Parenting

Peringati Hari Bawa Bekal Nasional, Sudahkah Bunda Rutin Menyiapkan Bekal untuk Buah Hati?

boy-chair-children-1001914 (1)

Tahukah Bunda, hari ini jatuh sebagai Hari Bawa Bekal Nasional. Peringatan akan hari istimewa ini telah dilaksanakan sejak 2013 dan digagas oleh sebuah produk peralatan rumah tangga yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pendidikan Nasional, dan BPOM.

Sebagai Bunda, tentu Bunda setuju menyiapkan bekal anak sekolah lantaran jauh lebih sehat dan Bunda pun bisa mengontrol level kebersihannya. Membawakan bekal untuk si kecil sejatinya melatihnya agar tak jadi anak yang gemar jajan sembarangan, Bun.

Nah, caranya tentu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menunjukkan proteksi Bunda terhadap kesehatannya. Jika Bunda justru belum tergerak untuk lebih rajin menyiapkan bekal untuk si kecil, berikut alasan pentingnya menyiapkan bekal untuk anak sekolah, Bun.

Salah Satu Cara Agar Si Kecil Tak Suka Pilih-pilih Makanan

Bun, pernah dengar istilah picky eater? Ya, ini adalah tipe anak yang suka pilih-pilih makanan, Bun. Dengan menyiapkan bekal, Bunda dapat mencegahnya jadi seorang picky eater. Masalah ini sejatinya muncul karena si kecil sudah biasa jajan sembarangan.

Mereka pun terbiasa mencicipi makanan di luar kendali orangtuanya. Bahkan bisa jadi mereka melahap makanan dengan banyak MSG atayu memakai pemanis buatan yang tak menyehatkan tubuh. Nah, hal-hal semacam ini bisa diakali dengan membawakan bekal untuk si kecil sehingga mengurangi risiko kesehatan yang mengancamnya. Sejak kecil, Bunda bisa memberikan buah-buahan guna melatihnya agar tak terbiasa dengan makanan berperisa.

Melindungi Anak dari Kebiasaan Jajan Sembarangan

Banyak dari anak-anak yang sejatinya belum cermat dalam mengelola uang jajan dari orangtuanya. Salah satunya dengan membangun kebiasaan jajan sembarangan terutama saat di sekolah, Bun. Saat si Kecil sedang bersama teman-temannya maka ia cenderung senang untuk jajan.

Bila tiba saatnya bel sekolah berbunyi, secara otomatis mereka akan meluangkan waktu untuk mencari jajanan yang sesuai selera kan Bun? Padahal belum tentu jajanan itu sehat. Bun, sekalipun sukar rasanya melepaskan kebiaasaan jajan pada si kecil, setidaknya ajari jika jajan sembarangan dapat merusak pola makan sehatnya.

Jajan sembarangan juga bisa memengaruhi napsu makan anak. Sementara makanan terlalu banyak kandungan tepungnya, juga bisa memberi dampak anak mudah ngantuk, kegemukan, diabetes tipe 2, bahkan obesitas.

Tanda Bunda Jadi Lebih Peduli Pada Asupan Makanannya

Bunda perlu banyak-banyak sabar, si kecil belum terlalu memahami mengenai pentingnya makan sehat dan bergizi, Bun. Tapi, dengan menyiapkan bekal anak sebelum mereka berangkat sekolah, maka orangtua memastikan apa yang dikonsumsi anak dapat mencegah si Kecil mengonsumsi makanan yang kurang bergizi. Jajanan rentan menggunakan pewarna dan pengawet. Ini membahayakan kesehatan si Kecil.

Asupan Gizi Buah Hati Jadi Lebih Terkontrol, Bun

Dengan menyiapkan bekal untuk si kecil, Bunda pun terbiasa untuk lebih mengontrol gizi yang dikonsumsi oleh anak. Jajanan yang dikonsumsi anak belum tentu sehat. Apalagi, bila si kecil mengonsumsi gula, garam, dan lemak yang ada dalam jajanan terlalu berlebihan dapat memicu obesitas bagi anak.

