Parenting

Perkembangan si Kecil Memasuki Usia 11 Bulan

perkembangan bayi 12 bulan

Di usia 11 bulan, si kecil semakin gemar mengoceh. Bahkan kini kata-katanya semakin jelas dan bermakna. Di usia ini, mungkin Bunda kian tak sabar menunggu ulangtahun pertamanya. Tak usah terburu-buru Bun, lebih baik tetap nikmati saja perkembangan si kecil dari hari ke hari. Pada usianya yang sekarang ini, bukankah ia pun semakin menggemaskan? Kemampuannya kian hari kian bertambah, kan?

Si Kecil Sudah Dapat Menirukan Kata-kata dari Bunda atau Ayahnya

Saat menyadari ocehan si kecil semakin terdengar seperti kata-kata yang punya makna, maka saatnya Bunda mendorong kemauan si kecil agar kian tertarik berbicara. Si kecil mungkin sudah bisa menirukan kata-kata dan mulai mengerti perintah sederhana semacam “Tolong ambilkan sendok itu.”

Supaya si kecil makin responsif, Bunda bisa melakukannya sembari menegaskan ucapan dengan bahasa tubuh. Misalnya, dengan menunjuk ke benda yang Ibu maksud. Atau, katakan padanya, “Mana hidungmu?” lalu tunjuklah hidung si Kecil. Yang tak kalah penting, jangan lupa untuk memberikan pujian ke si kecil ketika ia berhasil bicara ya Bun.

Ia pun Mulai Tergerak untuk Merapikan Mainan Bahkan Menghapal Nama-nama Benda

Ya Bun, di usianya ini, si kecil dapat diajak merapikan kendati ia belum mengerti maksud dari aktivitas tersebut. Namun selagi Bunda dapat menjadikan aktivitas berberes sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka ia pun akan senang. Coba bimbing si kecil untuk menaruh mainan ke dalam wadahnya. Ia pasti akan menuruti bimbingan Bunda.

Di lain sisi, ia pun juga kian cepat menghapal dan pandai menyebutkan nama-nama benda di sekitarnya. Ajak ia untuk menyebutkan nama buah dan sayuran. Atau bacakan buku cerita dan tunjukkan nama karakter di buku tersebut ya Bun. Untuk mengenalkan warna, Bunda bisa mengajaknya bereksplorasi dengan cat air.

Si Kecil Semakin Senang untuk Berjalan Langkah demi Langkah

Di usianya yang sekarang, si kecil mulai berani melangkahkan kaki untuk berjalan. Tapi jika ia masih takut, maka Bunda tak perlu khawatir. Memang beberapa bayi yang normal baru bisa berjalan pada usia 16-17 bulan. Bunda bisa mengajarkannya berjalan dengan cara berdiri atau berlutut di hadapan si Kecil dan mengulurkan tangan Ibu kepadanya. Atau, pegang kedua tangan si Kecil dan buat ia melangkah ke arah Bunda.

Ia Mulai Merasakan Emosi yang Tak Pernah Ia Rasakan Sebelumnya

Pada usia 11 bulan, si kecil mulai memiliki dan mengenal kepribadiannya sendiri. Ia tahu apa yang disukai, apa yang tidak disukai, dan ia dapat merasakan berbagai emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Biasanya si kecil akan tantrum ketika Bunda mengambil mainan favoritnya atau saat ia tidak menyukai makanan yang Bunda berikan padanya.

Ia akan mempelajari bahwa tangisan bisa digunakan sebagai ‘senjata’ untuk mendapatkan apa yang ia mau. Untuk itu, penting bagi Bunda untuk memahami bagaimana cara mendisiplinkan sekaligus menangani si kecil di tahap ini.

