Parenting

Pentingnya Mengenalkan Tata Krama Sejak Kecil Nih Bun…

text7

Sebagai orangtua, Bunda pasti mengharapkan si kecil bisa tumbuh jadi sosok yang punya karakter baik dan sopan kan Bun? Karakter semacam itu tak cukup dari kebiasaan suka menolong saja Bun. Melainkan juga tercermin dari kebiasaan si kecil dalam menerapkan tata krama dalam hidupnya sehari-hari. Nah, bicara soal tata krama, sudahkah Bunda mengajarkan 10 hal ini kepada buah hati Bunda?

Ajarkan si Kecil untuk Selalu Minta Tolong Terlebih Dahulu Kalau Memang Butuh Bantuan

Meminta bantuan kepada orang yang lebih tua maupun sebayanya itu hal yang lumrah Bun, hanya saja jangan biarkan si kecil lupa mengucapkan kata ‘tolong’, sebab ini adalah bentuk penghormatan yang sopan kepada pihak yang dimintai tolong.

Dan Bunda perlu tahu, membangun kebiasaan positif ini merupakan upaya membangun karakter si Kecil supaya tidak suka memaksa.

Ajarkan untuk Menghargai Orang dengan Mengucap Kata ‘Terima Kasih’

Sebagai orang dewasa, kita tentu sepakat bahwa mengucap terima kasih adalah bentuk menghargai usaha atau upaya seseorang kan, Bun? Yup, kata ‘terima kasih’ pun jangan sampai dilewatkan atau tidak dipahami oleh si kecil dalam proses pembentukan karakternya. Baik saat si kecil mendapatkan bantuan atau pertolongan maupun hal-hal lainnya seperti ucapan atau pujian.

Memberikan Tempat dan Waktu Bagi Orangtua Lebih Dulu

Mengajarkan si kecil untuk menghargai dan menghormati yang lebih tua juga perlu. Ini merupakan warisan tata krama yang tak mungkin dihilangkan ya Bun. Dalam segala keterbatasan emosi maupun perbuatan, si kecil harus tetap melakukannya. Bunda pun perlu mengajarkan dan mengenalkan soal hal ini secara perlahan. Di tahap awal misalnya, Bunda bisa melatih si Kecil mengalah dan memberikan tempat dan waktu bagi orangtua terlebih dahulu.

Menggunakan Tangan Kanan

Karena kita lahir dan besar di budaya ketimuran dimana tangan kanan mengacu pada sopan santun, maka wariskanlah tata krama yang satu ini pada si kecil ya Bun. Dalam proses belajarnya, biarkan si kecil mengerti makna sopan santun sekaligus membedakan kapan ia bisa memakai tangan kanan dan kebebasan kapan ia boleh sesuka hati memakai tangan yang mana saja. Kalau Bunda sudah melatihnya, nantinya kebiasaan semacam ini akan muncul secara naluriah di kemudian hari, Bun.

Mendengar dan berbicara di waktu yang tepat

Di usianya, mungkin si kecil sedang lucu-lucunya karena sudah mulai bisa berkata-kata. Bahkan, tidak jarang si kecil mengeluarkan semua isi hati dan pikirannya melalui kata-kata yang sangat menggemaskan untuk didengar. Dengan demikian, ini pun saatnya Bunda mulai mengajarkan tata krama dalam berkomunikasi.

Yup, mulailah dengan mengajar si kecil berbicara tanpa memotong pembicaraan orang lain. Pastikan si kecil mengerti bahwa bercerita saat orang sedang berbicara merupakan hal yang tidak baik.

Mengucapkan Permisi dan Maaf

Anak-anak bisa saja menabrak sesuatu saat berlari atau mungkin bersendawa karena kembung dan kenyang, atau bahkan buang angin saat di depan umum. Kendati memang tak sengaja dan orang lain memakluminya, tapi coba yuk Bun untuk harus tetap berkata ‘maaf’ setelah hal semacam itu terjadi. Di lain sisi, ajarkan juga untuk mengucapkan salam dan ‘permisi’ bila hendak lewat.

Tidak Mengatakan Hal yang Tidak Enak Soal Makanan

Tak semua makanan yang terhidang itu lezat sekalipun tampilannya menarik. Sebagai orang dewasa, mungkin kita bisa mengontrol diri untuk tidak mengutarakan hal buruk soal makanan yang tersaji terutama bila sedang bertamu. Nah, hal semacam ini pun yang perlu dikenalkan pada si kecil, ya Bun. Jangan sampai tingkah polosnya menyinggung orang lain yang telah menyajikannya.

