Mom Life

Menurut Penelitian, Beratnya Tanggung Jawab Moral Sebagai Ibu Bisa Merusak Mental Perempuan  

cap-child-daughter-1913449

Sebagai perempuan, sudah semestinya kita memperhatikan urusan kesehatan ya Bun. Tak hanya kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental pun jangan sampai diabaikan lho Bun. Faktanya, dibanding laki-laki, perempuan lebih rentan mengalami risiko gangguan mental. Menurunnya kesehatan mental pada perempuan pun dipicu banyak faktor. Yang cukup mengejutkan, perempuan yang menanggung beban dan tanggung jawab sebagai ibu pun bisa menjadi pemicu terganggunya kesehatan emosional pada perempuan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sex Roles menemukan bahwa belakangan ini memang mulai banyak laki-laki yang turut terlibat dalam pekerjaan rumah dan membantu merawat anak. Di lain sisi, hal tersebut tak terlalu berpengaruh pada berkurangnya beban dan tanggung jawab seorang ibu di rumah. Perempuan harus tetap menjaga anak, beres-beres, mengerjakan segala hal rumah tangga, bahkan bila mereka bekerja, tanggung jawab di kantor pun juga harus diselesaikan.

Sementara itu, para peneliti dari Arizona State University dan Oklahoma State Univesity melihat banyak “pekerjaan tak kasat mata” yang harus diselesaikan oleh seorang ibu. Sepertinya memang selalu begitu ya Bun? Pekerjaan tak kasat mata ini seperti: membeli sabun deterjen, menyadari susu formula si kecil sudah habis, membereskan baju yang berserakan, dan sebagainya. Hal inilah yang membuat perempuan rentan kelelahan dan akhirnya merasa hampa karena didera aktivitas yang sama sepanjang hari.

Tak Peduli Ibu Rumah Tangga atau Ibu Pekerja, Menjadi Ibu Tetaplah Tugas yang Melelahkan

Setidaknya sembilan dari sepuluh perempuan mengatakan mereka layaknya seorang manajer bagi anak-anak dan suami mereka. Ini karena setiap ibu memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab untuk mengatur jadwal di rumah. Profesor Suniya Luthar, salah satu dari peneliti tersebut, mengatakan jumlah tersebut sangatlah besar mengingat setidaknya 65 persen perempuan saat ini pun statusnya pekerja. Jadi, memang kebanyakan perempuan saat ini piawai “double-job”.

Sementara tujuh dari sepuluh perempuan mengatakan mereka juga bertanggung jawab untuk memperhatikan setiap rutinitas anggota keluarga. Para ibu ini juga menyadari peran mereka diperlukan untuk mengawasi tumbuh kembang setiap anaknya termasuk dalam urusan kesehatan fisik dan mental mereka. Tapi Bun ironisnya, justru tugas inilah yang membuat perempuan tak menyadari mereka pun perlu memperhatikan lebih baik lagi mengenai kesehatan emosionalnya juga.

Ibu Pun Bisa Kehilangan Gairah Bila Sudah Terlalu Lelah

Menjadi ibu dituntut detail dalam hal memperhatikan urusan anak-anak mereka. Setidaknya delapan dari sepuluh ibu bahkan sudah mengenal guru anak-anaknya di sekolah. Beban menjadi ibu yang mereka pikul memang sedemikian beratnya.

Saat seorang ibu merasakan adanya kekosongan dalam hidup mereka, maka segeralah cari pasangan Bunda dan ceritakan keluh kesah Bunda padanya. Sebab hal ini menunjukkan Bunda mulai kehilangan gairah pada hal lain bahkan pada pasangan karena sudah terlalu lelah berkutat dengan pekerjaan rumah. Masalah emosional semacam ini justru harus segera diatasi, karena efeknya pun akan dirasakan si kecil dan anggota keluarga lainnya.