Tips Untuk Orangtua dengan Bayi Usia 11 Bulan

Yuk Bun, bantu tingkatkan perkembangan bayi Bunda dengan semakin sering memberikan hal baru padanya. Bunda bisa membiarkan anak menyentuh berbagai tekstur dan benda serta ajari ia bentuk-bentuk dasar benda. Hal lain yang dapat Bunda ajarkan meliputi:

  1. Membacakan buku pada anak juga sangat dianjurkan pada tahap ini karena sekarang si kecil mulai bisa menghubungkan kata-kata dengan berbagai pengalaman.
  2. Pastikan untuk mengajarkan kata-kata baru dan gunakan kata-kata tersebut sesering mungkin agar si kecil semakin terbiasa mendengarnya.
  3. Bayi 11 bulan biasanya rentan tantrum dan nakal. Bersikaplah yang tegas dengan menggunakan wewenang Anda sebagai orangtua. Tentu saja Bunda tak perlu terlalu keras padanya. Cukup katakan tidak dengan suara yang tegas.
  4. Biarkan si kecil semakin mandiri, untuk itu Bunda dapat mendorongnya agar mau berjalan-jalan dan menjelajah tempat baru.
  5. Selain itu, kendati Bunda tergoda untuk membelikan sepatu bayi yang lucu karena ia sudah mulai bisa berjalan, sebaiknya biarkan ia bertelanjang kaki hingga ia terbiasa berjalan sendiri. Penggunaan sepatu dan sandal hanya akan membuat si kecil kesulitan menemukan keseimbangan.

baca juga tahapan perkembangan bayi usia selanjutnya di perkembangan bayi 12 bulan

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tak Usah Gengsi Menggendong Bayi, Ada Banyak Manfaatnya Loh Bun

adult-child-daughter-1683975

Bun, saat si kecil belum bisa berjalan, tentu Bunda akan terus menggendongnya agar ia beranjak dari tempat tidur ya Bun. Gendongan pun jadi peralatan yang tak boleh terlupa. Momen menggendong bayi, sekalipun terkadang terasa melelahkan, ternyata membawa manfaat yang beragam lho Bun.

Tak perlu ragu dengan sebutan ‘nanti si kecil bau tangan’, karena sebenarnya bayi pun bisa tak rewel saat tak sedang digendong. Nyatanya, momen menggendong pun menciptakan banyak interaksi.

Menciptakan Ikatan antara Ibu dan Anak

Ya, dengan menggendong si kecil, keintiman antara Bunda dan si kecil semakin erat. Bunda tentu mendambakan bisa akrab dengan si kecil sejak ia bayi sampai dewasa nanti, bukan? Karenanya, jangan sungkan atau ragu untuk menggendong si kecil saat ia masih membutuhkan dekapan Bunda.

Aktivitas ini secara langsung membuat ibu dan anak banyak berinteraksi berdua, terjadi skin to skin contact, dan tercipta rasa aman serta nyaman. Menggendong bayi pun membuat Bunda jadi lebih perhatian.

Posisi bayi yang berada di pelukan ibu yang dekat dengan pandangan, menjadikan Anda lebih dapat memerhatikan gerak-geriknya. Anda belajar untuk peka dan merespon bayi dengan tepat. Misalnya ketika dia sedang lapar, maka Anda akan segera mengetahui bahwa ia memang sedang lapar dan segera menyusuinya atau memberikannya susu.

Mengenalkan Tentang Dunia Pada Si Kecil

Saat si kecil dalam gendongan Bunda, maka ia pun akan melihat apa yang dilihat Bundanya. Si kecil sigap untuk berinteraksi dengan lingkugan. Ya, dalam dekapan Anda, bayi dapat melihat dan mengamati kejadian di sekitar dengan perasaan aman. Ketika ia melihat ekspresi Anda, ia juga belajar tentang emosi, seperti tersenyum, tertawa, dan mengernyitkan dahi, misalnya.

Si Kecil Jadi Merasa Aman dan Nyaman

Bun, aktivitas menggendong akan membuat Bunda dan si kecil beraktivitas bersama. Bayi akan mendengar suara Bunda ketika Anda berbicara dengan orang lain. Ia juga turut merasakan emosi Bunda dan yakin jika Bunda akan memberikannya rasa aman serta nyaman. Keadaan ini membuat ia tak punya alasan untuk rewel karena ia masih menempel pada ibunya.

Bunda Membantu Meningkatkan Perkembangan Otak Bayi

Tak banyak Bunda yang tahu, faktanya, sering menggendong bayi dapat membantu perkembangan otaknya lho, Bun. Ketika bayi digendong, saraf-saraf yang berada pada otaknya akan terhubung satu sama lain karena perasaan senang, aman, dan nyaman.

Serta Mencegah Post Partum Blues

Lebih jauh lagi, saat Bunda sering menggendong si kecil yang baru lahir, hal ini akan mencegah ibu mengalami post partum blues, yaitu masalah kesehatan mental umum yang biasanya terjadi pada wanita setelah melahirkan.

