Kesehatan Ibu & Anak

Perempuan Ini Donorkan Rahimnya Demi Sebuah Visi Mulia

pexels-photo-821529

Heather Bankos merupakan seorang ibu tiga anak, ia tiba-tiba menjadi perbincangan lantaran ia mendonorkan rahim miliknya untuk seorang wanita. Menurut Bankos, kehidupan pasca menjadi seorang ibu yang akhirnya menggerakan hatinya untuk memberikan rahim kepada wanita yang memiliki masalah atau lahir tanpa rahim.

Sehari-hari, Bankos bekerja sebagai perawat di neonatal intensive care unit (NICU). Bankos paham apa artinya kehilangan anak. Dia sering melihat orangtua yang harus kehilangan anaknya walau sudah dirawat di NICU.

“Saat itu, jika saya mulai berpikir soal mendonorkan rahim,” tutur Bankos dalam sebuah tulisan di Time, dilansir Selasa (4/6/2019).

Pada Desember 2017, ia membaca sebuah tulisan mengenai bayi yang lahir dari ibu yang menjalankan program donor rahim di Baylor University Medical Center, Dallas, Amerika Serikat. Keinginannya untuk mendonorkan rahim kembali muncul saat itu. Ia pun bertanya kepada sang suami.

“Itu hal gila, tapi aku akan mendukungmu,” begitu kata suami wanita asal Pennsylvania ini.
Baru pada September 2018, ia dikontak oleh pihak rumah sakit mengenai kesediaannya menjalani pre-skrining seperti MRI, CT Scan, X-ray, EKG hingga tes psikologis.

“Saat itu saya tidak mempertanyakan keputusan yang saya buat. Yang saya tahu, saya ingin membantu wanita lain,” tuturnya.

Lalu, pada Februari ini, Bankos mendapat kabar bahwa ada satu perempuan yang nampaknya cocok menerima rahimnya. “Saya sungguh terkejut dan tak sabar bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.”

Bankos kemudian menjalani operasi 11 jam untuk mengangkat rahimnya menggunan surgical robot. Saluran tuba dan rahimnya diambil, tapi indung telur tetap ada ada sehingga dirinya tidak akan memiliki masalah hormonal seperti menopause dini.

Seiring berjalannya waktu, ia pun melewatkan proses pemulihan dengan baik. Beberapa hari setelahnya ia memang sempat merasakan sakit yang luar biasa.

“Saya menjalani CT Scan untuk untuk memastikan semuanya baik-baik saja, dan aku baik-baik saja,” kata Bankos.

Dokter memintanya untuk istirahat selama 12 pekan. Kondisinya pun makin normal. Bankos merasa senang dan bangga, bisa menjadi bagian turut membuat wanita lain bahagia.

“Tujuan saya membantu seseorang, apakah saya kenal maupun tidak,” tuturnya.

Menurut pihak rumah sakit, perempuan yang mendapatkan rahim Bankos kini kondisinya baik. Rahim milik Bankos bisa berfungsi seperti yang diprediksi tim dokter.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hiburan Anak

Mana yang Lebih Baik, Membeli Banyak Mainan atau Berikan Sedikit Mainan Saja?

boy-child-cute-1598122

Bermain dan menyediakan mainan memang penting guna menstimulasi si kecil. Bahkan selain membelikan pakaian, orangtua pun cenderung gemar belanja mainan untuk anaknya. Apalagi ketika ada diskon mainan. Bahkan sebuah survei menunjukkan jika anak-anak Amerika memiliki lebih dari 100 mainan di rumah mereka. Padahal Bun, kualitas mainan juga perlu dipertimbangkan lho dibanding hanya kuantitas mainan itu sendiri.

Ilmuwan sosial di University of Toledo mempelajari kelompok balita selama sesi permainan bebas. Dalam beberapa sesi, sebagian anak memiliki empat mainan untuk dimainkan. Sedangkan, anak lain mempunyai 16 mainan.

“Ketika ada 16 mainan di ruangan itu, anak cenderung hanya melihat sebentar tiap item maksimal satu menit dan mereka mengambil mainan lain,” kata Alexia Metz, PhD, seorang terapis okupasi di University of Toledo.

