Parenting

Meski Terdengar Aman, Sebaiknya Pertimbangkan Dulu Keinginan Memantau Aktivitas Si Kecil Lewat CCTV Bun!

pexels-photo-173666

Bisa siaga 24 jam menjaga buah hati rasanya menjadi keinginan setiap orangtua. Sayangnya harapan itu tak selalu bisa kita wujudkan. Bila sudah begitu, keputusan memasang CCTV menjadi siasat sekaligus alternatif yang sering diterapkan orangtua. Dengan adanya kamera pemantau tersebut, orangtua  yang sedang beraktivitas di luar rumah setidaknya masih bisa melihat aktivitas si kecil lewat layar ponsel yang sudah terkoneksi dengan CCTV. Lantas, apakah keputusan memasang CCTV di dalam rumah sudah efektif untuk memantau si kecil?

Dengan adanya CCTV yang terus menyala, berarti segala bentuk aktivitas orang rumah akan ikut terekam. Jika Bunda tinggal bersama keluarga besar ataupun ada anggota keluarga lain di dalam rumah tersebut, pemasangan CCTV tak boleh sembarangan dilakukan.

Sebelum Memasang CCTV, Pastikan Kondisi Sekitar Lingkungan Rumah Bun!

Menurut psikolog anak sekaligus pendiri Irma and Co, Irma Gustiana A, M.Psi, pemasangan kamera CCTV di rumah tentunya tergantung pada kondisi sekitar lingkungan rumah, sehingga pertimbangannya bukan hanya area rumah bagian dalam. Bila lingkungan rumah Bunda termasuk aman dan dilengkapi fasilitas sekaligus petugas keamanan seperti satpam dan hansip, CCTV komplek, hingga rutin ada jadwal ronda, pemasangan CCTV pribadi di dalam rumah dirasa tak perlu.

pexels-photo-96612

Ketahui Lagi Fungsi Utama CCTV di Dalam Rumah

Namun hal itu bukan berarti larangan, keinginan memasang CCTV tetap sah-sah saja dilakukan. Apalagi jika memang membawa manfaat bagi keamanan rumah terutama untuk mengawasi siapa saja yang  berinteraksi dengan seisi anggota rumah terutama si kecil saat Bunda tak berada di dekatnya. Di lain sisi, pemasangan CCTV ternyata akan memberi efek psikologis yang bisa membuat seseorang mengurungkan niatnya berbuat kriminal.

Telisik Dahulu Hal-Hal yang Harus Dipahami Sebelum Memasang CCTV

Orangtua sebaiknya mempertimbangan secara matang dan melibatkan persetujuan seisi rumah mengenai pemasangan CCTV. Area privasi anggota keluarga menjadi aspek yang harus benar-benar Bunda perhatikan. Hal itu harus dilakukan mengingat setiap orang atau mungkin anak yang sudah lebih dewasa memiliki hak agar privasinya tetap terjaga tanpa perlu diawasi.

Saat menyampaikan keputusan mengenai pemasangan CCTV, sebaiknya utarakan alasan dan manfaat yang akan didapat dengan adanya teknologi tersebut jika dipasang di dalam rumah. Setelah mendapat persetujuan, langkah selanjutnya yang harus anda lakukan adalah rutin memantau dinamika aktivitas buah hati yang terekam lewat CCTV.

nature-people-girl-forest-12165

Memahami Dampak Psikologis Khususnya pada Buah Hati Anda

Sejatinya akan ada beberapa anak yang takut untuk mengeksplorasi lingkungan karena kebebasannya saat bermain selalu diawasi. Irma melanjutkan, fenomena semacam ini akan membuat si kecil semakin terbatas untuk bereksperimen dan akhirnya berpengaruh pada tumbuh kembangnya. Dampak ini sebaiknya harus dipikirkan jauh-jauh hari.