Hal ini dikarenakan menggendong bayi membuat ibu dan bayi melakukan skin to skin. Kontak kulit antara kedunya dapat membantu mengeluarkan hormon oksitosin atau hormon cinta pada ibu, yang akhirnya bisa mempengaruhi keadaan fisik dan psikologisnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Supaya Si Kecil Tak Dehidrasi Saat Puasa

boy-child-drinking-1210005

Sebagai orang dewasa, mungkin kita sudah mengerti aturan dan tata cara berpuasa. Sementara itu, menjelaskan makna dan cara berpuasa pada anak-anak tak semudah kelihatannya lho Bun. Anak-anak pun belum diwajibkan menjalankan ibadah ini. Kendati demikian, orang tua boleh mulai memperkenalkan ibadah puasa kepada anak sejak dini.

Pengenalan tersebut dapat Bunda lakukan secara bertahap. Mula-mula ajak anak berpuasa selama beberapa jam, jika sudah dapat melakukannya dengan baik, tingkatkan menjadi setengah hari, hingga akhirnya dia dapat berpuasa seharian penuh. Salah satu hal yang patut Bunda perhatikan adalah asupan cairannya. Bukan tak mungkin si kecil bisa saja mengalami dehidrasi.

Tetap menjalankan aktivitas normal sambil berpuasa, juga akan berpengaruh terhadap hilangnya cairan dalam tubuh anak. Untuk itu, yuk Bun cegah dehidrasi pada anak saat berpuasa:

Dorong Si Kecil Agar Mau Mengonsumsi Delapan Gelas

Setiap orang perlu minum sekitar delapan gelas setiap hari untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Nah karena saat berpuasa kita tak boleh minum, maka tuntun si kecil untuk mengganti kesempatan minum delapan gelas per hari saat berbuka puasa, sebelum tidur, dan saat sahur.

Bunda Dapat Menyajikan Buah-buahan dan Kandungan Air Tinggi untuk Dikonsumsi Si Kecil

Sajikan buah-buahan yang mengandung banyak air seperti melon, semangka, dan pir sangat cocok dikonsumsi saat berbuka puasa. Buah-buahan yang mengandung banyak air akan membantu si kecil agar tetap terhindar dari dehidrasi sepanjang hari. Selain itu, buah-buahan ini juga kaya nutrisi untuk membantu tumbuh kembang anak.

Sediakan Susu guna Memenuhi Kebutuhan Cairan dan Nutrisinya

Bun, susu kaya akan kandungan elektrolit, kalsium, dan protein, serta karbohidrat. Untuk tubuh agar terhindar dari dehidrasi, lebih baik berikan susu pada si kecil dibanding mengonsumsi suplemen. Di samping itu, varian susu yang mulai banyak rasanya akan membuat si kecil lebih tertarik untuk meminumnya lho Bun.

Bunda Bisa Mengakali dengan Memberikan Rasa Pada Air Putih yang Disajikan pada Anak

Air putih memang tidak memiliki rasa. Ini dapat membuat motivasi anak untuk minum cukup air berkurang. Untuk menyiasatinya, tambahkan rasa alami pada air putih tersebut. Disarankan untuk menambahkan perasan jeruk atau madu pada air mineral, agar si kecil lebih tertarik untuk meminumnya. Jangan menambahkan gula pada air minum tersebut, hal ini guna mencegah si kecil jadi mengonsumsi gula berlebih.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Saat Si Kecil Diam-diam Ketahuan Membatalkan Puasa, Lakukan Hal Ini Bun

adorable-blonde-blur-1912868 (1)

Saat si kecil terbangun lebih awal untuk sahur tentu membuat Bunda bangga. Artinya, ia mau belajar untuk berpuasa ya Bun. Tapi lucunya, kadang kala justru sebelum adzam maghrib berkumandang, Bunda tak sengaja mendapati si kecil makan atau minum sembunyi-sembunyi. Saat melihat si kecil berlaku demikian, kira-kira apa yang akan Bunda lakukan?