Sementara anak-anak yang hanya memiliki empat mainan, justru interaksi mereka lebih terbangun dan berkomunikasi lebih lama. Metz mengatakan, hal ini menunjukkan anak-anak pun memiliki waktu bermain yang berkualitas sekalipun mainan mereka jumlahnya lebih sedikit. Justru dengan kuantitas mainan yang lebih sedikit, mereka menggunakan mainan dengan cara berbeda yang bermanfaat untuk perkembangannya.

“Seiring bertambahnya usia, rentang perhatian mereka menjadi lebih panjang, kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik kemudian mereka enggak gampang menyerah,” kata Metz mengutip WFMZ.

Bahkan dengan jumlah mainan yang lebih sedikit, hal ini justru mengurangi distraksi pada anak. Hal senada disampaikan Jennifer Cervantes, pekerja sosial di Texas Children’s Developmental Pediatric. Ia menjelaskan memiliki terlalu banyak mainan ternyata bisa membebani anak karena konsentrasi mereka akan terbagi dan menyebabkan anak-anak mudah pindah dari satu mainan ke mainan berikutnya, tanpa sepenuhnya terlibat dengan mainan atau menggunakan imajinasi mereka.

“Kadang-kadang ketika anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka dapat dengan mudah berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Alhasil mereka punya sedikit kualitas interaksi dengan setiap mainan,” kata Cervantes.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Chrissy Teigen: Ibu Harus Tahu Batasan Ketika Mengunggah Sesuatu Tentang Anak

chrissy teigen

Nama Chrissy Teigen dan John Legend tentu sudah dikenal publik. Pasangan yang menikah pada 2010 lalu ini tak segan untuk membagikan pandangan dan pola pikirnya mengenai kesehariannya sebagai pesohor di Hollywood. Namun, lewat sebuah wawancara dengan PopSugar, Chrissy mengaku mempunyai aturan tersendiri soal mengunggah keseharian anak-anaknya, Luna dan Miles di media sosial.

“Aku tidak akan mengunggah apa pun yang sekiranya akan membuat mereka kelak malu atau marah karena disampaikan ke banyak orang,” kata model berusia 33 tahun itu. Chrissy mencontohkan banyak orang yang mengunggah foto atau video anak mereka yang sedang tantrum.

Model bernama lengkap Christine Diane Teigen itu mengaku memang gemar membagikan momen yang dilewatinya bersama sang anak. Namun ia memastikan akan melindungi anak-anaknya dengan cara apapun.

“Selain anak-anak, tidak ada batasan (unggahan) apa pun,” katanya sambil tertawa.

Mengutip Kompas.com, alasan Chrissy masih gemar bermain media sosial adalah ia sering merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para penggemarnya. Misalnya, ketika banyak orang membuka diri dengannya soal cerita pasca-melahirkan. Atau saat para penggemar mengenalinya di ruang publik. Para pengemar itu lalu menyampaikan bahwa mereka pernah membaca pandangan-pandangan yang pernah disampaikan oleh Chrissy di medsos.

“Itu sangat luar biasa. Aku senang berbincang dengan orang-orang tentang itu. Mereka selalu punya cerita untuk dibagikan,” kata dia.

Hal lainnya adalah betapa para penggemarnya juga begitu mencintai anak-anaknya. Misalnya, dengan memberikan hadiah untuk ulang tahun putra bungsunya, Miles. Chrissy mengaku sangat tersentuh karena mereka bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan hadiah bagi putranya.

“Itu sangat berkesan bagiku. Benar-benar para penggemar yang luar biasa. Itulah yang membuatku tetap ada di media sosial. Aku menganggap mereka seperti sahabat yang sebenarnya,” kata Chrissy.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Bun, Tak Apa Bila Sekali Waktu Bunda Menangis di Depan Anak

kids

Sebagai orangtua, ada kalanya kita dilanda rasa kesal, marah, atau bahkan ingin menangis. Ya Bun, namanya juga manusia. Tapi ada lho orangtua yang berprinsip tak mau memperlihatkan air mata di depan anaknya. Alih-alih meluapkan emosi secara alami, Bunda biasanya terburu-buru menyeka air mata agar tak terlihat oleh anak. Padahal sejatinya menunjukkan emosi atau keadaan Bunda di depan anak itu normal lho Bun.

