Parenting

Meski Jadi Ibu Rumah Tangga, Bunda Juga Tetap Perlu Me Time

Hampir semua perempuan yang memilih menjadi istri sekaligus ibu, tak pernah membayangkan apa yang kemudian akan dihadapinya kelak. Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu 24 jam sehari dengan 7 hari seminggu. Tidak mengenal jam istirahat dan tak ada hari libur. Mulai dari merawat anak, mendidiknya, menyayangi pasangan, merawat rumah dan setumpuk kewajiban lain yang harus diselesaikan tiap harinya.

Hal tersebut memang benar adanya. Namun Bunda, meski demikian keadaannya, bukan berarti bunda harus melupakan me time yang mungkin saat sebelum menikah jauh lebih sering dilakukan. Me time atau waktu untuk menyenangkan diri sendiri adalah hak setiap orang, termasuk bagi seorang ibu rumah tangga.

Mengapa? Karena dengan me time nyatanya ampuh mengusir rasa suntuk, penat, bosan, atau bahkan lelah dari seorang ibu rumah tangga. Bukankah rumah tangga akan bahagia bila bunda pun bahagia?

Ibu yang Tak Punya Me Time Rentan Depresi yang Membuat Emosinya Bisa Meledak Sewaktu-waktu

ibu depresi

Meski dari luar terlihat baik-baik saja, bunda yang tak punya kesempatan untuk me time sejatinya tengah menimbun depresi. Jika terus dibiarkan, emosi dan depresi bunda yang sudah menumpuk bisa saja meledak sewaktu-waktu. Sayangnya banyak Bunda yang tak menyadari hal ini dan membiarkan tekanan ini terus menumpuk dalam diri.

Bahkan Sedihnya Karena Tertekan dengan Segala Rutinitas Pekerjaan Rumah, Bunda pun Rentan Melampiaskan Kekesalan pada Anak-anak

anak takut

Nyatanya me time memang sangat diperlukan. Efeknya bukan hanya pada bunda saja, karena seringkali jika bunda sudah kesal, anak-anak menjadi pelampiasan. Karena depresi dan lelah menyatu, bunda mulai berpikir bahwa anak-anak yang membuatnya tak memiliki me time seperti dulu.

Bunda itu Ibarat ceret air kebahagian. Tak mungkin bisa menuang kebahagiaan ke seluruh keluarga jika bunda sendiri tak bahagia bukan?

Ujungnya Bunda Bisa Mulai Menyesal dengan Pernikahan. Agar Hal itu Tak Terjadi, Sebaiknya Bunda Segera Konsultasi dengan Suami untuk Melakukan Me Time

berdua suami

Berkonsultasi dengan suami mengenai masalah ini sangatlah perlu. Karena nyatanya masih ada yang merasa tidak puas dengan kehidupan pernikahannya meski sang suami memenuhi segala kebutuhan rumah tangga. Padahal, Pernikahan yang telah bunda lalui bersama suami bukanlah hal yang layak disesali. Pasti suami mengizinkan apalagi demi kebahagiaan bunda.

Penelitian pun Mengatakan Menyediakan Waktu Me Time Ternyata Memberi Manfaat Baik Secara Psikologis dan Meningkatkan Kesejahteraan di dalam Keluarga

keluarga

Hasil studi dari Alyssa Westring, asisten professor di DePaul University, Chicago dan Stew Friedman, professor manajemen di Wharton School membuktikan bahwa me time penting dan bermanfaat bagi individu. Mereka melakukan penelitian terhadap sekumpulan orang dewasa yang berstatus ayah dan ibu yang rutin menyediakan waktu me time sepanjang 12-15 minggu ternyata mengalami peningkatan dalam hal kesejahteraan pribadi, kepuasan kerja, maupun kepuasan bersama keluarga mereka. Hal itu lantaran me time memberi manfaat baik secara psikologis dan fisik.

Saat Sudah Merencanakan Waktu Me Time, Yakinkan pada Suami Bahwa Semua Urusan Rumah Tangga Tetap Akan Berjalan Normal Selama Bunda Istirahat

ayah anak

Ada kalanya saat berkonsultasi, suami bisa saja tak setuju saat bunda harus meninggalkan urusan rumah tangga. Jika demikian, bunda harus pintar-pintar bernegosiasi dan meyakinkannya. Apalagi jika bunda telah memiliki rencana yang matang dan optimis jika me time tak akan mengganggu rutinitas dan urusan rumah tangga yang selama ini bunda kerjakan.

