Parenting

Menu Olahan Menarik untuk Buah Hati yang Enggan Makan Sayur

pexels-photo-973970 (1)

Banyak anak-anak suka memilih-milih makanan dan terutama tidak menyukai sayur. Alasannya berbagai macam, ada yang merasa pahit, hambar, dan lain sebagainya. Hal ini tentu membuat Bunda kebingungan harus menyiapkan sayuran apa supaya ia mau makan.

Apalagi di dalam sayuran terdapat asupan nutrisi yang diperlukan si kecil. Untuk itu, sebagai orangtua memang perlu pintar-pintar menyusun siasat, Bun. Salah satunya dengan mengolah sayuran jadi makanan menarik. Dari sekian banyak menu, Bunda bisa coba menu ini demi membuat asupan gizi buah hati tetap terpenuhi lewat konsumsi sayuran.

Olahan Sayur Dibuat Saja Jadi Nugget Sayur

Anak-anak paling suka dengan chicken nugget. Mereka pasti semangat kalau bertemu olahan makanan yang satu ini. Untuk itu, Bunda bisa memanfaatkan peluang ini dengan baik yaitu dengan membuat kreasi nugget sayur Bun. Nugget yang dibuat tetap dari bahan dasar daging ayam giling yang adonannya ditambah irisan sayur bayam dan wortel.

Buatlah cetakan nugget menyerupai binatang atau bentuk yang si Kecil sukai. Setelah digoreng hingga matang, sajikan bersama saus tomat. Selain menarik, nugget ini tentu menyehatkan dan baik untuk menambah nutrisi bagi tubuh si kecil. Ini dia resepnya Bun!

100 gram Wortel
100 gram Kol Putih (Kubis Bunga Putih)
80 gram Bawang Bombay
100 gram Daging Ayam
4 butir Telur
100 gram Tepung Terigu
100 ml Air
2 sendok teh Garam
1 sendok teh Lada (Merica)
1 sendok teh Gula Pasir
2 sendok teh Kaldu Ayam
4 siung Bawang Putih

bahan pencelup:

50 gram Tepung Terigu
100 ml Air
100 gram Tepung Panir

secukupnya Minyak Goreng

Langkah-langkah:

  1. Siapkan bahan-bahan, wortel, kol, bawang bombay, bawang putih dan daging ayam.
  2. Campur terigu, air, lada, garam, kaldu bubuk,gula. Aduk sampai tercampur rata, kemudian masukkan telur. Aduk-aduk kembali sampai tercampur.
  3. Siapkan loyang yang sudah dioles mentega dan di dasar loyang letakkan plastik (plastik khusus untuk tahan panas). Masukkan adonan nugget, kemudian kukus selama 30 menit. Setelah matang, dinginkan, lalu potong sesuai selera. Siapkan tepung panir dan bahan pencelup.

Bahan pencelup :

Masukkan potongan nugget ke dalam bahan pencelup kemudian lumuri dengan tepung panir. Goreng dengan api sedang sampai matang. Nugget sayur pun siap dihidangkan.

Mie Bayam Juga Baik untuk Menu Alternatif

Selain chicken nugget, yang namanya mie juga salah satu makanan yang akan disukai anak-anak. Kali ini, cukup campurkan bayam dengan mie, bahkan demi menarik perhatian, Bunda bisa tambahkan saus putih dan meraciknya jadi seporsi mie bayam saus putih. Ini dia resepnya:

300 gram tepung terigu protein tinggi
75 gram tepung sagu
50 gram bayam, blender bersama 30 ml air, ambil airnya
2 butir telur
1 sdt garam
50 gram tepung terigu untuk taburan

Topping:

2 sdm margarin
1/2 buah bawang bombai, cincang halus
2 siung bawang putih, cincang halus
150 gram daging giling
1 sdt italian seasoning
100 gram jamur kancing, iris
250 ml susu cair
1 sdm tepung terigu
Garam dan merica bubuk secukupnya
100 gram keju, parut

Cara membuat:

Mie: Campur tepung terigu, tepung sagu, air bayam, telur dan garam kemudian aduk rata. Uleni adonan hingga kalis, diamkan 15 menit. Giling tipis adonan dengan penggiling mi dari ketebalan 1 sampai 4. Lakukan hal yang sama hingga dua kali agar adonan halus, taburi terigu agar tidak lengket. Potong panjang mie sesuai selera Bunda.