“Jika anak melihat orangtua atau pengasuhnya menangis ketika merespon situasi atau momen tertentu, hal itu bermanfaat baginya. Setiap manusia memang perlu mengekspresikan perasaannya,” kata konselor dan psikolog Tammy Lewis Wilborn.

Ya Bun, hal ini membantu anak memiliki kecerdasan emosional, maka penting baginya untuk merasa normal pada setiap emosi yang dialami. Pemicu orangtua tiba-tiba menangis biasanya karena mungkin saat merespon kematian anggota keluarga besar. Untuk hal semacam ini, maka biarkan anak tahu emosi orangtuanya. Apalagi bila ia juga mengenal dekat sosok yang telah berpulang. Dengan menunjukkan emosi yang sama, anak akan merasa ia tidak sendirian dalam kesedihan tersebut.

“Karena anak-anak belum punya banyak pengalaman kehidupan, ketika mereka merasakan perasaan yang berbeda-beda ia juga akan berpikir ‘Apakah hal itu normal? Apakah ada sesuatu yang salah denganku?,” kata Willborn.

Saat anak merasa sedih, orangtua bisa mengajak anak berbicara bahwa kesedihan itu wajar dan akan membantu mereka belajar mengatasi perasaannya secara lebih baik. Nah Bun, hal sama juga dirasakan oleh anak-anak, mereka yang melihat orangtuanya menangis juga akan membuat sosok ayah dan ibunya lebih manusiawi. Mereka juga akan menyadari bahwa orang dewasa pun bisa terpengaruh oleh hal-hal menyedihkan.

“Anak-anak juga bisa bingung dan takut ketika orangtuanya marah. Setelah itu, penting untuk memberi penjelasan sesuai usia anak, bahwa orangtua juga mengalami momen emosional. Yakinkan mereka bahwa Anda baik-baik saja,” kata psikolog anak Jillian Roberts.

Untuk itu, pastikan Bunda pun memberikan informasi yang cukup guna membantu mereka memahami bahwa tak ada alasan untuk takut atau bingung. Bunda dapat bertanya pada orangtuanya tentang hal-hal yang membuat tidak nyaman.

“Ketika membicarakan ke anak tentang pengalaman emosional dan bagaimana kita menghadapinya, kita mengajarkannya tentang keterampilan hidup dan memberi mereka ijin untuk mendiskusikan pengalaman mereka sendiri, dan itu sangat sehat,” kata Roberts.

Komunikasi semacam itu juga akan membuat ikatan antara orangtua dan anak lebih kuat. Yang perlu diingat, sesuaikan bahasa yang dipakai dengan perkembangan mental anak.

Terkadang, ada alasan mengapa orangtua menangis yang tidak bisa diungkapkan kepada anak karena mereka masih terlalu kecil, tetapi yang terpenting adalah memberikan konteks agar anak mengerti bahwa bukan mereka yang menyebabkan ayah atau ibunya menangis. Misalnya saja kita tak bisa menjelaskan bahwa sedang ada masalah utang dengan bank sehingga rumah akan disita. Tapi kita bisa mengatakan,

“Ayah tahu kamu tadi melihat ayah menangis. Ayah sedang menghadapi masalah berat, tapi akan mencari jalan keluar dan kita akan baik-baik saja”.

“Orangtua juga bisa menanyakan pada si kecil tentang perasaannya ketika melihat ayah atau ibunya menangis. Ini akan memberi mereka kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya,” ujarnya. Walau orangtua boleh saja mengekspresikan kesedihannya, tetapi jangan melakukannya terlalu sering karena anak akan merasa bersalah sebab mereka ingin melakukan sesuatu tetapi tidak tahu harus bagaimana.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top