Tak ada salahnya meminta tolong pada orang terdekat selain suami jika memang bunda merasa perlu bantuan untuk membereskan urusan ini. Namun bunda juga bisa mencoba cara lain yaitu dengan melibatkan suami dalam mengurus rumah dan mengasuh anak secara bertahap. Jadi ketika tiba waktunya bunda beristirahat, suami tak akan kaget dan lebih santai karena sudah terbiasa menangani masalah keluarga.

Me Time Bisa Dilakukan Dimana Saja, Termasuk Di Rumah Menonton Tayangan Favorit

menonton televisi

Kekeliruan yang sering terjadi adalah berpikir bahwa me time haruslah berlibur dengan memakan waktu yang lama dan perlu perencanaan matang. Padahal sesungguhnya esensi dari me time adalah dengan menyisihkan waktu “istirahat” untuk diri sendiri.

Hal ini bisa bunda lakukan di rumah dan setiap hari kok. Seperti juga semua aktivitas pekerjaan lainnya, Bunda bisa beristirahat dan menarik nafas sejenak. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan mulai dari membaca buku hingga menonton tayangan televisi yang mengasyikan.

Nah, untuk Me Time tentunya bunda akan membutuhkan banyak pilihan tayangan bukan? Jangan sampai waktu istirahat bunda tak maksimal karena terpaksa menonton tayangan dengan pilihan program yang terbatas.

Salah satu yang pantas Bunda lirik itu BigTV. Apalagi penyedia layanan televisi satelit terbesar di Indonesia ini punya promo gelegar kemerdekaan. Dengan berlangganan paket Eazy 12 bulan bunda bisa merdeka selama 3 bulan plus bisa mengupgrade semua channel.

Atau Bunda boleh mencoba paket Eazy 1 Big Deal 20 GB dari BigTV ini. Dengan 299 ribu rupiah per bulan, kita sudah memperoleh 69 channel pilihan. Asyiknya lagi Bunda diberikan akses ke FirstMediaX, layanan yang memungkinkan Bunda mengakses program-program televisi dari gadget dimana saja.

Paling tidak, untuk di rumah Bunda bisa menikmati tayangan FirstMediaX dimana saja di seluruh ruangan. Apalagi paket ini sudah juga disertakan internet dengan kecepatan hingga 100 Mbps unlimited. Sementara untuk akses internet di luar rumah akan diberikan starter pack bolt gratis.

Kalau 69 channel belum cukup, Bunda bisa memilih Eazy 1 Big Star Unlimited dengan harga 439 ribu rupiah per bulan. Pilihan Channelnya lebih banyak hingga 92 channel dengan 32 diantaranya sudah berkualitas HD. Tambahannya Bunda tetap punya akses ke FirstMediaX, plus akses internet hingga 20 Mbps unlimited dan starter pack bolt gratis.

Kalau masih penasaran Bunda bisa simak pilihan paket lainnya dari BigTV di sini. Yuk siapkan fasilitas untuk Me time Bunda!

big-tv

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Ajak Si Kecil Mau Merawat dan Mencintai Giginya yuk, Bun!

girl-rabbit-friendship-love-160933

Sebagai orangtua, Bunda pasti tak mau si kecil mengalami hal-hal yang tak menyenangkan. Tumbuh kembangnya harus berjalan dengan baik. Termasuk urusan menjaga kesehatan. Makanan yang diasupnya harus bergizi seimbang, kebutuhan ASI-nya pun harus terpenuhi. Seiring berjalannya waktu, mengasuh si kecil bukan hanya soal membesarkannya lho, Bun. Ada hal-hal lain berupa pembelajaran yang harus Bunda ajarkan padanya. Salah satunya perkara merawat gigi.

Mengenalkan cara hidup higienis pun bisa dilakukan dengan membiasakan si kecil untuk rutin menyikat gigi dan mencuci tangan. Hanya saja, banyak ibu muda yang sering melewatkan sikat gigi dengan alasan gigi si kecil masih cukup bersih. Padahal, yang namanya kuman pasti tak terlihat oleh mata ‘kan, Bun? Di lain sisi, menjaga kesehatan gigi ternyata bisa dimulai dari Bunda yang peduli perihal asupan makanannya.

Kenalkan Menu Makanan Sehat dan Ajak Si Kecil Suka dengan Sayuran

pexels-photo-1073776

Peneliti Duke University mengatakan, konsumsi junk food ternyata bisa jadi penyebab kesehatan gigi pada si kecil jadi menurun. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang terbiasa tidak rajin menyikat gigi, mengonsumsi permen, soda, dan karbohidrat dalam jumlah yang tidak dibatasi akan membuat giginya cepat rusak. Karenanya, penting sekali mengubah gaya hidup semacam ini. Bunda tak mau ‘kan, gigi si kecil rusak karena Bunda kurang telaten mengajari cara hidup sehat padanya? Mulai dari sekarang, dibanding mengajaknya makan makanan cepat saji, lebih baik Bunda lebih rutin mengenalkan sayuran dan buah-buahan.