Merapikan Kembali Benda yang Sudah Digunakan

Agak sulit memang mengajarkan anak untuk bersikap rapi kepada anak-anak, tapi bukan berarti tak bisa kan Bun? Begini, kalau si kecil sudah terbiasa berantakan di rumah, tentunya kebiasan semacam ini akan terbawa bila sudah besar nanti ia bertandang atau menginap di rumah temannya.

Karenanya, sedari sekarang, libatkan anak untuk terbiasa merapikan kembali barang yang sudah dipakainya. Bunda bisa melatihnya dengan mengajaknya merapikan mainan dan tempat tidur.

Merapikan Kembali Piring dan Meja Makan

Sejak ia kecil, yuk Bun ajari si kecil untuk mengerti bahwa piring kotor bekas makan dari meja sebaiknya dibawa ke tempat cuci piring. Sepele, tapi hal ini akan melatih buah hati Bunda untuk selalu menjaga kebersihan, kerapihan, dan kedisiplinan bahkan sikap gotong royong dalam keluarga.

Ajar Si Kecil untuk Punya Empati dan Simpati dalam Menolong Orang Lain

Sikap menolong orang lain bisa Bunda latih dari hal paling sederhana yaitu mengajaknya untuk berinisiatif membukakan pintu saat Bunda hendak membuka pintu bila ada tamu datang. Atau sikap kedua yaitu tak sungkan memberikan pujian bila ada teman atau saudara yang tampil menarik atau mendapat penghargaan tertentu.

Si kecil yang tak terbiasa melakukan hal-hal semacam ini akan tumbuh jadi anak-anak yang cenderung kaku dalam bersosialisasi kalau ia sudah mengenal lingkungan sosial.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Anak Bisa Jadi Korban Bila Bunda Terlalu Percaya Mitos Soal Imunisasi

adorable-baby-bed-1556706 (1)

Bun, pasti Bunda menyadari, sekarang ini banyak orangtua yang khawatir apabila anaknya harus divaksinasi. Padahal pemberian vaksin merupakan hal penting harus diberikan kepada anak. Dengan imunisasi yang lengkap dan teratur, tubuh bayi, anak, dan remaja dirangsang oleh vaksin untuk membentuk zat kekebalan spesifik untuk mencegah penularan penyakit.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang memutuskan tak memberi imunisasi lengkap pada anak mereka karena banyak hal. Salah satunya termakan informasi palsu yang mereka dapat dari internet atau lingkungan sekitar. Nah, dalam acara Imunisasi Lengkap dan Nutrisi Seimbang Untuk Mendukung Indonesia Lengkap oleh Nestle Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia di Jakarta, Senin (22/4/2019), disampaikan mitos dan fakta tentang imunisasi berikut ini, Bun.

Mitos: Imunisasi Sebabkan Autisme, Lumpuh, dan Mengandung Racun. Benarkah?

Masih banyak orangtua yang ragu memberi imunisasi pada anaknya lantaran sudah banyak isu yang menyebar mengenai efek samping imunisasi. Padahal, isu tersebut hanya hoax belaka. Salah satu hoax yang paling sering didengar adalah vaksinasi dapat menyebabkan autisme pada anak atau sebabkan kelumpuhan.

Padahal berbagai penelitian ilmiah pada 2014-2019 telah menyimpulkan bahwa vaksin tidak terbukti menyebabkan autisme atau berbahaya. Untuk itu, Bunda perlu lebih banyak lagi membaca literasi yang pasti guna mencaritahu informasi yang sebenarnya mengenai imunisasi.

Mitos: Demam Setelah Imunisasi Dianggap Berbahaya

Faktanya, kebanyakan anak akan memberi respon demam setelah imunisasi. Bahkan ada yang mengalami bengkak di area suntikan. Bunda tak usah panik dan menanggapinya berlebihan. Hal ini merupakan reaksi yang wajar dan tidak berbahaya. Hal ini tidak berkaitan dengan kualitas vaksin yang sudah diberikan pada si kecil. Kalau anak demam, berikan anak obat penurun panas tiap 4 jam sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Mitos: Terlambat memberi Imunisasi Sejatinya Tak Masalah

Faktanya, hal ini tentu salah kaprah. Bunda perlu menyadari, si kecil membutuhkan kekebalan dan perlindungan dari penyakit. Dan hal itu akan bekerja bila Bunda mengantarkan si kecil imunisasi sesuai jadwal dan jarak yang direkomendasikan.