Setelah itu, rebus mie dalam air yang sudah mendidih dan diberi minyak, masak 2-3 menit, angkat. Beri sedikit minyak agar tidak lengket, sisihkan. Panaskan margarin, tumis bawang bombai dan bawang putih hingga harum, tambahkan daging giling, masak hingga berubah warna.

Masukkan jamur, masak sebentar kemudian tuang susu cair, beri garam dan merica bubuk, aduk sebentar. Tambahkan tepung terigu, aduk rata dan masak hingga mengental. Masukkan mi bayam, aduk rata, angkat. Sajikan dengan keju parut di atasnya

Buat Saja Olahan Spaghetti Saus Tomat

Kalau buah hati tak terlalu menggemari spaghetti, maka ide lainnya adalah menyajikan seporsi spaghetti dengan saus tompat. Pasta dengan bentuk seperti mie dan tekstur yang kenyal ini pasti akan mengenyangkankan buah hati. Hanya saja, kali  ini Bunda harus membuat spaghetti dengan campuran tomat segar, bukan dengan saus instan yang banyak dijual.

Saus dari tomat segar tadi dicampur daging sapi giling. Dengan begitu sang buah hati bisa tetap makan dan mendapat asupan sayur yang terjaga. Supaya tak kesulitan mencari resep, ini dia Bun resep spaghetti saus tomat:

Bahan:

340 gram spaghetti
453 gram daging sapi tanpa lemak
1 sendok teh garam
3/4 sendok teh gula
1/4 sendok teh merica
1/8 sendok teh bawang putih bubuk
2 sendok makan bawang cincang
2 1/2 cangkir tomat cincang
130 gram jamur cincang
Saus tomat secukupnya

Langkah:

Cincang daging sesuai selera Bunda kemudian goreng di atas wajan dengan api sedang. Campurkan daging sapi, garam, gula, merica, bawang putih bubuk, bawang cincang, tomat, saus tomat, dan jamur ke dalam panci. Setelahnya, didihkan kurang lebih dua jam dengan api kecil, jangan lupa untuk mengaduk sesekali. Di panci terpisah, masak pasta sesuai petunjuk.

Tiriskan pasta dan sajikan dengan siraman bahan yang sudah Bunda masak sebelumnya. Sajikan selagi masih hangat. Mudah bukan, Bun?

Omelette Makaroni Bayam

Trik lainnya agar si kecil mau makan sayur adalah menyajikan sayur dalam bentuk omelette. Mungkin bayamnya akan menyatu dengan makaroni dan telur, tapi tak masalah Bun. Yang penting si kecil mau mencicip sayuran dan tak takut untuk melahapnya. Nah, membuat makaroni bayam pun tak susah. Ini dia cara-caranya.

50 grams pasta makaroni rebus dalam air mendidih selama 12 menit, tiriskan
10 grams Bawang Putih, cincang halus
25 grams Bawang Bombay, cincang halus
1 buah Tomat, potong kecil-kecil
50 grams Bayam, potong halus
5 butir Telur Ayam, kocok sampai kental
50 grams Keju Cheddar
2 sdm Minyak Kedelai

Petunjuk :

Siapkan telur yang sudah dikocok dengan bayam, keju, dan minyak kedelai. Di wadah terpisah, rebus makaroni dalam air mendidih selama kurang lebih 12 menit. Kemudian tiriskan. Cincang halus bawang putih dan bawang bombay. Panaskan minyak sayur, tumis bawang putih dan bawang bombay bersama irisan tomat hingga harum. Tuang campuran telur ke campuran bahan-bahan yang sudah ditumis. Diamkan dan angkat bila warnanya sudah kecoklatan.

Bagaimana dengan Sate Sayuran?

Sayuran yang dipanggang juga tak kalah menarik lho. Buatlah sate sayuran dengan menyediakan potongan wortel, brokoli, keju, dan daging asap. Mulailah menusukkan sayur-sayuran tersebut ke tusukan sate, Bun. Supaya warnanya nanti kelihatan cantik saat disajikan, sebelumnya lumuri satenya dengan margarin dan panggang hingga matang. Dijamin si Kecil suka. Menu sayur di atas dapat memenuhi gizi si Kecil, dari sayuran yang dikonsumsi kaya akan serat, vitamin, kalium, zat besi, dan folat bagus untuk pertumbuhan sang buah hati.