Jangan Biarkan Si Kecil Merasa Tertekan dalam Kesehariannya

pexels-photo-1118429

Bila si kecil tertekan, hal ini akan membuatnya mengalami fase bruxism, atau lebih sering disebut ‘gertak gigi’. Peneliti mengungkapkan, anak-anak yang lebih sering menggertakkan gigi justru lebih sukar bersosialisasi saat di sekolah. Penyebabnya mungkin beragam dan Bunda tak menyadarinya. Keseringan gertak gigi bisa memicu kerusakan pada giginya, lho. Untuk itu, sebisa mungkin ciptakan suasana yang nyaman ya, Bun. Biarkan si kecil memiliki waktu tidur yang teratur dan nyaman. Jangan lupa, seringlah berinteraksi dengannya supaya Bunda tahu apa yang sedang dipikirkan oleh si kecil.

Berikan Minuman yang Cukup Padanya Setiap Hari

girl-rabbit-friendship-love-160933

Jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi, Bun! Sebab yang namanya dehidrasi bisa jadi pemicu masalah kebersihan mulut pada si kecil. Kuman akan mudah berdatangan dan bukan tak mungkin nantinya mulut dan gigi si kecil yang jadi korbannya. Untuk itu, demi mencegah agar hal semacam ini tak terjadi, ajaklah si kecil rutin menyikat gigi dan jangan sampai si kecil mengalami dehidrasi. Buatlah jadwal atau pengingat rutin yang bisa Bunda pakai untuk mengingatkan jam minum si kecil setiap harinya.

Jangan Membuatnya Takut pada Dokter Gigi seperti Anak Kecil Kebanyakan

pexels-photo-122101

Jangan membuat si kecil merasa takut dengan dokter gigi, Bun! Justru yang baik adalah membuatnya selalu mau dan nyaman kalau diajak periksa gigi secara rutin. Dengan melunakkan hati si kecil, hal ini akan lebih membantu Bunda untuk urusan menjaga kesehatan mulut dan gigi, bukan? Untuk itu, berhentilah menakut-nakuti kalau dokter gigi itu galak.

Ajaklah Si Kecil Menyikat Gigi secara Rutin

pexels-photo-298611

Carilah tips yang tepat agar membuat aktivitas menyikat gigi itu menyenangkan. Mungkin dengan memilih sikat gigi yang lucu sesuai karakter kesukaannya, menceritakan cerita favoritnya selama menyikat gigi, atau mungkin biasakan menyikat gigi dengan anggota keluarga lainnya. Saat mereka merasa nyaman dan melihat sikat gigi sebagai sebuah aktivitas yang menyenangkan, maka mereka pun akan terbiasa lho, Bun. Bahkan tidurnya akan jauh lebih nyenyak setelah menyikat gigi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Terbiasa Bilang ‘Hati-hati’ ke Anak Justru Bisa Mengekang Kebebasan Si Kecil Lho, Bun

pexels-photo-1089077

“Mainnya jangan jauh-jauh ya Nak. Hati-hati.”

Sebagai orangtua pasti Bunda sering berpesan demikian. Terutama kalau si kecil minta izin pergi bermain bersama teman-temannya. Tapi coba ingat lagi, sepertinya frasa ‘hati-hati’ tak hanya diucapkan saat si kecil di luar pengawasan Bunda. Bahkan kalau mungkin Bunda berada di dekatnya, sering lho terucap lagi kata ‘hati-hati’ itu. Mungkin sebagai orangtua, Bunda hanya takut si kecil kenapa-napa. Sampai-sampai saat buah hati Bunda sedang berlarian, main bersama teman, atau belajar menggunting kertas, reaksi pertama Bunda adalah menegaskan kata “Hati-hati ya, Nak.”

Bun, sebagai protektor bagi buah hatinya, justru ada baiknya untuk belajar mengurangi melontarkan kalimat hati-hati. Bukannya melarang, hanya saja kalau terlalu sering diucapkan kepada si kecil, dampaknya pun tak terlalu baik lho Bun, salah satunya ya si kecil jadi merasa tertekan dan dikekang.