Para peneliti sempat melakukan survei terhadap 393 perempuan dengan anak dibawah usia 18 tahun. Dari penelitian ini terlihat jika perempuan yang sehari-hari mengurusi pekerjaan rumah sekaligus menjalankan perannya sebagai ibu, mereka mulai kehilangan semangat dalam hidup bahkan berelasi.

Sementara itu Dr Lucia Ciciolla, asisten profesor dari jurusan Psikologi di Universitas Oklahoma mengatakan, perempuan terbiasa melakukan pekerjaan kecil namun berulang kali padahal aktivitas tersebut menguras tenaga dan emosi mereka.

“Mereka harus memastikan ketersediaan bahan makanan di rumah, cucian kotor harus segera dicuci, bahkan juga memikirkan kebersihan handuk yang dipakai oleh anak-anak mereka. Dan akhirnya perempuan yang selalu bertanggungjawab atas urusan rumah tangga mengaku kewalahan dengan peran mereka sebagai orangtua dan rentan merasa lelah lantaran tak punya waktu untuk diri mereka sendiri,”

Belum lagi urusan keuangan, hampir separuh populasi perempuan mengaku merekalah yang membuat keputusan untuk berinvestasi, mengatur anggaran jalan-jalan, bahkan menyarankan serta membantu keuangan pasangan saat hendak membeli kendaraan.

Begitu banyak tugas yang dikerjakan oleh seorang ibu sepanjang hidup mereka. Apakah Bunda merasakan hal yang sama? Bun, mulai dari sekarang, sering-seringlah berdiskusi pada ayah tentang hal ini. Bagaimanapun, seorang ibu memang harus mampu mengatur dan mengimbangi kehidupannya. Adaptasi diperlukan setiap harinya, namun jangan sampai Bunda menyimpan lelah seorang diri ya. Komunikasi dan berbagi cerita adalah salah satu cara efektif agar Bunda tak didera stres setiap harinya karena pekerjaan rumah yang terlanjur menumpuk.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Agar Tidur Bunda Tetap Nyaman Meski Hamil Dan Berpuasa

adult-beautiful-beauty-935750

Saat menjalani ibadah puasa, otomatis pola tidur kita pun berubah ya Bun. Hal ini juga terjadi pada ibu hamil. Aktivitas bangun dini hari untuk menyiapkan sahur atau sekadar menemani makan sahur keluarga di bulan Ramadan, akhirnya berdampak pada berkurangnya porsi tidur ibu hamil lho.

Penting untuk diketahui, ibu hamil jangan sampai kurang tidur ya. Sebab bila kondisi ini terjadi, tak hanya menurunkan konsentrasi, kurang tidur juga membawa pengaruh terhadap mood, emosi, daya tahan tubuh pun menurun, serta terjadi peningkatan tekanan darah.

Sudahkah Tidur Bunda Cukup Selama Masa Kehamilan?

Dalam masa kehamilan, Bunda juga butuh tidur selama 6-8 jam. Memanng porsi ini sama dengan tidur orang sehat pada umumnya. Hanya saja, berbagai perubahan tubuh kerap membuat ibu hamil gampang lelah dan mengantuk. Itu sebabnya, ibu hamil biasanya perlu tambahan waktu istirahat dan tidur sekitar 30 menit hingga 1 jam setiap rentang 3 hingga 4 jam.

Atur Waktu Istirahat Seefisien Mungkin dengan Tidur Lebih Awal

Agar kebutuhan waktu istirahat dan tidur Bunda tetap terpenuhi selama bulan puasa, cobalah tidur lebih awal, Bun. Bereskan setiap pekerjaan rumah sebelum jam 9 atau 10 malam. Saat semuanya sudah beres, maka saat bangun di waktu sahur, tubuh Bunda tak merasa lelah atau lemas. Selain itu, sempatkan tidur setelah sahur kira-kira satu setengah jam ya Bun. Jadi usahakan waktu sahurnya jangan terlalu mendekati waktu subuh.