Bunda Melindungi Tubuh Si Kecil dan Melatihnya Agar Tak Jajan Sembarangan

Bun, sadarilah, batuk, pilek, diare, dan demam bisa disebabkan oleh bakteri dan virus. Jika si kecil lebih sering jajan sembarangan, hal ini pun bisa membuka peluang si kecil terkena penyakit tersebut. Nah, demi meminimalisir ancaman sekaligus melindungi tubuh si kecil, lebih baik Bunda biasakan untuk menyiapkan bekal sekolah ya.

Makanan bekal sudah jelas disajikan secara lebih higienis. Bekal anak sekolah dapat mengatasi segala macam dampak buruk bagi kesehatan anak lho, Bun. Itulah alasan pentingnya menyiapkan bekal anak setiap hari. Kendati banyak yang harus disiapkan, jangan sampai patah semangat ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bun, Sudah Tahu Berapa Besaran Biaya Sekolah Internasional untuk Si Kecil? Pastikan Dulu Ya

children-class-classroom-1720186

Setiap orangtua mendambakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Untuk itu tak jarang orangtua yang akhirnya memasukkan anaknya ke sekolah berkelas internasional, tentu dengan biaya selangit. Apalagi pendidikan anak juga termasuk investasi terbaik bagi orangtua.

Bunda yang sudah bertekad bulat menyekolahkan anak di sekolah internasional, sudah tahukah berapa besaran biaya yang harus di keluarkan?

Misalnya saja untuk Sekolah Pelita Harapan. Sekolah bertaraf Internasional ini menggunakan sebuah kurikulum bernama Baccalaureate. Sekolah yang merupakan cabang dari sekolah Internasional di Swiss. Sistemnya juga menggunakan kredit sama seperti anak kuliah.

Jika ingin mendaftar di sekolah ini maka harus menyediakan kurang lebih $ 9.000 atau setara Rp 80 juta hanya untuk membayar SPP tahunan dari sekolah. Biaya itu belum termasuk dalam beban tambahan seperti membeli buku dan lain sebagainya. Uniknya Lebih dari 30% anak yang sekolah di sini didominasi oleh warga Korea Selatan.

Selain kurikulum Baccalaureate, ada juga kurikulum yang sering dipakai di sekolah internasional yakni kurikulum Cambridge. Salah satunya diterapkan oleh sekolah Dwiwarna. Biaya sekolah ini dalam satu tahunnya berkisar Rp 60 juta, sementara biaya SPP sebesar Rp 6,5 Juta yang harus dibayar tiap bulan.
Di sekolah ini juga telah disediakan asrama sendiri bagai para murid, kolam renang serta berbagai macam sarana lainnya. Anak juga bisa mengembangkan bakat dengan mengikuti banyak ekstrakulikuler yang disediakan.

Untuk sekolah internasional yang berada di bilangan Jakarta, ada sekolah Highscope Indonesia. Mengutip dari detikFinance, sekolah tersebut mematok biaya uang pangkal masuk Sekolah Dasar hingga Rp 70 juta. Sementara biaya bulanannya sebesar Rp 6,6 juta.

“Enrollment fee-nya itu Rp 70 juta, untuk paket langsung di grade 1 sampai grade 6, itu sudah paket. Kemudian untuk school fee nya, per bulan kita kena di Rp 6,6 juta,” kata salah seorang staff.

Biaya tersebut juga mencakup berbagai kegiatan sekolah anak lainnya semacam study tour atau agenda lainnya. Tapi belum termasuk program pendidikan seperti ekstrakurikuler yang nantinya bisa diikuti si murid. Namun, kegiatan tersebut bukan merupakan kurikulum wajib yang harus diikuti oleh para murid, melainkan hanya pilihan sehingga dinamai program enrichment.

“Kita ada program enrichment, kalau misalkan anak tertarik dengan program enrichment kami, nanti itu ada pembayaran kembali di luar biaya yang tadi saya sebutkan. Itu kurang lebih di Rp 2 juta,” katanya.

Nah, dengan biaya yang relatif besar, orangtua pun perlu bijak dalam mengatur keuangan. Pastikan kalau besaran SPP di sekolah yang sudah dipilih tak memberatkan keuangan keluarga di kemudian hari. Perbanyak komunikasi dan diskusi dengan ayah juga ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top