Jika sudah demikian, si kecil dikhawatirkan justru tak rileks dengan kegiatan di dalam rumah sehingga tingkah lakunya terkesan tidak natural. Karenanya, Bunda perlu memberi pengertian dan komunikasi sejak dini mengenai pemanfaatan CCTV dalam konteks positif. Bahkan mungkin hal ini akan membuat si kecil lebih peka untuk menjaga diri dan lingkungannya dari hal-hal yang mencurigakan.


Parenting

Ajak Si Kecil Mau Merawat dan Mencintai Giginya yuk, Bun!

girl-rabbit-friendship-love-160933

Sebagai orangtua, Bunda pasti tak mau si kecil mengalami hal-hal yang tak menyenangkan. Tumbuh kembangnya harus berjalan dengan baik. Termasuk urusan menjaga kesehatan. Makanan yang diasupnya harus bergizi seimbang, kebutuhan ASI-nya pun harus terpenuhi. Seiring berjalannya waktu, mengasuh si kecil bukan hanya soal membesarkannya lho, Bun. Ada hal-hal lain berupa pembelajaran yang harus Bunda ajarkan padanya. Salah satunya perkara merawat gigi.

Mengenalkan cara hidup higienis pun bisa dilakukan dengan membiasakan si kecil untuk rutin menyikat gigi dan mencuci tangan. Hanya saja, banyak ibu muda yang sering melewatkan sikat gigi dengan alasan gigi si kecil masih cukup bersih. Padahal, yang namanya kuman pasti tak terlihat oleh mata ‘kan, Bun? Di lain sisi, menjaga kesehatan gigi ternyata bisa dimulai dari Bunda yang peduli perihal asupan makanannya.

Kenalkan Menu Makanan Sehat dan Ajak Si Kecil Suka dengan Sayuran

pexels-photo-1073776

Peneliti Duke University mengatakan, konsumsi junk food ternyata bisa jadi penyebab kesehatan gigi pada si kecil jadi menurun. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang terbiasa tidak rajin menyikat gigi, mengonsumsi permen, soda, dan karbohidrat dalam jumlah yang tidak dibatasi akan membuat giginya cepat rusak. Karenanya, penting sekali mengubah gaya hidup semacam ini. Bunda tak mau ‘kan, gigi si kecil rusak karena Bunda kurang telaten mengajari cara hidup sehat padanya? Mulai dari sekarang, dibanding mengajaknya makan makanan cepat saji, lebih baik Bunda lebih rutin mengenalkan sayuran dan buah-buahan.

Jangan Biarkan Si Kecil Merasa Tertekan dalam Kesehariannya

pexels-photo-1118429

Bila si kecil tertekan, hal ini akan membuatnya mengalami fase bruxism, atau lebih sering disebut ‘gertak gigi’. Peneliti mengungkapkan, anak-anak yang lebih sering menggertakkan gigi justru lebih sukar bersosialisasi saat di sekolah. Penyebabnya mungkin beragam dan Bunda tak menyadarinya. Keseringan gertak gigi bisa memicu kerusakan pada giginya, lho. Untuk itu, sebisa mungkin ciptakan suasana yang nyaman ya, Bun. Biarkan si kecil memiliki waktu tidur yang teratur dan nyaman. Jangan lupa, seringlah berinteraksi dengannya supaya Bunda tahu apa yang sedang dipikirkan oleh si kecil.

Berikan Minuman yang Cukup Padanya Setiap Hari

girl-rabbit-friendship-love-160933

Jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi, Bun! Sebab yang namanya dehidrasi bisa jadi pemicu masalah kebersihan mulut pada si kecil. Kuman akan mudah berdatangan dan bukan tak mungkin nantinya mulut dan gigi si kecil yang jadi korbannya. Untuk itu, demi mencegah agar hal semacam ini tak terjadi, ajaklah si kecil rutin menyikat gigi dan jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi. Buatlah jadwal atau pengingat rutin yang bisa Bunda pakai untuk mengingatkan jam minum si kecil setiap harinya.