Pilih Menu Sahur yang Menyehatkan Juga ya Bun

Kalau Bunda sering bangun terlambat saat sahur, maka sebaiknya pilih menu sahur yang padat gizi dan praktis saat hamil sehingga bisa bangun mendekati Imsak. Misalnya, makan makanan yang cukup dipanaskan beberapa menit sebelum disajikan atau yang dapat disimpan dalam lemari es dan langsung bisa disajikan tanpa perlu dimasak seperti selada sayur/buah. Selain itu, siapkan setiap keperluan sahur sebelum tidur ya Bun.

Luangkan Waktu Istirahat saat Sedang Beraktivitas

Meluangkan waktu istirahat di sela aktivitas, misalnya dengan tidur sejenak setelah sahur dan salat Subuh dan tidur siang jika memungkinkan akan membuat porsi tidur Bunda tercukupi. Dengan begini, Bunda tak akan kurang tidur. Sementara itu, untuk ibu hamil yang bekerja saat puasa, manfaatkan waktu istirahat makan siang untuk juga beristirahat.

Ketahui Kebutuhan Tubuh Bunda Juga ya

Dengan mengetahui kebutuhan tubuh Bunda, maka saat tubuh merasa lelah dan tak sanggup bangun dan menyiapkan makan sahurr, maka tak ada salahnya diskusikan kondisi ini dengan pasangan ya Bun. Bagaimanapun, yang menjadi prioritas saat ini adalah kesehatan tubuh Bunda dan janin. Saat buka puasa, usahakan berbuka saat adzan Maghrib ya Bun. Tak perlu menunda-nunda waktu makan. Supaya Bunda tak perlu menggeser jam tidur jadi lebih lama.

Ikuti saran Dokter

Jika dokter kandungan menyarankan agar saat hamil Bunda tidak berpuasa lantaran tubuh butuh banyak istirahat, sebaiknya Bunda tidak perlu ikut bangun sahur. Siapkan saja makan sahur pada malam harinya, atau minta tolong orang lain. Sementara bagi Bunda yang dibolehkan dokter berpuasa, silahkan saja melaksanakan ibadah puasa termasuk bangun malam guna menyiapkan makan sahur.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Ngulet Memang Menyenangkan Tapi Kalau Sedang Hamil Berbahayakah?

baby-person-pregnant-54634

Bun, pernah mendengar pendapat soal ngulet ketika hamil? Sebagian Bunda yang sedang hamil mengaku pernah mendapatkan wejangan agar tidak ngulet saat hamil karena dapat berdampak buruk pada kesehatan janin. Kira-kira hal tersebut benar adanya atau hanya mitos belaka ya Bun?

Sebenarnya, kebiasaan untuk menggeliat atau ngulet setelah bangun tidur memang dilakukan banyak orang. Mengenai dampaknya untuk ibu hamil, hingga saat ini belum ada penelitian yang mengatakan kalau ngulet berbahaya untuk ibu hamil. Faktanya justru, ibu hamil dianjurkan untuk melakukan streching atau peregangan untuk memperkuat otot perut. Semakin kuat otot perut saat hamil, semakin bisa mengurangi keluhan nyeri punggung akibat perut yang yang membesar. Namun, sebelum memutuskan untuk berolahraga, sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter.

Di lain sisi, memang pada beberapa kehamilan, stretching atau ngulet bisa membuat perut kram atau nyeri. Dr Jessica Winoto, seperti dikutip dari Aladokter menyebutkan, kram setelah melakukan peregangan atau ngulet, memang bisa terjadi. Umumnya disebabkan karena regangan otot yang berlebihan saat mengubah posisi tubuh.

“Jika tidak terdapat nyeri perut, tidak muncul flek atau pendarahan, maka kondisi ini masih normal, dan aman untuk janin,” tulis dr. Jessica.