Atau, Coba Kenalkan Rasa Jagung yang Manis, Pasti Si Kecil Suka

Ya Bun, jagung memiliki rasa manis yang membuat ia banyak digemari anak-anak. Sesekali kalau si kecil memang menolak makan sayuran hijau, coba dulu kenalkan menu olah-olahan jagung. Salah satunya menu fiesta jagung. Ini dia resepnya:

1 batang jagung segar
3/4 cangkir paprika merah dan hijau cincang
1 sdm minyak kanola
1 1/2 cangkir jagung pipil
1/2 sdt cabai bubuk
1/4 sdt garam
1 sendok makan ketumbar segar

Cara Memasak:

Tumis paprika dalam minyak kanola dengan api sedang selama 3 menit. Tambahkan jagung. Aduk-aduk selama kurang lebih 2 menit. Tambahkan cabai bubuk, garam, dan daun ketumbar segar. Baru setelahnya masukkan jagung segar yang sudah Bunda kupas.

Keripik Wortel Bisa Jadi Camilan yang Aman untuk Si Kecil

Makanan renyah memang paling mudah mengambil hati anak-anak, keripik salah satunya. Keripik bisa dibuat hampir dari seluruh bahan makanan, termasuk sayuran seperti wortel. Cara membuatnya pun mudah lho Bun. Cukup potong tipis-tipis, dan keringkan hingga tidak ada lagi air tersisa. Setelah itu, panggang wortel dalam oven bersuhu 150-180º C hingga renyah, lalu hidangkan deh.

Ya, keripik ini tak melalui proses rebus atau goreng sehingga nutrisnya pun masih tetap terjaga dengan baik. Masukkan campuran tersebut ke adonan telur, aduk rata. Cetak adonan ke dalam wajan dadar. Masak sampai adonan mengeras sesaat sebelum matang, taburi irisan tomat dan keju parut. Tutup wajan dadar. Lalu masak dengan api kecil sampai benar-benar matang. Setelah matang, potong menjadi 6 bagian, dan sajikan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Meski Gemas Mencium Bayi Baru Lahir Berbahaya loh Bun

baby-boy-child-67663

Bun, tahukan Bunda tentang kampanye #dontkissthebabies? Ya, seperti namanya, kampanye ini hadir guna memperingatkan orang dewasa agar tak sembarangan mencium bayi yang baru lahir lho. Ya, sebagai orang dewasa tentu Bunda ada perasaan gemas saat menengok atau melihat bayi yang baru lahir. Kadang, karena perasaan itu, kita pun jadi refleks langsung meminta untuk menggendong serta mencium si bayi mungil itu. Padahal, kebiasaan ini sebaiknya tak dilakukan.

NSW Health menyebutkan anak-anak terutama bayi baru lahir memiliki risiko tinggi mengalami penyakit infeksi karena sistem imunnya belum terbentuk sempurna. Apalagi bayi prematur dan bayi yang sedang sakit, risikonya kena penyakit infeksi jauh lebih tinggi. Bahkan, merilis dari The Going Home, sistem imun pada bayi umumnya baru terbentuk saat usianya satu bulan. Karenanya, Bunda harus lebih protektif bila ada tamu yang hendak menengok si kecil. Pastikan si tamu sudah mencuci tangan dengan bersih sebelum menyentuh si kecil.

“Direkomendasikan juga supaya orang dewasa yang sedang sakit nggak mendekati bayi dan asal mencium bayi baru lahir. Kemudian sebaiknya orang tua menghindari mengajak anak ke tempat ramai,” kata The Going Home dikutip dari Essential Baby.

Bun, risiko yang mungkin dialami si kecil tak bisa dianggap sepele. Tahun lalu, ibu bernama Brianna Nichols mengunggah foto bayinya yang mengalami infeksi pernapasan sehingga bayi tersebut kesulitan bernapas. Dalam unggahannya, Brianna memperingatkan agar jangan membiarkan orang lain bisa sembarangan mencium si kecil.