Jangan Membuatnya Takut pada Dokter Gigi seperti Anak Kecil Kebanyakan

pexels-photo-122101

Jangan membuat si kecil merasa takut dengan dokter gigi, Bun! Justru yang baik adalah membuatnya selalu mau dan nyaman kalau diajak periksa gigi secara rutin. Dengan melunakkan hati si kecil, hal ini akan lebih membantu Bunda untuk urusan menjaga kesehatan mulut dan gigi, bukan? Untuk itu, berhentilah menakut-nakuti kalau dokter gigi itu galak.

Ajaklah Si Kecil Menyikat Gigi secara Rutin

pexels-photo-298611

Carilah tips yang tepat agar membuat aktivitas menyikat gigi itu menyenangkan. Mungkin dengan memilih sikat gigi yang lucu sesuai karakter kesukaannya, menceritakan cerita favoritnya selama menyikat gigi, atau mungkin biasakan menyikat gigi dengan anggota keluarga lainnya. Saat mereka merasa nyaman dan melihat sikat gigi sebagai sebuah aktivitas yang menyenangkan, maka mereka pun akan terbiasa lho, Bun. Bahkan tidurnya akan jauh lebih nyenyak setelah menyikat gigi.


Parenting

Terbiasa Bilang ‘Hati-hati’ ke Anak Justru Bisa Mengekang Kebebasan Si Kecil Lho, Bun

pexels-photo-1089077

“Mainnya jangan jauh-jauh ya Nak. Hati-hati.”

Sebagai orangtua pasti Bunda sering berpesan demikian. Terutama kalau si kecil minta izin pergi bermain bersama teman-temannya. Tapi coba ingat lagi, sepertinya frasa ‘hati-hati’ tak hanya diucapkan saat si kecil di luar pengawasan Bunda. Bahkan kalau mungkin Bunda berada di dekatnya, sering lho terucap lagi kata ‘hati-hati’ itu. Mungkin sebagai orangtua, Bunda hanya takut si kecil kenapa-napa. Sampai-sampai saat buah hati Bunda sedang berlarian, main bersama teman, atau belajar menggunting kertas, reaksi pertama Bunda adalah menegaskan kata “Hati-hati ya, Nak.”

Bun, sebagai protektor bagi buah hatinya, justru ada baiknya untuk belajar mengurangi melontarkan kalimat hati-hati. Bukannya melarang, hanya saja kalau terlalu sering diucapkan kepada si kecil, dampaknya pun tak terlalu baik lho Bun, salah satunya ya si kecil jadi merasa tertekan dan dikekang.

Memberi Peringatan ‘Hati-hati’ pada Si Kecil Ternyata Bukan Kebiasaan yang Terlalu Baik

pexels-photo-69100

Sejak anak masih kecil, belum bisa bicara bahkan berjalan, semua aktivitasnya tentu dalam pengawasan orangtuanya. Tapi saat ketika bayi itu beranjak jadi anak-anak, Bunda perlu sadari kalau setiap anak yang tumbuh pun butuh kebebasan lho, Bun. Lantaran aktivitasnya bertambah, orangtua pun jadi tak bisa terus-terusan memantau aktivitas si kecil.

Tapi, bukan berarti orangtua jadi tak bisa apa-apa. Memberikan pesan atau nasehat perihal mana yang baik dan benar, jauh lebih baik dibanding menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan atau melontarkan peringatan. Cukup katakan saja misalnya kalau jalan di sebelah kiri. Atau kalau ada di jalan raya, jangan berlarian. Kalau memang perlu menyebrang, carilah zebra cross.

Ucapan ‘Hati-hati’ Jangan Hanya Diucapkan Tanpa Makna

pexels-photo-122101

Memang selalu ada alasan kenapa orangtua meminta anaknya untuk berhati-hati. Sejak masih kecil, baik dari kita maupun saat kita sudah jadi orangtua, nasehat semacam itu sudah sering terdengar. Orangtua tak ingin anaknya celaka atau terjebak di situasi yang berbahaya. Untuk itu, demi menciptakan suasana yang aman, banyak orangtua yang akhirnya memilih untuk membatasi gerak-gerik si kecil. Dan pada akhirnya, kata ‘hati-hati’ pun jadi sering terlontar.