Di lain sisi, bila Bunda tetap merasakan keluhan pasca ngulet setelah bangun tidur, maka cobalah untuk mengubah posisi tubuh pelan-pelan. Selain itu, perhatikan lagi konsumsi makanan Bunda sehingga tak memberi pengaruh pada fleksibilitas otot. Berikut ini tips singkatnya:

  • konsumsi makanan yang bergizi, jika mual lebih baik makan dengan porsi kecil tetapi lebih sering; tidak terburu-buru saat makan
  • jaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi
  • perbanyak minum air putih
  • memiliki waktu istirahat yang cukup
  • batasi kafein, hindari minuman keras, tidak merokok
  • kontrol rutin ke dokter kandungan

Apa yang Perlu Bunda Ketahui Tentang Ngulet?

Ngulet saat tidur sebenarnya bermanfaatkan untuk melemaskan dan melatih otot ibu hamil. Ngulet saat hamil sama sekali tidak membahayakan untuk ibu hamil. Jadi jika mendengar ada yang bilang kalau ngulet bisa memicu gangguan kesehatan, Bunda tidak perlu khawatir lagi. Selama kehamilan, selain memperhatikan aktivitas fisik, perhatikan juga asupan nutrisi juga sangat penting. Anda bisa mendapatkannya dari susu ibu hamil.

Lebih jauh lagi, mengutip Fit Pregnancy, penelitian yang dilakukan Susan Warchaizer MD, dokter spesialis kandungan dan kebidanan di Boston, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa latihan peregangan memiliki banyak manfaat untuk ibu yang sedang hamil. Hal ini termasuk ngulet. Namun ada beberapa cara peregangan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh ibu hamil.

Pertama dapat meluruskan dan menguatkan otot-otot. Kedua, mengurangi penekanan dan pembebanan pada sendi-sendi selama kehamilan. Ketiga, membantu mengurangi tekanan pada punggung. Dan keempat, dapat menghilangkan rasa sakit pada otot-otot pahan bagian belakang.

Tapi lakukan dengan hati-hati ya Bun. Sebab risiko salah dalam melakukan peregangan bisa membuat Bunda cidera. Sebaiknya saat hamil, mintalah panduan dari bidan di kelas pranatal sebelum melakukan peregangan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Karena Pria Juga Punya Jam Biologis Maka Punya Anak Harus Direncanakan

adults-blur-couple-347023

Selama ini masyarakat beranggapan bila kemampuan memiliki anak berkaitan dan kesuburan perempuan berkaitan dengan usia perempuan ya Bun. Maka bila semakin bertambah usia perempuan, semakin kecil juga kemungkinannya memiliki anak. Laman Independent sendiri menyebutkan, penurunan kesuburan pada perempuan terjadi saat usia mereka mencapai 35 hingga 40 tahun. Artinya, ada banyak risiko yang mungkin mengancam kesehatan dan keselamatan. Di lain sisi, lantaran perspektif ini, jadi banyak yang memahami bila laki-laki memiliki keistimewaan yakni kesuburannya tak terpengaruh dengan pertambahan usia. Ya, ada anggapan bahwa laki-laki dapat menjadi ayah kapan saja. Faktanya, ada sebuah hasil penelitian telah menunjukkan bahwa ternyata laki-laki juga memiliki jam biologis.

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Sains Maturitas, kesuburan laki-laki pun terancam saat usia mereka menginjak 35 tahun. Sekalipun di usia tersebut laki-laki tetap dapat memproduksi sel sperma, namun terjadi penurunan kualitas. Bahkan di usia 40, para peneliti menyarankan agar laki-laki melakukan sterilisasi.

Gloria Bachmann, seorang praktisi dari Women’s Health Institute di Rutgers Robert Wood Johnson Medical School mengatakan, banyak laki-laki yang tak menyadari dampak dari penurunan kualitas sperma di usia 35. Faktanya, antara kualitas sperma, usia ayah, dan kelahiran bayi memiliki keterkaitan lho Bun. Bila si bayi lahir dengan usia ayah yang masih kurang dari 35 tahun, pertumbuhannnya akan jauh lebih sehat.

