Kesehatan Ibu & Anak

Pastikan Kondisi Bayi Tetap Sehat Walaupun Terserang Cacar Air Saat Hamil

woman-358779_1920

Momen kehamilan menjadi momen yang sangat dinantikan pasangan suami istri. Tentunya, Bunda menginginkan kondisi bayi dalam kandungan agar terus terjaga kesehatannya, bukan? Baik menjaga asupan nutrisinya maupun kondisi kesehatan agar bayi dapat lahir dengan normal.

Namun, bagaimana jika ternyata Bunda harus terserang penyakit cacar air selama masa kehamilan? Akankah membawa pengaruh kesehatan pada kondisi janin? Nah, untuk menjawabnya, mari simak bersama penjelasan berikut ini!

Cacar Air yang Terjadi Saat Kehamilan, Tak Bisa Dianggap Remeh

Cacar air merupakan suatu penyakit yang sangat menular dan bisa menimbulkan risiko kesehatan yang cukup serius, termasuk pada bayi yang sedang di dalam kandungan. Maka, apakah cacar saat hamil dapat membahayakan perkembangan janin di dalam kandungan? Jawabannya, ya!

Karenanya, jika Bunda merasa mengalami cacar air, perhatikan gejala-gejala yang Bunda derita seperti demam, timbul bintik-bintik merah, dan gatal. Lalu, langsunglah periksakan diri Bunda ke dokter, untuk mendapat penanganan yang sesuai.

Jika Bunda telat mendapat penanganan lebih lanjut, cacar air saat hamil dapat menimbulkan komplikasi seperti :

  • Pneumonia, bisa terjadi baik pada bayi atau ibu hamil.
  • Conginetal varicella syndrome

Ini merupakan sebuah sindrom kesehatan yang dapat memengaruhi kondisi calon bayi Bunda. Sindrom ini akan terjadi pada bayi saat cacar air diderita ibu hamil di 20 minggu pertama kehamilan.

Seorang bayi yang terkena sindrom ini bisa saja menderita perkembangan kaki dan tangan yang lebih lambat, pembengkakan pada kedua mata, dan perkembangan otak yang tidak sempurna.

  • Neonatal varicella

Suatu jenis infeksi yang mengancam hidup bayi yang baru lahir. Infeksi ini bisa terjadi jika si ibu menderita cacar air beberapa hari sebelum melahirkan, atau 48 jam sebelum melahirkan.

  • Hepatitis dapat terjadi pada si ibu hamil.

Gejala-gejala Khusus yang Menyertai Cacar Air Pada Ibu Hamil Harus Diperhatikan

Meskipun cacar saat hamil dapat menimbulkan komplikasi di atas, statistik menyebutkan kalau risiko terjadinya komplikasi cukup rendah, kok. Pasalnya, kasus cacar air termasuk jarang kasusnya pada ibu hamil.

Selain itu, kebanyakan ibu hamil yang menderita cacar air bisa sembuh dengan pengobatan, tanpa efek berbahaya bagi si jabang bayi.

Lalu, perlukah dirawat di rumah sakit? Jika Bunda menderita cacar saat hamil, perhatikan pula gejala-gejala yang menyertainya. Perawatan intensif di rumah sakit diperlukan jika Bunda mengalami gejala-gejala khusus, seperti :

  • Sakit kepala, pusing, mual, dan muntah-muntah
  • Timbulnya masalah pernapasan
  • Timbul kemerahan pada kulit yang kemudian berdarah
  • Timbul ruam pada kulit yang parah
  • Pendarahan pada vagina

Apa yang harus dilakukan jika terjadi komplikasi saat bayi lahir?

Saat Bunda menderita cacar air di masa kehamilan, maka tidak ada pengobatan atau penanganan yang dapat mencegah bayi Bunda terhindar dari cacar air. Jika sampai terjadi, dokter nantinya akan merawat bayi Bunda dengan antibodi cacar air yang disebut varicella zoster immune globulin (VZIG).

Nah, itulah serba-serbi kondisi Bunda yang cacar air di masa kehamilan yang harus Bunda ketahui agar kondisi bayi dalam kandungan bisa tetap sehat. Semoga bermanfaat!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Supaya Si Kecil Mau Mendengarkan Bunda tanpa Harus Diancam

boy-child-cute-1598122

Bun, saat si kecil tak mau menuruti nasihat orangtua, biasanya hal ini membuat para orangtua kehabisan akal untuk mengendalikan si kecil. Apalagi kalau kondisi orangtua sudah lelah, misalnya baru pulang kerja atau sedang sibuk mengurus adiknya. Akhirnya, alih-alih menasehati, tak sedikit orangtua yang akhirnya mengancam sang anak. Ini karena ancaman, dianggap salah satu cara paling mudah untuk mendapatkan hasil secepat mungkin.