Sebab ya Begitu, Kalau Terlalu Sering, Ungkapan ini Malah Kehilangan Arti

pexels-photo-424441

Tapi Bunda sering tak sadar, apa yang Bunda ungkapkan, apalagi soal kata ‘hati-hati’, mungkin si kecil mengiyakan atau mengangguk saat Bunda mengucapkan hal tersebut. Hanya saja, tak menutup kemungkinan kalau si kecil sebenarnya belum terlalu paham makna kata tersebut.

“Hati-hati yang seperti apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus berhati-hati? Apa jangan-jangan setiap benda di sekitarku memang berbahaya?” Mungkin kalimat tersebut yang akan digumamkan anak Bunda. Mereka terbiasa menerima peringatan ‘hati-hati’ tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut soal makna kata tersebut. Bahkan karena terlalu sering mendengar peringatan tersebut, yang ada si kecil jadi tumbuh jadi anak yang takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Mereka merasa ada risiko yang menghantui sehingga lebih memilih untuk mengamati saja dan tidak berani mencobanya.

Untuk Itu, Cobalah untuk Membimbing dan Mendampinginya, Bukan Memperingatkannya

pexels-photo-1089077

Menjadi orangtua yang bisa membimbing dan mendampingi itu menyenangkan lho, Bun. Bunda akan membuat si kecil nyaman dalam melakukan hal apa pun. Mereka jadi tak punya ketakutan tertentu hanya karena memikirkan peringatan orangtuanya yang seringkali berlebihan. Untuk itu, saat memiliki buah hati yang masih dalam masa pertumbuhan, belajar jadi orangtua yang bijak akan jauh lebih baik dibanding mendikte dan melarang si kecil melakukan ini-itu.


Parenting

Siapa Bilang Hidup Ibu yang Bekerja Tak Bisa Seimbang? Semua Bisa Asal Ada Dukungan

pexels-photo-1257110

Persoalan jadi ibu itu bukan hanya soal memberi ASI eksklusif ya, Bun. Pasca melahirkan, atau beberapa minggu sebelum melahirkan, Bunda mungkin menemukan masa-masa dimana gamang menentukan pilihan mau tetap bekerja atau di rumah saja. Sayangnya, tak semua ibu mempunyai pilihan untuk berada di rumah saja sembari fokus membesarkan buah hati mereka.

Yup! Terutama di kota besar, para ibu muda memutuskan untuk kembali bekerja selepas cuti beberapa bulan atau beberapa minggu. Alasan untuk tetap bekerja mungkin beragam ya Bun, tapi yang jadi poinnya, bukan berarti ibu yang bekerja sembari mengurus rumah tangga itu bukanlah ibu yang baik. Tak ada yang berhak memberi label berikut pada ibu manapun lho, Bun. Untuk persoalan ibu muda yang tetap bekerja sekalipun punya balita, hal itu sah-sah saja. Seorang ibu akan tetap jadi ibu yang baik bagi anak-anaknya asal Bunda mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Pastikan Dahulu Bunda Mendapatkan Babysitter atau Tempat Penitipan Balita yang Terpercaya

pexels-photo-806835

Ibu yang membesarkan bayi sembari bekerja diperhadapkan pada persoalan membagi waktu. Mulai dari bekerja, kemudian pulang, lalu mengurusi rumah tangga, terutama anaknya yang masih balita. Baru setelah itu ia baru bisa beristirahat. Jadwal yang  terlihat sangat padat, ‘kan Bun?

Untuk itu, kalau Bunda memang perlu bantuan atau tenaga orang lain dalam urusan mengurus rumah tangga atau menjaga si kecil, ya silahkan saja Bun. Kalau Bunda tinggal dengan orangtua atau mertua, mungkin Bunda akan menitipkannya pada mereka.