Memberi Peringatan ‘Hati-hati’ pada Si Kecil Ternyata Bukan Kebiasaan yang Terlalu Baik

pexels-photo-69100

Sejak anak masih kecil, belum bisa bicara bahkan berjalan, semua aktivitasnya tentu dalam pengawasan orangtuanya. Tapi saat ketika bayi itu beranjak jadi anak-anak, Bunda perlu sadari kalau setiap anak yang tumbuh pun butuh kebebasan lho, Bun. Lantaran aktivitasnya bertambah, orangtua pun jadi tak bisa terus-terusan memantau aktivitas si kecil.

Tapi, bukan berarti orangtua jadi tak bisa apa-apa. Memberikan pesan atau nasehat perihal mana yang baik dan benar, jauh lebih baik dibanding menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan atau melontarkan peringatan. Cukup katakan saja misalnya kalau jalan di sebelah kiri. Atau kalau ada di jalan raya, jangan berlarian. Kalau memang perlu menyebrang, carilah zebra cross.

Ucapan ‘Hati-hati’ Jangan Hanya Diucapkan Tanpa Makna

pexels-photo-122101

Memang selalu ada alasan kenapa orangtua meminta anaknya untuk berhati-hati. Sejak masih kecil, baik dari kita maupun saat kita sudah jadi orangtua, nasehat semacam itu sudah sering terdengar. Orangtua tak ingin anaknya celaka atau terjebak di situasi yang berbahaya. Untuk itu, demi menciptakan suasana yang aman, banyak orangtua yang akhirnya memilih untuk membatasi gerak-gerik si kecil. Dan pada akhirnya, kata ‘hati-hati’ pun jadi sering terlontar.

Sebab ya Begitu, Kalau Terlalu Sering, Ungkapan ini Malah Kehilangan Arti

pexels-photo-424441

Tapi Bunda sering tak sadar, apa yang Bunda ungkapkan, apalagi soal kata ‘hati-hati’, mungkin si kecil mengiyakan atau mengangguk saat Bunda mengucapkan hal tersebut. Hanya saja, tak menutup kemungkinan kalau si kecil sebenarnya belum terlalu paham makna kata tersebut.

“Hati-hati yang seperti apa yang harus aku lakukan? Kenapa harus berhati-hati? Apa jangan-jangan setiap benda di sekitarku memang berbahaya?” Mungkin kalimat tersebut yang akan digumamkan anak Bunda. Mereka terbiasa menerima peringatan ‘hati-hati’ tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut soal makna kata tersebut. Bahkan karena terlalu sering mendengar peringatan tersebut, yang ada si kecil jadi tumbuh jadi anak yang takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Mereka merasa ada risiko yang menghantui sehingga lebih memilih untuk mengamati saja dan tidak berani mencobanya.

Untuk Itu, Cobalah untuk Membimbing dan Mendampinginya, Bukan Memperingatkannya

pexels-photo-1089077

Menjadi orangtua yang bisa membimbing dan mendampingi itu menyenangkan lho, Bun. Bunda akan membuat si kecil nyaman dalam melakukan hal apa pun. Mereka jadi tak punya ketakutan tertentu hanya karena memikirkan peringatan orangtuanya yang seringkali berlebihan. Untuk itu, saat memiliki buah hati yang masih dalam masa pertumbuhan, belajar jadi orangtua yang bijak akan jauh lebih baik dibanding mendikte dan melarang si kecil melakukan ini-itu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Parenting

Siapa Bilang Hidup Ibu yang Bekerja Tak Bisa Seimbang? Semua Bisa Asal Ada Dukungan

pexels-photo-1257110

Persoalan jadi ibu itu bukan hanya soal memberi ASI eksklusif ya, Bun. Pasca melahirkan, atau beberapa minggu sebelum melahirkan, Bunda mungkin menemukan masa-masa dimana gamang menentukan pilihan mau tetap bekerja atau di rumah saja. Sayangnya, tak semua ibu mempunyai pilihan untuk berada di rumah saja sembari fokus membesarkan buah hati mereka.

Yup! Terutama di kota besar, para ibu muda memutuskan untuk kembali bekerja selepas cuti beberapa bulan atau beberapa minggu. Alasan untuk tetap bekerja mungkin beragam ya Bun, tapi yang jadi poinnya, bukan berarti ibu yang bekerja sembari mengurus rumah tangga itu bukanlah ibu yang baik. Tak ada yang berhak memberi label berikut pada ibu manapun lho, Bun. Untuk persoalan ibu muda yang tetap bekerja sekalipun punya balita, hal itu sah-sah saja. Seorang ibu akan tetap jadi ibu yang baik bagi anak-anaknya asal Bunda mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Pastikan Dahulu Bunda Mendapatkan Babysitter atau Tempat Penitipan Balita yang Terpercaya

pexels-photo-806835

Ibu yang membesarkan bayi sembari bekerja diperhadapkan pada persoalan membagi waktu. Mulai dari bekerja, kemudian pulang, lalu mengurusi rumah tangga, terutama anaknya yang masih balita. Baru setelah itu ia baru bisa beristirahat. Jadwal yang  terlihat sangat padat, ‘kan Bun?