“Pastikan juga mereka sehat. Orang tua perlu tahu bahaya RSV (Respiratory Syncytial Virus), infeksi pernapasan yang bisa berakibat fatal pada bayi. Kita semua senang dengan bayi tapi ketika batuk atau pilek tolong jangan mendekat,” tutur Brianna.

RSV pada orang dewasa kelihatan seperti batuk dan pilek ringan. Namun bila bayi didera RSV, penyakit ini akan membuatnya susah bernapas. Karenanya, sebisa mungkin hindari mencium bayi saat menjenguknya. Sebab jika kita sedang pilek atau radang tenggorokan, besar kemungkinan si bayi akan tertular. Di lain sisi, sembarangan mencium bayi yang baru lahir pun bisa menularkan penyakit berbahaya diantaranya:

Virus Herpes Simpleks (HSV) Tipe 1

HSV tipe 1 ini umumnya menular melalui kontak dengan kulit orang lain dan air ludah orang yang menderita penyakit tersebut, misalnya setelah dicium oleh kerabat yang sudah terkena herpes. Karenanya, Bunda dianjurkan untuk jangan membiarkan bayi boleh dicium sembarangan. Apalagi, seseorang yang memiliki virus herpes biasanya tak memiliki luka herpes yang bisa dilihat kasat mata.

HSV yang menyerang bayi baru lahir bisa menyebabkan infeksi parah, termasuk pada mata dan kulitnya, paru-paru, hati, serta otak. Infeksi herpes yang serius pada bayi baru lahir ataupun pada otak membutuhkan penanganan medis yang intensif di rumah sakit. Bun, bila si kecil terinfeksi virus herpes, maka virus tersebut akan berdiam terus di dalam tubuhhnya. Bila si kecil menunjukkan gejala seperti gusi membengkak dan rewel lantaran mulutnya terasa sakit, sebaiknya segera bawa si kecil dokter.

Setelah beberapa hari mungkin akan terlihat lepuhan-lepuhan kecil di dekat bibirnya yang dapat berubah menjadi luka dangkal. Gejala ini juga mungkin diiringi demam dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Setelah itu, luka-luka tadi akan mengering menjadi kerak (krusta) lalu kemudian menghilang. Kemungkinan bayimu juga bisa mengalami herpes di dalam mulutnya, pada gusinya, di sisi dalam pipi, langit-langit mulut, atau di permukaan lidahnya.

Meningitis

Meningitis disebabkan oleh infeksi bakteri meningitis dan bisa mengakibatkan kematian. Kendati sebagian penderita meningitis pulih, namun berisiko meninggalkan kecacatan permanen, misalnya kehilangan fungsi pendengaran, ketidakmampuan belajar, maupun kerusakan otak. Di lain sisi, bayi memiliki peningkatan risiko terkena meningitis dibanding kelompok usia lainnya. Kuman penyebab meningitis bakteri menyebar dari orang ke orang.

Beberapa bakteri dapat menyebar melalui saliva atau air ludah atau penderita mencium bayi. Bahkan kuman juga bisa menyebar melalui kontak dengan orang-orang yang tinggal serumah dengan bayi. Ini alasan kenapa Bunda harus ekstra hati-hati agar bayi yang baru lahir tak terpapar kuman pembawa penyakit.

Gejala-gejala meningitis pada bayi bisa terlihat jelas, mulai dari bayi yang tidak aktif bergerak atau berinteraksi, muntah atau tidak mau makan, serta mudah marah atau menangis. Bila Bunda melihat si kecil menunjukkan tanda-tanda kepada meningitis, segera periksakan ke dokter.

Mononukleosis

Infeksi mononukleosis atau yang sering disingkat ‘mono’, umumnya disebut kissing disease lantaran virusnya ditularkan melalui air liur seperti ketika dicium, batuk atau bersin, maupun menggunakan peralatan makan atau minum yang sama dengan orang yang terinfeksi mono. Namun, penyebaran virus mono ini tidak secepat penularan pilek. Kebanyakan jenis virus penyebab penyakit ini adalah virus Epstein-Barr.