Tapi kalau memang tak memungkinkan, maka saatnya Bunda mencari tempat penitipan balita atau daycare. Bunda juga bisa mempercayakan pada jasa babysitter. Namun, Bunda harus selektif ya dalam urusan memilih babysitter, apalagi belum lama ini marak lho kejadian dimana babysitter minim pengalaman sehingga asal saja saat mengurus bayi.

Cobalah Bangun Kerjasama dan Komunikasi dengan Atasan Bunda di Kantor

pexels-photo-131777

Kendati Bunda menyandang status sebagai working mom, bukan berarti Bunda tak bisa produktif saat di kantor. Saat sedang di kantor, jangan sampai Bunda tak berdiskusi dengan atasan ya Bun mengenai manajemen waktu yang berbeda seiring kehadiran si kecil. Siapa tahu kalau misalnya atasan Bunda memahami kondisi Bunda, akan ada keringanan atau waktu yang Bunda miliki jadi lebih fleksibel.

Terpenting, tunjukkan juga kalau Bunda memang masih sanggup melakoni tanggung jawab sebagai pegawai di tempat Bunda bekerja, sehingga saat Bunda memberitahu kondisi Bunda, hal tersebut akan jadi pertimbangan tersendiri bagi atasan.

Sebisa Mungkin Kurangi Aktivitas yang Membuat Bunda Terdistraksi dan Hanya Membuang-buang Waktu

pexels-photo

Waktu adalah hal yang berharga ya Bun. Apalagi untuk Bunda yang harus pintar-pintar bagi waktu seperti sekarang ini. Untuk itu, sebisa mungkin kurangilah aktivitas yang menurut Bunda hanya buang-buang waktu dan membuat pikiran terdistraksi.

Misalnya, kalau dulu Bunda mungkin aktif sekali di media sosial, mungkin sekarang intensitasnya harus dikurangi. Tak bisa dipungkiri, kebanyakan berselancar di internet umumnya membuat orang-orang lupa waktu lho, Bun. Nah, kalau Bunda sudah di rumah, cobalah untuk fokus memberi diri untuk keluarga dan anak-anak dibanding fokus dengan ponsel.

Membangun Kerjasama dengan Si Ayah Juga Jelas Perlu Lho, Bun!

pexels-photo-1196274

Kunci dari suasana rumah yang menyenangkan ya dimulai dari pernikahan yang membahagiakan. Untuk itu, jadikanlah pernikahan sebagai prioritas karena hal itu akan membuat Bunda dan ayah semakin kompak. Sekalipun Bunda sibuk, tetap berikan waktu untuk quality time bersama ayah ya, Bun!

Titipkan si kecil untuk beberapa saat. Nah, di momen semacam ini, gunakan peluang dan waktu semaksimal mungkin untuk menciptakan percakapan yang jujur dari dalam hati ya Bun. Demi membuat Bunda dan ayah semakin hangat dan sepakat dalam hal mengurus anak. Sebab kalau sampai relasi Bunda dan ayah justru merenggang, efeknya nanti ke psikologis Bunda, lho!

Saat Bunda Sedang di Rumah, Maksimalkanlah Waktu untuk Menciptakan Momen yang Berkesan dan Menyenangkan

pexels-photo-235554 (1)

Selelah apa pun, saat melihat canda tawa buah hati Bunda, rasanya pasti lega ‘kan, Bun? Sebagai ibu, kita tak bisa menampik bahwa yang kita inginkan tentu menciptakan momen yang selalu berkesan saat berada dengan si kecil. Nah, kalau Bunda sendiri punya waktu lowong saat akhir pekan, maka jangan ragu untuk memanfaatkannya dengan membuat aktivitas yang mungkin akan menyenangkan si kecil. Mulai dari aktivitas yang edukatif, atau sekadar piknik kecil-kecilan. Percayalah, hal semacam itu akan menyenangkan dan melegakan rindu si kecil setelah sepekan lamanya melihat Bundanya sibuk membagi waktu.

Most Share

To Top