Kesehatan Ibu & Anak

Pasca Melahirkan, Bunda Juga Harus Lakukan Perawatan Agar Kecantikan Kembali Terpancar

pexels-photo-460292 (1)

Bunda baru saja melahirkan buah hati? Percayalah, setelah ini pasti Bunda pasti akan jauh lebih sibuk dari biasanya. Kalau yang tadinya masih sempat melakukan perawatan ini itu untuk tubuh, seiring hadirnya si kecil, mungkin harapan Bunda untuk bisa merawat diri seintens dulu akan berkurang. Tapi yang namanya kulit, kalau tidak dirawat sedemikian rupa pasti juga akan berubah jadi kusam dan tak secerah dulu.

Cari waktu untuk merawat diri memang sulit, Bun. Tapi bukan berarti tak bisa. Meski kesibukan jadi seorang ibu memang bisa memangkas seluruh waktu Bunda, setidaknya sediakan waktu tak sampai satu jam untuk merawat diri ya, Bun.

Utamakan Skincare, Demi Menenangkan Kulit Akibat Hormon yang Tidak Seimbang

pexels-photo-413924

Sejak masa awal kehamilan hingga Bunda melahirkan, kulit Bunda pasti mengalami beberapa masalah seperti jerawat, sensitivitas, hingga pigmentasi. Karenanya, jangan lupakan fungsi dan peran skincare, pilihlah rangkaian perawatan yang khusus untuk ibu baru pasca melahirkan lantaran pasti kandungannya diformulasikan untuk memperbaiki gejala ketidakseimbangan hormon pada kulit Bunda.

Demi Samarkan Kekurangan Kulit, Aplikasikan Concealer Juga Tak Masalah, Bun

woman-hand-girl-professional (2)

Yang namanya mengemban tugas baru sebagai ibu, pasti lelah akan mendera sehingga memiliki kantung mata hitam pun akan jadi hal biasa. Apalagi Bunda akan lebih sering bergadang sepanjang malam demi sang buah hati. Untuk menyamarkan masalah yang satu ini, percayakan saja pada concealer ya, Bun. Sebab concealer akan bagus untuk menyamarkan mata lelah Bunda.

Urusan Kulit Badan, Percayakan Pada Body Oil yang Bisa Membantu Melembabkan Kulit Bunda

pexels-photo-615493

Bunda pasti sudah mahfum kalau masa kehamilan turut memberi pengaruh pada tubuh. Termasuk pada tingkat kelembaban di kulit. Bisa jadi kulit Bunda malah lebih kering. Karenanya, carilah produk perawatan tubuh tepat, yaitu yang bisa memberi kelembaban ekstra seperti body oil. Produk perawatan yang satu ini bahkan mampu mengembalikan keremajaan serta elastisitas kulit.

Gantilah Sabun dengan Bubble Bath, Apalagi Seiring Berjalannya Waktu, Bunda Pasti Ingin Menghabiskan Banyak Waktu dengan Si Kecil. Terlebih Saat Mandi…

pexels-photo-1064724

Urusan mandi pun tak bisa disepelekan, Bun. Carilah produk sabun yang tepat. Apalagi untuk Bunda yang biasa berendam di bathtub. Setidaknya kenalilah beberapa brand kecantikan yang memiliki produk bubble bath yang juga bisa digunakan bersama buah hati. Menyenangkan bukan, kalau Bunda bisa merawat diri sekaligus mandi bersama si kecil tanpa khawatir buah hati Bunda akan mengalami alergi?

Selelah Apa pun Bunda di Siang Hari, Sempatkan Melakukan Perawatan Pada Malam Hari ya Bun

pexels-photo-460295

Malam hari saat Bunda tidur adalah waktu terbaik dimana kulit akan beregenerasi. Karenanya, sayang sekali kalau Bunda sampai melewatkan ritual melakukan perawatan kulit di malam hari. Sebab efeknya pasti terasa di keesokan harinya, yaitu memberi tampilan kulit yang lebih segar. Setidaknya, cukup untuk menyamarkan semua kelelahan yang Bunda rasakan saat menjalani rutinitas sebagai ibu baru. Mulai sekarang, cobalah untuk rutin mencari tahu dan memilih produk yang ditujukan untuk menyegarkan sekaligus mengembalikan keseimbangan kulit Bunda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Bila Menyapih Dirasa Susah, Mungkin Metodenya Ada yang Salah Bunda

adorable-baby-black-and-white-2015884

Bun, kegiatan menyapih untuk Bunda tentu menjadi momen yang berat. Terlebih bagi para Bunda yang baru pertama memiliki anak. Belum lagi proses menyapih pun sangat menguras fisik, pikiran, hingga emosi. Momen seperti tak tega pada buah hati, akhirnya membuat Bunda kian mengulur waktu proses menyapih si kecil.