Sebenarnya, kita para orang tua, perlu tahu: ancaman tidak efektif untuk membuat anak menurut. Ya Bun, pasalnya ancaman hanya ampuh sesaat saja tapi tidak untuk jangka panjang.

Lagipula anak yang sering diancam kelak menjadi anak yang terbiasa diancam dulu baru mau melakukan sesuatu. Tentu kebiasaan semacam ini jadi tak mendidik si kecil, kan? Tugas orangtua tak hanya mengasuh si kecil, tapi juga menumbuhkan sifat tanggung jawab dan rasa percaya diri padanya. Lantas bagaimana solusinya, Bun?

Adele Feber, seorang penulis buku berjudul How to Talk so Kids Will Listen and Listen so Kids Will Talk menyampaikan tiga tips ini, Bun.

Berikan Pilihan Padanya dan Jangan Mengekangnya

Berikan pilihan yang mudah dipahami oleh anak. Misalnya, “Rapikan mainanmu sekarang supaya kamu masih punya waktu nonton televisi sebelum tidur, atau rapikannya nanti saja tapi kamu enggak nonton televisi sama sekali.” Dengan memberikan pilihan, si kecil merasa mendapat kepercayaan sehingga ia akan percaya diri untuk melakukan hal tersebut. Selanjutnya, biarkan ia memilih dan Bunda tak perlu mengekangnya.

Beri Batasan

Bila Bunda memberikan perintah, maka berikan batasan yang jelas padanya. Batasan ini melatih kepekaan dan rasa tanggung jawabnya, Bun. Misalnya, “Ibu akan pergi ke rumah Nenek 30 menit lagi. Kamu bisa ikut kalau sekarang segera mandi dan berpakaian. Kalau kamu belum siap saat ibu akan berangkat, kamu bisa tidak bisa ikut dan main di rumah saja.”

Dan Tetapkan aturan

Buatlah aturan yang jelas dan sampaikan aturan ini di awal serta pastikan anak paham apa saja yang menjadi tugas atau kewajibannya berikut konsekuensi jika ia tidak memenuhinya. Entah mengenai jam main, atau hal-hal seputar aktivitasnya. Bila si kecil menunjukkan perilaku melanggar aturan, maka Bunda tak perlu kesal. Tetap ingatkan ia lagi dan lagi. Dengan begitu, Bunda tidak perlu lagi mengancam.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Kiat Agar Si Kecil Berani Tidur Sendiri

bed-child-cute-101523

Bun, saat si kecil sudah bertambah besar, akan ada tantangan baru yang akan Bunda hadapi. Salah satunya urusan tidur. Umumnya, anak-anak terbiasa tidur bersama orangtuanya sejak bayi. Hal ini yang kemudian akan membuat tantangan baru bagi orangtuanya lantaran si kecil tak mau tidur di kamar yang terpisah dari orangtuanya. Padahal, anak yang berani tidur sendiri akan jauh lebih mandiri lho Bun.

Tenang, ada caranya supaya si kecil berani dan mau tidur sendiri. Tapi Bunda perlu ingat, tentu akan ada yang namanya proses penyesuaian, dan memang butuh kesabaran ekstra. Karena mungkin bagi si kecil, proses ini tidaklah mudah dan mungkin akan memakan waktu yang cukup lama hingga berbulan-bulan sampai anak benar-benar terbiasa tidur sendiri. Untuk itu, Bunda dan pasangan juga harus menyiapkan diri dengan kesabaran dan berbagai trik agar anak mau tidur di kamar yang terpisah.

Mulailah Pelan-pelan, Si Kecil dan Bunda Perlu Sama-sama Belajar

Sebaiknya Bunda pun juga harus mempersiapkan si kecil untuk belajar tidur sendiri dari jauh-jauh hari supaya ia pun tak kaget. Satu hal yang penting, tak usah menakut-nakuti anak dengan cerita yang seram atau ancaman agar ia mau tidur sendiri sebagai senjata untuk mendisiplinkan anaka.