Pada anak-anak, tanda dan gejala kissing disease jsutru sering tak mudah dikenali lantaran gejalanya cenderung menyerupai gejala-gejala infeksi pada umumnya. Kondisi seperti demam, sakit kepala, ruam kulit, radang tenggorokan, kelelahan, sampai terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan ketiak dianggap sebagai gejala penyakit ini. Bunda pun tak bisa menganggap remeh infeksi yang satu ini. Apalagi dapat menyebabkan komplikasi seperti pembesaran organ limpa. Untuk itu, bila si kecil mengalami gejala-gejala tersebut, maka segeralah berikan penanganan secepatnya yaitu dengan mencukupi kebutuhan cairan dan istirahat cukup, mengonsumsi asupan nutrisi yang ideal, serta periksakan anak ke dokter.

Nah, sebagai orangtua, sudah sepatutnya Bunda melindungi si kecil dengan menjaga kebersihan dan kesehatannya. Pastikan Bunda maupun orang lainnya sudah mencuci tangan hingga bersih sebelum memegang dan menggendong bayi, upayakan selalu membawa pembersih tangan di mana pun Bunda berada, serta ikuti jadwal vaksinasi untuk bayi. Di lain sisi, tak usah sungkan untuk membatasi kontak orang lain dengan byah hati Bunda. Bila mereka benar-benar ingin mencium, area tubuh bayi yang diizinkan untuk dicium adalah kakinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Bun, Anak Bisa Jadi Korban Bila Bunda Terlalu Percaya Mitos Soal Imunisasi

adorable-baby-bed-1556706 (1)

Bun, pasti Bunda menyadari, sekarang ini banyak orangtua yang khawatir apabila anaknya harus divaksinasi. Padahal pemberian vaksin merupakan hal penting harus diberikan kepada anak. Dengan imunisasi yang lengkap dan teratur, tubuh bayi, anak, dan remaja dirangsang oleh vaksin untuk membentuk zat kekebalan spesifik untuk mencegah penularan penyakit.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang memutuskan tak memberi imunisasi lengkap pada anak mereka karena banyak hal. Salah satunya termakan informasi palsu yang mereka dapat dari internet atau lingkungan sekitar. Nah, dalam acara Imunisasi Lengkap dan Nutrisi Seimbang Untuk Mendukung Indonesia Lengkap oleh Nestle Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia di Jakarta, Senin (22/4/2019), disampaikan mitos dan fakta tentang imunisasi berikut ini, Bun.

Mitos: Imunisasi Sebabkan Autisme, Lumpuh, dan Mengandung Racun. Benarkah?

Masih banyak orangtua yang ragu memberi imunisasi pada anaknya lantaran sudah banyak isu yang menyebar mengenai efek samping imunisasi. Padahal, isu tersebut hanya hoax belaka. Salah satu hoax yang paling sering didengar adalah vaksinasi dapat menyebabkan autisme pada anak atau sebabkan kelumpuhan.

Padahal berbagai penelitian ilmiah pada 2014-2019 telah menyimpulkan bahwa vaksin tidak terbukti menyebabkan autisme atau berbahaya. Untuk itu, Bunda perlu lebih banyak lagi membaca literasi yang pasti guna mencaritahu informasi yang sebenarnya mengenai imunisasi.

Mitos: Demam Setelah Imunisasi Dianggap Berbahaya

Faktanya, kebanyakan anak akan memberi respon demam setelah imunisasi. Bahkan ada yang mengalami bengkak di area suntikan. Bunda tak usah panik dan menanggapinya berlebihan. Hal ini merupakan reaksi yang wajar dan tidak berbahaya. Hal ini tidak berkaitan dengan kualitas vaksin yang sudah diberikan pada si kecil. Kalau anak demam, berikan anak obat penurun panas tiap 4 jam sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Mitos: Terlambat memberi Imunisasi Sejatinya Tak Masalah

Faktanya, hal ini tentu salah kaprah. Bunda perlu menyadari, si kecil membutuhkan kekebalan dan perlindungan dari penyakit. Dan hal itu akan bekerja bila Bunda mengantarkan si kecil imunisasi sesuai jadwal dan jarak yang direkomendasikan.

Jika terlewat atau tertunda, anak belum memiliki kekebalan spesifik sehingga masih rentan penyakit. Kekebalan menjadi tidak optimal jika jarak antar imunisasi yang sama terlalu jauh atau terlalu dekat dari jadwal yang dianjurkan.