Jika terlewat atau tertunda, anak belum memiliki kekebalan spesifik sehingga masih rentan penyakit. Kekebalan menjadi tidak optimal jika jarak antar imunisasi yang sama terlalu jauh atau terlalu dekat dari jadwal yang dianjurkan.

Mitos: Imunisasi Pada Saat Bayi dan Balita Sudah Cukup Sehingga Tak Perlu Vaksin Saat Remaja.

Hal ini salah besar karena imunisasi saat remaja bahkan dewasa masih diperlukan karena kekebalan dapat menurun seiring waktu setelah imunisasi pada saat bayi. Selain itu anak usia sekolah dan remaja makin banyak berinteraksi dengan orang lain sehingga berisiko tertular penyakit. Oleh karena itu IDAI menganjurkan imunisasi lanjutan pada usia sekolah dan remaja.

Mitos: Tak Usah Menambah Imunisasi, Apalagi yang Tak Disubsidi Pemerintah

Bun, sejatinya semua imunisasi tentu penting. Namun pemerintah baru menyediakan subsidi untuk sebagian vaksin seperti hepatitis B, polio, BCG, DPT-Hib, campak rubela, DT, dan Td. Untuk beberapa vaksin pneumokokus, HPV, JE, dan rabies diprioritaskan di beberapa provinsi tertentu.

Di samping itu, ada pula vaksin yang belum mendapat subsidi pemerintah seperti pneumokokus, rotavirus, influenza, japanese encephalitis B, rabies, MMR, demam tifoid, cacar air, hepatitis A, HPV, dan meningitis. Padahal vaksin tersebut sama pentingnya untuk diberikan untuk perlindungan tubuh.

Dokter spesialis anak Soedjatmiko dari IDAI mengatakan untuk melawan hoaks antivaksin adalah dengan cara jangan membaca hoaks, jangan ditanggapi, dan jangan dipercaya.

“Manfaat imunisasi sudah terbukti di semua negara, jadi hoaks anti imunisasi tak perlu dipercaya,” Pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Imunisasi Penting Bagi Tumbuh Kembang Buah Hati, Bahkan Cegah Jutaan Kematian

nestle

Bun, tahukah Bunda? Imunisasi telah menyelamatkan jutaan jiwa dari penyakit menular. Pemberian imunisasi yang rutin dan lengkap disertai dengan pemenuhan nutrisi yang tepat dapat mencegah penyakit dan mendukung tumbuh kembang yang optimal. Orangtua perlu tahu, imunisasi memberikan perlindungan yang bersifat spesifik terhadap penyakit berbahaya. Ini karena pemberian imunisasi dapat merangsang kekebalan spesifik yang efektif mencegah penyakit berat.

Namun di luar sana masih banyak anak yang tak mendapat vaksin atau bahkan vaksinnya tidak lengkap. Risiko yang diterima anak-anak ini pun berbahaya bahkan berpotensi mematikan. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), imunisasi diperkirakan dapat mencegah 2-3 juta kematian setiap tahun serta menyelamatkan 1,5 juta nyawa apabila cakupan imunisasi global bertambah.

Menyadari pentingnya imunisasi bagi buah hati, maka setiap tahunnya diadakan peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID). Di Indonesia sendiri, momentum PID ditandai dengan adanya tema nasional “Imunisasi Lengkap, Imunisasi Sehat”. Rangkaian pelaksanaan PID akan berlangsung pada tanggal 24-30 April 2019. Sementara itu, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan PT Nestle Indonesia mendukung komitmen bersama guna mewujudkan Indonesia sehat.

“Imunisasi berperan penting untuk melindungi bayi dan anak dari berbagai penyakit karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan agar anak mampu melawan penyakit-penyakit menular yang berbahaya. Anak yang tak mendapatkan imunisasi lengkap berpotensi tak memiliki kekebalan yang spesifik terhadap suatu penyakit sehingga bisa memicu sakit berat, cacat, bahkan meninggal,” ujar dr. Soedjatmiko dari IDAI di Jakarta, Senin (22/4).

Perlu dicatat, pemberian imunisasi pun harus dibarengi dengan asupan nutrisi yang seimbang ya Bun. Hal ini guna mencegah si kecil mengalami kekurangan nutrisi. Anak yang mendapat nutrisi berikut dengan imunisasi yang lengkap akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Si Kecil Hendak Ujian, Jangan Sampai Didera Cemas Berlebihan

beautiful-beauty-bed-2072890 (1)

Sebagian ibu tengah merasakan buah hatinya sedang menghadapi Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) di tingkat sekolah dasar. Alih-alih menenangkan perasaan buah hati agar tak cemas selama menjalani ujian, rasa cemas justru bisa mendera orangtuanya. Ada Bunda yang mungkin takut bila si kecil tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan baik.