Di lain sisi, Bunda justru harus menyiasati supaya anak merasa antusias dengan kamar barunya. Libatkan anak dalam menata kamar tidurnya mulai dari warna cat, pilihan sprei, dan berbagai perabot kamar lainnya. Di lain sisi, berikan juga “pancingan” lain semisal kebebasan anak untuk membangun istana boneka sendiri atau membuat hiasan sesuka hatinya.

Yang penting cobalah untuk membimbing si kecil agar dapat membangun pengalaman yang menyenangkan di kamar barunya ya Bun.

Jelaskan dan Berikan Pengertian Padanya Tentang Perubahan yang Terjadi

Si kecil yang menolak untuk tidur sendiri biasanya karena ia tak mengerti bahwa ada perubahan yang terjadi dan butuh penyesuaian untuk hal itu. Karenanya, berikan pengertian padanya sampai ia mengerti bahwa waktu tidur sendiri adalah kebiasaan setiap orang saat mereka beranjak dewasa.

Dengan memberikan pengertian, Bunda pun membuka komunikasi dan ia pun semakin mengerti bahwa tak selamanya kebiasaannya di masa kecil bisa terus dilakukan bersama orang dewasa.

Jadikan Kamar Baru Sebagai Kejutan dan Hias dengan Ornamen yang Ia Suka

Supaya si kecil mau tidur di kamarnya sendiri, ia harus merasa aman dan nyaman dalam kamarnya. Maka, aturlah agar kamar anak terasa hidup tapi cukup tenteram untuk beristirahat. Siapkan boneka-boneka, bantal, dan guling supaya anak merasa aman dan tenang saat tidur. Biarkan juga si kecil menyimpan mainan kesukaan atau buku bacaan yang ia inginkan di dalam kamar supaya timbul rasa memiliki dan anak cepat betah di kamar barunya.

Atur Waktu Tidur Anak dengan Baik supaya Ia Memiliki Jam Tidur yang Teratur

Si kecil akan susah tidur kalau jam biologisnya berantakan. Untuk itu, Bunda harus memastikan bahwa anak tidur pada waktunya. Jangan memaksanya untuk tidur terlalu cepat, tapi usahakan agar anak tidak tidur melampaui jam tidurnya.

Jika anak sulit terlelap di malam hari, Bunda bisa memotong atau memajukan jam tidur siangnya. Pastikan juga si kecil sudah kenyang dan sudah ke kamar mandi sebelum tidur agar dia tidak menjadikan hal-hal ini sebagai alibi untuk keluar dari kamarnya di malam hari.

Dan Selalu Hargai Usaha Si Kecil ya Bun

Supaya anak lebih semangat untuk belajar tidur sendiri, Bunda bisa memberikan imbalan setelah ia berhasil tidur sendiri di kamarnya. Pastikan imbalan tersebut bersifat sederhana dan tidak terlalu berlebihan namun membuat anak merasa senang saat menerimanya.

Bunda dapat memberikan ciuman, pujian, dan ucapan terima kasih di pagi hari. Bunda pun dapat menghidangkan menu sarapan favoritnya sebagai bentuk apresiasi. Jika usahanya dihargai, maka si kecil pun semakin terpacu untuk belajar tidur sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Tasya Kamila-Randi Bachtiar Mulai Rasakan Repotnya Mengurus Buah Hati

tasya

Tasya Kamila dan sang suami, Randi Bachtiar baru saja menggelar akikah untuk anak pertama mereka, Arrasya Wardhana Bachtiar. Mereka juga menceritakan kesehariannya setelah tujuh hari menjadi orangtua. Randi mengaku efek yang dirasa pasca menjadi ayah tentu saja kurang tidur.

“Makin kurang tidur, sahur, salat. Pas baru mau tidur sudah nangis lagi. Pagi kita ngejemur bayi, jadi bangun lagi penuh tantangan,” ujarnya seperti dikutip dari detik.com, Senin (20/5).

Tasya pun tak menampik tantangan yang dihadapi Randi. Sebagai ibu baru, ia juga mengungkapkan sulitnya menyusui sang buah hati.

“Menyusui challenge buat aku, ada aja drama mengasihi. Kita jalani dengan ikhlas dan semangat melalui asi. Senang lihat anaknya kenyang ASI walau lecet luka,” tuturnya. Tasya Kamila dan Randi Bachtiar juga sudah membagi tugas untuk membantu mengurus anaknya. Dan Randi mengaku awalnya agak kerepotan saat menggantikan popok anaknya.

“Aku senang gantiin popok, agak jijik awalnya, tapi ya dijalanin saja,” katanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top