Untuk anak-anak dibawah usia 11 tahun, berpuasa masih butuh latihan. Mereka masih beradaptasi dengan ibadah wajib yang harus mereka jalani di bulan Ramadan. Untuk itu, jangan menciptakan momen yang membuat si kecil jadi merasa ngeri ya Bun. Sebab kalau Bunda langsung melontarkan omelan, yang ada mereka justru tertekan dan jadi malas berpuasa lagi.

Nah, berikut ini hal-hal yang dapat Bunda lakukan saat si kecil ketahuan membatalkan puasanya dengan sembunyi-sembunyi.

Bunda Tak Perlu Reaktif

Si Kecil akan terkejut bila melihat respon Bunda yang reaktif saat ia ketahuan membatalkan puasa. Tak usah mengagetkan atau membuatnya merasa sangat bersalah, justru tunjukkan ekspresi yang tenang dan diskusikan mengenai puasa tanpa mengintimdasinya ya Bun. Dengan begini ia akan tetap tenang.

Diskusi dan Komunikasi Adalah Kunci

Cobalah tanyakan dulu pada si kecil, apa yang membuat ia tak kuat. Bantu ia menemukan masalahnya ya Bun. Misalkan saja, ia merasa tak kuat berpuasa lantaran tak sempat sahur karena sulit dibangunkan. Atau ia tak kuat puasa karena menurutnya terlalu lamaa menahan rasa lapar.

Tetap diskusikan apapun masalahnya ya Bun. Hal ini akan melatih kemampuan analisisnya. Setelah ia menemukan akar masalahnya, bantu ia menemukan solusi. Misalnya saja, tidur lebih awal agar bisa bangun saat jam sahur.

Berikan Respon Pada Sanggahannya

Saat diajak berdiskusi mengenai apa yang membuat ia tak kuat, bisa saja lho Bun ia mengeluarkan beberapa kalimat sanggahan yang menjelaskan bahwa ia bukan satu-satunya anak yang membatalkan puasanya diam-diam.

Bila anak berkata: “Tapi si A juga membatalkan puasa. Tadi aku lihat dia, makanya aku juga ikut membatalkan.”
Jawab dengan: “Barangkali cara dia berpuasa berbeda dengan cara kamu. Dia mungkin sudah bikin kesepakatan untuk bisa membatalkan puasa di jam itu untuk kemudian dilanjutkan lagi.”
Bila anak berkata: “Si B nggak puasa. Enak banget dia bisa minum es siang-siang gitu.”
Jawab dengan: “Tidak semua orang punya kewajiban puasa. Kalau di agama kita, memang ada perintah puasa di bulan Ramadan. Lagi pula, nanti kalau sudah buka puasa, kan, kamu juga bisa minum es.”

Kuncinya, respon yang tepat diperlukan saat si kecil mencoba memberi sanggahan. Tak usah emosi, tetap tenang ya Bun.

Beritahu Mengenai Konsekuensi Logis yang Akan Dihadapinya

Bila Bunda dan si kecil sebelumnya sudah membuat kesepakatan tentang puasa, maka ini waktunya untuk menjalankan aturan dan konsekuensinya. Kesepakatan bisa saja berisi tentang pada pukul berapa ia bisa membatalkan puasa dan pada pukul berapa ia harus melanjutkan.

Sementara itu, contoh konsekuensi yang bisa diambil misalnya, Bunda tidak jadi memasakkan apa yang dia inginkan untuk berbuka atau tidak jadi membelikan minuman kesukaannya. Konsekuensi tidak perlu berlebihan agar anak-anak tidak terbebani. Yang paling penting, konsekuensi itu harus ada kaitannya dengan tindakannya.

Dan Begini Caranya Agar Tak Terjadi Lagi ya Bun

Walaupun berpuasa untuk anak-anak sifatnya baru latihan, namun ia juga patut terus didorong agar bisa menjalankannya lebih baik. Untuk meminimalisir risikonya membatalkan puasa diam-diam. Untuk Bunda yang belum pernah membuat kesepakatan dengan si kecil, inilah saatnya.

Evaluasilah kekuatan si kecil menjalankan puasa. Lalu buat kesepakatan yang berisi kapan ia boleh membatalkan. Yang penting lakukan pelan-pelan hingga ia terbiasa dan lebih kuat lagi. Itu akan lebih mudah. Kesepakatan ini dapat mengakomodir kebutuhan mereka dan membuatnya lebih bahagia menjalani puasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top