Biasanya, anak sudah bisa mulai disapih di usia empat tahun dua bulan. Bagi Bunda yang sedang kebingungan mencari cara menyapih yang tepat, berikut ini ada metode yang direkomendasikan oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Tapi yang terpenting menurutnya, anak tidak boleh dipaksa terlalu keras untuk disapih, dan Bunda juga harus siap. Jika Bunda masih belum tega, maka tandanya Bunda belum siap

Pastikan Bunda Melakukan Proses Tersebut Secara Perlahan dan Bertahap

Cara pertama yang dapat Bunda lakukan yaitu dengan mengurangi frekuensi menyusu anak. Misalnya, jika biasanya si kecil akan menyusu setiap 2 atau 3 jam sekali. Cobalah memperpanjang jaraknya menjadi 4 atau 5 jam. Cara ini mungkin akan sulit di awal, yang penting Bunda harus konsisten. Prinsipnya, jangan menawarkan dan jangan mengomelinya juga Bun saat ia masih kesulitan melepaskan kebiasaan menyusu dari payudara Bunda. Intinya, lakukan secara bertahap dan konsisten.

Pastikan Komunikasi dengan Anak Berjalan Dua Arah

Apapun cara yang Bunda terapkan saat proses menyapih, yang penting jangan lupa untuk selalu mengkomunikasikan dengan si anak ya Bun. Saat ia sudah berusia kurang lebih dua tahun, anak sudah memahami kata-kata orang tua meski masih terbatas. Beri pengertian kepada anak bahwa ia tengah dalam proses menyapih tanpa harus melakukan kebohongan.

Alihkan Perhatian Si Kecil Semampu Bunda

Menyapih si kecil butuh skill dan keteguhan dari Bunda. Salah satunya keahlian mengalihkan perhatian si kecil. Misalnya, ketika anak hendak tidur, ibu bisa membacakan buku hingga ia mengantuk dan tertidur tanpa menyusu langsung dari payudara.

Bila ia mengeluhh haus, Bunda bisa memberikannya cairan pengganti ASI seperti air putih atau jus buah yang Bunda berikan lewat gelas. Atau, Bunda juga bisa memperkenalkan susu formula atau susu pengganti lainnya jika dirasa perlu. Satu hal yang penting, hindari penggunaan dot ya Bu.

Bunda Juga bisa Melibatkan Ayah Dalam Proses Ini ya 

Bun, jangan lupa untuk melibatkan ayah dalam proses bonding dengan buah hatinya. Selama ini si kecil mungkin bisa saja bersikeras meminta menyusu di payudara ibu karena ibu berada di sisi anak.  Di momen semacam inilah ayah bisa membantu mengalihkan perhatian anak dengan mendongeng atau melakukan aktivitas lain sampai anak lelah dan tertidur atau mau minum selain ASI dari payudara ibu.

Dan yang Paling Penting, Usahakan Kondisi Si Kecil Memang Sudah Siap untuk Disapih

Yang terpenting, hindari proses menyapih anak jika si kecil memang terlihat belum siap untuk disapih. Misalnya, jika ia sangat rewel atau tengah dalam kondisi marah atau sakit. Bunda juga sebaiknya tunda dulu proses menyapih.  Jika anak tengah mengalami perubahan besar dalam lingkungannya seperti pindah rumah atau berganti pengasuh.

Memang kita akan menemukan banyak sekali dilema dan pertimbangan matang saat hendak menyapih anak, namun bila saatnya sudah tepat dan metode Bunda pun diterima anak, maka si kecil akan mengerti bahwa memang saat itulah yang tepat untuk tak lagi menyusu dari Bundanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Biang Keringat Bisa Menyiksa Si Kecil, Bunda Perlu Tahu Gejala dan Cara Mencegahnya Lebih Dulu

adult-baby-bed-225744 (1)

Bun, ruam panas atau lebih umum disebut biang keringat sering jadi masalah tersendiri lantaran membuat si kecil jadi tak nyaman dan ujung-ujungnya rewel. Biang keringat umumnya muncul disertai dengan gejala bintik-bintik merah kecil dan lecet pada kulit. Kemunculannya pun terjadi saat suhu di sekitar si kecil terlalu panas. Nah, bila sudah menghadapi masalah semacam ini, sudah sewajarnya Bunda mencari tahu lebih lanjut mengenai penyebab biang keringat kan?

Pada dasarnya, kulit mengandung dua jenis kelenjar. Satu yang menghasilkan minyak, dan satu lagi yang menghasilkan keringat. Kelenjar keringat membentang jauh ke dalam kulit dan dapat menghasilkan empat ruam kulit yang berbeda.Terdapat beberapa jenis biang keringat menurut tingkat keparahannya. Tanda dan gejala yang muncul juga bervariasi pada setiap jenisnya. Berikut ini adalah jenis-jenis dan penyebabnya yang perlu diketahui.