Untuk itu, kalau Bunda memang perlu bantuan atau tenaga orang lain dalam urusan mengurus rumah tangga atau menjaga si kecil, ya silahkan saja Bun. Kalau Bunda tinggal dengan orangtua atau mertua, mungkin Bunda akan menitipkannya pada mereka.

Tapi kalau memang tak memungkinkan, maka saatnya Bunda mencari tempat penitipan balita atau daycare. Bunda juga bisa mempercayakan pada jasa babysitter. Namun, Bunda harus selektif ya dalam urusan memilih babysitter, apalagi belum lama ini marak lho kejadian dimana babysitter minim pengalaman sehingga asal saja saat mengurus bayi.

Cobalah Bangun Kerjasama dan Komunikasi dengan Atasan Bunda di Kantor

pexels-photo-131777

Kendati Bunda menyandang status sebagai working mom, bukan berarti Bunda tak bisa produktif saat di kantor. Saat sedang di kantor, jangan sampai Bunda tak berdiskusi dengan atasan ya Bun mengenai manajemen waktu yang berbeda seiring kehadiran si kecil. Siapa tahu kalau misalnya atasan Bunda memahami kondisi Bunda, akan ada keringanan atau waktu yang Bunda miliki jadi lebih fleksibel.

Terpenting, tunjukkan juga kalau Bunda memang masih sanggup melakoni tanggung jawab sebagai pegawai di tempat Bunda bekerja, sehingga saat Bunda memberitahu kondisi Bunda, hal tersebut akan jadi pertimbangan tersendiri bagi atasan.

Sebisa Mungkin Kurangi Aktivitas yang Membuat Bunda Terdistraksi dan Hanya Membuang-buang Waktu

pexels-photo

Waktu adalah hal yang berharga ya Bun. Apalagi untuk Bunda yang harus pintar-pintar bagi waktu seperti sekarang ini. Untuk itu, sebisa mungkin kurangilah aktivitas yang menurut Bunda hanya buang-buang waktu dan membuat pikiran terdistraksi.

Misalnya, kalau dulu Bunda mungkin aktif sekali di media sosial, mungkin sekarang intensitasnya harus dikurangi. Tak bisa dipungkiri, kebanyakan berselancar di internet umumnya membuat orang-orang lupa waktu lho, Bun. Nah, kalau Bunda sudah di rumah, cobalah untuk fokus memberi diri untuk keluarga dan anak-anak dibanding fokus dengan ponsel.

Membangun Kerjasama dengan Si Ayah Juga Jelas Perlu Lho, Bun!

pexels-photo-1196274

Kunci dari suasana rumah yang menyenangkan ya dimulai dari pernikahan yang membahagiakan. Untuk itu, jadikanlah pernikahan sebagai prioritas karena hal itu akan membuat Bunda dan ayah semakin kompak. Sekalipun Bunda sibuk, tetap berikan waktu untuk quality time bersama ayah ya, Bun!

Titipkan si kecil untuk beberapa saat. Nah, di momen semacam ini, gunakan peluang dan waktu semaksimal mungkin untuk menciptakan percakapan yang jujur dari dalam hati ya Bun. Demi membuat Bunda dan ayah semakin hangat dan sepakat dalam hal mengurus anak. Sebab kalau sampai relasi Bunda dan ayah justru merenggang, efeknya nanti ke psikologis Bunda, lho!

Saat Bunda Sedang di Rumah, Maksimalkanlah Waktu untuk Menciptakan Momen yang Berkesan dan Menyenangkan

pexels-photo-235554 (1)

Selelah apa pun, saat melihat canda tawa buah hati Bunda, rasanya pasti lega ‘kan, Bun? Sebagai ibu, kita tak bisa menampik bahwa yang kita inginkan tentu menciptakan momen yang selalu berkesan saat berada dengan si kecil. Nah, kalau Bunda sendiri punya waktu lowong saat akhir pekan, maka jangan ragu untuk memanfaatkannya dengan membuat aktivitas yang mungkin akan menyenangkan si kecil. Mulai dari aktivitas yang edukatif, atau sekadar piknik kecil-kecilan. Percayalah, hal semacam itu akan menyenangkan dan melegakan rindu si kecil setelah sepekan lamanya melihat Bundanya sibuk membagi waktu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top