Jika sudah begitu, cepat-cepatlah mencari cara untuk mengatasi rasa cemas yang Bunda rasakan. Pasalnya, kecemasan orang tua bisa berdampak buruk bagi anak, misalnya saja, membuat anak yang tadinya tenang jadi ikut khawatir dengan kemampuannya sendiri.

Mengutip Kumparan, psikolog Anna Surti Ariani mengungkapkan, kecemasan orang tua akan menghambat anak untuk dapat bersikap tenang. Padahal, ketenangan sangat penting agar anak mampu mengingat apa-apa yang selama ini sudah dipelajari atau dilatihnya dan dapat berkonsentrasi mengerjakan soal-soal ujian nanti. Untuk itu, yuk atasi rasa cemas Bunda dengan cara-cara berikut ini.

Curahkan Perasaan Bunda Pada Ayah Atau Teman Dekat Bunda

Bun, cobalah curahkan perasaan khawatir atau cemas Bunda pada orang yang bisa Bunda percaya. Tapi usahakan untuk tidak curhat ke sesama ibu lain yang tentunya sedang merasa cemas atau panik. Kalau Bunda berbagi kecemasan dengan ibu dari temannya buah hati, yang terjadi justru Bunda dan teman Bunda dibuat semakin khawatir. Pilihlah orang yang Bunda percaya dapat menenangkan Bunda, misalnya saja pada suami yang mungkin lebih tenang menghadapi hal ini.

Buang Energi Cemas yang Menghantui Bunda

Mungkin ini pertama kali Bunda didera rasa cemas karena buah hati akhirnya melakoni ujian. Bisa jadi rasa cemas yang Bunda alami jadi sangat besar. Nah, cobalah buang energi negatif itu. Carilah kegiatan seperti berlari, berteriak, hingga memukul atau membanting bantal ke lantai. Sekalipun kelihatannya sepele, tapi sejatinya hal tersebut dapat membantu Bunda meredakan rasa cemas lho.

Lakukan Relaksasi

Bila Bunda sudah berusaha membuang atau melepaskan setiap energi kecemasan, cobalah untuk bernapas dengan tenang. Mengatur napas adalah salah satu cara relaksasi sederhana yang paling mudah untuk mengelola dan menurunkan tingkat stres.

Bunda bisa memulai relaksasi dengan memilih duduk di lantai atau di kursi sembari mengendurkan bahu dan leher Bunda. Setelahnya, ambil napas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan napas secara perlahan melalui hidung. Lakukan hal ini dengan tak usah terburu-buru. Atau bila Bunda terbiasa melakukan meditasi atau yoga, cobalah lakukan guna mengusir rasa gusar dan cemas.

Tersenyum atau Tertawa

Ada satu hal yang dapat Bunda lakukan yaitu dengan membuat diri Bunda tersenyum atau tertawa. Misalnya saja, mendengarkan lagu-lagu favorit Bunda, menonton serial komedi yang selalu sukses membuat Bunda terbahak-bahak, hingga chatting dengan teman lama yang selalu punya obrolan konyol. Tapi ingat ya Bun, jangan bahas soal ujian anak tapi ya.

Dan Yakinlah dengan Kemampuan Anak

Bun, sudahkah Bunda yakin dengan kemampuan si kecil? Kali ini adalah ujian perdananya, sudah sewajarnya Bunda pun percaya dengan kemampuan mereka. Percaya bahwa anak telah berusaha melakukan yang terbaik untuk mengerjakan ujian ini.

Berdoa saja, agar ia diberikan kelancaran dalam menghadapi ujian yang akan dimulai esok hari. Selain itu, hasil ujian bukanlah tujuan utama belajar dan ujian sekolah bukanlah satu-satunya cara untuk menakar kecerdasan seorang anak.

Jadi, yuk kurangi rasa cemas Bunda dan yakinlah si kecil bisa melewati ujian ini dengan baik. Bila Bunda terlalu cemas dan si kecil tahu, yang ada dia justru sukar untuk bersikap tenang. Padahal, ketenangan sangat penting agar anak mampu mengingat apa-apa yang selama ini sudah dipelajari atau dilatihnya dan dapat berkonsentrasi mengerjakan soal-soal ujian nanti.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top