Pertama, miliaria kristalina, ini adalah jenis biang keringat yang paling ringan dan hanya memengaruhi saluran keringat dari lapisan kulit teratas. Kondisi ini bisa ditandai dengan kemunculan bintil-bintil berisi cairan berwarna jernih yang mudah pecah. Pada biang keringat jenis ini, lebih sering mendera bayi dibanding orang dewasa. Biang keringatnya pun cenderung tidak gatal dan tidak terasa sakit.

Kedua, miliaria rubra. Biang keringat jenis ini muncul di lapisan kulit yang lebih dalam dan biasanya terjadi pada daerah bersuhu panas atau lembab. Gejala dari kondisi ini adalah berupa sensasi gatal dan menyengat disertai munculnya bintil merah. Kulit akan mengalami peradangan dan terasa sakit akibat dari keringat yang tidak bisa keluar dari permukaan kulit.

Selanjutnya, ada miliria pustulosa. Ini merupakan jenis biang keringat milira rubra namun disertai bintil dan mengalami peradangan dan berisi nanah.

Terakhir, ada miliaria profunda. Ini adalah jenis biang keringat yang paling jarang terjadi, dan berdampak pada dermis atau lapisan kulit yang lebih dalam. Biang keringat jenis ini bisa bersifat kronis dan sering kambuh. Kondisi ini lebih cenderung terjadi pada orang dewasa setelah melakukan aktivitas fisik yang menghasilkan banyak keringat. Tanda-tanda yang terlihat dari miliaria profunda adalah bintil berwarna merah yang berukuran lebih besar dan lebih keras.

Bunda perlu tahu, nyatanya, penyebab biang keringat bisa dipicu dari beberapa hal seperti ventilasi ruangan kurang baik sehingga udara di dalam ruangan panas atau lembab, pakaian bayi terlalu tebal dan ketat, dimana ini dapat menyebabkan suhu tubuh bayi meningkat, sehingga bayi mengalami panas atau demam. Atau bisa juga disebabkan oleh bayi terlalu banyak beraktivitas sehingga banyak mengeluarkan keringat.

Gejala ruam popok ataupun biang keringat biasanya muncul di wajah, leher, bahkan lipatan kulit anak, terutama di area popok. Jika lepuh ini terinfeksi besar kemungkinan akan menyebabkan nanah, Bun. Karenanya, bila sudah mengalami kondisi yang demikian, Bunda perlu segera mencari tahu perawatan yang tepat untuk anak yang sedang didera biang keringat. Nah, beberapa cara ini mungkin bisa membantu bunda.

Aturlah Suhu Udara di Dalam Kamar ya Bun

Ya, hal pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah mengatur suhu udara AC di kamar serta hindari memakaikan banyak lapisan pakaian pada si kecil. Yang penting, pilihlah bahan yang nyaman dan tidak hanya bergaya saja. Jangan terlalu khawatir kalau anak akan masuk angin karena pada umumnya bayi punya ukuran suhu normal yang berbeda dengan orang dewasa.

Mandikan si Kecil dengan Air Bersuhu Hangat

Guna membuat si kecil merasa tetap aman dan nyaman, Bunda perlu memandikannya dengan air bersuhu hangat dan menetralkan rasa dan mengusir sensasi tidak nyamannya. Jangan lupa untuk mengeringkan anak sehabis mandi supaya tidak menyisakan kelembapan berlebihan yang menjadi pemicu gatal-gatal lainnya.

Untuk sementara waktu, ada baiknya Bunda menghindari penggunaan sabun yang berpotensi mengiritasi kulit. Pastinya, orangtua juga perlu cara-cara unik supaya anak tidak menggaruk biang keringatnya sehingga menyebabkan iritasi yang berkelanjutan.

Perhatikan Lagi Setiap Asupan Makanan yang Dikonsumsi Buah Hati

Perhatikanlah jenis makanan yang akan dikonsumsi si kecil ya Bun. Dengan memperhatikan asupan makanan, hal ini akan jadi upaya penanganan dan pencegahan kemunculan ruam. Coba amati, adakah makanan tertentu yang membuat anak mengeluarkan keringat berlebihan atau gatal-gatal pada kulitnya atau tidak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Mom Life

Lelah dan Jenuh Bisa Memicu Seorang Ibu Jadi Pelaku Mom Shaming

baby-blurred-background-child-1437214

Bun, seringkah mendengar orang yang sering mengomentari dengan kalimat yang cenderung melecehkan? Misalnya: Ih, kok nyusuinnya gitu? Nanti anaknya keselek lho”, atau “Sering digendong gitu ya? Pantesan anaknya kepalanya peyang” atau “Dikurung di rumah terus sih, jadi anaknya pemalu”.