Mengapa Hal Tersebut Dapat Terjadi?

merangkai kata romantis untuk suami

Bachman mengatakan, semakin bertambahnya usia ayah, maka semakin besar risiko masalah infertilitas yang akan dihadapi sang ayah. Sama halnya dengan anggota tubuh lain, otot misalnya, seiring bertambahnya usia, maka biasanya kekuatan, fleksibilitas, bahkan massa otot tersebut pun akan berkurang.

Bahkan penelitian terbaru dari The Journal Biological Psychiatry menemukan hubungan antara usia lanjut orang tua dengan penyakit skizofrenia pada anak. Tanda-tanda kemunculan skizofrenia bahkan ditemukan lebih dini pada anak yang lahir dari ayah dengan usia yang lebih tua. Tanda ini muncul pada anak sebelum usia sang anak menginjak 18 tahun. Penyebabnya adalah kelainan gen atau mutasi genetik lho Bun.

Pasien-pasien anak dengan gangguan skizofrenia dalam penelitian tersebut memiliki orang tua yang sehat, juga riwayat keluarga tanpa ganguan mental. Namun diduga mutasi gen terjadi karena ayah pasien berusia lanjut.

“Setiap 10 tahun penundaan usia menjadi orang tua, maka risiko kemunculan tanda skizofrenia pada anak meningkat sekitar 30 persen”, terang ketua penelitian, Shi-Heng Wang dari China Medical University di Taichung dalam sebuah pernyataan. Menariknya, usia sang Bunda justru tidak berdampak pada proses kelainan ini.

Pertambahan Usia Ayah Memicu Terjadinya Mutasi Genetik pada Sperma

baby-boy-child-1361766 (1)

Mutasi gen memang terjadi di sperma, namun risiko kelainan lainnya juga dapat terjadi pada anak dari ayah yang berusia di atas 35 tahun. Kemungkinan terkenanya gangguan spektrum autisme pada anak meningkat menjadi 5,75 persen dari ayah berusia 40 tahun atau lebih, dibandingkan dengan anak yang lahir dari ayah dibawah usia 30 tahun.

Risiko lainnya yang akan dihadapi sang anak adalah ancaman hiperaktivitas (ADHD), psikosis, bipolar, percobaan bunuh diri, serta penggunaan narkoba memiliki keterkaitan dengan usia orang tua yang lebih tua.

Ketahanan fisiknya juga akan menurun sehingga berisiko mengalami leukemia limfoblastik akut (kanker yang disebabkan oleh sel darah putih yang berproduksi tidak normal) di usia anak – juga ancaman kanker lainnya di kemudian hari, seperti kanker payudara dan kanker prostat.

Selama masa kehamilan, Bunda dengan ayah yang berusia mendekati 35 tahun berisiko mengalami diabetes gestational, preeklampsia, bahkan bayi lahir prematur. Hal ini dikuatkan dengan temuan dari Universitas Stanford yang mengungkap dari 40,5 juta kelahiran dari orang tua dengan usia di atas 35 tahun antara tahun 2007 hingga 2016 berpotensi sebabkan risiko lebih tinggi pada bayi lahir dengan berat badan rendah, kejang dan bahaya pada kelahiran lainnya.

Karenanya, Perlu Sekali Perencanaan Keluarga

kids count money

Bun, keputusan memiliki anak dan waktunya merupakan hal yang kompleks. Meski jumlah ancaman ini tidak besar, tapi tetap penting untuk dipertimbangkan bagi para calon orang tua untuk tahu kapan mau merencanakan sebuah keluarga, terlebih usia calon orang tua di dunia makin lebih tua.

Ada baiknya Bunda berdiskusi dahulu dengan ayah lantaran memang sudah tahu risiko yang akan dibawa dari usia orangtua yang tua. pria seharusnya tidak lagi beranggapan untuk menunda punya anak, tapi menyadari risiko yang akan timbul seiring bertambahnya usia ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top