan Membiasakan Menggunakan Gawai Saat Sedang Dicharge

chelsia-qiao-483318-unsplash

Apabila Bunda menggunakan gawai saat sedang dicharge itu akan memicu kerusakan pada baterai. Memang sekilas terlihat kalau gawai nampaknya normal-normal saja dan tak menghasilkan efek apa saja. Tetapi apabila Bunda kerap mekainnya dalam waktu yang lama dan sering, kondisi baterai akan cepat bocor sehingga gawai gampang sekali untuk lowbatt meskipun pemakaian belum menghabiskan waktu sampai seharian.

Lowbat Itu Tanda, Jangan Diabaikan Begitu Saja

fancycrave-698664-unsplash

Gawai memiliki kekuatan masing-masing tergantung seberapa besar daya yang dimiliki. Apabila daya dimiliki sangat banyak mungkin ia dapat bertahan hingga satu hari penuh. Seperti halnya gawai yang memiliki kapasitas baterai 5.000 mAh. Namun, tak berarti saat sedang lowbat Bunda dapat memakai sesuka hati, karena membiarkan gawai dalam kondisi mati baru charger dapat membuat baterai smartphone cepat rusak.

Miliki Tunggangan yang Bisa Charger, Karena Gawai Menyala itu Penting Jadi Jangan Diambil Pusing

Membawa Powerbank kemana-mana mungkin terlalu ribet, belum lagi kalau powerbank mati karena dayanya habis. Mungkin membeli Suzuki Nex II tak ada salahnya, selain dapat membantu Bunda lebih cepat untuk urusan mobilitas di dalam kota. Kuda besi satu ini menawarkan satu fitur yang berguna di era sekarang yakni USB Charger, yang dapat menyelamatkan Bunda saat kehabisan daya gawai di tengah perjalanan.

nex-brilliant-white2

Ditambah lagi kalau Bunda menempuh perjalanan jauh menggunakan motor maka makin pas saja menggunakan motor ini. Karena ukurannya kompak. Dari segi panjang saja Nex II berukuran 1.890 mm, kemudian lebar 675 mm dan tinggi 1.045 mm, yang sangat nyaman untuk di bawa berkendara selama berjam-jam. Apalagi ruang kakinya sangat lega sehingga bisa mengubah-ubah posisi kaki selama perjalanan.

Macet pun bukan lagi masalah serius bagi Suzuki Nex II. Karena motor ini mengusung Suzuki Eco Performance (SEP) dengan konfigurasi 1 silinder SOHC yang berkapasitas 113 cc mampu menyalurkan tenaga ke roda secara maksimal. Dengan kapasitas tangki penuh 3,6 Liter, konon bahan bakar tersebut bisa dipakai untuk jarak tempuh sejauh 176 km. Jadi Bunda tak perlu sering-sering mengisi bahan bakar.

Layaknya gawai yang selalu melengkapi penampilan Bunda, motor Suzuki Nex II ini juga penampilan yang menarik. Dengan bentuk lampu yang modern berbentuk meruncing disematkan pada bagian depannya. Bunda juga punya banyak pilihan warna dan grafis sesuai dengan selera.

Jadi jangan lupa menerapkan tips di atas agar bisa menjaga gawai selalu online ya Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top