Sebagai ibu, saat mendapati komentar semacam itu tentu rasanya kesal dan marah bahkan sangat ingin membantah terhadap cibiran tersebut. Rasanya kita dihakimi atas apa yang telah kita lakukan pada anak kita sendiri. Padahal faktanya, belum tentu mereka yang mencibir itu mengerti betul tentang anak kita. Nah, situasi inilah yang dinamakan mom-shaming, atau sebuah perilaku mempermalukan ibu lain dengan cara menampilkan diri sebagai ibu yang lebih baik, lebih hebat, dan yang paling sempurna.

Aplikasi Mom.life mengatakan, sekitar 79 persen ibu pernah mengalami mom-shaming dari ibu lain. Tak hanya ibu muda, ibu yang bahkan sudah memiliki beberapa anak pun tak menutup kemungkinan jadi korban mom-shaming. Padahal nih, Bunda perlu tahu, mom shaming bisa menimbulkan reaksi kimia abnormal dalam otak. Hasilnya, Bunda yang menerima kritikan akan menjadi tidak percaya diri hingga depresi.

Mayoritas para korban mengatakan bahwa dampak yang sering terjadi adalah memendam kebencian dan sedikit demi sedikit rasa percaya dirinya menjadi berkurang. Yap, tanpa disadari, ketakutan mendapat cibiran dari sesama ibu-ibu membuatnya membatasi ekspresi dalam mengasuh anak-anak mereka. Karenanya, demi mengurangi dampak semacam ini, Bunda perlu tahu dan memahami hal-hal melatarbelakangi pelaku “mom-shaming”.

Analisis Stephanie Barnhart, Pendiri Social Minded Media Group dan editor Mommy Nearest, New York, AS mengatakan, ”Para ibu menyerang satu sama lain karena ada sesuatu yang hancur di dalam diri mereka sendiri.” Menurut Barnhart, faktor-faktor yang melatarbelakanginya adalah:

Caper Alias Cari Perhatian

Dalam hal ini biasanya pelaku mom shaming tak mendapat pengakuan dan penghargaan dari lingkungan sehingga ia mencari cara agar lebih dihargai dan dilihat banyak orang. Salah satunya dengan melontarkan cibiran bahkan tak segan menghina ibu-ibu di sekitarnya serta selalu menganggap dirinya paling benar, Bun.

Marah Juga Bisa Jadi Pemicunya

Saat seorang ibu marah dan kemarahannya itu tak terlampiaskan pada keluarga atau anaknya, ada lho Bun yang melampiaskan kemarahannya pada ibu yang lain sehingga jadilah ia melontarkan kalimat berbau mom shaming pada ibu lain.

Ya, dengan melakukan hal tersebut mungkin kemarahannya jadi tersalurkan. Atau bisa saja ibu tersebut sedang didera kelelahan mengurus anak dan sedang tak mau sehingga, tanpa disadari, perkataan yang keluar dari mulutnya menjadi media.

Cemburu yang Terlalu Besar

Faktanya, setiap ibu mempunyai ciri khas berbeda-beda. Bisa jadi, pelaku merasa cemburu pada ibu-ibu lain yang mempunyai kelebihan. Misalkan, seorang ibu masih bisa merawat dirinya dengan baik meski sudah mempunyai anak. Sedangkan dirinya, merasa tak secantik dan tak seberuntung ibu-ibu yang lain.

Haus Akan Pengakuan

Sebagai ibu rumah tangga, pasti Bunda ada kalanya ingin dihargai oleh orang-orang terdekat. Nah situasi semacam ini yang juga mendorong para pelaku mom shaming untuk melontarkan kecemburuan mereka terhadap ibu lain dalam bentuk ucapan yang melecehkan. Mungkin karena ketidaksukaan itu, mereka pun ingin diakui. Tapi karena tak dapat pengakuan, maka mereka menyudutkan ibu tertentu dengan mengucapkan hal-hal berbau mom shaming.

Ia Sedang Merasa Jenuh

Meski jadi ibu memang menyenangkan, bila setiap hari melakukan rutinitas yang sama maka besar kemungkinannya seseorang akan merasa jenuh. Bunda tentu merasakan hal serupa kan? Terutama bagi ibu yang biasanya memiliki banyak aktivitas, tapi harus terhenti karena mengurus si kecil.

Umumnya rasa jenuh tersebut akan memancing seseorang melakukan sesuatu yang dapat membuat kejenuhannya terlampiaskan. Salah satunya adalah dengan melakukan mom shaming, entah di sosial media maupun dalam lingkungannya sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top