Mitos: Imunisasi Pada Saat Bayi dan Balita Sudah Cukup Sehingga Tak Perlu Vaksin Saat Remaja.

Hal ini salah besar karena imunisasi saat remaja bahkan dewasa masih diperlukan karena kekebalan dapat menurun seiring waktu setelah imunisasi pada saat bayi. Selain itu anak usia sekolah dan remaja makin banyak berinteraksi dengan orang lain sehingga berisiko tertular penyakit. Oleh karena itu IDAI menganjurkan imunisasi lanjutan pada usia sekolah dan remaja.

Mitos: Tak Usah Menambah Imunisasi, Apalagi yang Tak Disubsidi Pemerintah

Bun, sejatinya semua imunisasi tentu penting. Namun pemerintah baru menyediakan subsidi untuk sebagian vaksin seperti hepatitis B, polio, BCG, DPT-Hib, campak rubela, DT, dan Td. Untuk beberapa vaksin pneumokokus, HPV, JE, dan rabies diprioritaskan di beberapa provinsi tertentu.

Di samping itu, ada pula vaksin yang belum mendapat subsidi pemerintah seperti pneumokokus, rotavirus, influenza, japanese encephalitis B, rabies, MMR, demam tifoid, cacar air, hepatitis A, HPV, dan meningitis. Padahal vaksin tersebut sama pentingnya untuk diberikan untuk perlindungan tubuh.

Dokter spesialis anak Soedjatmiko dari IDAI mengatakan untuk melawan hoaks antivaksin adalah dengan cara jangan membaca hoaks, jangan ditanggapi, dan jangan dipercaya.

“Manfaat imunisasi sudah terbukti di semua negara, jadi hoaks anti imunisasi tak perlu dipercaya,” Pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kesehatan Ibu & Anak

Imunisasi Penting Bagi Tumbuh Kembang Buah Hati, Bahkan Cegah Jutaan Kematian

nestle

Bun, tahukah Bunda? Imunisasi telah menyelamatkan jutaan jiwa dari penyakit menular. Pemberian imunisasi yang rutin dan lengkap disertai dengan pemenuhan nutrisi yang tepat dapat mencegah penyakit dan mendukung tumbuh kembang yang optimal. Orangtua perlu tahu, imunisasi memberikan perlindungan yang bersifat spesifik terhadap penyakit berbahaya. Ini karena pemberian imunisasi dapat merangsang kekebalan spesifik yang efektif mencegah penyakit berat.

Namun di luar sana masih banyak anak yang tak mendapat vaksin atau bahkan vaksinnya tidak lengkap. Risiko yang diterima anak-anak ini pun berbahaya bahkan berpotensi mematikan. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), imunisasi diperkirakan dapat mencegah 2-3 juta kematian setiap tahun serta menyelamatkan 1,5 juta nyawa apabila cakupan imunisasi global bertambah.

Menyadari pentingnya imunisasi bagi buah hati, maka setiap tahunnya diadakan peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID). Di Indonesia sendiri, momentum PID ditandai dengan adanya tema nasional “Imunisasi Lengkap, Imunisasi Sehat”. Rangkaian pelaksanaan PID akan berlangsung pada tanggal 24-30 April 2019. Sementara itu, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan PT Nestle Indonesia mendukung komitmen bersama guna mewujudkan Indonesia sehat.

“Imunisasi berperan penting untuk melindungi bayi dan anak dari berbagai penyakit karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi dan agar anak mampu melawan penyakit-penyakit menular yang berbahaya. Anak yang tak mendapatkan imunisasi lengkap berpotensi tak memiliki kekebalan yang spesifik terhadap suatu penyakit sehingga bisa memicu sakit berat, cacat, bahkan meninggal,” ujar dr. Soedjatmiko dari IDAI di Jakarta, Senin (22/4).

Perlu dicatat, pemberian imunisasi pun harus dibarengi dengan asupan nutrisi yang seimbang ya Bun. Hal ini guna mencegah si kecil mengalami kekurangan nutrisi. Anak yang mendapat nutrisi berikut dengan imunisasi yang lengkap akan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Share

To Top